(CERITA SAHABAT) Homeschooling di Negeri Bollywood: Perjalanan Pembelajaran Bersama Dua Buah Hati 

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Anni,  yang menjalani selama delapan tahun terakhir hidup sebagai seorang istri, ibu, sekaligus pendidik di rumah bagi kedua anak saya di India. Saya menikah dengan seorang pria Kashmir, dan sejak awal pernikahan kami menjalani hubungan jarak jauh. Suami bekerja di India sedangkan saya masih mengajar di Indonesia. Selama tiga tahun, kami menjalani rutinitas yang mungkin tidak umum bagi pasangan baru: dia datang dua kali setahun ke Indonesia, sedangkan saya menyusulnya ke India ketika jadwal mengajar mengizinkan. 

Pada akhirnya, setelah perjalanan LDM yang panjang, kami memutuskan untuk hidup bersama, khususnya demi memulai program kehamilan. Saya pindah ke India, memulai hidup baru, dan dalam keseharian membesarkan dua anak yang kini menjadi pusat dunia saya. Tinggal di India membuka banyak pengalaman baru, mulai dari budaya, gaya hidup, hingga sistem pendidikan yang berbeda antara Indonesia dan tempat saya menetap sekarang. 

Sebagai guru yang pernah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dalam pendidikan dasar di Indonesia, saya tidak bisa tidak memperhatikan perbedaan kurikulum antara dua negara ini. Di India, beban akademik untuk pendidikan dini jauh lebih berat. Anak-anak mulai dikenalkan pada beban akademik sejak usia yang sangat muda; bahkan sebelum masuk sekolah dasar, mereka telah melalui jalur pendidikan dengan struktur yang ketat: mulai dari pre-nursery (2+), Nursery (3+), LKG (4+), hingga UKG (5+). Selain itu, ada pula kultur tuitions, semacam les tambahan yang diberikan hampir setiap hari setelah jam sekolah. Bagi saya yang terbiasa dengan model pendidikan di Indonesia yang lebih seimbang antara bermain dan belajar, sistem ini terasa begitu menuntut, bahkan berlebihan bagi anak-anak usia dini. 

Saya dan suami pun sepakat untuk memberikan “pondasi kesiapan belajar” sejak dini, untuk menumbuhkan rasa cinta belajar, agar anak-anak tidak mengalami tekanan besar ketika masuk sekolah formal India. Namun titik balik terbesar bagi kami adalah masa pandemi. Di India, anak usia dua tahun umumnya disekolahkan ke lembaga pre-nursery, tetapi ketika pandemi datang, semua pembelajaran beralih ke kelas online. Sungguh tidak efektif bagi seorang preschooler untuk duduk menatap layar, mendengarkan instruksi melalui video call, dan diminta memahami konsep akademik lewat monitor. Di sinilah keputusan besar muncul: kami memutuskan untuk melakukan homeschooling. 

Homeschooling sebenarnya sudah lama saya persiapkan, terutama dalam ranah pendidikan agama. Tapi pandemi memberikan dorongan yang lebih besar untuk menerapkan homeschooling secara penuh untuk pendidikan dini. Saya tidak ingin anak-anak “sekolah online” hanya demi mengikuti sistem, sementara masa usia emas mereka menghilang tanpa pengalaman bermain, bergerak, menyentuh dunia, dan merasakan ritme pembelajaran yang alami. 

Kami pun menciptakan rutinitas homeschooling sendiri. Setiap hari, pembelajaran berlangsung lewat aktivitas yang menyenangkan. Saya merancang stimulasi motorik kasar seperti berlari, melompat, memanjat, bermain sepeda, hingga skating. Untuk motorik halus, seperti anak-anak bermain playdough, menggunting, memindahkan benda dengan sendok, dan menulis di atas garam. 

Saya juga mengenalkan keterampilan hidup seperti gosok gigi, mandi mandiri, memakai baju dan sepatu sendiri, menyapu, hingga membuat omelette atau cookies, atau aktivitas sederhana yang melatih koordinasi sekaligus membangun kepercayaan diri mereka. 

Kognisi kami latih lewat puzzle, memory games, permainan warna, alphabet matching, hingga aktivitas menjodohkan benda. Pendidikan agama menjadi bagian yang tidak pernah terlewat. Dari doa-doa pendek, hafalan surat, belajar sholat, hingga membaca Qur’an, fiqih dan aqidah, semuanya kami ajarkan perlahan dalam kehangatan di rumah, juga bersama komunitas di masjid untuk kegiatan tertentu. Salah satu area yang paling penting bagi kami adalah speaking skill, terutama karena anak pertama sempat mengalami riwayat speech delay. Latihan oromotor, permainan bercerita, dan dialog interaktif kami lakukan setiap hari. Sekarang, anak pertama sudah percaya diri mengikuti berbagai speech event di sekolah.

Pendekatan yang kami gunakan sebagian besar terinspirasi dari Montessori, meski saya tidak menerapkan seluruh aparatus Montessori yang standar. Saya lebih senang menyebutnya sebagai belajar lewat bermain (learning through play). Media belajar kami beragam, mulai dari mainan edukatif baik buatan sendiri 

maupun yang tersedia di market, bahan kerajinan, alam terbuka, kunjungan ke science center, museum, hingga buku-buku anak dari berbagai jenis. Gadget pun kami gunakan, tetapi secara terbatas dan hanya untuk aplikasi edukatif yang relevan. 

Tantangan terbesar homeschooling bukanlah pada materi atau kurikulum, tetapi pada diri saya sebagai ibu. Menjadi comfort provider sekaligus discipline establisher bukanlah hal mudah. Bagaimana menjaga agar suasana tetap menyenangkan tetapi tetap memiliki struktur? Bagaimana menjadi tempat yang aman sekaligus mentor dalam aktivitas pembelajaran? Pertanyaan-pertanyaan ini terus saya pelajari setiap hari. Tidak adanya ART di masa lockdown juga membuat manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri. 

Dari sisi sosial, anak-anak tidak terlalu mengalami kesulitan karena memang sejak awal kami hidup sebagai keluarga perantau. Kami terbiasa berpindah dari satu state ke state lain karena pekerjaan suami, sehingga lingkup sosial keluarga kami memang kecil. Namun justru dari situ terjalin ikatan keluarga yang semakin kuat antara saya, suami, dan anak-anak. 

Secara teknis, homeschooling relatif mudah kami jalankan karena bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa nasional di India, sehingga tidak ada kendala bahasa. Namun untuk bahasa Urdu dan Hindi, kami mengenalkannya sebagai bahasa kedua, sambil tetap mengajarkan bahasa Indonesia. Internet cepat dan murah, jadi pembelajaran daring pun tidak bermasalah. Satu hal yang saya rasakan cukup menantang: harga educational toys di India cenderung lebih mahal dibandingkan di Indonesia. 

Hal yang paling saya syukuri dari homeschooling adalah kreativitas yang tumbuh dari diri saya sendiri. Saya yang dulu perfeksionis belajar untuk melepaskan harapan yang berlebihan. Melihat anak bermain tepung yang berantakan, playdough yang melekat di mana-mana, bentuk cookies yang tak beraturan, atau buku bertebaran di lantai. Itu semua kini menjadi tanda bahwa anak sedang belajar. Saya belajar menerima kekacauan sebagai bagian dari proses tumbuh. Saya belajar bahwa rumah yang “berantakan” bukanlah bukti kegagalan menjadi ibu, tetapi bukti anak sedang mengasah imajinasi dan kemampuan motoriknya. 

Hubungan kami sebagai keluarga pun terasa lebih dalam. Tanpa homeschooling, saya tidak tahu bagaimana kami bisa melewati masa pandemi yang penuh ketidakpastian itu. Homeschooling menjadi cara kami melewati hari dengan penuh makna. Aktivitas yang mempertemukan kami sebagai keluarga, memperkuat komunikasi, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif yang dilakukan bersama. 

Setelah pandemi mereda, anak pertama masuk sekolah formal (LKG), sementara saya melanjutkan stimulasi homeschooling untuk anak kedua. Pendidikan akademik formal kami “outsourcing” kepada lembaga sekolah, tetapi sisanya pendidikan agama, life skills, dan kegiatan bermain, tetap kami lakukan di rumah. Berbeda dari kebiasaan keluarga India pada umumnya, kami memilih untuk tidak mengirim anak-anak ke tuitions. Kami 

tetap mempertahankan semangat belajar bersama dalam lingkungan keluarga. Saat ini, setengah jam setelah makan malam adalah bonding rutin belajar bersama, saya dan anak-anak sedang semangat belajar Bahasa Hindi dan Bahasa Kannada, suami semangat dengan Bahasa Jepang. 

Jika ada orang tua Indonesia lain yang ingin mencoba homeschooling, pesan saya adalah: pastikan ayah dan ibu berada pada kesepakatan yang sama. Homeschooling bukan soal materi belajar semata, tetapi soal tujuan, jalur, dan pendekatan. Orang tua perlu memutuskan apakah homeschooling dilakukan sebagai jalur utama atau pendamping pendidikan formal, bagaimana proses administrasinya, dan siapa yang menjadi fasilitator pembelajaran. Belajarlah dari keluarga lain yang lebih dulu menjalankannya, dan jangan takut untuk beradaptasi. 

Pengalaman yang paling unik bagi saya adalah melihat rumah kami perlahan berubah menjadi “laboratorium kecil” yang penuh mainan, alat peraga, bahan art and craft, kardus, botol bekas, dan segala macam benda yang mungkin dianggap sampah bagi orang lain, tetapi bagi kami adalah harta karun kreativitas. Kadang saya harus menguatkan hati untuk melakukan decluttering, tetapi pada dasarnya setiap benda yang ada di rumah memiliki potensi menjadi media belajar.

Jika harus merangkum perjalanan homeschooling kami dalam satu kalimat, saya akan mengatakan: homeschooling menjadi “survival mode” keluarga kami untuk melewati pandemi dan sekaligus strategi menemukan sumber kebahagiaan dan kebermaknaan dalam keluarga untuk terus bertumbuh dalam semangat belajar sepanjang hayat. 

Penulis: Anni’mah tinggal di India yang dapat dikontak via akun instagram zahrazeebee. 

(CERITA SAHABAT) Membebaskan Diri dari Diam: Perjalanan Saya Keluar dari Silent Treatment

Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan, nama saya Lily. Saya seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan pria berkewarganegaraan India. Saat ini, saya telah tinggal di negeri Bollywood itu selama kurang lebih lima belas tahun. Jika saya ingat kembali, perjalanan saya meninggalkan tanah air bukan hanya perpindahan fisik, melainkan juga awal dari perjalanan batin yang penuh pelajaran, luka, dan pada akhirnya, kekuatan.

Ketika kami menikah, semua terasa indah. Kehidupan rumah tangga di awal berjalan seperti yang saya harapkan. Meskipun tentu ada perbedaan budaya, saya berpikir semua bisa diatasi dengan cinta dan pengertian. Saya tahu bahwa dalam setiap pernikaha, apalagi pernikahan campuran. Jatuh bangun adalah hal yang wajar. Saya percaya bahwa komitmen yang kuat bisa menjadi penopang di tengah perbedaan. Namun, ternyata tidak semua keyakinan saya berjalan sesuai harapan.

Saya masih ingat jelas saat pertama kali tiba di India. Gambaran saya tentang negara ini dibentuk dari film-film Bollywood yang saya tonton sejak kecil. Romantis, penuh warna, dan hangat. Kenyataannya, kehidupan di sini sangat berbeda. Tantangan dimulai sejak saya harus beradaptasi dengan keluarga suami. Pada awalnya, mereka memperlakukan saya dengan baik, setidaknya ketika suami ada. Namun, semua berubah ketika suami mulai sering bepergian, meninggalkan saya di rumah bersama ibu mertua dan kakak ipar. Saat itulah saya mulai merasakan dinginnya jarak dan dinginnya kata yang tak pernah terucap.

Perlakuan yang tadinya ramah berubah menjadi penuh sindiran halus, bahkan fitnah. Mereka mengadu domba, menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan, dan yang paling menyakitkan adalah mereka tidak pernah mau mengakui kesalahan, apalagi meminta maaf. Setiap kali saya mencoba menjelaskan kepada suami, saya justru disalahkan. Posisi saya begitu sulit. Di satu sisi ingin membela diri, di sisi lain tahu bahwa suara saya tidak akan pernah mengalahkan loyalitasnya pada keluarganya. Pada akhirnya, saya memilih diam. Bukan karena saya setuju, tetapi karena saya tidak tahu lagi bagaimana cara membuat suara saya didengar.

Follow us

Diam itu, pada mulanya, hanya terjadi sesekali. Namun, perlahan-lahan, ia menjadi pola hubungan. Suami mulai jarang berbicara, lebih sering mengabaikan, hingga akhirnya memutuskan pindah ke negara lain untuk bekerja. Saya dan anak-anak ditinggalkan di India bersama keluarga besarnya. Tidak ada komunikasi hangat, tidak ada perhatian, tidak ada kata-kata dukungan. Yang ada hanya jarak, baik secara fisik maupun emosional. Dan yang lebih menghancurkan, di tengah diam itu saya mengetahui bahwa ia menikahi perempuan lain di negara tempatnya bekerja dan bahkan memiliki anak.

Kabar itu membuat hati saya runtuh. Marah, sakit hati, dan kecewa. Semuanya bercampur jadi satu. Lebih dari itu, saya merasa dikhianati bukan hanya sebagai istri, tapi juga sebagai ibu dari anak-anak kami. Ia tidak memikirkan perasaan mereka, tidak memikirkan bagaimana luka ini akan memengaruhi hidup mereka. Meski begitu, saya tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Saya percaya akan ada waktu ketika Tuhan menegur dan menyadarkan dia.

Namun, keyakinan itu tidak serta-merta menghapus rasa sakit. Diam yang berkepanjangan ini seperti racun yang meresap perlahan. Saya bingung harus berbuat apa. Saya hidup di negara dengan bahasa dan budaya yang berbeda, jauh dari keluarga dan sahabat di Indonesia. Saya merasa sendirian, terkurung di ruang hening yang menyesakkan. Kondisi psikologis saya memburuk. Saya menjadi cemas, takut berbuat salah, merasa tidak pernah cukup baik. Berat badan saya turun drastis, dan saya mengalami stres hingga depresi. Saya merasa hancur, baik secara mental maupun fisik.

Di tengah semua itu, satu hal yang membuat saya tetap berdiri adalah anak-anak. Mereka tumbuh dengan sehat dan ceria, meski tidak memiliki ayah yang hadir secara emosional maupun fisik. Melihat mereka tersenyum memberi saya alasan untuk tetap bertahan. Mereka adalah pengingat bahwa saya tidak boleh kalah oleh keadaan.

Saya sempat mencoba mencari jalan keluar dengan bercerita kepada teman-teman atau kerabat jauh. Sayangnya, upaya itu justru sering memperburuk keadaan karena terlalu banyak pihak yang ikut campur tanpa benar-benar memahami situasi. Saya juga sempat membalas diam dengan diam, berharap suami menyadari dan memulai pembicaraan. Nyatanya, itu hanya membuat jarak semakin jauh.

Akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak bisa terus hidup dalam lingkaran ini. Saya mulai mencari bantuan dari profesional: konselor, psikolog, dan juga komunitas sosial. Saya bersyukur, di tengah keterasingan ini, Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang peduli. Ada teman-teman di gereja, rekan-rekan muslim Indonesia di sini, dan juga sahabat-sahabat di tempat kerja yang menjadi keluarga baru saya. Mereka tidak hanya memberi dukungan moral, tapi juga mengingatkan saya bahwa saya masih berharga.

Tinggal di India memberi saya banyak pelajaran berharga. Saya belajar berani berkata “tidak” terhadap perlakuan yang tidak adil, belajar untuk tidak selalu memprioritaskan perasaan orang lain sampai mengorbankan diri sendiri. Sebagai perempuan Indonesia, saya dulu dikenal ramah dan sulit menolak. Namun, saya mulai sadar bahwa kelembutan yang tidak dibarengi batas bisa dimanfaatkan orang lain. Saya juga memahami bahwa diam, dalam konteks hubungan yang tidak sehat, bukanlah solusi. Diam bisa menjadi hukuman yang merusak, membuat luka semakin dalam. Saya berusaha mengubah diri agar tidak lagi membiarkan masalah membeku tanpa penyelesaian.

Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa komunikasi adalah kunci. Konflik memang tak terhindarkan, tetapi cara kita menghadapinya menentukan arah hubungan. Saya berharap bisa lebih berani menyatakan perasaan dan pikiran saya, meski itu berarti menghadapi ketidaknyamanan. Karena saya tahu, diam yang memendam hanya akan menggerogoti hati pelan-pelan.

Sekarang, hidup saya sudah berbeda. Saya tidak lagi bersama suami yang dulu. Tuhan menghadirkan pasangan yang baru, yang mengerti saya dan menerima anak-anak saya. Dengan dia, saya belajar bahwa masalah bisa diselesaikan melalui percakapan, bukan dibiarkan membusuk dalam diam. Anak-anak saya tumbuh di lingkungan yang lebih tenang, lebih aman secara emosional. Meski luka lama tidak sepenuhnya hilang, saya tahu saya berada di jalur pemulihan.

Bagi Sahabat Ruanita yang mungkin sedang berada di situasi serupa, pesan saya sederhana namun penting: jangan biarkan diri terperangkap dalam hubungan yang membungkam. Silent treatment bukan tanda kedewasaan, melainkan tanda ketidakmampuan mengelola konflik. Jika diam dipakai untuk mengontrol atau menghukum, itu adalah bentuk kekerasan emosional. Beranilah memecah kebisuan itu. Mungkin tidak mudah, bahkan mungkin menakutkan, tapi percayalah, suara kita berharga.

Saya pernah gagal mempertahankan hubungan dengan ayah anak-anak saya karena kami tidak pernah benar-benar tinggal bersama secara utuh. Komunikasi kami rapuh, dan diam menjadi jurang yang memisahkan. Namun, kegagalan itu bukan akhir. Bersama pasangan saya sekarang, saya membuktikan bahwa komunikasi yang sehat bisa menyelamatkan hubungan. Tidak ada yang sempurna, tetapi ada perbedaan besar antara berjuang bersama dan dibiarkan berjuang sendirian.

Hari ini, saya berdiri bukan sebagai korban, tetapi sebagai penyintas. Saya ingin setiap perempuan yang membaca kisah ini tahu bahwa keluar dari lingkaran diam itu mungkin. Ada kehidupan yang lebih baik di luar sana, ada cinta yang lebih sehat, ada ruang di mana suara Anda tidak hanya didengar, tetapi juga dihargai.

Sahabat Ruanita, mari kita saling menguatkan. Diam mungkin terlihat seperti pilihan aman, tapi dalam banyak kasus, itu hanya memperpanjang penderitaan. Bicara, cari bantuan, dan lindungi diri Anda. Karena kita semua berhak untuk dicintai dengan cara yang sehat, tanpa kebisuan yang menyiksa.

Penulis: Lily, perempuan Indonesia di India dan dapat dikontak via akun e-mail: info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Mengapa Kita Tidak Boleh Tahu Jenis Kelamin Bayi Sebelum Dilahirkan?

Setiap bulan kami menghadirkan program cerita sahabat spesial yang disampaikan oleh sahabat Ruanita Indonesia di seluruh dunia. Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, kami mengundang Indah Sibuea yang tinggal di India. Indah adalah warga negara Indonesia yang tinggal di India, tepatnya di New Delhi hampir tiga tahun.

Indah juga mengelola kanal YouTube pribadinya Indah Sibuea dengan pengikut hampir dua ribu. Indah banyak bercerita tentang serba-serbi kehidupan barunya, termasuk bagaimana pengamatan dan pengalamannya tinggal di India. Indah dapat dikontak via akun Instagram indahsibuea.

Berdasarkan pengamatannya, memang ada perbedaan perlakuan pengasuhan keluarga-keluarga di India dalam membesarkan dan mengasuh anak. Ketidaksetaraan terjadi misalnya bagaimana anak laki-laki lebih didahulukan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dibandingkan anak perempuan. Fenomena ini masih nyata terjadi di desa, dibandingkan di kota besar seperti New Delhi yang menjadi kota tempat tinggalnya sekarang.

Follow us

Selama tinggal di India, Indah sempat mengalami kehamilan dan memeriksakan diri di dokter kandungan di sana. Ada aturan yang menurut dia tidak biasa, seperti bagaimana keinginannya untuk mengetahui jenis kelamin bayinya sebelum dilahirkan. Namun, hal itu tidak bisa dibenarkan untuk Indah mengetahui apakah anak yang dilahirkan itu anak laki-laki atau anak perempuan.

Dari pengamatan dan obrolannya dengan orang-orang India, pernikahan di India merupakan pesta besar yang memerlukan biaya. Hal ini mengingat status sosial dalam sebuah keluarga. Setelah menikah, perempuan di India terbiasa untuk tinggal menyatu dengan keluarga pihak suami. Kebanyakan mereka juga tinggal bersama ipar dan keluarga besar pihak suami.

Mengapa Indah tidak boleh mengetahui jenis kelamin bayi yang dilahirkan saat dia tinggal di India? Apakah masih terjadi perbedaan perlakuan pengasuhan antara anak laki-laki dengan anak perempuan? Bagaimana Indah menjelaskan tentang kehidupan keluarga di India? Apa saran Indah dalam rangka Hari Internasional Penghapusah Kekerasan terhadap Perempuan?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam video berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.