(CERITA SAHABAT) Antara Cinta, Stigma, dan Identitas: Perjalanan Saya sebagai Perempuan Indonesia di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Fina Regina Weber, lahir dan besar di Jakarta. Saya pertama kali datang ke Jerman pada tahun 2009. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, saya resmi menetap di sini setelah menikah. Awalnya, saya bekerja di perusahaan engineering dan konstruksi di bidang Oil & Gas. Dunia kerja yang keras, maskulin, dan penuh tekanan bukanlah hal baru bagi saya. Namun, siapa sangka, perjalanan hidup membawa saya ke tempat yang sama sekali berbeda: menjadi ibu rumah tangga di Jerman.

Saat ini, fokus utama saya adalah keluarga, yakni mengurus dua anak perempuan dan mendampingi mereka tumbuh di lingkungan yang jauh dari tempat saya dibesarkan. Selain itu, saya aktif dalam berbagai kegiatan komunitas Indonesia dan kegiatan sekolah anak-anak. Mungkin dari luar, kehidupan saya tampak tenang dan mapan, tapi di balik itu semua, ada dinamika batin dan tantangan yang tidak selalu terlihat.

Sejak awal menetap di Jerman, saya sudah sering mendengar berbagai stigma tentang perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Salah satu pandangan yang paling sering muncul adalah: “Perempuan Indonesia menikah dengan orang asing supaya bisa hidup enak di luar negeri.”

Jujur, mendengar hal seperti itu tidak mudah. Saya tahu stigma itu muncul karena memang ada sebagian kasus yang sesuai dengan narasi tersebut. Namun, yang menyedihkan adalah ketika orang mulai menggeneralisasi, seolah-olah semua perempuan Indonesia di luar negeri punya motif yang sama.

Saya pernah merasakan bagaimana rasanya dianggap “punya kasta visa paling rendah”. Kadang saya merasa seolah identitas saya sebagai perempuan Indonesia di mata orang lain selalu dihubungkan dengan status pernikahan saya. Padahal setiap orang punya cerita dan perjuangan yang berbeda.

Dalam kasus saya, saya bertemu suami di lingkungan kerja profesional di Jakarta, bukan dari aplikasi kencan, bukan juga karena ingin “kabur” ke luar negeri. Kami bertemu secara alami, bekerja bersama, bertukar ide, dan akhirnya jatuh cinta. Tapi stigma tidak pernah memilih korbannya. Sekali seseorang diberi label, sulit untuk menghapusnya, meski kenyataannya berbeda jauh.

Saya menyadari bahwa stigma terhadap perempuan Indonesia di luar negeri muncul baik dari masyarakat Indonesia sendiri maupun dari luar negeri.

Dari sesama WNI, kadang muncul komentar atau cibiran halus, “Wah, enak ya hidup di luar negeri, pasti serba mudah.” Ada pula yang menilai bahwa menikah dengan orang asing adalah cara cepat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, yang mereka tidak tahu, hidup di luar negeri justru sering lebih berat, terutama karena kita jauh dari keluarga besar, harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, dan belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Sementara dari masyarakat Jerman, saya merasakan bahwa mereka sebenarnya tidak terlalu ikut menilai. Orang Jerman pada umumnya lebih santai, cenderung menilai seseorang dari perilakunya sehari-hari, bukan dari asal negara atau latar belakang pernikahannya. Jadi, beban stigma itu justru sering datang dari komunitas sendiri, bukan dari lingkungan tempat tinggal saya sekarang.

Di era media sosial seperti sekarang, persepsi orang bisa terbentuk hanya dari potongan kecil kehidupan yang mereka lihat. Banyak orang mengenal saya hanya dari reels, story, atau postingan media sosial. Dari situ, mereka sering berasumsi. Saya sudah tidak terlalu memikirkan hal itu, karena saya tahu apa yang tampak di layar ponsel hanyalah satu sisi kecil dari kehidupan seseorang.

Dulu saya sempat merasa perlu untuk menjelaskan dan meluruskan semua pandangan miring yang muncul. Tapi seiring waktu, saya belajar untuk melepaskan beban penjelasan itu. Sekarang, fokus saya lebih pada keluarga, anak-anak, dan orang-orang yang benar-benar mengenal saya apa adanya. Hidup terlalu singkat untuk terus membuktikan diri kepada mereka yang sudah memilih untuk menilai tanpa mengenal.

Follow us

Di Jerman, kehidupan saya kini banyak berputar di sekitar sekolah anak-anak. Di sana, para ibu lebih banyak berbicara tentang kegiatan sekolah, makanan sehat, atau kegiatan akhir pekan. Mereka tidak bicara tentang status sosial atau dari mana kami berasal. Itu membuat saya merasa lebih diterima.

Suami saya juga sangat mendukung. Setiap kali kami bertemu koleganya, dia selalu memperkenalkan saya dengan bangga, mengatakan bahwa kami dulu bekerja di perusahaan yang sama di Jakarta. Hal kecil seperti itu ternyata membantu mengubah persepsi orang lain.

Saya juga sadar bahwa dunia sudah berubah. Dengan maraknya online dating dan Tinder, banyak orang kini mengira semua pernikahan campuran bermula dari sana. Padahal tidak selalu. Ada banyak cerita seperti saya, yang dimulai dari pertemuan profesional, tatap muka langsung, lalu jatuh cinta secara alami—face to face and fall in love, seperti kata saya kepada teman-teman yang bertanya.

Sebagai ibu dari dua anak perempuan berdarah Indonesia-Jerman, saya sangat bangga melihat bagaimana mereka mencintai dua budaya yang mereka miliki. Mereka menyukai rambut hitam dan kulit sawo matang mereka, dua hal yang kadang justru menjadi sumber rasa minder bagi anak-anak imigran lain.

Saya selalu menanamkan nilai bahwa memiliki dua budaya berarti memiliki dua rumah, dua cara pandang, dan dua kekuatan. Sejauh ini, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri dan rasa bangga terhadap asal-usulnya. Saya berharap mereka akan terus membawa identitas itu dengan kepala tegak, tanpa merasa perlu memilih salah satu.

Salah satu hal yang saya pelajari selama tinggal di luar negeri adalah pentingnya memilih lingkungan yang tepat. Saya tidak menutup diri, tapi saya juga tidak ikut dalam kumpul-kumpul yang hanya menjadi ajang gosip atau perbandingan hidup.

Saya lebih memilih untuk aktif di kegiatan yang punya makna positif, seperti acara yang diadakan oleh konsulat, sekolah, atau komunitas budaya. Di situlah saya bisa menunjukkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya pandai menyesuaikan diri, tetapi juga bisa berkontribusi dan mengharumkan nama bangsa.

Saya sering ikut serta dalam acara seperti Indonesia Frankfurt Festival, Indonesia Street Festival, dan Learn and Batik Expo. Melalui kegiatan semacam itu, kami bisa memperkenalkan keindahan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman, sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri adalah duta kecil yang tangguh dan berprestasi.

Saya percaya perempuan Indonesia punya daya tahan luar biasa. Kami dikenal tangguh, ramah, dan cepat beradaptasi. Nilai-nilai itu adalah modal besar untuk mengubah stigma negatif menjadi kekuatan positif.

Saya sendiri mencoba melakukannya dalam hal-hal kecil: bersikap sopan, bekerja keras, membantu sesama, dan menjaga nama baik bangsa. Perlahan tapi pasti, orang-orang di sekitar mulai melihat bahwa perempuan Indonesia bukan hanya “istri orang asing”, tetapi juga individu yang berharga dan mampu memberi kontribusi nyata.

Hidup di luar negeri mengajarkan saya banyak hal. Salah satu pelajaran terbesar adalah belajar selektif dalam memilih teman. Dulu, saya selalu berpikir semua orang bisa menjadi teman, tapi sekarang saya tahu tidak semua layak disebut teman.

Saya pernah merasa kecewa oleh orang yang saya anggap dekat, tapi kemudian saya sadar, tidak semua orang akan senang melihat kita bahagia. Dari situ saya belajar makna kalimat sederhana yang kini menjadi pegangan saya: “Friends are what you are.” Teman sejati adalah mereka yang tulus, bukan yang datang hanya ketika butuh sesuatu atau ingin tahu kabar terbaru.

Kepada perempuan Indonesia lain yang mungkin menghadapi stigma atau kesalahpahaman di luar negeri, pesan saya sederhana: jangan terlalu dipikirkan. Fokuslah pada hal-hal yang membuatmu berkembang. Jalani hidup dengan niat baik, lakukan yang terbaik, dan tetap semangat.

Yang penting bukan apa yang orang katakan tentang kita, tapi apa yang kita lakukan setiap hari. Dunia mungkin tidak selalu adil, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita meresponsnya. Jangan biarkan penilaian orang lain merampas kebahagiaan kita.

Saya punya harapan besar, bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk masyarakat Indonesia secara umum. Saya ingin melihat hari di mana perempuan Indonesia di mancanegara tidak lagi dipandang dengan curiga atau sinis. Saya ingin orang-orang percaya bahwa setiap pernikahan campuran, setiap perjalanan ke luar negeri, memiliki cerita dan alasan yang berbeda.

Persepsi negatif tidak akan hilang dalam semalam, tapi saya yakin, melalui sikap positif, kerja keras, dan kontribusi nyata, kita bisa mengubah cara dunia memandang kita. Semua tergantung pada bagaimana kita memposisikan diri.

Kalau kita menunjukkan nilai, dedikasi, dan kontribusi yang baik, masyarakat, baik di Indonesia maupun di luar negeri akan menilai kita dengan lebih positif. Pada akhirnya, yang membedakan bukan paspor yang kita pegang, tapi bagaimana kita memperlakukan orang lain dan membawa nama Indonesia dalam setiap langkah.

Lebih dari satu dekade saya tinggal di Jerman. Dalam kurun waktu itu, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia di luar negeri bukan hanya tentang beradaptasi, tapi juga tentang mempertahankan jati diri di tengah arus budaya yang berbeda.

Saya tidak ingin dikenal hanya sebagai “istri warga Jerman”, tetapi sebagai Fina, perempuan Indonesia yang berani, tangguh, dan tetap bangga pada akarnya. Saya percaya, selama kita terus melakukan hal yang benar dan membawa niat baik, stigma akan perlahan memudar, berganti dengan penghormatan.

Karena di manapun saya tinggal, satu hal tidak akan pernah berubah: hati saya tetap Indonesia.

Penulis: Fina Regina Weber, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram misssaucyfoxy.

(CERITA SAHABAT) Kata dan Buku adalah Harta Karun Kita

Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania?  Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya.  Apa sih tsundoku atau bibliomania itu? 

Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya.  Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.

Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya.  Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.

Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu.  Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.  

Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?

Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini. 

Follow us

Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz.  Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata.  Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga. 

Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni.  Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali.  Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.  

Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri. 

Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali. 

Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam.  Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney.  Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.

Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal. 

Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud

Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.

Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit. 

Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak. 

Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri.  Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi. 

Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru.  Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.

Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading.  Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming

Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut.  Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.  

Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan.  Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya. 

Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“. 

Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut. 

Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.  

Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri. 

Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.

Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi.  Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?

Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).

Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah. 

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga. 

Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.

Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian.  Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku. 

Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan.  Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.

Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan.  Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.  

Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.  

Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak.  Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia. 

Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita.  Dan selamat membaca bersama keluarga!

Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.

(RUMPITA) Jatuh Cinta (Lagi) dengan Bahasa Ibu

Episode kesepuluh di Februari 2023 ini adalah membicarakan bahasa ibu yang akan dirayakan pada Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari nanti. Bagaimana pun Bahasa Ibu adalah bahasa pertama kita mengenal dunia dan pengetahuan pertama kali. Host program Podcast: Nadia, Fadni dan Alvina yang sedang menempuh studi pasca sarjana di Jerman ini berbagi celoteh seputar pengalaman berbahasa.

Sebagai orang Indonesia yang jauh dari perantauan, Fadni, Nadia dan Alvina membicarakan bagaimana pengalaman mereka dalam belajar bahasa asing. Kehidupan sehari-hari tentunya mereka mendengar dan berbicara dalam bahasa asing. Mereka bercerita bagaimana mereka belajar pertama kali bahasa asing tersebut.

Follow kami: ruanita.indonesia

Bahasa menjadi alat berkomunikasi antar sesama satu sama lainnya. Sayangnya saat berada di negeri jauh dari tanah air, banyak orang yang merasa malu dan tidak lagi menggunakan Bahasa Ibu. Alasannya bermacam-macam seperti terkesan kuno, tidak moderen hingga menggangap Bahasa Ibu tidak layak lagi digunakan di negeri asing.

Momen bulan Februari yang dipandang sebagian orang sebagai bulan penuh cinta. Nadia, Fadni dan Alvina mengajak Sahabat RUANITA untuk mencintai kembali Bahasa Ibu sebagai cerminan asal usul identitas kita.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 700-an bahasa daerah yang bermacam-macam yang sebenarnya membuat kita bangga. Menjadi duta bangsa di luar negeri tidak harus berlebihan dengan prestasi, cukup berperilaku baik dan bangga berbahasa ibu yang menunjukkan jati diri kita.

Semua bahasa di dunia itu penting. Sebelum kita mengenal berbagai bahasa asing lainnya, Bahasa Ibu adalah cara kita mengenal dunia pertama kali. Ayo, jangan malu berbahasa ibu di mana pun kalian berada!

Simak celoteh RUMPITA selengkapnya berikut ini:

(RUMPITA) Rasanya Tinggal di Luar Indonesia Pertama Kali

RUMPITA adalah salah satu program RUANITA yang membahas kehidupan sehari-hari di mancanegara dari sudut pandang Fadni dan Nadia.

Fadni dan Nadia saat ini sedang menempuh studi master di Jerman. Mereka akan memandu program Podcast RUMPITA yang akan diluncurkan tiap bulan sekali.

Episode pertama RUMPITA kali ini membahas pengalaman pertama kali tinggal di mancanegara. Sebelum pergi dan studi di Jerman, Nadia menceritakan pengalamannya yang tidak pernah pergi sendirian, tanpa orang tua.

Bermula dari minat Nadia untuk studi di Jerman, ia pun memutuskan untuk terbang ke Jerman meraih cita-citanya melalui agen yang menawarkan studi ke Jerman. Kini Nadia sudah tinggal hampir sepuluh tahun di Jerman.

Bertolak belakang dengan cerita Nadia, Fadni tak pernah berangan-angan studi dan tinggal di Jerman. Semula Fadni ingin melanjutkan studi di Universitas Negeri di Indonesia, kenyataannya dia tidak lulus untuk masuk ujian penerimaan. Fadni akhirnya menemukan tempat kursus Bahasa Jerman yang membawanya kesempatan studi di Jerman.

Bagaimana pengalaman mereka selanjutnya tiba di Jerman tanpa orang tua, terutama Fadni dan Nadia yang belum pernah tinggal jauh dari keluarga?

Simak saluran Podcast kami di link yang ditautkan. Untuk tema/saran Podcast, bisa kirimkan ke email info@ruanita.com.