(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Nasib Dosen di Indonesia?

Melanjutkan program bulanan diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi Bersama Ruanita, dimaksudkan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Podcast pada episode ini dipandu oleh Anna yang tinggal di Jerman dan Dianita yang tinggal di India. Selain menjadi relawan Ruanita, Dianita juga pengajar di sebuah TK (Taman Kanak-kanak) di India.

Sementara informan yang diundang dalam episode ini adalah seorang dosen, podcaster, sekaligus kandidat PhD di University of Vienna, Austria. Sebagai informasi, rekaman dilakukan pada saat informan masih menyelesaikan studi PhD di Wina, Austria. Beliau adalah Adityo Darmawan Sudagung, yang juga dosen tetap di Universitas Tanjungpura, Pontianak.Dalam wawancara ini, Adityo berbagi pandangan terkait kondisi dosen di Indonesia. Menurutnya, masih ada jurang ketimpangan kesejahteraan antara dosen senior dan dosen yang baru memulai karier.

Meskipun masyarakat sering beranggapan dosen adalah profesi yang mapan, kenyataannya tidak sedikit yang masih berjuang, bahkan harus mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan. “Image dosen itu kaya, tapi faktanya banyak yang belum sejahtera,” ungkapnya.

Follow us

Isu ini semakin ramai sejak munculnya tagar #JanganJadiDosen pada Februari 2024, yang membuka realitas gaji dan beban kerja dosen di media sosial. Menurut Adityo, tagar tersebut sebenarnya bukan hanya peringatan, melainkan juga bentuk kritik sosial agar pemerintah lebih serius memperhatikan kesejahteraan tenaga pengajar. Selain kesejahteraan, Adityo menekankan bahwa manajemen waktu adalah tantangan utama seorang dosen. Mengajar bukan hanya soal masuk kelas, tetapi juga menyiapkan materi, memberi tugas, memeriksa hasil kerja mahasiswa, membimbing skripsi, menulis penelitian, melakukan pengabdian masyarakat, hingga menyelesaikan tumpukan administrasi.

“Kalau restoran ada yang buka 24 jam, dosen mungkin lebih dari itu,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dari sisi lain, Dianita yang saat ini menjadi guru TK di India juga membagikan pengalamannya. Meski berbeda jenjang pendidikan, ia merasakan kesamaan: tugas administrasi yang menyita banyak waktu di luar jam mengajar.

“Kadang bisa 2 jam sendiri hanya untuk persiapan dan ambil materi ke head office,” ceritanya.

Di India, ada standarisasi tertentu untuk guru, tetapi masalah gaji tetap menjadi isu klasik. Hal ini membuat kita melihat benang merah bahwa baik dosen maupun guru, sama-sama menghadapi tantangan kesejahteraan dan beban kerja administratif yang tinggi. Diskusi semakin menarik ketika menyentuh isu besar: bagaimana komitmen pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan.

Menurut Adityo, meskipun Indonesia sudah mengalokasikan 20% anggaran pendidikan, pemerataan kesejahteraan guru dan dosen masih jauh dari maksimal. Selain itu, ketimpangan fasilitas pendidikan di daerah-daerah juga sangat terasa, terlebih saat pandemi.

“Bayangkan, ada sekolah yang siswanya kelas 3 tapi belum bisa baca tulis karena selama pandemi hanya diberi tugas tanpa interaksi belajar mengajar,” tuturnya.

Meski berat, baik Adityo maupun Dianita sepakat bahwa passion menjadi bahan bakar utama mereka untuk tetap mengajar. Namun, mereka berharap passion tersebut tidak lagi dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap isu kesejahteraan tenaga pendidik. Seperti yang ditekankan Adityo, “Kalau benar-benar ingin pendidikan Indonesia maju, jangan ada yang tertinggal. Bukan hanya soal gaji, tapi juga dukungan fasilitas, literatur, dan akses yang adil untuk semua pengajar.”

Episode kali ini menjadi refleksi penting di Hari Pendidikan Nasional. Diskusi bersama Adityo dan Dianita menunjukkan bahwa perjuangan guru dan dosen masih panjang. Namun, dengan semangat, advokasi, dan kesadaran bersama, semoga dunia pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik. Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut di kanal Spotify dan pastikan untuk FOLLOW ya!

(AISIYU) Saya Merasa Marah dan Itu Tidak Apa-apa

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Dianita yang tinggal di India.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Bersama KJRI Mumbai Gelar Diskusi Daring “Perkawinan Campuran Indonesia-India”

MUMBAI, INDIA — Seiring dengan meningkatnya interaksi sosial, ekonomi, dan budaya antara Indonesia dan India, jumlah perkawinan campuran antara warga Indonesia – India pun mengalami peningkatan signifikan. Di balik keindahan kisah cinta lintas budaya ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, kompleksitas hukum, hingga tekanan sosial-psikologis.

Berkaitan dengan fenomena sosial tersebut dan guna mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan India serta memberikan dukungan nyata bagi pasangan kawin campur, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Mumbai mengadakan acara Diskusi Daring: Perkawinan Campuran Indonesia–India. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 10 Mei 2025, pukul 10.00 – 12.00 waktu India secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Diskusi daring ini menjadi sangat relevan sebagai wadah berbagi pengalaman, mencari solusi praktis, serta memperkuat ketahanan pasangan kawin campur. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai langkah antisipatif terhadap risiko penipuan dalam relasi daring yang semakin marak.

Diskusi ini akan berfokus pada tiga area penting, antara lain: (1) Membahas bagaimana pasangan dapat mengatasi perbedaan budaya, tradisi, serta sistem kepercayaan yang ada di Indonesia dan India untuk membangun keluarga harmonis. (2). Menjelaskan proses legal formal, pengaturan kewarganegaraan, serta dampak hukum jika terjadi perpisahan atau perceraian. (3). Mengedukasi tentang modus-modus penipuan dalam pertemuan daring dan strategi membangun hubungan lintas negara yang aman. 

Dimoderasi oleh Dianita Pramesti, Koordinator Panitia Penyelenggara dan Relawan Ruanita di India, acara dibuka secara resmi oleh Bapak Eddy Wardoyo, Konsul Jenderal RI di Mumbai.

Beliau menegaskan forum diskusi seperti yang digagas Ruanita Indonesia dapat membangun komunitas pasangan kawin campur untuk saling mendukung, bertukar pengalaman, serta memperkuat solidaritas. KJRI Mumbai yang diwakilkan Dessi Herlin Yudistira juga turut membagikan kekonsuleran yang bermanfaat bagi WNI di bawah area kerja KJRI Mumbai, India.

Follow us

Diskusi pun semakin hangat, dari para pembicara berpengalaman, seperti: Yulian Setiawani, Perwakilan Komunitas Mix Married Indonesia–India, yang berbagi kisah dan praktik baik dalam menjalani perkawinan campuran.

Selanjutnya, Sanchali Sarkar, peneliti dan dosen di India, yang mengulas kultur serta aspek hukum perlindungan perempuan di India. Terakhir, Anggy Eka Pratiwi, mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, yang membahas risiko dan pencegahan penipuan dalam hubungan daring.

Partisipasi dalam acara ini memberikan Anda wawasan praktis, memperluas jaringan pertemanan dan dukungan, serta membantu Anda lebih siap menghadapi dinamika unik dalam kehidupan perkawinan lintas budaya. Ini juga merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan akademisi berpengalaman.

Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami tantangan perkawinan campuran, tetapi juga memperoleh bekal yang cukup untuk memperkuat hubungan mereka dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan hukum yang kompleks.

Tentang Ruanita Indonesia sebagai organisasi nirlaba yang berbasis pemanfaatan ruang kolektif digital, dapat dilihat di laman website www.ruanita.com atau semua laman media sosialnya. Ruanita juga aktif mempublikasikan cerita terkait perkawinan campuran, termasuk buku bertema Perkawinan Campuran yang diterbitkan pada tahun 2022.

Dengan jangkauan di berbagai negara, termasuk India, Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat, Ruanita menjadi tempat bernaung bagi perempuan Indonesia yang membangun kehidupan baru di negeri orang.

Melalui kegiatan seperti Diskusi Daring Perkawinan Campuran Indonesia–India ini, Ruanita terus berkomitmen membangun komunitas yang lebih inklusif, kuat, dan berdaya di tengah perubahan global.

Informasi lebih lanjut: info@ruanita.com 

Rekaman acara dapat disimak di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

SUBSCRIBE ya.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tujuh Tahun Terpisah dari Anak, Usai Bercerai di India

Dalam episode cerita sahabat spesial di bulan Juni 2024, Ruanita Indonesia mengangkat cerita dari India terkait pelaksanaan Hari Janda Sedunia, yang diperingati setiap 23 Juni. Oleh karena itu, kami mengundang Dianita Pramesti yang tinggal di India dan bekerja sehari-hari sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak atau Preschool di Goa, India.

Dianita adalah ibu dari dua orang putra, dari hasil perkawinannya dengan pria asal Goa, India. Di India, anak laki-laki begitu mendapat tempat istimewa dalam keluarga. Menjadi janda, terpisah dari anak kandung dan bertahan hidup di India yang tak mudah bagi Dianita saat itu.

Ini berbeda dengan anak-anak perempuan di India, ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, kebanyakan mereka akan ikut dan tinggal di pihak keluarga suami. Ketika perempuan menikah di India, perempuan pun perlu menyerahkan mas kawin kepada pihak keluarga laki-laki.

Sekelumit cerita Dianita tentang bagaimana dia mengenal betul kultur India, yang menjadi rumah keduanya sekarang. Awalnya, dia bertemu dengan pria berkewarganegaraan India yang kemudian membuatnya untuk menikah dan memutuskan tinggal di India.

follow us

Dianita mengakui dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pernikahannya, tetapi pada akhirnya mantan suaminya tersebut memutuskan untuk pergi ke negara lain dan bekerja di sana. Mantan suaminya pun telah menemukan tambatan hati yang baru.

Setelah Dianita terpisah dari suaminya, kedua putranya terpaksa tinggal bersama keluarga di pihak mantan suami. Anak-anak Dianita diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mantan suami. Sesekali Dianita bisa berkunjung untuk melihat kedua putranya, misalnya kalau mereka berulang tahun.

Keluarga pihak mantan suami tidak mengizinkan kedua putranya Dianita tinggal bersamanya, meskipun ayahnya dari kedua putranya pun tidak ikut mengasuh mereka. Selama tujuh tahun, Dianita berjuang untuk bertahan hidup di India dan memperjuangkan hak asuhnya agar bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Dianita mengakui itu tidak mudah, apalagi Dianita saat itu sudah menjadi janda dan harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ada banyak pihak yang menolong Dianita, sehingga perjuangannya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya, walaupun dia harus membayar mahal pihak pengacara di sana.

Kalau Anda bersimpati terhadap cerita Dianita dan ingin membantu secara finansial, silakan mendapatkan kontak Dianita dengan menghubungi email Ruanita Indonesia.

Apa yang terjadi dengan Dianita sehingga dia tinggal dan berpisah dengan suaminya? Bagaimana perjuangan Dianita mendapatkan hak asuh anaknya? Siapa saja stakeholders yang sudah membantu Dianita untuk keluar dari permasalahan hak asuh anaknya? Setelah mendapatkan hak asuh anaknya, bagaimana kehidupan Dianita sekarang? Apa pesan Dianita kepada kita semua?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.