(SIARAN BERITA) Diskusi Hari Kesehatan Sedunia Soroti Peran Gigi dalam Tumbuh Kembang dan Penuaan

Den Haag, 11 April — Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia 2026, Ruanita Indonesi kembali hadir menggelar diskusi daring yang berfokus pada kesehatan gigi. Tema acara yang diambil yakni: “Kupas Tuntas Kesehatan Gigi dari Balita ke Lansia” memberikan pemahaman yang mendalam perihal kesehatan gigi yang terabaikan. Diskusi daring yang hangat tentang kesehatan gigi dan mulut mengalir selama dua jam penuh, mempertemukan orang tua, caregiver, anggota komunitas lansia seperti ALZI Ned, hingga pemerhati kesehatan dalam satu ruang virtual.

Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian tak terpisahkan dari kualitas hidup. Momentum Hari Kesehatan Sedunia dimanfaatkan untuk menyoroti isu yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya terasa sejak usia dini hingga lanjut usia.

Diskusi dibuka oleh moderator, Dessy de Waal-Ekarini, tenaga kesehatan yang bermukim di Belanda. Dalam pengantarnya, ia mengajak peserta melihat kesehatan gigi sebagai investasi jangka panjang. “Perawatan gigi bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang masa depan anak-anak kita dan kualitas hidup saat menua,” ujarnya, mengawali sesi dengan penuh semangat.

Sesi pertama menghadirkan Drg. Natalia Ekaputri dari Belanda yang mengupas kesehatan gigi anak-anak. Ia menekankan bahwa masalah gigi berlubang pada balita dan anak usia sekolah masih menjadi tantangan serius, termasuk di komunitas diaspora. Menurutnya, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan sejak dini. Orang tua memerhatikan kebiasaan si kecil mulai dari membatasi konsumsi gula, membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, hingga rutin memeriksakan gigi ke dokter.

Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia menjelaskan bagaimana gangguan gigi dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, konsentrasi belajar, bahkan kepercayaan diri. “Rasa sakit pada gigi bisa membuat anak sulit makan dan tidur. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi nutrisi dan perkembangan mereka,” jelasnya. Para orang tua tampak antusias, terlihat dari deretan pertanyaan yang mulai memenuhi kolom chat bahkan sebelum sesi berakhir.

Memasuki sesi kedua, Drg. Asti Sutanto dari Belgia memperluas perspektif ke kelompok dewasa dan lansia. Ia mengingatkan bahwa masalah gigi tidak berhenti ketika seseorang beranjak dewasa. Penyakit gusi, kehilangan gigi, hingga infeksi mulut dapat berkaitan erat dengan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung. Pada lansia, tantangannya semakin kompleks, terutama bagi mereka yang mengalami penurunan fungsi kognitif atau berisiko demensia.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan caregiver dalam merawat kesehatan mulut lansia, terutama yang memiliki keterbatasan fisik. “Kesehatan mulut memengaruhi kemampuan makan, berbicara, dan bersosialisasi. Pada lansia, ini sangat berhubungan dengan kualitas hidup,” paparnya.

Sesi tanya jawab menjadi bagian paling dinamis. Peserta dari komunitas parenting dan komunitas lansia seperti ALZI Ned aktif berbagi pengalaman, mulai dari anak yang sulit menyikat gigi hingga orang tua lanjut usia yang menolak memakai gigi tiruan. Diskusi berkembang menjadi ruang saling belajar, tidak hanya antara narasumber dan peserta, tetapi juga antarpeserta.

Beberapa peserta mengaku baru menyadari kaitan erat antara kesehatan gigi dan risiko penyakit sistemik. Ada pula yang terinspirasi untuk mulai menerapkan jadwal pemeriksaan rutin keluarga setelah mengikuti diskusi ini.

Kegiatan ditutup dengan rangkuman pesan kunci dari kedua pemateri bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Edukasi harus dimulai sejak dini serta berlanjut sepanjang hayat. Semangat kolaborasi lintas komunitas terasa kuat, membuka peluang kerja sama berkelanjutan dalam program promotif dan preventif di masa mendatang.

Dessy de Waal-Ekarini sebagai moderator menyatakan bahwa diskusi daring ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa senyum sehat adalah cerminan kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terkasih. Dari balita hingga lansia, kesehatan gigi dan mulut terbukti menjadi fondasi penting bagi hidup yang lebih berkualitas, yang selama ini masih kurang menjadi perhatian kesehatan secara keseluruhan.

Rekaman acara dapat disimak di kanal kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Menjadi Dokter Gigi Sambil Berwirausaha di Sela Waktu Lowong di Belgia yang Menantang

Melanjutkan program Cerita Sahabat Spesial Episode Maret 2025, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belgia dan berprofesi sebagai dokter gigi.

Dia adalah Drg. Asti Sutanto yang tinggal di Belgia sudah lebih dari 10 tahun untuk bercerita bagaimana pengalaman dan tantangan yang dihadapinya sebagai bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2025.

Dokter gigi Asti berasal dari Surabaya, kemudian pindah ke Belgia tahun 2006 untuk memulai studi lanjutan. Sehari-hari, dokter gigi Asti bekerja 4 hari dalam seminggu dan aktif untuk berbisnis produk-produk Indonesia di Belgia.

Follow us

Drg. Asti pernah menempuh studi kedokteran gigi di Indonesia selama lima tahun. Keputusannya untuk pindah ke Belgia, didasari oleh keinginannya untuk menempuh pendidikan lanjutan di Belanda. Menurutnya, praktik bekerja sebagai dokter gigi di Belgia bukan hal yang mudah di awal kariernya.

Menurut dokter gigi Asti, dia harus menghadapi berbagai perangai pasien dan mentalitas orang lokal, yang kadang disertai dialek dalam berkomunikasi dengannya. Meski begitu, Asti pun perlu memiliki asuransi untuk menjamin keamanan finansialnya selama tinggal di Belgia.

Dokter gigi Asti juga menjelaskan perbedaan sistem asuransi kesehatan di Belanda dengan di Belgia yang berbeda. Selama bekerja menjadi dokter gigi, dia tidak mengalami perlakuan diskriminasi dari pasien-pasien yang ditangani mengingat tak banyak dokter gigi yang praktik di area tersebut.

Apa saja pengalaman dan tantangan yang dialami Asti sebagai dokter gigi di Belgia lebih dari 10 tahun? Mengapa dia perlu ke Belanda dulu? Apa maksudnya sistem undian ketika mau studi kedokteran gigi di Belanda? Apa benar biaya kuliah kedokteran gigi lebih murah di Belgia dibandingkan pengalaman dokter gigi Asti sewaktu di Indonesia dulu?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.