(CERITA SAHABAT) Ciptakan Lingkungan Kerja Inklusif, Tentu Tak Ada Generation Gap

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ecie yang tinggal di Hamburg, Jerman. Sebagai seorang karyawati di sebuah institusi bahasa yang terdiri atas orang-orang berbagai bangsa di Jerman, istilah generation gap bukan hal asing. Ketika saya mendengar istilah “generation gap” di tempat kerja, yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah perbedaan pandangan, nilai, dan pendekatan kerja di antara generasi yang berbeda. 

Menurut saya, kadang-kadang ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau tantangan dalam berkomunikasi dan berkolaborasi. Di tempat kerja, saya dapat mengamati perbedaan paling mencolok antara generasi yang berbeda. Biasanya ini terlihat dalam cara mereka berkomunikasi dan pendekatan terhadap teknologi. 

Generasi yang lebih tua atau mereka yang senior cenderung lebih formal, misalnya mereka lebih memilih komunikasi tatap muka atau melalui telepon. Ini mungkin disebabkan dengan faktor kenyamanan, menurut saya. Sementara generasi yang lebih muda, mereka lebih mengandalkan komunikasi digital, seperti email, pesan instan, atau platform kolaborasi online. 

Generation gap tidak hanya sampai di situ saja. Saya melihat bahwa generasi yang lebih tua 

mungkin lebih fokus pada stabilitas dan loyalitas terhadap perusahaan, sementara generasi yang lebih muda seringkali lebih menekankan pada fleksibilitas, Work-life-balance, dan peluang untuk perkembangan pribadi. 

Tentunya, generation gap juga menciptakan perbedaan dalam prioritas dan pendekatan terhadap pekerjaan, sehingga bukan tidak mungkin timbul percikan-percikan dalam dunia pekerjaan yang saya amati. 

Saya pernah menyaksikan konflik antar generasi di tempat kerja. Biasanya, konflik tersebut muncul dari perbedaan cara pandang atau metode kerja. Dalam salah satu kasus, situasi tersebut ditangani dengan mengadakan diskusi terbuka di mana setiap generasi diberikan kesempatan untuk berbagi pandangan mereka dan mencari solusi bersama. Kalau menurut kalian, sahabat Ruanita begitu jugakah kalau terjadi generation gap?

Dalam tempat kerja saya, saya tidak hanya dihadapkan dengan perbedaan latar belakang budaya atau yang berbeda saja, tetapi juga usia di antara kami. Bekerja dengan orang-orang dari berbagai generasi, tentunya memberikan keuntungan tersendiri. Saya jadi memiliki perspektif beragam, terutama dalam bekerja yang memerlukan kreativitas dan solusi.

Namun, tentunya bekerja dengan berbagai generasi yang kemudian memunculkan kesenjangan pun menimbulkan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau ketegangan, akibat perbedaan nilai dan cara kerja. Menurut saya, cara yang paling efektif untuk menjembatani perbedaan pandangan dan gaya kerja antar generasi di tempat kerja adalah dengan mengadakan sesi pelatihan lintas generasi sehingga menciptakan budaya kerja yang inklusif. Maksud saya, kita perlu menghargai dan mendengarkan setiap orang, terlepas dari usia atau latar belakang mereka. 

Saya menilai posisi saya berada di antara keduanya. Demikian pula saya merasa bahwa setiap generasi mungkin saja bisa diuntungkan atau dirugikan dalam lingkungan kerja, tergantung konteksnya. Artinya, ini bergantung pada seberapa baik perusahaan mengakomodasi kebutuhan dan gaya kerja mereka. 

Misalnya, generasi yang lebih muda mungkin merasa diuntungkan dalam hal adaptasi teknologi, sementara generasi yang lebih tua mungkin merasa dirugikan jika mereka tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk mengikuti perkembangan ini. 

Perbedaan dalam penggunaan teknologi seringkali memengaruhi hubungan antar generasi di tempat kerja. Generasi yang lebih muda biasanya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru, sementara generasi yang lebih tua mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi, yang dapat menciptakan kesenjangan dalam efisiensi kerja dan komunikasi.

Contohnya saja, saya merasa tidak sabar ketika mereka yang berasal dari generasi senior begitu lamban dalam merespon. Mereka bisa mengetik lama sekali karena mereka perlu berpikir lama untuk menjawab email. Contoh lainnya, mereka (generasi senior) ingin sekali belajar Microsoft Excel, tetapi mereka sering “ngeyel” dan ingin lebih cepat selesai. Padahal hasil mereka belum tentu bisa akurat. 

Dalam kaitan tema generation gap, saya percaya kita bisa menjembatani kesenjangan antar generasi ini dengan melakukan program mentoring. Program tersebut bisa berupa pelatihan teknologi bagi generasi yang lebih tua atau mentoring dari generasi yang lebih senior kepada yang lebih muda dalam hal pengembangan karier dan etika kerja. 

Pemberi kerja atau perusahaan juga perlu menyediakan waktu staff meeting untuk saling berbagi perspektif cara kerja masing-masing. Pembekalan cara berkomunikasi dengan rekan kerja juga penting, apalagi saya yang bekerja di tempat kerja dari berbagai latar belakang budaya dan negara. 

Dalam kehidupan digitalisasi seperti sekarang, tentu saya berharap kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan harmonis. Kita perlu menciptakan suasana kerja yang saling menghormati satu sama lain, terlepas dari usia atau latar belakang budayanya. Dengan begitu, kita dapat bekerja sama dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing. Bukankah itu maksudnya bekerja tim? 

Lewat tema generation gap, saya rasa kita perlu menghasilkan tim yang kuat dan dinamis. Kita perlu menghormati generasi senior dan mengajak mereka agar tidak akan merasa tertinggal dengan pesatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi.

Penulis: Ecie, relawan Ruanita yang tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun IG: ciesa.

(IG LIVE) Bahas Tuntas Single Shaming

Melanjutkan diskusi IG Live yang tayang setiap bulan, pada bulan Januari 2025 Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia menggelar diskusi yang tak kalah seru untuk membahas status single, bersama dua sahabat Ruanita yang berada di dua lokasi negara berbeda.

Tentunya, diskusi IG Live tetap dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita yang membahasnya secara menarik bersama Ecie Linasari dan Nissa Vidyanita. Pandangan single shaming bisa dilihat dalam perspektif budaya dan atau psikologi, tetapi apakah benar ini disebabkan ketidaksetaraan gender?

Ecie meyakini bahwa pertanyaan tentang status single yang disandangnya lebih banyak diperoleh dari orang-orang Indonesia, meski dia berada di Jerman. Batasan yang tegas memang diperlukan untuk merespon pertanyaan orang-orang sekitar atau membuat komentar negatif yang tidak tepat.

Sementara Vidya memahami bahwa Single Shaming mudah terjadi di masyarakat, yang masih menempatkan perempuan pada posisi marjinal. Vidya tidak mengalami single shaming saat berada di Irlandia. Perempuan yang tidak berpasangan masih dianggap sebagai bentuk kegagalan.

Single shaming juga masih dipandang kuat dalam perspektif budaya, sehingga hal itu tidak terjadi pada masyarakat di Jerman atau di Irlandia. Menurut Ecie, orang asing yang tak kenal di Indonesia bisa saja dengan mudahnya bertanya tentang status pernikahan padanya.

Vidya pun berpesan kepada sahabat Ruanita yang menyimak Diskusi IG Live untuk percaya bahwa tidak ada yang salah menjadi single. Berikan pula batasan yang menandakan bahwa kita harus bisa menghargai diri sendiri dan orang lain.

Simak selengkapnya diskusi IG Live berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Studi dan Pembelajaran Hidup dari Jerman Ke Thailand

Melanjutkan episode ke-31 dari program podcast RUMPITA di bulan November kali ini, Podcaster Anna dan Ecie mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Bangkok, Thailand. Dia adalah Legiana Lestari yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Thailand, untuk memperdalam keahlian Bahasa Jermannya. Dalam episode ini, Legiana banyak berbicara tentang studi dan pembelajaran hidup yang diperolehnya saat berada di Jerman dan di Thailand.

Awal studi S1 di Indonesia, Legiana yang studi Bahasa Jerman merasa perlu untuk melanjutkan studinya dan memperdalam kemampuan berbahasa Jerman karena dia tidak pernah mendapatkan Native Speaker sebagai pengajar tamu dalam perkuliahan. Legiana merasa perlu praktik Bahasa Jerman dengan penutur asli, sehingga ia memutuskan studi ke Jerman.

Setiba di Jerman, Legiana berkuliah di Universitas Hamburg tetapi tak mudah untuk mengikuti perkuliahan sepenuhnya. Untuk memperdalam keahliannya tersebut, Legiana sempat mencoba berbagai program di Jerman agar dapat langsung mempraktikkan Bahasa Jerman dengan native speaker.

Legiana tidak berhasil menyelesaikan studi di Jerman dan dia memutuskan kembali ke Jerman. Saat itu, Legiana harus merawat sang ibu yang sakit. Tak hanya itu, kondisi pandemi juga menyulitkan Legiana untuk meneruskan studi di Jerman.

Pada akhirnya, Legiana kembali menyusun rencana ulang agar dapat melanjutkan studi Bahasa Jerman dan meraih impiannya tersebut, yang sempat tertunda. Saat bertemu dengan pemelajar, Legiana seperti terpacu untuk dapat meneruskan studinya tersebut.

Legiana tahu bahwa tak mudah mendapatkan studi belajar dan tinggal di Jerman. Ada banyak cerita bagaimana studi di Jerman tak mudah, meskipun Legiana telah menguasai Bahasa Jerman di kampus sebelumnya di Indonesia.

Kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Legiana mendapatkan kesempatan beasiswa di Thailand yang mana ia bisa tetap dapat melanjutkan studi berbahasa Jerman impiannya tersebut. Meski tinggal di Thailand, tak mudah tetapi Legiana bersyukur tidak ada perbedaan jam untuk tetap mengontak ibunya di Indonesia.

Legiana bercerita bahwa dia harus menguasai Bahasa Jerman dan Bahasa Thailand sekaligus agar dapat menyelesaikan studinya tersebut. Sehari-hari administrasi perkuliahan banyak menggunakan Bahasa Thailand. Tak hanya menguasai Bahasa Thailand saja, Legiana juga lebih sering menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi selama tinggal di Thailand.

Simak diskusi podcast RUMPITA selengkapnya yang dipandu oleh Anna dan Ecie di Jerman berikut ini: