(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Berhasil Perkuat Kesiapan Profesional dan Interkultural Perawat Indonesia di Negara Berbahasa Jerman

Berlin, 28 Juni – Workshop online bertajuk “Praktik Nyata Perawat Indonesia di Eropa” sukses diselenggarakan dalam dua sesi pada Minggu, 28 Juni 2026 dan Minggu, 5 Juli 2026, pukul 10.00–12.00 CEST, melalui platform Zoom Meeting yang difasilitasi oleh Ruanita Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Henny Silalahi, dosen keperawatan di Jerman, sebagai pemateri utama, dengan fokus pada penguatan kompetensi profesional, komunikasi klinis, serta kesiapan interkultural bagi perawat Indonesia yang bekerja atau akan berkarier di negara-negara berbahasa Jerman seperti Jerman, Swiss, dan Austria.

Workshop ini terbuka bagi perawat Indonesia dari berbagai jalur karier, termasuk mereka yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke Jerman untuk meniti profesi keperawatan. Dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based insight), simulasi kasus nyata, dan refleksi pengalaman peserta, kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan riil yang dihadapi perawat migran Indonesia di Eropa.

Selama ini, dunia keperawatan antarbudaya lebih banyak menekankan sisi administrasi dan kompetensi bahasa asing saja, padahal praktik nyata lebih daripada itu. Workshop daring ini menjawab kebutuhan komunikasi dan kompetensi yang masih ada gap di antara perawat-perawat di negara berbahasa Jerman.

Pada sesi pertama, workshop dibuka secara resmi oleh Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Berlin, Bapak Fajar Wirawan Harijo. Bapak Fajar Wirawan Harijo mengapresi ruang-ruang digital yang dibangun oleh Ruanita Indonesia untuk menyediakan ruang belajar sesama orang Indonesia, seperti workshop daring keperawatan antarbudaya. Ia menilai program ini bisa terus dilanjutkan di kemudian hari untuk membantu para perawat Indonesia beradaptasi dengan situasi negara tujuan, seperti Jerman.

Di hari pertama, peserta mendalami tema Intercultural Nursing Practice (Indonesia vs Jerman) yang membahas perbedaan budaya kerja, pola komunikasi, otonomi pasien, serta tanggung jawab hukum perawat di sistem kesehatan Jerman. Diskusi berkembang pada dinamika hubungan profesional antara tenaga kesehatan, termasuk bagaimana gaya komunikasi langsung dalam budaya Jerman dapat dipersepsikan berbeda oleh tenaga kesehatan asal Indonesia.

Sesi kedua mengangkat topik Clinical Communication & Workplace Survival, yang menitikberatkan pada keterampilan komunikasi efektif di lingkungan klinis, termasuk penggunaan metode SBAR, interaksi dengan pasien lansia, hingga strategi menghadapi konflik komunikasi dalam tim interprofesional. Peserta juga mengikuti simulasi handover dan latihan kalimat klinis yang relevan untuk konteks rumah sakit di Jerman.

Setiap sesi dirancang selama dua jam dengan struktur pembelajaran 20 persen konsep inti, 50 persen studi kasus dan simulasi, serta 30 persen diskusi dan refleksi pengalaman. Model ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh alat praktis yang dapat diterapkan langsung di tempat kerja.

Sebagai luaran, peserta memperoleh berbagai perangkat pendukung seperti checklist adaptasi budaya klinis, template komunikasi praktis, serta kumpulan frasa kunci yang umum digunakan dalam pelayanan kesehatan di Jerman.

Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia, yang turut mengoordinasikan jalannya kegiatan, menegaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan nyata komunitas perawat Indonesia di Eropa.

“Perawat Indonesia di negara-negara berbahasa Jerman membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan. Workshop ini menjadi jembatan untuk memperkuat kesiapan profesional, adaptasi budaya, dan strategi karier yang realistis bagi mereka,” ujar Founder Ruanita Indonesia, Anna Knöbl yang tinggal di Jerman. Lebih lanjut Anna menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam membangun ekosistem pendukung bagi tenaga kesehatan migran.

“Kami ingin menghadirkan forum yang relevan dan berdampak langsung. Tantangan terbesar bukan hanya bahasa, tetapi bagaimana memahami sistem kerja, komunikasi profesional, dan budaya klinis yang berbeda. Inilah kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak awal,” jelas Anna Knöbl sekali lagi. Melalui workshop ini, diharapkan peserta menjadi lebih siap menghadapi culture shock, mampu berkomunikasi lebih efektif di rumah sakit, serta memiliki strategi karier yang lebih terarah di negara-negara berbahasa Jerman.

Keberhasilan penyelenggaraan program ini menandai semakin pentingnya ruang pengembangan kapasitas bagi tenaga kesehatan Indonesia di ranah global, sekaligus membuka peluang untuk penyelenggaraan program lanjutan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan komunitas profesional Indonesia di Eropa.

(SIARAN BERITA) Perawat Indonesia Berbagi Pengalaman dan Praktik Baik di Tingkat Global

Banjarbaru, Kalimantan Selatan – Dalam rangka memperingati Hari Perawat Sedunia (International Nurses Day), Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berkolaborasi dengan Institut Kesehatan Suaka Insan menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Global Nurse Migration: Opportunity, Protection, and Ethics” atau “Perawat Indonesia di Panggung Global: Pengalaman, Etika, dan Kesehatan Mental.”

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa keperawatan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Acara dibuka oleh Ketua DPK PPNI Rumah Sakit Suaka Insan, Sutikno Ners., M.Kes.; Rektor IKES Suaka Insan, Sr. Imelda Ingir, PhD; Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Sesilia Susi.

Diskusi ini menghadirkan para perawat Indonesia yang telah berkarier di berbagai negara, seperti Denmark, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab, serta akademisi keperawatan di Taiwan. Para narasumber berbagi pengalaman langsung terkait praktik kerja di luar negeri, tantangan adaptasi, hingga pembelajaran yang mereka dapatkan selama berkarier secara global.

Dalam diskusi ini, dibahas bagaimana kebutuhan tenaga perawat dunia yang terus meningkat membuka peluang besar bagi perawat Indonesia. Dengan jumlah tenaga keperawatan yang cukup besar, Indonesia memiliki potensi strategis untuk berkontribusi di tingkat global.

Follow us

Namun demikian, para pembicara menekankan bahwa migrasi perawat tidak hanya berbicara tentang peluang ekonomi, tetapi juga kesiapan kompetensi, pemahaman etika, serta perlindungan hukum. Peserta diajak untuk melihat migrasi sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan, di mana pengalaman internasional dapat menjadi bekal untuk memperkuat sistem kesehatan di Indonesia.

Selain peluang karier, isu perlindungan dan etika menjadi sorotan utama dalam diskusi. Para narasumber mengangkat berbagai tantangan yang sering dihadapi perawat di luar negeri, seperti perbedaan budaya kerja, hambatan komunikasi, hingga tekanan psikologis.

Kesehatan mental perawat menjadi topik penting yang dibahas secara terbuka. Para pembicara membagikan pengalaman dalam menghadapi culture shock, beban kerja, serta cara menjaga keseimbangan emosional di lingkungan kerja yang baru. Diskusi ini juga menekankan pentingnya dukungan sistem, baik dari institusi pendidikan, organisasi profesi, maupun lingkungan kerja, untuk membantu perawat tetap sehat secara mental dan profesional.

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pemaparan materi, sharing pengalaman, serta sesi tanya jawab interaktif yang berlangsung aktif. Peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga kesempatan untuk berdialog langsung dengan para narasumber. Selain itu, kegiatan ini turut menjadi ruang untuk memperkuat jejaring antarperawat dan calon tenaga kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.

Melalui kegiatan ini, Anna Knöbl sebagai penyelenggara berharap para perawat Indonesia semakin siap menghadapi tantangan global dengan bekal kompetensi, pemahaman etika, serta ketahanan mental yang lebih baik. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa perawat tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem kesehatan global yang terus berkembang.

Simak rekaman diskusi daring peringatan Hari Perawat Internasional di Kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.