(CERITA SAHABAT SPESIAL) Makna Kartu Ucapan Mulai dari Relasi Hingga Kesehatan Mental

Di zaman ketika hampir semua ucapan berpindah ke layar ponsel, seorang perempuan Indonesia di Makau tetap memilih cara lama untuk menyampaikan perasaannya, yaitu melalui selembar kartu buatan tangan. Bagi Fransiska Orris-Beding, yang biasa disapa Siska, membuat kartu bukan sekadar hobi. Ia menyebutnya sebagai “cara untuk mengekspresikan diri dan menjaga kewarasan”.

“Membuat kartu itu buat saya bisa mengekspresikan sangat banyak. Tidak hanya kata-kata, tapi juga gambar, kesan saya terhadap seseorang, bentuk perhatian dan penghargaan terhadap orang lain,” kata Siska menegaskan.

Siska sudah tinggal di Makau selama lebih dari 16 tahun. Namun cintanya pada kartu ucapan dimulai jauh sebelum itu, ketika ia masih berusia sekitar 10 tahun.

Saat kecil, ia sering melihat sang kakak membuat kartu kecil untuk diberikan kepada teman-teman. Suatu hari, sang kakak berkata padanya, “Kamu kan sudah lihat saya buat. Kamu pasti bisa. Ini bahan-bahannya, coba kamu bikin sendiri.” Sejak saat itu, Siska mulai membuat kartu untuk Natal dan Valentine. Dari sana lahir kebiasaan yang ia teruskan hingga kini.

Bagi Siska, selembar kartu bukan sekadar media untuk menyampaikan pesan. Ia menyebutnya sebagai potongan kecil dari dirinya sendiri, yaitu sesuatu yang lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang. Dalam setiap kartu, ia berusaha memasukkan elemen yang menggambarkan penerimanya. Jika seseorang menyukai warna tertentu atau memiliki karakter khas, Siska akan menyesuaikan desain kartunya. “Itu bentuk ekspresi penghargaan dan cinta,” ujarnya.

Ia percaya, hubungan personal antara pembuat dan penerima adalah inti dari makna sebuah kartu. Oleh karena itu, setiap karyanya selalu dibuat dengan hati. Selama masa pandemi, ketika Makau menutup diri dari dunia luar selama hampir tiga tahun, kegiatan sederhana membuat kartu menjadi penyelamat bagi kesehatan mental Siska. Sebagai warga non-residen, ia tidak bisa meninggalkan Makau tanpa risiko tak bisa kembali. Isolasi dan keterbatasan membuat banyak orang kewalahan. Bagi Siska, membuat kartu menjadi terapi yang menenangkan.

Ia menyadari, aktivitas kreatif ini bukan hanya menyehatkan bagi pembuat, tetapi juga memberi dampak positif bagi penerimanya. Kartu menjadi sarana komunikasi emosional dan bentuk perhatian yang hangat di masa-masa sulit. Lebih dari sekadar karya seni, kartu adalah ruang sunyi tempat perasaan diolah dan disampaikan dengan lembut. “Memberi kartu itu menjadi sarana untuk menyatakan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung,” katanya. Dalam proses menulis pesan di dalam kartu, seseorang mengambil waktu: berpikir, menimbang kata, dan menulis dengan hati-hati.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(AISIYU) Saya Pantas Bahagia

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Siska yang tinggal di Makau.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Gelar Workshop Online Craft Therapy “Berdamai dengan Diri Sendiri”

JAKARTA, September 2025 – Sebagai bagian dari kampanye global 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia menghadirkan program AISIYU – AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU 2025 yang dijalankan tiap tahun sejak 2021 lalu. Tahun ini berupa kegiatan utama Workshop Online berbentuk Craft Therapy.

Workshop ini difokuskan pada produk: Affirmation Cards – Berdamai dengan Diri Sendiri, yang diikuti perempuan Indonesia di berbagai lokasi.

Kegiatan ini telah berlangsung dalam dua sesi pada 13 September dan akan dilakukan lagi pada 27 September 2025 secara online melalui Zoom Meeting.

Untuk memperluas jangkauan penerima manfaat dari workshop ini, acara ini didukung oleh komunitas perempuan Indonesia, antara lain: For.Mujeres (Front Santri Melawan Kekerasan Seksual) dan Puan Floresta Bicara. 

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kesadaran tentang pentingnya dukungan emosional bagi penyintas kekerasan berbasis gender.

Dengan mengangkat tema “Berdamai dengan Diri Sendiri”, workshop ini mengajak peserta untuk menciptakan affirmation cards yang sarat pesan positif dan memberdayakan, menggunakan media seni kolase dan journaling dari bahan daur ulang.

Dua fasilitator inspiratif, Fransiska Orris-Beding (pembuat kartu handmade di Makau) dan Maria Nelden (praktisi Psikologi Budaya di Jerman) yang memandu peserta menggali afirmasi diri melalui refleksi kreatif.

Workshop ini juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman dan presentasi karya, dengan dukungan moderator Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita di Islandia.

“Melalui AISIYU, kami ingin menunjukkan bahwa proses pemulihan bagi penyintas kekerasan dimulai dari keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri. Setiap kartu afirmasi yang dihasilkan adalah suara perlawanan dan simbol penyembuhan,” ujar tim Asti selaku perwakilan Ruanita Indonesia.

Sebagai penutup, karya para peserta akan dikurasi dan dipamerkan secara digital pada kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (25 November – 10 Desember 2025) di saluran media sosial Ruanita.