(PODCAST RUMPITA) Membaca Bumi dari Masa Lalu: Cerita Peneliti Indonesia di Rusia

Melanjutkan program diskusi podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – di bulan September 2026, kita ingin berdiskusi terkait ilmu bumi, apalagi bumi kita sekarang, terutama di Indonesia yang rawan bencana alam. Seperti baru-baru ini, Indonesia baru saja mengalaminya terkait aktivitas vulkanik. Jadi, apakah bisa membaca masa lalu bumi demi masa depan yang lebih baik? Diskusi yang awalnya ringan perlahan berubah menjadi refleksi mendalam tentang manusia, bumi, dan masa depan.

Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Anna di Jerman bersama Rieska Wulandari di Italia, percakapan ini menghadirkan Gerry Utama. Dia adalah seorang peneliti geologi lingkungan yang tak hanya akrab dengan data dan peta, tetapi juga dengan realitas lapangan yang kompleks, bahkan terkadang sulit dijelaskan sepenuhnya oleh logika.

Gerry membuka cerita dengan satu fakta yang mengguncang cara kita memandang bumi. Melalui penelitian di Antartika, ia menemukan bahwa material vulkanik dari Indonesia tersimpan dalam lapisan es di kutub selatan. Abu dari letusan Gunung Tambora pada 1816, Gunung Agung pada 1964, hingga Gunung Samalas pada 1258, ternyata mampu menjangkau wilayah yang begitu jauh. Temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, melainkan pengingat bahwa peristiwa di satu titik bumi dapat berdampak secara global. Di situlah, menurutnya, manusia seharusnya mulai menyadari betapa kecilnya posisi kita di hadapan sistem alam yang begitu besar.

Bidang yang ditekuni Gerry, paleogeografi kuarter, berusaha membaca kembali masa lalu bumi melalui jejak-jejak yang tersimpan di alam. Dari sedimen, lapisan es, hingga bentuk bentang alam, semua menyimpan cerita tentang apa yang pernah terjadi. Ia menjelaskan bahwa masa kini sejatinya adalah kunci untuk memahami masa lalu, dan keduanya menjadi dasar untuk membaca kemungkinan masa depan. Dalam perspektif ini, bencana seperti gempa bumi, letusan gunung api, atau perubahan lingkungan bukanlah hal baru. Semuanya pernah terjadi, hanya bentuk dan skalanya yang terus berubah.

Ketika membahas krisis lingkungan, Gerry memilih istilah “kerentanan iklim” dibandingkan “perubahan iklim”. Baginya, bumi secara alami memang selalu mengalami perubahan. Namun, aktivitas manusia mempercepat dan memperparah dinamika tersebut. Sejak era revolusi industri, pelepasan karbon dalam jumlah besar telah mengubah keseimbangan sistem bumi. Dampaknya mulai terasa dalam berbagai bentuk, mulai dari peningkatan suhu global hingga munculnya fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya tidak lazim terjadi.

Indonesia, dalam konteks ini, berada pada posisi yang sangat rentan. Terletak di kawasan cincin api dunia, wilayah ini menjadi titik pertemuan beberapa lempeng tektonik besar. Aktivitas geologi yang tinggi menjadikan gempa bumi, letusan gunung api, hingga longsor sebagai bagian dari realitas yang tak terpisahkan. Gerry menuturkan bahwa melalui data spasial yang ia kumpulkan sejak masa kuliah, ia pernah melihat pola yang mengarah pada potensi bencana. Prediksi itu kemudian terbukti ketika gempa bumi memicu longsor di lokasi yang sama setahun kemudian. Baginya, data bukan hanya angka, melainkan peringatan yang bisa menyelamatkan nyawa jika dipahami dengan benar.

Namun, pengalaman di lapangan mengajarkan bahwa data tidak selalu berdiri sendiri. Dalam banyak kesempatan, ia menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Dari drone yang tiba-tiba hilang hingga pengalaman tak terduga di lokasi penelitian, semua itu membawanya pada satu kesadaran. Menurut Gerry, kita perlu menghargai kearifan lokal. Ia bahkan menyebut adanya ruang pertemuan antara sains modern dan pengetahuan tradisional, sesuatu yang ia gambarkan secara ringan sebagai “geomistik”. Dalam pandangannya, apa yang selama ini dianggap mitos sering kali menyimpan logika yang baru bisa dipahami melalui pendekatan ilmiah di masa kini.

Di balik semua itu, sosok peneliti yang digambarkan Gerry jauh dari stereotip umum. Ia menolak anggapan bahwa peneliti selalu identik dengan laboratorium dan buku. Peneliti kebumian justru dituntut untuk tangguh secara fisik, mampu bekerja di medan ekstrem, dan berhadapan langsung dengan kondisi alam yang tidak selalu bersahabat. Baginya, ilmu tidak cukup hanya dipahami secara teoritis, tetapi harus diiringi dengan pengalaman nyata di lapangan.

Perjalanan Gerry sendiri bermula dari sesuatu yang tidak direncanakan. Ia tumbuh dengan bayangan hidup yang sederhana, mengikuti jalur yang dianggap ideal oleh lingkungan sekitarnya. Namun, sebuah kesempatan di masa kuliah membawanya masuk ke dunia riset. Dari sana, ia menemukan panggilan yang kemudian membawanya melangkah lebih jauh, hingga menempuh pendidikan di Rusia. Di St. Petersburg, ia tidak hanya belajar tentang ilmu kebumian, tetapi juga menghadapi tantangan hidup di lingkungan yang ekstrem, mulai dari suhu dingin yang melukai kulit hingga penyesuaian ritme kehidupan yang jauh berbeda dari Indonesia.

Pada akhirnya, percakapan ini kembali pada satu hal yang sederhana namun mendasar, yakni peran manusia. Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk yang mampu merusak sekaligus membangun. Kita memiliki kemampuan untuk mengubah alam dalam skala besar, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Dari lapisan es di Antartika hingga tanah longsor di perbukitan Indonesia, semua menunjukkan bahwa dampak dari tindakan manusia tidak pernah benar-benar terisolasi.

Kesadaran bahwa manusia itu kecil seharusnya tidak membuat kita merasa tak berdaya. Justru dari situlah muncul tanggung jawab yang lebih besar. Dengan ilmu, data, dan pemahaman yang terus berkembang, manusia memiliki kesempatan untuk tidak hanya memahami bumi, tetapi juga merawatnya.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA di kanal Spotify kami dan pastikan FOLLOW ya untuk mendukung kami