(CERITA SAHABAT) Dua Dunia, Satu Hati: Perjalanan Menjadi Ibu Indonesia untuk Anak-anak Remaja di Prancis

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Edha, seorang ibu yang bahagia dengan memiliki anak-anak remaja di Prancis. Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang ibu: tidak ada yang pernah selesai dalam perjalanan kita membimbing anak-anak. Kita terus belajar, terus menyesuaikan langkah, terus mencari cara agar bisa hadir bagi mereka, meski dunia yang mereka pijak berubah, bertambah luas, atau bahkan semakin berbeda dari dunia yang kita kenal.

Ketika saya memutuskan untuk ikut program Cerita Sahabat Ruanita Indonesia, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk membagikan kisah saya sebagai seorang ibu Indonesia yang membesarkan anak-anak remaja di Prancis. Ini bukan sekadar kisah perpindahan negara, tetapi kisah tentang identitas, keberanian, dan cinta seorang ibu yang berusaha menjaga nilai-nilai Indonesia tetap hidup di tengah budaya Eropa yang sangat berbeda.

Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari sana, saya menemukan makna baru tentang menjadi ibu, tentang rumah, dan tentang bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan dalam satu keluarga. Inilah cerita saya, sahabat Ruanita!

Sebelum menetap di Prancis, hidup saya sepenuhnya berpusat di Indonesia. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari, sebuah profesi yang sangat saya cintai karena memberi saya kesempatan melihat dunia, bertemu berbagai karakter manusia, dan memahami banyak hal tentang kehidupan. 

Namun, ketika saya menikah dan kemudian dikaruniai anak-anak, saya memilih meninggalkan dunia penerbangan yang pernah menjadi rumah kedua saya. Saya memutuskan untuk sepenuhnya fokus menjadi seorang ibu, sesuatu yang ternyata membawa saya pada perjalanan yang tidak kalah menantangnya dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.

Suami saya adalah seorang pria Prancis yang bekerja sebagai ahli geologi di sebuah perusahaan tambang besar di Indonesia. Pekerjaannya menuntutnya sering berpindah dari satu lokasi eksplorasi ke lokasi lain, yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri bersama anak-anak. 

Meski demikian, kehidupan kami tergolong mapan. Anak-anak bersekolah di sekolah negeri dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat Indonesia. Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Indonesia, teman bermain mereka adalah anak-anak Indonesia, dan kebiasaan yang mereka serap juga sepenuhnya berakar dari kultur Indonesia. Nilai-nilai yang mereka kenal sejak kecil, seperti: kesopanan, kebersamaan, hormat kepada yang lebih tua, semuanya tercetak dari lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, saya dan suami menemukan diri kami berada pada sebuah persimpangan besar. Selama bertahun-tahun, anak-anak tumbuh dalam suasana Indonesia yang hangat dan familiar. Namun di balik rutinitas yang mapan itu, kami sama-sama menyadari satu hal: anak-anak kami hanya mengenal salah satu sisi diri mereka, sisi Indonesia.

Di dalam diri mereka sebenarnya ada dua dunia yang berbeda, dua sejarah keluarga, dua bahasa, dan dua budaya. Mereka mewarisi darah Prancis dari ayahnya, tetapi kami sadar bahwa identitas itu belum pernah benar-benar mereka sentuh. Dari sinilah percakapan panjang tentang pindah ke Prancis perlahan mulai mengemuka, kadang singkat, kadang serius, kadang berakhir dengan renungan panjang di malam hari.

Saya ingin anak-anak memahami budaya ayahnya, bukan sekadar sebagai cerita di meja makan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan hidupi. Kami membayangkan mereka menguasai bahasa Prancis bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bahasa sehari-hari yang menghubungkan mereka dengan keluarga ayah, dengan tanah tempat ia dilahirkan. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya sebagai anak Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai anak yang memiliki dua akar, dua perspektif, dan dua tempat pulang.

Namun, meskipun ide itu terasa indah dalam pikiran orang dewasa, kenyataan di hadapan anak-anak jauh lebih kompleks. Ketika kami akhirnya memberi tahu keputusan kami untuk pindah ke Prancis, wajah mereka langsung memperlihatkan campuran emosi yang sulit saya lupakan. Ada kekhawatiran besar dalam mata mereka, kekhawatiran tentang harus meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kenyamanan rumah, meninggalkan sekolah yang sudah sangat mereka kenal. 

Mereka bingung bagaimana nanti menjalani hari-hari di negara asing dengan bahasa yang belum pernah mereka kuasai. Saya melihat air mata yang mereka tahan ketika memikirkan betapa jauhnya mereka dari keluarga besar saya, dari nenek-kakek yang biasanya mereka kunjungi setiap minggu. Ada juga ketakutan tentang lingkungan sosial yang sama sekali baru, tentang bagaimana mereka harus mulai dari awal di tempat yang terasa asing.

Sebagai seorang ibu, melihat kecemasan itu membuat hati saya teriris. Anak-anak saya tidak hanya berpindah rumah, mereka juga akan berpindah dunia. Mereka harus meninggalkan sebagian kecil kehidupan yang selama ini memberi mereka rasa aman dan stabil. Saya tahu keputusan ini berat bagi mereka, tetapi saya juga tahu betapa berharganya pengalaman ini nanti bagi mereka, pengalaman menjadi anak yang hidup dalam dua budaya dengan bangga dan utuh.

Kami banyak berdiskusi sebagai keluarga. Malam-malam kami habiskan dengan menjawab pertanyaan mereka satu per satu, mencoba meredakan kegelisahan yang muncul bergantian. Saya memeluk mereka ketika mereka takut, saya mendengarkan mereka ketika mereka marah atau bingung, dan saya memastikan bahwa mereka tahu satu hal: bahwa kami akan melewati ini bersama. Setelah beberapa waktu dan banyak percakapan penuh air mata dan tawa, mereka mulai menerima keputusan itu. Mereka belum sepenuhnya siap, tetapi mereka mulai membuka pintu kecil di hati mereka untuk menyambut kehidupan baru itu.

Meski akhirnya mereka berkata “iya,” saya tetap bisa merasakan rasa berat yang tersisa dalam langkah kecil mereka menjelang keberangkatan. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan di Indonesia, sebagian dari masa kecil mereka, tetapi ada pula sesuatu yang menunggu mereka di Prancis: masa remaja yang akan membentuk siapa mereka kelak. Dan di tengah ketidakpastian itu, saya hanya bisa menggenggam tangan mereka lebih kuat, memastikan bahwa meski dunia baru menanti, mereka tidak akan pernah melangkah sendirian.

Hidup sebagai ibu dari anak-anak yang tumbuh di dua budaya membuat saya memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal membesarkan, tetapi juga menyeimbangkan. Ketika kami pindah dari Indonesia ke Prancis, anak-anak saya memasuki masa remaja, masa yang penuh pertanyaan dan pencarian jati diri. Dan di tengah perubahan besar itu, saya harus belajar menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ibu. Saya harus menjadi sahabat.

Tidak selalu mudah menjaga hubungan yang dekat dengan mereka. Ada hari ketika mereka lebih memilih menutup pintu kamar daripada mendengarkan saya. Ada saat-saat ketika nilai-nilai Indonesia yang saya pegang erat bertabrakan dengan cara berpikir mereka yang semakin dipengaruhi budaya Eropa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kebebasan berbicara, kemandirian sejak kecil, dan ekspresi diri yang terbuka, sementara saya membawa warisan sopan santun, kerendahan hati, dan kehangatan khas Indonesia. Setiap hari kami seakan menegosiasikan dua dunia itu, mencari cara agar tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi.

Dalam proses itu, saya sadar bahwa saya harus banyak belajar: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi batasan dengan lembut, dan menyampaikan nilai-nilai Indonesia dengan cara yang membuat mereka ingin merawatnya, bukan menolaknya. Tidak ada sekolah yang mengajarkan semua itu. Saya belajar sambil berjalan, sering salah langkah, tetapi selalu kembali mencoba lagi.

Namun dari perjalanan ini, saya melihat sesuatu yang sangat indah. Perlahan, identitas keluarga kami terbentuk bukan sebagai Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai gabungan utuh keduanya. Anak-anak saya nyaman berbicara dalam dua bahasa, membawa sopan santun Indonesia tetapi juga keberanian ala Prancis, dan tumbuh dengan cara yang membuat saya merasa bangga sekaligus takjub. Mereka belajar mencintai dua budaya yang membentuk mereka, dan saya belajar melepaskan kekeliruan anggapan bahwa mereka harus memilih salah satu.

Untuk perempuan Indonesia yang mungkin mempertimbangkan pindah negara, terutama yang punya anak remaja, saya ingin berpesan: jangan takut pada perubahan besar. Memasuki budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Anak-anak kita justru bisa membawa keduanya sebagai kekuatan. Peluklah prosesnya. Tidak semua hari akan mudah, tetapi selalu ada makna di balik tantangan itu. Temukan komunitas, bangun jaringan pertemanan, dan tetap jaga bahasa serta nilai-nilai Indonesia dengan penuh cinta, bukan paksaan.

Dan untuk anak-anakku, jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa kalian boleh tumbuh dalam dua dunia, tetapi kalian tidak harus kehilangan siapa diri kalian. Rawatlah nilai Indonesia yang sudah ibu tanamkan sejak kecil. Hargailah budaya lain tanpa menghapus akar kalian. Jangan takut menapaki hal-hal baru; setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang sulit, akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.

Pada akhirnya, hidup dalam dua budaya mengajarkan saya bahwa rumah tidak pernah hanya satu titik di peta. Rumah adalah perjalanan, rumah adalah pelajaran, dan rumah adalah orang-orang yang kita cintai. Dan bagi saya, rumah itu kini hidup di mana pun anak-anak saya berada, di antara bahasa Indonesia dan Prancis, di antara sopan santun dan kebebasan berekspresi, di antara dua dunia yang mereka rangkul dengan hati penuh.

Penulis: Edha, yang tinggal di Prancis, dan dapat dikontak via akun instagram edhadelaby

(IG LIVE) Jarak Bukan Penghalang: Menjaga Waras dan Ikatan Emosional dalam LDR Parenting

Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.

Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.

“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.

Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.

“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.

Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.

Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.

“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.

Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.

Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:

  • Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
  • Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
  • Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
  • Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.

Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.

“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.

Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT) LDR Parenting: Dari Jakarta ke UK

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara, yang lahir dan besar di Jakarta. Hidup saya penuh dengan perjalanan, bukan hanya secara fisik berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang membentuk siapa saya hingga hari ini. Sejak 2020, saya resmi tinggal di Inggris, sebuah negeri yang awalnya terasa asing, tetapi kini menjadi rumah kedua bagi saya.

Proses di sini cepat sekali karena saya tidak mau overstay. Jadi kami mengurus upgrade visa ke visa family untuk kemudian kami bisa menikah di UK. Alhamdulillah, akhirnya saya tinggal di sini sampai hari ini.

Perjalanan pindah ke Inggris bisa dibilang sangat cepat dan penuh kejutan. Tahun itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya. Hubungan kami berkembang pesat, hanya dalam hitungan bulan ia melamar. Dua bulan setelah Itu, saya sudah bersiap untuk mengurus keberangkatan dengan visa turis. Tidak pernah saya bayangkan hidup akan membawa saya sejauh ini, dari Jakarta, ke Bali, dan akhirnya menetap di Inggris.

Namun, sebelum kisah ini berlanjut, ada satu bagian besar hidup saya yang tak bisa saya lepaskan: peran saya. Bahwa saya adalah seorang ibu tunggal sejak 2008, meski kini saya menetap di Inggris.

Ketika putri saya baru berusia tiga tahun, rumah tangga saya berakhir dengan perceraian. Saat itu dunia saya seakan runtuh. Hidup saya berubah drastis, sekejap saja. Dari seorang istri, saya menjadi seorang ibu tunggal yang harus menanggung beban hidup seorang diri, sembari saya tetap memastikan anak tetap tumbuh dalam cinta.

Kalau diceritakan secara lengkap, kisah perjalanan saya sebagai ibu tunggal bisa menjadi sebuah buku tebal. Ada perjuangan, air mata, kelelahan, tetapi juga ada kekuatan yang tidak pernah saya tahu sebelumnya ada dalam diri saya. Putri saya menjadi alasan terbesar untuk terus melangkah.

Saya pernah bekerja di Bali, di sebuah Dive resort. Saat itulah mantan suami meminta agar putri kami tinggal bersamanya dan keluarganya. Karena jarak rumahnya hanya sekitar 20 menit dari rumah ibu saya, saya pun menyampaikan pesan itu. Awalnya sulit menerima, tapi saya belajar untuk percaya bahwa selama ada komunikasi dan doa, ikatan kami tidak akan pernah hilang.

Menjalani peran sebagai ibu jarak jauh adalah salah satu tantangan terbesar dalam hidup saya. Mungkin banyak orang bisa membayangkan, tapi hanya yang benar-benar mengalaminya yang tahu betapa dalam luka dan rindunya. Berpisah secara fisik dengan anak semata wayang itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.

Lima tahun lamanya saya tidak bertemu langsung dengannya, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali di akhir tahun 2024. Bayangkan, lima tahun! Rindu itu setiap hari hadir, tak pernah absen. Ada kalanya saya merasa kuat, tapi lebih sering saya harus menelan perasaan bersalah dan kesepian.

Beruntung, kita hidup di era digital. WhatsApp menjadi jembatan cinta kami. Video call, pesan singkat, bahkan sekadar emoji bisa menjadi pengobat rindu. Melalui layar kecil, saya masih bisa mendengar suaranya, melihat ekspresinya, bahkan bercanda meski jarak ribuan kilometer memisahkan. Itu yang membuat saya bertahan.

Namun, tentu saja ada banyak momen penting yang terlewat. Acara sekolah, kenaikan kelas, bahkan momen kecil yang biasanya menjadi rutinitas ibu-anak. Rasanya hampa, seperti ada bagian dari diri saya yang tidak lengkap. Untungnya, saya tetap terhubung dengan grup WhatsApp orang tua murid dan guru di sekolahnya. Dari sana saya bisa mengikuti perkembangan, meski tidak hadir secara fisik.

Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang kuat dalam iman. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jangan pernah meninggalkan ibadah.” Nasihat ini menjadi pondasi saya, bahkan dalam menjalani peran sebagai ibu jarak jauh. Doa adalah dukungan emosional terbesar yang bisa saya berikan kepada putri saya.

Selain itu, saya sering bercerita. Saya percaya, komunikasi bukan hanya soal memberi kabar, tapi juga soal membangun kebiasaan berbagi perasaan. Dengan bercerita, saya memberi ruang bagi putri saya untuk juga terbuka tentang kesehariannya. Dari obrolan sederhana itulah, hubungan kami tetap hangat.

Hidup di Inggris membawa saya pada babak baru: menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar. Suami saya memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Dinamika ini menarik sekaligus menantang.

Di sini, aturan tentang pengasuhan anak berbeda dengan Indonesia. Anak-anak tinggal bersama ibu kandung mereka, sementara waktu dengan ayah sudah terjadwal rapi. Saya belajar menyesuaikan diri dengan pola ini. Awalnya canggung, tapi perlahan saya menemukan ritmenya.

Tantangan terbesar adalah bahasa. Anak-anak berbicara cepat dengan kosakata yang kadang belum saya pahami. Saya sering hanya bisa diam ketika mereka bercerita pada ayahnya, lalu pelan-pelan saya belajar. Dari mereka, saya mendapat kesempatan untuk terus berkembang, termasuk dalam bahasa Inggris.

Suami saya sangat mendukung peran saya sebagai ibu dari anak yang tinggal di Indonesia. Ia sering menyemangati anak-anaknya untuk membuat kartu ucapan atau hadiah kecil untuk putri saya. Bahkan saat saya video call, mereka ikut menyapa. Itu membuat saya terharu. Bagaimana tidak?! Bahwa mereka mengakui keberadaan putri saya sebagai bagian dari keluarga kami.

Menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri bukan hal mudah. Sejak awal, saya selalu mengingatkan diri, “Jangan lupakan dirimu.” Saya tahu, secara teknis saya bukan ibu kandung mereka. Namun dengan dukungan penuh dari suami, saya bisa menjalani peran ini dengan lebih ikhlas.

Ada kalanya saya merasa bersalah. Saya merasa gagal sebagai ibu karena tidak selalu bisa hadir untuk putri saya. Saya sering tenggelam dalam pikiran, berdoa siang dan malam agar suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam kehidupan yang utuh.

Belajar manajemen stres menjadi kunci. Saya menemukan ketenangan lewat ibadah, meditasi, dan yoga. Rutinitas ini membantu saya tetap waras, tetap kuat, dan tetap percaya diri menjalani hari-hari.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa “ibu” bukan sekadar status biologis. Ibu adalah fondasi, guru pertama dalam keluarga, sumber cinta yang tak bisa tergantikan. Keluarga, bagi saya, adalah paket lengkap: suka, duka, konsekuensi dari setiap pilihan. Yang penting adalah menjaga harmonisasi hati, meski jarak memisahkan.

Saat ini, putri saya sedang menjalani status barunya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya bangga sekali karena ia sempat berhasil mendapatkan bukan hanya satu, tapi lima beasiswa ke luar negeri. Meski begitu, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Indonesia dulu sebelum berencana melanjutkan ke Inggris di tahun ketiganya nanti.

Tentu saja harapan terbesar saya adalah bisa berkumpul kembali dengannya. Tidak ada doa lain yang lebih sering saya panjatkan selain doa untuk pertemuan itu.

Jika suatu hari nanti ia membaca cerita ini, saya ingin ia tahu: “Nikmatilah waktumu dengan rasa senang. Dunia tidak perlu tahu proses perjalanan kita, yang penting kita saling menjaga diri dan berjuang bersama. Roda kehidupan terus berputar, tapi cinta ibu ini akan selalu melekat, nyata, dan terkirim dalam setiap doa.”

Sahabat Ruanita, di akhir kisah saya, saya yakin cerita saya bukan satu-satunya. Banyak perempuan Indonesia di luar sana yang mungkin juga menjalani peran serupa: menjadi ibu jarak jauh, bagian dari blended family, dan berusaha beradaptasi di negeri orang.

Pesan saya sederhana: kuatkan diri.

Sabar itu perlu latihan, dan inilah saatnya melatihnya lebih dalam. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang bukan porsimu. Ingat, setiap negara punya cara pandang berbeda soal keluarga.

Jangan ragu mencari dukungan, baik dari sesama ibu sambung maupun komunitas lain. Meski jalannya berbeda, kita bisa saling menguatkan dengan kesadaran mendalam.

Perjalanan saya masih panjang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang pasti: menjadi ibu, meski dari jarak jauh, tetaplah sebuah panggilan jiwa. Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal jarak, waktu, atau batas negara.

Dan inilah cerita saya, yakni tentang cinta, kehilangan, doa, dan harapan dalam menjalani LDR Parenting.

Penulis: Griska Gunara, yang tinggal di UK dan dapat dikontak melalui akun Instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Makna Kartu Ucapan Mulai dari Relasi Hingga Kesehatan Mental

Di zaman ketika hampir semua ucapan berpindah ke layar ponsel, seorang perempuan Indonesia di Makau tetap memilih cara lama untuk menyampaikan perasaannya, yaitu melalui selembar kartu buatan tangan. Bagi Fransiska Orris-Beding, yang biasa disapa Siska, membuat kartu bukan sekadar hobi. Ia menyebutnya sebagai “cara untuk mengekspresikan diri dan menjaga kewarasan”.

“Membuat kartu itu buat saya bisa mengekspresikan sangat banyak. Tidak hanya kata-kata, tapi juga gambar, kesan saya terhadap seseorang, bentuk perhatian dan penghargaan terhadap orang lain,” kata Siska menegaskan.

Siska sudah tinggal di Makau selama lebih dari 16 tahun. Namun cintanya pada kartu ucapan dimulai jauh sebelum itu, ketika ia masih berusia sekitar 10 tahun.

Saat kecil, ia sering melihat sang kakak membuat kartu kecil untuk diberikan kepada teman-teman. Suatu hari, sang kakak berkata padanya, “Kamu kan sudah lihat saya buat. Kamu pasti bisa. Ini bahan-bahannya, coba kamu bikin sendiri.” Sejak saat itu, Siska mulai membuat kartu untuk Natal dan Valentine. Dari sana lahir kebiasaan yang ia teruskan hingga kini.

Bagi Siska, selembar kartu bukan sekadar media untuk menyampaikan pesan. Ia menyebutnya sebagai potongan kecil dari dirinya sendiri, yaitu sesuatu yang lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang. Dalam setiap kartu, ia berusaha memasukkan elemen yang menggambarkan penerimanya. Jika seseorang menyukai warna tertentu atau memiliki karakter khas, Siska akan menyesuaikan desain kartunya. “Itu bentuk ekspresi penghargaan dan cinta,” ujarnya.

Ia percaya, hubungan personal antara pembuat dan penerima adalah inti dari makna sebuah kartu. Oleh karena itu, setiap karyanya selalu dibuat dengan hati. Selama masa pandemi, ketika Makau menutup diri dari dunia luar selama hampir tiga tahun, kegiatan sederhana membuat kartu menjadi penyelamat bagi kesehatan mental Siska. Sebagai warga non-residen, ia tidak bisa meninggalkan Makau tanpa risiko tak bisa kembali. Isolasi dan keterbatasan membuat banyak orang kewalahan. Bagi Siska, membuat kartu menjadi terapi yang menenangkan.

Ia menyadari, aktivitas kreatif ini bukan hanya menyehatkan bagi pembuat, tetapi juga memberi dampak positif bagi penerimanya. Kartu menjadi sarana komunikasi emosional dan bentuk perhatian yang hangat di masa-masa sulit. Lebih dari sekadar karya seni, kartu adalah ruang sunyi tempat perasaan diolah dan disampaikan dengan lembut. “Memberi kartu itu menjadi sarana untuk menyatakan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung,” katanya. Dalam proses menulis pesan di dalam kartu, seseorang mengambil waktu: berpikir, menimbang kata, dan menulis dengan hati-hati.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(SIARAN BERITA) Peringati Hari Anak Nasional melalui Diskusi Dwi Kewarganegaraan dan Identitas Anak Indonesia di Keluarga Internasional

ISLAMABAD, 26 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Indonesia 2026, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Anak Global, Identitas Nasional: Memahami Dwi Kewarganegaraan dan Masa Depan Anak Indonesia di Keluarga Internasional” pada Minggu (26/7). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai negara, terdiri atas orang tua, perempuan Indonesia di luar negeri, pemerhati anak, akademisi, serta masyarakat umum.

Diskusi diselenggarakan sebagai ruang edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, perlindungan hukum anak hasil perkawinan campuran, serta pentingnya membangun identitas nasional bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan multikultural.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Rahmat Hindiarta Kusuma, Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Islamabad, Pakistan, yang menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak anak Indonesia di luar negeri, termasuk anak-anak yang berada dalam keluarga dengan latar belakang kewarganegaraan ganda. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Fungsi Pensosbud KBRI memiliki peran dalam memberikan pendampingan, informasi, dan fasilitasi terkait berbagai persoalan sosial dan kekonsuleran yang dihadapi WNI di luar negeri, termasuk isu yang berkaitan dengan status kewarganegaraan anak hasil perkawinan campuran.

Setelah pembukaan tersebut, moderator Dewi N. S. Lubis, Mahasiswa Hukum Universitas Terbuka di Singapura, mengawali diskusi dengan menekankan bahwa Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk memperhatikan hak-hak anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di luar negeri dan menghadapi dinamika identitas sebagai bagian dari keluarga internasional.

Pada sesi pertama, Maudy Noor Fadhlia, dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, memaparkan aspek perlindungan hukum internasional bagi anak berkewarganegaraan ganda. Ia menjelaskan berbagai regulasi yang mengatur status kewarganegaraan anak Indonesia, tantangan administrasi, serta pentingnya perlindungan negara terhadap hak-hak anak di tengah mobilitas masyarakat global.

Sesi berikutnya menghadirkan Rina Harahap, Relawan Ruanita Indonesia di Pakistan, yang membagikan pengalaman keluarga Indonesia di Pakistan dalam mengurus dokumen kewarganegaraan anak serta berbagai tantangan administrasi yang dihadapi keluarga lintas negara. Ia menekankan pentingnya memperoleh informasi yang akurat agar orang tua dapat memenuhi hak-hak sipil anak sejak dini.

Pengalaman serupa disampaikan oleh Rindu Ragilia, content creator yang berdomisili di Portugal. Sebagai ibu yang menikah dengan warga Pakistan dan membesarkan anak-anak yang lahir di negara ketiga, ia berbagi kisah mengenai pengasuhan lintas budaya, pengenalan bahasa Indonesia, serta upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak yang tumbuh di lingkungan internasional.

Perspektif psikologis disampaikan oleh Reneta, psikolog yang berdomisili di Australia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa anak-anak birasial dan multikultural memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai individu yang adaptif dan terbuka terhadap keberagaman. Namun demikian, dukungan keluarga tetap menjadi faktor penting dalam membangun rasa percaya diri, identitas diri yang sehat, serta keterikatan terhadap budaya asal.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai persoalan, mulai dari prosedur kewarganegaraan, hak-hak anak dalam keluarga lintas negara, hingga strategi membangun identitas nasional tanpa mengabaikan realitas sebagai warga dunia.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang edukasi dan berbagi pengalaman bagi perempuan Indonesia dan keluarga Indonesia di berbagai belahan dunia. Diskusi ini juga diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, memperkuat jejaring dukungan bagi keluarga Indonesia di luar negeri, serta menjadi referensi publik melalui dokumentasi yang akan ditayangkan di kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tumbuh, memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pengakuan identitas, serta kesempatan berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Simak selengkapnya rekaman diskusi daring yang tayang di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

(PRODUK) Buku Kumpulan Cerita Fiksi Kolektif: Gema dari Ruang Hening

Buku ini merupakan kumpulan cerita fiksi yang lahir dari pengalaman batin, refleksi, dan imajinasi 25 perempuan Indonesia yang hidup tersebar di 14 negara. Berakar dari kampanye digital Ruanita Indonesia dalam rangka Hari Perempuan Internasional Maret 2026, karya ini menjadi ruang bersama untuk merayakan suara perempuan sebagai warga global yang melintasi batas geografis, budaya, dan identitas.

Setiap cerita menghadirkan potret kehidupan perempuan Indonesia di perantauan: tentang rindu yang tak sederhana, pergulatan identitas di negeri orang, relasi rumah tangga yang kompleks, hingga perjuangan menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan kesepian. Di sisi lain, kisah-kisah ini juga menampilkan ketangguhan, keberanian mengambil keputusan, pencarian makna diri, serta upaya membangun mimpi dan kemandirian di tengah keterbatasan.

Dari konflik keluarga, tekanan sosial, hingga pertemuan lintas budaya, para tokoh dalam buku ini bergerak di antara dua dunia, yakni mempertahankan akar sekaligus beradaptasi dengan realitas baru. Ada suara-suara yang dulu dipendam kini menemukan jalannya: tentang menjadi anak perempuan pertama, menjadi istri di tanah konflik, menjadi pekerja migran yang terpinggirkan, hingga menjadi individu yang berani mendefinisikan ulang kebahagiaan dan identitasnya.

Disunting dari hasil Workshop Online Warga Menulis Fiksi, buku ini bukan sekadar kumpulan cerita melainkan arsip hidup tentang pengalaman perempuan Indonesia di panggung global. Ini menjadi bukti bahwa setiap pengalaman perempuan adalah pengetahuan, setiap luka adalah narasi, dan setiap kata adalah bentuk keberanian.


Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mendengar dan merasakan, bahwa di balik jarak dan perbedaan, ada benang merah yang menghubungkan antara perjuangan untuk menjadi diri sendiri dan dunia yang lebih setara.

Nantikan buku ini yang akan dijadikan dalam versi audio dalam produksi bersama secara sukarela dalam waktu dekat.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Slovenia: Lebih dari Sekadar Pindah Negara

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Siti Aghata Romizah Yasmin, atau biasa dipanggil Aghata. Saya berasal dari Indonesia dan saat ini melanjutkan studi Master di Slovenia, setelah sebelumnya tinggal di Jerman selama setahun. Perjalanan tiga tahun merantau di Eropa ini bukan sekadar pindah negara, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang menguji arti sebenarnya dari ketahanan diri.

Perpindahan saya dari Jerman ke Slovenia adalah sebuah evolusi. Pengalaman saya di Jerman memberi fondasi penting untuk memahami kehidupan di Eropa, namun tujuan saya lebih besar: melanjutkan pendidikan dan menantang diri di lingkungan yang sama sekali berbeda.

Jerman adalah ujian resiliensi pertama saya. Dua bulan awal terasa berat, culture shock membuat saya merindukan kehangatan Indonesia. Namun, dengan dukungan luar biasa dari keluarga angkat, saya belajar bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang menerima dan tumbuh.

Saya sempat berpikir pengalaman di Jerman bisa dijadikan cetak biru untuk negara Eropa lainnya. Ternyata, saya salah besar. Slovenia punya “jiwa” dan ritme yang sama sekali berbeda. Proses adaptasi kali ini terasa lebih lambat, dan saya menyadari penyebabnya ada dua. Pertama, hilangnya “Efek Pelangi” yakni fase euforia di awal yang membuat semua tantangan terasa ringan.

Kedua, “Beban Ekspektasi”, yakni asumsi keliru bahwa karena sudah berpengalaman, semuanya akan mudah. Pengalaman justru membuat saya sedikit lengah dan lupa untuk kembali rendah hati. Saya harus kembali menjadi “murid” dari nol.

Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan budaya. Awalnya, saya optimistis karena kemiripan alfabet Slovenia dengan Bahasa Indonesia. Namun, kesulitan sesungguhnya muncul di level lanjutan, saat saya berada di tengah penutur asli bahasa Slavia yang punya keunggulan alami. Ritme kelas yang cepat menguji saya secara akademis dan emosional. Saya harus berjuang dua kali lipat, mengubah rasa minder menjadi motivasi.

Masyarakat Slovenia juga cenderung lebih berhati-hati dengan orang asing. Mereka ramah, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk membangun kepercayaan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna resiliensi emosional: kemampuan untuk proaktif memulai interaksi tanpa mengharapkan keterbukaan instan.

Tantangan ini diperkuat dengan tidak adanya komunitas Indonesia yang solid atau kedutaan besar di Slovenia. Ada kalanya saya merindukan keakraban tawa dan bahasa kita. Namun, situasi ini memaksa saya untuk tidak bergantung pada “jaring pengaman” budaya. Saya belajar hal yang paling fundamental: menjadi rumah bagi diriku sendiri. Ini bukan berarti menyendiri, melainkan secara proaktif membangun koneksi baru yang bermakna. Bagi saya, ini terwujud melalui pertemanan lintas budaya dan dengan menyalurkan energi untuk berkontribusi, seperti keterlibatan saya sebagai relawan di Ruanita, yang memberikan saya ruang untuk bertumbuh bersama komunitas.

Tentu, saya punya jangkar penolong. Seni adalah jangkar mental saya. Melukis, menggambar, hingga nail art menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran. Saya juga menulis untuk memaknai setiap tantangan. Dan yang terpenting, suami saya adalah rekan resiliensi saya. Kami tidak hanya saling mendukung secara emosional; kami memandang setiap kesulitan sebagai proyek tumbuh bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah tim.

Kini, saya melihat migrasi sebagai proses tanpa akhir untuk membentuk diri. Saya belajar beberapa prinsip penting: kosongkan gelasmu sebelum memasuki lingkungan baru; bangun ekspektasi berdasarkan realitas, bukan ilusi; dan sadari bahwa hubungan adalah investasi berharga yang harus dirawat.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang di negara baru, ingatlah: kamu tidak sendiri. Bicarakan apa yang kamu rasakan. Lalu, mulailah dari langkah kecil. Adaptasi bukan perlombaan, melainkan proses menemukan ritme baru. Dan yang paling penting, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, di mana pun kamu berada.

Penulis: Siti Aghata Romizah Yasmin, relawan Ruanita Indonesia di Slovenia dan dapat dikontak via akun instagram aghataasasmin.

(CERITA SAHABAT) Ruang, Rasa, dan Identitas: Menjadi Perempuan Indonesia di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Saat pertama kali datang ke Belanda, saya dibuat terheran-heran. Kota tempat saya tinggal sebenarnya cukup modern, tapi suasananya begitu tenang, nyaris sunyi. Tidak ada suara klakson, tidak ada pedagang yang berteriak, hanya angin dingin dan suara burung dari kejauhan.

Suatu pagi, saya memberanikan diri keluar rumah sendirian untuk belanja ke supermarket. Sepanjang jalan, orang-orang yang saya temui tersenyum dan menyapa, “Hallo!” atau “Goedemorgen!” Sapaan sederhana itu membuat hati saya terasa hangat. Ada rasa diterima. Ada rasa bahwa, meskipun saya baru saja datang dari negeri tropis yang jauh, saya sudah disambut di sini.

Belanda memang negeri para pesepeda. Di jam-jam tertentu, jalanan dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja, dan ibu rumah tangga yang bersepeda dengan tenang. Saya jarang sekali mendengar suara bising kendaraan. Kehidupan di sini berjalan dengan teratur dan rapi, tapi tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang lembut.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak jejak Indonesia tertinggal di negeri ini. Hubungan sejarah panjang antara Indonesia dan Belanda tampak di berbagai ruang publik. Nama-nama jalan, gedung, bahkan tempat makan banyak yang menggunakan istilah Indonesia.

Di kota Utrecht, tempat saya tinggal, ada satu kawasan bernama Lombok. Kawasan ini penuh dengan nama jalan seperti Bandoengstraat, Javastraat, dan Kalimantanstraat. Saat melintasinya, saya merasa seperti sedang berjalan di tengah kenangan, riuhnya lalu lintas, aroma kopi, dan keriangan suasana yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Bandung.

Tak jauh dari sana, ada pula rumah-rumah lansia untuk warga keturunan Indonesia, dengan nama yang juga beraroma tanah air: Roemah Nusantara, Mandala, dan lainnya. Nama-nama itu seolah menjadi pengingat bahwa akar budaya Indonesia tetap hidup di negeri ini, bahkan di antara generasi yang sudah lama menetap di Belanda.

Meskipun jauh dari tanah air, saya tetap berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang berjiwa Indonesia. Dinding rumah dihiasi kain batik, ukiran kayu, dan hiasan wayang kecil yang saya bawa dari Yogyakarta. Di ruang makan, aroma rempah dari dapur selalu menguar, membawa kenangan masa kecil.

Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk menjaga jati diri. Setiap tamu yang datang, baik orang Belanda maupun teman dari negara lain, langsung tahu asal saya. “Wah, rumahmu hangat sekali!” kata mereka. Saya hanya tersenyum. Mungkin, yang mereka rasakan bukan sekadar hangatnya ruangan, tapi juga kehangatan budaya yang saya bawa dari tanah air.

Tinggal di negeri orang tidak berarti harus mengubah diri menjadi orang lain. Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia berarti tetap menjaga kehormatan, kesantunan, dan kelembutan dalam bersikap. Saya berusaha untuk tetap berpenampilan sopan, ramah dalam berbicara, dan menghormati setiap orang. Nilai-nilai ketimuran itu saya pegang erat, bahkan ketika berhadapan dengan budaya yang lebih terbuka dan bebas seperti di Eropa.

Saya tidak ingin menjadi “kebarat-baratan”. Sebaliknya, saya belajar untuk menyaring setiap pengaruh baru. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai yang saya yakini. Ketika menghadiri acara keluarga besar suami atau pertemuan kantor, saya sering mengenakan batik atau kebaya sederhana. Banyak yang memuji keanggunan busana Indonesia. Saya merasa bangga, tanpa perlu banyak bicara, orang bisa melihat jati diri saya dari cara berpakaian dan bertutur.

Bahasa Indonesia selalu menjadi jembatan kehangatan, terutama saat berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Belanda. Kami bisa tertawa bersama, berbagi cerita, dan seolah jarak ribuan kilometer dengan tanah air menghilang begitu saja. Suami saya pun kini sedang belajar bahasa Indonesia. Kadang ucapannya masih terbata-bata, tapi itu justru membuat suasana rumah semakin hangat. Ia bilang, “Kalau bisa berbicara bahasamu, aku bisa lebih memahami hatimu.” Saya tersenyum mendengar itu. Ternyata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah bentuk cinta.

Saya juga membawa tradisi berbagi makanan ke lingkungan tempat tinggal kami. Setiap Ramadan dan Idul Fitri, saya memasak rendang, ketupat, atau kue kering untuk tetangga. Mereka sangat menyukainya! Kadang mereka pun membalas dengan kue khas Belanda seperti appeltaart atau stroopwafel. Pertukaran ini menjadi jembatan kecil yang mempererat hubungan kami.

Tidak ada yang lebih mudah menyatukan dua budaya selain makanan. Saya percaya, aroma dan rasa memiliki bahasa universal yang bisa dimengerti siapa pun.

Orang Belanda sangat akrab dengan masakan Indonesia. Banyak dari mereka tumbuh dengan cerita atau kenangan tentang nasi goreng, sate, atau rijsttafel yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Saya sering mengadakan acara memasak kecil di rumah. Tetangga-tetangga saya penasaran bagaimana cara membuat sambal atau gado-gado. Saat saya menunjukkan rempah seperti lengkuas, daun jeruk, dan serai, mereka terpesona oleh aromanya. “Inilah rahasia kelezatan Asia Tenggara,” saya bercanda.

Selain itu, saya dan suami rutin mengunjungi Tong Tong Fair atau Pasar Indonesia, dua acara besar yang menampilkan budaya dan kuliner Indonesia di Belanda. Di sana, suasananya benar-benar seperti pasar di Indonesia: ramai, penuh tawa, dan wangi sate yang menggoda. Saya selalu merasa seperti pulang ke rumah, meski hanya untuk satu hari.

Tahun-tahun pertama di Belanda bukan tanpa tantangan. Cuaca dingin, bahasa yang sulit, dan rasa sepi sempat membuat saya merasa terasing. Ada masa di mana saya hanya berdiam di rumah dan menatap salju jatuh di luar jendela sambil menahan rindu pada keluarga di tanah air.

Namun, perlahan semuanya berubah. Saya mulai mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas perempuan Indonesia, dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari situ, saya belajar bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi menemukan keseimbangan antara dua dunia.

Sekarang, saya sudah merasa lebih “menyatu”. Saya bisa berbicara bahasa Belanda dengan percaya diri, memiliki teman dari berbagai bangsa, dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga di Indonesia. Setiap panggilan video dengan keluarga selalu mengingatkan saya bahwa jarak tidak mampu memutus rasa cinta.

Sebagai perempuan Indonesia di Belanda, saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku. Budaya bisa tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan lingkungan baru, asal kita tetap menjaga akarnya.

Saya mengagumi perempuan Belanda yang mandiri dan percaya diri. Mereka tidak takut berpendapat dan mengambil keputusan. Dari mereka, saya belajar arti keberanian. Namun dari budaya saya sendiri, saya belajar arti kelembutan dan empati. Dua hal ini: barat dan timur, yang kemudian saya padukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di luar negeri berarti menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara timur dan barat, antara tradisi dan modernitas.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal kemanusiaan yang terus terjalin hingga kini. Banyak warga Belanda yang menaruh minat besar terhadap Indonesia. Dalam setiap perbincangan, mereka selalu antusias bertanya tentang batik, Bali, atau kuliner Nusantara.

Saya senang berbagi cerita. Kadang dalam percakapan santai, saya menyisipkan filosofi hidup orang Indonesia, seperti gotong royong, rasa syukur, dan pentingnya keluarga. Mereka terkesan, karena di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai itu terasa menyegarkan.

Beberapa kali saya juga diundang berbicara di acara komunitas lokal untuk mengenalkan budaya Indonesia. Dari situ saya belajar, bahwa menjaga budaya bukan selalu dengan hal besar, tapi bisa dimulai dari percakapan sederhana dan sikap sehari-hari.

Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, saya semakin sadar bahwa koneksi budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang cara kita menjaganya hari ini.

Rumah kecil saya di Utrecht bukan sekadar tempat tinggal. Utrecht adalah ruang di mana dua budaya bertemu dan berdialog setiap hari. Di ruang makan, aroma rendang bertemu dengan roti gandum. Di ruang tamu, batik berpadu dengan vas bunga tulip. Di hati saya, cinta terhadap Indonesia tumbuh berdampingan dengan rasa syukur atas kehidupan baru di Belanda.

Sebagai perempuan perantau, saya hanya berharap agar kita semua, perempuan Indonesia di mana pun berada, tetap bangga dengan akar budaya sendiri. Kita boleh belajar dan beradaptasi, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat dan kesantunan yang menjadi ciri khas kita.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda telah melewati masa panjang. Kini, saatnya kita membangunnya kembali dengan semangat baru: semangat kesetaraan, saling menghormati, dan saling belajar.

Karena di ujungnya, koneksi budaya bukan hanya tentang sejarah yang kita warisi, tetapi tentang cara kita menciptakan jembatan antarhati, dengan senyum, keramahan, dan cinta yang tidak mengenal batas waktu maupun jarak.

Di negeri orang, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia bukan sekadar tentang dari mana saya berasal, tetapi tentang bagaimana saya membawa kehangatan, kesantunan, dan cinta dari tanah air ke mana pun saya melangkah.

Penulis: Ristiyanti Handayani, tinggal di Belanda dapat dikontak via akun facebook Ristiyanti Handayani.

(IG LIVE) Ketika Menjadi Janda Bukan Akhir Cerita: Belajar Memilih Empati di Hari Internasional Janda

Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.

Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.

Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.

Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.

Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.

Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.

Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.

Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.

Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.

Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.

Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.

Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Seminar Daring Hari UMKM Internasional 2026

Jakarta, 27 Juni 2026 — Dalam rangka memperingati Hari UMKM Internasional, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi daring bertajuk “Dari Nol ke Global, Cara Jitu Berwirausaha” pada Sabtu, 27 Juni 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber perempuan Indonesia yang memiliki pengalaman dan praktik baik dalam mengelola kewirausahaan di mancanegara.

Kegiatan diikuti oleh pelaku UMKM, perempuan wirausaha, akademisi, dan masyarakat umum di mana saja yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai penyusunan business plan, proses perizinan usaha di luar negeri, serta strategi membangun usaha di tingkat global.

Koordinator penyelenggara sekaligus moderator kegiatan, Griska Gunara, menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia kewirausahaan internasional apabila diberikan akses pengetahuan, jejaring, dan inspirasi yang tepat.

“Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik perempuan Indonesia di berbagai negara agar semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha hingga tingkat global,” ujar Griska Gunara.

Acara dibuka dengan motivasi dari Griska sendiri yang pernah menjadi pelaku usaha saat masih di Indonesia dulu. Dia berharap acara ini mendorong siapa saja dapat memanfaatkan keterampilan kejuruan dan teknologi digital sebagai bekal membangun usaha kreatif dan inovatif.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sisi akademisi, Novy Anggaraini, PhD Student di Hungaria dan dosen ekonomi di Indonesia, menjelaskan pentingnya business plan sebagai fondasi dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Ia juga menekankan perlunya adaptasi budaya bisnis dan penguatan kompetensi kewirausahaan bagi perempuan Indonesia yang ingin mengembangkan usaha di luar negeri.

Sementara itu, Winda Sulistiawati, perempuan wirausaha di Austria, berbagi pengalaman mengenai proses penyusunan business plan, pengajuan izin usaha, serta tantangan membangun usaha kuliner di Eropa, umumnya dan Austria, khususnya. Pada sesi berikutnya, Dewi Maya, perempuan wirausaha di Amerika Serikat dan owner brand tas “Dewi Maya”, memaparkan strategi pemasaran dan legalisasi usaha di Amerika Serikat.

Diskusi juga menghadirkan praktisi Dwi Kuntari, yang telah melakukan ekspor impor dengan brand Jamu Deka. Dia membagikan pengalaman dalam mengelola usaha “Jamu Deka” serta tantangan ekspor produk lokal Indonesia ke pasar internasional, seperti Italia.

Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab interaktif yang membahas peluang usaha global, tantangan adaptasi budaya bisnis, hingga strategi pemasaran digital untuk UMKM. Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk memulai usaha, memperluas jejaring kolaborasi, dan mengembangkan bisnis hingga tingkat internasional.

Anna Knöbl ingin memperkuat jaringan perempuan yang tertarik berwirausaha untuk membuat networking berkelanjutan yang saling mendukung lewat ruang digital yang diinisasi Ruanita Indonesia. Di masa berikutnya, Ruanita Indonesia akan membuat Networking para perempuan Indonesia di mana saja untuk bisa belajar satu sama lain dalam kewirausahaan.

(CERITA SAHABAT) Kisah Melawan Stigma Sosial Janda di Masyarakat

Kata “janda” seperti kata kutukan yang dilemparkan masyarakat tanpa ampun. Istilah “janda” tidak hanya menyiratkan kehilangan pasangan, tetapi juga dibebani dengan prasangka, stereotip, dan stigma yang seolah tak pernah usai. Saya, Conny Salamony, pernah hidup dalam bayang-bayang kata itu. Kini, saya menulis cerita sahabat ini bukan untuk membalas, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik kata “janda”, ada manusia yang juga berhak dihormati, dicintai, dan dikuatkan.

Saya mengenal suami saya lewat Yahoo Chat Room, sebuah tempat yang kini mungkin hanya tinggal sejarah. Kami mulai berkenalan pada 2004, menjalani hubungan jarak jauh, hingga akhirnya dia datang ke Indonesia pada 2006. Kami menikah pada 2007 di Jakarta. Dia adalah pria asal Sri Lanka yang hangat, lucu, dan sabar. Hidup bersamanya membuat saya harus keluar dari zona nyaman, belajar berpergian antar negara sendiri, tinggal di tempat asing seperti Sri Lanka dan Oman, dan belajar berkomunitas dengan cara yang baru.

Pernikahan kami tidak sempurna, tapi dipenuhi cinta dan pelajaran hidup. Meski sebagai istri saya sering sakit-sakitan, suami tetap mendampingi tanpa banyak keluhan. Hingga pada tahun 2017, tiba-tiba hidup kami berubah drastis.

Di pertengahan tahun itu, suami saya jatuh sakit secara mendadak. Diagnosisnya adalah diabetes, dan kondisinya memburuk dengan cepat. Saat itu kami tinggal di Oman, dan ia kemudian dirawat di Sri Lanka, negara asalnya. Saya dan anak kami masih tinggal di Oman.

Saat para tenaga medis memberi kode bahwa ini mungkin adalah akhir, saya mulai mempersiapkan diri secara emosional. Bulan Desember 2017, saya dan anak kami dipanggil ke Sri Lanka. Sayangnya, ia meninggal dunia saat kami masih di pesawat menuju ke sana.

Anak kami saat itu masih kecil. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa ibunya sedang terluka dan butuh teman. Ia pun tumbuh menjadi penyemangat saya, bahkan dalam kelucuannya yang kelam. Dalam satu kesempatan, saat teman-temannya berkata “my father is…”, ia menjawab, “my father is dead,” sambil tertawa. Saya tahu, itu cara dia berdamai.

Menjadi janda di Indonesia bukan perkara mudah. Justru di Sri Lanka-lah saya pertama kali merasakan stigma yang paling tajam. Di sana, seorang janda dianggap sebagai “kutukan” yang membawa kematian bagi suaminya. Sebuah pandangan yang membuat saya ingin menghilang.

Namun kembali ke Indonesia pun tidak serta merta membuat saya merasa aman. Saya mendapati diri saya menjadi sasaran prasangka. Kata-kata seperti “janda pelakor”, “lebih mudah diajak tidur”, hingga “lebih nakal karena pernah menikah” menjadi semacam bisikan yang tidak diucap di depan, tapi terasa menyesakkan.

Sebagai janda dari WNA, ada pula ekspektasi aneh. Laki-laki yang mencoba mendekati saya seringkali berasumsi bahwa saya lebih “liar” karena pernah menikah dengan pria asing. Rasanya ingin menampar mereka, tapi saya memilih untuk membangun jarak dan melindungi diri serta anak saya.

Saya bersyukur punya keluarga dan teman-teman yang menjadi support system saya. Tapi tidak semua orang begitu. Saya paham betul mengapa banyak perempuan takut menjadi janda, bukan hanya karena kehilangan pasangan, tetapi karena harus menghadapi dunia yang kejam setelahnya.

Setelah kepergian suami, saya tidak hanya berduka. Saya juga harus berpikir keras tentang bagaimana membesarkan anak dan mencukupi kebutuhan hidup. Beruntung, keluarga saya sangat mendukung, dan saya bisa tinggal bersama mereka. Secara finansial, saya bekerja sebagai virtual assistant, sebuah profesi yang saya bangun pelan-pelan dengan belajar dari komunitas daring.

Negara asal suami saya tidak memberikan dukungan apapun. Di Indonesia pun saya belum pernah mengajukan bantuan seperti KJP karena memang belum sempat. Yang paling menantang tentu saja mengelola keuangan dan memastikan anak saya tetap merasa dicintai, aman, dan diterima.

Saya sadar, anak-anak dari keluarga tunggal sering kali merasa tidak utuh. Sejak awal, saya tanamkan padanya bahwa siapapun yang saya dekati akan dikenalkan padanya. Bahwa dia tetap nomor satu di hidup saya. Keterbukaan dan kejujuran menjadi fondasi hubungan kami.

Sebagai istri WNA, ada tantangan tambahan: birokrasi yang rumit. Misalnya, saya tidak bisa menarik dana dari rekening suami saya di Sri Lanka karena saya bukan warga negara sana. Anak saya bisa, tapi dia masih berusia tujuh tahun saat itu. Jadi, kami hanya bisa tarik uangnya lewat ATM perlahan-lahan, sebelum rekening dibekukan.

Warisan? Tidak ada. Bahkan untuk menjual mobil peninggalan suami di Oman, saya harus mengurus surat kuasa dari notaris agar bisa menjualnya atas nama saya. Untuk paspor anak pun butuh perjuangan. Meski ia punya kewarganegaraan ganda, tetap saja prosesnya berliku dan mahal. Untungnya, sepupu suami yang bekerja sebagai wartawan membantu kami mempermudah beberapa prosedur lewat kenalannya.

Apa yang membuat saya bertahan sampai hari ini? Jawabannya sederhana: anak saya. Ia adalah sumber kekuatan terbesar saya, dan saya ingin menjadi sosok yang bisa ia banggakan. Selain itu, teman dan keluarga juga menjadi pengingat bahwa saya tidak sendiri.

Saya tidak segan memutus hubungan dengan orang-orang yang membawa energi negatif. Teman-teman yang hanya pandai mengomentari tapi tak pernah membantu, saya tinggalkan. Saya memilih menjaga kewarasan dan kesehatan mental, karena saya tahu itu kunci untuk bisa tetap menjadi ibu yang utuh dan manusia yang sehat.

Jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat luas, itu adalah: jangan pernah menyalahkan pasangan yang masih hidup atas kematian pasangannya. Banyak orang bertanya kenapa suami saya bisa meninggal duluan. Apakah saya tidak bisa menjaga? Apakah saya tidak becus? Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?

Kematian bukanlah kesalahan pasangan yang ditinggal. Itu adalah keputusan semesta. Tugas kita bukan menghakimi, tapi memberi ruang bagi mereka yang ditinggalkan untuk sembuh.

Buat para perempuan, janganlah menganggap janda itu pelakor. Teruntuk para pria, perempuan nakal itu tidak selalu janda. Banyak janda yang justru menjaga kehormatan dan tahu betul batas tubuhnya.

Saya tahu betapa sulitnya menjadi janda. Namun, saya ingin mengingatkan bahwa kita semua tetap berharga di mata Tuhan. Jangan biarkan stigma membungkam suara kita. Jangan biarkan omongan orang lain menghapus harga diri kita.

Untuk yang masih punya anak kecil, ingatlah: mereka adalah semangat kita. Tidak apa-apa membuang orang-orang yang tidak mengerti perjuangan kita. Kesehatan mental jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi sosial yang absurd.

Hari Janda Sedunia bukan hanya perayaan, tapi pengingat bahwa perempuan juga manusia, dan kehilangan tidak membuat kita lebih rendah. Kita bukan korban, kita pejuang.

Saya menulis ini bukan sebagai keluhan, tapi sebagai cermin. Masyarakat kita butuh bercermin tentang bagaimana mereka memperlakukan perempuan yang ditinggal mati oleh pasangan mereka.

Janda bukan label yang perlu disembunyikan, bukan status yang harus dibersihkan. Janda adalah status kehidupan, sama seperti “istri”, “ibu”, “anak”, atau “teman”.

Dan saya, Conny Salomony, memilih untuk menjadi janda yang bangga. Bukan karena ditinggal, tapi karena saya bertahan.

Penulis: Conny Salamony, admin komunitas kawin campur dan dapat dikontak via akun instagram connysalamony.

(KNOWLEDGE SHARING) Bagaimana Membangun Kesadaran Berisiko dalam Relasi?

Jakarta, 20 Juni 2026 – Ruanita Indonesia yang memfasilitasi grup profesi/akademisi/asosiasi orang Indonesia di mancanegara yang berlatarbelakang psikologi atau kesehatan mental hari ini menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing bertajuk “Relational Risk Awareness: Pengambilan Keputusan, Batasan, dan Keamanan dalam Relasi; Online, Offline, Lokal, maupun Jarak Jauh” secara daring dengan menghadirkan Family and Marriage Counselor, Leya Trajanoska, sebagai narasumber utama. Sebagai informasi, Leya lulusan S1 Psikologi dan profesi Psikolog penjurusan klinis Anak dan Remaja, Leya kemudian melanjutkan studi S2 Psikologi di Kanada dengan penjurusan Family and Marriage.

Kegiatan ini hadir sebagai respons terhadap semakin kompleksnya dinamika relasi interpersonal yang dihadapi orang Indonesia dewasa muda, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri. Relasi saat ini dapat dimulai melalui berbagai jalur, mulai dari lingkungan kerja, komunitas, keluarga, hingga platform digital dan hubungan jarak jauh lintas negara. Di balik peluang membangun hubungan yang bermakna, terdapat pula risiko manipulasi emosional, penipuan, hingga eksploitasi personal maupun finansial yang semakin sering terjadi.

Melalui pendekatan berbasis bukti yang mengintegrasikan psikologi klinis, neuroscience pengambilan keputusan, dan literatur tentang manipulasi interpersonal, kegiatan ini dirancang sebagai ruang psikoedukasi yang netral, inklusif, dan tidak menghakimi. Fokus utama kegiatan bukan pada bentuk relasi tertentu, melainkan pada keterampilan universal yang dibutuhkan untuk membangun hubungan secara sadar, aman, dan sehat.

Dalam sesi ini, peserta akan mempelajari bagaimana keterlibatan emosional memengaruhi proses pengambilan keputusan, mengenali pola manipulasi seperti love bombing, urgency pressure, dan inkonsistensi perilaku, hingga memahami berbagai bentuk penipuan relasional seperti romance scam, sextortion, dan investment fraud yang dapat terjadi dalam konteks online maupun offline. Sebelum dimulai, peserta diwajibkan untuk mengisi lembar elektronik sebagai assesment kebutuhan pemateri.

Selain itu, peserta juga akan mendapatkan kerangka praktis untuk menilai relasi sehat dan tidak sehat, memahami pentingnya batasan dalam hubungan interpersonal, serta strategi pengambilan keputusan yang lebih sadar dan aman. Kegiatan akan diselenggarakan secara daring dengan format psikoedukasi interaktif, studi kasus aplikatif, diskusi kelompok kecil, dan sesi tanya jawab terstruktur. Sasaran kegiatan adalah orang Indonesia dewasa berusia 23 tahun ke atas, termasuk profesional muda, pekerja, mahasiswa pascasarjana, dan masyarakat umum yang sedang berada pada tahap kehidupan di mana keputusan relasional jangka panjang menjadi relevan.

Menurut Anna Knöbl, panitia penyelenggara, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar yang aman dan reflektif bagi peserta untuk memahami dinamika relasi interpersonal secara lebih sadar di tengah perkembangan relasi modern yang semakin kompleks dan lintas konteks budaya maupun geografis.

“Relasi yang sehat tidak hanya dibangun atas dasar ketertarikan emosional, tetapi juga membutuhkan kesadaran, kemampuan mengenali risiko, serta keterampilan menetapkan batasan yang aman,” ujar Anna, selaku penyelenggara.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki kerangka berpikir yang lebih jernih untuk menilai pola dalam relasi, mengenali tanda manipulasi sejak dini, mengambil keputusan dengan lebih sadar, serta memperoleh pengetahuan aplikatif yang relevan untuk jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pelaksanaan dan pendaftaran, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi melalui kanal media sosial dan platform Ruanita Indonesia.

(CERITA SAHABAT) Antara Cinta, Stigma, dan Identitas: Perjalanan Saya sebagai Perempuan Indonesia di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Fina Regina Weber, lahir dan besar di Jakarta. Saya pertama kali datang ke Jerman pada tahun 2009. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, saya resmi menetap di sini setelah menikah. Awalnya, saya bekerja di perusahaan engineering dan konstruksi di bidang Oil & Gas. Dunia kerja yang keras, maskulin, dan penuh tekanan bukanlah hal baru bagi saya. Namun, siapa sangka, perjalanan hidup membawa saya ke tempat yang sama sekali berbeda: menjadi ibu rumah tangga di Jerman.

Saat ini, fokus utama saya adalah keluarga, yakni mengurus dua anak perempuan dan mendampingi mereka tumbuh di lingkungan yang jauh dari tempat saya dibesarkan. Selain itu, saya aktif dalam berbagai kegiatan komunitas Indonesia dan kegiatan sekolah anak-anak. Mungkin dari luar, kehidupan saya tampak tenang dan mapan, tapi di balik itu semua, ada dinamika batin dan tantangan yang tidak selalu terlihat.

Sejak awal menetap di Jerman, saya sudah sering mendengar berbagai stigma tentang perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Salah satu pandangan yang paling sering muncul adalah: “Perempuan Indonesia menikah dengan orang asing supaya bisa hidup enak di luar negeri.”

Jujur, mendengar hal seperti itu tidak mudah. Saya tahu stigma itu muncul karena memang ada sebagian kasus yang sesuai dengan narasi tersebut. Namun, yang menyedihkan adalah ketika orang mulai menggeneralisasi, seolah-olah semua perempuan Indonesia di luar negeri punya motif yang sama.

Saya pernah merasakan bagaimana rasanya dianggap “punya kasta visa paling rendah”. Kadang saya merasa seolah identitas saya sebagai perempuan Indonesia di mata orang lain selalu dihubungkan dengan status pernikahan saya. Padahal setiap orang punya cerita dan perjuangan yang berbeda.

Dalam kasus saya, saya bertemu suami di lingkungan kerja profesional di Jakarta, bukan dari aplikasi kencan, bukan juga karena ingin “kabur” ke luar negeri. Kami bertemu secara alami, bekerja bersama, bertukar ide, dan akhirnya jatuh cinta. Tapi stigma tidak pernah memilih korbannya. Sekali seseorang diberi label, sulit untuk menghapusnya, meski kenyataannya berbeda jauh.

Saya menyadari bahwa stigma terhadap perempuan Indonesia di luar negeri muncul baik dari masyarakat Indonesia sendiri maupun dari luar negeri.

Dari sesama WNI, kadang muncul komentar atau cibiran halus, “Wah, enak ya hidup di luar negeri, pasti serba mudah.” Ada pula yang menilai bahwa menikah dengan orang asing adalah cara cepat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, yang mereka tidak tahu, hidup di luar negeri justru sering lebih berat, terutama karena kita jauh dari keluarga besar, harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, dan belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Sementara dari masyarakat Jerman, saya merasakan bahwa mereka sebenarnya tidak terlalu ikut menilai. Orang Jerman pada umumnya lebih santai, cenderung menilai seseorang dari perilakunya sehari-hari, bukan dari asal negara atau latar belakang pernikahannya. Jadi, beban stigma itu justru sering datang dari komunitas sendiri, bukan dari lingkungan tempat tinggal saya sekarang.

Di era media sosial seperti sekarang, persepsi orang bisa terbentuk hanya dari potongan kecil kehidupan yang mereka lihat. Banyak orang mengenal saya hanya dari reels, story, atau postingan media sosial. Dari situ, mereka sering berasumsi. Saya sudah tidak terlalu memikirkan hal itu, karena saya tahu apa yang tampak di layar ponsel hanyalah satu sisi kecil dari kehidupan seseorang.

Dulu saya sempat merasa perlu untuk menjelaskan dan meluruskan semua pandangan miring yang muncul. Tapi seiring waktu, saya belajar untuk melepaskan beban penjelasan itu. Sekarang, fokus saya lebih pada keluarga, anak-anak, dan orang-orang yang benar-benar mengenal saya apa adanya. Hidup terlalu singkat untuk terus membuktikan diri kepada mereka yang sudah memilih untuk menilai tanpa mengenal.

Follow us

Di Jerman, kehidupan saya kini banyak berputar di sekitar sekolah anak-anak. Di sana, para ibu lebih banyak berbicara tentang kegiatan sekolah, makanan sehat, atau kegiatan akhir pekan. Mereka tidak bicara tentang status sosial atau dari mana kami berasal. Itu membuat saya merasa lebih diterima.

Suami saya juga sangat mendukung. Setiap kali kami bertemu koleganya, dia selalu memperkenalkan saya dengan bangga, mengatakan bahwa kami dulu bekerja di perusahaan yang sama di Jakarta. Hal kecil seperti itu ternyata membantu mengubah persepsi orang lain.

Saya juga sadar bahwa dunia sudah berubah. Dengan maraknya online dating dan Tinder, banyak orang kini mengira semua pernikahan campuran bermula dari sana. Padahal tidak selalu. Ada banyak cerita seperti saya, yang dimulai dari pertemuan profesional, tatap muka langsung, lalu jatuh cinta secara alami—face to face and fall in love, seperti kata saya kepada teman-teman yang bertanya.

Sebagai ibu dari dua anak perempuan berdarah Indonesia-Jerman, saya sangat bangga melihat bagaimana mereka mencintai dua budaya yang mereka miliki. Mereka menyukai rambut hitam dan kulit sawo matang mereka, dua hal yang kadang justru menjadi sumber rasa minder bagi anak-anak imigran lain.

Saya selalu menanamkan nilai bahwa memiliki dua budaya berarti memiliki dua rumah, dua cara pandang, dan dua kekuatan. Sejauh ini, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri dan rasa bangga terhadap asal-usulnya. Saya berharap mereka akan terus membawa identitas itu dengan kepala tegak, tanpa merasa perlu memilih salah satu.

Salah satu hal yang saya pelajari selama tinggal di luar negeri adalah pentingnya memilih lingkungan yang tepat. Saya tidak menutup diri, tapi saya juga tidak ikut dalam kumpul-kumpul yang hanya menjadi ajang gosip atau perbandingan hidup.

Saya lebih memilih untuk aktif di kegiatan yang punya makna positif, seperti acara yang diadakan oleh konsulat, sekolah, atau komunitas budaya. Di situlah saya bisa menunjukkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya pandai menyesuaikan diri, tetapi juga bisa berkontribusi dan mengharumkan nama bangsa.

Saya sering ikut serta dalam acara seperti Indonesia Frankfurt Festival, Indonesia Street Festival, dan Learn and Batik Expo. Melalui kegiatan semacam itu, kami bisa memperkenalkan keindahan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman, sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri adalah duta kecil yang tangguh dan berprestasi.

Saya percaya perempuan Indonesia punya daya tahan luar biasa. Kami dikenal tangguh, ramah, dan cepat beradaptasi. Nilai-nilai itu adalah modal besar untuk mengubah stigma negatif menjadi kekuatan positif.

Saya sendiri mencoba melakukannya dalam hal-hal kecil: bersikap sopan, bekerja keras, membantu sesama, dan menjaga nama baik bangsa. Perlahan tapi pasti, orang-orang di sekitar mulai melihat bahwa perempuan Indonesia bukan hanya “istri orang asing”, tetapi juga individu yang berharga dan mampu memberi kontribusi nyata.

Hidup di luar negeri mengajarkan saya banyak hal. Salah satu pelajaran terbesar adalah belajar selektif dalam memilih teman. Dulu, saya selalu berpikir semua orang bisa menjadi teman, tapi sekarang saya tahu tidak semua layak disebut teman.

Saya pernah merasa kecewa oleh orang yang saya anggap dekat, tapi kemudian saya sadar, tidak semua orang akan senang melihat kita bahagia. Dari situ saya belajar makna kalimat sederhana yang kini menjadi pegangan saya: “Friends are what you are.” Teman sejati adalah mereka yang tulus, bukan yang datang hanya ketika butuh sesuatu atau ingin tahu kabar terbaru.

Kepada perempuan Indonesia lain yang mungkin menghadapi stigma atau kesalahpahaman di luar negeri, pesan saya sederhana: jangan terlalu dipikirkan. Fokuslah pada hal-hal yang membuatmu berkembang. Jalani hidup dengan niat baik, lakukan yang terbaik, dan tetap semangat.

Yang penting bukan apa yang orang katakan tentang kita, tapi apa yang kita lakukan setiap hari. Dunia mungkin tidak selalu adil, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita meresponsnya. Jangan biarkan penilaian orang lain merampas kebahagiaan kita.

Saya punya harapan besar, bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk masyarakat Indonesia secara umum. Saya ingin melihat hari di mana perempuan Indonesia di mancanegara tidak lagi dipandang dengan curiga atau sinis. Saya ingin orang-orang percaya bahwa setiap pernikahan campuran, setiap perjalanan ke luar negeri, memiliki cerita dan alasan yang berbeda.

Persepsi negatif tidak akan hilang dalam semalam, tapi saya yakin, melalui sikap positif, kerja keras, dan kontribusi nyata, kita bisa mengubah cara dunia memandang kita. Semua tergantung pada bagaimana kita memposisikan diri.

Kalau kita menunjukkan nilai, dedikasi, dan kontribusi yang baik, masyarakat, baik di Indonesia maupun di luar negeri akan menilai kita dengan lebih positif. Pada akhirnya, yang membedakan bukan paspor yang kita pegang, tapi bagaimana kita memperlakukan orang lain dan membawa nama Indonesia dalam setiap langkah.

Lebih dari satu dekade saya tinggal di Jerman. Dalam kurun waktu itu, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia di luar negeri bukan hanya tentang beradaptasi, tapi juga tentang mempertahankan jati diri di tengah arus budaya yang berbeda.

Saya tidak ingin dikenal hanya sebagai “istri warga Jerman”, tetapi sebagai Fina, perempuan Indonesia yang berani, tangguh, dan tetap bangga pada akarnya. Saya percaya, selama kita terus melakukan hal yang benar dan membawa niat baik, stigma akan perlahan memudar, berganti dengan penghormatan.

Karena di manapun saya tinggal, satu hal tidak akan pernah berubah: hati saya tetap Indonesia.

Penulis: Fina Regina Weber, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram misssaucyfoxy.

(CERITA SAHABAT) Membebaskan Diri dari Diam: Perjalanan Saya Keluar dari Silent Treatment

Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan, nama saya Lily. Saya seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan pria berkewarganegaraan India. Saat ini, saya telah tinggal di negeri Bollywood itu selama kurang lebih lima belas tahun. Jika saya ingat kembali, perjalanan saya meninggalkan tanah air bukan hanya perpindahan fisik, melainkan juga awal dari perjalanan batin yang penuh pelajaran, luka, dan pada akhirnya, kekuatan.

Ketika kami menikah, semua terasa indah. Kehidupan rumah tangga di awal berjalan seperti yang saya harapkan. Meskipun tentu ada perbedaan budaya, saya berpikir semua bisa diatasi dengan cinta dan pengertian. Saya tahu bahwa dalam setiap pernikaha, apalagi pernikahan campuran. Jatuh bangun adalah hal yang wajar. Saya percaya bahwa komitmen yang kuat bisa menjadi penopang di tengah perbedaan. Namun, ternyata tidak semua keyakinan saya berjalan sesuai harapan.

Saya masih ingat jelas saat pertama kali tiba di India. Gambaran saya tentang negara ini dibentuk dari film-film Bollywood yang saya tonton sejak kecil. Romantis, penuh warna, dan hangat. Kenyataannya, kehidupan di sini sangat berbeda. Tantangan dimulai sejak saya harus beradaptasi dengan keluarga suami. Pada awalnya, mereka memperlakukan saya dengan baik, setidaknya ketika suami ada. Namun, semua berubah ketika suami mulai sering bepergian, meninggalkan saya di rumah bersama ibu mertua dan kakak ipar. Saat itulah saya mulai merasakan dinginnya jarak dan dinginnya kata yang tak pernah terucap.

Perlakuan yang tadinya ramah berubah menjadi penuh sindiran halus, bahkan fitnah. Mereka mengadu domba, menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan, dan yang paling menyakitkan adalah mereka tidak pernah mau mengakui kesalahan, apalagi meminta maaf. Setiap kali saya mencoba menjelaskan kepada suami, saya justru disalahkan. Posisi saya begitu sulit. Di satu sisi ingin membela diri, di sisi lain tahu bahwa suara saya tidak akan pernah mengalahkan loyalitasnya pada keluarganya. Pada akhirnya, saya memilih diam. Bukan karena saya setuju, tetapi karena saya tidak tahu lagi bagaimana cara membuat suara saya didengar.

Follow us

Diam itu, pada mulanya, hanya terjadi sesekali. Namun, perlahan-lahan, ia menjadi pola hubungan. Suami mulai jarang berbicara, lebih sering mengabaikan, hingga akhirnya memutuskan pindah ke negara lain untuk bekerja. Saya dan anak-anak ditinggalkan di India bersama keluarga besarnya. Tidak ada komunikasi hangat, tidak ada perhatian, tidak ada kata-kata dukungan. Yang ada hanya jarak, baik secara fisik maupun emosional. Dan yang lebih menghancurkan, di tengah diam itu saya mengetahui bahwa ia menikahi perempuan lain di negara tempatnya bekerja dan bahkan memiliki anak.

Kabar itu membuat hati saya runtuh. Marah, sakit hati, dan kecewa. Semuanya bercampur jadi satu. Lebih dari itu, saya merasa dikhianati bukan hanya sebagai istri, tapi juga sebagai ibu dari anak-anak kami. Ia tidak memikirkan perasaan mereka, tidak memikirkan bagaimana luka ini akan memengaruhi hidup mereka. Meski begitu, saya tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Saya percaya akan ada waktu ketika Tuhan menegur dan menyadarkan dia.

Namun, keyakinan itu tidak serta-merta menghapus rasa sakit. Diam yang berkepanjangan ini seperti racun yang meresap perlahan. Saya bingung harus berbuat apa. Saya hidup di negara dengan bahasa dan budaya yang berbeda, jauh dari keluarga dan sahabat di Indonesia. Saya merasa sendirian, terkurung di ruang hening yang menyesakkan. Kondisi psikologis saya memburuk. Saya menjadi cemas, takut berbuat salah, merasa tidak pernah cukup baik. Berat badan saya turun drastis, dan saya mengalami stres hingga depresi. Saya merasa hancur, baik secara mental maupun fisik.

Di tengah semua itu, satu hal yang membuat saya tetap berdiri adalah anak-anak. Mereka tumbuh dengan sehat dan ceria, meski tidak memiliki ayah yang hadir secara emosional maupun fisik. Melihat mereka tersenyum memberi saya alasan untuk tetap bertahan. Mereka adalah pengingat bahwa saya tidak boleh kalah oleh keadaan.

Saya sempat mencoba mencari jalan keluar dengan bercerita kepada teman-teman atau kerabat jauh. Sayangnya, upaya itu justru sering memperburuk keadaan karena terlalu banyak pihak yang ikut campur tanpa benar-benar memahami situasi. Saya juga sempat membalas diam dengan diam, berharap suami menyadari dan memulai pembicaraan. Nyatanya, itu hanya membuat jarak semakin jauh.

Akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak bisa terus hidup dalam lingkaran ini. Saya mulai mencari bantuan dari profesional: konselor, psikolog, dan juga komunitas sosial. Saya bersyukur, di tengah keterasingan ini, Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang peduli. Ada teman-teman di gereja, rekan-rekan muslim Indonesia di sini, dan juga sahabat-sahabat di tempat kerja yang menjadi keluarga baru saya. Mereka tidak hanya memberi dukungan moral, tapi juga mengingatkan saya bahwa saya masih berharga.

Tinggal di India memberi saya banyak pelajaran berharga. Saya belajar berani berkata “tidak” terhadap perlakuan yang tidak adil, belajar untuk tidak selalu memprioritaskan perasaan orang lain sampai mengorbankan diri sendiri. Sebagai perempuan Indonesia, saya dulu dikenal ramah dan sulit menolak. Namun, saya mulai sadar bahwa kelembutan yang tidak dibarengi batas bisa dimanfaatkan orang lain. Saya juga memahami bahwa diam, dalam konteks hubungan yang tidak sehat, bukanlah solusi. Diam bisa menjadi hukuman yang merusak, membuat luka semakin dalam. Saya berusaha mengubah diri agar tidak lagi membiarkan masalah membeku tanpa penyelesaian.

Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa komunikasi adalah kunci. Konflik memang tak terhindarkan, tetapi cara kita menghadapinya menentukan arah hubungan. Saya berharap bisa lebih berani menyatakan perasaan dan pikiran saya, meski itu berarti menghadapi ketidaknyamanan. Karena saya tahu, diam yang memendam hanya akan menggerogoti hati pelan-pelan.

Sekarang, hidup saya sudah berbeda. Saya tidak lagi bersama suami yang dulu. Tuhan menghadirkan pasangan yang baru, yang mengerti saya dan menerima anak-anak saya. Dengan dia, saya belajar bahwa masalah bisa diselesaikan melalui percakapan, bukan dibiarkan membusuk dalam diam. Anak-anak saya tumbuh di lingkungan yang lebih tenang, lebih aman secara emosional. Meski luka lama tidak sepenuhnya hilang, saya tahu saya berada di jalur pemulihan.

Bagi Sahabat Ruanita yang mungkin sedang berada di situasi serupa, pesan saya sederhana namun penting: jangan biarkan diri terperangkap dalam hubungan yang membungkam. Silent treatment bukan tanda kedewasaan, melainkan tanda ketidakmampuan mengelola konflik. Jika diam dipakai untuk mengontrol atau menghukum, itu adalah bentuk kekerasan emosional. Beranilah memecah kebisuan itu. Mungkin tidak mudah, bahkan mungkin menakutkan, tapi percayalah, suara kita berharga.

Saya pernah gagal mempertahankan hubungan dengan ayah anak-anak saya karena kami tidak pernah benar-benar tinggal bersama secara utuh. Komunikasi kami rapuh, dan diam menjadi jurang yang memisahkan. Namun, kegagalan itu bukan akhir. Bersama pasangan saya sekarang, saya membuktikan bahwa komunikasi yang sehat bisa menyelamatkan hubungan. Tidak ada yang sempurna, tetapi ada perbedaan besar antara berjuang bersama dan dibiarkan berjuang sendirian.

Hari ini, saya berdiri bukan sebagai korban, tetapi sebagai penyintas. Saya ingin setiap perempuan yang membaca kisah ini tahu bahwa keluar dari lingkaran diam itu mungkin. Ada kehidupan yang lebih baik di luar sana, ada cinta yang lebih sehat, ada ruang di mana suara Anda tidak hanya didengar, tetapi juga dihargai.

Sahabat Ruanita, mari kita saling menguatkan. Diam mungkin terlihat seperti pilihan aman, tapi dalam banyak kasus, itu hanya memperpanjang penderitaan. Bicara, cari bantuan, dan lindungi diri Anda. Karena kita semua berhak untuk dicintai dengan cara yang sehat, tanpa kebisuan yang menyiksa.

Penulis: Lily, perempuan Indonesia di India dan dapat dikontak via akun e-mail: info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT) Cultural Switching dan Strategi Bertahan Tinggal di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Nurjannah. Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Nganjuk, Jawa Timur. Setelah lulus SMA, aku merantau ke Jakarta untuk kuliah sekaligus bekerja. Seperti banyak perempuan muda Indonesia lainnya, aku punya mimpi sederhana: belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu hari aku akan tinggal jauh di negeri orang, tepatnya di Jerman, selama bertahun-tahun.

Perjalananku ke Jerman dimulai sekitar tujuh tahun lalu. Proses pindah ke luar negeri tidaklah mudah. Ada banyak urusan administrasi, dokumen, dan adaptasi mental yang harus dipersiapkan. Saat itu aku masih bekerja, jadi untuk menghemat waktu aku menggunakan jasa agen untuk membantu mengurus semua persyaratan administratif. Meski begitu, tetap saja prosesnya panjang dan melelahkan. Namun, aku selalu percaya bahwa perjalanan besar memang dimulai dengan langkah-langkah kecil yang penuh perjuangan.

Aku masih ingat jelas, ketika pesawat mendarat di bandara Jerman untuk pertama kalinya, pikiranku penuh tanda tanya. “Apakah aku bisa betah? Bisakah aku menyesuaikan diri dengan orang-orang di sini? Bagaimana kalau aku kesepian?”

Hari-hari pertama memang tidak mudah. Aku harus menghadapi perbedaan budaya yang cukup mencolok. Salah satunya soal menjaga waktu. Di Indonesia, terutama di kampung halamanku, sering ada budaya fleksibilitas waktu. Janji bertemu pukul 10 pagi bisa mundur hingga setengah jam atau bahkan satu jam, dan itu dianggap wajar. Namun di Jerman, semuanya sangat berbeda.

Jika ingin bertemu dengan seseorang, harus ada janji temu yang jelas. Tidak bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Ketepatan waktu adalah bentuk penghargaan yang besar terhadap orang lain. Awalnya aku merasa kikuk, bahkan bingung. Namun lama-kelamaan, aku mulai memahami bahwa disiplin waktu bukan sekadar aturan kaku, melainkan bagian dari cara hidup yang menghargai orang lain.

Sahabat Ruanita, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih sebenarnya cultural switching itu?

Secara sederhana, cultural switching adalah kemampuan seseorang untuk berpindah, menyesuaikan, atau beralih antara satu budaya ke budaya lain, tergantung pada konteks situasi yang dihadapi. Dalam dunia psikologi dan studi lintas budaya, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana individu yang hidup di lingkungan multikultural harus beradaptasi dengan aturan, nilai, dan kebiasaan yang berbeda-beda.

Bagi banyak orang Indonesia yang merantau ke luar negeri, cultural switching adalah keterampilan hidup yang harus dikuasai. Mengapa? Karena budaya Indonesia dan budaya negara tujuan seringkali sangat berbeda. Indonesia dikenal dengan nilai kolektivitas, ramah, penuh toleransi, dan cenderung mengutamakan harmoni dalam hubungan sosial. Sementara itu, budaya Jerman lebih individualis, langsung (to the point), dan realistis.

Follow us

Sebagai contoh, di Indonesia, jika ingin mengkritik seseorang, kita biasanya melakukannya dengan halus agar tidak menyinggung perasaan. Sementara di Jerman, orang terbiasa memberikan kritik langsung tanpa basa-basi. Bagi mereka, kejujuran adalah bentuk penghormatan.

Pada awalnya, aku kaget. Rasanya kok “tajam sekali” ketika orang Jerman menyampaikan pendapat. Tapi setelah dipikir ulang, aku mulai menyadari bahwa itu justru memudahkan. Aku jadi tahu apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki, tanpa perlu menebak-nebak maksud di balik ucapan mereka.

Salah satu hal yang paling menantang bagiku adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.

Aku seorang ibu, dan anakku lahir serta tumbuh di sini. Aku ingin anakku mengenal budaya Jerman karena itu adalah lingkungan tempat dia tumbuh besar. Namun di sisi lain, aku juga ingin ia tetap membawa nilai-nilai baik dari Indonesia.

Contoh kecilnya bisa terlihat dari kebiasaan di toilet. Di rumah, aku membiasakan anakku membersihkan diri dengan air, sesuatu yang sangat umum di Indonesia tetapi tidak lazim di Jerman. Ketika di luar rumah, ia bisa beradaptasi dengan kebiasaan setempat, tapi aku selalu mengajarkan bahwa di rumah kita tetap menjaga tradisi dari Indonesia.

Inilah bentuk nyata cultural switching. Anak-anakku belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda tanpa kehilangan identitas aslinya.

Yang paling aku syukuri dari pengalaman hidup di Jerman adalah aku jadi lebih percaya diri untuk menjadi diriku sendiri. Di sini, aku merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Orang-orang cenderung tidak peduli dengan pilihan pribadi kita selama tidak merugikan orang lain.

Hal ini berbeda dengan sebagian budaya di Indonesia, di mana terkadang masih ada tekanan sosial atau pandangan masyarakat yang mengikat. Misalnya, pilihan gaya berpakaian, keputusan menikah atau tidak menikah, atau pilihan karier perempuan sering kali jadi bahan perbincangan. Di Jerman, aku belajar bahwa setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri.

Namun, bukan berarti aku harus melepaskan semua nilai dari Indonesia. Justru aku berusaha membawa hal-hal baik dari tanah air, seperti: keramahan, sopan santun, dan kelembutan dalam berbicara. Ini adalah ciri khas orang Indonesia yang membuatku merasa bangga.

Tidak bisa dipungkiri, hidup di luar negeri penuh tantangan. Ada kalanya aku menghadapi situasi sulit: kesepian, rindu keluarga, atau kebingungan menghadapi masalah sehari-hari.

Di saat-saat seperti itu, aku lebih sering mengadopsi gaya Jerman yang realistis dan langsung pada inti masalah. Kalau ada masalah, aku berusaha mencari solusinya secepat mungkin, bukan hanya mengeluh. Budaya Jerman mengajarkanku untuk lebih rasional, lebih lugas, dan lebih fokus pada solusi.

Ada banyak keuntungan tinggal di Jerman. Salah satunya, aku bisa bepergian ke berbagai negara Eropa tanpa perlu visa khusus. Bagi seorang perempuan yang suka menjelajah, ini adalah kesempatan yang luar biasa.

Namun tentu ada juga tantangan. Bahasa menjadi salah satu yang paling besar. Meski aku sudah belajar bahasa Jerman, tetap saja butuh waktu lama untuk benar-benar fasih. Bahasa bukan hanya soal kosakata, tapi juga soal cara berpikir. Budaya Jerman yang to the point membuat cara mereka berkomunikasi berbeda sekali dengan orang Indonesia.

Karena itu, aku selalu menyarankan kepada perempuan Indonesia lain yang ingin pindah ke Jerman: siapkan bahasa dan mental yang kuat. Jangan takut dengan kritik, karena di sini orang tidak ragu untuk menyampaikan kritik secara langsung. Anggaplah itu sebagai masukan yang membangun.

Dari perjalanan hidupku, ada beberapa hal yang ingin kubagikan kepada Sahabat Ruanita atau perempuan Indonesia lainnya yang punya mimpi tinggal di luar negeri:

1. Tetap jadi diri sendiri. Jangan merasa harus mengubah segalanya hanya untuk diterima.

2. Bawa nilai baik dari Indonesia. Ramah kepada orang lain, lembut dalam berbicara, dan sopan santun adalah kekuatan kita.

3. Belajar bahasa sebaik mungkin. Bahasa adalah kunci untuk membuka pintu interaksi dan peluang baru.

4. Siapkan mental yang kuat. Tinggal jauh dari keluarga tidak selalu mudah, jadi penting untuk punya ketahanan mental.

5. Terbuka terhadap perbedaan. Ingat bahwa cultural switching bukan berarti kehilangan identitas, melainkan kemampuan untuk bergerak luwes di antara dua budaya.

Pada akhirnya, bagiku cultural switching bukanlah soal memilih budaya mana yang lebih baik, melainkan soal membangun jembatan di antara dua dunia.

Aku bersyukur bisa belajar disiplin, kejujuran, dan ketegasan dari budaya Jerman. Di saat yang sama, aku tetap membawa kehangatan, keramahan, dan rasa kebersamaan dari Indonesia. Kedua hal ini berpadu dalam keseharian, membentuk versi terbaik dari diriku yang baru.

Setiap kali aku pulang ke Indonesia, aku membawa cerita tentang kehidupan di Jerman. Sebaliknya, setiap hari di Jerman aku juga membawa sepotong Indonesia dalam hatiku. Inilah yang membuat perjalananku sebagai perempuan Indonesia di negeri orang menjadi penuh warna.

Sahabat Ruanita, perjalanan hidupku mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Namun aku percaya, setiap cerita punya makna. Bagiku, cultural switching bukan sekadar strategi bertahan hidup, melainkan sebuah proses belajar yang membuatku lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih menghargai perbedaan.

Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah bersiap untuk merantau, atau sekadar ingin memahami bagaimana rasanya hidup di antara dua budaya.

Penulis: Nur Jannah, tinggal di Jerman yang dapat dikontak via akun instagram nurjanah_magnus