(CERITA SAHABAT) Pengalaman Digigit Anjing di India: Antara Takut dan Cemas pada Rabies

Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku D, perempuan asal Jawa Timur yang sudah hampir sembilan tahun tinggal di India. Aku menikah dengan pria India dan saat ini bekerja sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta di sana. Selama tinggal di negeri orang, tentu banyak pengalaman yang aku alami. Namun, ada dua kejadian di tahun 2026 yang sampai hari ini masih membekas dalam ingatanku. Tentunya, ini berkaitan dengan tema cerita sahabat yang ingin kuceritakan. Ya, itu adalah pengalaman terkait gigitan anjing dan kekhawatiran akan rabies.

Kejadian pertama terjadi sekitar beberapa bulan lalu di malam hari. Saat itu aku sedang mengunjungi rumah seorang teman untuk mengantarkan makanan sebelum menghadiri acara kebaktian di rumah jemaat yang masih berada di daerah yang sama. Kami hanya berdiri di dekat pagar rumah sambil berbincang sebentar. Tiba-tiba seekor anjing peliharaan yang berada di luar rumah mendekat dan langsung menggigit kakiku.

Aku sangat terkejut. Saat diperiksa, lukanya hanya berupa goresan kecil tanpa darah, tetapi jujur di dalam hati aku sangat panik. Setelah itu, aku tetap pergi menghadiri kebaktian sambil terus berdoa. Suamiku berusaha menenangkan aku sepanjang perjalanan. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan luka tersebut.

Keesokan harinya aku memfoto luka itu dan mengirimkannya kepada dokter yang aku kenal. Setelah melihat kondisinya, beliau menyarankan agar aku segera datang ke rumah sakit swasta dekat tempatku bekerja. Syukurlah prosesnya cepat karena ada dokter kenalan yang membuatku merasa lebih nyaman. Setelah diperiksa, dokter menyarankan aku menjalani vaksin anti rabies sebagai tindakan pencegahan.

Aku akhirnya menjalani lima kali suntikan vaksin anti rabies di India. Puji Tuhan, semua proses pengobatan berjalan dengan baik. Namun ternyata pengalaman itu belum berhenti sampai di situ. Tak sampai di situ, suamiku juga mengalami kejadian yang jauh lebih serius. Kami memiliki tiga anjing peliharaan yang semuanya sudah mendapatkan vaksin rabies enam bulan sebelumnya. Hari itu, suamiku membawa salah satu anjing kami bernama Brutus ke rumah sakit hewan karena ada benjolan di tubuhnya dan perlu diperiksa lebih lanjut.

Setelah Brutus dibius dan diambil darahnya, kakak iparku meminta suamiku membangunkannya karena sangat menyayangi hewan tersebut. Padahal sebenarnya jika dibiarkan beberapa saat, Brutus akan sadar sendiri dengan tenang. Karena masih setengah sadar akibat pengaruh bius, Brutus terkejut dan langsung menggigit wajah suamiku.

Kami tidak bisa marah karena hewan itu sedang tidak sadar sepenuhnya. Tetapi sebagai istri, tentu aku sangat syok melihat wajah suamiku penuh luka dan darah. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan lukanya lalu menghubungi dokter kami. Setelah melihat kondisi luka yang cukup serius, dokter menyarankan agar suamiku segera dibawa ke rumah sakit pemerintah karena membutuhkan penanganan khusus.

Jujur, aku cukup takut dengan rumah sakit pemerintah di India karena prosesnya terkenal panjang dan berbeda dengan di Indonesia. Selain itu, kendala bahasa juga sering menjadi tantangan karena banyak orang menggunakan bahasa daerah. Kadang ketika mereka tahu kita orang asing dan tidak mengerti bahasa setempat, biaya bisa terasa lebih mahal.

Tetapi Puji Tuhan, hari itu suamiku langsung mendapatkan penanganan cepat. Ia menerima 11 jahitan di wajah dan enam suntikan pada hari pertama, lalu dilanjutkan dengan empat suntikan berikutnya sesuai jadwal. Walaupun suntikan terakhir sempat terlewat karena lupa, perawat mengatakan kondisinya tetap aman karena dosis penting sudah diberikan sebelumnya. Sampai hari ini, suamiku dalam keadaan sehat.

Dari dua pengalaman tersebut, aku belajar bahwa gigitan hewan tidak boleh dianggap sepele, bahkan jika hanya berupa goresan kecil tanpa darah. Banyak orang berpikir luka kecil tidak berbahaya, padahal risiko rabies tetap ada. Saat aku digigit, rasa cemas langsung muncul, apalagi setelah melihat berbagai video dan cerita orang yang tidak mendapatkan suntikan rabies tepat waktu. Untuk mengatasi rasa takut dan overthinking, aku mencoba menyibukkan diri dan terus berpikir positif.

Pengalaman ini juga membuatku lebih berhati-hati, terutama saat berkunjung ke rumah orang atau berkendara di India karena terkadang ada anjing yang mengejar di jalan. Selain anjing, di beberapa daerah juga banyak monyet berkeliaran sehingga kewaspadaan memang sangat penting.

Untuk Sahabat Ruanita yang sedang atau akan tinggal di luar negeri, aku ingin mengatakan bahwa hidup jauh dari rumah memang tidak selalu mudah. Ada rindu yang dipendam sendiri, air mata yang jatuh diam-diam, dan perjuangan yang tidak semua orang pahami. Tetapi percayalah, kamu hebat karena mampu bertahan sejauh ini.

Jangan pernah merasa sendirian. Di balik semua luka dan pengorbanan, ada versi dirimu yang sedang tumbuh menjadi perempuan yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih dewasa. Tetap jaga hati dan jangan kehilangan dirimu sendiri karena kerasnya dunia. Sejauh apa pun kita pergi, doa orang tua dan tanah kelahiran akan selalu memeluk kita.

Sejak kejadian digigit anjing itu, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi mampu tetap melangkah dengan lebih hati-hati dan penuh kewaspadaan. Kadang sebuah luka justru mengajarkan kita untuk lebih menjaga diri dan lebih menghargai keselamatan. Hati-hati ya, Sahabat Ruanita. Kalau pergi ke India, terutama ke daerah yang banyak hewan berkeliaran, jangan lupa tetap waspada dan jaga diri baik-baik.

Penulis: D yang tinggal di India dan dapat dikontak via e-mail info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT) Menjejak dari Bandung ke Belanda, Berlabuh di Denmark

Halo sahabat Ruanita, aku mau ajak kamu duduk santai sejenak, sambil ngopi atau ngeteh, dan ngobrol tentang perjalanan hidupku dari Bandung terus ke Belanda, lalu akhirnya menetap di Denmark. Cerita ini bukan sekadar soal pindah negara, tapi soal memulai hidup dari awal berkali-kali, belajar beradaptasi, dan tetap bertahan meskipun kadang rasanya ingin menyerah. Semoga cerita ini bisa jadi teman untuk kamu yang mungkin lagi berada di persimpangan hidup di luar negeri, atau sekadar penasaran tentang seperti apa sih rasanya hidup di negeri Nordik yang katanya bahagia itu.

Namaku Bertha. Aku lahir dan besar di Bandung, di suasana kota yang hangat, penuh hiruk pikuk, macet, kulineran, dan keluarga besar. Dua puluh tahun lalu, hidup membawaku jauh ke benua Eropa. Tidak langsung ke Denmark. Perhentian pertamaku adalah Belanda, negeri kincir angin, jalan sempit berbatu, dan orang-orang yang terbuka.

Aku ke Belanda mengikuti suami. Cukup berat saat itu, tentu saja, tapi aku masih punya kemewahan: ada keluarga suami yang siap membantu proses adaptasiku. Jadi meskipun harus menaklukkan bahasa Belanda, birokrasi, dan kultur baru, aku tidak merasa benar-benar sendirian. Ada tangan-tangan yang menyambut dan memeluk.

Sampai kemudian, belasan tahun kemudian, hidup kembali mengajakku pindah. Kali ini ke Denmark. Suamiku mendapat pekerjaan baru, dan kami memutuskan untuk mulai babak baru.

Dan di sinilah cerita “survival” itu benar-benar dimulai.

Saat mendengar kata Denmark untuk pertama kali, aku jujur… panik. Bayanganku langsung pada bahasa Danish yang terdengar sulit, seolah huruf-hurufnya bercampur, dan setiap kata seperti setengah dibisikin. Belum lagi fakta bahwa kami tak punya keluarga sama sekali di sana. Kalau di Belanda dulu ada tempat untuk bertanya, curhat, atau sekadar minta tolong, maka di Denmark semuanya serba dari nol.

Aku masih ingat rasa canggung saat menyapa tetangga pertama kali. Mereka sopan, tapi tidak terbuka seperti di Belanda. Ada batas yang tebal dan jelas. Circle pertemanan mereka kecil dan tertutup, dan untuk masuk ke dalamnya bukan perkara mudah. Apalagi kalau kamu orang asing dan belum bisa bahasa Denmark dengan lancar.

Tapi pindah negara tidak memberi kita pilihan selain berusaha. 

Kalau kamu bertanya negara mana yang lebih enak, jawabanku tidak sesederhana membandingkan satu lebih baik dari yang lain. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, dan dua-duanya meninggalkan jejak pada cara pandangku.

Yang paling terasa adalah ritme hidup. Di Belanda, masyarakat bergerak dalam ritme yang cepat dan kompetitif. Ada tuntutan sosial dan tekanan prestasi yang membuat orang seakan harus selalu produktif. Di Denmark, ritme hidup terasa jauh lebih santai dan rileks. Work–life balance bukan sekadar slogan; orang-orang benar-benar menghargainya. Mereka pulang kerja tepat waktu tanpa merasa bersalah, dan kehidupan keluarga mendapatkan porsi yang besar.

Sistem sosial pun menjadi pembeda. Di Belanda, birokrasi memang terasa lambat dan kadang membuat frustrasi. Namun, saat tiba di Denmark, aku baru menyadari bahwa proses administrasi bisa menjadi lebih lambat lagi. Meski begitu, di balik kelambatan itu ada konsep negara kesejahteraan yang kuat, yang menjamin pendidikan dan kesehatan bagi warganya, sehingga pada akhirnya kita belajar untuk bersabar.

Untuk urusan pembauran sosial, Belanda jelas lebih ramah terhadap orang asing. Di sana, berbicara dengan tetangga atau memulai percakapan dengan orang baru terasa lebih mudah. Di Denmark, masyarakatnya cenderung tertutup dan membentuk lingkaran pertemanan kecil, yang butuh waktu lama untuk dimasuki pendatang. Meskipun begitu, aku melihat bahwa anak-anak justru lebih mudah menembus batas-batas sosial itu, sehingga memiliki anak dalam keluarga sedikit banyak mempermudah proses adaptasi.

Pendidikan dan dunia kerja pun memiliki nuansa yang berbeda. Di Belanda, tekanan akademik cukup kuat dan standar pendidikan terasa lebih menekan. Di Denmark, pendekatannya lebih santai dan manusiawi, dengan fokus pada kesejahteraan siswa. Namun, kebebasan yang diberikan kepada remaja seringkali membuatku khawatir sebagai seorang ibu. Hal-hal seperti alkohol dan vape dianggap biasa oleh remaja di sana, yang tentu saja membuatku harus lebih waspada dan banyak berdialog dengan anak-anak.

Semua perbedaan itu membuatku menyadari bahwa setiap negara membawa budaya dan nilai yang berbeda, dan kita sebagai pendatang harus belajar untuk menerima tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bahasa Denmark adalah tantangan terbesar.
Aku belajar bersama keluarga, tapi tetap… sulit. Lidahku rasanya perlu latihan khusus. Orang Denmark bisa bicara super cepat, dan aku berkali-kali bingung. Tapi mereka sangat menghargai usaha, dan itu jadi motivasi.

Lalu ada tantangan lain yang bikin aku benar-benar stress: kultur remaja.

Di Denmark, minum alkohol, vape, atau snus di usia gymnasium itu… normal. Sebagai ibu dari tiga remaja, ini hal paling menegangkan. Aku belajar berdialog tanpa menghakimi, tapi tetap tegas. Aku harus membuka mata, tapi menjaga batas. Itu seni yang sampai sekarang masih kupelajari.

Dan terakhir: musim dingin. Di Belanda dingin? Iya. Di Denmark dingin + gelap + berangin.

Musim dingin di sini bukan sekadar dingin, tapi bisa membuat mood turun drastis. Winter depression itu nyata. Matahari jarang muncul. Dan kamu bisa bangun dalam gelap, lalu pulang kerja/school pick-up dalam gelap lagi.

Untungnya, Denmark punya pantai di mana-mana. Dari rumahku ke pantai terdekat cuma 30 menit. Setidaknya ada tempat kabur buat melihat horizon dan merasa kembali bernapas.

Adaptasi bukan soal seberapa siap kamu, tapi seberapa besar kamu mau bertahan. Namun, aku punya beberapa penyelamat, seperti: komunitas Indonesia, komunitas internasional, kunjungan rutin ke Belanda, pantai Denmark, atau keluarga inti sendiri

Ketika kangen kuliner, kangen ngobrol dengan tetangga, kangen suasana hangat… kami kadang balik ke Belanda. Itu jadi vitamin nostalgia.

Tapi di Denmark, aku belajar mandiri. Belajar bahasa. Belajar pajak. Belajar sistem kesehatan. Belajar menerima budaya. Dan di atas semuanya: belajar percaya diri. Meski banyak tantangan, aku harus akui: Denmark memberi rasa aman.

Udara yang bersih, sekolah negeri gratis, akses kesehatan yang hampir tanpa biaya karena subsidi besar, masyarakat yang menghargai privasi, dan ritme hidup yang berimbang, semuanya menciptakan lingkungan yang membuatku merasa cukup dan berkecukupan.

Dari Belanda, aku merindukan komunikasi hangat dengan tetangga, pilihan bahan pangan yang melimpah dengan harga yang lebih bersahabat, serta keramahtamahan yang terasa berbeda.

Di Denmark, makanan impor atau produk tertentu tersedia tapi harganya bisa sangat mahal dan pilihannya terbatas.

Sedangkan dari Indonesia? Ah, itu tidak perlu ditanya: keluarga, makanan, cuaca, dan kebersamaan yang tidak pernah tergantikan.

Pindah negara mengajarkanku satu hal besar: adaptasi itu bukan pilihan, tapi kebutuhan.

Dan setiap kali aku merasa lelah, aku selalu ingat: kalau kita mau bertahan, kita akan menemukan cara.

Tidak ada garis finish dalam adaptasi. Kita tidak pernah selesai belajar. Kita cuma semakin tangguh.

Sahabat Ruanita, Aku percaya kita hebat.Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita selalu belajar berdiri setiap kali jatuh.

Harapanku: perempuan Indonesia menemukan tujuan, tetap berdaya, tetap menjadi berkat, dan tidak kehilangan jati diri

Dimanapun kita tinggal, di Bandung, di Belanda, di Denmark, atau di negeri mana pun, rumah bukan soal lokasi. Rumah adalah tentang bagaimana kita membuat hidup tetap berarti.

Sekarang, ketika aku melihat kembali perjalanan dua puluh tahun ini, aku tahu satu hal:Jika dulu aku tidak berani pindah, aku mungkin tidak pernah belajar sebanyak ini.

Denmark mengajariku: bersabar, beradaptasi, menghargai privasi, dan menikmati hidup lebih pelan. Belanda mengajariku: terbuka, komunikatif, dan tidak takut membangun relasi.

Sementara, Indonesia mengajariku: hangat, keluarga, dan ketahanan mental. Semua itu membentuk siapa aku sekarang.

Jadi, sahabat Ruanita, kalau kamu sedang berada di titik bingung, takut, atau terasing di negeri orang, ingat: Kita mungkin mulai dari nol. Tapi kita tidak nol. Kita membawa kekuatan dari semua tempat yang pernah kita tinggali.

Dan seperti yang kubilang: survival to the fittest. Kita bisa. Kita mampu. Kita tangguh.

Dari Bandung ke Belanda lanjut ke Denmark, aku masih berjalan. Dan aku percaya, perempuan Indonesia di manapun berada, akan selalu menemukan jalannya.

Penulis: Bertha Situmeang, relawan Ruanita di Denmark dan dapat dikontak via akun instagram adenk_bvs.

(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(SIARAN BERITA) Pentingnya Ruang Aman di Perantauan untuk Berbagi Dukungan Psikologis

MADRID, 5 September – Komunitas perantau Indonesia di Spanyol kini memiliki ruang aman untuk saling menguatkan mental di tengah kerasnya dinamika hidup di negeri orang. Langkah ini diinisiasi oleh Ruanita Indonesia yang menggelar Sesi Nonton & Diskusi Komunitas Indonesia di Spanyol, sebuah ruang inklusif yang dirancang khusus untuk membedah tantangan psikologis warga negara Indonesia di perantauan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI LBBP untuk Kerajaan Spanyol, Dr. Muhammad Najib. Dalam sambutannya, Dubes Muhammad Najib menyampaikan pesan penguat yang menegaskan bahwa pihak kedutaan sangat mendukung kehadiran ruang-ruang diskusi terbuka seperti ini. Beliau menekankan pentingnya bagi sesama warga Indonesia di luar negeri untuk saling berbagi dukungan psikologis, meruntuhkan stigma seputar kesehatan mental, dan bergandengan tangan menghadapi tantangan adaptasi di lingkungan yang baru. Dukungan nyata dari perwakilan RI ini menjadi legitimasi penting bagi ruang aman yang terus dibangun oleh Ruanita Indonesia.

Mengidentifikasi Gelombang Emosi di Perantauan

Selanjutnya, diskusi interaktif ini dipandu oleh dua fasilitator ahli, yaitu Bernadia Dwiyani, seorang mental health educator sekaligus co-founder Kesmenesia di Spanyol, bersama Anna Knöbl, PhD Student, Psikolog di Jerman yang juga menjadi Produser film pendek dokumenter “Dua Kali” yang mengambil setting kehidupan perantau Indonesia di Jerman. Film “Dua Kali” mengambil cerita dari Relawan Ruanita Indonesia di Jerman yang mengalami permasalahan mental saat Pandemi COVID-19 lalu dan bagaimana dia mengakses layanan kesehatan mental, disertai perjuangannya untuk mematahkan stigma sosial. Suasana diskusi berjalan dengan prinsip ruang aman yang sangat ketat, di mana lembar kerja dan cerita para peserta dijaga kerahasiaannya secara penuh.

Sesi pertama dimulai tepat setelah pemutaran Film “Dua Kali”, yang memicu para peserta untuk mengidentifikasi emosi dominan melalui kacamata karakter di layar kaca. Mereka diajak memvalidasi perasaan-perasaan berat yang kerap melanda warga Indonesia di Spanyol, mulai dari homesickness, rasa sepi ekstrim (expat loneliness), kecemasan mendalam terhadap birokrasi dan masa depan, hingga krisis kehilangan identitas diri.

Menyusun Peta Strategi Hadapi Stres

Memasuki paruh kedua acara setelah penayangan Film “Dua Kali”, fokus diskusi bergeser pada penyusunan peta koping atau strategi konkret dalam menghadapi stres. Para fasilitator memetakan dua jalur utama yang bisa diambil oleh para perantau di Spanyol.

Jalur pertama adalah problem-focused coping untuk mengubah situasi stres, seperti mulai mengambil kursus bahasa lokal, merapikan jadwal pengurusan TIE, atau aktif bergabung dalam jaringan masyarakat Indonesia di Spanyol. Jalur kedua adalah emotion-focused coping untuk menenangkan pikiran saat situasi belum bisa diubah, yang diimplementasikan melalui aksi sederhana seperti menelepon keluarga di tanah air, berjalan sore di taman, atau berolahraga.

Melalui siaran pers ini, Ruanita Indonesia menegaskan kembali pesan psikoedukasi utama mereka bahwa merasa tidak baik-baik saja di tempat yang baru adalah respons yang sepenuhnya normal, dan mengakui kerentanan merupakan langkah awal menuju ketahanan diri. Bagi masyarakat Indonesia di Spanyol yang membutuhkan jaring pengaman atau bantuan psikologis lebih lanjut, Ruanita Indonesia membuka akses konsultasi yang dapat dijadwalkan secara langsung melalui laman booking resmi di website.

(CERITA SAHABAT) Homeschooling di Negeri Bollywood: Perjalanan Pembelajaran Bersama Dua Buah Hati 

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Anni,  yang menjalani selama delapan tahun terakhir hidup sebagai seorang istri, ibu, sekaligus pendidik di rumah bagi kedua anak saya di India. Saya menikah dengan seorang pria Kashmir, dan sejak awal pernikahan kami menjalani hubungan jarak jauh. Suami bekerja di India sedangkan saya masih mengajar di Indonesia. Selama tiga tahun, kami menjalani rutinitas yang mungkin tidak umum bagi pasangan baru: dia datang dua kali setahun ke Indonesia, sedangkan saya menyusulnya ke India ketika jadwal mengajar mengizinkan. 

Pada akhirnya, setelah perjalanan LDM yang panjang, kami memutuskan untuk hidup bersama, khususnya demi memulai program kehamilan. Saya pindah ke India, memulai hidup baru, dan dalam keseharian membesarkan dua anak yang kini menjadi pusat dunia saya. Tinggal di India membuka banyak pengalaman baru, mulai dari budaya, gaya hidup, hingga sistem pendidikan yang berbeda antara Indonesia dan tempat saya menetap sekarang. 

Sebagai guru yang pernah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dalam pendidikan dasar di Indonesia, saya tidak bisa tidak memperhatikan perbedaan kurikulum antara dua negara ini. Di India, beban akademik untuk pendidikan dini jauh lebih berat. Anak-anak mulai dikenalkan pada beban akademik sejak usia yang sangat muda; bahkan sebelum masuk sekolah dasar, mereka telah melalui jalur pendidikan dengan struktur yang ketat: mulai dari pre-nursery (2+), Nursery (3+), LKG (4+), hingga UKG (5+). Selain itu, ada pula kultur tuitions, semacam les tambahan yang diberikan hampir setiap hari setelah jam sekolah. Bagi saya yang terbiasa dengan model pendidikan di Indonesia yang lebih seimbang antara bermain dan belajar, sistem ini terasa begitu menuntut, bahkan berlebihan bagi anak-anak usia dini. 

Saya dan suami pun sepakat untuk memberikan “pondasi kesiapan belajar” sejak dini, untuk menumbuhkan rasa cinta belajar, agar anak-anak tidak mengalami tekanan besar ketika masuk sekolah formal India. Namun titik balik terbesar bagi kami adalah masa pandemi. Di India, anak usia dua tahun umumnya disekolahkan ke lembaga pre-nursery, tetapi ketika pandemi datang, semua pembelajaran beralih ke kelas online. Sungguh tidak efektif bagi seorang preschooler untuk duduk menatap layar, mendengarkan instruksi melalui video call, dan diminta memahami konsep akademik lewat monitor. Di sinilah keputusan besar muncul: kami memutuskan untuk melakukan homeschooling. 

Homeschooling sebenarnya sudah lama saya persiapkan, terutama dalam ranah pendidikan agama. Tapi pandemi memberikan dorongan yang lebih besar untuk menerapkan homeschooling secara penuh untuk pendidikan dini. Saya tidak ingin anak-anak “sekolah online” hanya demi mengikuti sistem, sementara masa usia emas mereka menghilang tanpa pengalaman bermain, bergerak, menyentuh dunia, dan merasakan ritme pembelajaran yang alami. 

Kami pun menciptakan rutinitas homeschooling sendiri. Setiap hari, pembelajaran berlangsung lewat aktivitas yang menyenangkan. Saya merancang stimulasi motorik kasar seperti berlari, melompat, memanjat, bermain sepeda, hingga skating. Untuk motorik halus, seperti anak-anak bermain playdough, menggunting, memindahkan benda dengan sendok, dan menulis di atas garam. 

Saya juga mengenalkan keterampilan hidup seperti gosok gigi, mandi mandiri, memakai baju dan sepatu sendiri, menyapu, hingga membuat omelette atau cookies, atau aktivitas sederhana yang melatih koordinasi sekaligus membangun kepercayaan diri mereka. 

Kognisi kami latih lewat puzzle, memory games, permainan warna, alphabet matching, hingga aktivitas menjodohkan benda. Pendidikan agama menjadi bagian yang tidak pernah terlewat. Dari doa-doa pendek, hafalan surat, belajar sholat, hingga membaca Qur’an, fiqih dan aqidah, semuanya kami ajarkan perlahan dalam kehangatan di rumah, juga bersama komunitas di masjid untuk kegiatan tertentu. Salah satu area yang paling penting bagi kami adalah speaking skill, terutama karena anak pertama sempat mengalami riwayat speech delay. Latihan oromotor, permainan bercerita, dan dialog interaktif kami lakukan setiap hari. Sekarang, anak pertama sudah percaya diri mengikuti berbagai speech event di sekolah.

Pendekatan yang kami gunakan sebagian besar terinspirasi dari Montessori, meski saya tidak menerapkan seluruh aparatus Montessori yang standar. Saya lebih senang menyebutnya sebagai belajar lewat bermain (learning through play). Media belajar kami beragam, mulai dari mainan edukatif baik buatan sendiri 

maupun yang tersedia di market, bahan kerajinan, alam terbuka, kunjungan ke science center, museum, hingga buku-buku anak dari berbagai jenis. Gadget pun kami gunakan, tetapi secara terbatas dan hanya untuk aplikasi edukatif yang relevan. 

Tantangan terbesar homeschooling bukanlah pada materi atau kurikulum, tetapi pada diri saya sebagai ibu. Menjadi comfort provider sekaligus discipline establisher bukanlah hal mudah. Bagaimana menjaga agar suasana tetap menyenangkan tetapi tetap memiliki struktur? Bagaimana menjadi tempat yang aman sekaligus mentor dalam aktivitas pembelajaran? Pertanyaan-pertanyaan ini terus saya pelajari setiap hari. Tidak adanya ART di masa lockdown juga membuat manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri. 

Dari sisi sosial, anak-anak tidak terlalu mengalami kesulitan karena memang sejak awal kami hidup sebagai keluarga perantau. Kami terbiasa berpindah dari satu state ke state lain karena pekerjaan suami, sehingga lingkup sosial keluarga kami memang kecil. Namun justru dari situ terjalin ikatan keluarga yang semakin kuat antara saya, suami, dan anak-anak. 

Secara teknis, homeschooling relatif mudah kami jalankan karena bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa nasional di India, sehingga tidak ada kendala bahasa. Namun untuk bahasa Urdu dan Hindi, kami mengenalkannya sebagai bahasa kedua, sambil tetap mengajarkan bahasa Indonesia. Internet cepat dan murah, jadi pembelajaran daring pun tidak bermasalah. Satu hal yang saya rasakan cukup menantang: harga educational toys di India cenderung lebih mahal dibandingkan di Indonesia. 

Hal yang paling saya syukuri dari homeschooling adalah kreativitas yang tumbuh dari diri saya sendiri. Saya yang dulu perfeksionis belajar untuk melepaskan harapan yang berlebihan. Melihat anak bermain tepung yang berantakan, playdough yang melekat di mana-mana, bentuk cookies yang tak beraturan, atau buku bertebaran di lantai. Itu semua kini menjadi tanda bahwa anak sedang belajar. Saya belajar menerima kekacauan sebagai bagian dari proses tumbuh. Saya belajar bahwa rumah yang “berantakan” bukanlah bukti kegagalan menjadi ibu, tetapi bukti anak sedang mengasah imajinasi dan kemampuan motoriknya. 

Hubungan kami sebagai keluarga pun terasa lebih dalam. Tanpa homeschooling, saya tidak tahu bagaimana kami bisa melewati masa pandemi yang penuh ketidakpastian itu. Homeschooling menjadi cara kami melewati hari dengan penuh makna. Aktivitas yang mempertemukan kami sebagai keluarga, memperkuat komunikasi, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif yang dilakukan bersama. 

Setelah pandemi mereda, anak pertama masuk sekolah formal (LKG), sementara saya melanjutkan stimulasi homeschooling untuk anak kedua. Pendidikan akademik formal kami “outsourcing” kepada lembaga sekolah, tetapi sisanya pendidikan agama, life skills, dan kegiatan bermain, tetap kami lakukan di rumah. Berbeda dari kebiasaan keluarga India pada umumnya, kami memilih untuk tidak mengirim anak-anak ke tuitions. Kami 

tetap mempertahankan semangat belajar bersama dalam lingkungan keluarga. Saat ini, setengah jam setelah makan malam adalah bonding rutin belajar bersama, saya dan anak-anak sedang semangat belajar Bahasa Hindi dan Bahasa Kannada, suami semangat dengan Bahasa Jepang. 

Jika ada orang tua Indonesia lain yang ingin mencoba homeschooling, pesan saya adalah: pastikan ayah dan ibu berada pada kesepakatan yang sama. Homeschooling bukan soal materi belajar semata, tetapi soal tujuan, jalur, dan pendekatan. Orang tua perlu memutuskan apakah homeschooling dilakukan sebagai jalur utama atau pendamping pendidikan formal, bagaimana proses administrasinya, dan siapa yang menjadi fasilitator pembelajaran. Belajarlah dari keluarga lain yang lebih dulu menjalankannya, dan jangan takut untuk beradaptasi. 

Pengalaman yang paling unik bagi saya adalah melihat rumah kami perlahan berubah menjadi “laboratorium kecil” yang penuh mainan, alat peraga, bahan art and craft, kardus, botol bekas, dan segala macam benda yang mungkin dianggap sampah bagi orang lain, tetapi bagi kami adalah harta karun kreativitas. Kadang saya harus menguatkan hati untuk melakukan decluttering, tetapi pada dasarnya setiap benda yang ada di rumah memiliki potensi menjadi media belajar.

Jika harus merangkum perjalanan homeschooling kami dalam satu kalimat, saya akan mengatakan: homeschooling menjadi “survival mode” keluarga kami untuk melewati pandemi dan sekaligus strategi menemukan sumber kebahagiaan dan kebermaknaan dalam keluarga untuk terus bertumbuh dalam semangat belajar sepanjang hayat. 

Penulis: Anni’mah tinggal di India yang dapat dikontak via akun instagram zahrazeebee. 

(CERITA SAHABAT) Mengapa Penting Jadi Guru SD di Islandia?

Namaku Asti Tyas Nurhidayati, perempuan asal Yogyakarta yang kini tinggal dan bekerja  sebagai guru sekolah dasar di Islandia. Aku lahir dan besar di Jogja, menyelesaikan studi Teknik Elektro di Universitas Gadjah Mada.

Saat kuliah, aku aktif menjadi relawan di Griya  Lentera PKBI Yogyakarta, memberikan penyuluhan pencegahan HIV/AIDS dan kesehatan  reproduksi, termasuk kepada para pekerja seks dan pelanggannya di Pasar Kembang.  Dari pengalaman ini, aku mulai tertarik pada pekerjaan sosial yang melibatkan interaksi  langsung dengan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Setelah lulus sebagai Sarjana Teknik, aku memilih jalur karir yang berbeda dari pendidikanku. Aku bekerja di Jakarta sebagai staf Behavior Change Intervention untuk  pencegahan HIV/AIDS di bawah Program Aksi Stop AIDS Family Health International  (FHI) dari tahun 2002 hingga 2009.

Di sana, aku menjadi fasilitator pelatihan bagi  pekerja lapangan yang melakukan penyuluhan kepada kelompok risiko tinggi. Karena  merasa perlu dukungan akademik yang lebih sesuai, aku melanjutkan kuliah S2  Komunikasi Pemasaran di FISIP Universitas Indonesia.

Lulus dari UI, aku bergabung dengan Rare Conservation Indonesia sebagai  Communication Manager, fokus pada konservasi lingkungan dan perikanan  berkelanjutan. Selain mengelola komunikasi organisasi, aku juga melatih staf lembaga  pemerintah dan organisasi nirlaba di Indonesia, Malaysia, dan Timor Leste.

Aku bekerja  sama dengan tim Rare dari Asia, Mikronesia, Afrika, hingga Amerika Latin. Aku sangat  menikmati pekerjaan ini dari tahun 2009 hingga 2016, sampai akhirnya aku menikah  dengan pria Islandia dan pindah ke Reykjavík pada pertengahan Ramadan, Juni 2016.

Di Islandia, aku memulai semuanya dari nol. Aku belajar Bahasa Islandia, yang rumit  karena setiap kata berubah tergantung gender, fungsi, dan waktu. Aku mulai bekerja  sebagai staf frístundaheimili, program after school untuk murid kelas 1 dan 2 SD, lalu  lanjut kursus bahasa.

Aku sempat putus asa karena keterbatasan bahasa. Aku pernah  bekerja di Kedutaan Besar India di Reykjavík tapi merasa tidak cocok dengan lingkungan  kerja yang kaku.

Aku kembali bekerja sebagai asisten guru TK, tetapi lagi-lagi terbentur kemampuan  bahasa. Anak-anak pernah bilang, “Ég skil ekki hvað þú talar (Aku tidak ngerti kamu ngomong apa)” atau “Þú talar íslensku  mjög léleg (Kamu ngomong Bahasa Islandia jelek banget)”.

Aku akhirnya memutuskan kuliah S1 Bahasa Islandia secara formal di  University of Iceland agar bisa belajar dengan terstruktur.

Setiap pagi dan siang aku kuliah, lalu sore kerja di frístundaheimili. Teori kuliah langsung  kupakai dalam pekerjaan dan obrolan dengan anak-anak. Setelah lulus, aku lanjut ke  program S2 Pendidikan Guru SD untuk mendapatkan surat izin mengajar dari  pemerintah Islandia.

Alasan terbesar aku memilih jadi guru adalah karena kondisi kesehatan reproduksi tidak memungkinkan aku untuk bisa hamil dan melahirkan anak. Tapi dari situ, aku merasa bahwa Allah memberiku jalan lain yaitu mendidik anak-anak orang lain.

Lapangan kerja di sektor pendidikan di Islandia terbuka, terutama  karena kekurangan guru TK dan SD. Saat ini banyak anak berusia 2 tahun harus menunggu antrian tersedianya tempat di TK.

Ini karena proporsi jumlah anak yang lebih besar daripada jumlah kursi di TK berikut jumlah guru dan staf TK. Orang tua sampai harus berhenti kerja atau bahkan jadi guru dan staf TK agar anak mereka  diprioritaskan.

Menurutku, menjadi guru adalah proses belajar tanpa akhir. Selain sebagai pengajar, pendidik dan fasilitator, seorang guru harus bisa jadi psikolog, motivator, entertainer, perawat, bahkan detektif untuk menangani beragam hal yang terjadi pada anak-anak di sekolah setiap harinya. Bagaimana pun, pekerjaan ini juga sangat menguras fisik dan mental.

Tantangan utamaku sebagai guru di Islandia adalah Bahasa Islandia. Meskipun aku sudah  kuliah S1 jurusan ini, aku masih sering salah grammar dan pengucapan. Kadang masih minder kalau harus bicara dengan orang tua murid asli Islandia.

Tapi suamiku dan teman-teman  Islandia juga sering salah, bahkan aku pernah mengoreksi mereka, dan itu sedikit  banyak membuatku percaya diri.

Sistem pendidikan inklusif di Islandia juga menantang. Semua anak, termasuk  yang berkebutuhan khusus, berhak masuk SD umum terdekat di lingkungan tempat tinggalnya.

Saat ini aku mengajar di kelas 2 SD dimana murid-muridku kebanyakan berusia 7-8 tahun. Namun di kelasku tersebut aku juga punya murid yang baru pindah dari Vietnam dengan diagnosa cerebral palsy, tak bisa bicara, terbatas gerak fisik dan secara kognitif setara anak usia dua tahun. Meski  didampingi asisten, aku harus menyesuaikan bahan ajar dan strategi untuk semua murid di kelas, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Islandia merupakan negara kecil, hanya sekitar 400.000 jiwa dengan sekitar 20% adalah imigran. Lonjakan  jumlah imigran belum diimbangi infrastruktur pendidikan yang memadai, termasuk  sekolah khusus. Anak berkebutuhan khusus bisa menunggu satu tahun untuk masuk  sekolah khusus, dan selama itu mereka tetap belajar di sekolah umum.

Anak-anak lain juga beragam: ada yang ADHD, autis, punya gangguan belajar, gangguan  bahasa, gangguan pengendalian mental dan lainnya. Tahun pertamaku mengajar profesional sangat menantang. Suamiku pernah protes karena aku terlalu banyak waktu untuk kerja dan sedikit waktu  untuk keluarga. Aku terus belajar membagi waktu dan menjaga keseimbangan.

Sebagai imigran, aku ingin menunjukkan bahwa kami juga bisa berkontribusi positif bagi masyarakat setempat sebagai tenaga kerja profesional berpendidikan tinggi dan bersertifikat yang bisa menaiki jenjang karir. Bukan hanya pekerja kasar yang mengandalkan otot dan waktu dan dihargai dengan upah minimum.

Sistem pendidikan di Islandia tidak mengenal ujian kenaikan kelas. Anak tetap naik  kelas sesuai usia. Tes hanya untuk mengukur dan mengevaluasi pengajaran, bukan  menentukan kelulusan. Sistem ini ramah anak, tapi bisa jadi tantangan jika murid  dengan kemampuan rendah tetap naik kelas.

Yang paling kusukai dari profesiku adalah aku bisa jadi contoh bahwa imigran juga bisa  jadi guru. Sekitar 70% murid dan orang tua muridku adalah imigran dari berbagai negara.  Saat wawancara dengan orang tua, aku kadang perlu bantuan penerjemah. Tapi itu juga  membuatku merasa terhubung.

Aku suka budaya sekolah di sini yang flat dan casual. Semua dipanggil nama depan,  termasuk kepala sekolah. Anak-anak pun memanggilku “Asti” atau “Kennari (Guru)”.

Filosofi hidup orang Islandia adalah “þetta reddast” (semua akan baik-baik saja). Mereka  bekerja sesuai jam kerja dan tak bawa pekerjaan ke rumah. Aku masih belajar untuk  menerapkan ini karena aku sering belum bisa lepas dari urusan kerja setelah jam  pulang. Bahkan di rumah pun, aku masih sering mencari berbagai ide untuk menyiapkan bahan ajar bagi murid-muridku di sekolah.

Sebagai guru kelas, aku harus membuat laporan harian online tentang perilaku murid,  terutama jika ada insiden. Aku juga harus menghubungi orang tua jika ada anak terluka atau melukai anak lain. Ini menguras energi karena aku harus mengingat insiden yang terjadi dan menuliskannya dalam Bahasa  Islandia, yang aturannya kompleks.

Aku mengajar di lingkungan multikultural, banyak dari keluarga ekonomi menengah ke  bawah. Menurut pengamatanku, banyak murid-muridku yang kurang pengawasan, pendidikan, dukungan bahkan kasih sayang dari orang tua mereka di rumah karena orang tua sibuk bekerja mencari nafkah dan melalaikan peran penting mereka dalam mendidik anak. Akibatnya, aku harus  bekerja ekstra dalam manajemen kelas.

Sering aku kehilangan suara akibat radang tenggorokan, apalagi saat musim dingin atau Ramadan, karena kerap berteriak untuk menertibkan kelas. Itu sebabnya aku banyak menggunakan alat bantu dan berbagai teknik manajemen kelas. Classroom Screen misalnya, efektif membantuku untuk menulis instruksi di laptop dan menayangkannya di whiteboard supaya murid-murid bisa membacanya dan guru tidak perlu selalu bicara keras.

Pernah juga aku diprotes beberapa orang tua, dilaporkan ke kepala sekolah dan meminta anaknya dipindah ke kelas lain. Namun, manajemen sekolah selalu mendukungku dan mencarikan solusi tanpa harus memindahkan anak ke kelas lain.

Sebagai guru di Islandia, aku merasa punya peran dalam perkembangan akademik dan  emosional anak-anak. Kami mengajarkan mereka bersosialisasi, mengelola emosi, dan  belajar mandiri. Anak-anak diajak belajar lewat bermain, berpikir kritis, eksplorasi dan mencari solusi.

Sekolah memberi ruang untuk kreativitas dan waktu istirahat yang cukup. Kolaborasi  dengan orang tua dan komunitas juga penting, termasuk menyediakan penerjemah saat  rapat jika orang tua tidak bisa Bahasa Islandia atau Inggris.

Sebagai perempuan Indonesia, aku membawa nilai gotong royong, sopan santun, dan menghargai keanekaragaman. Rekan kerja dan orang tua murid menghargai latar belakangku. Bahkan, beberapa murid Muslim dari negara lain merasa lebih nyaman karena tahu aku juga Muslim.

Menurut pengamatanku, orang tua di Islandia memberi banyak kebebasan dan  kepercayaan pada anak. Mereka tidak terlalu menuntut prestasi akademik, tapi lebih  fokus pada karakter, kemandirian dan berpikir kritis. Aku belajar bahwa keseimbangan hidup sangat  penting.

Masyarakat Islandia juga sangat mengedepankan kesetaraan sejak dini bagi anak laki-laki maupun perempuan, supaya kelak dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Anak perempuan punya kesempatan belajar di sekolah menjadi ahli mesin, ahli listrik atau tukang batu misalnya; sedangkan anak lak-laki juga punya kesempatan belajar menjadi koki, perias, penata rambut, penjahit atau perawat. Islandia secara konsisten menjadi negara paling unggul dalam kesetaraan gender di dunia, dengan 90% perempuan usia produktif bekerja, 50% anggota parlemen adalah perempuan.

Islandia merupakan negara pertama di dunia dengan presiden wanita. Saat ini, presiden dan perdana menteri Islandia juga wanita.

Pesanku untuk perempuan Indonesia yang ingin jadi guru di luar negeri: jangan takut  mulai dari nol, terus belajar, dan percaya diri. Pengalaman pendidikan di Islandia bisa  diterapkan di Indonesia, terutama soal ramah anak dan keberagaman. Gaya  pengasuhan di Islandia yang menekankan kemandirian dan berpikir kritis  layak  dicontoh.

Untuk para orang tua, ayo terlibat dalam pendidikan anak, jalin komunikasi dengan guru,  dan hargai setiap proses belajar sebagai bagian penting dari tumbuh kembang anak-anak  kita. Guru dan orang tua adalah tim. Tanpa kerja sama, anak akan kehilangan arah dalam  proses belajarnya. Mari tumbuh bersama, demi anak-anak kita.

Penulis: Asti Tyas Nurhidayati, Guru SD di Islandia, relawan Ruanita di Islandia, dan  dapat dikontak via akun instagram @asti.tyas.nurhidayati

(CERITA SAHABAT) Dua Dunia, Satu Hati: Perjalanan Menjadi Ibu Indonesia untuk Anak-anak Remaja di Prancis

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Edha, seorang ibu yang bahagia dengan memiliki anak-anak remaja di Prancis. Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang ibu: tidak ada yang pernah selesai dalam perjalanan kita membimbing anak-anak. Kita terus belajar, terus menyesuaikan langkah, terus mencari cara agar bisa hadir bagi mereka, meski dunia yang mereka pijak berubah, bertambah luas, atau bahkan semakin berbeda dari dunia yang kita kenal.

Ketika saya memutuskan untuk ikut program Cerita Sahabat Ruanita Indonesia, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk membagikan kisah saya sebagai seorang ibu Indonesia yang membesarkan anak-anak remaja di Prancis. Ini bukan sekadar kisah perpindahan negara, tetapi kisah tentang identitas, keberanian, dan cinta seorang ibu yang berusaha menjaga nilai-nilai Indonesia tetap hidup di tengah budaya Eropa yang sangat berbeda.

Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari sana, saya menemukan makna baru tentang menjadi ibu, tentang rumah, dan tentang bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan dalam satu keluarga. Inilah cerita saya, sahabat Ruanita!

Sebelum menetap di Prancis, hidup saya sepenuhnya berpusat di Indonesia. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari, sebuah profesi yang sangat saya cintai karena memberi saya kesempatan melihat dunia, bertemu berbagai karakter manusia, dan memahami banyak hal tentang kehidupan. 

Namun, ketika saya menikah dan kemudian dikaruniai anak-anak, saya memilih meninggalkan dunia penerbangan yang pernah menjadi rumah kedua saya. Saya memutuskan untuk sepenuhnya fokus menjadi seorang ibu, sesuatu yang ternyata membawa saya pada perjalanan yang tidak kalah menantangnya dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.

Suami saya adalah seorang pria Prancis yang bekerja sebagai ahli geologi di sebuah perusahaan tambang besar di Indonesia. Pekerjaannya menuntutnya sering berpindah dari satu lokasi eksplorasi ke lokasi lain, yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri bersama anak-anak. 

Meski demikian, kehidupan kami tergolong mapan. Anak-anak bersekolah di sekolah negeri dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat Indonesia. Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Indonesia, teman bermain mereka adalah anak-anak Indonesia, dan kebiasaan yang mereka serap juga sepenuhnya berakar dari kultur Indonesia. Nilai-nilai yang mereka kenal sejak kecil, seperti: kesopanan, kebersamaan, hormat kepada yang lebih tua, semuanya tercetak dari lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, saya dan suami menemukan diri kami berada pada sebuah persimpangan besar. Selama bertahun-tahun, anak-anak tumbuh dalam suasana Indonesia yang hangat dan familiar. Namun di balik rutinitas yang mapan itu, kami sama-sama menyadari satu hal: anak-anak kami hanya mengenal salah satu sisi diri mereka, sisi Indonesia.

Di dalam diri mereka sebenarnya ada dua dunia yang berbeda, dua sejarah keluarga, dua bahasa, dan dua budaya. Mereka mewarisi darah Prancis dari ayahnya, tetapi kami sadar bahwa identitas itu belum pernah benar-benar mereka sentuh. Dari sinilah percakapan panjang tentang pindah ke Prancis perlahan mulai mengemuka, kadang singkat, kadang serius, kadang berakhir dengan renungan panjang di malam hari.

Saya ingin anak-anak memahami budaya ayahnya, bukan sekadar sebagai cerita di meja makan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan hidupi. Kami membayangkan mereka menguasai bahasa Prancis bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bahasa sehari-hari yang menghubungkan mereka dengan keluarga ayah, dengan tanah tempat ia dilahirkan. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya sebagai anak Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai anak yang memiliki dua akar, dua perspektif, dan dua tempat pulang.

Namun, meskipun ide itu terasa indah dalam pikiran orang dewasa, kenyataan di hadapan anak-anak jauh lebih kompleks. Ketika kami akhirnya memberi tahu keputusan kami untuk pindah ke Prancis, wajah mereka langsung memperlihatkan campuran emosi yang sulit saya lupakan. Ada kekhawatiran besar dalam mata mereka, kekhawatiran tentang harus meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kenyamanan rumah, meninggalkan sekolah yang sudah sangat mereka kenal. 

Mereka bingung bagaimana nanti menjalani hari-hari di negara asing dengan bahasa yang belum pernah mereka kuasai. Saya melihat air mata yang mereka tahan ketika memikirkan betapa jauhnya mereka dari keluarga besar saya, dari nenek-kakek yang biasanya mereka kunjungi setiap minggu. Ada juga ketakutan tentang lingkungan sosial yang sama sekali baru, tentang bagaimana mereka harus mulai dari awal di tempat yang terasa asing.

Sebagai seorang ibu, melihat kecemasan itu membuat hati saya teriris. Anak-anak saya tidak hanya berpindah rumah, mereka juga akan berpindah dunia. Mereka harus meninggalkan sebagian kecil kehidupan yang selama ini memberi mereka rasa aman dan stabil. Saya tahu keputusan ini berat bagi mereka, tetapi saya juga tahu betapa berharganya pengalaman ini nanti bagi mereka, pengalaman menjadi anak yang hidup dalam dua budaya dengan bangga dan utuh.

Kami banyak berdiskusi sebagai keluarga. Malam-malam kami habiskan dengan menjawab pertanyaan mereka satu per satu, mencoba meredakan kegelisahan yang muncul bergantian. Saya memeluk mereka ketika mereka takut, saya mendengarkan mereka ketika mereka marah atau bingung, dan saya memastikan bahwa mereka tahu satu hal: bahwa kami akan melewati ini bersama. Setelah beberapa waktu dan banyak percakapan penuh air mata dan tawa, mereka mulai menerima keputusan itu. Mereka belum sepenuhnya siap, tetapi mereka mulai membuka pintu kecil di hati mereka untuk menyambut kehidupan baru itu.

Meski akhirnya mereka berkata “iya,” saya tetap bisa merasakan rasa berat yang tersisa dalam langkah kecil mereka menjelang keberangkatan. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan di Indonesia, sebagian dari masa kecil mereka, tetapi ada pula sesuatu yang menunggu mereka di Prancis: masa remaja yang akan membentuk siapa mereka kelak. Dan di tengah ketidakpastian itu, saya hanya bisa menggenggam tangan mereka lebih kuat, memastikan bahwa meski dunia baru menanti, mereka tidak akan pernah melangkah sendirian.

Hidup sebagai ibu dari anak-anak yang tumbuh di dua budaya membuat saya memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal membesarkan, tetapi juga menyeimbangkan. Ketika kami pindah dari Indonesia ke Prancis, anak-anak saya memasuki masa remaja, masa yang penuh pertanyaan dan pencarian jati diri. Dan di tengah perubahan besar itu, saya harus belajar menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ibu. Saya harus menjadi sahabat.

Tidak selalu mudah menjaga hubungan yang dekat dengan mereka. Ada hari ketika mereka lebih memilih menutup pintu kamar daripada mendengarkan saya. Ada saat-saat ketika nilai-nilai Indonesia yang saya pegang erat bertabrakan dengan cara berpikir mereka yang semakin dipengaruhi budaya Eropa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kebebasan berbicara, kemandirian sejak kecil, dan ekspresi diri yang terbuka, sementara saya membawa warisan sopan santun, kerendahan hati, dan kehangatan khas Indonesia. Setiap hari kami seakan menegosiasikan dua dunia itu, mencari cara agar tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi.

Dalam proses itu, saya sadar bahwa saya harus banyak belajar: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi batasan dengan lembut, dan menyampaikan nilai-nilai Indonesia dengan cara yang membuat mereka ingin merawatnya, bukan menolaknya. Tidak ada sekolah yang mengajarkan semua itu. Saya belajar sambil berjalan, sering salah langkah, tetapi selalu kembali mencoba lagi.

Namun dari perjalanan ini, saya melihat sesuatu yang sangat indah. Perlahan, identitas keluarga kami terbentuk bukan sebagai Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai gabungan utuh keduanya. Anak-anak saya nyaman berbicara dalam dua bahasa, membawa sopan santun Indonesia tetapi juga keberanian ala Prancis, dan tumbuh dengan cara yang membuat saya merasa bangga sekaligus takjub. Mereka belajar mencintai dua budaya yang membentuk mereka, dan saya belajar melepaskan kekeliruan anggapan bahwa mereka harus memilih salah satu.

Untuk perempuan Indonesia yang mungkin mempertimbangkan pindah negara, terutama yang punya anak remaja, saya ingin berpesan: jangan takut pada perubahan besar. Memasuki budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Anak-anak kita justru bisa membawa keduanya sebagai kekuatan. Peluklah prosesnya. Tidak semua hari akan mudah, tetapi selalu ada makna di balik tantangan itu. Temukan komunitas, bangun jaringan pertemanan, dan tetap jaga bahasa serta nilai-nilai Indonesia dengan penuh cinta, bukan paksaan.

Dan untuk anak-anakku, jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa kalian boleh tumbuh dalam dua dunia, tetapi kalian tidak harus kehilangan siapa diri kalian. Rawatlah nilai Indonesia yang sudah ibu tanamkan sejak kecil. Hargailah budaya lain tanpa menghapus akar kalian. Jangan takut menapaki hal-hal baru; setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang sulit, akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.

Pada akhirnya, hidup dalam dua budaya mengajarkan saya bahwa rumah tidak pernah hanya satu titik di peta. Rumah adalah perjalanan, rumah adalah pelajaran, dan rumah adalah orang-orang yang kita cintai. Dan bagi saya, rumah itu kini hidup di mana pun anak-anak saya berada, di antara bahasa Indonesia dan Prancis, di antara sopan santun dan kebebasan berekspresi, di antara dua dunia yang mereka rangkul dengan hati penuh.

Penulis: Edha, yang tinggal di Prancis, dan dapat dikontak via akun instagram edhadelaby

(IG LIVE) Jarak Bukan Penghalang: Menjaga Waras dan Ikatan Emosional dalam LDR Parenting

Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.

Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.

“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.

Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.

“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.

Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.

Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.

“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.

Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.

Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:

  • Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
  • Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
  • Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
  • Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.

Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.

“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.

Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT) LDR Parenting: Dari Jakarta ke UK

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara, yang lahir dan besar di Jakarta. Hidup saya penuh dengan perjalanan, bukan hanya secara fisik berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang membentuk siapa saya hingga hari ini. Sejak 2020, saya resmi tinggal di Inggris, sebuah negeri yang awalnya terasa asing, tetapi kini menjadi rumah kedua bagi saya.

Proses di sini cepat sekali karena saya tidak mau overstay. Jadi kami mengurus upgrade visa ke visa family untuk kemudian kami bisa menikah di UK. Alhamdulillah, akhirnya saya tinggal di sini sampai hari ini.

Perjalanan pindah ke Inggris bisa dibilang sangat cepat dan penuh kejutan. Tahun itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya. Hubungan kami berkembang pesat, hanya dalam hitungan bulan ia melamar. Dua bulan setelah Itu, saya sudah bersiap untuk mengurus keberangkatan dengan visa turis. Tidak pernah saya bayangkan hidup akan membawa saya sejauh ini, dari Jakarta, ke Bali, dan akhirnya menetap di Inggris.

Namun, sebelum kisah ini berlanjut, ada satu bagian besar hidup saya yang tak bisa saya lepaskan: peran saya. Bahwa saya adalah seorang ibu tunggal sejak 2008, meski kini saya menetap di Inggris.

Ketika putri saya baru berusia tiga tahun, rumah tangga saya berakhir dengan perceraian. Saat itu dunia saya seakan runtuh. Hidup saya berubah drastis, sekejap saja. Dari seorang istri, saya menjadi seorang ibu tunggal yang harus menanggung beban hidup seorang diri, sembari saya tetap memastikan anak tetap tumbuh dalam cinta.

Kalau diceritakan secara lengkap, kisah perjalanan saya sebagai ibu tunggal bisa menjadi sebuah buku tebal. Ada perjuangan, air mata, kelelahan, tetapi juga ada kekuatan yang tidak pernah saya tahu sebelumnya ada dalam diri saya. Putri saya menjadi alasan terbesar untuk terus melangkah.

Saya pernah bekerja di Bali, di sebuah Dive resort. Saat itulah mantan suami meminta agar putri kami tinggal bersamanya dan keluarganya. Karena jarak rumahnya hanya sekitar 20 menit dari rumah ibu saya, saya pun menyampaikan pesan itu. Awalnya sulit menerima, tapi saya belajar untuk percaya bahwa selama ada komunikasi dan doa, ikatan kami tidak akan pernah hilang.

Menjalani peran sebagai ibu jarak jauh adalah salah satu tantangan terbesar dalam hidup saya. Mungkin banyak orang bisa membayangkan, tapi hanya yang benar-benar mengalaminya yang tahu betapa dalam luka dan rindunya. Berpisah secara fisik dengan anak semata wayang itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.

Lima tahun lamanya saya tidak bertemu langsung dengannya, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali di akhir tahun 2024. Bayangkan, lima tahun! Rindu itu setiap hari hadir, tak pernah absen. Ada kalanya saya merasa kuat, tapi lebih sering saya harus menelan perasaan bersalah dan kesepian.

Beruntung, kita hidup di era digital. WhatsApp menjadi jembatan cinta kami. Video call, pesan singkat, bahkan sekadar emoji bisa menjadi pengobat rindu. Melalui layar kecil, saya masih bisa mendengar suaranya, melihat ekspresinya, bahkan bercanda meski jarak ribuan kilometer memisahkan. Itu yang membuat saya bertahan.

Namun, tentu saja ada banyak momen penting yang terlewat. Acara sekolah, kenaikan kelas, bahkan momen kecil yang biasanya menjadi rutinitas ibu-anak. Rasanya hampa, seperti ada bagian dari diri saya yang tidak lengkap. Untungnya, saya tetap terhubung dengan grup WhatsApp orang tua murid dan guru di sekolahnya. Dari sana saya bisa mengikuti perkembangan, meski tidak hadir secara fisik.

Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang kuat dalam iman. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jangan pernah meninggalkan ibadah.” Nasihat ini menjadi pondasi saya, bahkan dalam menjalani peran sebagai ibu jarak jauh. Doa adalah dukungan emosional terbesar yang bisa saya berikan kepada putri saya.

Selain itu, saya sering bercerita. Saya percaya, komunikasi bukan hanya soal memberi kabar, tapi juga soal membangun kebiasaan berbagi perasaan. Dengan bercerita, saya memberi ruang bagi putri saya untuk juga terbuka tentang kesehariannya. Dari obrolan sederhana itulah, hubungan kami tetap hangat.

Hidup di Inggris membawa saya pada babak baru: menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar. Suami saya memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Dinamika ini menarik sekaligus menantang.

Di sini, aturan tentang pengasuhan anak berbeda dengan Indonesia. Anak-anak tinggal bersama ibu kandung mereka, sementara waktu dengan ayah sudah terjadwal rapi. Saya belajar menyesuaikan diri dengan pola ini. Awalnya canggung, tapi perlahan saya menemukan ritmenya.

Tantangan terbesar adalah bahasa. Anak-anak berbicara cepat dengan kosakata yang kadang belum saya pahami. Saya sering hanya bisa diam ketika mereka bercerita pada ayahnya, lalu pelan-pelan saya belajar. Dari mereka, saya mendapat kesempatan untuk terus berkembang, termasuk dalam bahasa Inggris.

Suami saya sangat mendukung peran saya sebagai ibu dari anak yang tinggal di Indonesia. Ia sering menyemangati anak-anaknya untuk membuat kartu ucapan atau hadiah kecil untuk putri saya. Bahkan saat saya video call, mereka ikut menyapa. Itu membuat saya terharu. Bagaimana tidak?! Bahwa mereka mengakui keberadaan putri saya sebagai bagian dari keluarga kami.

Menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri bukan hal mudah. Sejak awal, saya selalu mengingatkan diri, “Jangan lupakan dirimu.” Saya tahu, secara teknis saya bukan ibu kandung mereka. Namun dengan dukungan penuh dari suami, saya bisa menjalani peran ini dengan lebih ikhlas.

Ada kalanya saya merasa bersalah. Saya merasa gagal sebagai ibu karena tidak selalu bisa hadir untuk putri saya. Saya sering tenggelam dalam pikiran, berdoa siang dan malam agar suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam kehidupan yang utuh.

Belajar manajemen stres menjadi kunci. Saya menemukan ketenangan lewat ibadah, meditasi, dan yoga. Rutinitas ini membantu saya tetap waras, tetap kuat, dan tetap percaya diri menjalani hari-hari.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa “ibu” bukan sekadar status biologis. Ibu adalah fondasi, guru pertama dalam keluarga, sumber cinta yang tak bisa tergantikan. Keluarga, bagi saya, adalah paket lengkap: suka, duka, konsekuensi dari setiap pilihan. Yang penting adalah menjaga harmonisasi hati, meski jarak memisahkan.

Saat ini, putri saya sedang menjalani status barunya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya bangga sekali karena ia sempat berhasil mendapatkan bukan hanya satu, tapi lima beasiswa ke luar negeri. Meski begitu, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Indonesia dulu sebelum berencana melanjutkan ke Inggris di tahun ketiganya nanti.

Tentu saja harapan terbesar saya adalah bisa berkumpul kembali dengannya. Tidak ada doa lain yang lebih sering saya panjatkan selain doa untuk pertemuan itu.

Jika suatu hari nanti ia membaca cerita ini, saya ingin ia tahu: “Nikmatilah waktumu dengan rasa senang. Dunia tidak perlu tahu proses perjalanan kita, yang penting kita saling menjaga diri dan berjuang bersama. Roda kehidupan terus berputar, tapi cinta ibu ini akan selalu melekat, nyata, dan terkirim dalam setiap doa.”

Sahabat Ruanita, di akhir kisah saya, saya yakin cerita saya bukan satu-satunya. Banyak perempuan Indonesia di luar sana yang mungkin juga menjalani peran serupa: menjadi ibu jarak jauh, bagian dari blended family, dan berusaha beradaptasi di negeri orang.

Pesan saya sederhana: kuatkan diri.

Sabar itu perlu latihan, dan inilah saatnya melatihnya lebih dalam. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang bukan porsimu. Ingat, setiap negara punya cara pandang berbeda soal keluarga.

Jangan ragu mencari dukungan, baik dari sesama ibu sambung maupun komunitas lain. Meski jalannya berbeda, kita bisa saling menguatkan dengan kesadaran mendalam.

Perjalanan saya masih panjang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang pasti: menjadi ibu, meski dari jarak jauh, tetaplah sebuah panggilan jiwa. Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal jarak, waktu, atau batas negara.

Dan inilah cerita saya, yakni tentang cinta, kehilangan, doa, dan harapan dalam menjalani LDR Parenting.

Penulis: Griska Gunara, yang tinggal di UK dan dapat dikontak melalui akun Instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Makna Kartu Ucapan Mulai dari Relasi Hingga Kesehatan Mental

Di zaman ketika hampir semua ucapan berpindah ke layar ponsel, seorang perempuan Indonesia di Makau tetap memilih cara lama untuk menyampaikan perasaannya, yaitu melalui selembar kartu buatan tangan. Bagi Fransiska Orris-Beding, yang biasa disapa Siska, membuat kartu bukan sekadar hobi. Ia menyebutnya sebagai “cara untuk mengekspresikan diri dan menjaga kewarasan”.

“Membuat kartu itu buat saya bisa mengekspresikan sangat banyak. Tidak hanya kata-kata, tapi juga gambar, kesan saya terhadap seseorang, bentuk perhatian dan penghargaan terhadap orang lain,” kata Siska menegaskan.

Siska sudah tinggal di Makau selama lebih dari 16 tahun. Namun cintanya pada kartu ucapan dimulai jauh sebelum itu, ketika ia masih berusia sekitar 10 tahun.

Saat kecil, ia sering melihat sang kakak membuat kartu kecil untuk diberikan kepada teman-teman. Suatu hari, sang kakak berkata padanya, “Kamu kan sudah lihat saya buat. Kamu pasti bisa. Ini bahan-bahannya, coba kamu bikin sendiri.” Sejak saat itu, Siska mulai membuat kartu untuk Natal dan Valentine. Dari sana lahir kebiasaan yang ia teruskan hingga kini.

Bagi Siska, selembar kartu bukan sekadar media untuk menyampaikan pesan. Ia menyebutnya sebagai potongan kecil dari dirinya sendiri, yaitu sesuatu yang lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang. Dalam setiap kartu, ia berusaha memasukkan elemen yang menggambarkan penerimanya. Jika seseorang menyukai warna tertentu atau memiliki karakter khas, Siska akan menyesuaikan desain kartunya. “Itu bentuk ekspresi penghargaan dan cinta,” ujarnya.

Ia percaya, hubungan personal antara pembuat dan penerima adalah inti dari makna sebuah kartu. Oleh karena itu, setiap karyanya selalu dibuat dengan hati. Selama masa pandemi, ketika Makau menutup diri dari dunia luar selama hampir tiga tahun, kegiatan sederhana membuat kartu menjadi penyelamat bagi kesehatan mental Siska. Sebagai warga non-residen, ia tidak bisa meninggalkan Makau tanpa risiko tak bisa kembali. Isolasi dan keterbatasan membuat banyak orang kewalahan. Bagi Siska, membuat kartu menjadi terapi yang menenangkan.

Ia menyadari, aktivitas kreatif ini bukan hanya menyehatkan bagi pembuat, tetapi juga memberi dampak positif bagi penerimanya. Kartu menjadi sarana komunikasi emosional dan bentuk perhatian yang hangat di masa-masa sulit. Lebih dari sekadar karya seni, kartu adalah ruang sunyi tempat perasaan diolah dan disampaikan dengan lembut. “Memberi kartu itu menjadi sarana untuk menyatakan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung,” katanya. Dalam proses menulis pesan di dalam kartu, seseorang mengambil waktu: berpikir, menimbang kata, dan menulis dengan hati-hati.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(SIARAN BERITA) Peringati Hari Anak Nasional melalui Diskusi Dwi Kewarganegaraan dan Identitas Anak Indonesia di Keluarga Internasional

ISLAMABAD, 26 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Indonesia 2026, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Anak Global, Identitas Nasional: Memahami Dwi Kewarganegaraan dan Masa Depan Anak Indonesia di Keluarga Internasional” pada Minggu (26/7). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai negara, terdiri atas orang tua, perempuan Indonesia di luar negeri, pemerhati anak, akademisi, serta masyarakat umum.

Diskusi diselenggarakan sebagai ruang edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, perlindungan hukum anak hasil perkawinan campuran, serta pentingnya membangun identitas nasional bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan multikultural.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Rahmat Hindiarta Kusuma, Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Islamabad, Pakistan, yang menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak anak Indonesia di luar negeri, termasuk anak-anak yang berada dalam keluarga dengan latar belakang kewarganegaraan ganda. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Fungsi Pensosbud KBRI memiliki peran dalam memberikan pendampingan, informasi, dan fasilitasi terkait berbagai persoalan sosial dan kekonsuleran yang dihadapi WNI di luar negeri, termasuk isu yang berkaitan dengan status kewarganegaraan anak hasil perkawinan campuran.

Setelah pembukaan tersebut, moderator Dewi N. S. Lubis, Mahasiswa Hukum Universitas Terbuka di Singapura, mengawali diskusi dengan menekankan bahwa Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk memperhatikan hak-hak anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di luar negeri dan menghadapi dinamika identitas sebagai bagian dari keluarga internasional.

Pada sesi pertama, Maudy Noor Fadhlia, dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, memaparkan aspek perlindungan hukum internasional bagi anak berkewarganegaraan ganda. Ia menjelaskan berbagai regulasi yang mengatur status kewarganegaraan anak Indonesia, tantangan administrasi, serta pentingnya perlindungan negara terhadap hak-hak anak di tengah mobilitas masyarakat global.

Sesi berikutnya menghadirkan Rina Harahap, Relawan Ruanita Indonesia di Pakistan, yang membagikan pengalaman keluarga Indonesia di Pakistan dalam mengurus dokumen kewarganegaraan anak serta berbagai tantangan administrasi yang dihadapi keluarga lintas negara. Ia menekankan pentingnya memperoleh informasi yang akurat agar orang tua dapat memenuhi hak-hak sipil anak sejak dini.

Pengalaman serupa disampaikan oleh Rindu Ragilia, content creator yang berdomisili di Portugal. Sebagai ibu yang menikah dengan warga Pakistan dan membesarkan anak-anak yang lahir di negara ketiga, ia berbagi kisah mengenai pengasuhan lintas budaya, pengenalan bahasa Indonesia, serta upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak yang tumbuh di lingkungan internasional.

Perspektif psikologis disampaikan oleh Reneta, psikolog yang berdomisili di Australia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa anak-anak birasial dan multikultural memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai individu yang adaptif dan terbuka terhadap keberagaman. Namun demikian, dukungan keluarga tetap menjadi faktor penting dalam membangun rasa percaya diri, identitas diri yang sehat, serta keterikatan terhadap budaya asal.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai persoalan, mulai dari prosedur kewarganegaraan, hak-hak anak dalam keluarga lintas negara, hingga strategi membangun identitas nasional tanpa mengabaikan realitas sebagai warga dunia.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang edukasi dan berbagi pengalaman bagi perempuan Indonesia dan keluarga Indonesia di berbagai belahan dunia. Diskusi ini juga diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, memperkuat jejaring dukungan bagi keluarga Indonesia di luar negeri, serta menjadi referensi publik melalui dokumentasi yang akan ditayangkan di kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tumbuh, memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pengakuan identitas, serta kesempatan berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Simak selengkapnya rekaman diskusi daring yang tayang di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

(PRODUK) Buku Kumpulan Cerita Fiksi Kolektif: Gema dari Ruang Hening

Buku ini merupakan kumpulan cerita fiksi yang lahir dari pengalaman batin, refleksi, dan imajinasi 25 perempuan Indonesia yang hidup tersebar di 14 negara. Berakar dari kampanye digital Ruanita Indonesia dalam rangka Hari Perempuan Internasional Maret 2026, karya ini menjadi ruang bersama untuk merayakan suara perempuan sebagai warga global yang melintasi batas geografis, budaya, dan identitas.

Setiap cerita menghadirkan potret kehidupan perempuan Indonesia di perantauan: tentang rindu yang tak sederhana, pergulatan identitas di negeri orang, relasi rumah tangga yang kompleks, hingga perjuangan menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan kesepian. Di sisi lain, kisah-kisah ini juga menampilkan ketangguhan, keberanian mengambil keputusan, pencarian makna diri, serta upaya membangun mimpi dan kemandirian di tengah keterbatasan.

Dari konflik keluarga, tekanan sosial, hingga pertemuan lintas budaya, para tokoh dalam buku ini bergerak di antara dua dunia, yakni mempertahankan akar sekaligus beradaptasi dengan realitas baru. Ada suara-suara yang dulu dipendam kini menemukan jalannya: tentang menjadi anak perempuan pertama, menjadi istri di tanah konflik, menjadi pekerja migran yang terpinggirkan, hingga menjadi individu yang berani mendefinisikan ulang kebahagiaan dan identitasnya.

Disunting dari hasil Workshop Online Warga Menulis Fiksi, buku ini bukan sekadar kumpulan cerita melainkan arsip hidup tentang pengalaman perempuan Indonesia di panggung global. Ini menjadi bukti bahwa setiap pengalaman perempuan adalah pengetahuan, setiap luka adalah narasi, dan setiap kata adalah bentuk keberanian.


Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mendengar dan merasakan, bahwa di balik jarak dan perbedaan, ada benang merah yang menghubungkan antara perjuangan untuk menjadi diri sendiri dan dunia yang lebih setara.

Nantikan buku ini yang akan dijadikan dalam versi audio dalam produksi bersama secara sukarela dalam waktu dekat.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Slovenia: Lebih dari Sekadar Pindah Negara

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Siti Aghata Romizah Yasmin, atau biasa dipanggil Aghata. Saya berasal dari Indonesia dan saat ini melanjutkan studi Master di Slovenia, setelah sebelumnya tinggal di Jerman selama setahun. Perjalanan tiga tahun merantau di Eropa ini bukan sekadar pindah negara, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang menguji arti sebenarnya dari ketahanan diri.

Perpindahan saya dari Jerman ke Slovenia adalah sebuah evolusi. Pengalaman saya di Jerman memberi fondasi penting untuk memahami kehidupan di Eropa, namun tujuan saya lebih besar: melanjutkan pendidikan dan menantang diri di lingkungan yang sama sekali berbeda.

Jerman adalah ujian resiliensi pertama saya. Dua bulan awal terasa berat, culture shock membuat saya merindukan kehangatan Indonesia. Namun, dengan dukungan luar biasa dari keluarga angkat, saya belajar bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang menerima dan tumbuh.

Saya sempat berpikir pengalaman di Jerman bisa dijadikan cetak biru untuk negara Eropa lainnya. Ternyata, saya salah besar. Slovenia punya “jiwa” dan ritme yang sama sekali berbeda. Proses adaptasi kali ini terasa lebih lambat, dan saya menyadari penyebabnya ada dua. Pertama, hilangnya “Efek Pelangi” yakni fase euforia di awal yang membuat semua tantangan terasa ringan.

Kedua, “Beban Ekspektasi”, yakni asumsi keliru bahwa karena sudah berpengalaman, semuanya akan mudah. Pengalaman justru membuat saya sedikit lengah dan lupa untuk kembali rendah hati. Saya harus kembali menjadi “murid” dari nol.

Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan budaya. Awalnya, saya optimistis karena kemiripan alfabet Slovenia dengan Bahasa Indonesia. Namun, kesulitan sesungguhnya muncul di level lanjutan, saat saya berada di tengah penutur asli bahasa Slavia yang punya keunggulan alami. Ritme kelas yang cepat menguji saya secara akademis dan emosional. Saya harus berjuang dua kali lipat, mengubah rasa minder menjadi motivasi.

Masyarakat Slovenia juga cenderung lebih berhati-hati dengan orang asing. Mereka ramah, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk membangun kepercayaan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna resiliensi emosional: kemampuan untuk proaktif memulai interaksi tanpa mengharapkan keterbukaan instan.

Tantangan ini diperkuat dengan tidak adanya komunitas Indonesia yang solid atau kedutaan besar di Slovenia. Ada kalanya saya merindukan keakraban tawa dan bahasa kita. Namun, situasi ini memaksa saya untuk tidak bergantung pada “jaring pengaman” budaya. Saya belajar hal yang paling fundamental: menjadi rumah bagi diriku sendiri. Ini bukan berarti menyendiri, melainkan secara proaktif membangun koneksi baru yang bermakna. Bagi saya, ini terwujud melalui pertemanan lintas budaya dan dengan menyalurkan energi untuk berkontribusi, seperti keterlibatan saya sebagai relawan di Ruanita, yang memberikan saya ruang untuk bertumbuh bersama komunitas.

Tentu, saya punya jangkar penolong. Seni adalah jangkar mental saya. Melukis, menggambar, hingga nail art menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran. Saya juga menulis untuk memaknai setiap tantangan. Dan yang terpenting, suami saya adalah rekan resiliensi saya. Kami tidak hanya saling mendukung secara emosional; kami memandang setiap kesulitan sebagai proyek tumbuh bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah tim.

Kini, saya melihat migrasi sebagai proses tanpa akhir untuk membentuk diri. Saya belajar beberapa prinsip penting: kosongkan gelasmu sebelum memasuki lingkungan baru; bangun ekspektasi berdasarkan realitas, bukan ilusi; dan sadari bahwa hubungan adalah investasi berharga yang harus dirawat.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang di negara baru, ingatlah: kamu tidak sendiri. Bicarakan apa yang kamu rasakan. Lalu, mulailah dari langkah kecil. Adaptasi bukan perlombaan, melainkan proses menemukan ritme baru. Dan yang paling penting, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, di mana pun kamu berada.

Penulis: Siti Aghata Romizah Yasmin, relawan Ruanita Indonesia di Slovenia dan dapat dikontak via akun instagram aghataasasmin.

(CERITA SAHABAT) Ruang, Rasa, dan Identitas: Menjadi Perempuan Indonesia di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Saat pertama kali datang ke Belanda, saya dibuat terheran-heran. Kota tempat saya tinggal sebenarnya cukup modern, tapi suasananya begitu tenang, nyaris sunyi. Tidak ada suara klakson, tidak ada pedagang yang berteriak, hanya angin dingin dan suara burung dari kejauhan.

Suatu pagi, saya memberanikan diri keluar rumah sendirian untuk belanja ke supermarket. Sepanjang jalan, orang-orang yang saya temui tersenyum dan menyapa, “Hallo!” atau “Goedemorgen!” Sapaan sederhana itu membuat hati saya terasa hangat. Ada rasa diterima. Ada rasa bahwa, meskipun saya baru saja datang dari negeri tropis yang jauh, saya sudah disambut di sini.

Belanda memang negeri para pesepeda. Di jam-jam tertentu, jalanan dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja, dan ibu rumah tangga yang bersepeda dengan tenang. Saya jarang sekali mendengar suara bising kendaraan. Kehidupan di sini berjalan dengan teratur dan rapi, tapi tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang lembut.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak jejak Indonesia tertinggal di negeri ini. Hubungan sejarah panjang antara Indonesia dan Belanda tampak di berbagai ruang publik. Nama-nama jalan, gedung, bahkan tempat makan banyak yang menggunakan istilah Indonesia.

Di kota Utrecht, tempat saya tinggal, ada satu kawasan bernama Lombok. Kawasan ini penuh dengan nama jalan seperti Bandoengstraat, Javastraat, dan Kalimantanstraat. Saat melintasinya, saya merasa seperti sedang berjalan di tengah kenangan, riuhnya lalu lintas, aroma kopi, dan keriangan suasana yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Bandung.

Tak jauh dari sana, ada pula rumah-rumah lansia untuk warga keturunan Indonesia, dengan nama yang juga beraroma tanah air: Roemah Nusantara, Mandala, dan lainnya. Nama-nama itu seolah menjadi pengingat bahwa akar budaya Indonesia tetap hidup di negeri ini, bahkan di antara generasi yang sudah lama menetap di Belanda.

Meskipun jauh dari tanah air, saya tetap berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang berjiwa Indonesia. Dinding rumah dihiasi kain batik, ukiran kayu, dan hiasan wayang kecil yang saya bawa dari Yogyakarta. Di ruang makan, aroma rempah dari dapur selalu menguar, membawa kenangan masa kecil.

Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk menjaga jati diri. Setiap tamu yang datang, baik orang Belanda maupun teman dari negara lain, langsung tahu asal saya. “Wah, rumahmu hangat sekali!” kata mereka. Saya hanya tersenyum. Mungkin, yang mereka rasakan bukan sekadar hangatnya ruangan, tapi juga kehangatan budaya yang saya bawa dari tanah air.

Tinggal di negeri orang tidak berarti harus mengubah diri menjadi orang lain. Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia berarti tetap menjaga kehormatan, kesantunan, dan kelembutan dalam bersikap. Saya berusaha untuk tetap berpenampilan sopan, ramah dalam berbicara, dan menghormati setiap orang. Nilai-nilai ketimuran itu saya pegang erat, bahkan ketika berhadapan dengan budaya yang lebih terbuka dan bebas seperti di Eropa.

Saya tidak ingin menjadi “kebarat-baratan”. Sebaliknya, saya belajar untuk menyaring setiap pengaruh baru. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai yang saya yakini. Ketika menghadiri acara keluarga besar suami atau pertemuan kantor, saya sering mengenakan batik atau kebaya sederhana. Banyak yang memuji keanggunan busana Indonesia. Saya merasa bangga, tanpa perlu banyak bicara, orang bisa melihat jati diri saya dari cara berpakaian dan bertutur.

Bahasa Indonesia selalu menjadi jembatan kehangatan, terutama saat berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Belanda. Kami bisa tertawa bersama, berbagi cerita, dan seolah jarak ribuan kilometer dengan tanah air menghilang begitu saja. Suami saya pun kini sedang belajar bahasa Indonesia. Kadang ucapannya masih terbata-bata, tapi itu justru membuat suasana rumah semakin hangat. Ia bilang, “Kalau bisa berbicara bahasamu, aku bisa lebih memahami hatimu.” Saya tersenyum mendengar itu. Ternyata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah bentuk cinta.

Saya juga membawa tradisi berbagi makanan ke lingkungan tempat tinggal kami. Setiap Ramadan dan Idul Fitri, saya memasak rendang, ketupat, atau kue kering untuk tetangga. Mereka sangat menyukainya! Kadang mereka pun membalas dengan kue khas Belanda seperti appeltaart atau stroopwafel. Pertukaran ini menjadi jembatan kecil yang mempererat hubungan kami.

Tidak ada yang lebih mudah menyatukan dua budaya selain makanan. Saya percaya, aroma dan rasa memiliki bahasa universal yang bisa dimengerti siapa pun.

Orang Belanda sangat akrab dengan masakan Indonesia. Banyak dari mereka tumbuh dengan cerita atau kenangan tentang nasi goreng, sate, atau rijsttafel yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Saya sering mengadakan acara memasak kecil di rumah. Tetangga-tetangga saya penasaran bagaimana cara membuat sambal atau gado-gado. Saat saya menunjukkan rempah seperti lengkuas, daun jeruk, dan serai, mereka terpesona oleh aromanya. “Inilah rahasia kelezatan Asia Tenggara,” saya bercanda.

Selain itu, saya dan suami rutin mengunjungi Tong Tong Fair atau Pasar Indonesia, dua acara besar yang menampilkan budaya dan kuliner Indonesia di Belanda. Di sana, suasananya benar-benar seperti pasar di Indonesia: ramai, penuh tawa, dan wangi sate yang menggoda. Saya selalu merasa seperti pulang ke rumah, meski hanya untuk satu hari.

Tahun-tahun pertama di Belanda bukan tanpa tantangan. Cuaca dingin, bahasa yang sulit, dan rasa sepi sempat membuat saya merasa terasing. Ada masa di mana saya hanya berdiam di rumah dan menatap salju jatuh di luar jendela sambil menahan rindu pada keluarga di tanah air.

Namun, perlahan semuanya berubah. Saya mulai mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas perempuan Indonesia, dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari situ, saya belajar bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi menemukan keseimbangan antara dua dunia.

Sekarang, saya sudah merasa lebih “menyatu”. Saya bisa berbicara bahasa Belanda dengan percaya diri, memiliki teman dari berbagai bangsa, dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga di Indonesia. Setiap panggilan video dengan keluarga selalu mengingatkan saya bahwa jarak tidak mampu memutus rasa cinta.

Sebagai perempuan Indonesia di Belanda, saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku. Budaya bisa tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan lingkungan baru, asal kita tetap menjaga akarnya.

Saya mengagumi perempuan Belanda yang mandiri dan percaya diri. Mereka tidak takut berpendapat dan mengambil keputusan. Dari mereka, saya belajar arti keberanian. Namun dari budaya saya sendiri, saya belajar arti kelembutan dan empati. Dua hal ini: barat dan timur, yang kemudian saya padukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di luar negeri berarti menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara timur dan barat, antara tradisi dan modernitas.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal kemanusiaan yang terus terjalin hingga kini. Banyak warga Belanda yang menaruh minat besar terhadap Indonesia. Dalam setiap perbincangan, mereka selalu antusias bertanya tentang batik, Bali, atau kuliner Nusantara.

Saya senang berbagi cerita. Kadang dalam percakapan santai, saya menyisipkan filosofi hidup orang Indonesia, seperti gotong royong, rasa syukur, dan pentingnya keluarga. Mereka terkesan, karena di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai itu terasa menyegarkan.

Beberapa kali saya juga diundang berbicara di acara komunitas lokal untuk mengenalkan budaya Indonesia. Dari situ saya belajar, bahwa menjaga budaya bukan selalu dengan hal besar, tapi bisa dimulai dari percakapan sederhana dan sikap sehari-hari.

Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, saya semakin sadar bahwa koneksi budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang cara kita menjaganya hari ini.

Rumah kecil saya di Utrecht bukan sekadar tempat tinggal. Utrecht adalah ruang di mana dua budaya bertemu dan berdialog setiap hari. Di ruang makan, aroma rendang bertemu dengan roti gandum. Di ruang tamu, batik berpadu dengan vas bunga tulip. Di hati saya, cinta terhadap Indonesia tumbuh berdampingan dengan rasa syukur atas kehidupan baru di Belanda.

Sebagai perempuan perantau, saya hanya berharap agar kita semua, perempuan Indonesia di mana pun berada, tetap bangga dengan akar budaya sendiri. Kita boleh belajar dan beradaptasi, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat dan kesantunan yang menjadi ciri khas kita.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda telah melewati masa panjang. Kini, saatnya kita membangunnya kembali dengan semangat baru: semangat kesetaraan, saling menghormati, dan saling belajar.

Karena di ujungnya, koneksi budaya bukan hanya tentang sejarah yang kita warisi, tetapi tentang cara kita menciptakan jembatan antarhati, dengan senyum, keramahan, dan cinta yang tidak mengenal batas waktu maupun jarak.

Di negeri orang, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia bukan sekadar tentang dari mana saya berasal, tetapi tentang bagaimana saya membawa kehangatan, kesantunan, dan cinta dari tanah air ke mana pun saya melangkah.

Penulis: Ristiyanti Handayani, tinggal di Belanda dapat dikontak via akun facebook Ristiyanti Handayani.

(IG LIVE) Ketika Menjadi Janda Bukan Akhir Cerita: Belajar Memilih Empati di Hari Internasional Janda

Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.

Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.

Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.

Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.

Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.

Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.

Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.

Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.

Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.

Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.

Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.

Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.