(CERITA SAHABAT) Menjadi Single Mom by Choice di Rumania: It’s my Choice

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan, saya Barbie Nouva, yang kini menetap di Rumania. Saya lahir dan besar di Indonesia, dengan darah campuran yang unik. Mama saya berasal dari Brasil, sementara papa saya berdarah Arab. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berada di persimpangan budaya, sehingga saya tumbuh di antara beragam nilai, bahasa, dan kebiasaan.

Masa muda saya banyak diwarnai dengan musik. Saya menempuh pendidikan di Berlin University, mengambil studi Musik. Musik adalah cinta pertama saya, pintu yang membawa saya berkelana jauh dari tanah kelahiran. Namun, setelah lulus dan kembali ke Indonesia, karier musik saya tidak berkembang sesuai harapan. Dari situ saya mengambil keputusan: saya kembali lagi ke Eropa. Saya sempat melanjutkan studi di Spanyol, hingga akhirnya mendapat tawaran pekerjaan di Rumania.

Awal 2024, saya resmi pindah ke sini. Saat ini, saya sedang menjalani parental leave selama dua tahun. Hari-hari saya diisi dengan mengurus anak, mengikuti kelas daring tentang parenting dan keterampilan baru, membuat konten edukasi tentang perjalanan saya sebagai ibu tunggal, serta tetap mengelola bisnis skincare di Indonesia dari jauh.



Keputusan saya menjadi seorang single mom by choice tidak datang tiba-tiba. Ini berawal dari sebuah janji dan cinta. Bersama almarhum pasangan saya, kami pernah merencanakan memiliki anak lewat inseminasi. Alasan utamanya adalah kesehatan saya. Saya memiliki autoimun, riwayat overweight, dan pernah koma karena anoreksia nervosa. Kondisi itu membuat beliau khawatir jika saya hamil secara alami.

Beliau yang lebih dulu mencari informasi tentang inseminasi. Saya masih ingat, betapa seriusnya ia memastikan bahwa saya akan tetap sehat jika suatu hari kami memiliki anak. Sayangnya, rencana itu terhenti ketika beliau berpulang karena kanker. Kehilangan itu mengguncang saya. Saya bahkan sempat menunda semuanya, memberi tahu rumah sakit bahwa saya tidak akan melanjutkan program.

Meski begitu, saya tetap menjaga komunikasi dengan bank donor yang sudah kami pilih. Dalam hati, saya menyimpan satu janji untuk diri sendiri: jika suatu saat saya merasa siap, dan menemukan donor yang mirip dengan beliau, saya akan melanjutkan langkah ini.



Bagi saya, single mother by choice bukan sekadar label. Ia adalah perwujudan kesiapan seorang perempuan untuk menjadi ibu meskipun tidak memiliki pasangan. Ini tentang tanggung jawab, keberanian, dan cinta yang mendalam.

Sebenarnya, keinginan saya menjadi ibu tunggal sudah ada sejak remaja. Waktu itu, saya menyampaikannya pelan-pelan pada keluarga. Mereka hanya tersenyum, menganggapnya angan-angan anak kecil. Tapi ide itu tetap tumbuh di hati saya.

Akhirnya saya benar-benar menjalani prosedur inseminasi dan hamil, keluarga terkejut. Kehamilan saya tidak berjalan mulus. Kondisi fisik saya melemah hingga dokter utama sempat menyarankan untuk mempertimbangkan terminasi. Itu masa-masa penuh air mata.

Saya berbicara dengan keluarga, dan jawaban mereka membuat saya terharu. Mereka berkata, “Ini kan mimpi kamu. Kalau kamu memilih bertahan, jalani dengan sepenuh hati.” Kata-kata itu menjadi cahaya di tengah gelap. Saya merasa dikuatkan, dicintai, dan tidak dihakimi. Meski jarak memisahkan, mereka selalu hadir.

Setelah anak saya lahir, tantangan baru pun dimulai. Tantangan terbesar justru datang dari pikiran saya sendiri. Saya sering overthinking terhadap komentar orang. Tak jarang muncul rasa takut dan ragu. Dari situ saya belajar untuk memilah: komentar mana yang akan saya dengarkan, dan mana yang sebaiknya saya abaikan.

Dari sisi sosial, menjadi ibu tunggal di Rumania punya warna tersendiri. Secara budaya, banyak orang masih memandang single mother by choice dengan rasa kasihan atau keheranan. Ada yang berkata, “sayang sekali…” dengan nada prihatin. Tetapi dari sisi hukum dan layanan kesehatan, pemerintah tetap melindungi hak-hak ibu tunggal. Itu membuat saya merasa aman, meskipun ada stigma di sekitar.

Kendala bahasa juga membuat saya sulit masuk ke komunitas ibu tunggal lokal. Mayoritas menggunakan bahasa Rumania, sementara saya hanya bisa bahasa Inggris. Saya tetap berusaha membangun koneksi, tapi memang tidak mudah.

Menjadi ibu tunggal berarti saya harus kuat, tapi saya juga manusia biasa. Masa kehamilan yang penuh drama fisik, ditambah pengalaman diskriminasi di tempat kerja, membuat kondisi mental saya jatuh. Saya bahkan sempat mengalami trust issue yang cukup parah.

Untuk menjaga diri, saya rutin berkomunikasi dengan psikolog dan psikiater. Saya belajar untuk punya me time: berkuda, pilates, atau sekadar melatih diri mempercayakan anak pada nanny, meskipun tetap saya awasi lewat CCTV.

Setiap kali saya ingin menyerah, saya melihat anak saya. Dia adalah alasan saya bertahan, hadiah terindah dari Tuhan, cahaya yang membuat saya terus melangkah.

Di sini, komunitas ibu tunggal biasanya fokus pada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Untuk single mom by choice, hampir tidak ada wadah yang khusus. Saya sempat bergabung dengan kelompok lokal, tapi kendala bahasa membuat saya tidak aktif.

Beruntung, saya punya dua sahabat orang Indonesia di Rumania. Kami sering memasak bersama, makan bareng, ngobrol, bermain di taman dengan anak-anak. Sederhana, tapi sangat berarti. Kehadiran mereka seperti oase di hari-hari yang kadang terasa sepi.

Kalau bisa memutar waktu, saya ingin lebih mempersiapkan tubuh saya sebelum menjalani prosedur. Namun, saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Menjadi single mom by choice adalah pilihan terbaik yang pernah saya ambil.

Setelah kepergian almarhum, saya sadar bahwa saya belum siap memiliki pasangan lagi. Hubungan-hubungan lain tidak berjalan baik. Tetapi untuk anak, saya siap sepenuhnya. Anak saya adalah pusat hidup saya, alasan saya untuk menciptakan rumah yang penuh cinta, disiplin, dan nilai-nilai yang saya yakini.

Saya tahu banyak perempuan di Indonesia mungkin merasa siap menjadi ibu, tapi belum tentu siap menjadi istri. Dan itu tidak apa-apa.

Pesan saya sederhana: jika memang sudah siap, lakukan dengan tenang. Ikuti kata hati, jangan terburu-buru mengikuti standar orang lain. Baik dalam memilih pasangan maupun donor, yang paling penting adalah kesiapan diri sendiri.

Saya juga berharap masyarakat Indonesia bisa lebih bijak melihat pilihan single mom by choice. Ini bukan soal kebebasan tanpa batas, tapi soal tanggung jawab. Perempuan yang memilih jalan ini biasanya sudah memikirkan pendidikan, kesejahteraan, dan masa depan anaknya dengan matang.

Pada akhirnya, menjadi ibu tunggal bukan tentang kekurangan, melainkan tentang keberanian. Tentang cinta yang memilih untuk hadir, bahkan ketika jalannya berbeda. Tentang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi generasi berikutnya.

Sahabat Ruanita, ini adalah cerita saya. Semoga bisa menjadi pengingat bahwa setiap perempuan punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Ingatlah, bahwa keibuan, dalam segala bentuk apapun pilihannya, selalu berakar pada cinta.

Penulis: Barbie Nouva, perempuan Indonesia yang kini menjalani hidup sebagai Single Mom by Choice di Rumania dan dapat dikontak via akun instagram official.barbienouva.

(IG LIVE) Cerita Ibu Baru dari Prancis & Dukungan untuk Ibu Menyusui Indonesia

Ruanita Indonesia kembali mengadakan diskusi Instagram Live pada edisi parenting pada bulan November dengan tema “Parenting: Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Menyusui”.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia dan menghadirkan dua narasumber inspiratif: Caroline Shinta, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Prancis dan baru saja menjadi ibu baru, serta Mia Ilmiawati Sadah, konselor menyusui sekaligus pendiri Bubu Institute.

Selama kurang lebih 40 menit, diskusi berlangsung hangat dan penuh wawasan, membahas tantangan, kebahagiaan, serta dukungan yang dibutuhkan para ibu dalam proses menyusui. Mengawali sesi berbagi, Caroline menceritakan pengalamannya menjadi ibu baru di Prancis tanpa kehadiran keluarga besar.

“Kalau di Indonesia ada budaya gotong royong untuk membesarkan anak, di sini saya dan pasangan benar-benar mengurus bayi 100% sendiri,” ujar Caroline.

Ia menggambarkan masa-masa awal menyusui sebagai periode yang sangat menantang, seperti: puting lecet, bayi kesulitan menghisap, kurang tidur, dan rasa lelah tanpa henti.

“Setiap dua jam sekali harus menyusui, lalu memompa ASI ketika bayi tidur. Rasanya non-stop dan melelahkan,” kenangnya.

Namun di balik tantangan itu, ia juga merasakan kehangatan luar biasa dari momen kedekatan dengan bayinya.

“Meski melelahkan, ada rasa bahagia yang tidak tergantikan karena bisa memiliki kontak fisik dan ikatan emosional yang kuat dengan bayi,” tambahnya.

Caroline juga mengapresiasi sistem dukungan pemerintah Prancis terhadap ibu menyusui. Menurutnya, layanan laktasi sudah terintegrasi dalam sistem kesehatan. Sebelum melahirkan, calon ibu diwajibkan mengikuti kelas laktasi bersama bidan, dan setelah melahirkan mereka mendapat pendampingan 24 jam di rumah sakit.

“Ada lembaga milik pemerintah bernama PMI (Protection Maternelle et Infantiles) yang mirip posyandu di Indonesia. Mereka memberikan layanan konsultasi gratis dan mudah diakses, bahkan ada bidan yang datang ke rumah untuk kontrol,” jelasnya.

Narasumber kedua, Mia Ilmiawati Sadah, berbagi kisah di balik pendirian Bubu Institute, platform edukasi menyusui berbasis media sosial.

“Saya berlatar belakang tenaga kesehatan dan ingin terus berkontribusi untuk ibu dan anak meski sering berpindah negara karena pekerjaan suami. Dari situ lahir ide untuk membuat wadah edukasi yang fleksibel dan mudah diakses,” tutur Mia.

Menurutnya, kebutuhan akan konselor menyusui di Indonesia masih tinggi. Kurikulum kesehatan di Indonesia belum memberi porsi cukup besar untuk edukasi menyusui, sehingga banyak tenaga kesehatan belum memiliki kompetensi khusus di bidang ini.

Selain mengelola Bubu Institute, Mia juga aktif di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)—organisasi yang menyediakan layanan konseling dan dukungan bagi ibu menyusui di seluruh Indonesia.

“Kadang ibu bukan tidak tahu caranya, tapi butuh teman dan penguatan. Dukungan emosional sangat penting agar ibu percaya diri dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.

Baik Caroline maupun Mia sepakat bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, melainkan juga dukungan lingkungan.

Caroline berharap masyarakat dapat lebih menghargai perjuangan ibu menyusui. Sementara itu, Mia menekankan pentingnya implementasi kebijakan yang sudah ada.

“Secara nasional, kebijakan dukungan menyusui sudah banyak, termasuk cuti melahirkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024. Tapi yang penting sekarang adalah penerapannya, di kantor, di daerah, di lingkungan kerja,” tegasnya.

Mia juga mengingatkan bahwa menyusui adalah tanggung jawab bersama. Menutup sesi diskusi, Caroline berpesan agar para ibu mempercayai diri sendiri dan menikmati proses menyusui tanpa tekanan.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia adalah program diskusi setiap bulan yang memanfaatkan ruang virtual seperti instagram untuk memberikan banyak inspirasi dan pengetahuan baru dari berbagai sudut pandang pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik.

Diskusi IG LIVE pada bulan November ini bercerita pentingnya dukungan sosial, emosional, dan struktural bagi ibu menyusui. Dari kisah Caroline di Prancis hingga perjuangan Mia di Indonesia, semuanya menegaskan satu hal penting: menyusui adalah perjalanan yang membutuhkan empati, edukasi, dan kebersamaan.

Simak selengkapnya program diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Begini Rasanya Pengalaman Menyusui Pertama Kali, Jauh dari Keluarga di Amerika Serikat

Halo, sahabat Ruanita! Saya biasa dipanggil Fajar. Saya adalah seorang ibu, yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Saya senang kembali lagi berpartisipasi dalam program cerita sahabat ini. Jujur, saya senang mengikuti program Ruanita dari kejauhan, di negeri Paman Sam. Ya, saya sudah tinggal di negeri Paman Sam sejak setahun belakangan ini. Sahabat Ruanita, pernah membaca cerita saya tentang pengalaman melahirkan yang dimuat oleh Ruanita. 

Saya pindah ke Amerika Serikat sejak Desember 2023. Tak lama berselang, saya pun melahirkan anak pertama saya, buah hati perkawinan saya dengan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat. Pada Mei 2024 menjadi momen paling berkesan dalam hidup, saya melahirkan anak pertama saya. Proses persalinan di Amerika cukup nyaman, saya menjalani operasi sesar dan dalam waktu singkat sudah bisa bergerak. 

Ini tentunya berbeda dengan kebanyakan para ibu lainnya yang melahirkan sesar pula. Sebut saja, kakak saya yang melahirkan secara sesar di Indonesia pun masih merasakan rasa sakit persalinan tersebut. Sementara tidak demikian dengan saya di sini. Ini pengalaman pertama kali saya melahirkan dan juga perjalanan menyusui sebagai ibu baru. Ternyata, apa yang saya pelajari sebelumnya lewat internet tidak sepenuhnya mudah untuk dijalani. Ada banyak tantangan yang tidak saya duga sebelumnya.

Sebelum persalinan tiba, saya sudah memelajari berbagai hal terkait menyusui pada bayi. Saya sudah bertekad untuk menyusui bayi saya secara langsung. Itu sebab, saya mulai mencari tahu bagaimana menyusui bayi itu sebenarnya.

Jika di Indonesia, ada banyak bantuan dan dukungan dari orang tua, saudara, dan kerabat, tetapi tidak di sini. Saya begitu merasa sendirian melaluinya. Tak ada ibu, saudara, atau teman yang bisa saya tanyai. Semua harus saya pelajari sendiri lewat internet atau selebaran informasi di pusat layanan Kesehatan Masyarakat di sini. Saya bahkan sempat mengalami puting lecet hingga harus menghentikan menyusui langsung dan beralih ke botol selama dua minggu.

Di Amerika Serikat, terdapat pilihan untuk menyusui bayi. Mereka juga menawarkan kelas laktasi bagi ibu menyusui. Kelas hanya berlangsung sekali dan umumnya berbayar. Saya tidak mengambil kelas laktasi. Dokter saya sudah membantu saya tentang bagaimana menyusui bayi dengan benar. 

Di rumah sakit, para suster membantu saya memastikan pelekatan (latch) yang sempurna. Saya sempat berpikir menyusui akan mudah, toh saya sudah menonton banyak video di YouTube. Namun, realitanya berbeda. Malam pertama di mana saya seharusnya bisa menyusui anak saya, bayi saya tidak mau menyusu. Saya panik, apakah ada yang salah dengan saya? Apakah ASI saya tidak keluar? Suster menyarankan saya untuk pumping guna memastikan ASI saya tersedia. Setelah mencoba, ternyata ASI ada, hanya saja pelekatan saya belum sempurna. 

Jadi, sahabat Ruanita. Kita perlu memastikan sekali, apakah puting ibu benar-benar sepenuhnya masuk ke dalam bayi atau tidak. Keesokan harinya, seorang dokter laktasi datang, kemudian mengajari saya cara menyusui dengan benar.

Di Amerika, menyusui bukan hal yang diwajibkan. Banyak ibu memilih memberi susu formula atau pumping karena mereka bekerja. Di sini bahkan tersedia ASI yang sudah dimasukan dalam cup plastik yang siap diberikan ke bayi. Ini ASI sekali pakai, bagi mereka yang ingin mendapatkan ASI untuk bayi mereka, tetapi tidak bisa atau tidak ingin menyusui bayi mereka secara langsung. 

Hal yang cukup mengejutkan bagi saya adalah bagaimana donor ASI menjadi opsi di rumah sakit. Setelah operasi, saya masih terlalu lemah untuk menyusui, dan suster menawarkan susu donor yang berbayar. Dengan berat hati, saya menyetujui pemberian susu donor karena saya tidak ingin bayi saya langsung diberikan susu formula. Dalam Islam, ada aturan terkait ibu susuan, dan saya sempat khawatir, tapi di saat itu, kesehatan bayi saya adalah prioritas.

Secara emosional, menyusui di negeri orang sangat melelahkan. Saya harus bangun sendiri di tengah malam, memasak, dan mengurus rumah tanpa bantuan. Suami saya membantu sebisa mungkin, tetapi tetap saja saya merasa semua tanggung jawab ada di pundak saya. Untuk mencari dukungan, saya sering mendengarkan ceramah di YouTube dan berkonsultasi dengan kakak saya lewat telepon.

Saya juga menyadari adanya perbedaan budaya dalam menyusui. Di Amerika, fasilitas menyusui di tempat umum sangat minim. Saya belum pernah menemukan ruang laktasi di pusat perbelanjaan, seperti di Indonesia. Saya pernah menyusui di tempat umum saat berkunjung ke suatu tempat, di sekitar tempat tinggal saya. Karena tak ada tempat khusus, saya harus menutup diri dengan jilbab. Untungnya, orang-orang di sini cukup cuek, sehingga saya tidak merasa dipandang aneh.

Kini, setelah delapan bulan, saya mulai mempersiapkan MPASI untuk anak saya. Di Amerika, bayi diperkenalkan dengan makanan satu per satu, seperti puree brokoli atau apel, berbeda dengan di Indonesia yang langsung mengenalkan makanan lengkap. Saya sempat dilema dalam menentukan metode yang akan saya pilih untuk anak saya.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa menyusui adalah perjalanan yang tidak mudah, tetapi juga sangat berharga. Untuk ibu-ibu Indonesia yang akan menyusui di Amerika, persiapkan diri dengan baik, banyak belajar, dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Kita mungkin jauh dari keluarga, tapi kita tetap bisa memberikan yang terbaik untuk buah hati kita.

Penulis: Fajar Latif, seorang ibu dan content creator yang tinggal di Amerika Serikat dan dapat dikontak via akun Instagram thomasandfajar.

(IG LIVE SPESIAL) Melepas Diri dari Benang Kusut: Refleksi Trauma di World Trauma Day bersama Ruanita & Kesmenesia

Pada peringatan World Trauma Day tanggal 17 Oktober lalu, Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Kesmenesia menggelar sesi IG Live bertema “Melepas Diri dari Benang Kusut: Edisi Trauma Sedunia” pada Rabu (29/10) lalu.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia, sesi ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Bernadia Dwiyani, seorang konselor sekaligus trauma-informed yoga practitioner, dan Mystica Rosa, Psikoterapis sekaligus fasilitator Re-Teach Method yang kini menetap di Irlandia.

Diskusi dibuka dengan pembahasan mendasar: apa sebenarnya trauma itu? Menurut Rosa, trauma bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan energi yang terperangkap dalam sistem saraf tubuh akibat pengalaman yang belum terselesaikan.

“Namanya trauma itu bukan peristiwanya, tetapi energi yang tertangkap di dalam sistem saraf kita,” jelasnya, merujuk pada teori Peter Levine yang banyak meneliti respons hewan liar terhadap ancaman.

Rosa menjelaskan bahwa tubuh memiliki dua sistem saraf utama: sympathetic (yang berfungsi untuk melawan atau lari) dan parasympathetic (yang membuat tubuh membeku saat merasa terancam). Ketika energi akibat peristiwa traumatis tidak tersalurkan, tubuh “membekukannya” di dalam sistem saraf. Inilah yang kemudian membuat seseorang terus merasa waspada, takut, atau bahkan mati rasa dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, beliau membedakan beberapa jenis trauma:

  • Trauma akut, akibat peristiwa tunggal seperti kecelakaan atau kehilangan mendadak.
  • Trauma kronis, yang muncul dari tekanan berulang dalam kehidupan sehari-hari.
  • Trauma perkembangan, akibat kurangnya rasa aman di masa kanak-kanak.
  • Trauma relasional dan kolektif, seperti pengalaman pandemi atau bencana besar.

Melanjutkan bahasan tersebut, Bernadia menyoroti keterhubungan antara trauma, tubuh, dan pikiran. Menurutnya, trauma sering kali muncul karena suatu pengalaman yang datang terlalu cepat, terlalu banyak, dan terlalu tiba-tiba, melebihi kapasitas tubuh untuk memprosesnya.

“Saat kita tidak bisa mengekspresikan energi itu, karena situasi sosial misalnya, maka tubuh akhirnya menyimpannya,” ujarnya.

Ia mencontohkan hasil riset yang menunjukkan bahwa stres dan trauma dapat tersimpan di jaringan otot terdalam, bahkan hingga ke fascia. Tubuh pun “mengingat” sensasi-sensasi itu. Inilah sebabnya pendekatan bottom-up kini banyak digunakan dalam pemulihan trauma, yakni dengan mengembalikan kesadaran dan rasa aman melalui tubuh terlebih dahulu, baru kemudian ke ranah pikiran.

“Tubuh punya memori. Jadi penyembuhan trauma bukan cuma soal pikiran, tapi juga soal bagaimana kita belajar merasakan tubuh kita lagi,” jelas Nadia.

Ketika ditanya apakah trauma bisa muncul kembali, Nadia menjelaskan bahwa tubuh bisa terpicu (triggered) oleh hal-hal kecil yang mengingatkan pada pengalaman lama.

“Misalnya seseorang pernah mengalami kekerasan di jalan yang gelap. Meskipun sekarang jalannya aman, tubuh bisa tetap merespons seolah bahaya itu masih ada,” katanya.

Ia menganalogikan trauma seperti mobil yang terus digas tanpa henti. “Kalau terus dipaksa jalan tanpa sempat istirahat, lama-lama mesinnya rusak. Begitu juga tubuh kita,” ujarnya, menggambarkan bagaimana energi yang terus aktif bisa mengarah pada kelelahan kronis, gangguan imun, hingga masalah fisik yang tak terjelaskan secara medis,

Menutup sesi, Rosa kembali menekankan pentingnya kesadaran tubuh dan proses penyelesaian siklus energi yang terperangkap. Ia menjelaskan bahwa sistem saraf kita bekerja tanpa henti menerima rangsangan dari dunia luar. Ketika sistem ini belum “menyelesaikan” siklus trauma, tubuh tetap membaca sinyal bahaya meski situasi sudah aman.

“Yang membuat kita teringat kembali itu adalah trauma memory. Jadi bukan peristiwa yang berulang, tapi sinyal tubuh yang belum selesai,” ujarnya.

Melalui pendekatan seperti Re-Teach Method, seseorang dapat belajar kembali mengenali emosi, mengolah persepsi, dan membangun rasa aman yang baru. Prosesnya pelan, lembut, dan berfokus pada kesadaran tubuh.

Program IG Live ini menjadi ruang reflektif untuk memahami bahwa trauma bukan hanya urusan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana tubuh kita menyimpan, mengingat, dan berusaha bertahan. Rufi menutup sesi dengan ajakan untuk terus belajar mengenali diri:

“Trauma bukan akhir cerita. Ia bisa jadi awal dari perjalanan mengenal diri dan tubuh kita dengan lebih utuh.”

Kolaborasi antara Ruanita Indonesia dan Kesmenesia ini menjadi pengingat bahwa merawat kesehatan mental berarti juga merawat tubuh, sebab keduanya tidak bisa dipisahkan.

Pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi. Simak di kanal YouTube kami berikut:

(CERITA SAHABAT) Apa Arti Sebuah Nama: Mulai Nama Panjang ke Jati Diri

Halo, sahabat Ruanita! Namaku, Christophora Klementia Nevasta Nisyma. Sejak kecil, aku biasa dipanggil Nisyma. Aku sudah tinggal di Jerman sejak tahun 2017, untuk tujuan studi S1, setelah aku lulus SMA di Indonesia pada usia 19 tahun. Dikarenakan ijazah SMA Indonesia tidak diakui di Jerman, aku harus pergi ke Studienkolleg selama satu tahun untuk menyetarakan ijazahku dan berkuliah di Jerman. Kini, aku sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan bekerja di sebuah perusahaan di Jerman sebagai Marketing Campaign Manager.

Saat SMA, aku mengambil jurusan Bahasa dan belajar bahasa Jerman, sehingga tak asing tentang kultur Jerman. Di keluarga, ibuku juga pernah mempelajari bahasa Jerman, bahkan hampir berkuliah ke Jerman dan memiliki orang tua angkat orang Jerman. Meski ibu tidak mengajarkan bahasa Jerman, aku merasa tidak asing sama sekali saat mulai belajar bahasa dan kultur Jerman dari nol. Sementara teman-temanku merasa kesulitan, aku merasa pelajaran bahasa Jerman ini mudah dan lama-kelamaan tumbuh rasa suka terhadap bahasa Jerman. Sejak remaja, aku sudah bermimpi kuliah di luar negeri. Namun kendala ekonomi, hal ini menjadi hanyalah sebuah mimpi.

Akhirnya, dengan kemampuan dan kedekatanku akan bahasa Jerman, aku melihat peluang untuk kuliah di Jerman yang lebih terjangkau. Aku pun memutuskan untuk kuliah di Jerman. Saat datang ke Jerman pertama kali, aku sama sekali tidak mengalami culture shock dan merasa sangat nyaman tinggal di Jerman. Budaya sosial, pola pikir dan gaya hidup Jerman terasa sangat cocok dengan karakter pribadiku. Aku merasa seperti menemukan tempat tinggal yang sesuai untukku kelak. Menurutku, negara Jerman memberikan kesempatan tak terbatas dan menyediakan kebutuhan dasar bagi rakyatnya dan warga negara asing yang ingin menetap/tinggal layak di Jerman. Hal ini mendorongku tinggal dan bekerja di Jerman sampai sekarang.

Bercerita tentang namaku, ada sejarahnya. Aku lahir di keluarga katolik yang taat dan almarhum eyang kakung adalah seorang guru bahasa Latin, Yunani, dan Ibrani untuk calon pastor katolik di Yogyakarta. Beliaulah yang memberikan namaku dan adikku. Di keluarga besar, semua cucu eyang kakungku memiliki nama yang juga panjang, tidak hanya aku. Nama Christophora berasal dari bahasa Yunani yang merupakan nama baptisku. Sebagai orang Katolik, orang tua memilih nama tersebut dengan makna teladan hidup dari Santo  Christophorus.

Karena aku perempuan, namaku menjadi Christophora dan memiliki makna membawa Kristus ke mana pun. Selanjutnya, nama Klementia berasal  dari bahasa Latin yang berarti penuh kasih. Selanjutnya, ada nama Nevasta yang merupakan ide ibuku. Kata Nevas konon ditarik dari kata “Nafas” karena aku dilahirkan pada Hari Raya Pentakosta. Hari Raya Pentakosta dirayakan Gereja Katolik untuk merayakan turunnya Roh Kudus. Terakhir, nama Nisyma dari bahasa Ibrani yang berarti didengarkan. Kata orangtuaku, doa mereka akhirnya terkabul, setelah mereka menantikan kehadiranku selama dua tahun.

Nama panjang kerap dianggap sesuatu yang membanggakan, yang menunjukkan garis keturunan atau filosofi tertentu. Namun dalam perjalananku, terutama saat tinggal di Jerman, aku menyadari bahwa nama panjangku ini bisa menjadi sumber kesulitan. Permasalahan penulisan nama lengkap selalu menjadi masalah dan rumit selama aku tinggal di Jerman 8 tahun terakhir, baik secara birokrasi pemerintahan, perkuliahan dan pengalaman kerja. Seperti yang  diketahui, di Indonesia tidak ada konsep hukum tentang kepemilikan nama keluarga seperti di negara-negara lainnya. Di Indonesia tidak ada pula ketentuan dan kepastian bahwa nama depan adalah otomatis nama panggilan. Dalam paspor pun hanya tertera satu baris “nama lengkap” atau “full name”. Sedangkan di sejumlah negara-negara di dunia, termasuk Jerman, kolom nama dibagi menjadi dua: nama depan dan nama keluarga/nama belakang.

Dalam setiap proses pendaftaran baik online maupun offline, kami diwajibkan untuk mengisi kolom nama keluarga pada formulir pendaftaraan apapun. Dalam kasusku, permasalahan sudah mulai terjadi sejak pembuatan paspor pertamaku untuk pergi ke Jerman pertama kali. Baris nama lengkap atau full name pada paspor Indonesia hanya cukup untuk menuliskan namaku  hingga Nevasta (Christophora Klementia Nevasta) sedangkan Nisyma adalah nama panggilanku seumur hidup dan identitas paling penting bagiku. Akhirnya, kantor imigrasi menuliskan nama lengkapku di halaman Endorsement (halaman 4) dan di halaman pertama, yang hanya tertera Christophora Klementia Nevasta Nisyma.

Pada saat pembuatan visa nasional ke Jerman pertama kali, Kedutaan Besar Jerman di Indonesia pun hanya mau mengikuti apa yang tertera di halaman pertama paspor. Tidak peduli apa nama lengkapku secara hukum di Indonesia. Hal ini juga bermasalah pada sistem birokrasi di Jerman yang sangat ketat, di mana itu mengharuskan adanya struktur nama depan (Vorname) dan nama belakang (Nachname). Di sana, nama seseorang harus terdiri dari dua komponen itu. Sementara aku tidak memiliki nama keluarga. Nama belakang dalam sistem Eropa biasanya diwariskan dan menjadi penanda keluarga besar. Dalam struktur penamaan di Indonesia, terutama di keluargaku, kami tidak menggunakan nama keluarga. Nama kami murni adalah rangkaian nama pemberian, tanpa sistem diwariskan.



Setiap kali aku mengurus sesuatu—apakah itu mendaftar asuransi, membuka rekening bank, atau mengurus dokumen universitas—aku selalu menghadapi masalah yang sama: namaku terlalu panjang. Sistem komputer tidak bisa menampungnya. Beberapa karakter hilang. Di beberapa dokumen, hanya dua atau tiga kata yang muncul. Di dokumen lain, urutannya teracak karena sistem Jerman mengasumsikan bahwa kata terakhir adalah nama keluarga, padahal itu bukan bagian dari nama keluargaku—karena aku tidak punya nama keluarga.

Masalah berikutnya adalah konsistensi data. Karena sistem tidak bisa menampung nama panjangku, muncul perbedaan antara satu dokumen dengan dokumen lain. Di asuransi tertulis sebagian nama. Di paspor tertulis lengkap. Di database universitas berbeda lagi. Ketika mengurus perpanjangan visa atau mengurus legalitas, aku selalu harus menjelaskan bahwa ini semua adalah satu nama yang sama, meski tertulis berbeda. Rasanya sangat melelahkan.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan orang Jerman atau di setiap perusahaan di mana aku pernah bekerja, aku harus selalu menjelaskan hal yang sama dan berulang, bahwa nama panggilanku Nisyma. Sayangnya, Nisyma ada di paling belakang namaku. Nisyma bukan nama keluargaku. Orang Indonesia tidak punya nama keluarga. Setiap aku berganti tempat kerja atau memulai di perusahaan baru, aku harus menyampaikan hal itu. Kalau aku tidak bilang apapun, mereka akan otomatis memanggilku “Frau Nisyma” atau dalam bahasa Inggris “Ms. Nisyma” di mana umumnya dipandang sebagai nama keluarga. Mereka pun memanggilku secara informal Christophora, bukan Nisyma.

Uniknya, selama delapan tahun terakhir aku sudah pernah tinggal dan terdaftar di lima kota berbeda di Jerman. Aku memiliki tujuh kartu identitas sebagai ijin tinggal and satu visa nasional yang ditempelkan di paspor dengan nama yang tertera berbeda-beda. Terdapat tiga macam penulisan namaku yang berbeda beda – Christophora Klementia Nevasta (Nevasta di baris nama keluarga), Christophora Klementia Nevasta Nisyma (satu baris), Christophora Klementia Nevasta Nisyma (Nisyma di baris nama keluarga). Kartu mahasiswaku dan salah satu idenitias bankku bernamakan Christophora Nisyma. Kartu asuransi kesehatanku bertuliskan Christophora Klementia Nisyma.

Kalau dilihat-lihat, amit amit aku ada masalah hukum misalnya, maka Kepolisian Jerman tentu akan kebingungan dan bisa dikira identitas palsu. Namun, masalahnya itu semua tergantung kantor imigrasi dan instansinya. Ada kantor imigrasi yang begitu kaku hanya mau mengambil nama yang tertera di halaman depan, tetapi ada pula  kantor imigrasi yang bisa memahami dan memasukkan semua namaku. Pada instansi non pemerintahan terkadang masih bisa memahami.

Sampai Februari 2025, aku sempat mempertimbangkan dan merencanakan untuk mengurangi namaku secara resmi di Indonesia, karena permasalahan yang kerap dialami mengenai penulisan/pemanggilan nama yang aku ceritakan sebelumnya. Pada akhirnya, pada perpanjangan izin tinggal sekarang ini (Februari 2025), aku berhasil meyakinkan kantor imigrasi di kotaku sekarang untuk menulis semua namaku di kartu identitasku yang menjadi kartu izin tinggal di Jerman.

Itu pun bukan proses yang mudah. Petugas di kantor imigrasi yang melayaniku, bahkan tidak yakin. Namun, beliau sangat baik karena mau mengusahakan untuk menanyakan pada pimpinan kantor imigrasi kotaku dengan kumpulan foto ijin tinggal dan visaku selama di Jerman dalam 8 tahun terakhir yang kulampirkan. Akhirnya, mereka menyetujui permohonanku dan sekarang nama lengkap aku telah tertulis komplit di kartu identitasku yang baru.

Melihat betapa rumitnya proses penggantian nama di Indonesia secara resmi dan aku harus pulang ke Indonesia untuk mengurusnya dengan waktu proses yang tidak tentu. Saat ini, aku memutuskan untuk menunda penggantian nama secara resmi di Indonesia. Apabila nanti dipermasalahkan oleh kantor catatan sipil saat kami menikah, aku akan mengurusnya. Hal terpenting sekarang nama panggilanku, tertera sesuai seperti di kartu identitasku di Jerman.

Ya, saat ini aku bertunangan dengan pria keturunan Yunani-Rusia yang berkebangsaan Jerman-Yunani. Kami pun berencana akan menikah dan menetap di Jerman. Ketika menikah secara sipil di Jerman, sepengetahuanku,  kami akan ditanya oleh petugas kantor catatan sipil dan diminta mengisi formulir, nama keluarga siapa yang akan dipakai setelah menikah. Atau pun kalau pasangan memutuskan untuk tidak menyamakan nama keluarga, pasangan tersebut harus memutuskan nama keluarga yang akan dipakai untuk anak mereka nanti, apabila mereka memiliki anak di kemudian hari.

Selain itu, ADAC (Asosiasi mobil terbesar di Eropa yang menawarkan asuransi perjalanan dan layanan servis kendaraan) dan Kementerian Luar Negeri Jerman menyarankan, jika seorang anak bepergian ke luar negeri hanya dengan satu orang tua, untuk meminta formulir persetujuan informal dari orang tua lainnya dan khususnya, dalam kasus perbedaan nama, salinan akta kelahiran anak, dan halaman data identitas wali sah harus disediakan, sehingga memudahkan perjalanan serta menghindari kemungkinan kesalahpahaman. Karena aku tidak memiliki nama keluarga dan berdasarkan pertimbangan di atas, aku memutuskan akan mengambil nama keluarga suamiku saat kami menikah nanti.

Selama aku tinggal di Jerman delapan tahun terakhir, aku merasa aneh dan sedih karena kartu identitasku di Jerman tidak mencantumkan nama yang paling penting bagiku. Nama panggilan menurutku, nama di mana aku dikenal sejak aku lahir hingga saat ini, baik di Indonesia maupun di Jerman. Kartu identitas adalah hal penting yang mengatur kehidupan sehari hariku di Jerman. Aku memang tidak bisa memilih namaku sendiri dan diberikan nama ini dengan banyak doa dan harapan yang disematkan keluargaku. Jadi, memang mau tidak mau, aku harus menerima bahwa namaku terlalu panjang. Bagaimana pun aku ingin memperjuangkan untuk nama “Nisyma” selalu ada.

Aku berharap, pemerintah Indonesia bisa mempermudah proses penggantian nama tanpa perlu proses sidang di pengadilan di masa mendatang. Mungkin, itu cukup dengan pengajuan permohonan secara tertulis yang diajukan ke Disdukcapil dan wawancara dengan petugas Disdukcapil. Selain itu, aku berharap pemerintah Indonesia bisa mempertimbangkan untuk membuat baris nama di Indonesia menjadi dua baris, alih-alih hanya satu baris. Apalagi jika aku melihat nama anak-anak jaman sekarang (terlepas dari agamanya), banyak anak memiliki nama lengkap lebih dari dua atau tiga suku kata. Aku melihat juga Indonesia bukan lagi negara dengan pemilik nama hanya satu kata, seperti jaman dulu. Aku yakin ada banyak anak Indonesia, selain aku, yang lahir setelah tahun 2010 memiliki nama yang sangat panjang sepertiku dan tidak bisa menuliskan nama lengkap mereka di halaman depan paspor mereka.

Penulis: Nisyma dapat dikontak via akun Instagram ch.nissymaa dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Belajar dari India, Bagaimana Keamanan dan Peran Perempuan di Dunia Teknologi

Dalam dunia yang semakin terhubung melalui teknologi digital, keamanan di ruang maya menjadi hal yang tak bisa ditawar lagi. Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi Oktober 2025 yang dikelola oleh Ruanita Indonesia kembali menyuguhkan narasi reflektif dan penuh wawasan, kali ini bersama Anggi Eka Pratiwi, seorang peneliti muda Indonesia yang tengah menempuh studi PhD di bidang Computer Science and Engineering di India.

Anggi berbagi kisah dan gagasannya tentang perlunya perlindungan digital yang komprehensif, pentingnya literasi digital bagi masyarakat umum, dan urgensi keterlibatan perempuan dalam bidang teknologi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Mengenal Sosok Anggi Eka Pratiwi

Anggi adalah representasi nyata perempuan muda Indonesia yang berani melangkah ke wilayah dominasi teknologi. Berasal dari latar belakang teknik, ia sejak awal telah menyadari bahwa perempuan masih menjadi minoritas di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).

Saat menempuh pendidikan sarjana di Indonesia, dari total 30 mahasiswa di kelasnya, hanya tiga orang yang perempuan, salah satunya adalah dirinya sendiri.

Kini, di India, Anggi tidak hanya melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi, tetapi juga mendalami topik riset yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita: competitive information diffusion atau penyebaran informasi kompetitif di media sosial.

Motivasi Penelitian: Mendeteksi dan Menelusuri Informasi Digital

Salah satu keprihatinan utama Anggi terhadap dunia digital saat ini adalah bagaimana hoaks atau informasi palsu menyebar dengan sangat cepat dan tak terdeteksi.

Banyak informasi yang viral di media sosial tidak memiliki sumber jelas, namun tetap beredar luas tanpa ada mekanisme penyaringan yang efektif.

Berangkat dari kegelisahan ini, Anggi memilih fokus penelitiannya untuk menciptakan model deteksi penyebaran informasi secara cepat dan akurat dengan data yang berasal dari media sosial.

Harapannya, model ini kelak bisa membantu masyarakat dan pemerintah dalam melacak asal-muasal berita palsu, serta menghambat laju penyebarannya sebelum menyebabkan kerusakan sosial lebih jauh.

Keamanan Digital: Studi Perbandingan Indonesia dan India

Melalui pengalamannya tinggal dan belajar di India, Anggi menyoroti bagaimana negara tersebut telah membangun sistem keamanan digital yang responsif dan terstruktur.

Di India, jika seseorang menjadi korban penipuan online atau kejahatan siber, masyarakat tahu persis harus menghubungi siapa dan ke mana melapor. Nomor darurat digital tersedia dan ditindaklanjuti secara cepat.

Berbeda dengan pengalamannya di Indonesia, ketika ia mencoba melapor atas insiden digital, respon yang diterima hanya berupa pencatatan tanpa kejelasan tindak lanjut.

Hal ini menimbulkan ketidakpastian dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perlindungan siber di tanah air.

Menurut Anggi, data saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata, respons cepat, dan edukasi publik agar masyarakat tahu hak serta langkah apa yang harus diambil saat berada dalam situasi darurat digital.

Literasi Digital: Bekal Wajib di Era Internet

Dalam wawancaranya, Anggi juga menegaskan pentingnya literasi digital sebagai modal dasar bagi masyarakat modern. Ia mengusulkan agar pemerintah mengadakan pelatihan dasar tentang bagaimana menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab.

Ada tiga poin penting yang Anggi bagikan kepada masyarakat terkait penggunaan internet dan media sosial:

  1. Gunakan media sosial sesuai tujuan yang positif. Jika ingin mencari berita, langsunglah ke situs berita resmi.
  2. Waspadai jejak digital. Apa pun yang dicari dan diakses akan direkam dan memengaruhi jenis konten yang muncul.
  3. Lindungi identitas digital. Gunakan fitur keamanan seperti private IP, adblocker, dan filter konten untuk menghindari paparan konten negatif dan melindungi privasi.

Ia juga mengingatkan bahwa internet bukan ruang netral, melainkan lingkungan yang penuh algoritma dan risiko jika tidak digunakan secara bijak.

Mendorong Perempuan di Dunia STEM

Anggi tidak hanya berbicara soal keamanan digital, tetapi juga membawa isu penting lain: ketimpangan gender di dunia teknologi.

Menurutnya, meskipun ada peningkatan partisipasi perempuan di bidang STEM, peran mereka masih sangat terbatas di tingkat pendidikan tinggi dan profesional.

Ia menyoroti praktik di India yang menetapkan kuota khusus untuk perempuan di program-program teknik dan sains, misalnya 30% dari total mahasiswa harus perempuan.

Kebijakan semacam ini, menurut Anggi, sangat efektif mendorong kesetaraan dan menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi perempuan di bidang teknologi.

Indonesia, kata Anggi, perlu mempertimbangkan strategi serupa. Selain itu, dibutuhkan narasi positif dan dukungan struktural agar lebih banyak perempuan tertarik dan merasa aman masuk ke ranah ini, yang selama ini dianggap milik laki-laki.

Pesan untuk Indonesia dan Generasi Digital

Sebagai penutup, Anggi menyampaikan harapan besarnya untuk Indonesia. Ia ingin masyarakat memiliki kesadaran lebih tinggi akan pentingnya keamanan digital, dan agar pemerintah membangun sistem perlindungan yang tidak hanya formal, tapi fungsional dan cepat merespon.

Ia juga mengajak para pemuda, khususnya perempuan Indonesia, untuk tidak takut mengejar bidang-bidang teknologi.

Dunia digital bukan hanya tempat untuk bermain atau hiburan, tapi medan yang luas untuk berkontribusi, meneliti, dan menciptakan solusi bagi tantangan zaman.

Tentang Cerita Sahabat Spesial (CSS)

Program Cerita Sahabat Spesial yang dikelola oleh Ruanita Indonesia adalah program bulanan berbentuk video untuk membagikan cerita, pengalaman, dan wawasan mereka, melalui kanal YouTube Ruanita.

Program ini tidak hanya memperkaya perspektif, tetapi juga menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia, melalui suara-suara nyata dari mereka yang belajar, bekerja, dan berjuang di luar batas geografi.

Cerita Anggy Eka Pratiwi adalah cermin bahwa masa depan digital Indonesia bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang manusia yang menggunakannya dengan bijak dan aman.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE ya:

(CERITA SAHABAT) Dari Usaha Kuliner Indonesia di Prancis ke Pesan di Hari World Food Day

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya bernama Dena yang sekarang bermukim di Prancis. Saya senang ditawari untuk berkontribusi dalam program cerita sahabat, terkait program pangan karena saya dulu berkuliah di jurusan teknologi pangan di salah satu universitas ternama di Indonesia. Bagaimana saya tiba di Prancis? Berawal tahun 2017, saya bertemu dengan suami saya yang berkewarganegaraan Prancis di Jakarta.

Saat itu, saya masih bekerja di salah satu perusahaan asal Jerman. Tidak selang berapa lama dari perkenalan tersebut, kami memutuskan menikah sehingga saya pun berhenti kerja dan mempersiapkan diri untuk tinggal bersama suami di Prancis.

Saya menetap di Prancis bersama suami dan putra kami. Selain mengurus keperluan di rumah, sehari-hari saya juga menyalurkan hobi memasak dengan membuat aneka jajanan kaki lima favorit saya seperti bakso halal, pempek dan otak-otak untuk orang-orang Indonesia di Eropa yang rindu dengan jajanan kaki lima.

Tentunya, latar belakang studi di bidang teknologi pangan di Indonesia dan aktivitas saya mengelola usaha rumahan tersebut – membuat saya sangat tertarik untuk membagikan pengalaman dan pendapat saya terkait World Food Day.

Saya bahagia, jika orang-orang menikmati masakan yang saya buat dan mengapresiasi apa yang saya masak. Memasak tidak hanya hobi buat saya, tetapi bagaimana menciptakan kreasi makanan dan memasarkannya – yang saya pelajari sewaktu di bangku kuliah dan dunia pekerjaan di Indonesia, membuat saya semakin tertantang untuk menekuninya. 

Follow us

Berkenalan dengan Usaha Kuliner Rumahan

Usaha rumahan ini dimulai dari kecintaan saya pada jajanan kaki lima favorit saya yang begitu sulit ditemukan di Utara Prancis. Saya pun mencoba membuatnya sendiri di rumah, dengan konsep Halal dan cita rasa otentik seperti kita membeli jajanan bakso di kaki lima. Ketika saya membagikannya di media sosial, teman-teman yang melihat pun ingin mencobanya.

Ternyata, saya mendapatkan respon yang sangat positif. Saya berpikir, mengapa tidak mencoba untuk berjualan kecil-kecilan. Setidaknya, saya dapat memberikan kemudahan kepada orang-orang Indonesia di Eropa yang kesulitan memasak atau mendapatkan jajanan kaki lima favorit mereka. 

Berdasarkan testimoni pelanggan saya – sebagian besar adalah orang Indonesia – mereka sangat senang dengan bakso dan pempek buatan saya. Buat orang-orang Prancis atau orang asing lainnya, yang mencicipi kuliner saya, rasa bakso terbilang unik.

Sedangkan untuk pempek, orang Prancis belum terlalu familiar dengan pempek, kecuali mereka pernah berkunjung ke Indonesia sebelumnya. Mereka senang dapat menikmati variasi olahan lain dari ikan.

Karena saya mengelola usaha rumahan berdasarkan pesanan, dengan target pasar saya adalah orang-orang Indonesia yang kangen makan bakso dan pempek selama tinggal di Eropa khususnya di Prancis, mungkin tantangan saya adalah soal otentifikasi cita rasa makanan tersebut.

Maksud saya, bagaimana mempertahankan masakan dengan cita rasa dan tekstur yang autentik, seperti halnya cita rasa bakso dan pempek yang dijual di Indonesia. Dalam hal ini, tantangan dimulai dari membuat resep, ketersediaan bahan baku dan bumbu-bumbu yang digunakan, hingga soal pemasaran dan pengiriman pesanan. 

Mengenai regulasi atau standar keamanan pangan antara Indonesia dan Prancis, pada dasarnya hampir sama, seperti pelatihan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) serta pelatihan lainnya yang terkait dengan keamanan pangan.

Meskipun jualan kuliner saya berkonsep masakan Indonesia ala rumahan, tetapi saya sudah menerapkan hal-hal yang terkait dengan standar keamanan pangan, agar masakan rumahan yang saya masak adalah masakan yang halal, aman, bersih, sehat dan layak untuk dikonsumsi.

Sejak awal membuat resep adonan bakso dan pempek ini, saya memutuskan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat di Prancis untuk mempermudah saya berikutnya, dalam menjaga kualitas dan cita rasa bakso dan pempek agar tetap konsisten.

Adapun bahan baku yang saya gunakan sangat mudah ditemukan di Prancis. Saya biasanya membelinya dari orang Indonesia yang berjualan produk-produk Indonesia di Prancis, di toko Asia, maupun di supermarket di Prancis. Sedangkan untuk bahan baku daging, saya berbelanja di toko daging halal di kota saya.

Berbicara strategi pemasaran yang digunakan, saya menggunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook. Menurut saya, keduanya sangat ampuh dan efektif untuk menjangkau orang-orang Indonesia di Eropa, yang tersebar di Prancis maupun wilayah eropa lainnya. Selain itu, media sosial tersebut sangat memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan calon pelanggan dan pelanggan lainnya untuk mengetahui apa yang mereka butuhkan.

Calon pelanggan juga dapat dengan mudah mempelajari produk saya, sebelum membeli. Mereka bisa melihat foto dan video dari produk kuliner rumahan saya, serta testimoni-testimoni dari pelanggan lain yang sudah membeli produk saya.

Keilmuan dan Aspek Kesehatan dalam Makanan 

Sahabat Ruanita, seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa saya mempelajari tentang teknologi pangan. Itu sebab, saya menerapkan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah untuk mengolah pangan dengan aman dan sesuai standar higienitas, seperti: masalah kebersihan diri, kebersihan peralatan memasak, kebersihan area pengolahan, penanganan bahan baku mentah, serta proses pengolahan, pemasakan dan pengemasan. 

Di awal, tantangan saya membuat resep adonan bakso dan adonan pempek adalah pemilihan bahan baku, yang sesuai dengan ketersediaannya di supermarket di Prancis.

Misalnya, penggunaan ikan tenggiri untuk pempek, sesuai resep originalnya, yang ternyata sangat sulit ditemukan di Prancis atau negara Eropa lainnya. Saya pun melakukan banyak riset untuk memilih dan mengetahui jenis ikan lainnya. 

Pada dasarnya, saya menggunakan bahan dan bumbu-bumbu dasar sederhana, tanpa bahan pengawet dan tanpa tambahan bahan untuk mengenyalkan bakso.

Ketika ada order pesanan, saya selalu memasaknya di akhir pekan, supaya kualitas produk masih bagus saat pengiriman produk ke pelanggan di hari Senin.

Perspektif tentang World Food Day & Industri Makanan 

Sahabat Ruanita, apakah mungkin usaha rumahan kaki lima seperti yang saya lakukan dapat berkontribusi untuk sustainability? Menurut saya, usaha Bakso Kaki Lima Eropa ini sudah berkontribusi dalam sustainability pangan loh.

Usaha saya ini dibuat berdasarkan pesanan, supaya tidak ada makanan yang terbuang. Saya juga tidak menggunakan bahan pengawet untuk mempertahankan kualitas selama proses distribusi dan pengiriman produk ke pelanggan. Namun, saya menerapkan teknik-teknik dalam ilmu teknologi pangan seperti dalam proses pengolahan dan pengemasannya, sehingga produk bisa bertahan baik ke tangan pelanggan.

Saya selalu menyarankan ke pelanggan, agar produk disimpan dalam freezer (keadaan beku) untuk menambah umur penyimpanan, bila tidak langsung dimasak pada hari penerimaan paket produk dari ekspedisi. 

Karena saya menggunakan bahan baku yang masih segar, tanpa pengawet, dan berkualitas, tentu tantangan terbesar adalah bagaimana produk saya bisa bertahan kualitasnya, masih aman dan layak dikonsumsi saat pelanggan menerima produk. 

Sahabat Ruanita, sebagai informasi untuk proses pengiriman ke pelanggan biasanya memerlukan jangka waktu minimal tiga hingga tujuh hari kerja. Belum lagi, biaya pengiriman satu hari di Prancis maupun ke negara lain di Eropa sangat mahal. Dalam mengatasi proses pengiriman yang lebih dari 24 jam ini, maka saya menerapkan ilmu yang saya dapatkan saat dibangku kuliah jurusan teknologi pangan dengan melakukan riset dan percobaan agar produk tetap dapat bertahan kualitasnya dan aman dikonsumsi, walau tanpa menggunakan mesin pendingin selama proses pengiriman oleh ekspedisi. 

Pesan saya buat sahabat Ruanita yang ingin menekuni usaha kuliner rumahan, maka lakukan dan jalani apa yang disukai, terutama bisa dimulai dari hal-hal yang berhubungan dengan kuliner favorit.

Dari hal ini, kalian akan mudah mengembangkannya lebih luas lagi. Tidak perlu fokus ke kesulitannya dulu, melainkan fokuslah ke proses dan solusinya terlebih dahulu.

Harapan saya melalui usaha Bakso Kaki Lima Eropa ini, Insya Allah bisa berkembang menjadi kedai bakso dan jajanan kaki lima di Paris atau di kota-kota besar lainnya di Prancis, bahkan bisa ekspansi ke negara-negara Uni Eropa lainnya.

Saya juga berharap penggemar bakso dan jajanan kaki lima, tidak hanya orang Indonesia yang berada di Eropa saja, tetapi juga warga lokal Eropa lainnya.

Di hari World Food Day, marilah kita ikut berkontribusi dengan cara melakukan hal-hal yang sederhana di rumah, seperti mengurangi pemborosan makanan dan mengurang limbah pangan.

Hari Pangan Sedunia juga dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa masih ada masyarakat dunia lainnya yang mengalami kelaparan atau mereka yang kesulitan untuk mendapatkan akses terhadap makanan yang cukup dan bergizi.

Dengan adanya Hari Pangan Dunia, kita juga dapat mendukung upaya untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan serta memberantas kelaparan bagi generasi mendatang.

Penulis: Dena T. Djajadisastra, tinggal di Prancis dan mengelola usaha rumahan yang dapat dihubungi via akun instagram @baksokaki5eropa.

(SIARAN BERITA) Soft Launch Kesmenesia

JERMAN – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia di Eropa), mulai diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launch Event yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Menyadari tantangan hidup transnasional yang unik dalam menjaga kesehatan mental, mulai dari rasa rindu kampung halaman (homesickness), tekanan akademik maupun pekerjaan, isolasi sosial, hingga perbedaan budaya (cultural shock) dan risiko burnout, Kesmenesia hadir memperkuat psikoedukasi dan psikososial yang dibutuhkan warga Indonesia di mancanegara.

Follow us

Tentu saja, perbedaan cara pandang antara masyarakat Indonesia dan Eropa terhadap isu kesehatan mental seperti: stigma, ekspresi emosi, hingga sistem dukungan psikologi, menjadi konteks penting yang diangkat dalam forum ini.

Mengusung format “Workshop Online: Berbagi Kesehatan Mental dan Perbedaan Budaya”, ruang interaktif digital yang berdurasi dua jam ini dihadiri oleh orang-orang yang tertarik akan tema kesehatan mental, lintas budaya, dan migrasi yang ingin berbagi pengalaman yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari peserta.

Para fasilitator yang terdiri atas Co-founder Kesmenesia yang tinggal di Eropa ini memfasilitasi berbagai topik, mulai dari pengalaman menghadapi stigma, perbedaan sistem bantuan psikologis, hingga strategi adaptasi lintas budaya. Peserta juga diajak berbagi pengalaman personal mengenai cara menjaga keseimbangan identitas budaya Indonesia sekaligus berintegrasi dengan kehidupan di Eropa.

Pendiri Kesmenesia terdiri atas praktisi, penggiat, peneliti, akademisi yang berfokus pada kesehatan mental di Eropa. Mereka antara lain: Ranindra Anandita, Aulia Farsi, Sven Juda, Firman Tambunan, Bernadia Dwiyani, Fransisca Hapsari, Nelden Djakababa-Gericke, dan Anna Knöbl. 

Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia Eropa) merupakan organisasi profesi kesehatan mental yang menghimpun para psikolog, tenaga kesehatan jiwa, akademisi, serta individu Indonesia yang peduli pada isu kesehatan mental di Eropa. Berlandaskan nilai empati, keterbukaan, dan profesionalisme, Kesmenesia berkomitmen memperjuangkan layanan kesehatan mental yang inklusif bagi orang Indonesia di mancanegara.

Kontak Media: E-mail indonesiakesmen@gmail.com 

(SIARAN BERITA) Ruanita dan KBRI New Delhi Gelar Diskusi Daring dan Hadirkan Wawasan Lintas Budaya untuk Keluarga Indonesia–India

NEW DELHI, 4 Oktober 2025 – Menurut kajian UNESCO tentang keberagaman budaya, anak-anak yang tumbuh di lingkungan multibudaya memiliki potensi unggul dalam keterampilan sosial dan kognitif, namun juga menghadapi tantangan dalam hal identitas diri jika tidak ada kesepahaman dalam pola asuh.

Sejalan dengan hal tersebut, Ruanita Indonesia, dengan dukungan KBRI New Delhi, menyelenggarakan diskusi daring bertajuk Literasi Lintas Budaya Indonesia–India dengan tema “Pengalaman & Tantangan Lintas Budaya”.

Perwakilan KBRI New Delhi dalam sambutannya diwakilkan oleh Dadang Hidayat, Minister Counsellor Ekonomi 1 KBRI New Delhi India. Beliau mendukung ketersediaan ruang interaktif yang dibangun Ruanita agar peserta bisa saling berbagi informasi, pengalaman, dan solusi praktis dalam menghadapi tantangan kawin campur Indonesia–India, seperti adaptasi tradisi, pengelolaan perbedaan nilai, serta strategi parenting di tengah dua budaya besar. 

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, Yulian Setiawani dan Annimah, yang membagikan kisah nyata, tantangan, dan strategi membangun keluarga harmonis di tengah perbedaan budaya.

Acara ini dipandu oleh Rida Lutfhiana, Relawan Ruanita Indonesia, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kota di India serta Indonesia. Melalui forum ini, para peserta diajak memahami dinamika perkawinan lintas negara, mulai dari adaptasi hukum, agama, dan sosial, hingga tips komunikasi efektif dengan keluarga besar.

Follow us

Dalam sesi pertama, Yulian Setiawani mengulas perjalanan cinta pasangan kawin campur Indonesia–India, tantangan administrasi dan sosial yang dihadapi, serta pentingnya menemukan titik temu nilai keluarga.

Sementara itu, sesi kedua bersama Annimah menyoroti pengasuhan anak multibudaya, peran bahasa dalam membangun identitas, serta membentuk karakter anak di era digital.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini menghasilkan benang merah bahwa keberagaman budaya bukan hambatan, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat ketahanan keluarga. Dengan komunikasi yang terbuka, kesepahaman nilai, dan dukungan komunitas, keluarga lintas budaya dapat menjadi teladan toleransi dan persahabatan antarbangsa.

Follow us

Acara ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk memperkuat kapasitas warga negara Indonesia di luar negeri, khususnya dalam membangun keluarga yang harmonis, adaptif, dan berdaya saing di era global.

Ruanita Indonesia adalah komunitas relawan yang mendukung WNI di luar negeri, khususnya keluarga lintas negara, melalui program pendampingan, edukasi, dan jaringan dukungan berbasis solidaritas. Ruanita Indonesia memanfaatkan ruang digital untuk mempromosikan tema psikologi sosial budaya dalam situasi transnasional yang dikelola secara nirlaba, intervensi komunitas, dan manajemen nilai.

Lebih lanjut, bisa kunjungi kami di www.ruanita.com. Kontak Relawan Ruanita Indonesia di India: Yulian Setiawani (info@ruanita.com)

Simak rekaman di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Ini Cara Saya Melalui Midlife Crisis

Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.


Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.

Follow us

Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.

Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:

  • Ketidakseimbangan emosional
  • Kegelisahan dan kecemasan
  • Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
  • Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
  • Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
  • Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis

Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.


Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri. 


Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?


Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia. 

Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:

  1. Menjelajahi Minat Baru
    • Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
    • Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
  2. Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
    • Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
    • Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
  3. Menjalin Koneksi Sosial Baru
    • Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
    • Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
  4. Merawat Kesehatan Fisik & Mental
    • Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
    • Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
  5. Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
    • Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
    • Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
    • Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.


Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.


Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:

“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”


Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT) Resign atau Bertahan: Pengalaman Kerjaku di Austria

Halo, sahabat Ruanita! Aku, biasa dipanggil Anna, yang kini menetap di negeri suami sejak tahun 2017. Sebelum merantau ke Austria, aku bekerja di sebuah perusahaan Food & Beverage di Jakarta.

Posisiku saat itu adalah Asisten Manajer di bidang penjualan dan marketing. Boleh dibilang, karierku dulu di Jakarta cukup memuaskan. Tak pernah terbayang dalam hidupku, aku dapat menjalani pekerjaan di luar negeri.

Pernikahan telah membawaku terbang ribuan kilometer dari tanah air. Dari dulu, aku terbiasa memiliki uang sendiri, sehingga aku pun ingin melakukan hal yang sama saat aku berada di negeri suami. Perjalanan karierku di Austria dimulai dari sebuah kebetulan.

Untuk tinggal dan bertahan hidup di Austria, aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Jermanku. Setiba di sini, aku pun meneruskan Bahasa Jermanku kembali. Suatu malam, ketika aku baru saja menyelesaikan kursus bahasa Jerman, tawaran kerja kudapatkan. Saat itu, aku sedang menunggu suami menjemputku di sebuah restoran cepat saji. 

Sahabat Ruanita, aku tinggal di kota kecil, yang mana transportasi umum di daerah tempat tinggalku sangat terbatas. Sambil menunggu suami pada malam itu, seorang manajer restoran menghampiriku. Dia bertanya tentang latar belakangku. Setelah mengobrol lama, dia pun menawariku pekerjaan. 

Awalnya, aku cukup ragu, bagaimana mungkin aku bisa bekerja di negeri asing ini. Keraguanku lainnya adalah soal bahasa Jermanku yang masih buruk saat itu. Namun, manajer restoran itu tetap meyakinkanku bahwa kemampuan Bahasa Jerman bukan masalah besar.

Aku pun meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran itu. Yeay! dua minggu kemudian, aku mulai bekerja di restoran, yang mana pihak manajer menawariku. 

Meski aku punya pengalaman sebelumnya bekerja di bidang makanan juga, tetapi apa yang kuhadapi sehari-hari antara Indonesia dengan Austria jelas berbeda. Lingkungan kerja di restoran cepat saji sangat berbeda dengan apa yang pernah aku alami di Indonesia. Aku sempat frustrasi dan stres saat itu. 

Bekerja di situ, semuanya harus cepat dan tepat waktu. Tidak ada waktku untuk santai dan bermalas-malasan. Sebagai orang Indonesia yang terkenal ramah di dunia, demikian pula aku dikenal sebagai pribadi yang selalu tersenyum, ramah, dan humoris. Aku pikir itu adalah sifat khas orang Indonesia umumnya. 

Sahabat Ruanita, aku menilai pekerjaan pertamaku di restoran itu cukup berat. Aku bertanggung jawab atas kebersihan, antara lain: membersihkan meja tiap pelanggan, membersihkan lantai restoran, membuang sampah, hingga membersihkan toilet. Pulang kerja di hari pertama, aku menangis.

Aku kaget bahwa realita bekerja di negeri asing tidak seindah seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ini semua membuatku frustrasi. Mungkin, aku memang belum menguasai Bahasa Jerman sepenuhnya di tempat kerja. Tak patah arang dan aku terus menguatkan diri. Bagaimana pun aku harus tetap bekerja di Austria, untuk diriku dan membantu kehidupan orang tuaku di Indonesia.

Setelah empat bulan bekerja di restoran tersebut, aku dipindahkan ke bagian pelayanan pelanggan. Pengalaman ini membentuk mentalku dan membantuku meningkatkan kemampuan Bahasa Jerman. Ini menjadi kesempatan buatku belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi, pikirku.

Meski begitu, aku tahu bahwa ini tidak mudah. Aku selalu berpikir, jika pekerjaan sudah tidak nyaman dan tidak bisa dikompromikan lagi, maka aku harus mencari pekerjaan baru. Benar saja, aku mulai mencari peluang pekerjaan lain, apalagi pekerjaan di situ telah mengganggu kondisi mentalku.  

Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar asal Jerman. Perbedaan terbesar antara pekerjaan lama dan baru adalah penghasilan, jam kerja yang lebih teratur, serta lingkungan kerja yang lebih profesional. Aku mendapatkan informasi lowongan kerja dari suamiku. Aku kemudian mencoba melamar dan ternyata aku diterima bekerja di situ. Wow!

Sahabat Ruanita, pastinya penasaran bagaimana aku bisa bekerja di situ. Aku berhasil melewati wawancara kerja. Saat wawancara, mereka bertanya tentang kemampuan komputer, kemampuan bekerja dalam tim, dan kemampuan bahasa Jerman. Rupanya, pengalaman kerja di restoran sebelumnya telah membantuku menghadapi tantangan di tempat kerja baru.

Bekerja di Austria telah memberiku banyak pelajaran berharga. Aku menjadi lebih disiplin, tepat waktu, dan bekerja dengan cepat serta akurat. Aku bangga bisa menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah pekerja keras, cepat belajar, dan mampu beradaptasi dengan ritme kerja di luar negeri. Aku juga melihat bahwa ada banyak peluang karier bagi pendatang di Austria, selama kita mau belajar dan bekerja keras.

Untuk perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, pesanku adalah selalu menjaga kesehatan mental. Jika pekerjaan mulai membuat stres dan tidak nyaman, carilah yang baru.

Mental baja sangat diperlukan, begitu juga dengan kemauan untuk belajar, disiplin, dan kemampuan mengatur keuangan. Jangan konsumtif, karena hidup di luar negeri membutuhkan perhitungan matang dalam setiap aspek.

Pesan terakhirku untuk sahabat di Ruanita: selalu baca dengan teliti sebelum menandatangani kontrak apa pun. Hal ini sangat penting karena bisa berdampak fatal.

Oleh karena itu, menguasai bahasa negara tempat kita tinggal adalah keharusan. Jangan takut untuk belajar dan berusaha, karena setiap langkah kecil akan membawa kita lebih dekat kepada impian.

Penulis: Yuliana, dapat dikontak di akun instagram @yuliana.syamsudin dan tinggal di Austria.

(SIARAN BERITA) Bagaimana Membangun Ruang Aman bagi “Ibu Baru” di Negeri Rantau?

PARIS, 14 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, komunitas youarenotalone.mom di Prancis, serta Komunitas Pasangan Indonesia–Prancis, menyelenggarakan diskusi daring bertema Parenting di Prancis melalui platform Zoom.

Acara ini dimaksudkan sebagai media virtual support group bagi “New Mom” yang sedang berada di mancanegara dalam menavigasikan tema parenting, yang kontekstual dan transnasional. 

Kegiatan ini diinisiasi sebagai respon atas berbagai tantangan yang dialami perempuan Indonesia, khususnya ibu baru, yang menetap di Prancis, yang kemudian hampir dialami “New Mom” orang Indonesia di negeri rantau.

Menjadi ibu di negara asing bukan hanya pengalaman transformatif, tetapi juga penuh dengan dinamika emosional, adaptasi budaya, hingga keterbatasan akses terhadap dukungan sosial maupun layanan kesehatan. 

Di Prancis, sistem pengasuhan anak sangat dipengaruhi oleh nilai kemandirian serta struktur dukungan formal seperti crèche dan assistantes maternelles, yang berbeda dengan pola pengasuhan kolektif khas Indonesia.

Kondisi ini kerap menimbulkan rasa isolasi, baby blues, hingga depresi pascapersalinan bagi ibu baru yang jauh dari keluarga besar dan lingkungan budaya yang familiar.

Ruang interaktif digital ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Carolina Shinta, relawan Ruanita sekaligus pendiri komunitas youarenotalone.mom di Prancis, berbagi pengalaman pribadi sebagai ibu baru di negeri rantau dan pentingnya membangun komunitas pendukung.

Selanjutnya, Demira Shaifa, psikolog klinis anak yang kini menetap di Spanyol, memaparkan bagaimana orang tua dapat menavigasi perbedaan nilai dan norma dalam pola pengasuhan lintas budaya. 

Berkaitan dengan tumbuh kembang anak secara psikologis, dibawakan oleh Ranindra Anandita, psikolog lulusan Université de Bordeaux, yang kini berpraktik di Prancis.

Ia membahas kesehatan mental ibu baru dan bagaimana melakukan pola asuh yang sesuai usia perkembangan anak, beserta sistem dukungan kesehatan anak di Prancis.

Acara ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik dengan tema parenting, transnasional, atau lintas budaya, dan psikologi perkembangan anak, terutama ibu baru maupun calon ibu.

Melalui interaksi virtual ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menciptakan ruang diskusi yang aman, suportif, sekaligus membuka jalan terbentuknya komunitas informal new moms abroad yang dapat saling mendukung dalam perjalanan menjadi ibu di luar negeri.

Acara ini tidak direkam. Ikuti berbagai program kami melalui berbagai platform media sosial yang tersedia. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui kanal resmi Ruanita Indonesia.

(PODCAST RUMPITA) Literasi Anak di Tengah Dunia Digital yang Mengglobal

Dalam program bulanan diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita, Anna sebagai Podcaster didampingi oleh relawan Ruanita lainnya yakni Etty P. Theresia yang tinggal di Frankfurt, Jerman.

Diskusi podcast episode bulan September ini, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia dengan menghadirkan kisah inspiratif dari perempuan Indonesia yang menjadi pemerhati dunia literasi anak-anak.

Informan dalam diskusi podcast RUMPITA episode ke-41 adalah Azizah Seiger, atau akrab disapa Zee, yang menetap di Austria sejak 14 tahun lalu dan merupakan co-founder Seger Reading Club, sebuah komunitas literasi anak yang baru berdiri tapi penuh semangat dan visi besar di Indonesia.

Sebelum menyelami kisah Zee, Etty sempat berbagi tentang inisiatifnya mendirikan klub membaca buku anak di Jerman, yang dikenal Wortschatzbook Klub, komunitas membaca bersama yang aktif sejak 2019 dan kini rutin mengadakan pertemuan luring dua bulan sekali di Frankfurt. Menariknya, “Wordschatz” berasal dari bahasa Jerman Wortschatz, yang berarti “kosa kata”.

Fokus pada klub membaca yang dikelola oleh Zee, diberi nama Seger Reading Club, yang lahir dari kolaborasi antara Zee di Austria dan sahabatnya di Indonesia, yang berlokasi di Dusun Seger, Indonesia.

Kisah lahirnya komunitas ini bermula dari unggahan sahabatnya tersebut di media sosial yang menunjukkan anak-anak membaca dan menggambar di halaman rumahnya. “Langsung saya japri dan bilang: yuk kita bikin Reading Club,” cerita Zee penuh semangat.

Nama “Seger” sendiri ternyata bukan plesetan dari “Seiger” (nama belakang Zee), melainkan nama dusun tempat kegiatan membaca ini berlangsung.

Menurut Zee, berdirinya Seger Reading Club dilandasi dua jenis motivasi:

  1. Motivasi eksternal: terinspirasi dari pejuang literasi di Lombok Utara, keluarga besar guru, serta semangat sahabatnya sendiri.
  2. Motivasi internal: keinginan mendalam untuk menjadi bagian dari perubahan positif, didorong oleh nilai pribadi, hobi menulis, dan semangat memberi makna hidup.

“Ada keberanian yang harus kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan keberanian itu datang dari kepercayaan diri dan mindset positif,” ujar Zee.

Sebagai ibu dari Yuna, balita 3 tahun yang tumbuh trilingual (bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris), Zee sangat memperhatikan penguatan literasi sejak dini. Ia konsisten membacakan buku, menciptakan rutinitas bedtime stories, dan memperhatikan pelafalan dalam setiap komunikasi.

Menariknya, Zee juga tidak menolak penggunaan teknologi. “Yuna belajar banyak dari kanal seperti Miss Rachel,” ujarnya. Namun, ia selektif, hanya memperbolehkan screen time lewat TV, bukan gadget genggam, untuk menjaga fokus dan keseimbangan bermain.

Yuna kini mampu mengenali huruf-huruf sejak usia dua tahun dan membaca kata-kata sederhana, bukti bahwa dukungan literasi di rumah bisa menghasilkan dampak besar bahkan sejak usia dini.

Di Seger Reading Club, anak-anak yang terbiasa dengan gadget awalnya tampak kurang tertarik pada buku. Untuk menyiasatinya, para relawan membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan gerakan.

Sahabat Zee sendiri dan tim juga membuat video dongeng untuk diputar bersama menggunakan laptop. Ke depan, program akan menggunakan proyektor agar anak-anak bisa menonton bersama-sama.

“Banyak anak sekarang mengalami speech delay karena kebanyakan screen time,” tutur Zee. Seger Reading Club menjadi ruang alternatif yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi.

Apa yang dilakukan oleh Zee di Seger Reading Club dan Etty di Wordschatzbook club, menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dimulai dari ruang sekecil apapun, asal ada tekad, keberanian, dan kolaborasi.

“Tanpa keberanian, tidak akan ada karya. Tanpa keinginan membantu, tidak akan ada perubahan,” kata Zee. Di tengah dominasi layar dan tantangan suara perempuan Indonesia di negeri rantau, menjadi pengingat bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari solusi.

Simak diskusi PODCAST RUMPITA episode ke-41 berikut di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW agar kami dapat berbagi lebih lagi:

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Menyekolahkan Anak di Daycare Portugal adalah Perjalanan Adaptasi

Portugal bukanlah tujuan awal kami, tetapi takdir membawa kami ke negeri ini. Awalnya, kami berencana tinggal hanya enam bulan untuk mendukung studi suami, tetapi pesona Lisbon yang hangat, keramahan warganya, serta lingkungan yang inklusif membuat kami memutuskan untuk menetap lebih lama. 

Seiring berjalannya waktu, kami mulai memikirkan bagaimana tumbuh kembang anak-anak kami di masa depan, termasuk bagaimana anak-anak bersekolah nantinya. Rupanya kami memiliki tantangan untuk mencari sekolah yang sesuai untuk kebutuhan anak-anak kami, terutama Daycare bagi si kecil.

Berbeda dengan di Indonesia, pendaftaran Daycare di Portugal dilakukan secara online atau langsung dengan mengisi formulir di sekolah yang dituju. Syaratnya cukup jelas, seperti kartu identitas anak dan orang tua, bukti pajak, bukti tempat tinggal, buku vaksin, dan dalam beberapa kasus, surat keterangan tidak bekerja dari salah satu orang tua. 

Sebagai orang tua, kami pun harus merespon bagaimana proses pendaftaran segera dimulai. Apalagi sistem pendaftaran di sini berdasarkan sistem zonasi, yang menentukan sekolah berdasarkan alamat tempat tinggal. Kami harus bergerak cepat, karena masa pendaftaran berlangsung dari Maret hingga April.

Jika di Indonesia, saya mendapati banyak orang tua menunggu anak-anak mereka di sekolah, terutama di hari pertama mereka bersekolah. Namun, ini tidak berlaku di Portugal.

Di Portugal, baik Daycare maupun Taman Kanak-kanak (TK) memiliki kebijakan di mana orang tua hanya boleh mengantar dan menjemput anak. Orang tua dilarang untuk menemani anak-anak mereka di kelas. 

Saya merasa awalnya sangat sulit, terutama bagi anak kami yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, seiring waktu, kami melihat peraturan tersebut sangat berdampak positif bagi anak-anak kami. Anak-anak belajar mandiri lebih cepat dan mulai membangun kepercayaan diri mereka. Wow!

Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah bahasa sebagai komunikasi sehari-hari orang tua dengan anak. Bahasa menjadi tantangan utama, baik bagi kami sebagai orang tua maupun anak-anak kami. Di rumah, kami berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara di sekolah mereka harus beradaptasi dengan Bahasa Portugis. 

Pada awalnya, komunikasi dengan anak-anak terasa sulit buat kami. Namun,  anak-anak sudah mulai berbicara dengan lancar, setelah enam bulan berlalu. Bahkan, komunikasi anak-anak terdengar seperti penutur asli. Kecepatan adaptasi sosial mereka sungguh mengejutkan dan menginspirasi kami untuk ikut belajar Bahasa Portugis lebih serius.

Daycare dan TK di Portugal lebih menekankan pada eksplorasi dan sosialisasi dibandingkan akademik. Anak-anak tidak diajarkan membaca dan menulis seperti di Indonesia, tetapi mereka dibiasakan dengan aktivitas di luar ruangan, jalan-jalan ke taman, mengunjungi museum, menonton teater, serta merawat hewan peliharaan kelas. Kami menyadari bahwa pendidikan di sini lebih menitikberatkan pada pengembangan empati, disiplin, dan kemandirian dibandingkan keterampilan akademik di usia dini.

Berbicara tentan dukungan Pemerintah Portugal, kami menilai pemerintah di sini memberikan berbagai tunjangan bagi keluarga, termasuk Daycare gratis bagi yang memenuhi syarat. Sekolah negeri pun tidak memungut biaya, sedangkan sekolah swasta menerapkan biaya bervariasi, bergantung dengan subsidi dan berdasarkan penghasilan keluarga. Kami sendiri membayar sekitar 90 Euro per bulan, jauh lebih murah dari tarif standar yang bisa mencapai 300 Euro.

Selain itu, snack pagi hingga sore dan makan siang sepenuhnya disediakan oleh sekolah. Sahabat Ruanita perlu tahu, jika anak-anak ingin membawa bekal dari rumah, ada aturan ketat yang harus dipatuhi, seperti larangan membawa makanan gorengan, makanan manis, ataupun makanan instan. 

Bagaimana pun, menyekolahkan anak di Portugal memberi kami perspektif baru tentang pendidikan. Sekolah tidak memberlakukan adanya sistem ranking, seperti zaman saya bersekolah di Indonesia dulu. Sekolah juga tidak menerapkan ekstrakurikuler yang berlebihan. Saya menilai sekolah melakukan pendekatan yang lebih santai terhadap tugas sekolah, sehingga membuat anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan lebih bebas. Sebagai orang tua, kami juga merasa lebih rileks, karena anak-anak belajar dengan cara yang lebih natural dan alami.

Di masa depan, kami ingin memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan pendidikan berbasis nilai-nilai keluarga kami. Kami tengah mempertimbangkan sekolah Islam yang ada di Portugal, baik yang menggunakan kurikulum Portugal maupun Cambridge. Harapan kami, mereka tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dengan nilai-nilai yang seimbang antara budaya lokal dan keyakinan kami.

Untuk sahabat Ruanita, yang ingin menyekolahkan anak di Portugal, mohon perhatikan informasi pendaftaran Daycare sedini mungkin. Daftar tunggu bisa panjang, jadi semakin cepat mengurus pendaftaran, semakin besar kemungkinan mendapatkan tempat yang diinginkan. Hal yang terpenting, bersiaplah untuk mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan bahasa dan budaya yang baru.

Menurut saya, Portugal kini telah menjadi rumah kedua bagi kami.  Kami bersyukur atas pengalaman luar biasa ini.

Penulis: Rindu Ragillia, seorang ibu yang tinggal di Portugal dan dapat dikontak via akun instagram rinduragg.

(SIARAN BERITA) KBRI Dhaka dan Ruanita Indonesia Sukses Gelar Diskusi Daring “Cerdas & Bijak Bersama Teknologi”

Dhaka, 15 Agustus 2025 – KBRI Dhaka bersama Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertema “Cerdas dan Bijak Bersama Teknologi” pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Acara ini diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) di Bangladesh dengan tujuan meningkatkan literasi digital dan kesadaran terhadap maraknya hoaks serta penipuan berbasis teknologi.

Acara dibuka oleh Perwakilan KBRI Dhaka, Sahid Nurkarim, yang menekankan pentingnya membekali diri dengan keterampilan digital di era teknologi yang berkembang pesat. Diskusi dipandu oleh Elia Qudo, relawan Ruanita Indonesia di Bangladesh.

Follow us

Dua narasumber utama hadir berbagi wawasan. Anggy Eka Pratiwi, relawan Ruanita Indonesia dan mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, India, membahas cara mengenali hoaks serta modus penipuan yang melibatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

Sementara itu, Octanty Mulianingtyas, dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Indonesia, memberikan tips praktis agar WNI dapat menggunakan teknologi secara aman dan bijak dalam kehidupan sehari-hari.

“Diskusi ini bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga menguatkan solidaritas komunitas WNI di Bangladesh agar mampu melawan hoaks dan menciptakan lingkungan digital yang sehat,” ungkap Sahid Nurkarim, perwakilan KBRI Dhaka.

Informasi lebih lanjut: Elia Qudo, Relawan Ruanita Indonesia di Dhaka (info@ruanita.com)

Rekaman acara diskusi dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung keberlanjutan kami.