Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Lawanku adalah anak dari suamiku. Ya, ternyata sudah punya anak remaja menjelang dewasa walaupun suamiku belum pernah menikah. Kejutan apalagi yang suamiku sembunyikan dariku? Mungkin karena mengenal karakter perempuan Indonesia (sebab ibunya anak itu ternyata orang Indonesia juga), yang lebih suka mendapatkan pasangan tanpa anak. Toh mereka tak pernah rutin berjumpa, suamiku tidak pernah terlibat sama sekali, karena mereka sudah memutuskan begitu barangkali, entahlah. Aku menjadi orang yang paling tidak tahu mengenai suamiku sendiri!
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Kehidupan seorang perempuan pasti akan berubah setelah menikah. Ya, itu hal yang aku rasakan hari ini. Sebelumnya aku adalah komentator kehidupan berumah tangga, ternyata kini aku adalah pelaku utama. Menikah diboyong suami, serumah dengan mertua, dan ipar. Bisa dibayangkan bagaimana? Nyatanya setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Ada keluarga suami yang memang bisa menerima dan saling mendukung. Ada juga mertua dan menantu, bagaikan Tom and Jerry. Jika dengan mertua baik-baik saja, justru dengan ipar yang kurang akur. Jaman sekarang, ada istilah ipar adalah maut. Terkadang ada rasa cemburu karena perhatian mertua. Status yang bisa di bilang anak yang miskin dan anak yang kaya atau anak yang berbakti versus anak yang paling dimanja. Pastinya rasa iri dengki sangatlah kuat. Namun, yang biasanya bikin geger gedhen itu kalau rebutan warisan.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
“Kenapa kamu tidak mengganti kewarganegaraanmu seperti yang lainnya?”
Seperti yang lainnya. Aku tahu maksudnya: mereka yang ingin lebih mudah. Lebih aman. Lebih diterima. Lebih tidak dipertanyakan. Pertanyaannya terdengar praktis. Rasional. Seolah identitas adalah pilihan karier. Seolah paspor hanyalah alat mobilitas, bukan bagian dari sejarah tubuh.
Aku menjawab dengan senyum yang sudah terlalu sering kupakai untuk meredam ketegangan. “Belum perlu.”
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Entah bagaimana kisah hidupnya, saat tidak ada orang yang melihat dia berubah menjadi seorang biadab. Ia gemar menyudutkan anak-anak perempuan di gang sempit, menyentuh, mengancam, dan membisikkan janji pembunuhan. “Jika kau berani bicara, aku pastikan kau mati.” Koma, Lira, dan gadis-gadis kecil lainnya diikat oleh benang merah ketakutan yang sama. Saling tahu, tapi tak ada yang bicara. Hanya keheningan yang mematikan. Sejak lahir, seolah ada jarum dan benang gaib yang disiapkan untuk menjahit mulut mereka sendiri.Menjahit mulut lebih mulia daripada membuat geger. Mereka diajarkan untuk menyimpan aib, bahkan jika aib itu bukan perbuatan mereka. Mendhem jero, simpan lukamu sampai membusuk di dalam perut.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Aku tertegun. Akhirnya datang juga, kekhawatiran yang aku kubur di lubuk hati terdalam sejak aku memutuskan untuk belajar dan berkarier menjadi guru Sekolah Dasar di Reykjavík, ibukota paling Utara di dunia. Ya. Aku. Orang Indonesia yang baru mulai belajar bahasa Islandia sejak sembilan tahun lalu, menjelang usia kepala 4. Bahasa Islandia. Salah satu bahasa tersulit di dunia. Kaya dengan infleksi. Setiap kata berubah sesuai dengan jenis, fungsi, gender, keterangan waktu dan berbagai aturan kompleks. Orang asli Islandia pun merasa sulit untuk menjelaskannya.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Beruntung Hande punya orang tua yang selalu mendukungnya. Undangan resepsi pernikahannya sudah disebar, besok resepsi akan dilaksanakan. Tapi, siapa yang menyangka akan kejadian seperti ini. Orang tua Hande mendukungnya untuk bercerai. Tidak memaksanya untuk melanjutkan pernikahan yang tidak sehat ini. Tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari, jika mereka tetap menikah.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Kuingat serunya perkenalan kami. Pertama aku salah mengucapkan namanya. Huruf “j” dibaca seperti huruh “kh”, dan kedua, awalnya aku pikir José Maria adalah nama perempuan. Hari itu aku jadi mengerti bahwa kalau perempuan maka akan bernama Maria José, bukan José Maria. Terkait tema nama, kuingat juga Jóse tertawa mendengar namaku yang mirip dengan kata bahasa Spanyol: Ella, pronomina untuk orang ketiga, perempuan.
Belum sempat kuteruskan ingatan itu, dari belakang kurasakan ada sentuhan tangan di bahuku, dan sapaan pemuda yang kutunggu: „Hello… Ella!.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
“I am entitled to a good life. I am a strong believer that only good things happen to girls like me now. And I say that boldly and proudly every single morning in the mirror; I’m like, ‘Bad things like this don’t happen to girls like me!’ I believe that I am entitled to thrive in this country!”
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Kali ini, Rajesh membawa saksi palsu, seorang wanita yang mengaku sebagai teman Sari. Perempuan itu bersaksi bahwa Sari tidak mampu merawat anak karena sering sakit. Sari, dengan air mata berlinang, berdiri, dan berbicara dalam bahasa Hindi yang campur-campur: “Saya ibu Arjun. Saya yang menggendongnya saat sakit, saya yang menyanyikan lagu Indonesia untuk menidurkannya. India ini bukan rumah saya, tapi anak saya adalah segalanya.”
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Pers release dari kepolisian dan pemberitaan surat kabar, membuat kami semua disusupi rasa bersalah. Kami pernah menganggap aneh perempuan paruh baya itu. Sesungguhnya dia hanya ingin menjaga, melindungi, dan merawat anak semata wayangnya dengan segenap jiwa raganya. Karena perasaan bersalahnya, menjadi sebab putrinya lumpuh dan suaminya meninggal saat terjadi kecelakaan mobil tujuh tahun sebelumnya.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Perjalanan rumah tangga yang mereka lalui bagi sebagian orang mungkin sulit. Ini yang pertama bagi Terre, jauh dari Dirman. Hal ini membuat Terre terus dihantui rasa takut. Sebenarnya Dirman tak mau menambah rasa kekhawatiran Terre dengan cerita yang sebenarnya. Bahwa setiap hari dia mendengar dentuman bom dan lintasan suara roket Israel yang sering terdengar baik siang maupun malam melalui langit Lebanon. Terlebih mendengar berita pagi ini dari rekan Dirman kepada Terre, dia sangat tersentak dan terkejut apa yang telah terjadi kepada Dirman.
Halo, sahabat Ruanita! Apa kabar? Senang sekali bisa menyapa kamu lagi dari Turki, negara yang selalu memikat dengan pesona budaya dan sejarahnya. Pada tulisan terakhir, saya sempat berbagi tentang pengalaman mistis yang saya alami di sini. Nah, kali ini, saya ingin mengajakmu berjalan-jalan menyusuri dunia mitos dan kepercayaan magis masyarakat Turki. Ada banyak hal unik yang saya temui, mulai dari benda-benda jimat, ramalan kopi, hingga mitos tentang ibu hamil dan bayi.
Sedikit cerita tentang diri saya. Saya lahir dan besar di tanah Sunda, tepatnya di Bogor. Di Indonesia, saya sudah akrab dengan mitos sejak kecil. Misalnya, orang tua dulu sering bilang, “Kalau menyapu lantai jangan setengah-setengah, nanti dapat suami yang jorok atau brewokan,” atau “Jangan duduk di atas meja, nanti banyak hutang.”
Hal-hal semacam ini terasa biasa saja bagi saya. Ketika saya pindah ke Turki, saya menemukan dimensi baru dari dunia mitos dan kepercayaan. Ada rasa penasaran sekaligus kagum, karena setiap budaya punya cara unik dalam memandang dunia gaib dan hal-hal yang tidak terlihat.
Sudah hampir lima tahun saya tinggal di Turki, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Lüleburgaz. Letaknya tidak terlalu jauh dari perbatasan dengan Bulgaria. Awalnya, tentu ada rasa canggung. Saya tinggal di kompleks yang sama dengan kakak ipar, sementara rumah mertua hanya berjarak sekitar 15 km dari tempat kami.
Untuk beradaptasi, saya memutuskan ikut kursus bahasa Turki. Dari sana, saya mulai punya teman-teman lokal yang kemudian mengenalkan saya pada kebudayaan, tradisi, dan mitos-mitos khas negeri ini. Ada banyak kejutan budaya yang membuat saya berpikir, “Oh, ternyata di sini juga ada mitos yang mirip dengan Indonesia!”
Pengalaman pertama saya yang cukup membekas terjadi di sebuah toko roti. Waktu itu, saya hanya ingin memutar plastik kantong roti agar roti di dalamnya tidak keras terkena angin. Eh, ternyata, suami kakak ipar melihatnya dan langsung menegur dengan nada serius. Katanya, saya “memainkan” roti, dan itu dianggap dosa.
Di Turki, roti bukan sekadar makanan, melainkan simbol keberkahan. Roti harus dihormati, tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi sampai terinjak. Bahkan ada cerita bahwa roti yang jatuh ke lantai harus segera diambil, dibersihkan, dan dicium sebagai tanda penghormatan. Saya sempat kaget, karena di Indonesia kita jarang mendengar mitos tentang roti. Pengalaman ini membuat saya semakin menghargai roti setiap kali menyentuhnya.
Di Turki, nazar boncuğu atau jimat mata biru adalah benda yang sangat populer. Bentuknya mirip mata berwarna biru yang dipercaya mampu menangkal energi jahat dan melindungi pemiliknya dari bala. Saya sering melihat jimat ini tergantung di pintu rumah, dipasang di mobil, atau dijadikan perhiasan.
Kakak ipar saya termasuk orang yang sangat percaya pada kekuatan jimat ini. Saat anaknya sakit, dia menempelkan peniti bermata biru pada baju anaknya sebagai “perlindungan.” Walaupun anaknya sembuh setelah minum obat dari dokter, kakak ipar tetap yakin jimat ini punya peran.
Selain mata biru, ada juga kalung dan gelang dari batu alam. Kakak ipar saya membelikan perhiasan batu untuk anak-anaknya, dengan keyakinan bahwa batu tersebut bisa membawa energi positif, membuat anak lebih rajin belajar, dan disayang guru. Uniknya, kalung dan gelang ini tidak bisa langsung dipakai. Harus dikubur selama 10 hari di halaman rumah sebelum digunakan. Rasanya seperti ritual yang penuh makna, sekaligus magis.
Salah satu pengalaman paling seru adalah saat pertama kali saya diramal dengan kopi Turki. Bagi orang Turki, ampas kopi bisa “membisikkan” masa depan. Caranya sederhana: setelah kopi diminum, cangkir kecilnya dibalik ke tatakan, diputar tiga kali ke kiri, lalu dibiarkan sebentar. Ketika cangkir diangkat, pola ampas kopi di dalamnya dibaca sebagai ramalan.
Saya masih ingat suasananya waktu itu. Kami duduk di ruang tamu yang hangat, ditemani semerbak aroma kopi yang kental. Seorang nenek mulai mengangkat cangkir saya dengan pelan, memandangnya seolah membaca sebuah peta rahasia. “Kamu akan mendapat kabar dari orang jauh,” katanya dengan nada yakin. Beberapa hari kemudian, memang ada satu keluarga Indonesia yang datang berkunjung ke rumah!
Ramalan kopi bukan hanya sekadar hiburan. Dalam budaya Turki, ritual ini juga jadi cara untuk mempererat hubungan sosial. Seringkali, sesi meramal diakhiri dengan tawa, cerita masa lalu, dan harapan-harapan baru. Bagi saya, ada sesuatu yang magis saat seseorang membaca ampas kopi dan menghubungkannya dengan kisah hidup kita.
Cerita lain datang dari teman saya yang juga orang Indonesia. Saat hamil, dia pernah menyembunyikan kue di kantong celana karena kuenya tidak cukup untuk tamu yang datang. Ibu mertua menegurnya dengan serius. Katanya, itu bisa membuat bayi lahir dengan tanda lahir di tempat yang sama.
Awalnya, teman saya menganggap itu takhayul. Ternyata, setelah melahirkan, bayinya memang punya tanda lahir di paha kiri, sebesar kue yang disembunyikan!
Selain itu, ada kepercayaan bahwa foto bayi di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak ditampilkan jelas di media sosial. Orang percaya bahwa wajah bayi perlu “dilindungi” dari energi negatif. Hal ini mirip dengan kepercayaan di beberapa daerah di Indonesia.
Di kota kecil seperti Lüleburgaz, jimat dan ramalan masih jadi bagian dari keseharian beberapa orang. Ada yang menggantung bawang putih dan cabai kering di rumah untuk mengusir jin. Ada juga yang menulis ayat suci di kertas lalu menyimpannya di dompet agar rezeki lancar.
Saya pernah melihat langsung tetangga yang sangat percaya pada ramalan. Mereka mengundang peramal kopi untuk acara keluarga, seperti ulang tahun atau syukuran. Di sana, satu per satu tamu diminta untuk menunjukkan cangkirnya. Lucunya, suasana jadi penuh tawa ketika ramalan “unik” muncul, seperti prediksi jodoh atau rezeki mendadak.
Walaupun suami saya dan keluarganya lebih rasional, mereka tidak pernah mengejek atau merendahkan orang yang percaya pada hal-hal ini. Lingkungan pertemanan saya pun begitu. Ada yang percaya, ada yang skeptis, tapi semua saling menghargai. Menurut saya, sikap toleransi inilah yang membuat budaya Turki terasa hangat dan inklusif.
Salah satu tradisi yang saya anggap menarik adalah malam Kına. Ini adalah perayaan khusus calon pengantin perempuan sebelum menikah. Ia akan mengenakan gaun merah, dihias dengan emas, dan tangannya digambar dengan tinta henna. Malam itu, para perempuan seperti ibu, calon mertua, dan teman-teman dekat—akan menari bersama mengelilingi pengantin.
Saya pernah menghadiri malam Kına dan merasa seperti melihat adegan dari film sejarah. Lampu-lampu redup berpadu dengan musik tradisional yang menggema, menciptakan suasana haru sekaligus sakral. Ada momen ketika calon pengantin menangis, diiringi nyanyian lembut dari para perempuan yang hadir. Rasanya, tradisi ini bukan hanya tentang pesta, tapi juga doa dan restu untuk memulai hidup baru.
Bagaimana dengan anak-anak muda Turki? Apakah mereka masih percaya mitos? Jawabannya beragam. Beberapa teman muda saya sangat skeptis dan menganggap mitos hanyalah warisan masa lalu. Namun, ada juga yang percaya, bahkan bisa meramal dengan kopi atau tarot.
Di kota besar seperti Istanbul, generasi muda cenderung lebih rasional. Namun di kota kecil seperti Lüleburgaz, mitos masih hidup sebagai bagian dari identitas lokal. Hal ini mirip dengan Indonesia, di mana masyarakat kota besar mulai melupakan mitos, sementara daerah kecil masih melestarikannya.
Saya pernah mengalami momen unik dengan teman muda Turki. Saat kami sedang memasak bersama, saya hendak memberikan pisau langsung dari tangan saya. Dia tiba-tiba menghentikan saya, “Karin, letakkan saja pisau itu. Jangan diberikan langsung, nanti kita bertengkar.” Saya tersenyum kecil, karena mitos ini mengingatkan saya pada larangan-larangan di kampung halaman.
Saya pribadi tidak terlalu percaya pada mitos, tapi saya menghormati tradisi dan kepercayaan orang lain. Bagi saya, mitos adalah bagian dari kekayaan budaya.
Pengalaman paling mengesankan tentu saja saat diramal dengan kopi Turki. Ramalan itu menyentuh sisi terdalam hidup saya. Teman yang meramal bahkan menyebut tentang ayah saya yang sudah tiada, padahal saya tidak pernah menceritakan hal itu. Rasanya campur aduk—antara terharu, heran, dan percaya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tak kasat mata.
Saya jadi belajar bahwa kepercayaan magis seringkali hadir sebagai cara manusia mencari pegangan, terutama di saat mereka merasa tak berdaya atau butuh jawaban.
Ternyata, ada beberapa mitos di Turki yang mirip dengan budaya kita. Misalnya, kuping panas atau berdenging pertanda ada yang membicarakan kita. Atau tangan gatal sebagai tanda akan mendapat uang. Ada juga kepercayaan bahwa makanan sisa pengajian membawa berkah jika dimakan.
Hal-hal semacam ini membuat saya merasa ada benang merah antara budaya Indonesia dan Turki. Mungkin karena keduanya sama-sama punya tradisi lisan yang kuat, di mana cerita diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari semua kisah ini, saya belajar bahwa mitos dan magis bukan hanya soal benar atau salah. Ini adalah cerita yang mengikat manusia dengan sejarah, keluarga, dan identitasnya.
Jika ada satu hal dari budaya mistis Turki yang ingin saya bagikan kepada sahabat Ruanita, itu adalah ramalan kopi Turki. Percaya atau tidak, ritual sederhana ini mampu membuka percakapan, menyatukan orang, bahkan memberi kita semacam harapan tentang masa depan.
Terima kasih sudah membaca cerita saya kali ini. Semoga kisah ini bisa menjadi jendela kecil untuk melihat keajaiban budaya Turki. Jangan ragu untuk berbagi pendapat atau cerita serupa di kolom komentar ya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!
Penulis: Karin, relawan Ruanita di Turki. Bisa dihubungi melalui Instagram: @noviakarina19.
Skopje, 15 Februari – Berbicara soal kawin campur, yang sering muncul adalah kisah cinta lintas negara, budaya, dan bahasa. Namun jarang yang mengangkat pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana perempuan menegosiasikan suara, kuasa, dan ruang komunikasinya dalam keluarga lintas budaya? Pertanyaan inilah yang menjadi titik temu workshop online yang diselenggarakan Ruanita pada Minggu, 15 Februari 2026.
Mengusung tema “Komunikasi & Agensi Perempuan Pelaku Kawin Campur”, workshop daring ini mempertemukan peserta dari berbagai zona waktu dalam ruang diskusi yang aman dan reflektif. Kegiatan dipandu oleh Leya Trajanoska, konselor pernikahan dan keluarga (M.A.) yang kini tinggal di Makedonia Utara.
Alih-alih mengajarkan bahasa atau tata krama komunikasi dalam rumah tangga multikultural, Leya mengajak peserta membongkar hal yang selama ini sering luput. Menurut Leya, bahasa dan komunikasi adalah arena negosiasi sosial, bukan sekadar alat bertukar pesan.
Diskusi bergerak cair dan hangat. Para peserta berbagi pengalaman tentang memilih bahasa dalam percakapan keluarga, bernegosiasi dengan pasangan dan keluarga mertua, sampai menghadapi tuntutan budaya yang berbeda. Terlihat jelas bahwa di balik persoalan “bahasa mana yang dipakai di rumah”, terdapat isu yang lebih besar. Menurut Anna Knöbl, masalah itu terletak pada ruang bagi perempuan untuk membentuk posisinya sendiri dalam keluarga.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa topik ini bukan hanya relevan, tetapi mendesak. Banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing atau hidup di luar negeri menjalani keseharian yang penuh lapis makna, kebijakan, dan adaptasi, tetapi jarang ada ruang publik yang memberi tempat bagi pengalaman ini sebagai pengetahuan.
Acara ini diikuti oleh puluhan perempuan pelaku kawin campur di berbagai negara. Agar meningkatkan kenyamanan, acara ini tidak direkam. Selain itu, pemateri yang merupakan Relawan Ruanita Indonesia bersedia memberikan workshop online ini untuk berbagi dukungan dan solidaritas sebagai sesama perempuan pelaku kawin campur.
Anna Knöbl, sebagai perempuan kawin campur di Jerman dan penyelenggara acara ini, sangat berharap ini menjadi bagian dari upaya Ruanita memusatkan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan, bukan objek cerita. Melalui program diskusi, publikasi cerita, dan kegiatan berbasis refleksi, Ruanita membangun komunitas belajar yang tidak dibatasi wilayah atau identitas, tetapi disatukan oleh rasa ingin tahu, solidaritas, dan keinginan memahami diri dalam dunia yang terus berubah.
Informasi mengenai program dapat mengontak Leya Trajanoska melalui email info@ruanita.com.
Pada awal tahun, Ruanita Indonesia mengawali program diskusi Instagram Live dengan tema parenting, khususnya mereka yang sedang hamil atau menantikan kehamilan. Topiknya sederhana tetapi penuh intrik budaya: “Bongkar Mitos Seputar Kehamilan – Jangan Asal Percaya.” Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, sesi ini mengulas bagaimana mitos kehamilan beredar, bagaimana ia memengaruhi cara kita memandang tubuh perempuan, dan bagaimana ilmu pengetahuan kadang perlu turun tangan untuk menertibkan persepsi yang keliru.
Dua sahabat Ruanita yang bergabung kali ini hadir dari dua negara yang berbeda. Natalia Eka Putri, seorang ibu dan dokter gigi spesialis anak yang kini tinggal di Belanda, dan Merry, seorang ibu rumah tangga yang kini berdomisili di Portugal. Merry juga telah berpengalaman hamil di beberapa negara. Kehadiran keduanya membuka ruang diskusi lintas budaya yang hangat dan informatif.
Salah satu mitos yang langsung dibahas adalah anggapan bahwa setiap kehamilan berarti satu gigi ikut tanggal. Mitos yang terdengar dramatis ini ternyata tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak benar. Natalia menjelaskan bahwa memang ada ibu hamil yang mengalami kehilangan gigi, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan.
Secara statistik, hanya sekitar empat belas hingga dua puluh satu persen ibu hamil yang mengalaminya. Penyebabnya pun bukan karena janin “mengambil kalsium dari gigi ibu,” melainkan karena perubahan hormon selama kehamilan yang memicu pembengkakan gusi, sensitivitas, hingga infeksi yang tidak dikelola dengan baik.
Menurut Natalia, sekitar enam puluh hingga tujuh puluh lima persen ibu hamil mengalami pembengkakan gusi atau gingivitis gravidarum. Kondisi ini membuat gusi mudah berdarah, terasa sensitif, dan rentan mengalami peradangan lebih lanjut.
Jika tidak ditangani, infeksi dapat merambat ke tulang penyangga gigi dan berakhir pada gigi yang goyang hingga tanggal. Lebih jauh lagi, kesehatan gusi ternyata dapat memengaruhi hasil kehamilan. Beberapa penelitian menemukan hubungan antara infeksi gusi kronis dengan kelahiran prematur serta bayi dengan berat badan rendah.
Hal yang menarik, di tengah semua perubahan tubuh tersebut, perilaku makan ibu hamil juga ikut berubah. Rasa lapar yang muncul lebih sering, selera yang meningkat terhadap makanan manis, serta kebutuhan emosional untuk mencari kenyamanan melalui makanan adalah bagian dari respon hormonal tubuh.
Fenomena “ngidam” yang sering dianggap sekadar budaya ternyata memiliki penjelasan biokimia yang jelas. Namun ketika mengidam itu berujung pada konsumsi gula berlebih, risiko gigi berlubang pun ikut meningkat. Meski demikian, Natalia menegaskan bahwa kehamilan bukanlah penyebab gigi melemah. Perlu diperhatikan hal yang menentukan adalah bagaimana ibu hamil menjaga dan merawat kesehatan mulutnya.
Di Belanda, pemeriksaan gigi justru dianjurkan secara berkala selama kehamilan. Perawatan seperti pembersihan karang gigi, penambalan, hingga ronsen dapat dilakukan dengan aman sepanjang memperhatikan tahap kehamilan dan perlindungan yang memadai.
Kesadaran ini masih belum merata di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana sebagian ibu hamil cenderung menghindari dokter gigi karena ketakutan atau mitos yang diwariskan keluarga.
Setelah membahas dari perspektif medis, sesi IG Live beralih ke pengalaman personal lewat cerita Merry. Pengalamannya menarik karena ia menjalani kehamilan di lingkungan dan negara yang berbeda, dari Singapura hingga Arab Saudi dan kemudian Portugal.
Merry mengaku tidak terlalu mengikuti mitos-mitos kehamilan, tetapi ia beberapa kali bersentuhan dengan saran-saran unik dari keluarga, teman, maupun lingkungan budaya tempat ia tinggal.
Salah satu pengalaman yang masih melekat dalam ingatannya terjadi ketika ia hamil di Singapura. Menjelang proses persalinan, bayinya tiba-tiba berhenti bergerak dalam waktu yang cukup lama. Dokter menyarankan untuk segera datang ke rumah sakit pada malam hari.
Setelah pemeriksaan detak jantung, perawat memberikan segelas air dingin dan beberapa saat kemudian bayi kembali merespon dengan tendangan. Pengalaman sederhana ini mematahkan salah satu larangan populer di Indonesia yang menyebutkan bahwa ibu hamil tidak boleh minum air dingin.
Berbeda dengan Singapura, ketika Merry menjalani kehamilan di Arab Saudi, pendekatannya jauh lebih medis dan minim omongan mitos. Di sana, pemeriksaan darah berkala menjadi standar, sehingga perjalanan kehamilannya terasa lebih klinis dan terstruktur.
Justru ketika Merry pulang ke Indonesia yang paling terasa adalah kehadiran mitos yang lebih bernuansa mistis: larangan keluar rumah pada malam hari, larangan mengikuti pemakaman, hingga saran membawa benda tajam saat berada di tempat tertentu untuk menghindari gangguan makhluk halus. Merry menyikapinya dengan santai. Baginya, penting untuk tetap menghargai kekhawatiran keluarga, namun juga penting menjaga batas agar ibu hamil tidak justru terbebani secara mental.
Diskusi ditutup dengan catatan penting bahwa mitos kehamilan tidak pernah muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh dari budaya, ketakutan, dan warisan informasi turun-temurun yang terkadang dimaksudkan untuk menjaga, tetapi tidak jarang justru membingungkan.
Di sisi lain, ilmu pengetahuan hadir untuk membantu ibu hamil membedakan antara kekhawatiran yang perlu dan yang tidak perlu. Perpaduan keduanya, yakni kebijaksanaan budaya dan pengetahuan medis, merupakan bekal penting bagi perempuan yang sedang menjalani kehamilan.
Melalui program IG Live ini, terlihat jelas bahwa kehamilan bukan hanya proses biologis, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk cara perempuan mengenali tubuhnya sendiri. Dan di tengah segala suara yang datang dari berbagai arah, perempuan berhak memilih informasi yang paling membuatnya tenang, sehat, dan berdaya.
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
“Aku pernah bertanya ke suamiku, ada tidak sih mitos seputar kehamilan seperti itu di Swiss? Karena di Indonesia ada ya. Lalu kata suamiku, ‘tidak ada, yang penting ibu yang baru melahirkan happy, senang’. Tidak ada mitos-mitos seperti itu.” – Fitri
Halo, sahabat Ruanita! Kali ini, kita akan menceritakan Fitri berdasarkan program cerita sahabat spesial, yang pernah ditayangkan pada episode Juni 2022 lalu. Fitri adalah seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Swiss dan membagikan pengalamannya saat menjalani kehamilan dan proses persalinan di negeri Eropa Tengah tersebut. Dalam kisahnya, ia membandingkan bagaimana pendekatan terhadap kehamilan dan persalinan sangat berbeda antara Indonesia dan Swiss, termasuk dalam hal kepercayaan, mitos, dan praktik keseharian.
Di Indonesia, kita sangat akrab dengan mitos-mitos kehamilan: mulai dari larangan makan makanan tertentu, posisi tidur yang diatur, sampai pantangan bersentuhan dengan benda atau aktivitas tertentu yang katanya bisa berdampak pada bayi. Namun, bagi Fitri, semua mitos itu seperti menguap begitu saja ketika ia menjalani kehamilan di Swiss.
Saat ia bertanya kepada suaminya, yang merupakan orang Swiss, apakah ada pantangan atau kepercayaan tertentu yang harus diikuti selama kehamilan, jawabannya sederhana namun mencengangkan bagi Fitri: tidak ada.
Yang terpenting dalam sistem Swiss, menurut suaminya dan tim medis yang mendampingi, adalah kesejahteraan ibu: apakah sang ibu merasa senang, tenang, dan nyaman. Tidak ada larangan makan ini atau itu, tidak ada anjuran untuk menghindari hal-hal tertentu berdasarkan kepercayaan turun-temurun. Semua rekomendasi medis berdasarkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan individual sang ibu.
Bagi Fitri, sistem layanan kesehatan di Swiss merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ia alami. Dari kontrol kehamilan bulanan, suntikan, tindakan medis, hingga pengobatan dan proses melahirkan – semuanya ditanggung oleh asuransi. Ia bahkan tidak perlu pusing menyiapkan pakaian atau perlengkapan bayi di rumah sakit, karena semuanya telah disediakan.
Menariknya, sistem perawatan ibu hamil dan melahirkan di Swiss begitu terstruktur. Setiap ibu hamil mendapatkan informasi jelas dan terperinci sejak awal. Ketika waktu melahirkan semakin dekat, Fitri tinggal menelepon rumah sakit yang telah ditentukan untuk membuat janji. Bahkan sebelum hari kelahiran, kondisi dirinya diperiksa dan ia diberikan tindakan akupunktur untuk mempercepat pembukaan – sebuah praktik medis yang jauh dari nuansa mistik atau mitos.
Hal unik lainnya adalah bahwa dokter kandungan yang mendampingi pemeriksaan kehamilan bulanan bukanlah orang yang akan menolong persalinan. Proses kelahiran Fitri justru ditangani oleh bidan rumah sakit, seorang profesional yang sudah terlatih.
Prosesnya pun sangat fleksibel. Saat diminta memilih metode persalinan, ia diberikan pilihan: normal atau melalui air (water birth). Fitri memilih melahirkan secara normal karena merasa tidak nyaman dengan kemungkinan melihat darah di air.
Setelah persalinan, Fitri dan bayinya langsung dipindahkan ke kamar bersama. Sistem di Swiss sangat menekankan ikatan antara ibu dan bayi, sehingga mereka tidak dipisahkan.
Hal yang lebih mengesankan lagi adalah layanan pascapersalinan di rumah. Lima hari setelah keluar dari rumah sakit, bidan akan datang ke rumah untuk memeriksa kondisi ibu dan bayi. Mereka mengecek berat badan bayi, melihat apakah ada tanda-tanda masalah kesehatan, dan bahkan mengajarkan ulang cara menyusui dan memandikan bayi.
Lebih lanjut, lembaga perlindungan anak setempat, juga akan datang ke rumah. Kunjungan mereka bukan dalam rangka menghakimi, melainkan untuk memastikan bahwa anak tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat. Mereka ingin melihat apakah ibu dan ayah merasa bahagia, apakah rumah tangga harmonis, dan apakah ada potensi stres yang dapat mengganggu perkembangan anak.
Karena kemampuan bahasa Jermannya saat itu belum terlalu lancar, Fitri bahkan diberikan buku-buku anak sebagai bentuk dukungan edukatif untuk keluarga mudanya. Baginya, sistem ini sangat membantu dan tidak membuatnya merasa sendirian.
Satu hal lagi yang menarik adalah soal subsidi. Pemerintah Swiss memberikan bantuan tunai sekitar 200 Swiss Franc per anak setiap bulan (saat itu) jumlah yang cukup signifikan untuk membantu membeli kebutuhan dasar seperti susu dan popok. Sistem ini berlaku baik bagi ibu maupun ayah, tergantung siapa yang bekerja.
Bagi Fitri, menjalani kehamilan dan persalinan tanpa tekanan mitos membuatnya merasa lebih ringan dan fokus pada hal-hal penting: kesehatannya sendiri dan kebahagiaan bayinya. Ia merasa bahwa sistem Swiss lebih mempercayai kekuatan pengetahuan, pendampingan profesional, dan dukungan sosial, daripada ketakutan yang tidak rasional.
Cerita Fitri memberi kita perspektif bahwa kehamilan adalah pengalaman yang sangat personal dan seharusnya bebas dari rasa takut yang tidak berdasar. Pengalaman di Swiss menunjukkan bahwa ibu bisa lebih bahagia dan tenang ketika didampingi oleh sistem yang empatik, ilmiah, dan suportif, bukan oleh larangan-larangan yang belum tentu relevan.
Ruanita percaya bahwa setiap perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan dukungan yang ramah, berbasis bukti, dan bebas stigma. Cerita sahabat seperti ini menjadi inspirasi kita semua untuk terus mendorong sistem layanan yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih manusiawi.