Halo, sahabat Ruanita! Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola oleh Ruanita Indonesia. Saat ini, saya tinggal di Bangladesh dan mau bercerita tentang bagaimana pengalaman berwirausaha di sini. Ini semua berawal dari masa Pandemi COVID-19 yang melanda semua orang di dunia, termasuk saya di Bangladesh.
Tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan bagi banyak orang, termasuk saya. Pandemi COVID-19 membuat kehidupan sehari-hari berubah drastis. Sebagai seorang WNI yang tinggal di Bangladesh, saya juga merasakan dampaknya. Kebijakan “Stay Home” membatasi aktivitas di luar rumah, dan teman-teman saya, sesama WNI, kesulitan mendapatkan produk Indonesia yang biasa mereka beli di pasar DCC Market.
Awalnya, saya hanya membantu mereka dengan belanja titipan. Namun, semakin sering mereka meminta bantuan, saya mulai berpikir bahwa ini adalah peluang. Teman-teman menyarankan agar saya mulai berjualan online, agar mereka tidak perlu sungkan menitip terus. Dengan niat ingin membantu dan menyediakan akses mudah ke produk Indonesia, saya memutuskan untuk memulai usaha online kecil-kecilan. Itulah awal dari perjalanan bisnis saya.
Saat pertama memulai, saya tidak pernah menyangka bahwa antusiasme teman-teman WNI di sini akan sebesar itu. Awalnya, pelanggan saya hanyalah teman-teman dekat di sekitar rumah. Namun, berkat grup WhatsApp komunitas WNI, informasi tentang usaha saya menyebar dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, permintaan datang dari berbagai daerah di Bangladesh, termasuk mereka yang tinggal jauh dari Dhaka.
Namun, perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah pengiriman barang, terutama selama masa lockdown. Banyak pelanggan di luar Dhaka harus menunggu lebih lama untuk menerima pesanan mereka. Ada kalanya pengiriman yang biasanya hanya memakan waktu sehari menjadi tertunda hingga beberapa hari. Meski begitu, saya terus mencari cara untuk memastikan barang sampai dengan selamat, dan pelanggan tetap merasa puas.
Saya fokus menjual bahan pangan khas Indonesia, seperti Indomie, kecap, dan tepung tapioka, yang sangat diminati oleh komunitas WNI di sini. Untuk mempermudah transaksi, saya memanfaatkan teknologi lokal seperti aplikasi pembayaran Bkash, yang memungkinkan transfer uang dengan mudah. Selain itu, saya menggunakan WhatsApp dan Facebook sebagai media utama untuk promosi. Saya selalu memastikan foto produk dan daftar harga diperbarui agar pelanggan bisa melihat dengan jelas apa yang saya tawarkan.
Teknologi juga sangat membantu dalam hal pengiriman. Saat ini, jasa pengiriman di Bangladesh sudah cukup variatif, sehingga saya bisa memilih layanan yang sesuai dengan lokasi pelanggan. Dengan strategi ini, saya bisa menjangkau pelanggan di berbagai wilayah, bahkan yang berada di luar kota.
Saya bersyukur karena perjalanan bisnis ini tidak saya lalui sendirian. Saya bekerja sama dengan eksportir lokal untuk mendatangkan produk Indonesia, memastikan ketersediaan barang selalu terjaga. Saya juga mendapat dukungan besar dari komunitas WNI di sini, termasuk mahasiswa Indonesia di BRAC University. Mereka membantu mempromosikan usaha saya di lingkungan kampus, memperluas jangkauan pelanggan hingga ke teman-teman mereka yang berasal dari negara lain.
Keluarga suami saya juga menjadi pilar penting dalam usaha ini. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga menjadi pelanggan setia. Produk seperti Indomie menjadi favorit mereka, dan hal ini semakin memotivasi saya untuk terus berkembang.
Bagi saya, wirausaha adalah pengalaman yang seru dan penuh pelajaran. Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya merasa penting untuk tetap produktif. Usaha ini tidak hanya membantu teman-teman mendapatkan produk Indonesia, tetapi juga memberi saya kesempatan untuk belajar dan menghadapi tantangan baru. Selain bahan pangan, saya mulai menjual makanan homemade, seperti nastar, lontong sayur, dan cilok. Saya menikmati proses menciptakan sesuatu yang membawa rasa nostalgia kampung halaman bagi pelanggan saya.
Meski menghadapi banyak kendala, seperti ketika akses internet di Bangladesh sempat dimatikan selama dua minggu pada Juli 2024 akibat gejolak politik, saya terus berusaha untuk mempertahankan bisnis ini. Saat itu, komunikasi dan pengiriman barang menjadi sangat sulit. Namun, saya belajar bahwa dengan kesabaran dan tekad, semua hambatan bisa diatasi.
Perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal. Saya menyadari bahwa wirausaha tidak hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang membangun hubungan, memahami kebutuhan orang lain, dan memberikan solusi. Melihat teman-teman WNI di seluruh Bangladesh bisa menikmati produk Indonesia membuat saya merasa bahagia. Saya merasa menjadi bagian dari upaya menjaga rasa kebersamaan dan memori kampung halaman bagi mereka.
Ke depan, saya berharap barang-barang Indonesia bisa lebih mudah masuk ke Bangladesh, sehingga variasi produk yang saya tawarkan bisa semakin beragam. Saya juga ingin terus meningkatkan keterampilan memasak agar bisa menghadirkan lebih banyak pilihan makanan khas Indonesia bagi pelanggan saya.
Bagi siapa saja yang ingin memulai usaha, terutama di negara berkembang, pesan saya sederhana: jangan takut mencoba. Gali potensi diri, pahami lingkungan sekitar, dan jangan ragu untuk belajar dari pengalaman. Setiap tantangan yang dihadapi adalah peluang untuk tumbuh. Perjalanan saya membuktikan bahwa dengan niat baik dan kerja keras, kita bisa menciptakan sesuatu yang bermakna, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Penulis: Elia Qudo, perempuan Indonesia yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun Instagram @eliaqudo88.
Hari Yoga Sedunia yang diperingati setiap 21 Juni menjadi momentum penting bagi banyak komunitas untuk merayakan harmoni tubuh dan jiwa melalui praktik yoga. Di bulan Juni 2025 ini, Ruanita Indonesia menghadirkan edisi khusus Cerita Sahabat Spesial yang menyoroti tema yang mendalam dan penuh makna: Trauma-Informed Yoga.
Bersama Bernadia, seorang fasilitator yoga dan terapi somatik yang telah menjalani perjalanan panjang lintas negara dan budaya, kita diajak memahami bentuk yoga yang ramah, inklusif, dan menyentuh sisi terdalam dari penyembuhan emosional.
Mengenal Sosok Bernadia
Bernadia kini tinggal di Pulau Fuerteventura, Kepulauan Canary, Spanyol. Sebelumnya ia menetap di Swedia untuk mendalami studi tentang pendidikan luar ruang (outdoor education) dan keberlanjutan (sustainability).
Perjalanannya dalam bidang yoga dan terapi somatik telah mempertemukannya dengan berbagai pendekatan yang memperluas makna yoga bukan hanya sebagai olahraga atau praktik spiritual, tetapi juga sebagai jalan penyembuhan dari luka trauma.
“Saat ini aku fokus pada yoga, trauma, dan terapi somatik,” ujarnya.
Ia kemudian memperkenalkan konsep trauma-informed yoga, sebuah pendekatan yang sangat personal dan empatik dalam memfasilitasi individu, khususnya mereka yang memiliki pengalaman trauma, agar bisa menjadikan yoga sebagai alat bantu penyembuhan, bukan pemicu luka lama.
Trauma-informed yoga (TIY) bukanlah jenis yoga baru dengan teknik atau gerakan berbeda, melainkan pendekatan yang merangkul prinsip inklusivitas, kesadaran tubuh, dan keamanan emosional.
Dalam praktiknya, fasilitator TIY memahami bahwa trauma tersimpan dalam tubuh dan memengaruhi cara kerja otak.
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun sangat hati-hati, mempertimbangkan sensitivitas peserta terhadap pengalaman traumatis masa lalu.
“Trauma adalah respons emosi dari peristiwa negatif yang tersimpan dalam tubuh dan mempengaruhi kelanjutan kerja otak kita,” kata Bernadia.
Otak yang pernah mengalami trauma bisa mudah mengalami reaksi fight, flight, atau freeze saat merasa terancam, walau ancaman itu tidak selalu nyata secara fisik.
Dalam kelas trauma-informed yoga, Bernadia menekankan pentingnya menghadirkan rasa aman. Ini termasuk dalam cara berbicara, menyusun ruang, hingga memilih kata-kata.
Tidak digunakan istilah-istilah dalam bahasa Sanskrit seperti pada yoga tradisional, demi menghindari alienasi atau rasa tidak nyaman bagi peserta yang tidak familiar.
Empat Pilar Trauma-Informed Yoga
Bernadia membagikan empat tema utama dalam trauma-informed yoga yang menjadi fondasi dari pendekatan ini:
Mengalami Momen Saat Ini Fokus utama adalah membangun kesadaran penuh terhadap keberadaan di saat ini (being present). Trauma membuat seseorang sering terjebak dalam masa lalu atau cemas akan masa depan. Lewat latihan ini, peserta diajak untuk kembali hadir, merasakan tubuh, nafas, dan emosi saat ini.
Membuat Pilihan Peserta diberikan hak penuh untuk memilih gerakan yang paling sesuai bagi dirinya. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk mengikuti gerakan yang sulit atau tidak nyaman. “Setiap orang boleh memilih gerakan yang paling aksesibel untuk mereka,” jelas Bernadia. Ini adalah bentuk pemulihan rasa kendali yang sering hilang dalam pengalaman trauma.
Mengambil Aksi yang Efektif Ini berkaitan erat dengan membuat pilihan—di mana setiap aksi dalam gerakan yoga harus terasa bermanfaat dan membawa rasa nyaman, bukan sekadar mengikuti instruksi. TIY memfasilitasi peserta untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh mereka.
Membangun Ritme dan Keterhubungan Kelas TIY biasanya menggunakan sekuens gerakan yang konsisten dan berulang untuk menciptakan rasa ritmis dan aman. Ritme ini juga menjadi jembatan untuk membangun keterhubungan antara fasilitator dan peserta.
Praktik yang Lembut dan Aksesibel
Trauma-informed yoga berbeda dengan kelas yoga konvensional yang kadang menekankan pada performa atau bentuk sempurna.
Di sini, tidak ada istilah “pose harus sempurna”. Sebaliknya, fokusnya adalah pada body awareness atau kesadaran tubuh, seperti mengenali sensasi dingin, panas, nyeri, atau ketegangan di tubuh, dan belajar untuk tidak mengabaikannya.
Selain itu, Bernadia membuka ruang dialog sejak awal kelas.
Ia mempersilakan peserta menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan, misalnya jika cahaya lampu terlalu redup atau musik tertentu membangkitkan kenangan traumatis. “Kita bangun lingkungan yang aman dan nyaman sejak awal,” katanya.
Penggunaan istilah gerakan dalam bahasa sehari-hari juga menjadi strategi penting.
Alih-alih menyebut Balasana atau Utkatasana, misalnya, fasilitator akan mengatakan “gerakan seperti duduk di kursi” atau “posisi anak”. Ini membantu peserta lebih memahami dan tidak merasa terasing.
Tidak Mengkualifikasi Pengalaman
Dalam trauma-informed yoga, pengalaman setiap orang tidak dibandingkan atau dinilai.
Tidak ada yang disebut “nafas yang benar” atau “gerakan yang dalam”. Justru TIY menghindari penggunaan kata-kata yang bisa mengandung nilai, seperti “lebih dalam”, “lebih kuat”, atau “lebih baik”.
“Pengalaman tiap orang berbeda.
Tidak perlu menyamakan. Yang penting, apakah itu terasa aman dan nyaman untukmu?” jelas Bernadia.
Peran Fasilitator yang Empatik
Fasilitator TIY memiliki pelatihan khusus untuk memahami respons tubuh terhadap trauma, termasuk bagaimana menghadapi situasi ketika peserta mengalami trigger, yaitu munculnya kembali kenangan atau emosi menyakitkan karena suatu stimulus, seperti suara, posisi tubuh tertentu, atau bahkan aroma.
Seorang guru trauma-informed yoga tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga memahami batasan peserta dan tahu cara memberikan dukungan.
Mereka menyadari bahwa tidak semua trauma bisa diselesaikan melalui yoga, dan kerap mendorong peserta untuk tetap menjalin hubungan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
Ruang untuk Menolak dan Meninggalkan
Salah satu nilai penting dalam TIY adalah memberi izin kepada peserta untuk tidak ikut. Peserta diperbolehkan meninggalkan kelas kapan saja jika merasa tidak nyaman.
Ini sangat kontras dengan banyak kelas yoga yang secara tidak langsung memberi tekanan sosial untuk bertahan sampai selesai.
Bernadia mengungkapkan bahwa ia sendiri pernah merasa takut untuk meninggalkan kelas yoga ketika tidak nyaman, dan pengalaman itu sangat membekas.
Karena itu, ia menekankan kepada siapa pun yang ingin bergabung di kelasnya untuk merasa bebas meninggalkan ruang saat dibutuhkan—tanpa rasa bersalah.
“Kalau teman-teman mau ikut kelasku, silakan kontak dulu. Nggak perlu cerita masalah traumanya apa, cukup kenalan dulu untuk tahu apakah vibenya cocok atau nggak,” ujarnya.
Yoga Sebagai Pendekatan Pelengkap
Perlu ditekankan bahwa trauma-informed yoga bukan pengganti terapi profesional. Ini adalah pendekatan pelengkap yang bisa mendukung proses pemulihan secara menyeluruh.
Yoga memberikan ruang untuk menyentuh kembali tubuh yang mungkin selama ini dihindari karena trauma, dan membangun kembali rasa aman serta keterhubungan diri.
Komitmen Ruanita Indonesia
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Lebih lanjut, simak program cerita sahabat spesial berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi
Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Priskila, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat dan kini menetap di Hamburg, Jerman. Saya adalah singer sekaligus songwriter juga. Dalam rangka World Music Day, saya ingin berbagi kisah tentang bagaimana musik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Bagi saya, musik sangat berarti, terutama dalam mengatasi tantangan kesehatan mental.
Musik bagi saya bukan sekadar pekerjaan, melainkan medium untuk menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sahabat Ruanita, saya percaya musik memiliki peran sebagai bahasa universal yang dapat menyentuh hati setiap orang, bahkan melampaui batas-batas budaya dan bahasa.
Ketika saya pertama kali pindah ke Jerman, saya merasa fase adaptasi yang berat. Saya sempat mengalami fase depresi, yang akhirnya memotivasi saya untuk menemukan cara penyembuhan atau healing.
Saya kemudian menjalani pendidikan musik di Pop Akademie Hamburg. Pada akhirnya, saya menemukan bahwa bermain musik bersama band di studio setiap hari, menyanyikan dan memainkan lagu ciptaan sendiri, ternyata memberikan efek penyembuhan yang luar biasa. Musik membantu memulihkan kepercayaan diri saya, yang sempat hilang, akibat tekanan di masa-masa sulit.
Melalui pengalaman itu, saya menyadari bahwa genre musik tertentu memiliki efek berbeda pada setiap individu. Ada yang merasa lega dengan mendengarkan musik metal atau rock, sementara yang lain, seperti saya, lebih menemukan kenyamanan dalam lagu pop atau balada. Kalau sahabat Ruanita, suka genre musik yang mana?
Musik kini menjadi bagian dari keseharian saya, baik sebagai pekerjaan maupun bentuk pelayanan sosial. Saya mengajar gitar di sekolah musik, memberi les privat, dan tampil di berbagai acara musik di Jerman, termasuk festival musik dan acara komunitas Indonesia.
Lebih dari itu, saya juga terlibat dalam kegiatan yang menggunakan musik sebagai alat untuk mendukung kesehatan mental. Saya memimpin kelompok bernyanyi di sebuah tempat tinggal bagi individu dengan gangguan mental. Bersama mereka, saya menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal atau pilih sendiri. Bagi saya, ini seperti menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Saya berpendapat bahwa musik adalah sarana untuk mengungkapkan isi hati yang sulit dijelaskan. Bahkan tanpa memahami bahasa sebuah lagu, orang tetap bisa merasakan jiwa yang terkandung di dalamnya. Musik menjadi alat untuk menyalurkan emosi yang terpendam, memberikan kepuasan tersendiri, dan membantu meningkatkan suasana hati.
Meskipun saya bukan terapis atau dokter, saya telah menyelesaikan pelatihan sebagai pendamping pemulihan, yang disebut dalam Bahasa Jerman, sebagai Genesungsbegleiter. Lewat peran ini, saya mendukung individu dengan gangguan kesehatan mental, berbagi pengalaman pribadi, dan menggunakan musik sebagai salah satu pendekatan kreatif untuk membantu mereka.
Sahabat Ruanita, saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan sesuatu yang membuat hidup lebih berwarna. Itu bisa berarti sesuatu yang mereka cintai dan passionate terhadapnya. Tidak hanya musik, tetapi juga hobi atau aktivitas lain seperti menggambar, menulis, olahraga, atau mendaki gunung.
Pesan saya sederhana: temukan passion Anda. Sahabat Ruanita bisa melakukan apa yang disukai sebagai cara untuk meringankan stres, menghidupkan gairah, atau sekadar memberikan kesenangan.
Melalui program cerita sahabat ini, saya ingin menyampaikan bahwa harapan selalu ada, meski kadang terasa jauh. Temukan alasan untuk bertahan dan lakukan apa yang dicintai. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih indah.
Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang telah memberi saya kesempatan untuk berbagi cerita ini. Saya harap pengalaman saya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang.
Penulis: Priskila Wowor, Singer/songwriter, menetap di Hamburg, Jerman dan dapat dikontak via akun instagram priskila_wowor.
Halo, sahabat Ruanita! Kembali lagi dengan saya Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ketiga, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama dan kedua, bisa kalian baca langsung di website Ruanita ya, www.ruanita.com.
Kali ini, saya akan berbagi pengalaman yang berbeda. Saya bercerita tentang pengalaman mistis, yang belum tentu mudah dipercayai. Saya sudah lebih dari empat tahun tinggal di Turki. Setelah menikah, pada bulan september 2020, kami pindah ke ‘Apartemen Baru’. Apartemen tersebut benar-benar baru dibangun dan penghuninya hanya ada beberapa orang, termasuk kami.
Kami tinggal di lantai 2 nomor 9. Bangunan apartemen kami hanya memiliki empat lantai dan letak apartemen kami berada di pojok, dekat dengan lift. Pada hari pertama kami pindah, kebetulan suami saya saat itu punya jadwal shift malam. Saya pun tidur sendirian akhirnya di kamar. Pada pukul 23.30, suami saya berangkat kerja. Setelah suami saya pergi, saya kembali ke kamar untuk siap-siap tidur. Sebelum tidur seperti biasa, saya membaca doa dan mematikan lampu kamar.
Saat saya tertidur saya bermımpi, dikejar- kejar seorang pria. Dalam mimpi tersebut, pria itu mencekik leher saya dan mendorong saya ke arah pohon besar. Cekikannya terasa sangat kencang sehingga saya susah bernafas dan perlu meminta tolong. Tiba-tiba, almarhum ayah saya datang ke mimpi dan menepuk-nepuk bahu, sambil memanggil panggilan kecil saya (dede). Ayah saya memanggil dengan suaranya bass-nya dan nada medok orang Jawa. Ayah saya memanggil: ‘De… De… De… Dedeee’. Seketika saya terbangun dengan nafas terengah-engah. Saya merasa lelah sekali saat itu. Saya kemudian cek handphone, ternyata saat itu baru sekitar pukul 02.30 pagi.
Rasa mengantuk saya kemudian hilang dan bercampur sedih haru. Dalam mimpi itu, saya merasa ayah saya sedang melindungi saya dari kejauhan. Karena saya tidak bisa tidur, akhirnya saya menunggu pagi sampai suami saya pulang bekerja. Saat sarapan, saya bercerita dengan suami. Menurut suami, apa yang saya alami merupakan ‘Sleep Paralysis’ di mana saya merasa seperti tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan apa-apa. Itu seperti pengalaman ketindihan. Secara logika, saya pun setuju karena sleep paralysis bisa dijelaskan secara medis.
Hari kedua, saya masih tidur sendirian. Saat beranjak tidur, seperti biasa saya berdoa dan hanya menyalakan lampu tidur. Saya tertidur pulas, kemudian tiba-tiba saya terbangun di antara kenyataan atau mimpi. Saya merasa selimut saya tiba-tiba seperti ada yang menekan-nekan di pinggir kedua kaki saya. Saya merasa seperti ada gelombang besar dan dingin di atas selimut. Saya merasa seperti akan menggulung kaki saya. Saat itu, saya dengan sekuat tenaga menendang selimut dan langsung menyalakan lampu, termasuk lampu di kamar mandi.
Saya melihat jam, ternyata jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Saya mencoba tidur lagi. Kali ini, saya tidur dengan lampu menyala. Tidak lama tertidur, saya terbangun lagi karena dari bawah selimut kaki saya seperti ada gelombang yang dingin. Namun, saya hanya merasa dari kaki sampai betis saja. Seketika saya bangun lagi dan melihat jam pukul 04.00 pagi waktu Turki. Pada akhirnya, saya menunggu sampai pagi atau suami saya tiba di rumah. Saya tidak menceritakan kepada suami karena saya sudah tahu jawabannya. Itu pasti dijawab dengan logika dan tidak akan percaya.
Hari ketiga tinggal di apartemen, saya shalat maghrib dan membaca surat yasin di kamar sebanyak 3 kali. Saat saya mau tidur, saya memegang tasbih dan berzıkir sampai saya tertidur. Alhamdulillah, hari ketiga saya bisa tidur dengan tenang. Selama satu minggu, saya membaca surat yasin sebanyak tiga kali, setelah shalat maghrib. Setelah kejadian itu, saya menanamkan di pikiran saya, bahwa semua itu hanya halusinasi. Mungkin pengalaman itu, disebabkan saya terlalu lelah atau capek.
Pada tahun 2023, saat musim panas seperti biasa, saya dan suami suka memancing di laut. Sebelum memancing, saya biasanya menyiapkan bekal untuk makan di sana. Saat saya sedang memasak, suami saya mengatakan bahwa dia akan pergi ke parkiran mobil untuk menaruh barang-barang dan membeli umpan ikan. Tak lupa, suami bertanya kalau saya mungkin memerlukan sesuatu karena suami ingin pergi ke supermarket terdekat. Saya pun bersemangat untuk menyahut keperluan yang bisa dibeli di supermarket. Saya menduga suami akan berpergian selama lima belas menit dan segera kembali.
Sekitar lima menit berlalu, ada suara pintu mengetuk. Saya langsung bergegas untuk membuka. Saat saya membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di sana. Saya berpikir itu pasti anak kecil yang suka iseng. Biasanya ada anak kecil yang suka iseng memencet bel pintu. Saya pun segera lanjut memasak dan mengabaikan ketukan pintu tersebut.
Saat saya lanjut memasak, kembali pintu depan diketuk tetapi bunyinya kali ini lebih kencang dengan dua kali ketukan. Saya pun menjawab ‘sebentar’. Ketika saya membuka pintu, tiba-tiba ada angin segar seperti melewati tubuh saya. Saya langsung merinding saat angin tersebut melewati tubuh saya itu. Padahal saat itu sedang musim panas lebih dari 32 derajat dan waktu itu sekitar pukul dua siang. Karena penasaran, saya pun bergegas keluar pintu mengecek lift dan tangga, apakah ada orang iseng yang mengetuk-ngetuk pintu. Namun, saya tidak menemukan siapa-siapa.
Saat saya kembali masuk dan melanjutkan memasak yang hampir selesai, tiba-tiba pintu depan seperti membuka kunci pintu. Saya pikir orang itu adalah pencuri seperti dalam film serial Killer, yang mau masuk ke rumah. Ternyata suami saya pulang ke rumah. Di perjalanan memancing, saya bercerita kejadian tersebut. Suami saya merespon bahwa mungkin saja itu anak kecil yang biasanya iseng. Anak kecil biasanya mengetuk pintu, kemudian dia bersembunyi saat saya tidak tahu. Suami pun berujar bahwa dia juga dahulu sering melakukan keisengan serupa, memencet bel pintu tetangga dan langsung kabur. Mendengar penjelasan suami, saya pun mengamini kalau mungkin itu perbuatan anak kecil.
Pada tahun 2024 bulan Agustus, merupakan bulan terakhir musim panas. Kebiasaan saya saat akhir musim panas adalah saya membereskan dan menyimpan pakaian di bawah tempat tidur. Di bawah tempat tidur, ada tempat untuk penyimpanan barang. Saya menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan seprei, selimut, handuk, dan pakaian.
Saat saya membuka kasur untuk menaruh barang di bawahnya, di atas kasur saya mendengar bunyi yang membuat saya kaget. Saya pun langsung melihat ke atas kasur, ternyata tidak ada apa-apa. Saya masih berpikir positif, bahwa itu mungkin masalah kasur saja. Saya kembali merapikan baju di bawah kasur saya tersebut, kemudian saya bercerita ke suami saya. Suami saya merespon bahwa itu mungkin disebabkan pegas penyangga, karena kami sudah memakainya sekitar empat tahun. Mungkin pula, kami sudah seharusnya mengganti kasur yang baru. Dalam hati kecil saya, sebenarnya masih ragu apakah pegas kasur kami rusak, padahal kasur tersebut masih sangat layak dan enak dipakai. Saya pun sudah tidak memikirkan hal itu lagi.
Beberapa hari setelah itu, suami saya mendapatkan giliran masuk shift malam. Saya kembali tidur sendirian. Pada suatu malam, saya terbangun sekitar pukul 3.30 pagi. Saya mendengar suara tetapi tidak saya gubris. Saya pikir bahwa itu mungkin saja kucing di luar. Saya pun sangat mengantuk saat itu dan saya tidur kembali. Saya tidak menghiraukan suara-suara tersebut. Pukul 07.00 pagi saya bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat saya keluar dari kamar mandi dan hendak mematikan lampu lorong, yang dekat dengan pintu masuk. Saat saya hendak menekan saklarnya, saya melihat lampu bohlam terjatuh. Saya melihat ke atas, ternyata lampu bohlam dekat pintu masuk itu copot. Saya mengambil bohlamnya dan langsung badan saya merinding, teringat akan bunyi semalam. Hal ini yang belum bisa saya jelaskan secara logika, termasuk suami saya. Saat saya bercerita ke suami, dia hanya diam. Lampu bohlam tersebut benar-benar jatuh, seperti orang mencopot lampu dan tidak ada retak atau goresan apapun.
Saya selalu berpikir, apabila memang ada energi atau entitas lain, saya tidak peduli, asalkan tidak mengganggu kami di rumah. Karena kejadian-kejadian yang saya alami, saya menjadi lebih rajin membaca kitab suci, terutama saat malam jumat. Saya selalu menanamkan di pikiran saya, bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk paling mulia, apabila kita bertaqwa kepadaNya. Oleh karena itu, saya tidak pernah takut karena saya selalu percaya Allah pasti melindungi saya dari segala marabahaya. Sejak saat itu sampai dengan hari ini saya menulis, tidak pernah ada hal-hal aneh lagi terjadi di apartemen saya.
Cerita lain, di luar dari apartemen saya adalah, saat saya berkunjung ke usaha jahit milik sepupu suami saya. Tepatnya di pagi hari tahun 2023, saya pergi berkunjung ke sana. Usaha jahit tersebut terletak di sebuah Ruko, yang berada tepat di bawah apartemen yang berbeda satu blok dengan saya. Saat itu, saya hanya sekedar berkunjung dan berbicara sedikit untuk melatih bahasa Turki saya.
Di ruko tersebut, ada sepupu suami saya, ada seorang penjahit yang bekerja di sana, dan seorang nenek sedang duduk memegang satu gelas air putih, sambil membacakan mantra. Selesai dia membacakan mantra, satu gelas yang dipegang nenek diberikan ke sepupu suami saya. Sepupu suami saya membagi air dalam satu gelas tersebut untuk dituang dan dicampurkan ke dalam dua botol air minum besar, berukuran 1.5 liter. Setelah itu, satu botol besar tersebut, sepupu suami saya minum airnya, mencuci mukanya, dan menyipratkan ke seluruh ruangan ruko miliknya. Dia mulai melakukannya mulai dari mesin jahit, komputer, kain-kainnya, benang-benangnya, bangku-bangku, sampai pada jendela yang dicipratkan air tersebut.
Sisa air yang ada di botol kemudian disiram ke luar, tepatnya di pinggir-pinggir rukonya. Saya pun semakin penasaran dan bertanya ke dalam bahasa Turki. Saya bertanya tentang air tersebut dan mengapa dia melakukan hal tersebut. Saya pun bertanya perihal nenek yang membacakan mantra. Sepupu suami saya merespon pertanyaan saya sambil tersenyum. Dia mengatakan bahwa nenek yang datang membacakan mantra merupakan orang istimewa yang khusus datang untuk membuat air untuk “Nazar”. Nenek itu juga berdoa dengan menggunakan media air, agar dapat menjauhkan orang jahat yang mungkin mau menjatuhkan bisnis sepupu suami saya. Selain itu, sepupu suami saya juga berharap bahwa kehadiran nenek dan apa yang dilakukannya mendatangkan peruntungan, seperti banyak pelanggan yang datang ke usaha jahitnya.
Saya pun menceritakan kepada sepupu suami bahwa tradisi di Indonesia pun ada dan biasanya mantra yang disampaikan itu berasal dari kitab suci. Sepupu suami saya pun menjawab, apa yang dibacakan nenek tadi pun bersumber dari kitab suci yang berbahasa Turki kuno.
Hal lain terkait pengalaman mistis. Suami saya pernah ditawarkan oleh temannya untuk berkunjung ke suatu pedesaan di Turki, untuk mendatangi salah seorang ahli spiritual. Teman suami rupanya memiliki bisnis. Istrinya beliau juga orang asing. Mereka bermaksud mendatangi ahli spiritual dengan tujuan melihat peruntungan bisnisnya. Sekali mengunjungi ahli spiritual tersebut, teman suami saya membayar minimal 3000 lira atau sekitar 1.4 juta rupiah. Teman suami saya menjelaskan ahli spiritual tersebut melihat dari tanggal lahir dan astrology kita. Selanjutnya, dia memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan untuk mendapatkan keberuntungan hidup.
Suami saya tidak mempercayai hal seperti itu. Menurut logika suami, mungkin saja ahli spiritual tersebut adalah seorang motivator yang menyemangati orang-orang untuk dapat sukses dalam melakukan bisnisnya. Suami juga berpendapat mungkin saja ahli spiritual tersebut sebenarnya adalah seseorang yang bisa memanipulasi pikiran seseorang. Saya berpikir kembali, mungkin saja logika suami saya benar, karena suami saya benar-benar tidak percaya akan ada hal-hal seperti itu.
Sekian cerita dari saya, saya secara pribadi percaya bahwa ada entitas lain di dunia ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Namun, percayalah selama kita adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaNya, kita tidak akan merasakan takut atau cemas, karena kita yakin bahwa Allah selalu ada untuk melindungi umatnya yang percaya akan kekuasaan-Nya.
Penulis: Karin yang tinggal di Turki dan dapat dikontak via akun instagram @noviakarina19.
Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania? Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya. Apa sih tsundoku atau bibliomania itu?
Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya. Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.
Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya. Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.
Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu. Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.
Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?
Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini.
Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz. Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata. Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga.
Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni. Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali. Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.
Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri.
Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali.
Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam. Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney. Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.
Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal.
Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud.
Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.
Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit.
Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak.
Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri. Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi.
Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru. Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.
Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading. Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming.
Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut. Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.
Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan. Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya.
Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“.
Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut.
Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.
Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri.
Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.
Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi. Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?
Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).
Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah.
Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga.
Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.
Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian. Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku.
Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan. Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.
Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan. Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.
Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.
Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak. Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia.
Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita. Dan selamat membaca bersama keluarga!
Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.
Relawan Ruanita Indonesia di Italia, Rieska Wulandari bersama tim Arrania mempresentasikan bagaimana budaya dan bahasa Indonesia di Italia diperkenalkan lewat karakter komik Arrania, kepada mahasiswa jurusan Asia di salah satu universitas di Italia, Università degli Studi di Napoli L’Orientale.
Hidup bersama dalam damai bagi saya adalah sebuah pencapaian. Itu adalah keadaan di mana kita merasa tenang karena semua kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, telah terpenuhi. Saya bersyukur memiliki rumah yang bebas dari beban utang bank, yang memberi saya kedamaian batin dan rasa aman hingga masa tua. Kedamaian ini bukan hanya soal materi, tetapi juga perasaan bahwa saya dan keluarga memiliki fondasi kuat untuk menjalani hidup.
Ketika berbicara tentang Hungaria, negara tempat saya tinggal saat ini, khususnya di ibu kota Budapest, saya melihat toleransi sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Orang-orang Hungaria, umumnya, ramah dan suka membantu, terutama ketika saya membutuhkan informasi atau bantuan kecil lainnya. Meski demikian, saya belum pernah secara langsung menyaksikan konflik yang diselesaikan dengan pendekatan damai. Namun, harmoni yang saya rasakan di sini memberikan pelajaran berharga.
Hungaria juga mengajarkan saya tentang keberagaman. Sebagai orang Indonesia, saya melihat masyarakat di sini sangat menghargai kebebasan berekspresi selama tidak merugikan orang lain. Komunitas Indonesia di Budapest pun dapat menjalankan berbagai kegiatan, seperti pertemuan arisan atau jalan-jalan bersama, tanpa hambatan. Tradisi Hungaria yang menjunjung tenggang rasa ini menjadi landasan penting dalam menciptakan kehidupan yang damai.
Salah satu hal menarik di Hungaria adalah peran seni dan budaya dalam membangun harmoni. Festival musik dan pameran budaya yang rutin digelar setiap tahun menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan keberagaman karakter dan visi mereka. Inisiatif ini, menurut saya, adalah cara yang indah untuk menguatkan kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam damai.
Namun, tantangan tetap ada. Belajar untuk benar-benar menerima perbedaan adalah pekerjaan yang tidak mudah, baik di Hungaria maupun di tempat lain. Meski demikian, upaya pemerintah dan organisasi lokal untuk mempromosikan dialog lintas budaya menjadi langkah positif yang layak diapresiasi. Sebagai orang Indonesia di mancanegara, saya percaya bahwa berpartisipasi dalam program-program lokal, berinteraksi dengan masyarakat, dan menghargai budaya setempat adalah kontribusi kecil yang dapat berdampak besar.
Pengalaman saya di Hungaria memberikan pelajaran penting yang dapat diterapkan di Indonesia: merangkul keberagaman untuk membangun harmoni sosial. Sebagai bangsa yang plural, kita memiliki potensi besar untuk memperkuat persatuan melalui penghargaan terhadap perbedaan. Pluralisme ini harus dipelihara sebagai aset, di mana kita yang berbeda latar belakang bisa berjalan bersama menuju tujuan yang sama.
Harapan saya untuk masa depan sederhana saja. Saya ingin melihat dunia, termasuk Hungaria dan Indonesia, terus hidup dalam kondisi damai sejahtera. Saya berharap kita semua dapat menjadi teladan dalam mempraktikkan nilai-nilai hidup bersama dalam damai, saling menginspirasi, dan saling menguatkan.
Kepada sahabat Ruanita, pesan saya adalah hidup apa adanya. Nikmati apa yang telah kita miliki, tetap bersyukur, dan bantu orang lain sesuai kemampuan kita. Dengan cara ini, saya percaya, hidup bersama dalam damai bukan hanya sebuah cita-cita, tetapi sebuah kenyataan yang dapat kita wujudkan bersama.
Penulis: Hayati Surjono, tinggal di Budapest dan dapat dikontak via akun Instagram szulcsan.hayati
MUMBAI, INDIA — Seiring dengan meningkatnya interaksi sosial, ekonomi, dan budaya antara Indonesia dan India, jumlah perkawinan campuran antara warga Indonesia – India pun mengalami peningkatan signifikan. Di balik keindahan kisah cinta lintas budaya ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, kompleksitas hukum, hingga tekanan sosial-psikologis.
Berkaitan dengan fenomena sosial tersebut dan guna mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan India serta memberikan dukungan nyata bagi pasangan kawin campur, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Mumbai mengadakan acara Diskusi Daring: Perkawinan Campuran Indonesia–India. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 10 Mei 2025, pukul 10.00 – 12.00 waktu India secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Diskusi daring ini menjadi sangat relevan sebagai wadah berbagi pengalaman, mencari solusi praktis, serta memperkuat ketahanan pasangan kawin campur. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai langkah antisipatif terhadap risiko penipuan dalam relasi daring yang semakin marak.
Diskusi ini akan berfokus pada tiga area penting, antara lain: (1)Membahas bagaimana pasangan dapat mengatasi perbedaan budaya, tradisi, serta sistem kepercayaan yang ada di Indonesia dan India untuk membangun keluarga harmonis. (2). Menjelaskan proses legal formal, pengaturan kewarganegaraan, serta dampak hukum jika terjadi perpisahan atau perceraian. (3). Mengedukasi tentang modus-modus penipuan dalam pertemuan daring dan strategi membangun hubungan lintas negara yang aman.
Dimoderasi oleh Dianita Pramesti, Koordinator Panitia Penyelenggara dan Relawan Ruanita di India, acara dibuka secara resmi oleh Bapak Eddy Wardoyo, Konsul Jenderal RI di Mumbai.
Beliau menegaskan forum diskusi seperti yang digagas Ruanita Indonesia dapat membangun komunitas pasangan kawin campur untuk saling mendukung, bertukar pengalaman, serta memperkuat solidaritas. KJRI Mumbai yang diwakilkan Dessi Herlin Yudistira juga turut membagikan kekonsuleran yang bermanfaat bagi WNI di bawah area kerja KJRI Mumbai, India.
Diskusi pun semakin hangat, dari para pembicara berpengalaman, seperti: Yulian Setiawani, Perwakilan Komunitas Mix Married Indonesia–India, yang berbagi kisah dan praktik baik dalam menjalani perkawinan campuran.
Selanjutnya, Sanchali Sarkar, peneliti dan dosen di India, yang mengulas kultur serta aspek hukum perlindungan perempuan di India. Terakhir, Anggy Eka Pratiwi, mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, yang membahas risiko dan pencegahan penipuan dalam hubungan daring.
Partisipasi dalam acara ini memberikan Anda wawasan praktis, memperluas jaringan pertemanan dan dukungan, serta membantu Anda lebih siap menghadapi dinamika unik dalam kehidupan perkawinan lintas budaya. Ini juga merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan akademisi berpengalaman.
Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami tantangan perkawinan campuran, tetapi juga memperoleh bekal yang cukup untuk memperkuat hubungan mereka dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan hukum yang kompleks.
Tentang Ruanita Indonesia sebagai organisasi nirlaba yang berbasis pemanfaatan ruang kolektif digital, dapat dilihat di laman website www.ruanita.com atau semua laman media sosialnya. Ruanita juga aktif mempublikasikan cerita terkait perkawinan campuran, termasuk buku bertema Perkawinan Campuran yang diterbitkan pada tahun 2022.
Dengan jangkauan di berbagai negara, termasuk India, Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat, Ruanita menjadi tempat bernaung bagi perempuan Indonesia yang membangun kehidupan baru di negeri orang.
Melalui kegiatan seperti Diskusi Daring Perkawinan Campuran Indonesia–India ini, Ruanita terus berkomitmen membangun komunitas yang lebih inklusif, kuat, dan berdaya di tengah perubahan global.
Setiap perjalanan hidup adalah untaian cerita unik yang penuh warna. Saya adalah Dian, seorang perempuan Indonesia yang kini menetap di Goa, India, membagikan kisah luar biasa tentang perjuangan, cinta, dan harmoni antarbudaya.
Di balik tantangan yang dihadapi, saya menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun kehidupan baru yang lebih baik.
Hidup saya diwarnai oleh masa lalu yang kelam. Pernikahan pertama penuh dengan kekerasan rumah tangga, membuat hidup dalam ketakutan setiap hari. Namun, Tuhan punya rencana indah.
Dalam proses melarikan diri dari penderitaan itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami. Dengan penuh kesabaran, ia membantu saya keluar dari lingkungan penuh kekerasan.
Perjuangan terbesar saya adalah mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Setelah melewati banyak tantangan, saya berhasil memperjuangkan kebersamaan mereka. “Bisa kembali bersama anak-anak adalah keajaiban,” itu pikiran saya.
Menikah kembali membawa saya ke Goa, kota pesisir yang terkenal akan keindahan arsitektur masa lalu dan harmoni keberagamannya. Awalnya, saya merasa canggung menghadapi budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia.
Namun, suami, seorang pria yang penuh pengertian, menjadi pendukung terbesar. Ia memberi kebebasan saya untuk bekerja sebagai guru TK dan mendorong saya mandiri.
Perlahan, Goa membuka hati saya. Tradisi masyarakat lokal yang menghargai keberagaman mengajarkan saya tentang cara hidup harmonis di tengah perbedaan. Saya menemukan keindahan dalam toleransi dan kesederhanaan.
Hidup di negara asing tidaklah mudah. Saya menghadapi berbagai kendala, mulai dari perbedaan kebiasaan hingga akses transportasi yang kurang memadai dibandingkan di Indonesia.
Misalnya, kebiasaan masyarakat Goa yang bangun lebih siang menjadi tantangan bagi saya yang terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.
Namun, dari setiap tantangan, saya belajar untuk beradaptasi dan menghargai hal-hal sederhana. Bagi saya, hidup di Goa adalah proses belajar yang terus-menerus.
Di tengah kehidupan baru, saya berkomitmen untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Saya mengajarkan anak-anak untuk selalu bersikap sopan santun khas Indonesia, menceritakan dongeng Nusantara, dan mengenalkan tradisi Indonesia.
Bagi saya, ini cara saya memastikan mereka tidak melupakan akar budaya mereka, sehingga mereka bisa bangga menjadi anak-anak Indonesia, meskipun mereka besar di Goa, India.
Pernikahan antarbudaya memiliki tantangan tersendiri. Saya dan suami kerap menghadapi perbedaan pandangan, tetapi mereka selalu mengutamakan komunikasi. Menurut saya, kunci pernikahan kami adalah saling menghormati dan memahami.
Pesan suami seperti, “Patience, patience, and more patience”, menjadi pegangan saya dalam menjalani hari-hari sulit.
Dengan kesabaran, kami mampu menciptakan hubungan yang harmonis meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.
Di Goa, saya menemukan dukungan dari komunitas gereja setempat. Mereka menjadi keluarga kedua yang selalu memberikan bantuan dan penguatan.
Kehadiran komunitas ini membuat saya merasa lebih nyaman dan diterima di lingkungan baru saya.
Teruntuk perempuan Indonesia yang mempertimbangkan pernikahan antarbudaya, saya berbagi pesan inspiratif: “Jadilah kuat. Pernikahan antarbudaya membutuhkan kesabaran, komitmen, dan pengertian yang mendalam. Pelajari tradisi pasangan Anda, karena itu adalah langkah awal untuk menciptakan hubungan yang harmonis.”
Melalui perjalanan panjang, saya kini memiliki impian sederhana: membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan India.
Dengan komunikasi dan saling menghormati, saya yakin keluarga kami akan terus kuat dan penuh cinta.
Cerita tentang keteguhan hati dan cinta yang mengatasi perbedaan ini menunjukkan bahwa harmoni dapat tercapai di mana pun, selama ada rasa saling menghargai.
Penulis: Dianita Pramesti, relawan Ruanita Indoenesia, yang dapat dikontak via akun Instagram pramesti.dianita dan sedang tinggal di Goa, India.
Dalam dunia kerja di Swedia, seringkali saya mendengar rekan kerja berkata: ”Jag vabbar min son. Då stannar jag hemma”. Atau, ”Han vabbar sin dotter”, ujar seorang rekan kerja ketika saya menanyakan ketidakhadirannya. Saking penasarannya, apa sihvabbar itu? saya google untuk mencari tahu. Kalian penasaran juga kan?
Ternyata, menurut situs resmi Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan), vabba itu sebuah kosa kata kerja Swedia yang diambil dari kata benda vab yang berarti vård av barnatau stay at home to take care the sick kid dalam bahasa Inggrisnya.
Singkat kata, vab itu pengajuan sick leave yang dilakukan oleh orang tua karena harus mengurus anak yang sedang sakit di rumah. Istilah ini juga merujuk pada aktivitas harus menginap di rumah sakit.
Nah, saat vabba itu tentu saja konsentrasi pada pekerjaan buyar. Fokus perhatian orangtua tertuju pada kondisi anak yang sedang sakit. Artinya, orang tua yang vabba itu tidak mampu menjalankan kewajiban pekerjaannya.
Namun, ijin vabba ini tetap harus diajukan dan sepengetahuan pihak personalia di mana dia bekerja. Mengapa? Karena hal itu terkait dengan persyaratan saat pengajuan kompensasi berupa uang yang bakal didapat oleh pengaju vabba dari Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan).
Yup! Pengaju vabba akan mendapatkan penggantian sejumlah uang dari badan asuransi sosial negara tersebut. Tentu, nilai uang pengganti ke pengaju vabba itu ada standar perhitungannya, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan Försäkringskassan dan kasus kategori vabba-nya. Sebagai informasi, batas usia anak yang boleh di-vabba oleh orang tuanya, yakni anak berusia 0 – 12 tahun.
Lalu, seperti apa sih proses pengajuan kompensasi uang karena menjaga anak sakit (vabba) ke Försäkringskassan itu?
Pertama, pengajuan kompensasi itu segera dilakukan ketika anak sudah sembuh dan sang orang tua sudah siap untuk bekerja kembali. Dalam pengajuannya itu mencantumkan jumlah hari yang membuat orang tua harus stay at home.
Namun, ada maksimum jumlah hari stay at home yang bisa dikompensasikan. Biasanya jumlah hari tersebut hanya sampai 90 hari. Kedua, tentu proses pengajuan kompensasi itu harus dilengkapi lampiran dokumen berupa surat keterangan sakit sang anak tercinta dari dokter.
Ya! Di Swedia, jika sakit dan harus stay at home atau stay at hospital sampai lebih dari 7 hari, maka pada hari ke-8 harus melampirkan surat keterangan sakit. Sebenarnya, informasi proses pengajuan hak tersebut sudah sangat jelas dan detil yang dapat dibaca di laman resmi www.forsakringskassan.se.
Sahabat Ruanita perlu tahu prinsip sederhana vabba. Negara Swedia peduli dengan situasi kondisi orangtua yang harus just stay at home untuk mengurus balita dan anak tercinta yang sedang terbaring sakit.
Bisa dikatakan, hal ini merupakan manfaat dari uang pajak yang kami bayarkan ke Pemerintah Swedia. Cukup lumayan jika dihitung total persentase pajak dari total penghasilan bulanan. Hitungannya bisa mencapai 30-50% dari total penghasilan.
Belum lagi, setiap kami berbelanja, misalnya kebutuhan pangan, sandang, papan sampai tersier seperti elektronik, semua itu tetap ada perhitungan pajaknya (moms in Swedish) yakni 6%, 12% dan 25%. Singkat kata, pajak tinggi yang dibayarkan itu ada wujud nyatanya yang bisa dinikmati kembali oleh masyarakat Swedia.
Nah, kira-kira begitu pengalaman saya selama tinggal di Swedia. Bagaimana pengalaman sahabat Ruanita lainnya tentang cuti sakit sebagai orang tua?
Penulis: Tutut Hanadayani, Kontributor Ruanita Indonesia yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak lewat akun Instagram @kabarkoe
Pada Sabtu (26/4) telah berlangsung diskusi IG LIVE yang dilakukan setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui akun Instagramnya (@ruanitacom) kembali menggelar diskusi IG Live bertema “Imunisasi Anak, Mitos atau Fakta?.
Diskusi ini diadakan dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Dunia, dengan tujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi di tengah maraknya misinformasi.
Acara dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, dan menghadirkan dua sahabat Ruanita yang inspiratif: Kak Azizah, seorang ibu beranak satu sekaligus Ketua Departemen Sosial dan Kemanusiaan Perinma yang kini menetap di Austria, serta Kak Tiwi, seorang dokter yang berbagi pengalamannya dari Jerman.
Kak Azizah memulai sesi dengan berbagi pengalaman sistem imunisasi di Austria, termasuk penggunaan buku Mutterkindpass yang mencatat semua riwayat kesehatan ibu dan anak, serta rekomendasi vaksinasi yang difasilitasi oleh pemerintah secara gratis.
Ia juga menekankan pentingnya mencari informasi valid untuk menangkal hoaks tentang vaksin.
Dilanjutkan oleh Kak Tiwi, yang menjelaskan secara ilmiah tentang imunisasi sebagai perlindungan aktif terhadap penyakit infeksi berat seperti polio, campak, dan hepatitis.
Ia membantah mitos yang masih berkembang, seperti klaim tidak berdasar tentang hubungan vaksin dengan autisme. Data penelitian besar-besaran menunjukkan tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan vaksin dengan gangguan perkembangan otak.
Diskusi juga menyoroti pentingnya edukasi berbasis bukti di tengah gempuran informasi tidak valid di media sosial.
Pesan kuat disampaikan oleh Kak Azizah dan Kak Tiwi kepada para orang tua: buatlah keputusan imunisasi atas dasar kasih sayang dan informasi terpercaya, bukan ketakutan atau tekanan sosial.
Acara ini menginspirasi banyak sahabat Ruanita untuk lebih kritis dan aktif mencari informasi kesehatan anak dari sumber yang sahih.
Ruanita Indonesia kembali membuktikan komitmennya dalam mendukung keluarga Indonesia menjadi lebih sehat dan berdaya melalui edukasi berbasis komunitas.
Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami berjalan terus:
Halo, sahabat Ruanita! Ini kali kedua saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Nama saya Berta. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Belanda, dan kami memiliki 3 orang anak. Tahun 2022 lalu, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di Aalborg, Denmark, dan akhirnya kami pun pindah ke Denmark, kemudian menetap sampai dengan saat ini.
Karena kami orang tua dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda, antara budaya barat dan timur, terkadang memang muncul konflik-konflik kecil sehubungan dengan pola asuh anak. Namun, kami berdua selalu berkomunikasi dan mencari jalan tengah, seperti hal-hal terbaik apa saja yang menurut kami patut diterapkan untuk anak-anak kami.
Sebelum kami pindah ke Denmark, kami tinggal di kota yang sama di mana kakek-nenek dari pihak suami juga tinggal di sana. Interaksi cukup dekat, karena kami tinggal tidak jauh dari rumah mereka.
Kami bergantian berkunjung, terkadang kami yang pergi ke rumah kakek-nenek, terkadang kakek-nenek yang berkunjung ke rumah kami, terutama di hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun, Hari Raya Natal, perayaan tahun baru atau Hari Raya Paskah. Jika jadwal memungkinkan, kami pun pergi berlibur bersama. Ini hal yang memang jarang dilakukan, karena sulit untuk menemukan jadwal yang cocok.
Sedangkan untuk kakek-nenek dari pihak saya di Indonesia, komunikasi dilakukan melalui whatsapp atau video call. Ini yang agak sulit, karena anak-anak saya tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan fasih. Kakek-nenek mereka di Indonesia hanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat terbatas.
Anak-anak kami tidak memiliki ikatan khusus dengan salah satu pihak kakek-nenek, hanya karena kendala bahasa. Anak-anak kami lebih mudah berkomunikasi dengan kakek-nenek mereka di Belanda dibandingkan dengan kakek-nenek mereka di Indonesia.
Kami menjelaskan kepada anak-anak kami tentang pentingnya hubungan dan interaksi dengan kakek-nenek mereka, walaupun tinggal di negara yang berbeda. Dengan teknologi komunikasi yang semakin berkembang pesat saat ini, komunikasi lintas kota bahkan lintas benua tidak terlalu sulit dibandingkan beberapa tahun silam. Kakek-nenek walaupun tinggal jauh, adalah bagian dari keluarga dan ada hubungan darah. Anak-anak kami diajarkan untuk bersikap hormat terhadap kakek-nenek mereka.
Seperti yang dijelaskan di atas, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terhubung dengan kakek-nenek mereka. Bertepatan dengan ulang tahun anak kami yang bungsu, kakek mereka dari Indonesia berpulang ke Sang Khalik.
Mereka tidak bisa melihat kakek mereka sebelum dimakamkan untuk yang terakhir kalinya, karena ketika itu mereka masih terlalu kecil untuk dibawa ke Indonesia dalam kondisi yang hectic dan sulit untuk meminta ijin jangka panjang dari sekolah.
Menjelang akhir tahun 2019, nenek mereka dari Belanda berpulang ke Sang Khalik. Ini kondisi yang cukup berat, karena mereka menyaksikan bagaimana nenek sakit dan kondisinya terus menurun sampai akhirnya berpulang. Kami memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses situasi ini dengan cara mereka sendiri.
Pada bulan September 2021, kakek mereka berpulang ke Sang Khalik. Anak-anak pun dihadapkan dengan situasi yang sama di mana mereka menyaksikan kondisi kakek ketika sakit. Mereka ikut menyaksikan ketika dokter tidak bisa melakukan pengobatan lagi, dan sampai selesai pemakaman.
Kami pun memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses segala sesuatunya, dan berkomunikasi dengan mereka dan tetap siaga ketika mereka ingin meluapkan emosi atau sekedar ingin mengobrol hal-hal yang berkaitan dengan kakek nenek mereka, baik dari Indonesia maupun Belanda.
Kami berpikir bahwa kakek-nenek anak-anak kami dari Belanda dan Indonesia berinteraksi dengan cara yang tidak terlalu berbeda, kecuali perbedaan bahasa. Kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda sangat protective (tapi bukan yang overprotective) terhadap cucu-cucu mereka.
Pada intinya, baik budaya Indonesia maupun Belanda mengajarkan tentang sopan santun dan hormat pada orang tua. Jadi, itu yang kami terapkan kepada anak-anak kami sehubungan dengan interaksi mereka dengan kakek-nenek mereka. Kami mengajarkan supaya anak-anak santun dalam bersikap, bertutur kata ketika kami berkunjung ke rumah kakek-nenek mereka, baik di Belanda maupun di Indonesia. Dalam hal ini, anak-anak tetap kami beri ruang untuk bermain dengan kakek-nenek mereka selayaknya anak-anak bermain dengan kakek nenek pada umumnya.
Anak-anak kami fasih berbahasa Belanda karena mereka lahir dan besar di Belanda, sehingga kakek-nenek di Belanda tidak ada kendala dalam hal berkomunikasi. Sebaliknya, anak-anak kami tidak fasih dalam berbahasa Indonesia karena satu dan lain hal. Kakek-nenek mereka di Indonesia belajar sedikit-sedikit bahasa Inggris sebagai jalan tengah dalam berkomunikasi dengan anak-anak kami.
Meski begitu, kedekatan anak-anak kami dengan kakek-neneknya seperti memberi ruang untuk anak-anak belajar. Kami berharap bahwa anak-anak kami belajar dari kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda, bagaimana mereka bekerja keras untuk bisa bertahan di tengah dunia yang semakin kompetitif.
Anak-anak diharapkan untuk belajar bahwa segala sesuatu harus melewati proses yang tidak selalu mudah, dan jangan pernah menyerah sebelum mereka mencapai garis finish. Kami berharap juga anak-anak bisa belajar pentingnya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dimulai dari membangun hubungan baik dengan tetangga dan membangun network dengan orang banyak.
Kakek-nenek dari Indonesia dan Belanda mengajarkan pentingnya aktivitas bersama keluarga untuk memelihara hubungan yang satu dengan yang lain, walaupun tinggal berjauhan. Misalnya, makan malam bersama, menghabiskan akhir pekan bersama, merayakan hari raya bersama, bahkan melakukan hal kecil di rumah bersama keluarga seperti misalnya bermain permainan bersama.
Ketika anak-anak kami sedang berada di rumah kakek-nenek mereka di Belanda, dan mereka makan bersama, maka anak-anak akan mendapatkan dessert yang boleh mereka pilih sendiri, karena kakek nenek sudah menyiapkan beberapa dessert yang berbeda.
Ketika kami berkunjung ke rumah kakek nenek mereka di Indonesia, maka nenek akan menyiapkan menu ayam goreng sederhana yang menjadi menu favorit anak-anak setiap kali kami berkunjung ke Indonesia.
Tentunya, tidak mudah beradaptasi dalam menggabungkan tiga budaya (Indonesia, Belanda, dan Denmark) dalam kehidupan sehari-hari anak-anak kakak. Untuk budaya Indonesia dan Belanda, kami sebagai orang tua bisa mencari jalan tengah dan kompromi, sekiranya hal-hal apa saja yang baik untuk diajarkan kepada anak-anak kami.
Yang lebih sulit sebenarnya adalah mengenalkan budaya Denmark kepada mereka, karena terkadang kami sebagai orang tua maupun individu dewasa agak sulit memahami budaya Denmark, jika perbedaannya terlalu besar dengan budaya Belanda. Perlahan-lahan kami menjelaskan kepada anak-anak bagaimana kehidupan, budaya dan kebiasan orang-orang Denmark dan mengajarkan hal-hal baik yang bisa ditiru dan hal-hal yang tidak baik yang tidak perlu ditiru.
Tantangan terbesar lainnya adalah menjaga hubungan antara anak-anak dengan kakek-nenek di Indonesia, karena kendala bahasa dan perbedaan waktu yang cukup banyak, 5 jam di musim panas dan 6 jam di musim dingin. Agak sulit untuk mencari waktu yang tepat apabila anak-anak ingin berbicara langsung dengan kakek-nenek di Indonesia. Solusinya hanya dengan mengirim pesan lewat whatsapp.
Terkadang saya mencoba untuk merekam film-film pendek dan mengirimnya ke Indonesia sehingga kakek-nenek mereka bisa sedikit banyak mengikuti aktivitas anak-anak, dan mencoba mencari waktu yang tepat di akhir pekan untuk video call ke Indonesia.Sejak pindah ke Denmark, anak-anak memiliki perangkat telepon genggam masing-masing (karena mereka membutuhkannya untuk beberapa hal di sekolah), dan kami pun membuat grup whatsapp khusus untuk anggota keluarga , di mana anak-anak pun bisa saling berkirim pesan sebagai media komunikasi jarak jauh.
Kakek nenek di Belanda terlibat cukup aktif dalam mengasuh anak-anak. Ada kalanya kakek nenek di Belanda menjemput anak-anak dari sekolah, disaat kami berdua ada kepentingan lain yang waktunya berbenturan dengan jam pulang sekolah.
Sering berkunjung ke Indonesia tentu saja agak sulit karena biaya yang cukup tinggi untuk pergi ke Indonesia setiap liburan sekolah musim panas. Namun ketika kami ada kesempatan untuk berlibur ke Indonesia, maka kami akan memberikan waktu kepada kakek nenek di Indonesia untuk membangun hubungan dan berinteraksi dengan cucu-cucu mereka.
Kakek-nenek dari kedua belah pihak berperan besar sebagai support system untuk keluarga kami. Ketika kami dalam situasi pelik, kami tahu kepada siapa kami bisa meminta tolong, walaupun mungkin hanya untuk menjaga anak-anak ketika kami harus ke suatu tempat. Dan kakek nenek di Indonesia pun adalah support system kami di Indonesia , sehingga kami pun bisa menikmati liburan yang agak terbatas waktunya.
Kakek-nenek dari kedua belah pihak tidak terlalu ikut campur dalam urusan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak, karena biar bagaimana pun kami sebagai orang tua yang bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak. Namun, kami selalu bisa meminta nasihat kepada kakek nenek jika kami sebagai orang tua tidak bisa menemukan solusi yang tepat berkaitan dengan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak-
Saat ini, anak-anak kami hanya memiliki satu nenek dari Indonesia. Harapan saya secara pribadi adalah, anak-anak mau belajar bahasa Indonesia lebih banyak lagi, dan lebih aktif berkomunikasi dengan nenek mereka di Indonesia, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Tentu saja, saya berharap bahwa kami sekeluarga bisa sering berkunjung ke Indonesia dan diberi kesehatan dan umur panjang.
Kakek-nenek dari kedua belah pihak memberi ciri masing-masing dalam pembentukan indentitas anak-anak sebagai keluarga dari perkawinan campur. Kakek-nenek dari kedua belah pihak memperkaya cerita bagi anak-anak kami, sehingga mereka bangga sebagai anak-anak dari perkawinan campur.
Apabila saya bisa merencanakan liburan bersama dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak, maka liburan yang paling cocok untuk keluarga kami adalah liburan tanpa jadwal yang padat merayap, tanpa ada tekanan untuk melakukan hal-hal yang belum tentu disukai oleh semua anggota keluarga. Menurut saya, yang paling penting dalam liburan bersama adalah menikmati waktu bersama tanpa ada keharusan melakukan hal ini dan itu.
Sebagai penutup,saya tidak punya nasihat khusus karena saya rasa setiap keluarga memiliki cerita dan latar belakang masing-masing yang berbeda-beda. Saya hanya ingin menambahkan pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga, entah itu kakek-nenek, sepupu, om atau tante. Walaupun tidak tinggal satu kota atau satu negara, mereka adalah support system yang terdekat, ketika kita menghadapi sesuatu masalah.
Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via akun Instagram adenk_bvs
Tak banyak orang yang memahami dengan baik, bagaimana resiliensi yang dihadapi oleh ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
Perjuangan dan tantangan ini yang kemudian ingin dibagikan oleh Vinna Nidia, yang saat diwawancarai sedang tinggal di Belanda, sejak tahun 2013.
Vinna, begitu disapa, telah menikah dengan pria berkewarganegaraan asing dan kini telah memiliki empat orang. Salah satu anak Vinna adalah anak dengan Pitt Hopkins Syndrom.
Vinna mengakui bahwa dia tidak mendapati berbagai gejala yang berbeda dari kehamilannya pada anak dengan Pitt Hopkins Syndrom.
Justru Vinna mendapatinya ketika anaknya lahir dan mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembang anak.
Tak banyak orang mengenal dengan baik, apa itu Pitt Hopkins Syndrom, apalagi kasus ini sangat jarang di dunia. Vinna mengakui di Indonesia pun baru bisa dihitung dengan jari.
Sehari-hari, Vinna di Belanda pun memiliki kesibukan lainnya seperti mengelola usaha rumahan dan komunitas Pitt Hopkins khusus Indonesia.
Vinna terdorong untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya tentang Pitt Hopkins kepada banyak orang Indonesia, terutama karena kasusnya sangat langka di Indonesia.
Menurut Vinna, sudah banyak negara yang membentuk kelompok dukungan sosial untuk orang tua yang memiliki anak dengan Pitt Hopkins.
Oleh karena itu, Vinna pun menceritakan bagaimana kegigihannya untuk melawan stigma sosial yang biasanya melekat pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti dirinya.
Apa itu Pitt Hopkins Syndrom? Bagaimana awal mula diagnosa itu muncul pada anak Vinna? Apa saja perjuangan dan tantangan yang dihadapi Vinna dalam membesarkan anak berkebutuhan khusus? Apa pesan Vinna untuk orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus?
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial dari Belanda berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami, agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi:
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, aku biasa dipanggil Amy dan kini menetap di United Kingdom (UK) sejak menikah dengan pria berkewarganegaraan asing. Aku juga seorang ibu dari tiga orang anak, yang mana anak pertama kini berusia 13 tahun, anak kedua sekarang berusia 11 tahun, dan anak ketiga berusia 1,5 tahun.
Anakku kedua ini yang mengubah hidupku sepenuhnya, karena dia begitu istimewa yang membuat hidupku berubah. Aku merasa istimewa sebagai seorang ibu, karena diberi amanah besar untuk merawat anakku, yang terlahir dengan Pitt Hopkins Syndrome. Justru, aku menyadari ini setelah aku pergi Umroh ke Mekkah dan bertemu dengan seorang perempuan bijaksana di sana.
Perjalanan panjang diagnosa anakku kedua dengan Pitt Hopkins Syndrome, dimulai dari pengalamanku mengandungnya sejak kami masih di Dubai. Di Dubai, kami tidak punya keluarga, sementara keluarga besar suami tinggal di Inggris.
Suami memutuskan untuk tinggal di Inggris, karena kami hanya bertiga saat itu: aku, anakku, dan suamiku – di Dubai. Aku merasa kehamilan anakku yang kedua baik-baik saja, seperti kehamilanku sebelumnya. Hanya saja, medical record yang kupegang selama di Dubai tidak begitu detil dan komplit, sebagaimana yang diminta pihak petugas kesehatan di Inggris.
Pada umur kehamilan yang ketujuh bulan, aku pindah ke Inggris. Ketika dokter kandungan di Inggris memeriksa janinku, terlihat bahwa semua baik-baik saja. Berbagai tes kehamilan dimulai lagi dari awal, karena tak cukup informasi yang kubawa dari Dubai. Pada usia kandunganku saat itu sudah memasuki minggu ke-38, yang mana dokter memperhatikan bahwa pergerakan janin begitu lambat.
Aku pun harus mengalami induksi. Akhirnya, anakku kedua lahir dengan selamat. Anakku melewati serangkaian tes untuk memastikan kondisinya, tetapi respon yang diberikan anakku ini begitu berbeda. Dia begitu lamban merespon, yang kemudian membuat hatiku merasakan bahwa anakku yang kedua, sepertinya berbeda dari anakku yang pertama.
Proses hingga mendapatkan diagnosis Pitt Hopkins Syndrome itu begitu panjang dan tidaklah mudah. Pada usia beberapa bulan, dia tidak menunjukkan perkembangan seperti bayi-bayi lainnya. Dia terlambat tengkurap, merangkak, dan sulit melakukan kontak mata dalam waktu yang lama. Awalnya, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatannya sendiri.
Namun, hati kecilku berkata lain. Anakku yang kedua ini pernah sempat dikatakan, punya masalah dengan liver, karena dia tampak begitu kuning. Dia didiagnosa hyperbilirubinia. Hyperbilirubinemia adalah kondisi di mana kadar bilirubin dalam darah meningkat di atas batas normal. Bilirubin adalah zat kuning yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah dan biasanya diproses oleh hati, sebelum dikeluarkan melalui empedu ke dalam tinja. Anakku ini sampai dibawa ke rumah sakit khusus liver, nyatanya semua baik-baik saja.
Ahli juga sempat menyebut anakku memiliki mitokondrial disorder. Mitokondrial disorder pada bayi baru lahir adalah kelainan yang terjadi akibat disfungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang bertanggung jawab menghasilkan energi. Karena hampir semua sel tubuh membutuhkan energi, gangguan pada mitokondria dapat memengaruhi berbagai organ, terutama otak, otot, jantung, dan hati. Setelah dicek berkali-kali, anakku tidak memiliki kelainan tersebut, meskipun tumbuh kembang anakku begitu lambat.
Pada usia sekitar tujuh bulan, anakku mulai mengalami batuk yang sangat parah. Kondisi ini menurut ahli, anakku didiagnosa Unsafe Swallow. Unsafe Swalow pada bayi baru lahir adalah kondisi di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakamanan saat menelan makanan atau cairan. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk gangguan neurologis, kelemahan otot, atau kelainan anatomi.
Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan aspirasi, yaitu masuknya cairan atau makanan ke saluran pernapasan, yang bisa berujung pada infeksi paru-paru (pneumonia aspirasi). Karena batuknya yang sangat parah, suatu kali, pernah aku merasa putus asa melihat kondisi anakku yang sudah koma, dengan oksigennya yang drop, dan bibirnya tampak biru. Feeling-ku sempat mengatakan: “Anakku meninggal. He is gone. He is gone. Alhamdulilah, anakku survive dan dia bisa bertahan.”
Tak hanya itu, anakku yang kedua ini juga sempat didiagnosa oleh ahli memiliki visual sight impairment. Pada bayi baru lahir, visual sight impairment adalah kondisi di mana bayi mengalami gangguan penglihatan sejak lahir atau dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. Ini bisa terjadi akibat kelainan pada mata, saraf optik, atau otak yang mengolah informasi visual. Diagnosa ini disebabkan anakku ini tidak bisa mengikuti objek yang dililhatnya, mungkin dia mengalami gangguan penglihatan.
Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali anakku harus bolak-balik rumah dan rumah sakit, hingga rumah sakit seperti rumah keduanya, padahal usianya saat itu masih belum dua tahun. Mondar-mandir ke rumah sakit dengan diagnosa yang bermacam-macam dan tidak tepat kerap membuatku semakin sulit, apalagi suamiku saat itu masih bekerja di Dubai. Beruntunglah, aku mendapatkan dukungan dari keluarga besar pihak suamiku di Inggris untuk membantu merawat anakku yang pertama dan membesarkan hatiku.
Situasi begitu rumit dengan diagnosa anakku yang kedua. Pada saat dia berusia 6 bulan, anakku dirujuk ke berbagai macam spesialis, seperti: speech delay language, dan physiotherapy. Tak berhenti di situ saja, anakku juga dirujuk ke rumah sakit perawatan khusus anak-anak buat genetic, neurology and ophthalmology.
Pada saat usianya memasuki 1,5 tahun, anakku didiagnosa Pitt Hopkins Syndrome. Suamiku yang masih berada di Dubai, akhirnya memutuskan ikut pindah ke Inggris, pada saat anakku memasuki usia 2 tahun. Aku bahkan tidak tahu apa itu Pitt Hopkins Syndrome.
Dokter menjelaskan bahwa ini adalah kelainan genetik yang sangat langka, yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Anak-anak dengan kondisi ini sering mengalami kesulitan berbicara, berjalan, serta memiliki gangguan pernapasan dan intelektual.
Aku sempat tidak percaya, bahwa dia mengalami kelainan genetik. Bagaimana mungkin itu terjadi padaku? It was so hard! Aku sempat berpikir negatif tentang masa depan anakku kelak. Lima tahun pertama, aku tidak bisa menerima kondisi anakku. Aku sempat bertanya kepada Allah: “Why you chose me?”.
Dalam perjalanan ini, aku juga menemukan komunitas yang luar biasa. Ibu-ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi yang sama menjadi tempatku berbagi. Aku belajar dari pengalaman mereka, mendapatkan dukungan emosional, dan merasa bahwa aku tidak sendirian. Suatu kali, aku belajar dari seorang ibu dalam kelompok dukungan sosial, di mana dia memiliki tiga orang anak dan semua anaknya adalah anak-anak berkebutuhan khusus.
Bersyukurlah aku mendapatkan dukungan sosial dari kelompok orang tua yang memiliki situasi serupa di Inggris ini. Kami berbagi dukungan satu sama lain, yang saling menguatkan buat saya. Itu sangat membantu saya. Pemerintah di sini juga memberikan banyak fasilitas dan dukungan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, seperti anakku kedua. Semua fasilitas dan sarana pendukung, seperti terapi dan dukungan sosial pada orang tua pun disiapkan di sini.
Aku ingin anakku melihat dunia, meskipun aku tahu dia mungkin tidak memahami sepenuhnya. Kami kerap berpergian, termasuk ke Indonesia. Namun, dalam perjalanan itu, aku menyadari bahwa dunia ini tidak selalu ramah terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus. Aku sering mendapatkan tatapan aneh, bahkan komentar kasar dari orang-orang yang tidak memahami kondisi anakku. Aku belajar untuk tidak peduli dengan pandangan orang lain. Yang terpenting adalah anakku mendapatkan cinta dan dukungan yang dia butuhkan.
Ada hari-hari di mana aku merasa sangat lelah. Menemani anakku menjalani berbagai terapi, mengajarkan keterampilan sederhana yang bagi anak lain mungkin begitu mudah, adalah tantangan besarku. Namun, aku juga menyadari bahwa keberadaanku sebagai ibunya adalah sumber kekuatan terbesarnya.
Di tengah semua tantangan, aku menyadari satu hal: resiliensi adalah kunci. Sebagai seorang ibu, aku harus terus maju, tidak peduli seberapa sulit jalannya. Aku mungkin jauh dari tanah air, tetapi hatiku tetap kuat. Anakku adalah cahaya kecilku, dan aku akan melakukan apa pun untuk memastikan dia mendapatkan kehidupan terbaik.
Penulis: Amy, seorang ibu yang punya anak dengan Pitt Hopkins Syndrome di Inggris dan dapat dikontak via Instagram hamza_pitthopkins_syndrome.
Halo, sahabat Ruanita! Nama saya, Rieska Wulandari yang telah menetap di Italia sejak Agustus 2010 lalu, saya bekerja sebagai jurnalis lepas di Italia untuk media massa televisi di tanah air dan saya juga seorang ibu dari dua orang anak dan bersuamikan seorang Italia.
Saya menjadi jurnalis karena latar belakang pendidikan saya memang sarjana Jurnalistik Fikom Unpad. Saya meliput berbagai kegiatan aktual di Italia untuk pemirsa Indonesia dan sebagai pengamat sosial saya juga mengamati kiprah perempuan dalam berbagai isu termasuk dalam hal partisipasi perempuan dalam bidang sains.
Tinggal di Italia selama hampir 15 tahun, saya menilai masyarakat Italia menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat penting, bahkan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni mencatatkan dirinya sebagai Perdana Menteri perempuan pertama di Italia dan dalam berbagai bidang termasuk sektor sains, kontribusi perempuan, sangat diperhatikan.
Perempuan tak sekedar dianggap sebagai rekan kerja/ilmuwan/cendekia setara, namun juga punya kesempatan untuk mendapatkan posisi puncak dan kadang diakui lebih cemerlang daripada pria.
Kondisi ini, tidak serta merta muncul. Dibutuhkan perjalanan dan sejarah panjang bagi masyarakat Italia untuk bisa mencapai titik ini. Seperti negara-negara lainnya, dahulu kaum perempuan Italia juga hanya ditempatkan di belakang layar. Baru pada tahun 1874 perempuan diizinkan masuk sekolah menengah atas dan universitas, meskipun banyak institusi yang terus menolak mereka saat itu, namun gerakannya sudah mulai muncul.
Sejarah pendidikan perempuan di Italia adalah perjalanan menarik yang mencerminkan perubahan masyarakat yang lebih luas, pergeseran budaya, dan perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan gender. Pada tahun 1886, Pemerintahan Italia menetapkan undang-undang pertama yang menjamin akses yang sama terhadap pendidikan dasar bagi anak perempuan. Hal ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam menyadari pentingnya mendidik anak perempuan.
Berlanjut kurang dari seratus tahun kemudian, tahun 1946 perempuan di Italia memperoleh hak untuk memilih di Italia yang berkaitan erat dengan status pendidikan mereka. Kemampuan untuk memilih dipandang sebagai perluasan hak-hak perempuan, didukung oleh peningkatan prestasi pendidikan mereka.
Momen ketika perempuan Italia sudah mulai boleh ikut dalam pemilu ini, diabadikan dalam film karya Paola Cortellesi yang berjudul C’e Ancora Domani (There’s Still Tomorrow /Masih Ada Hari Esok), menggambarkan betapa kekuatan perempuan di bidang pendidikan dan politik memberikan perkembangan yang revolusioner kepada masa depan individu dan juga pada sebuah bangsa.
Film yang merupakan debut sutradara Paola Cortellesi, memenangkan People’s Choice Awards, penghargaan dari publik, pada Festival Film Internasional Pingyao edisi kedelapan, yang diprakarsai oleh sutradara Jia Zhange (pemenang Golden Lion di Festival Film Internasional Venesia pada tahun 2006 untuk Still Life) dan diselenggarakan di Tiongkok dari tanggal 24 hingga 30 September.
There’s Still Tomorrow juga telah mengumpulkan berbagai penghargaan tidak hanya di Italia, tetapi juga di luar negeri dari negara-negara Eropa hingga Australia.
Kembali lagi ke sejarah Italia dalam memperjuangkan hak perempuan, pemerintah Italia memperkuat hak perempuan dalam kesetaraan akses pendidikan dengan menerbitkan UU tahun 1977. Sahabat Ruanita perlu tahu, bahwa tujuan dari undang-udang ini untuk mencegah diskriminasi terhadap perempuan di bidang pendidikan dan tempat kerja, dengan menekankan kesempatan yang sama bagi anak perempuan di semua lingkungan pendidikan.
Itu sebab, saya berpendapat tidak ada perbedaan antara perempuan dengan laki-laki di Italia. Hanya saja, perempuan memang memiliki tugas lain. Sebagai ibu rumah tangga misalnya, perempuan yang berkarier penuh di bidang ini, tidak semudah dengan para pria. Namun, secara hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki, tidak ada perbedaan.
Sejauh pengalaman tinggal di Italia sebagai jurnalis, saya malah mendapat banyak privilege dibandingkan pria. Secara etika dan hukum, perempuan di Italia memiliki sistem perlindungan penuh dan bahkan masuk dalam skala prioritas, untuk konteks tertentu.
Terkait perempuan di bidang sains selama tinggal di Italia, saya menyaksikan bahwa Italia telah sukses mengirim astronot perempuan yaitu Samantha Cristoforetti yang berangkat dengan rioket Soyuz pada 23 November 2014 dan ditempatkan selama 200 hari di Stasiun ISS serta yang kedua kali pada 27 Aoril 2022 dengan Space X untuk ekspedisi selama 170 hari dan ditempatkan di stasiun ISS.
Selain itu, prestasi kaum perempuan dalam bidang olahraga juga sangat mencenangkan dengan banyaknya delegasi atau kontingen dari Italia yang memenangkan berbagai kompetisi internasional, piala dunia dan termasuk Olimpiade. Tentunya, saya melihat bahwa hal ini tidak terlepas dari dukungan lingkungan kerja atau lingkungan akademik. Mereka sangat mendukung perempuan untuk maju dan sukses dalam sektor sains.
Sebagai seorang jurnalis, saya sekarang sebagai sekretaris dewan untuk organisasi jurnalis asing di Italia, Stampa Estera di Milan dan tahun ini kami meluncurkan Premio Innovazione Semi yaitu penghargaan di bidang inovasi. Perempuan tentu diperbolehkan mengikuti kompetisi ini. Selain itu, organisasi ini juga memiliki anggota jurnalis perempuan dalam jumlah yang cukup signifikan.
Tokoh perempuan di bidang sains yang membuat saya kagum adalah seperti Rita Levi-Montalcini, seorang ahli saraf pemenang Hadiah Nobel. Selain itu, saya juga mengagumi Emma Bonino, seorang politisi terkemuka dan pembela hak-hak perempuan, memberikan contoh bagaimana pendidikan dapat memberdayakan perempuan untuk memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan seorang jurnalis kawakan Italia Oriana Fallaci yang telah mewawancara tokoh-tokoh internasional dunia dan menghasilkan berbagai buku jurnalistik yang impresif, yang membuka mata dunia pada pentingnya mengutamakan hak dan kemerdekaan semua bangsa dan terutama perempuan.
Sementara dari Indonesia, meski tokoh ini bukan seorang ahli sains, saya mengidolakan Kartini. Menurut saya, beliau merupakan tokoh yang sangat penting dan saya kagumi karena pikiran dan tulisannya telah membuka kemungkinan kepada para perempuan untuk bersekolah, mengenyam pendidikan, dan menentukan sendiri masa depannya.
Bagi para perempuan muda yang ingin menyelami dunia sains, tantangan terbesar di bidang ini adalah untuk teguh dan memantapkan langkahnya dalam menjalani bidang ini tak hanya untuk mengangkat image tapi benar-benar sebagai panggilan hidup.
Di Italia saya perhatikan, peran pria di dalam sains sama beratnya dengan perempuan karena peran pria dan perempuan dalam keluarga memang sama-sama harus berkontribusi pada perkembangan keluarga dan anak, apabila mereka telah memiliki keturunan.
Yang menjadi pembeda adalah pusat-pusat riset dan teknologi, industry dan media yang berkaitan dengan bidang ini kebanyakan terletak di Italia Utara, sehingga kebanyakan dari mereka yang ingin berkembang di bidang ini, harus pindah ke Italia bagian utara.
Sejauh ini, saya belum melihat peneiti Indonesia yang berkiprah di Italia meski ada beberapa kenalan saya, perempuan yang bekerja di pusat riset milik Uni Eropa yang berlokasi di Italia dan beberapa perempuan yang menjalankan riset berkaitan dengan studi master dan doktoral mereka di Italia.
Jika digali, Indonesia punya banyak peluang dalam bidang sains di Italia. Hanya saja perbedaan bahasa, sistem sertifikasi, dan tidak adanya MoU yang terjalin antara Indonesia dan Italia dalam hal ketenagakerjaan, membuat kesulitan bagi mereka yang ingin mengejar peluang di bidang ini di Italia.
Tentunya, ada pengaruh yang besar dalam perbedaan budaya antara Indonesia dan Italia terhadap namun untuk kehidupan sekarang, sangat bisa didiskusikan dan sangat bisa dipertimbangkan.
Melihat perjalanan Italia yang demikian komit melibatkan perempuan dalam dunia sains, sebetulnya tidak mustahil Indonesia juga sudah dalam perjalanan ke sana, terutama bila kita berkaca lagi pada kebudayaan kuno, di mana ketika pengaruh agama-agama populer belum masuk.
Seperti dalam kebudayaan Sunda dan Minang, posisi perempuan sangat dihormati dan dianggap sebagai gender yang harus mendapatkan prioritas. Hal ini terlihat dalam pantun-pantun Sunda, sementara dalam kebudayaan Minang masih berprinsip matrilineal hingga kini. Situasi berubah ketika paham patriaki memasuki Nusantara, baik melalui paham bernafas keagamaan maupun karena manipulasi politik dan kekuasaan.
Jika sahabat Ruanita ingin mengejar karier atau pendidikan di bidang sains, khususnya Italia, saya rasa Italia bisa dijadikan sebagai referensi yang cukup menarik karena negara ini telah melahirkan tokoh tokoh jenius di bidang sains, keputusan mengambil pendidikan di Italia akan menjadi keputusan strategik di mana sahabat Ruanita bisa mengambil langsung dari rahim ilmu dan kebudayaan itu sendiri, yang mana bahasa latin yang menjadi inti kebudayaan Eropa lahir.
Menjalani dan berinteraksi dengan berbagai komunitas di Italia, refleksi terbesar saya adalah perempuan di Italia, memiliki peran krusial dalam perkembangan sains secara nasional. Bahkan peran ini bisa mewakili posisi Italia secara global, apalagi bila ada pemenang nobel atau astronot yang berkebangsaan Italia.
Selain pendidikan publik, keberadaan lembaga pendidikan yang diasuh gereja (Yayasan katolik), juga memberikan kontribusi yang sangat besar pada perkembangan Sains. Meskipun sekolah ini bernafaskan katolik, namun pelajaran sainsnya tidak terkungkung ideologi agama, melainkan sangat terbuka pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan termasuk menerima bahwa bumi terbentuk melalui teori big bang dan adanya evolusi.
Hal ini membuat perkembangan sains di Italia tidak berbenturan dengan ranah ideologi dan prinsip-prinsip agama atau keimanan. Demikian juga peran serta perempuan dalam segala bidang sangat didorong dan tidak mengurung perempuan untuk puas dengan peran domestik, namun dalam peran lain yang sangat penting bagi kehidupan ilmu pengetahuan, sosial, politik, berbangsa dan bernegara.
Sikap keterbukaan yayasan katolik pada sains ini menjadi tantangan bagi Indonesia, sebuah bangsa yang akhir-akhir ini kita akui, cenderung terkungkung dalam kerangka religius sehingga kontraproduktif dengan kemajuan sains.
Sebagai perempuan Indonesia di Italia, saya berharap semoga kedua negara bisa saling berkontribusi dalam hal memajukan perempuan di dunia sains. Bagaimanapun sains membutuhkan perempuan dan perempuan membutuhkan sains, lebih jauh, Italia membutuhkan Indonesia dan Indonesia juga membutuhkan Italia.
Saya kita, sudah saatnya untuk mulai terbuka dan menyambut keterlibatan perempuan di bidang sains, bahkan harus mendorong perempuan dan memberikan dukungan serta pengayoman agar ketika menjalankan profesi ini, perempuan mendapatkan hasil yang maksimal dan dilindungi secara hukum, sehingga mereka dapat menjalankannya dalam rasa tenang dan nyaman.
Saya yakin, perempuan Indonesia tidak hanya potensial, bahkan juga semakin banyak perempuan Indonesia yang bergerak di bidang ini, sehingga Indonesia akan menjelma menjadi sebuah negara yang sangat kuat. Ingatlah, pada kaum perempuan yang menjalani bidang ini, persaingan akan selalu ada. Persaingan dalam dunia kerja, baik antar sesama perempuan maupun dengan laki-laki sama kerasnya dalam konteks yang berbeda.
Oleh karena itu, semangat hanya akan ada jika diri sendiri memang teguh pendirian. Memang yang dijalani adalah sesuatu yang dicintai. Passion atau renjana bukan sekedar menjalankan pesan orang tua atau sekedar agar tampak terpandang. Selama jalan itu kita ambil – karena memang kerinduan kita dan ada panggilan jiwa – apapun tantangannya, akan dapat dijalani meski berat dan terjal.
Sekali lagi sahabat Ruanita, ini saran saya:
Kenali bahasanya, raih sertifikat bahasa secara formal, karena ini akan sangat membantu, baik dalam proses studi maupun dalam konteks profesionalisme.
Carilah universitas yang sesuai. Beberapa universitas di Italia juga sangat excellence dalam program-program spesifik. Saya yakin ini memberikan manfaat besar bagi yang melakukan riset maupun bagi masyarakat secara umum.