(IG LIVE) Empty Nest Syndrome: Kehidupan Setelah Anak Pergi

(NORWEGIA 23/10) Ketika anak-anak sudah dewasa dan memiliki kehidupan baru lalu memutuskan untuk meninggalkan rumah tempat mereka tumbuh, ada semacam rasa ‘kedukaan’ yang umumnya dialami oleh orangtua. Bagaimana perasan dan pengalaman para orangtua ketika melepas anak-anak yang sudah dewasa? Apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi perasaan sedih dan kesepian tersebut?

Dalam episode IG Live Oktober 2022 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema ’Empty Nest Syndrome: Kehidupan Setelah Anak Pergi’. Dipandu oleh Anna @anna_knobl, Ruanita turut mengundang Ibu Yeni @yenikirimang, seorang ibu yang tinggal di Jerman dan Ibu Elvita @fitrianielvita, seorang ibu yang tinggal di Indonesia.

Ibu Elvita memiliki tiga anak, salah satunya kini sedang melanjutkan studi di Munchen setelah kuliah di IAIN Surakarta. Sementara Ibu Yenni adalah seorang Ibu yang tinggal di Jerman dan memiliki dua laki-laki (23 & 24 tahun). Kedua anak lelakinya kini sudah menetap di kota Hamburg, sementara Ibu Yenni tinggal di sebuah kota yang berjarak sekitar 4 jam menyetir dari Hamburg. Ibu Yenni menuturkan ia dan anak-anaknya sering berkomunikasi lewat facetime, namun untuk dating mengunjungi hanya sekitar 1-2 kali setahun.

Ibu Yenni menuturkan bahwa saat pertama kali anaknya pindah kota untuk merantau, awalnya ia merasa kehilangan. Dari memasak saja sudah mengingatkannya akan perasaan sepi saat anak-anak meninggalkan rumah karena yang biasanya sehari-hari memasak banyak hidangan, tiba-tiba saja tidak banyak yang harus dimasak. Lalu saat malam menjenguk kamar anak-anak, kini telah kosong.

Padahal sebelumnya setiap malam ia selalu menjenguk anak-anak untuk mengucapkan selamat tidur. Namun menurut Ibu Yenni, kondisi kehilangan dan kesepian ini adalah bagian dari proses yang berulang karena mungkin dulu inilah yang dirasakan orangtua saat harus melepas kita untuk pindah merantau.

Menurut Ibu Elvita saat anak-anaknya masih kuliah di lain kota di Indonesia, mereka masih bisa berkunjung rumahnya lalu kembali pulang ke kos-kosan. Namun ketika anak-anak pergi merantau jauh rasanya pasti waswas, rindu dan kangen.

Saat perasan tersebut melanda, ia berusaha mencari jalan keluar dengan beraktivitas dan menyibukkan diri dengan bekerja sebagai konsultan. Ia juga menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan bersama suami. Ibu Elvita juga mengungkapkan bahwa awalnya sangat sulit sekali menemukan rumah dalam keadaan sepi tanpa anak-anak, yang bahkan masih terasa hingga kini, namun ini adalah kondisi yang memang harus dilalui.

Bagaimana pendapat Ibu Elvita dan Ibu Yenni tentang social support group untuk orangtua yang mengalami empty nest syndrome? Apakah ada cara khusus dalam mengatasi kesepian ketika anak-anak sudah tidak lagi tinggal di rumah?

Ibu Yenni mengungkapkan kalau anak-anaknya tahu saat ia sedang kangen. Dengan ia berkomentar ‘mama kangen’ saja, anak-anak pasti tahu. Ibu Yenni sendiri mempunyai grup teman arisan di Hamburg. Jadi kalau saat arisan di Hamburg, ia selalu punya misi untuk bertemu dengan anak-anaknya. Meski hanya sebentar dan harus menyamakan jadwalnya dengan jadwal anak-anaknya seperti membuat temu janji, tetapi ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu.

Ibu Yenni menjelaskan bahwa ia mengerti bahwa anak-anak sudah punya kesibukan sendiri, jadi ialah yang harus menyempatkan duluan untuk menemui mereka. Ketika bertemu, anak-anaknya akan menjemput dan memasak, lalu makan bersama. Kalau mereka main bola, jika sempat ia akan ikut menonton. Jadi sampai anak dewasa, ada kebahagiaaan tersendiri saat masih bisa menonton dan bisa terlibat aktivitas mereka meski dari jauh.

Ibu Elvita mengakui bahwa dengan fasilitas teknologi, meski anaknya tinggal jauh tapi masih bisa berkomunikasi terus. Jadi ini harus selalu disyukuri. Sebelum kondisi pandemi, Ibu Elvita bisa mengunjungi anak-anaknya setidaknya setahun sekali, namun beberapa tahun terakhir belum bisa saling mengunjungi. Menurutnya yang terpenting adalah kita sebagai orangtua harus selalu ada untuk anak-anak, mau jauh maupun dekat dengan bantuan komunikasi digital.

Untuk komunitas social support group, menurut Ibu Yenni ia tidak punya komunitas khusus, tetapi ia memiliki teman-teman yang bisa curhat bareng seperti ‘Kenapa sih anak kita kalau mau ketemu harus izin partnernya?’.

Dan setelah curhat jadi menyadari bahwa sekarang harus legowo karena dulu ternyata kita seperti itu juga. Pada akhirnya harus disadari kalau semua hal adalah titipan, termasuk anak-anak. Lalu ia juga jadi menyibukkan diri dengan banyak membaca, karena ia suka sekali membaca. 

Bagi Ibu Elvita, ia berusaha untuk tidak larut dalam perasaan tersebut. Ia kini banyak bekerja dengan masyarakat sehingga kini ia bisa lebih all out dan optimum dalam bekerja. Kini ia bekerja sebagai motivator dan konsultan. Lalu yang terpenting adalah bagaimana anak itu bahagia. Semua rasa rindu dan sedih jadi sirna saat mengetahui bahwa anak kita bahagia. Kebetulan Ibu Elvita juga punya punya komunitas Primordial sesama teman-teman usia sepuh yang sama-sama mengalami kondisi serupa.

Ibu Elvita bersama teman-teman komunitasnya suka jalan-jalan dan mengisi waktu bersama dan ini sangat membantu. Hal yang sama juga diiyakan oleh Ibu Yenni di mana ia selalu menyempatkan punya alibi untuk jalan-jalan bersama teman-temannya. Punya kesibukan yang menyenangkan sangatlah membantu dalam mengatasi kondisi empty nest ini.

Baik Ibu Yenni maupun Ibu Elvita mengiyakan bahwa kondisi empty nest ini paling berdampak pada para Ibu. Menurut Ibu Yenni, para bapak bisa jadi turut mengalami namun tidak memperlihatkan perasaan mereka. Mungkin ini karena para ibulah yang biasanya terlibat paling dekat dalam mengurusi anak-anak.

Jadi ketika anak-anak dewasa dan pergi meninggalkan rumah, rasanya mengejutkan sekali, seperti kehilangan dan bisa tiba-tiba menangis. Momen-momen kecil seperti ketika mendapati jumlah cucian tidak sebanyak biasanya, rumah yang biasanya berantakan namun sekarang rapi lebih lama tapi lebih sepi, serta tidak ada sesi sarapan bersama lagi bisa saja terasa menyedihkan. 

Ada beberapa hal yang dapat disiapkan para orangtua yang anak-anaknya sebentar lagi akan meninggalkan rumah. Menurut Ibu Elvita, yang paling penting adalah restu dan support dari kita untuk anak-anak. Sebagai orangtua, kita lepas mereka dengan restu, support dan doa buat anak-anak. Pengorbanan yang sangat luar biasa setelah membesarkan anak adalah saat kita melepas anak ketika mereka dewasa. Lalu siapkan juga mental kita dan yakinkan diri bahwa anak-anak siap dan mereka bisa bertanggung jawab dengan pilihan mereka, seperti dulu waktu kita dilepas oleh orangtua kita.

Ibu Yenni pun berpesan untuk anak-anak bahwa yang pertama, tetaplah menjaga kontak dengan orangtua. Bagi orangtua, itu terasa sangat berharga sekali. Ia teringat bahwa dulu ia hanya bisa menulis surat ke orangtuanya sampi berlembar-lembar.

Sekarang saat sudah ada telepon dan videocall, lebih mudah saling menjaga kontak saat kangen dengan anak-anak. Sekadar menelepon sudah bahagia rasanya. Untuk anak-anak yang kuliah, fokuslah belajar dulu sampai menjadi berhasil.

Menurutnya juga, anak tidaklah pernah berhutang budi kepada orangtua. Adalah kewajiban orangtua untuk menghidupi dan membesarkan anak, namun ketika mereka dewasa, tidaklah ada kewajiban untuk ‘balas budi’ menghidupi orangtua di kemudian hari. Namun bagaimana kita sebagai anak menjaga  kontak dengan orangtua adalah yang terpenting karena itulah yang diharapkan oleh orangtua.

Lebih lengkapnya, diskusi mengenai empty nest syndrome ini dapat disaksikan pada tautan berikut:

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)

(CERITA SAHABAT) Caraku Atasi Kesepian Adalah Tidak Anggap Kesepian Itu Penting

Halo Sahabat Ruanita, terima kasih telah menjadi ruang aman untuk bercerita dan memberiku kesempatan bergabung dalam program Konseling Kelompok bertema: Toxic Relationship yang lalu. Perasaanku lega, setidaknya aku bisa menyuarakan ketakutanku walau dengan suara dan tubuh bergetar.

Ternyata menyampaikan ketakutan pribadi kepada orang lain yang tidak dikenal itu membantu. Rasanya sedikit leluasa dan lega, karena mereka tidak berpikiran subyektif. Mereka menjadi orang yang netral. Mereka tidak mengenal identitas asliku begitu juga sebaliknya. Sekali lagi, terima kasih.

Ok, aku mulai dengan ini.

Namaku Wani, bukan identitas asliku. Wani dalam Bahasa Jawa artinya berani. Ya, aku memilih nama itu. Aku berani. Lebih baik seperti ini, aku nyaman seperti ini. Bercerita tanpa kalian tahu siapa sebenarnya aku.

Aku adalah seorang wanita paruh baya asal Pulau Jawa, Indonesia. Sejak 2 tahun lalu aku menikah dengan seorang pria berkewarganegaraan Jerman dan kini tinggal di Jerman. Sekarang aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang berkegiatan rumah tangga biasa tanpa seorang anak. Lantai 2 rumah mertuaku di sebuah desa yang terletak 30 menit dari kota tinggalku adalah tempatku tinggal bersama suami. Ya, kami tinggal satu rumah dengan mertuaku.

Mereka di lantai 1 dan kami di lantai 2, berbeda dapur dan kamar mandi. Seperti layaknya denah rumah susun yang terdiri dari beberapa keluarga. Kegiatan sehari-hariku adalah bangun pagi menyiapkan bekal makan siang suamiku, membersihkan rumah dan memasak. Ada kalanya aku belajar Bahasa Jerman, mencari dan mengirim lamaran pekerjaan, untuk apapun pekerjaannya.

Karena suami tidak mempunyai peluang kerja di Indonesia atau bahkan mendapatkan pekerjaan remote dan kebetulan perusahaan tempatku bekerja akhirnya gulung tikar saat pandemi Covid-19, kami putuskan untuk tinggal bersama setelah menikah di Jerman.

Kami berdua mempunyai impian menghasilkan uang bersama untuk membangun usaha dan sebuah rumah kecil di Indonesia. Kami sama-sama orang yang senang bekerja. Dulu di Indonesia aku bekerja di sebuah perusahaan retail yang terkenal.

Mudah bagiku untuk mencari pekerjaan dari relasi. Aku adalah orang yang ramah, ceria, percaya diri dan pandai pitching klien untuk suatu proyek.

Dari dulu aku terbiasa bekerja dengan dokumen-dokumen sehingga persiapan menuju Jermanku dulu menjadi biasa saja. Semakin menuju ke Jerman semakin tampak ego kami berdua. Aku menyadari tekanan yang aku dapat kebanyakan datang dari kepanikan suamiku.

Dia adalah orang yang selalu merencanakan apapun, berpikiran praktis dan sering ber-ekspektasi berlebih terhadap rencana itu. Rencana cadangannya hanya ada sampai PLAN B. Dia harus benar-benar mengusahakan PLAN A dan PLAN B dulu semaksimal mungkin. Butuh waktu agak lama untuk membuat PLAN C. Sedangkan aku? Aku selalu saja bisa mencari jalan lain menuju Roma. Hidupku terbiasa kompleks sehingga aku mampu membuat PLAN A-Z.

Tidak jarang kami bertengkar karena kami mempunyai cara berbeda dalam menyelesaikan sesuatu. Mental, tenaga, perasaan dan uang kami benar-benar diuji. Apa memang mungkin karena persiapan sebelum menikah itu memang seperti ini? Entahlah, pada saat itu kami hanya punya cinta dan kesediaan untuk hidup bersama.

Pertama kali tiba di Jerman. Aku senang dan bangga dengan diriku sendiri, apa yang aku persiapkan untuk pernikahan dan perjalanan itu akhirnya terlaksana tanpa missed sedikit pun. Ini perjalanan antar benua pertama kaliku ditambah masa awal pandemi Covid-19 yang segala sesuatunya menjadi lebih rumit. Cuaca di Jerman cocok untukku yang tidak begitu menyukai hawa panas.

Follow akun: ruanita.indonesia

Masakan Jerman sesuai dengan kemampuan memasakku yang sangat basic dan jelas tidak serumit masakan Indonesia. Hanya saja aku tetap merindukan masakan Indonesia yang kaya akan rasa. Aku tetap berusaha untuk memasak masakan Indonesia semampuku. Beruntung masih ada toko Asia di kota, bumbu instant menjadi andalan.

Sebelum tinggal di Jerman, terbayang olehku kemudahan-kemudahan yang akan datang sama seperti kemudahan yang aku dapatkan di Indonesia. Namun ternyata bayanganku salah. Ya, itu berbeda dengan di Indonesia. Aku menjadi seorang wanita yang tidak berdaya. Bahasa Jerman sebatas level A1 yang aku pelajari di Indonesia ternyata tidak cukup berguna.

Kemampuan Bahasa Inggrisku yang baik pun tak berguna karena orang di sini mengharuskan orang asing yang tinggal di Jerman untuk mampu berbahasa Jerman. Terlihat jelas di dalam syarat perpanjangan Visa Nasional yang aku miliki, pemerintah Jerman mewajibkan pasangan beda warga negara untuk mempunyai sertifikat Bahasa Jerman level B1. 

Tahun pertama banyak hal yang aku tidak mengerti. Entah karena aku memang terlalu bodoh atau karena keluarga besar suamiku tidak paham sampai mana materi A1 yang aku pelajari. Mereka tidak sabar, mereka kurang mau memahamiku dan selalu mengetukkan jarinya jika menungguku terlalu lama menjelaskan sesuatu dalam Bahasa Jerman. Aku tetap berusaha tetapi panik selalu datang setiap saat. 

Sampai detik ini dalam hidupku di Jerman, Bahasa Jerman adalah yang tersulit. Karena Bahasa adalah awal mula dari segalanya. Memahami budaya dan orangnya akan terasa gampang jika aku bisa berbahasa Jerman. Bahasa Jerman yang aku pelajari kini sampai dengan level B1.

Tapi tetap saja takut dan panik membuyarkan semuanya. Apalagi melihat ekspresi mereka yang tidak sabar menantiku menyelesaikan kalimatku. Bahasa itu akar dari komunikasi. Komunikasi adalah keahlianku semasa di Indonesia. Aku ingin bisa berbahasa Jerman dengan baik agar mereka mengerti dan memahamiku, agar aku bisa bekerja, agar aku kembali seperti aku yang dulu, aku yang dengan percaya diri menjadi diriku sendiri. Aku yang tidak perlu risau dan takut dalam melangkah.

Sejak 2 tahun lalu sampai detik ini, aku kesepian. Secara fisik tidak ada teman yang bisa diajak sekedar minum kopi bersama. Aku tinggal di desa. Tetangga enggan berteman dengan aku yang tidak pandai berbahasa Jerman ini. Dan suamiku sering tidak memperbolehkanku keluar desa ini karena dia terlalu cemas jika aku pergi sendiri. Jadi temanku hanya aku.

Oh, ada seekor anjing kecil milik ayah mertuaku. Iya, aku berbicara dengan anjing itu berbahasa Indonesia dan Jawa tentunya. Dia tidak dapat membalas omonganku tapi sepertinya dia mengerti. Dia tahu di saat aku sedang bersedih. Entah mengapa itu melegakan.

Secara mental, aku punya 7 orang sahabat yang selalu support mentalku. Empat sahabatku tinggal di Jerman tapi berbeda kota denganku, satu sahabat tinggal di Amerika dan dua sahabat di Indonesia. Mereka memberiku kekuatan untuk tetap tegar menjalani hari. Ada saja keceriaan yang mereka bagikan. Aku beruntung. Setidaknya aku masih punya teman. 

Jika kalian bertanya, mengapa aku tidak menyebut orang tuaku atau keluargaku di Indonesia sebagai penawar kesepianku. Jawabannya adalah sejak kecil aku bukan anak yang dekat dengan orang tua dan keluarga. Terlalu banyak polemik di keluargaku, saudara-saudaraku bahkan di keluarga besar ayah dan ibuku.

Pengalaman menarik dari kesepian yang aku alami di Jerman adalah  setahun pertama yang aku jalani percuma, tidak berarti, tidak bermanfaat dan depresif. Keadaan mental depresi berat karena perubahan sosial.

Ditambah lagi pandemi Covid-19, pembatasan gerak termasuk bertemu teman, kursus Bahasa Jerman tidak tatap muka (via online Zoom-meeting), dan keluarga besar suamiku yang sangat takut terhadap virus corona serta ditambah Winter Depression. Banyak sekali yang dibatasi. Aku tidak bisa bersosialisasi. Aku tidak bisa beradaptasi.

Di tahun kedua ini semua menjadi lebih baik. Ada tiket 9€, aku bisa berpergian ke mana saja. Sendiri saja. Ya, karena teman-temanku berada di kota yang berbeda, paling dekat berjarak 4 jam menggunakan kereta. Tidak apa, setidaknya aku bisa melelahkan kakiku dan menyegarkan pikiranku dengan berjalan-jalan di kota.

Tidak jarang juga aku pergi ke kota hanya untuk beli Indomie goreng di toko Asia. Lalu lanjutkan langkah ke ReWe untuk membeli secangkir kopi dingin, dan selanjutnya aku duduk di sebuah bangku dingin pada gleis arahku pulang ke desa. Menunggu datangnya kereta keloter kedua. Iini melegakan juga.

Menurutku, mengatasi kesepian adalah dengan tidak menganggap kesepian itu penting, cukup biasa saja. Aku bersyukur masih bisa merasakan kasih dari sahabat dan teman walaupun yang aku dapatkan adalah kasih virtual. Tapi setidaknya aku merasa tidak sendiri. Karena aku percaya, semua orang mempunyai masalahnya masing-masing.

Hanya saja bagaimana cara mereka memutuskan apa yang akan mereka lakukan dengan masalah itu. Bagiku, aku akan tetap gigih belajar Bahasa Jerman. Sehari minimal aku belajar 2 jam seperti membaca, mendengar percakapan dan menulis kata-kata penting. Namun entah mengapa, susah aku ingat dan terapkan. Sempat aku berpikir, apakah alam bawah sadarku menolak? 

Sepertinya memang aku belum beradaptasi dengan baik. Aku masih dalam proses beradaptasi. Aku kini hanya bisa bertahan dan menjalani apa yang aku hadapi. Mencoba mengembalikan percaya diriku, mencari solusi yang bisa dilakukan, bukan hanya berandai-andai saja. Berbicara itu mudah, melakukannya yang susah. 

Sekarang yang bisa aku atasi adalah belajar berbahasa Jerman dengan baik dan apply pekerjaan dengan kemampuan berbahasa Jermanku yang minim. Aku butuh uang untuk bisa berdiri sendiri dengan kakiku, seperti aku yang dulu yang menyenangkan. Aku yakin aku bisa. Ini semua hanya masalah waktu. Harus ada keyakinan dan harapan serta senyuman. Berubah bukan sesuatu yang buruk. Aku mau menjadi aku yang baru.

Kesepian akan selalu hadir. Dinikmati saja. Seperti perasaan bahagia yang tidak selalu hadir. Berterima kasihlah dengan dirimu sendiri, karena dia sudah mau dan mampu bertahan sejauh ini. Semua ada waktunya. Semua yang dihadapi selalu ada maksudnya.

Untuk siapapun kamu yang telah membaca ceritaku, terima kasih. Kamu tidak sendiri dalam memperjuangkan apa yang ingin kamu raih. Tersenyum dan bersyukurlah sejenak. 

Jangan lupa semangat! 🙂

Penulis: Aku Wani, tinggal di Jerman.