(CERITA SAHABAT) Aku, Pekerja Migran, dan Hak untuk Hidup yang Layak

Halo, sahabat Ruanita! Namaku Dewi Novita Sari Lubis, banyak yang memanggilku Dewi Lubis. Aku lahir di Batam dan aku merantau ke Singapura sebagai pekerja migran, sejak 2019. Sampai hari ini, aku telah bekerja dengan tiga pemberi kerja, dan kini sedang menjalani kontrak kedua di majikan ketiga. Di sela-sela bekerja, aku juga melanjutkan pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka, mengambil Ilmu Hukum. Ini seperti cita-cita masa kecil yang tidak pernah padam, sekaligus misi kemanusiaan yang ingin kujalani seumur hidup.

Bagiku, menjadi pekerja migran bukan hanya tentang bekerja dan mengirim uang ke rumah. Ini tentang bertahan, belajar, dan perlahan memahami bahwa sebagai perempuan, aku juga punya hak atas kehidupan yang layak, bermartabat, dan setara.

Pengalaman menjadi relawan dan pendamping sesama sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Singapura. Saat masih di Malaysia, banyak cerita yang datang kepadaku, mulai dari tetangga, teman kerja, hingga orang asing yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah hanya untuk bercerita dan meminta bantuan. Ada yang sekadar ingin didengarkan, sampai ada yang benar-benar terjebak dalam masalah besar.

Salah satu peristiwa paling membekas dalam hidupku adalah saat seorang teman kerja meninggal dunia di Malaysia. Rumah sakit membutuhkan data keluarga korban, sementara kami semua tidak tahu harus menghubungi siapa. Aku yang akhirnya berusaha mencari jejak keluarganya. Prosesnya rumit, melelahkan, dan penuh cerita yang sulit dijelaskan dengan logika. Pada akhirnya, orang tua korban datang ke rumahku. Ada kisah yang ambigu, nyaris seperti cerita horor. Namun, aku percaya bahwa mungkin ini jalan yang Tuhan tentukan agar aku belajar tentang empati, tanggung jawab, dan arti kemanusiaan.

Tak lama setelah itu, aku mendapat kabar duka dari seorang tetangga yang bekerja di Singapura. Kabar itu menjadi titik balik, mendorongku untuk berpindah negara dan memulai hidup baru di sini. Sejak saat itu, tanpa sadar, aku kembali berada di jalur yang sama: mendengarkan, menemani, dan membantu.

Hingga hari ini, sudah puluhan aduan yang kuterima. Tidak dengan aksi besar, tidak dengan suara lantang. Aku membantu lewat cara sederhana seperti: mengadvokasi, membimbing, dan memberi semangat lewat percakapan WhatsApp. Kadang hanya dengan kalimat pendek, tapi penuh makna: “Kamu tidak sendiri.”

Perempuan, Hak, dan Kenyataan di Lapangan

Ketertarikanku pada isu kesetaraan berangkat dari satu keyakinan sederhana: aku perempuan, dan aku berhak hidup layak. Setiap kehidupan patut dihargai dan diperjuangkan. Jika seseorang sudah rela berkorban demi orang lain, entah itu keluarga, anak, orang tua, maka mengapa ia tidak layak mendapatkan penghargaan dan kesempatan yang semestinya?

Sayangnya, kenyataan di lapangan sering kali tidak seindah teori. Banyak ucapan, janji, bahkan aturan tertulis yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin melihat penderitaan, apalagi pembatasan hak antara perempuan dan laki-laki, atau diskriminasi berdasarkan status sosial, kasta, atau label apa pun. Bagiku, semua orang setara.

Aku pernah melihat dan mendengar langsung cerita kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang dialami teman-temanku. Hal-hal semacam ini bukan cerita langka. Salah satu yang paling mengejutkanku adalah kisah tentang perbedaan upah berdasarkan gender. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan menjaga seorang nenek dengan upah 850 dolar Singapura per bulan. Ketika ia pulang dan digantikan oleh pekerja laki-laki, upahnya langsung naik sekitar 250 dolar, dengan alasan “tenaganya lebih kuat untuk mengangkat nenek”.

Aku terkejut. Tapi aku juga sadar, dalam posisi kami sebagai pekerja migran, sering kali tidak banyak yang bisa dilakukan.

Bertahan, Bersyukur, dan Tetap Kritis

Aku bersyukur, di majikan tempatku bekerja saat ini, kondisiku relatif baik. Akses komunikasi terbuka, gaji transparan, makanan layak, dan tempat istirahat memadai. Namun, ada yang sangat berarti bagiku, yakni kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Tentu ada hal-hal kecil yang menurutku seharusnya tidak terjadi, tapi aku belajar menerima satu kenyataan: hidup tidak pernah sempurna.

Bagiku, prinsip give and take penting. Tidak semua keinginan bisa terwujud persis seperti harapan. Selama hak-hak dasar terpenuhi, seperti: gaji cukup, waktu istirahat, kesempatan berkembang, maka aku merasa sudah berada di posisi yang layak. Bisa sekolah dan tetap dekat dengan keluarga saja, menurutku sudah lebih dari cukup.

Namun, bukan berarti aku menutup mata terhadap kerentanan yang dialami banyak PMI lain.

Pendidikan, Skill, dan Daya Tawar

Sebagai pekerja migran, aku melihat salah satu akar utama kerentanan upah adalah minimnya pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan. Ini menciptakan perbedaan daya saing yang sangat besar, baik antar-PMI maupun dengan pekerja dari negara lain.

Di Singapura, misalnya, pekerja migran dari Filipina yang memiliki sertifikasi caregiver bisa mendapatkan upah 700 hingga 1.500 dolar Singapura. Sementara banyak PMI baru hanya menerima 550–580 dolar. Perbedaannya terlihat jelas dari kemampuan bahasa Inggris dan cara kerja. Ini bukan soal siapa lebih rajin, tapi soal akses terhadap peningkatan kapasitas.

Status sosial juga sangat memengaruhi. Bahkan di antara sesama orang Indonesia di Singapura, perbedaan itu terasa. Mereka yang sudah lama menetap biasanya punya pekerjaan dan upah lebih baik. Dalam relasi dengan majikan, ada yang sangat manusiawi, tapi ada juga yang terang-terangan berkata, “Kamu helper, aku majikan. Kita tidak sama.”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya seperti menciptakan jarak, rasa kecil, dan ketakutan untuk bersuara.

Intimidasi yang Masih Nyata

Kesenjangan antara pekerja formal dan non-formal masih sangat terasa. Meski sering digaungkan bahwa “semua sama”, di lapangan intimidasi masih terjadi. Ada saudari yang gajinya dipotong karena masakannya dianggap tidak enak, atau karena dituduh tidak rajin. Padahal pemotongan gaji semacam itu tidak dibenarkan oleh aturan Ministry of Manpower Singapura.

Ada juga kasus ketika barang majikan rusak tanpa sebab jelas, tapi pekerja yang disalahkan. Ketidaktahuan hak membuat banyak PMI memilih diam, takut kehilangan pekerjaan.

Hukum, Negara, dan Celah yang Berbahaya

Menurut pengamatanku, Indonesia sebenarnya sudah berupaya memperjuangkan kesetaraan dan perlindungan PMI melalui undang-undang dan kebijakan. KBRI juga banyak membantu menyelesaikan kasus. Singapura sendiri punya regulasi yang kuat. Namun, selalu ada celah yang dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab, termasuk sindikat perdagangan orang atau sponsor.

Salah satu polemik besar adalah direct hire. Di Singapura, ini legal. Di Indonesia, sering dianggap bermasalah karena data PMI tidak tercatat dengan baik. Akibatnya, muncul masalah seperti potongan gaji tidak transparan, atau PMI yang tidak terlindungi secara administratif.

Aku percaya, solusi hanya bisa dicapai lewat kerja sama bilateral yang jelas, pendataan terintegrasi, dan sosialisasi masif kepada PMI dan majikan.

Dalam keterbatasanku, aku memilih satu hal: memberi keberanian. Ketika teman mengeluh gaji terlambat, aku tidak menyuruh mereka marah. Aku ajak bicara dengan sopan. Misalnya, mengirim pesan sederhana: “Mam, besok tanggal 20 ya gajiannya. Terima kasih.”

Tiga bulan terakhir, aku mendampingi dua saudari yang awalnya sangat takut. Sekarang mereka lebih berani menyampaikan hak setelah menunaikan kewajiban. Hal kecil, tapi berdampak besar.

Aku juga melihat bagaimana posisi tawar perempuan sering dilemahkan oleh relasi personal. Banyak PMI perempuan tertipu bujuk rayu pasangan, yang berujung pemecatan, penipuan, bahkan kekerasan. Ada yang membawa pasangan ke rumah majikan, ada yang diintimidasi pacar. Dari cerita-cerita ini, aku belajar satu hal: fokus pada tujuan. Bekerja, mencari nafkah, dan pulang dengan selamat.

Keterbatasan bahasa, skill, dan kepekaan terhadap lingkungan membuat perempuan semakin rentan. Karena itu, strategi terpenting adalah terus belajar.

Pesan untuk Perempuan Pekerja Migran

Aku percaya, perempuan harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Jangan takut bermimpi lebih tinggi. Kita tidak harus selamanya berada di posisi yang sama. Jika skill meningkat, beranilah melangkah ke posisi yang lebih baik. Jangan terjebak zona nyaman.

Kesetaraan bukan soal menuntut kuasa. Ini tentang hak untuk bahagia, aman, dan dihargai.

Untuk seluruh Perempuan Indonesia Pekerja Migran di Singapura dan di mana pun berada:
kalian hebat. Jalan kita tidak selalu lurus dan mulus. Tapi setiap tetes keringat adalah bukti cinta dan pengorbanan. Kalian pantas bahagia. Kejar mimpi kalian. Jangan takut belajar, jangan takut berubah. Masa lalu adalah pelajaran, dan masa depan masih bisa diperjuangkan.

Kalian bukan hanya pahlawan devisa. Kalian adalah perempuan tangguh yang layak hidup setara dan bermartabat.

Penulis: Dewi Lubis, Pekerja Migran di Singapura, Penulis, Mahasiswa Hukum di UT, Founder Komunitas FPMI-SG  (Forum Penulis Migran Indonesia Singapura), Tim Relawan Advokasi SBMI DPLN Singapura, serta Relawan Ruanita di Singapura. Dewi dapat dikontak via akun instagram dewi_lubis1.

(CERITA SAHABAT) Karena Pintu Kesempatan Bisa Terbuka Dari Mana Saja

Ilustrasi.

Tahun ini genap tujuh tahun saya tinggal di sebuah negara di utara benua Eropa. Kali pertama menginjakkan kaki di Eropa, saya datang sebagai mahasiswa untuk studi master di bidang ilmu sosial. Mengantongi beasiswa dari sebuah lembaga di Indonesia, saya memulai masa studi master ditemani oleh suami tercinta. Ya, suami ikut menemani saya setelah resign dari tempatnya bekerja dan mendapatkan pekerjaan baru yang memungkinkannya untuk remote working. Ada mimpi yang sama-sama kami bawa ke Eropa: untuk memperkaya pengalaman hidup -selagi masih muda- dan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Namun setelah di Eropa, mata kami terbuka lebih lebar bahwa mimpi tersebut tidak sekonyong-konyong hadir seperti cerita-cerita sukses yang kami baca di media sosial. Soal memperkaya pengalaman hidup, sudah pasti ya… lewat kerja keras yang harus kami lewati untuk bisa mencapai penghidupan yang lebih baik. 

Kesempatan kuliah ternyata menjadi salah satu pintu peluang membangun koneksi untuk mendapatkan pekerjaan. Dari teman kuliahlah saya mendapatkan pekerjaan part-time. Pekerjaan part time pertama saya adalah menjadi pelayan dan barista di sebuah kafe di pusat kota. Karena letak gedung kuliah hanya beda dua blok dari kafe, maka saya iyakan saja tawaran teman saya tersebut. Jadi pagi saya kuliah, siang atau sore jaga kafe. Namun saya hanya bekerja selama 1 semester saja karena di semester selanjutnya jadwal pekerjaan tersebut banyak bentrok dengan jadwal kuliah. Dengan berat hati saya relakan pekerjaan tersebut. Lagipula dengan kesibukan kuliah dan tugas kelompok, rasanya kalau ditambah bekerja jadi malah kewalahan.

Meski tak sampai setahun bekerja di kafe, namun di situlah saya melihat kenyataan bekerja di negara ini. Tantangan utama adalah kendala bahasa. Karena negara di Nordic area tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai Bahasa utama untuk komunikasi sehari-hari, maka saya harus bisa berbahasa lokal. Minimal dalam skala percakapan dulu saja, seperti untuk menjawab sapaan pengunjung, menanyakan pesanan, atau ngobrol tentang cuaca. Ini yang membuat saya mengambil mata kuliah Bahasa lokal di semester selanjutnya. Untungnya di kampus ada mata kuliah bahasa lokal tingkat A1-A2 untuk mahasiswa internasional. Kelas ini juga adalah salah satu keuntungan saya sebagai mahasiswa karena saya bahkan bisa mengambil kelas Bahasa sampai tingkat B1, gratis. Sementara pendatang jobseeker harus merogoh kocek dalam-dalam sampai ribuan kroner untuk mengambil kursus privat bahasa lokal.

Inilah kendala yang harus suami saya hadapi. Karena kami masuk ke Eropa lewat pintu yang berbeda -saya sebagai mahasiswa, suami sebagai remote worker yang juga jobseeker- maka tantangannya juga berbeda. Ibaratnya main ular tangga, status saya sebagai mahasiswa membuat starting point saya sudah menclok di anak tangga keenam atau kesepuluh, sementara suami saya betul-betul harus mulai dari nol. Kala berhadapan dengan kendala bahasa, suami saya sebagai job seeker harus membayar sendiri kelas kursus bahasa lokal. Pusing juga kalau lagi-lagi kami harus membobol tabungan dana darurat hanya untuk ikut kelas Bahasa. Apalagi setelah ada seorang teman yang bilang kalau bisa berbahasa lokal saja tidak cukup, kamu harus punya koneksi yang tepat untuk masuk di lingkungan pekerjaan yang disasar. 

Kegamangan suami saya dijawab saat ia ke perpustakaan kota dan melihat iklan kegiatan kelas språkkafe. Språkkafe adalah program kafe gratisan yang diadakan sore hari di perpustakaan kota untuk membantu para pendatang berlatih ngobrol Bahasa lokal. Akhirnya suami saya memberanikan diri datang ke språkkafe di waktu luangnya, sekalian biar tidak suntuk bekerja dari rumah saja. Di saat yang sama, suami saya hanya mengambil pekerjaan proyek berbasis Bahasa Inggris saja. Waktu saya harus berhenti kerja di kafe, owner kafe pun bertanya apakah saya punya teman yang bisa mengisi posisi saya. Akhirnya saya tawarkan suami untuk mengambil pekerjaan tersebut. Sebenarnya suami saya orangnya introvert, tetapi demi kesempatan untuk mengasah kemampuan Bahasa, diapun mengambil pekerjaan di kafe tersebut. Karena pekerjaan proyeknya membutuhkan ia untuk stand by dari pagi hingga siang, maka suami menerima shift sore sampai beres-beres tutup kafe. Kelelahan, sudah pasti.

Dua tahun menjalani studi master, akhirnya saya lulus. Optimis memasuki pasar jobseeking lokal, saya pun memasang target mimpi untuk bisa kerja di bidang yang sesuai dengan studi master saya. Lagi-lagi impian saya harus terbentur dengan kenyataan kalau… kemampuan berbahasa saya belum cukup untuk masuk ke level kompetensi praktisi di kalangan orang lokal. Di saat yang sama, saya melamar untuk beberapa program doktoral S3 karena di negara ini PhD candidate dihitung sebagai pegawai kampus (pekerja riset), bukan sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Namun lamarannya ditolak dengan berbagai alasan. Saat menghubungi supervisor yang dulu, beliau saat itu juga menyatakan belum ada dana turun untuk membuka riset baru. Antara marah karena kecewa dan tidak mau pulang karena urung menyerah, saya pun bekerja serabutan, mengambil beberapa pekerjaan part time dari mulai membersihkan rumah orang, bekerja kembali di kafe, jaga toko, serta menerima pekerjaan babysitting atau yang di sini disebut sebagai dag mamma. Pernah juga saya bekerja sebagai tour guide lepasan untuk turis mancanegara, menerima terjemahan dokumen serta menjadi penerjemah lisan. Apapun, asalkan saya bekerja dan ikut berkontribusi untuk keluarga.

Bagaimana dengan suami saya? Hidup itu seperti roda ya, kadang di atas, kadang di bawah. Suami saya yang meniti dari bawah sembari sabar membangun portfolio, membuat jejaring dan berlatih bahasa, akhirnya diterima bekerja di sebuah start-up company. Saya bangga melihat keberhasilan suami saat itu, namun dalam hati kecil saya tidak bisa 100% menerima kenyataan bahwa gelar master yang saya peroleh tidak banyak membukakan pintu setelah lulus, dan saya masih begini-begini saja. Perasaan itu membuat saya jadi seperti membenci diri sendiri. Kala itu suami saya berkata, tidak apa-apa, mungkin inilah saatnya income kami datang dari pintu yang dia buka, setelah sebelumnya datang dari pintu yang saya buka. Mungkin porsinya sedang berbeda saja, kata suami. Ah gampang kamu bilang begitu karena sekarang kamu yang sudah bekerja, kata saya getir.

Suatu hari, saya bertemu dengan salah satu senior kuliah. Mengetahui bahwa saya sedang bekerja paruh waktu sebagai babysitter, ia pun menyarankan, mengapa tidak mendaftar kerja sebagai asisten guru TK saja? Kamu sudah cukup lancar berbahasa lokal dan sudah lulus tes bahasa, kata teman saya, selain itu TK dan daycare selalu butuh guru pengganti dan asisten guru. Ia pun memberikan link ke sebuah agensi penyalur jasa asisten guru yang cukup terpercaya. Katanya lagi, kalau butuh surat referensi dengan senang hati dia akan membuatkan. Saya sebetulnya tidak terlalu yakin bisa betah mengurus anak-anak TK, tetapi dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih dari sekadar kerja serabutan, akhirnya saya coba mendaftarkan diri ke agensi tersebut.

Tidak butuh lama menunggu untuk mendapatkan panggilan dari agensi. Saya pun ditempatkan di sebuah TK yang jaraknya sekitar 30 menit naik bus dari daerah rumah kami. Oh ya, saat itu kami sudah pindah ke pinggir kota demi mendapatkan rumah sewa yang lebih murah dan bisa menabung lebih banyak. Bagaimana pekerjaan di TK? Melelahkan, tetapi anehnya menyenangkan juga. Saya jadi banyak berlatih Bahasa lokal dengan para kolega dan anak-anak TK. Setelah dua tahun menjadi guru pengganti, kepala sekolah di TK terakhir tempat saya bekerja menawarkan pekerjaan tetap sebagai asisten guru TK, dengan porsi pekerjaan 50%. Selain itu dengan menjadi pegawai tetap, saya akan diberikan kursus-kursus pedagogi untuk memperkaya pengetahuan seputar pendidikan anak usia dini. Memang jauh sekali dari bidang yang menjadi latar belakang pendidikan saya, tetapi ini adalah kesempatan yang terlalu bagus untuk dilewatkan. Selain itu, saya sudah terlalu lelah bekerja serabutan. Saya juga tidak kuat hati menghadapi stigma bahwa pendatang dari rumpun negara saya hanya cocok untuk bekerja serabutan. Kalau mau menetap for good perantauan ini, saya harus punya permanent residence, dan untuk itu saya harus memiliki pekerjaan tetap.

Sampai saat ini, saya masih bekerja sebagai asisten guru TK. Dengan kemampuan Bahasa lokal yang sudah lebih mantap, saya pun mengambil kelas pedagogi dan sertifikasi sebagai guru TK. Ada orang-orang yang mengomentari kalau sayang sekali latar belakang akademik yang saya miliki jadi tidak terpakai sebagai praktisi, tetapi bagi saya, itu sudahlah cukup menjadi bekal pembuka pintu untuk masuk ke negara ini. 

Penulis: Retno Aini Wijayanti dari pengalaman seorang teman yang tinggal di Eropa.