
Halo Sahabat Ruanita, saya Citra dan tinggal di Jerman. Saat saya masih kuliah di awal tahun 2000an saya senang sekali menonton acara talkshow Oprah dari Amerika Serikat, yang saat itu sangat terkenal. Salah satu episode yang saya ingat sampai sekarang adalah tentang hoarding, atau yang dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam pengumpul kompulsif.
Saya ingat di episode tersebut ada keluarga yang membuka diri dengan situasi di rumah mereka. Mereka menimbun barang-barang di garasi dan di rumah mereka sampai tidak ada ruang kosong untuk mereka hidup dengan nyaman. Rumah mereka pun dibersihkan oleh tim Oprah Show. Banyak barang yang dibuang, karena memang sebagian besar adalah sampah. Iya, mereka mengumpulkan “sampah” yang mereka pikir akan mereka butuhkan di masa depan atau memiliki nilai nostalgia untuk mereka, sehingga mereka berat untuk membuangnya dan akhirnya hanya tertimbun, sehingga menjadi sampah.
Menonton episode tersebut membuat saya takut. Saat itu saya termasuk orang yang menyimpan barang tidak terpakai dengan alasan nanti pasti perlu, masih belum rusak, atau sayang untuk dibuang karena ada kenangannya. Keluarga saya juga seperti itu. Dulu kami punya garasi mobil yang cukup besar, setengahnya habis untuk barang-barang yang disimpan oleh orang tua saya. Mungkin isinya sepeda rusak, peralatan tukang, spare part mobil, dan sebagainya. Semua tersimpan di dalam plastik dan diselimuti debu. Setelah rumah kami direnovasi, gudang tersebut hilang dan banyak juga barang yang dibuang. Barang yang masih ada pindah ke rak terbuka di halaman belakang.
Di dalam rumah kami juga tidak berbeda. Di rumah kami punya dua gudang. Gudang pertama di dapur yang isinya peralatan dapur yan tidak pernah dipakai. Dulu kami punya mesin cuci piring yang kami hanya pakai beberapa kali karena memakan banyak listrik dan air. Selama bertahun-tahun mesin itu ada di gudang tidak terpakai. Gudang kedua adalah kamar yang sebelumnya digunakan untuk asisten rumah tangga (ART) kami. Sejak kami tidak punya ART, ibu saya menjadikan kamar tersebut untuk gudang untuk kasur lipat, lemari isi seprai, dan sebagainya.
Saya khawatir sekali saya atau keluarga saya akan berakhir menjadi pengumpul kompulsif seperti di episode Oprah Show. Kondisi rumah kami tidak penuh seperti tipikal rumah orang dengan hoarding disorder, hanya di beberapa tempat barang-barang menumpuk dan kami tidak menimbun sampah atau barang rusak. Saat itu saya kost di luar kota, saya punya beberapa botol krim muka yang sudah hampir kosong tapi masih saya simpan di meja saya. Alasannya adalah sayang untuk dibuang. Botol-botol tersebut masih ada isinya walau hanya sedikit dan masih bisa dipakai nanti. Setelah menonton Oprah Show, saya langsung buang semua botol hampir kosong itu. Berat sekali di hati, tapi dari pada saya berakhir menjadi hoarder.
Tidak hanya itu, saya juga mulai memilah barang-barang di kamar saya dan membuang yang tidak perlu, walau ada pikiran “nanti pasti butuh”. Ah, biar saja. Di lain pihak, di rumah saya sedikit banyak tidak berubah, karena saya tidak bisa begitu saya membuang barang-barang tanpa izin orang tua saya. Belakangan saya baru sadar, ibu dan ayah saya memiliki sifat yang sama tapi hampir mirip.
Ayah saya suka mengumpulkan barang yang beliau pikir masih akan dipakai, karena barang-barang di gudang garasi memang barang beliau. Ibu saya rapi, walau “hobi” menyimpan barang yang masih bisa dipakai sehari-hari, seperti peralatan masak dan peralatan makan. Beliau juga sering mengeluarkan pakaian, tas, dan sepatu untuk diberikan kepada keluarga. Di rumah kami semua barang ada, walau tidak pernah dipakai. Saya pernah berpikir, kalau saya menikah dan pindah rumah nanti, saya tidak perlu beli panci dan piring lagi, karena tinggal bawa punya ibu yang menumpuk di rumah.
Saat ayah saya meninggal dunia 10 tahun lalu, ibu saya banyak membuang barang-barang yang beliau kumpulkan selama hidupnya. Rak terbuka di halaman belakang semakin menyusut isinya. Di dalam rumah kami juga gudang semakin sedikit isinya setelah banyak barang yang dibuang. Barang-barang pribadi ayah juga banyak dibuang, walau sebenarnya sedih sekali harus berpisah dengan barang-barang yang mengingatkan pada beliau. Akhirnya saya hanya menyimpan dua kemeja beliau yang saya bawa ke Jerman. Barang-barang tersebut juga bukan hanya disimpan, tapi juga sering saya kenakan. Buku harian dan beberapa barang pribadi beliau juga disimpan oleh ibu dan adik saya, sedangkan sisanya dibuang dan disumbangkan.
Sejak beberapa tahun terakhir ini saya hidup lebih ramah lingkungan. Saya menonton di Youtube video-video tentang hidup frugal dan minimalis, juga cara untuk merapihkan rumah, walau itu bukan menjadi gaya hidup saya sekarang. Dari sana saya belajar cara untuk tidak belanja secara kompulsif, walau memang ada juga saat di mana saya belanja kompulsif. Jika ingin membeli barang, saya pikirkan dulu selama sebulan. Saya pikirkan alasan untuk membeli barang, apakah penting, dan apakah saya punya barang serupa yang tidak saya pakai. Sering kali pada akhirnya saya tidak jadi beli. Saya tidak mau memungkiri, kadang juga ada waktu saya beli spontan.
Baru-baru ini saya spontan membeli satu tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Berbulan-bulan saya menahan diri untuk tidak beli tumbler, karena saya sudah punya dua tumbler stainless steel dan dua plastik, dan akhirnya gagal karena melihat tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Sebulan setelah membeli saya medapatkan tumbler baru dari sahabat saya saat saya pulang ke Indonesia. Karena punya dua barang baru, maka saya mengeluarkan satu tumbler plastik yang memang sudah lama tidak dipakai. Jujur saja, saya menyesal membeli tumbler karakter karena desain barangnya tidak ergonomis. Untuk tidak kembali menumpuk barang, saya akali dengan menggunakan tumbler baru di rumah dan tumbler lama di tempat kerja. Pengalaman ini mengingatkan kembali untuk tidak kompulsif belanja, tapi memang harus teliti dan memikirkan baik-baik, jangan sampai malah hanya akan menumpuk di lemari.
Sejujurnya, mengeluarkan barang tidak mudah bagi saya. Sering kali saya sudah mengumpulkan barang-barang yang ingin saya keluarkan, tapi barang-barang tersebut malah diam berminggu-minggu di tempat yang sama karena masih ragu untuk “membuangnya”, atau bingung mau disumbangkan atau dijual. Pernah juga mereka kembali ke tempat sebelumnya, karena saya punya alasan untuk tetap menyimpannya. Memang jika mau mengeluarkan barang harus cepat dilakukan. Jika ditunda-tunda bisa jadi barang-barang itu malah kembali ke tempatnya. Sering juga saya merasa menyesal setelah membuang barang, tapi karena barangnya sudah tidak ada, saya tidak bisa apa-apa. Itu masih lebih bagus daripada barangnya menumpuk di rumah.
Orang Jerman mempunyai kebudayaan menggunakan ulang barang bekas orang lain yang masih bisa dipakai, bisa dengan menjual atau menghadiahkannya lewat website-website khusus. Cara tradisional adalah meletakan barang tersebut di pintu masuk gedung apartemen atau pinggir jalan. Cara terakhir ini yang sering saya gunakan kalau ingin cepat membuang barang.
Sebenarnya saya lebih senang menjual barang-barang tersebut agar bisa dapat sedikit uang kembali. Sayangnya bisa perlu waktu lama sampai menemukan orang yang tertarik untuk membeli. Saya pernah memasukan iklan sepatu boots winter beberapa kali di sebuah website, sayangnya tidak dapat pembeli dan sepatu tersebut bertahun-tahun masih harus ada di rak sepatu saya. Akhirnya dua bulan lalu saya sumbangkan lewat kotak sumbangan tekstil dan sepatu yang ada di supermarket dekat rumah saya. Bertahun-tahun saya menyimpan sepatu yang tidak bisa saya pakai hanya karena saya mau dapat uang dari menjualnya kembali, akhirnya malah saya sumbangkan juga demi kedamaian di kepala dan hati saya.
Tahun ini saya banyak sekali mengeluarkan barang. Setiap kepala saya terasa “penuh” saya mulai merapihkan setiap sudut apartemen saya dan juga mengeluarkan barang-barang yang saya tidak butuh atau tidak lagi disukai, dari kulkas kecil, sepatu, syal, sampai pulpen, dan klip kertas. Rasanya kepala sedikit kosong, saat apartemen kosong sedikit. Sebagian besar barang tersebut saya berikan ke orang agar mereka cepat keluar dari apartemen saya. Karena pengalaman-pengalaman tersebut, saya sekarang mikir-mikir lagi untuk membeli barang, karena kalau nanti tidak dipakai atau tidak disukai lagi, saya berarti harus merelakan uangnya terbang begitu saja. Apakah saya mau?
Sampai sekarang saya masih punya barang-barang yang harusnya dibuang tapi masih disimpan karena sayang atau nanti akan dipakai. Biasanya untuk menyortir barang, saya mengingat-ingat kapan terakhir menggunakan barang tersebut. Jika barang tersebut sering saya gunakan, bisa saya simpan. Jika sudah lama tidak, maka harus saya keluarkan. Saya pernah lihat tips menyortir barang, yaitu menulis catatan tanggal saat terakhir menggunakannya. Jika lebih dari satu bulan tidak diüakai, maka barang itu harus keluar. Saya tidak menggunakan teknik tersebut, hanya mengingat-ingat kapan terakhir dipakai. Tulisan ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali menyortir barang untuk dikeluarkan dari rumah, terutama barang-barang yang sudah lama atau bahkan tidak pernah dipakai sejak beli.
Saya bersyukur saya menonton episode hoarding disorder di Oprah Show itu. Jika tidak, mungkin saat ini saya menyimpan banyak barang dan apartemen saya menjadi lebih penuh dari sekarang. Ayo, kita sama-sama menyortir barang di rumah, dari pada menjadi sampah.
Penulis: Citra, tinggal di Jerman.




