(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(KNOWLEDGE SHARING) Mengenal Teknik Kesadaran dalam Kehidupan Sehari-hari Melalui ReAttach Method

Dublin, 14 Maret – Peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi momentum penting bagi Ruanita Indonesia untuk menyelenggarakan berbagai ruang digital untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman perempuan. Salah satunya, melalui komunitas praktisi kesehatan mental Indonesia di mancanegara, Ruanita menggelar program Knowledge Sharing yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif ini diikuti oleh para peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi kesehatan mental, pekerja sosial, hingga individu yang memiliki minat pada isu kesehatan mental dan pengembangan diri. Dalam paparannya, Mystica Rosa menyoroti pentingnya memahami kesehatan mental secara holistik, tidak hanya sebagai persoalan psikologis individu, tetapi juga sebagai pengalaman yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, dan dinamika kehidupan modern.

Salah satu materi penting yang disampaikan dalam sesi ini adalah mengenai pendekatan multidisipliner dalam intervensi ReAttach. Dalam presentasinya dijelaskan bahwa intervensi ReAttach bertujuan untuk mengoptimalkan proses pengolahan informasi (information processing) serta mendukung perkembangan individu secara menyeluruh. Pendekatan ini menekankan bahwa proses pemulihan psikologis sering kali bersifat kompleks sehingga membutuhkan strategi terapi yang tidak hanya berfokus pada satu aspek saja.

Melalui pendekatan multidisipliner tersebut, seorang terapis diharapkan mampu menjalankan beberapa fungsi sekaligus dalam proses terapi. Hal ini meliputi kemampuan untuk mengatur tingkat arousal atau aktivasi emosi klien, mengaktifkan berbagai proses sensorik, melatih keterampilan kognitif sosial, serta membantu penyesuaian pola pikir kognitif yang lebih adaptif. Pendekatan ini bertujuan membantu individu memproses pengalaman secara lebih terstruktur sehingga mendukung keseimbangan emosi, perilaku, dan cara berpikir.

Materi ini juga memberikan gambaran bagaimana pendekatan terapi modern semakin mengintegrasikan aspek neurologis, psikologis, dan sosial dalam proses intervensi. Mystica Rosa menekankan bahwa pendekatan seperti ReAttach menunjukkan pentingnya fleksibilitas dan kreativitas terapis dalam membantu klien mengembangkan kapasitas diri, terutama dalam menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks di era global saat ini.

Selain pemaparan materi, sesi ini juga memberikan ruang diskusi yang aktif. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta merefleksikan tantangan yang sering dihadapi dalam praktik kesehatan mental, khususnya bagi komunitas Indonesia yang tinggal di luar negeri. Diskusi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan akan ruang dialog yang aman dan suportif semakin relevan di tengah kompleksitas kehidupan global saat ini.

Atmosfer pertemuan berlangsung hangat dan reflektif. Banyak peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan profesional, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan antarpraktisi dan orang Indonesia yang memiliki perhatian pada isu kesehatan mental.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(CERITA SAHABAT) Dibuang Jangan, Disimpan Jadi Sampah

Halo Sahabat Ruanita, saya Citra dan tinggal di Jerman. Saat saya masih kuliah di awal tahun 2000an saya senang sekali menonton acara talkshow Oprah dari Amerika Serikat, yang saat itu sangat terkenal. Salah satu episode yang saya ingat sampai sekarang adalah tentang hoarding, atau yang dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam pengumpul kompulsif. 

Saya ingat di episode tersebut ada keluarga yang membuka diri dengan situasi di rumah mereka. Mereka menimbun barang-barang di garasi dan di rumah mereka sampai tidak ada ruang kosong untuk mereka hidup dengan nyaman. Rumah mereka pun dibersihkan oleh tim Oprah Show. Banyak barang yang dibuang, karena memang sebagian besar adalah sampah. Iya, mereka mengumpulkan “sampah” yang mereka pikir akan mereka butuhkan di masa depan atau memiliki nilai nostalgia untuk mereka, sehingga mereka berat untuk membuangnya dan akhirnya hanya tertimbun, sehingga menjadi sampah.

Menonton episode tersebut membuat saya takut. Saat itu saya termasuk orang yang menyimpan barang tidak terpakai dengan alasan nanti pasti perlu, masih belum rusak, atau sayang untuk dibuang karena ada kenangannya. Keluarga saya juga seperti itu. Dulu kami punya garasi mobil yang cukup besar, setengahnya habis untuk barang-barang yang disimpan oleh orang tua saya. Mungkin isinya sepeda rusak, peralatan tukang, spare part mobil, dan sebagainya. Semua tersimpan di dalam plastik dan diselimuti debu. Setelah rumah kami direnovasi, gudang tersebut hilang dan banyak juga barang yang dibuang. Barang yang masih ada pindah ke rak terbuka di halaman belakang.

Di dalam rumah kami juga tidak berbeda. Di rumah kami punya dua gudang. Gudang pertama di dapur yang isinya peralatan dapur yan tidak pernah dipakai. Dulu kami punya mesin cuci piring yang kami hanya pakai beberapa kali karena memakan banyak listrik dan air. Selama bertahun-tahun mesin itu ada di gudang tidak terpakai. Gudang kedua adalah kamar yang sebelumnya digunakan untuk asisten rumah tangga (ART) kami. Sejak kami tidak punya ART, ibu saya menjadikan kamar tersebut untuk gudang untuk kasur lipat, lemari isi seprai, dan sebagainya.

Saya khawatir sekali saya atau keluarga saya akan berakhir menjadi pengumpul kompulsif seperti di episode Oprah Show. Kondisi rumah kami tidak penuh seperti tipikal rumah orang dengan hoarding disorder, hanya di beberapa tempat barang-barang menumpuk dan kami tidak menimbun sampah atau barang rusak.  Saat itu saya kost di luar kota, saya punya beberapa botol krim muka yang sudah hampir kosong tapi masih saya simpan di meja saya. Alasannya adalah sayang untuk dibuang. Botol-botol tersebut masih ada isinya walau hanya sedikit dan masih bisa dipakai nanti. Setelah menonton Oprah Show, saya langsung buang semua botol hampir kosong itu. Berat sekali di hati, tapi dari pada saya berakhir menjadi hoarder.

Tidak hanya itu, saya juga mulai memilah barang-barang di kamar saya dan membuang yang tidak perlu, walau ada pikiran “nanti pasti butuh”. Ah, biar saja. Di lain pihak, di rumah saya sedikit banyak tidak berubah, karena saya tidak bisa begitu saya membuang barang-barang tanpa izin orang tua saya. Belakangan saya baru sadar, ibu dan ayah saya memiliki sifat yang sama tapi hampir mirip. 

Ayah saya suka mengumpulkan barang yang beliau pikir masih akan dipakai, karena barang-barang di gudang garasi memang barang beliau. Ibu saya rapi, walau “hobi” menyimpan barang yang masih bisa dipakai sehari-hari, seperti peralatan masak dan peralatan makan. Beliau juga sering mengeluarkan pakaian, tas, dan sepatu untuk diberikan kepada keluarga. Di rumah kami semua barang ada, walau tidak pernah dipakai. Saya pernah berpikir, kalau saya menikah dan pindah rumah nanti, saya tidak perlu beli panci dan piring lagi, karena tinggal bawa punya ibu yang menumpuk di rumah.

Saat ayah saya meninggal dunia 10 tahun lalu, ibu saya banyak membuang barang-barang yang beliau kumpulkan selama hidupnya. Rak terbuka di halaman belakang semakin menyusut isinya. Di dalam rumah kami juga gudang semakin sedikit isinya setelah banyak barang yang dibuang. Barang-barang pribadi ayah juga banyak dibuang, walau sebenarnya sedih sekali harus berpisah dengan barang-barang yang mengingatkan pada beliau. Akhirnya saya hanya menyimpan dua kemeja beliau yang saya bawa ke Jerman. Barang-barang tersebut juga bukan hanya disimpan, tapi juga sering saya kenakan. Buku harian dan beberapa barang pribadi beliau juga disimpan oleh ibu dan adik saya, sedangkan sisanya dibuang dan disumbangkan.

Sejak beberapa tahun terakhir ini saya hidup lebih ramah lingkungan. Saya menonton di Youtube video-video tentang hidup frugal dan minimalis, juga cara untuk merapihkan rumah, walau itu bukan menjadi gaya hidup saya sekarang. Dari sana saya belajar cara untuk tidak belanja secara kompulsif, walau memang ada juga saat di mana saya belanja kompulsif. Jika ingin membeli barang, saya pikirkan dulu selama sebulan. Saya pikirkan alasan untuk membeli barang, apakah penting, dan apakah saya punya barang serupa yang tidak saya pakai. Sering kali pada akhirnya saya tidak jadi beli. Saya tidak mau memungkiri, kadang juga ada waktu saya beli spontan. 

Baru-baru ini saya spontan membeli satu tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Berbulan-bulan saya menahan diri untuk tidak beli tumbler, karena saya sudah punya dua tumbler stainless steel dan dua plastik, dan akhirnya gagal karena melihat tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Sebulan setelah membeli saya medapatkan tumbler baru dari sahabat saya saat saya pulang ke Indonesia. Karena punya dua barang baru, maka saya mengeluarkan satu tumbler plastik yang memang sudah lama tidak dipakai. Jujur saja, saya menyesal membeli tumbler karakter karena desain barangnya tidak ergonomis. Untuk tidak kembali menumpuk barang, saya akali dengan menggunakan tumbler baru di rumah dan tumbler lama di tempat kerja. Pengalaman ini mengingatkan kembali untuk tidak kompulsif belanja, tapi memang harus teliti dan memikirkan baik-baik, jangan sampai malah hanya akan menumpuk di lemari.

Sejujurnya, mengeluarkan barang tidak mudah bagi saya. Sering kali saya sudah mengumpulkan barang-barang yang ingin saya keluarkan, tapi barang-barang tersebut malah diam berminggu-minggu di tempat yang sama karena masih ragu untuk “membuangnya”, atau bingung mau disumbangkan atau dijual. Pernah juga mereka kembali ke tempat sebelumnya, karena saya punya alasan untuk tetap menyimpannya. Memang jika mau mengeluarkan barang harus cepat dilakukan. Jika ditunda-tunda bisa jadi barang-barang itu malah kembali ke tempatnya. Sering juga saya merasa menyesal setelah membuang barang, tapi karena barangnya sudah tidak ada, saya tidak bisa apa-apa. Itu masih lebih bagus daripada barangnya menumpuk di rumah.

Orang Jerman mempunyai kebudayaan menggunakan ulang barang bekas orang lain yang masih bisa dipakai, bisa dengan menjual atau menghadiahkannya lewat website-website khusus. Cara tradisional adalah meletakan barang tersebut di pintu masuk gedung apartemen atau pinggir jalan. Cara terakhir ini yang sering saya gunakan kalau ingin cepat membuang barang. 

Sebenarnya saya lebih senang menjual barang-barang tersebut agar bisa dapat sedikit uang kembali. Sayangnya bisa perlu waktu lama sampai menemukan orang yang tertarik untuk membeli. Saya pernah memasukan iklan sepatu boots winter beberapa kali di sebuah website, sayangnya tidak dapat pembeli dan sepatu tersebut bertahun-tahun masih harus ada di rak sepatu saya. Akhirnya dua bulan lalu saya sumbangkan lewat kotak sumbangan tekstil dan sepatu yang ada di supermarket dekat rumah saya. Bertahun-tahun saya menyimpan sepatu yang tidak bisa saya pakai hanya karena saya mau dapat uang dari menjualnya kembali, akhirnya malah saya sumbangkan juga demi kedamaian di kepala dan hati saya. 

Tahun ini saya banyak sekali mengeluarkan barang. Setiap kepala saya terasa “penuh” saya mulai merapihkan setiap sudut apartemen saya dan juga mengeluarkan barang-barang yang saya tidak butuh atau tidak lagi disukai, dari kulkas kecil, sepatu, syal, sampai pulpen, dan klip kertas. Rasanya kepala sedikit kosong, saat apartemen kosong sedikit. Sebagian besar barang tersebut saya berikan ke orang agar mereka cepat keluar dari apartemen saya. Karena pengalaman-pengalaman tersebut, saya sekarang mikir-mikir lagi untuk membeli barang, karena kalau nanti tidak dipakai atau tidak disukai lagi, saya berarti harus merelakan uangnya terbang begitu saja. Apakah saya mau?

Sampai sekarang saya masih punya barang-barang yang harusnya dibuang tapi masih disimpan karena sayang atau nanti akan dipakai. Biasanya untuk menyortir barang, saya mengingat-ingat kapan terakhir menggunakan barang tersebut. Jika barang tersebut sering saya gunakan, bisa saya simpan. Jika sudah lama tidak, maka harus saya keluarkan. Saya pernah lihat tips menyortir barang, yaitu menulis catatan tanggal saat terakhir menggunakannya. Jika lebih dari satu bulan tidak diüakai, maka barang itu harus keluar. Saya tidak menggunakan teknik tersebut, hanya mengingat-ingat kapan terakhir dipakai. Tulisan ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali menyortir barang untuk dikeluarkan dari rumah, terutama barang-barang yang sudah lama atau bahkan tidak pernah dipakai sejak beli.

Saya bersyukur saya menonton episode hoarding disorder di Oprah Show itu. Jika tidak, mungkin saat ini saya menyimpan banyak barang dan apartemen saya menjadi lebih penuh dari sekarang. Ayo, kita sama-sama menyortir barang di rumah, dari pada menjadi sampah.

Penulis: Citra, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Saya Lelah Menjadi People Pleaser

You can always say no when you don’t want to”, itu adalah kalimat yang sangat sering diucapkan mertua saya kepada saya. Awalnya kalimat tersebut tidak berarti apapun kepada saya. Namun beberapa tahun belakangan ini kalimat tersebut menjadi sesuatu yang sangat sering muncul di kepala saya, ketika melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan. 

Hai, saya A WNI yang saat ini tinggal di Jerman and yes I am a people pleaser, not proud of that but it is what it is. 

Saya adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga ibu saya. Sebagai anak dan cucu pertama tanpa saya sadari saya adalah role model untuk adik-adik sekaligus sepupu-sepupu saya. Sejak kecil secara tidak langsung saya dituntut menjadi anak yang baik, harus bersikap baik, sopan terhadap orang tua, menyayangi adik-adik serta sepupu-sepupu saya, selalu harus mengalah, harus memiliki nilai akademis yang baik, dan masih banyak lagi.

Saya harus selalu mengikuti atau menuruti semua perkataan keluarga saya dan terkadang mengorbankan banyak hal untuk menyenangkan mereka. 

Sejak kecil hingga menginjak usia 30 tahun, saya tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut, namun tanpa saya sadari saya tumbuh menjadi seorang pembohong.

Meskipun sering saya jadikan bahan candaan dengan suami saya, kalau saya adalah pembohong yang tidak akan masuk neraka karena berbohong untuk kebaikan, tetapi berbohong tetap hal yang tidak baik untuk dilakukan.

Follow us @ruanita.indonesia

Menjadi people pleaser membuat saya bahkan sering berbohong kepada diri saya sendiri, bahkan terkadang kepada orang lain. Menjadi people pleaser  seringkali membuat saya tidak menjadi diri sendiri di hadapan orang lain.

Saya sangat sulit untuk berkata tidak, hal ini membuat saya menjadi kewalahan dalam menjalani kehidupan saya, terutama ketika saya bekerja dan harus selalu melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh atasan saya. Saya kemudian menjadi orang yang sering menggerutu dan pemarah hingga sering menyalahkan diri saya sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan. 

People pleaser sering menemukan kebahagiaan orang lain sebagai sumber kebahagiaan mereka, sehingga membuat mereka sangat sulit menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Setelah pindah ke Jerman, saya menyadari kalau ternyata kalimat yang sering diucapkan mertua saya itu sangatlah penting, that’s how human should function, know your limit

Saat ini tentu saja saya masih sering menemukan kebahagiaan saya di dalam kebahagiaan orang lain. Namun setelah bertahun-tahun, saya akhirnya bisa secara perlahan-lahan menjadi seseorang yang lebih jujur dalam mengambil keputusan.

Saya mencoba lebih rasional dalam mengambil keputusan dan menjadi lebih bijak untuk mengartikulasikan alasan saya ketika saya harus mengatakan tidak kepada seseorang. Tidak mudah bagi saya yang besar dalam kebudayaan timur yang sangat kental untuk secara lantang mengatakan tidak atau menolak seseorang, terutama orang terdekat saya.  

Menurut saya, menjadi people pleaser bukanlah hal yang sehat. Kita bisa tetap menjadi seseorang yang baik tanpa harus menyenangkan orang lain, karena tentu saja definisi baik menurut tiap orang akan berbeda-beda.

Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti membuat kita menjadi orang yang jahat dan tidak sopan, tetapi  kita hanya perlu mengetahui kapasitas diri kita dan membatasi hal-hal apa saja yang mampu kita lakukan dan tidak mampu kita lakukan. 

Saya rasa menjelaskan dengan baik kepada seseorang tentang penolakan dengan alasan yang logis dan tulus akan lebih baik dibandingkan kita berbohong untuk menghindari melakukan penolakan. At the end of the day, you create your own happiness, therefore it’s better to find it within yourself. 

Penulis: A tinggal di Jerman. 

(SIARAN BERITA) Kesehatan Mental: Wajib Tahu, Bukan Tabu

SWEDIA – Akhir-akhir ini isu kesehatan mental mulai ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Beberapa orang terkenal, khususnya dari Indonesia mulai membuka diri dengan bercerita tentang gangguan kesehatan mental yang mereka alami.

Respon dari masyarakat beragam, banyak yang mengutarakan dukungannya, namun banyak juga yang menyangkal dan beranggapan gangguan mental adalah bukti kurangnya iman.

Padahal kesehatan mental erat kaitannya dengan faktor genetis, perubahan hormon, dan/atau situasi hidup, misalkan disebabkan oleh pandemi yang sudah berlangsung tiga tahun ini.

Stigma sosial dan juga kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental membuat banyak penderitanya memilih untuk menyembunyikan diri dan tidak menerima pengobatan atau terapi yang dibutuhkan.

Hambatan lain bagi kesembuhan gangguan mental adalah sulit ditemukannya layanan kesehatan mental (ahli profesional dan rumah sakit) yang terjangkau, baik secara jarak dan biaya.

Para WNI yang tinggal di luar Indonesia, khususnya di Eropa, mungkin lebih beruntung. Akses yang mudah ke layanan kesehatan mental dan minimnya stigma membuat gangguan kesehatan mental lebih cepat ditangani oleh ahlinya.

Walau begitu, banyak dari mereka yang memilih untuk tetap merahasiakan tentang gangguan mentalnya dari teman-teman dan keluarganya sambil tetap menerima pengobatan yang mereka perlukan, padahal teman dan keluarga merupakan dukungan sosial yang sangat mereka butuhkan untuk sembuh.

Rumah Aman Kita (RUANITA) selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia yang aktif mempromosikan isu kesehatan mental bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) menggelar diskusi virtual bertema kesehatan mental untuk memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022 yang jatuh pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya.

Diskusi virtual dengan judul „Kesehatan Mental: Wajib Tahu, bukan Tabu“ ini didukung sepenuhnya oleh KBRI Stockholm, Swedia. Acara akan berlangsung melalui kanal Zoom pada hari Minggu, 09 Oktober 2022, pukul 15.00-17.00 WIB (10.00-12.00 CEST).

Acara diskusi virtual ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun dan bisa dihadiri tanpa pendaftaran dengan mengakses tautan Zoom: bit.ly/webinar-ruanita-sis. Diskusi virtual ini akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Swedia dan Latvia, Kamapradipta Isnomo.

Follow us ruanita.indonesia

Acara akan dipandu oleh moderator Christophora Nismaya (relawan Ruanita dan mahasiswa Indonesia di Jerman), sedangkan narasumber-narasumber acara ini adalah Iwa Mulyana selaku Protokoler Konsuler KBRI Stockholm, Estrelita Gracia konselor cross-cultural trauma founder Momentaizing di Taiwan, Isabel Nielsen selaku konsultan asuransi kesehatan di Swedia, dan Jessika mahasiswa di Swedia.

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk membagi pengalaman mengakses layanan kesehatan mental bagi WNI yang berada di luar negeri, terutama Swedia, negara yang terkenal memiliki layanan terbaik di dunia bagi orang dengan gangguan mental.

Kedua, memberikan edukasi yang benar dan tepat tentang kesehatan mental untuk mematahkan stigma yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Ketiga, untuk mendorong pemerintah Indonesia lewat perwakilannya di mancanegara untuk memberikan layanan kesehatan mental bagi warga Indonesia di luar negeri. 

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental dan kesetaraan gender serta berbagi praktik baik nggal di luar Indonesia. 

Informasi: Mariska Ajeng, tinggal di Jerman (email: info@ruanita.com)

Rekaman acaranya bisa disimak sebagai berikut:

Tolong Subscribe kami ya.

(MATERI INFORMASI) Pentingnya “Self-Care” Untuk Kesehatan Mental

Hidup dan tinggal di luar Indonesia bukan hal yang mudah. Kita perlu beradaptasi mengikuti budaya dari negara yang kita tempati. Terkadang kita merasa stress mengejar tuntutan hidup sebagai mahasiswa, karyawan atau penduduk yang tinggal di negeri perantauan.

Saat kita berupaya memenuhi ambisi tinggal dan hidup di tanah perantauan, sadarkah kita bahwa kita lupa akan diri sendiri? Kita memikirkan tentang bagaimana bisa bertahan hidup di negeri orang. Kita memikirkan tentang keluarga yang kita tinggalkan di Indonesia. Namun kita tidak memikirkan diri sendiri. Kita lupa bahwa kita perlu meluangkan waktu juga untuk diri sendiri.

Self-care itu perlu dilakukan setidaknya satu kali dalam seminggu. Self-care berarti kita menyediakan waktu untuk diri sendiri, bersikap relax dan menepikan diri dari kesibukan yang menyita waktu kita selama ini. Self-care penting sebagai nutrisi tubuh, pikiran dan jiwa kita agar menyadari bahwa kita begitu berharga sebagai pribadi.

1. Emotional Self-Care

Adalah aktivitas yang membantu kita lebih rileks, tenang dan mengelola suasana hati menjadi lebih baik seperti menulis jurnal, bermain musik, melukis, menari, dll.

Membuat jurnal pribadi misalnya perlu dilakukan agar kita bisa menyadari rasa syukur atas hidup yang terlewati. Bagaimana pun bersyukur itu perlu dilakukan, tetapi kadang kita lupa mendokumentasikan. Menuliskannya akan membantu kita mengingat hal-hal yang kita syukuri dan sudah berlalu.

2. Social Self-Care

Adalah aktivitas yang membuat kita terhubung dengan orang lain dalam kehidupan kita seperti makan bersama keluarga, mengunjungi oma-opa atau rehat dari media sosial.

Media sosial bisa bermanfaat tetapi juga bisa menjadi mudarat. Sesekali detox media sosial akan membuat kita lebih tenang dan menemukan kenyataan yang sesungguhnya.

3. Physical Self-Care

Aktivitas yang membuat tubuh kita bergerak sehat seperti berkebun, berjalan, bersepeda, berkemah, bermain dengan binatang peliharaan, dll.

Bergerak tidak hanya membuat kita lebih sehat, tetapi membuat kita menyadari bahwa hidup itu tidak membosankan. Temukan pengalaman menyenangkan dari aktivitas yang kita lakukan.

4. Mental Self-Care

Aktivitas yang meransang kerja dan fungsi otak seperti membaca buku, pergi ke museum, bermain games, menonton dll.

Membaca buku misalnya bukan hanya meningkatkan pengetahuan saja, tetapi meningkatkan kesadaran diri terhadap apa yang dibacanya dengan realita kehidupan yang dihadapinya.

5. Spiritual Self-Care

Aktivitas yang meningkatkan aspek spiritualitas hidup kita sehingga kita menjadi lebih bersemangat seperti meditasi, yoga, ikut kelompok ibadah, mendengarkan lagu rohani dll.

Kebutuhan spiritualitas diperlukan untuk mengurangi tension dan beban yang kita hadapi. Aktivitas ini bisa dilakukan secara berkelompok atau secara pribadi. Sesuaikan dengan minat atau kebutuhan kita. Dengan demikian kita sadar bahwa segalanya baik-baik saja.

Dari kelima hal di atas, kita perlu juga meluangkan waktu sejenak dari rutinitas di depan komputer atau meja kerja setelah bekerja. Dengarkan suara di sekitar atau hiruplah udara sekitar. Terakhir, perhatikan pula pola tidur agar jiwa raga kita pun tetap sehat.

Butuh teman konseling, kirimkan ke konseling@ruanita.com.