(SIARAN BERITA) APPBIPA Jerman dan Ruanita Gelar Diskusi Daring Hari Bahasa Ibu Internasional

JERMAN, 21 Februari 2025 – Hari Bahasa Ibu Internasional merupakan momentum penting untuk menghargai bahasa pertama yang dikenalkan sejak lahir—bahasa yang tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga fondasi dalam membangun identitas pribadi, sosial, dan budaya. Bahasa ibu membuka pintu bagi pemahaman nilai-nilai lokal, kearifan tradisional, serta perspektif unik suatu komunitas. 

Di era globalisasi, pemahaman mendalam terhadap bahasa ibu turut memudahkan pembelajaran bahasa lain, mengenal budaya baru, dan memperkuat koneksi lintas budaya. Melalui pelestarian dan promosi bahasa ibu, termasuk Bahasa Indonesia, diharapkan dapat memperkaya keberagaman global sekaligus mengukuhkan identitas bangsa.

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari sebagai penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya di dunia, APPBIPA (Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) Jerman bekerja sama dengan Ruanita Indonesia mengadakan diskusi online dengan tema “Bahasa Ibu Sebagai Pintu ke Keberagaman Dunia.”

Acara ini diadakan sebagai upaya menegaskan peran bahasa ibu dalam pembentukan identitas, komunikasi lintas budaya, dan sebagai gerbang untuk memahami dunia yang lebih luas. Selain itu, acara diskusi daring ini sebagai upaya untuk meningkatkan promosi Bahasa Indonesia di kancah global, melalui peran APPBIPA Jerman. Lewat acara ini, kepengurusan baru APPBIPA Jerman periode 2024-2029 pun diperkenalkan. 

Diskusi daring dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Februari 2025 pukul 19.00 – 21.00 secara terbuka kepada siapa saja yang tertarik tentang Indonesia dan Bahasa Indonesia. Dalam diskusi daring ini, Atdikbud KBRI Berlin, Roniyus Marjunus, turut hadir dan menyampaikan dukungannya terhadap pentingnya bahasa Ibu di mana pun berada.

Beliau menegaskan bahwa bahasa Ibu bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan identitas yang memperkuat eksistensi bangsa. Selain itu, bahasa Ibu memainkan peran penting dalam diplomasi budaya, yang dapat mempererat hubungan antarbangsa melalui pemahaman dan penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya.

Ada pun sesi pertama dimulai dengan pemaparan materi, yang disampaikan oleh Desiree Luhulima, Pendidik dan Penulis Buku, sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Finlandia. Beliau memaparkan materi tentang Bahasa Ibu sebagai gerbang dunia. 

Menurut Desiree Luhulima, Relawan Ruanita di Finlandia sekaligus pakar pendidikan dan penulis buku Wujudkan Anak Bahagia: Pra-Pendidikan Dasar Metode Finlandia, “Bahasa Ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi utama dalam membangun pemahaman dunia. Melalui Bahasa Ibu, anak-anak memperoleh keterampilan berpikir kritis, memahami konsep-konsep kompleks, dan mengembangkan identitas yang kuat. Tanpa penguasaan yang baik terhadap Bahasa Ibu, proses belajar bahasa lain dan ilmu pengetahuan dapat terhambat. Oleh karena itu, melestarikan dan memperkuat penggunaan Bahasa Ibu menjadi langkah krusial dalam mempersiapkan generasi mendatang yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar budaya mereka.”

Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh Chatarina Maria, yang merupakan pengurus APPBIPA Jerman dengan materi mengenai peran BIPA di kancah internasional. Bahasa Ibu memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya, meningkatkan prestasi akademik, serta menjadi alat diplomasi yang memperkuat posisi bangsa di kancah internasional. Program BIPA berkembang pesat dengan kehadiran di 54 negara, namun masih menghadapi tantangan dalam kualitas pengajaran, aksesibilitas, dan daya saing global dibandingkan bahasa asing lainnya​.

Untuk memperkaya wawasan yang disampaikan oleh pemateri, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada pemateri dan peserta yang hadir. APPBIPA Jerman dan Ruanita Indonesia berharap bahwa diskusi daring ini dapat menjadi wadah dialog yang konstruktif dan inspiratif. Melalui partisipasi bersama, diharapkan akan terbangun sinergi yang lebih kuat antar pegiat bahasa dan budaya, serta semakin mengukuhkan eksistensi Bahasa Indonesia di kancah internasional.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, sila kontak panitia penyelenggara  melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Pemutaran Perdana Film Dokumenter “Dua Kali” dan Diskusi Bertema Kesehatan Mental

Hamburg, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, RUANITA Indonesia bekerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg akan menyelenggarakan acara Pemutaran Perdana dan Diskusi Film “Dua Kali”.

Acara ini akan berlangsung pada Sabtu, 12 Oktober 2024 bertempat di Aula KJRI Hamburg, mulai pukul 13:30 hingga 16:00 CEST.

Film “Dua Kali”, yang diproduksi secara sukarela oleh relawan RUANITA, mengangkat isu-isu seputar kesehatan mental yang masih dianggap tabu dalam banyak masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri dan menghadapi tantangan terkait kesehatan mental.

Melalui film ini, RUANITA berharap dapat mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan mental, serta membangun solidaritas bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.

Acara ini terdiri dari dua sesi utama, yakni pemutaran film dan diskusi mendalam bersama para ahli dan pembuat film. Aulia Farsi, psychiatric nurse di Jerman, dan Andi Arieta Amata Umar, Ketua PPI Hamburg, akan hadir sebagai penanggap dalam diskusi.

Selain itu, Ullil Azmi, sutradara film, serta Mariska Ajeng Harini, koordinator proyek film, juga akan berbagi pandangan mengenai proses produksi dan tujuan film ini.

Melalui acara ini, RUANITA berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia di Jerman tentang pentingnya kesehatan mental, sekaligus menyediakan ruang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman hidup di perantauan.

RUANITA juga berkomitmen untuk terus mendukung komunitas Indonesia di luar negeri dalam mengatasi tantangan kesehatan mental melalui pendekatan berbasis nilai dan sistem dukungan sosial.

RUANITA – Rumah Aman Kita, adalah komunitas digital yang memberikan dukungan dan psikoedukasi kepada perempuan Indonesia di mancanegara, dengan fokus pada kesetaraan gender, kesehatan mental, dan berbagi praktik hidup yang positif di luar negeri.

Melalui program diskusi dan menonton film bertema kesehatan mental ini, RUANITA berharap bisa mendorong lebih banyak percakapan terbuka tentang kesehatan mental dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia mengenai sistem layanan kesehatan mental di luar negeri, khususnya di Jerman.

Untuk informasi lebih lanjut atau pendaftaran, silakan kunjungi situs web kami di www.ruanita.com atau hubungi kami di info@ruanita.com.

(GALERI FOTO) Diskusi Offline dengan PPI Hamburg dan KJRI Hamburg

Dalam rangka memperkuat kerja sama program pemberdayaan warga Indonesia di Hamburg, RUANITA mengadakan diskusi tatap muka dengan sejumlah volunteer di Hamburg yang tergabung dalam DIG Hamburg, IKAT Agentur, dan PPI Hamburg. Acara ini dimaksudkan untuk mendiskusikan program awal yang melibatkan warga Indonesia di Hamburg untuk meningkatkan kapasitas diri dan wawasan selama tinggal di luar negeri.

Follow us: @ruanita.indonesia

Pada hari Senin (3/7) lalu, RUANITA juga berhasil mengadakan diskusi tatap muka dengan Konjen dan Staf KJRI Hamburg untuk memperkuat kerja sama dalam perlindungan warga Indonesia, terutama kelompok rentan di Hamburg. Diskusi ini mendapatkan respon yang positif untuk menindaklanjuti program yang berkelanjutan sebagai mitra pemerintah Indonesia di luar negeri.

(SIARAN BERITA) Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Diaspora di Jerman Gelar Webinar

JERMAN – PPI Kiel bekerja sama dengan RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar acara webinar bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual (KPS) yang diadakan secara daring pada Minggu, 10 Oktober 2021 dan diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Jerman, Belanda, Swiss, Spanyol, Swedia dan tentunya dari Indonesia.

Acara ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari KJRI Hamburg seperti yang disampaikan oleh Konjen RI untuk Hamburg Ardian Wicaksono. Dalam sambutan resminya, Ardian mengatakan bahwa WNI tidak perlu ragu lagi untuk menghubungi Perwakilan Pemerintah Indonesia di luar Indonesia bilamana mendapatkan masalah seperti kekerasan dan pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan lain sebagainya.

Perwakilan Pemerintah RI di luar Indonesia seperti KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg telah memiliki regulasi yang terstandar untuk melindungi WNI. Selain itu, Ardian mengapresiasi inisiasi dari komunitas diaspora seperti RUANITA – Rumah Aman Kita dan PPI Kiel yang telah menyiapkan acara webinar ini dengan baik.

KJRI Hamburg memberi perhatian penuh terhadap penanganan kasus yang dihadapi WNI di luar Indonesia. Aidil Khairunsyah menjelaskan langkah strategis perlindungan WNI yang mencakup tiga tahap yakni (1). Pencegahan melalui diseminasi informasi, kerja sama dengan berbagai pihak dan pemberdayaan masyarakat; (2). Deteksi Dini melalui pengembangan data base berbasis IT, penyediaan hotline pengaduan dan sinkronisasi data; (3). Perlindungan Cepat dan Tepat melalui penyediaan shelter, pemberian bantuan hukum dan psikologis hingga repatriasi. Aidil berharap WNI di luar Indonesia bisa lebih tanggap dan tidak segan untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka.

Ada pun acara webinar ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh tiap tanggal 10 Oktober. Acara ini mendapatkan simpati dari peserta yang sebagian besar para pelajar/mahasiswa yang studi di Jerman dan di Indonesia.

Mahasiswa yang sedang studi S2 jurusan Psikologi di Universitas di Kiel sekaligus moderator, Firman Martua Tambunan mengatakan bahwa isu ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan sehingga informasi dan pengetahuan yang beredar di masyarakat belum tentu benar. Firman menegaskan mitos-mitos seperti masalah kekerasan dan pelecehan seksual hanya terjadi pada perempuan saja, itu tidak benar. Dia berpendapat kekerasan dan pelecehan seksual dapat terjadi pada siapa saja dan berbagai kalangan usia.

Senada yang disampaikan Firman, Livia Istania DF Iskandar selaku Wakil Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI turut menjadi pembicara dalam webinar ini. Dia berpendapat bahwa masyarakat perlu menghargai sisi korban dan saksi yang mengalami kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

Menurut Livia, tidak banyak korban dan saksi yang memahami hak-hak mereka dan pemahaman hukum yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan seksual. Webinar ini diharapkan dapat menginformasikan tidak hanya sisi psikologis saja, tetapi juga sisi hukum yang tidak banyak diketahui masyarakat.

Berkaitan dengan sisi psikologis, Ika Putri Dewi selaku Psikolog dari Yayasan Pulih Indonesia berpendapat ada tiga aspek penting untuk memahami kekerasan dan pelecehan seksual, antara lain aspek ketimpangan gender, aspek kapasitas/kemampuan dari pelaku kepada korban dan aspek relasi antara pelaku dengan korban.

Masyarakat perlu juga memahami dampak psikologis korban yang berkepanjangan sehingga kita tidak menyalahkan korban dan melaporkan pelaku kepada pihak yang berwajib.

Acara webinar berlangsung selama dua jam lebih dan ditutup tanya jawab yang diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Bagaimana pun kasus kekerasan dan pelecehan seksual bak gunung es yang tak tampak di permukaan. RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada isu kesehatan mental, psikoedukasi dan berbagi praktik baik tinggal di luar Indonesia.

Ibarat rumah, RUANITA menjadi wadah yang aman untuk berbagi pengalaman, cerita, ilmu dan pengetahuan yang dianggap tabu dan tersembunyi untuk diketahui dan dipahami.

Siaran ulang webinar ini bisa disaksikan dalam video berikut:

(DISKUSI ONLINE) Ada Apa dengan KPS?

WHO dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan mewabah di tiap negara dan budaya seperti pandemi.

Jika dunia sekarang meredam laju penyebaran virus yang disebabkan pandemi Covid-19, lalu bagaimana dengan kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan?

Setidaknya 1 dari 3 perempuan secara global pernah mengalami pengalaman buruk sebagai korban kekerasan dan pelecehan seksual.

Secara global 7% perempuan telah diserang secara seksual oleh orang lain selain pasangan hidupnya. Selain itu, 38% pembunuhan terhadap perempuan secara global dilakukan oleh orang terdekatnya.

Seperti halnya perempuan, laki-laki juga mengalami kekerasan dan pelecehan seksual dengan bentuk yang berbeda.

Laki-laki biasanya enggan melaporkan kekerasan seksual yang dialaminya dikarenakan malu, takut, rasa bersalah hingga stigma.

Follow kami: ruanita.indonesia

Karena kurangnya pelaporan kekerasan seksual dan sedikit bukti sehingga muncul keyakinan kekerasan seksual hanya masalah perempuan saja.

Laki-laki, perempuan dan siapa saja bisa menjadi korban kekerasan seksual. Kita harus mencegahnya demi pembangunan manusia yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Fenomena sosial ini menjadi landasan mengapa RUANITA bersama PPI Kiel menyelenggarakan Webinar bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual ini.

Webinar ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari KJRI Hamburg agar persoalan sosial ini bisa teratasi. Tidak hanya masalah sosial saja, aduan dari masyarakat juga memperlihatkan gangguan psikologis dan traumatis yang perlu ditangani secara psikologis.

Kajian keilmuan mengenai kekerasan dan pelecehan seksual dari ilmu perilaku akan dibahas tuntas oleh Psikolog dari Yayasan PULIH di Indonesia, yang ahli dan kompeten menangani kasus serupa.

Selain itu, kita akan mendegarkan topik Kebijakan Perlindungan Hukum terhadap Korban/Saksi yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual yang disampaikan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban – LPSK RI.

Acara ditutup dari pemaparan standar hukum perlindungan WNI di luar negeri yang dibawakan oleh KJRI Hamburg.

Para peserta yang diharapkan hadir adalah warga Indonesia yang bermukim di Eropa dan mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Jerman serta Eropa sekitarnya.

Webinar ini pastinya terbuka untuk umum agar meningkatkan kesadaran diri tentang pentingnya pencegahan Kekerasan dan Pelecehan Seksual.

Pada dasarnya, kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi di ranah privat, tetapi juga ranah publik. Kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Pun kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan saja.

Catat waktunya, Minggu 10 Oktober 2021 yang bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia dan pendaftaran dibuka untuk umum via https://bit.ly/RUANITA_PPIKIEL atau formulir di link yang ditautkan.