(SIARAN BERITA) Perawat Indonesia Berbagi Pengalaman dan Praktik Baik di Tingkat Global

Banjarbaru, Kalimantan Selatan – Dalam rangka memperingati Hari Perawat Sedunia (International Nurses Day), Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berkolaborasi dengan Institut Kesehatan Suaka Insan menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Global Nurse Migration: Opportunity, Protection, and Ethics” atau “Perawat Indonesia di Panggung Global: Pengalaman, Etika, dan Kesehatan Mental.”

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa keperawatan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Acara dibuka oleh Ketua DPK PPNI Rumah Sakit Suaka Insan, Sutikno Ners., M.Kes.; Rektor IKES Suaka Insan, Sr. Imelda Ingir, PhD; Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Sesilia Susi.

Diskusi ini menghadirkan para perawat Indonesia yang telah berkarier di berbagai negara, seperti Denmark, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab, serta akademisi keperawatan di Taiwan. Para narasumber berbagi pengalaman langsung terkait praktik kerja di luar negeri, tantangan adaptasi, hingga pembelajaran yang mereka dapatkan selama berkarier secara global.

Dalam diskusi ini, dibahas bagaimana kebutuhan tenaga perawat dunia yang terus meningkat membuka peluang besar bagi perawat Indonesia. Dengan jumlah tenaga keperawatan yang cukup besar, Indonesia memiliki potensi strategis untuk berkontribusi di tingkat global.

Follow us

Namun demikian, para pembicara menekankan bahwa migrasi perawat tidak hanya berbicara tentang peluang ekonomi, tetapi juga kesiapan kompetensi, pemahaman etika, serta perlindungan hukum. Peserta diajak untuk melihat migrasi sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan, di mana pengalaman internasional dapat menjadi bekal untuk memperkuat sistem kesehatan di Indonesia.

Selain peluang karier, isu perlindungan dan etika menjadi sorotan utama dalam diskusi. Para narasumber mengangkat berbagai tantangan yang sering dihadapi perawat di luar negeri, seperti perbedaan budaya kerja, hambatan komunikasi, hingga tekanan psikologis.

Kesehatan mental perawat menjadi topik penting yang dibahas secara terbuka. Para pembicara membagikan pengalaman dalam menghadapi culture shock, beban kerja, serta cara menjaga keseimbangan emosional di lingkungan kerja yang baru. Diskusi ini juga menekankan pentingnya dukungan sistem, baik dari institusi pendidikan, organisasi profesi, maupun lingkungan kerja, untuk membantu perawat tetap sehat secara mental dan profesional.

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pemaparan materi, sharing pengalaman, serta sesi tanya jawab interaktif yang berlangsung aktif. Peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga kesempatan untuk berdialog langsung dengan para narasumber. Selain itu, kegiatan ini turut menjadi ruang untuk memperkuat jejaring antarperawat dan calon tenaga kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.

Melalui kegiatan ini, Anna Knöbl sebagai penyelenggara berharap para perawat Indonesia semakin siap menghadapi tantangan global dengan bekal kompetensi, pemahaman etika, serta ketahanan mental yang lebih baik. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa perawat tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem kesehatan global yang terus berkembang.

Simak rekaman diskusi daring peringatan Hari Perawat Internasional di Kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Bagaimana Meditasi Bisa Jadi Kebiasaan Sederhana?

Mindfulness Practice telah terbukti membantu dalam meningkatkan kesehatan jiwa dan raga, salah satunya kebiasaan sederhana meditasi. Apakah meditasi hanya berkaitan dengan ajaran agama tertentu? Apakah mindfulness practice hanya untuk kalangan orang kaya? Bagaimana cara membangun kebiasaan baik meditasi dalam kehidupan sehari-hari? Apa tantangan membangun kebiasaan baik meditasi ini dalam hidup sehari-hari?

Untuk membahas lebih dalam lewat program diskusi IG Live, Ruanita Indonesia mengudang sahabat Ruanita yang tinggal di Taiwan dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan saran tentang kebiasaan meditasi yang sudah mereka lakukan. Mereka adalah Nikita Nazhira, yang adalah Reiki Master dan wiraswasta yang sedang menetap di Taiwan dan Maria Frani Ayu, yang adalah perawat kesehatan jiwa yang aktif menulis masalah kesehatan mental di Indonesia.

Membangun kebiasaan meditasi dalam kehidupan sehari-hari memang bukan hal yang simpel. Hal ini diakui oleh Nazhira setelah dia memulainya sejak empat tahun lalu. Saat itu, Nazhira sedang hamil anak pertama ketika dia mengalami kecemasan untuk menghadapi kehamilan seorang diri. Nazhira pun mengakui manfaatnya setelah menjalani kebiasaan meditasi rutin, terutama berpengaruh pada proses melahirkan untuk lebih tenang dan rileks.

Ayu menuturkan bahwa orang banyak beranggapan meditasi terkait pratik agama tertentu, tetapi sebenarnya meditasi itu baik untuk kesehatan jiwa raga. Pada akhirnya, meditasi ini menjadi konsep lintas agama dan gaya hidup orang-orang moderen yang memiliki banyak tantangan. Bahkan meditasi dianjurkan untuk dilakukan setiap hari karena sangat bermanfaat untuk mereduksi stres.

Tidak hanya meditasi yang sulit dipraktikkan setiap hari, banyak kebiasaan baik memang sulit untuk dilakukan tanpa disertai niat dan konsistensi. Demikian penuturan Nazhira. Nazhira menambahkan ada banyak cara membangun kebiasaan baik ini, mulai dari gratis hingga berbayar. Nazhira sendiri membuka kelas meditasi yang ditawarkan mulai dari harga IDR 500 ribu rupiah.

Apa yang membedakan mindfulness practice dan meditasi? Ayu menegaskan dua hal berbeda untuk istilah tersebut, tetapi ketika digabung maka dua istilah tersebut menjadi kuat untuk dipraktikkan. Ayu juga menegaskan betapa sulitnya untuk dipraktikkan bagi mereka yang sedang mengalami gangguan kecemasan. Ayu pun menjelaskan bagaimana menghindari monkey minds saat meditasi.

Simak selengkapnya diskusi IG Live tersebut di kanal YouTube kami dan jangan lupa pastikan untuk SUBSCRIBE ya