(SIARAN BERITA) PMI Perempuan di Singapura Unjuk Karya Lewat Buku Narasi Hidup PMI Perempuan

Singapura, 13 Desember – Peluncuran buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura telah sukses diselenggarakan secara daring. Kegiatan ini mempertemukan pekerja migran Indonesia (PMI), pegiat literasi, penulis, serta berbagai pemangku kepentingan dari Singapura dan sejumlah negara penempatan lainnya dalam semangat merayakan karya literasi para PMI. Acara yang digagas oleh Ruanita Indonesia ini merupakan tindak lanjut peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 dalam bentuk Workshop Daring Menulis.

Acara dibuka oleh moderator, Reka Monica, salah satu penulis buku sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Singapura, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, tamu undangan, penulis, dan peserta yang telah hadir secara virtual. Dalam acara ini, KBRI Singapura juga mengawali dengan pemantik diskusi oleh Rina Komaria, selaku Pelaksana Fungsi Protkons/PWNI KBRI Singapura. Beliau menyampaikan apresiasi atas lahirnya buku tersebut sebagai bukti bahwa pekerja migran Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam sektor ekonomi, tetapi juga mampu menghasilkan karya intelektual dan literasi yang menginspirasi. Melalui acara ini, Ruanita Indonesia, menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan perempuan Indonesia, termasuk melalui penguatan budaya literasi di kalangan pekerja migran.

Prosesi peluncuran buku menjadi puncak acara. Buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura merupakan kumpulan tulisan para pekerja migran Indonesia yang merekam pengalaman, perjuangan, harapan, serta refleksi kehidupan selama berada di negeri rantau. Kehadiran buku ini diharapkan menjadi inspirasi sekaligus dokumentasi perjalanan para PMI yang memiliki semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Nor Ismah, fasilitator Workshop Daring Menulis PMI Perempuan di Singapura, yang mengulas pentingnya menulis sebagai sarana pemberdayaan diri, dokumentasi pengalaman, dan media menyuarakan kisah para pekerja migran kepada masyarakat luas.

Dalam kesempatan yang sama, Indah, salah satu penulis buku, berbagi pengalaman mengenai proses kreatif menulis dan perjalanan hingga naskahnya menjadi bagian dari buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura. Kisah tersebut memberikan motivasi kepada peserta bahwa siapa pun dapat memulai menulis dari pengalaman hidup yang sederhana namun bermakna. Diikuti juga sharing pengalaman Dewi N.S. Lubis selaku Koordinator Tim Buku dan founder FPMI Singapura yang juga menegaskan pentingnya mendokumentasikan pengalaman hidup sebagai PMI lewat literasi. Buku ini menjadi buku ketiga dari karya FPMI yang senantiasa produktif menghasilkan buah tangan PMI di Singapura.

Diskusi semakin kaya melalui tanggapan dari Fajar, Founder GANAS Community (Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas Taiwan). Ia mengapresiasi terbitnya buku tersebut sebagai bentuk keberanian para pekerja migran dalam mendokumentasikan pengalaman hidup mereka. Menurutnya, karya-karya seperti ini mampu memperkuat solidaritas antarkomunitas pekerja migran Indonesia di berbagai negara sekaligus memperluas perspektif masyarakat terhadap kehidupan para PMI.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan oleh peserta yang mengikuti kegiatan secara daring dari Singapura maupun negara penempatan lainnya. Diskusi berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai proses menulis, pentingnya membangun budaya literasi di kalangan pekerja migran, serta upaya menjaga keberlanjutan gerakan menulis bagi PMI.

Melalui peluncuran buku ini, Forum Penulis Migran Indonesia (FPMI) Singapura bersama Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berharap semakin banyak pekerja migran Indonesia terdorong untuk mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan harapan mereka dalam bentuk tulisan. Literasi diharapkan menjadi ruang pemberdayaan yang mampu memperkuat kapasitas diri sekaligus menghadirkan narasi positif mengenai kontribusi pekerja migran Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber, penulis, peserta, dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya peluncuran buku secara daring. Semangat yang terbangun sepanjang kegiatan diharapkan menjadi awal dari lahirnya lebih banyak karya literasi dari tangan para pekerja migran Indonesia di berbagai belahan dunia.

Rekaman acara dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Workshop Daring Menulis PMI Perempuan: Dorong Suara Perempuan Migran Lewat Tulisan

Singapura, Mei 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia, Ruanita Indonesia dan komunitas FPMI di Singapura menyelenggarakan kegiatan Workshop Daring Menulis bertajuk “From Zero to Hero: Bersuara Lewat Tulisan untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) Perempuan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 3, 10, dan 17 Mei 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Workshop ini bertujuan untuk menyediakan ruang aman dan produktif bagi PMI perempuan untuk mendokumentasikan pengalaman hidup mereka di perantauan melalui tulisan, sekaligus memperkuat kapasitas literasi sebagai bagian dari upaya advokasi dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, yang dihadiri oleh Maradona A Runtukahu, Koordinator Protokol dan Kekonsuleran, dan Komnas Perempuan sebagai lembaga nasional yang fokus pada perlindungan perempuan.

Dalam sesi pembukaan, perwakilan KBRI Singapura menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas dan ruang ekspresi bagi PMI, khususnya perempuan, sebagai bagian dari upaya penguatan perlindungan dan pemberdayaan. KBRI Singapura juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di Singapura.

Sementara itu, Komnas Perempuan, yang diwakili oleh Komisioner Devi Rahayu, menyoroti pentingnya perspektif perlindungan berbasis gender dalam konteks migrasi tenaga kerja. Dalam paparannya, Komnas Perempuan menekankan bahwa pengalaman perempuan migran tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga mencakup isu kerentanan, kekerasan berbasis gender, serta pentingnya akses terhadap keadilan dan perlindungan yang komprehensif.

Workshop ini menghadirkan pemateri pertama Dr. Nor Ismah, PostDoctoral Fellow di Asian Research Institute National University of Singapore (NUS) yang memberikan pelatihan teknis menulis dan storytelling berbasis pengalaman. Pemateri kedua adalah Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau, Germany yang menyampaikan pentingnya narasi dalam mendokumentasikan pengalaman hidup.

Melalui rangkaian workshop selama 3 kali pertemuan, peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga akan mendapatkan pendampingan (mentoring) hingga menghasilkan karya tulisan yang akan dihimpun dalam sebuah buku bersama sebagai output akhir kegiatan. Program ini juga membuka ruang jejaring (networking) antar PMI perempuan, serta memberikan sertifikat elektronik bagi peserta.

Selain itu, kegiatan dimoderasi oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura dan Founder komunitas penulis migran. Acara ini juga menghadirkan sesi diskusi, refleksi, dan mentoring penulisan yang diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunitas penulis PMI perempuan, sekaligus memperkuat suara dan narasi perempuan migran Indonesia di ruang publik.