(SIARAN BERITA) Seminar Daring Hari UMKM Internasional 2026

Jakarta, 27 Juni 2026 — Dalam rangka memperingati Hari UMKM Internasional, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi daring bertajuk “Dari Nol ke Global, Cara Jitu Berwirausaha” pada Sabtu, 27 Juni 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber perempuan Indonesia yang memiliki pengalaman dan praktik baik dalam mengelola kewirausahaan di mancanegara.

Kegiatan diikuti oleh pelaku UMKM, perempuan wirausaha, akademisi, dan masyarakat umum di mana saja yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai penyusunan business plan, proses perizinan usaha di luar negeri, serta strategi membangun usaha di tingkat global.

Koordinator penyelenggara sekaligus moderator kegiatan, Griska Gunara, menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia kewirausahaan internasional apabila diberikan akses pengetahuan, jejaring, dan inspirasi yang tepat.

“Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik perempuan Indonesia di berbagai negara agar semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha hingga tingkat global,” ujar Griska Gunara.

Acara dibuka dengan motivasi dari Griska sendiri yang pernah menjadi pelaku usaha saat masih di Indonesia dulu. Dia berharap acara ini mendorong siapa saja dapat memanfaatkan keterampilan kejuruan dan teknologi digital sebagai bekal membangun usaha kreatif dan inovatif.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sisi akademisi, Novy Anggaraini, PhD Student di Hungaria dan dosen ekonomi di Indonesia, menjelaskan pentingnya business plan sebagai fondasi dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Ia juga menekankan perlunya adaptasi budaya bisnis dan penguatan kompetensi kewirausahaan bagi perempuan Indonesia yang ingin mengembangkan usaha di luar negeri.

Sementara itu, Winda Sulistiawati, perempuan wirausaha di Austria, berbagi pengalaman mengenai proses penyusunan business plan, pengajuan izin usaha, serta tantangan membangun usaha kuliner di Eropa, umumnya dan Austria, khususnya. Pada sesi berikutnya, Dewi Maya, perempuan wirausaha di Amerika Serikat dan owner brand tas “Dewi Maya”, memaparkan strategi pemasaran dan legalisasi usaha di Amerika Serikat.

Diskusi juga menghadirkan praktisi Dwi Kuntari, yang telah melakukan ekspor impor dengan brand Jamu Deka. Dia membagikan pengalaman dalam mengelola usaha “Jamu Deka” serta tantangan ekspor produk lokal Indonesia ke pasar internasional, seperti Italia.

Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab interaktif yang membahas peluang usaha global, tantangan adaptasi budaya bisnis, hingga strategi pemasaran digital untuk UMKM. Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk memulai usaha, memperluas jejaring kolaborasi, dan mengembangkan bisnis hingga tingkat internasional.

Anna Knöbl ingin memperkuat jaringan perempuan yang tertarik berwirausaha untuk membuat networking berkelanjutan yang saling mendukung lewat ruang digital yang diinisasi Ruanita Indonesia. Di masa berikutnya, Ruanita Indonesia akan membuat Networking para perempuan Indonesia di mana saja untuk bisa belajar satu sama lain dalam kewirausahaan.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perempuan Migran dan Globalisasi Inklusif bersama Ruanita Indonesia

Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan program bulanan yang dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebuah platform yang berkomitmen pada penguatan kapasitas dan advokasi bagi perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks peran dan perjuangan mereka di berbagai bidang kehidupan.

Pada edisi bulan Desember 2025 ini, CSS hadir dalam format istimewa untuk memperingati Hari Migran Internasional, dengan menghadirkan Novy Anggraini, seorang dosen sekaligus kandidat doktoral di Doctoral School of Economic and Regional Science, Matei University, Hungaria.

Lewat sesi berbagi ini, Novy tidak hanya membagikan kisah pribadinya sebagai perempuan Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, namun juga menggambarkan kompleksitas, tantangan, serta peluang yang bisa diraih oleh perempuan migran dalam lanskap global saat ini.

Dalam perkenalannya, Novy menegaskan pentingnya pendidikan sebagai pintu masuk bagi perempuan untuk mengambil peran lebih luas di tingkat global. Keputusannya memilih Hungaria sebagai tempat studi bukan hanya karena faktor beasiswa, tapi juga karena posisi strategis negara tersebut di kawasan Eropa Tengah serta reputasinya dalam menghasilkan pemikir dan ilmuwan berkelas dunia.

Di lingkungan akademik Hungaria, Novy merasa dihargai sebagai perempuan. Ia menggambarkan suasana diskusi akademik yang inklusif, tanpa diskriminasi, di mana semua mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan, termasuk dalam forum-forum internasional seperti konferensi ilmiah.

Dalam sesi Cerita Sahabat Spesial ini, Novy mengajak peserta untuk melihat globalisasi dari dua sisi. Di satu sisi, globalisasi membuka akses yang lebih luas bagi perempuan Indonesia untuk mengembangkan diri, belajar, dan bekerja lintas batas negara. Namun di sisi lain, globalisasi juga menuntut kesiapan, terutama dari segi soft skill dan kemampuan bahasa asing.

“Selain bahasa Inggris, minimal ada satu bahasa asing lagi yang harus dikuasai,” tegasnya. Ia mendorong perempuan Indonesia untuk melakukan riset mendalam sebelum memutuskan merantau.

Hal-hal penting seperti jenis pekerjaan yang banyak dibutuhkan di negara tujuan, keterampilan yang dibutuhkan, dan kebijakan lokal terhadap pekerja migran wajib diketahui sejak awal.

Pengalaman Novy sebagai migran perempuan membawanya memahami langsung bagaimana sistem sosial dan hukum di negara lain bisa memberikan perlindungan yang layak bagi perempuan.

Follow us

Ia mencontohkan sistem cuti hamil di Hungaria yang bisa mencapai tiga tahun, dan selama masa tersebut, perusahaan tetap wajib membayar gaji. “Kalau tidak, perusahaan bisa dituntut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Novy juga mengungkap bahwa sistem pajak di Hungaria memberikan keuntungan bagi perempuan, terutama mereka yang berstatus ibu tunggal, termasuk dalam hal tax refund. Yang menarik, hak-hak ini diberikan tidak hanya kepada warga lokal, tetapi juga berlaku untuk migran.

Meski banyak regulasi yang mendukung, Novy menekankan pentingnya keberadaan wadah atau pusat bantuan di negara-negara tujuan migrasi untuk perempuan-perempuan migran Indonesia.

Ia menilai bahwa banyak perempuan migran mengalami tekanan emosional atau tantangan hukum, dan tidak tahu harus ke mana mencari bantuan.

Ia mengusulkan agar pemerintah Indonesia, melalui kerja sama bilateral maupun perwakilan di luar negeri, bisa menyediakan legal consultant atau lembaga advokasi yang secara khusus menangani isu-isu perempuan migran.

“Kita butuh tempat curhat, tempat konsultasi, dan juga pelatihan sebelum diberangkatkan,” tuturnya.

Sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Novy juga berbagi tentang bagaimana ia melihat peran institusi pendidikan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi tantangan dunia kerja.

Ia menyambut baik kebijakan kampus dan Dikti yang kini mulai mewajibkan magang dan kerja praktik. Baginya, langkah ini sangat strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang diajarkan di kampus dengan realitas lapangan.

“Mahasiswa harus dihadapkan pada dunia nyata sejak awal. Mereka harus tahu bagaimana kerja tim, bagaimana menghadapi konflik, dan bagaimana menyelesaikan masalah,” kata Novy.

Menutup sesi CSS, Novy memberikan pesan kuat kepada seluruh perempuan Indonesia yang bercita-cita membangun karier di luar negeri. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan emosional, bukan hanya teknis.

Perempuan harus tahu apa yang mereka inginkan, menetapkan prioritas, dan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup sebelum mengambil langkah besar sebagai pekerja, pelajar, atau profesional di luar negeri.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memperkuat support system sesama perempuan. Baik di dalam negeri maupun di negara tujuan migrasi, perempuan perlu saling menguatkan, berbagi informasi, dan berjejaring agar dapat terus berkembang tanpa merasa sendiri.

Program Cerita Sahabat Spesial episode Desember ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman pribadi, tapi juga menjadi refleksi bersama tentang pentingnya kehadiran kebijakan, dukungan komunitas, dan advokasi sistemik bagi perempuan migran Indonesia.

Peringatan Hari Migran Internasional bukan sekadar seremoni, tapi juga momentum untuk mempertegas komitmen kita semua, baik masyarakat sipil, akademisi, maupun negara, dalam mendukung para perempuan yang memilih berjuang lintas batas demi masa depan yang lebih baik.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi: