(CERITA SAHABAT) Di Ujung Dunia, Anak-Anakku Tumbuh Tangguh

Halo, Sahabat Ruanita. Aku Aini Hanafiah. Saat ini aku tinggal di kota Bergen, Norwegia, bersama suami dan dua anak perempuan kami. Si sulung berusia 15 tahun, si bungsu 5 tahun. Kami sudah berpindah-pindah negara: mulai dari Malaysia, Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di Norwegia. Di sini, aku sedang menempuh pendidikan S2. Sebelumnya, aku bekerja sebagai perawat dan asisten guru TK.

Perjalanan keluarga kami bermula ketika aku ikut suami merantau ke Malaysia setelah menikah. Anak pertama kami lahir di sana. Setelah lima tahun, kami pindah ke Tromsø, sebuah kota kecil di lingkar Kutub Utara. Kami juga sempat tinggal di New Brunswick, Amerika Serikat, sebelum akhirnya kembali ke Norwegia dan menetap di Bergen.

Saat pindah ke Tromsø, si sulung baru berusia 2,5 tahun. Sebelumnya kami tinggal berpindah-pindah antara Penang dan Jakarta. Karena belum pernah masuk daycare atau playgroup, dia tidak terlalu memiliki keterikatan sosial. Jadi, tidak banyak reaksi ketika berpindah tempat. Tapi pindah ke Tromsø berbeda. Kami datang dari lingkungan hangat dan ramai, ke tempat yang dingin, sepi, dan gelap. Saat itu Februari, puncak musim dingin. Termometer menunjukkan -20℃, dan kami terkurung di rumah selama tiga hari karena badai salju.

Si sulung sering mengamuk. Kami kelelahan. Dua hari perjalanan dari Jakarta dengan empat kali transit cukup membuat kami, orang dewasa, limbung. Apalagi si kecil. Setibanya di Oslo, dia berteriak, melempar semua jaket dan sweater karena kedinginan. Kami harus berlari-lari mengejar penerbangan terakhir sambil menggendong anak yang menangis, dua ransel, dan jaket-jaket berserakan.

Aku pikir, dua minggu saja cukup untuk adaptasi. Ternyata salah besar. Anak-anak butuh waktu lebih lama. Untuk orang dewasa, bisa saja melihat salju dan aurora itu menyenangkan. Tapi untuk anak balita? Yang dia tahu hanya dingin, sepi, dan tidak ada nenek-kakek yang biasa dia temui.

Selain tantangan cuaca, tantangan terbesar adalah aku sendiri. Aku mengira karena sudah terbiasa merantau sejak kecil, aku bisa membawa anak merantau dengan mudah. Aku salah. Dulu aku hanya bertanggung jawab atas diriku. Kini, ada anak kecil yang sangat bergantung pada kondisi psikologisku. Anak-anak menyerap energi orang tua. Ketika aku berusaha terlihat tegar, tapi sebenarnya lelah dan kesepian, si sulung ikut merasakannya.

Hari-hari kami di Tromsø diisi dengan videocall ke keluarga di Indonesia, main di dalam rumah, dan kelelahan emosional. Setelah dua bulan, barulah si sulung mulai terbiasa dengan udara dingin. Kami mulai keluar rumah ke taman, danau, atau jalan kaki ke kampus. Begitu cuaca menghangat, ia mulai masuk barnehage (TK) di bulan Agustus. TK-nya adalah friluftsliv barnehage, dengan banyak kegiatan luar ruang. Ini sangat membantu, karena ia mulai terbiasa bertemu teman sebaya dan guru yang ramah.

Guru-guru TK-nya membuatkan buku bergambar berisi kosakata bahasa Norsk dan Inggris untuk membantunya belajar bahasa. Kami masih menyimpan buku itu sampai sekarang, dan digunakan lagi saat si bungsu masuk TK.

Pengalaman si bungsu berbeda. Ia lahir di Bergen saat keluarga kami lebih stabil. Tapi ia lahir beberapa bulan sebelum pandemi COVID-19. Ketika masuk TK di usia dua tahun, dia sangat takut bertemu orang. Ia hanya mengenal ayah, ibu, dan kakaknya. Butuh waktu empat bulan untuk beradaptasi. Di enam minggu pertama, sering kali aku harus menjemputnya lebih awal karena ia menangis terus. Untung guru-guru sangat suportif dan meyakinkan bahwa ini sementara.

Kini, si bungsu akan masuk SD. Ia tumbuh menjadi anak yang lembut, gemar hiking, dan menyukai ketenangan. Beda anak, beda tantangan, beda pula bentuk resiliensinya.

Salah satu pengalaman yang paling mengena adalah ketika aku harus belanja di tengah musim dingin. Si sulung tidak mau dipakaikan jaket. Ia meraung-raung. Aku kelelahan. Akhirnya, aku duduk saja di tepi jalan bersalju, membiarkan dia menangis. Aku tahu, memarahinya tidak akan membantu. Aku hanya duduk diam, menikmati sedikit sinar matahari yang muncul setelah musim dingin panjang.

Setelah tangisnya reda, dia tertidur di stroller. Sejak saat itu, aku mulai menyadari pentingnya self-soothing. Saat anak mengamuk, aku belajar menenangkan diri dulu. Kadang aku ke balkon, duduk sebentar. Tidak meninggalkan anak, tapi menjauh agar bisa lebih tenang. Lama-lama, si sulung mulai mengikuti, bahkan berusaha memakai jaketnya sendiri untuk ikut ke luar.

Langkah konkret lainnya adalah menciptakan rutinitas yang stabil. Bangun tidur, bereskan selimut, makan, mandi, lalu berangkat sekolah. Pulang sekolah, makan, istirahat, lalu boleh bermain. Tidak ada screentime di hari biasa. Kami juga membiasakan ngobrol saat makan malam. Obrolan ini jadi ruang untuk berbagi cerita, masalah, atau sekadar bercanda. Kami ajarkan bahwa semua emosi boleh, tapi tidak semua perilaku diperbolehkan.

Aku juga menjaga identitas budaya Indonesia lewat makanan. Akhir pekan, kami isi dengan memasak makanan Indonesia. Si sulung bahkan bangga bisa makan sambal korek, katanya itu prestasi. Kami juga rajin membaca buku berbahasa Indonesia, videocall dengan keluarga, dan ikut pengajian bulanan dengan komunitas Indonesia di Bergen.

Kami percaya, identitas budaya anak bisa ditanam lewat rasa, cerita, dan koneksi emosional. Meski tinggal di negara barat, kami ajarkan batasan dan nilai-nilai lewat kebiasaan dan contoh sehari-hari.

Soal kesehatan mental, aku pernah konsultasi ke psikolog Indonesia secara online. Di Norwegia sempat mencoba, tapi tidak cocok karena kendala bahasa dan biaya. Untuk si sulung, sekolah membantu mengakses layanan psikolog remaja. Suatu hari ia bilang, “I think I need help.” Kami langsung bantu. Saat itu aku merasa, semua table talk selama ini ternyata tidak sia-sia.

Aku belajar bahwa kebutuhan emosional anak saat migrasi adalah rasa aman. Dan rasa aman itu tidak bisa muncul kalau orang tuanya sendiri belum merasa aman.

Makna resiliensi buat anak-anak kami bukan soal “baik-baik saja,” tapi tentang bisa mengelola emosi, merasa cukup, dan tahu kapan dan bagaimana meminta bantuan.

Akhirnya, aku sadar bahwa menjadi orang tua di perantauan tidak hanya soal bertahan hidup, tapi juga tentang membangun ulang diri. Unlearning itu sama pentingnya dengan learning.

Untuk orang tua yang akan merantau, siapkan diri secara sadar. Jangan hanya tergoda citra di media sosial. Hidup di luar negeri memang banyak peluang, tapi juga penuh tantangan. Pelajari sistem negara tujuan, cari tahu jalur bantuan, dan bangun komunitas sehat. Jangan lupa, punya batasan yang sehat juga penting.

Karena saat kita sudah merasa cukup, kita bisa hadir penuh untuk anak-anak. Dan saat itulah, resiliensi mulai tumbuh, perlahan, tapi pasti.

Penulis: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak via akun instagram @aini_hanafiah.

(CERITA SAHABAT) Dua Dunia, Satu Hati: Perjalanan Menjadi Ibu Indonesia untuk Anak-anak Remaja di Prancis

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Edha, seorang ibu yang bahagia dengan memiliki anak-anak remaja di Prancis. Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang ibu: tidak ada yang pernah selesai dalam perjalanan kita membimbing anak-anak. Kita terus belajar, terus menyesuaikan langkah, terus mencari cara agar bisa hadir bagi mereka, meski dunia yang mereka pijak berubah, bertambah luas, atau bahkan semakin berbeda dari dunia yang kita kenal.

Ketika saya memutuskan untuk ikut program Cerita Sahabat Ruanita Indonesia, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk membagikan kisah saya sebagai seorang ibu Indonesia yang membesarkan anak-anak remaja di Prancis. Ini bukan sekadar kisah perpindahan negara, tetapi kisah tentang identitas, keberanian, dan cinta seorang ibu yang berusaha menjaga nilai-nilai Indonesia tetap hidup di tengah budaya Eropa yang sangat berbeda.

Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari sana, saya menemukan makna baru tentang menjadi ibu, tentang rumah, dan tentang bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan dalam satu keluarga. Inilah cerita saya, sahabat Ruanita!

Sebelum menetap di Prancis, hidup saya sepenuhnya berpusat di Indonesia. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari, sebuah profesi yang sangat saya cintai karena memberi saya kesempatan melihat dunia, bertemu berbagai karakter manusia, dan memahami banyak hal tentang kehidupan. 

Namun, ketika saya menikah dan kemudian dikaruniai anak-anak, saya memilih meninggalkan dunia penerbangan yang pernah menjadi rumah kedua saya. Saya memutuskan untuk sepenuhnya fokus menjadi seorang ibu, sesuatu yang ternyata membawa saya pada perjalanan yang tidak kalah menantangnya dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.

Suami saya adalah seorang pria Prancis yang bekerja sebagai ahli geologi di sebuah perusahaan tambang besar di Indonesia. Pekerjaannya menuntutnya sering berpindah dari satu lokasi eksplorasi ke lokasi lain, yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri bersama anak-anak. 

Meski demikian, kehidupan kami tergolong mapan. Anak-anak bersekolah di sekolah negeri dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat Indonesia. Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Indonesia, teman bermain mereka adalah anak-anak Indonesia, dan kebiasaan yang mereka serap juga sepenuhnya berakar dari kultur Indonesia. Nilai-nilai yang mereka kenal sejak kecil, seperti: kesopanan, kebersamaan, hormat kepada yang lebih tua, semuanya tercetak dari lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, saya dan suami menemukan diri kami berada pada sebuah persimpangan besar. Selama bertahun-tahun, anak-anak tumbuh dalam suasana Indonesia yang hangat dan familiar. Namun di balik rutinitas yang mapan itu, kami sama-sama menyadari satu hal: anak-anak kami hanya mengenal salah satu sisi diri mereka, sisi Indonesia.

Di dalam diri mereka sebenarnya ada dua dunia yang berbeda, dua sejarah keluarga, dua bahasa, dan dua budaya. Mereka mewarisi darah Prancis dari ayahnya, tetapi kami sadar bahwa identitas itu belum pernah benar-benar mereka sentuh. Dari sinilah percakapan panjang tentang pindah ke Prancis perlahan mulai mengemuka, kadang singkat, kadang serius, kadang berakhir dengan renungan panjang di malam hari.

Saya ingin anak-anak memahami budaya ayahnya, bukan sekadar sebagai cerita di meja makan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan hidupi. Kami membayangkan mereka menguasai bahasa Prancis bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bahasa sehari-hari yang menghubungkan mereka dengan keluarga ayah, dengan tanah tempat ia dilahirkan. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya sebagai anak Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai anak yang memiliki dua akar, dua perspektif, dan dua tempat pulang.

Namun, meskipun ide itu terasa indah dalam pikiran orang dewasa, kenyataan di hadapan anak-anak jauh lebih kompleks. Ketika kami akhirnya memberi tahu keputusan kami untuk pindah ke Prancis, wajah mereka langsung memperlihatkan campuran emosi yang sulit saya lupakan. Ada kekhawatiran besar dalam mata mereka, kekhawatiran tentang harus meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kenyamanan rumah, meninggalkan sekolah yang sudah sangat mereka kenal. 

Mereka bingung bagaimana nanti menjalani hari-hari di negara asing dengan bahasa yang belum pernah mereka kuasai. Saya melihat air mata yang mereka tahan ketika memikirkan betapa jauhnya mereka dari keluarga besar saya, dari nenek-kakek yang biasanya mereka kunjungi setiap minggu. Ada juga ketakutan tentang lingkungan sosial yang sama sekali baru, tentang bagaimana mereka harus mulai dari awal di tempat yang terasa asing.

Sebagai seorang ibu, melihat kecemasan itu membuat hati saya teriris. Anak-anak saya tidak hanya berpindah rumah, mereka juga akan berpindah dunia. Mereka harus meninggalkan sebagian kecil kehidupan yang selama ini memberi mereka rasa aman dan stabil. Saya tahu keputusan ini berat bagi mereka, tetapi saya juga tahu betapa berharganya pengalaman ini nanti bagi mereka, pengalaman menjadi anak yang hidup dalam dua budaya dengan bangga dan utuh.

Kami banyak berdiskusi sebagai keluarga. Malam-malam kami habiskan dengan menjawab pertanyaan mereka satu per satu, mencoba meredakan kegelisahan yang muncul bergantian. Saya memeluk mereka ketika mereka takut, saya mendengarkan mereka ketika mereka marah atau bingung, dan saya memastikan bahwa mereka tahu satu hal: bahwa kami akan melewati ini bersama. Setelah beberapa waktu dan banyak percakapan penuh air mata dan tawa, mereka mulai menerima keputusan itu. Mereka belum sepenuhnya siap, tetapi mereka mulai membuka pintu kecil di hati mereka untuk menyambut kehidupan baru itu.

Meski akhirnya mereka berkata “iya,” saya tetap bisa merasakan rasa berat yang tersisa dalam langkah kecil mereka menjelang keberangkatan. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan di Indonesia, sebagian dari masa kecil mereka, tetapi ada pula sesuatu yang menunggu mereka di Prancis: masa remaja yang akan membentuk siapa mereka kelak. Dan di tengah ketidakpastian itu, saya hanya bisa menggenggam tangan mereka lebih kuat, memastikan bahwa meski dunia baru menanti, mereka tidak akan pernah melangkah sendirian.

Hidup sebagai ibu dari anak-anak yang tumbuh di dua budaya membuat saya memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal membesarkan, tetapi juga menyeimbangkan. Ketika kami pindah dari Indonesia ke Prancis, anak-anak saya memasuki masa remaja, masa yang penuh pertanyaan dan pencarian jati diri. Dan di tengah perubahan besar itu, saya harus belajar menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ibu. Saya harus menjadi sahabat.

Tidak selalu mudah menjaga hubungan yang dekat dengan mereka. Ada hari ketika mereka lebih memilih menutup pintu kamar daripada mendengarkan saya. Ada saat-saat ketika nilai-nilai Indonesia yang saya pegang erat bertabrakan dengan cara berpikir mereka yang semakin dipengaruhi budaya Eropa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kebebasan berbicara, kemandirian sejak kecil, dan ekspresi diri yang terbuka, sementara saya membawa warisan sopan santun, kerendahan hati, dan kehangatan khas Indonesia. Setiap hari kami seakan menegosiasikan dua dunia itu, mencari cara agar tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi.

Dalam proses itu, saya sadar bahwa saya harus banyak belajar: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi batasan dengan lembut, dan menyampaikan nilai-nilai Indonesia dengan cara yang membuat mereka ingin merawatnya, bukan menolaknya. Tidak ada sekolah yang mengajarkan semua itu. Saya belajar sambil berjalan, sering salah langkah, tetapi selalu kembali mencoba lagi.

Namun dari perjalanan ini, saya melihat sesuatu yang sangat indah. Perlahan, identitas keluarga kami terbentuk bukan sebagai Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai gabungan utuh keduanya. Anak-anak saya nyaman berbicara dalam dua bahasa, membawa sopan santun Indonesia tetapi juga keberanian ala Prancis, dan tumbuh dengan cara yang membuat saya merasa bangga sekaligus takjub. Mereka belajar mencintai dua budaya yang membentuk mereka, dan saya belajar melepaskan kekeliruan anggapan bahwa mereka harus memilih salah satu.

Untuk perempuan Indonesia yang mungkin mempertimbangkan pindah negara, terutama yang punya anak remaja, saya ingin berpesan: jangan takut pada perubahan besar. Memasuki budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Anak-anak kita justru bisa membawa keduanya sebagai kekuatan. Peluklah prosesnya. Tidak semua hari akan mudah, tetapi selalu ada makna di balik tantangan itu. Temukan komunitas, bangun jaringan pertemanan, dan tetap jaga bahasa serta nilai-nilai Indonesia dengan penuh cinta, bukan paksaan.

Dan untuk anak-anakku, jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa kalian boleh tumbuh dalam dua dunia, tetapi kalian tidak harus kehilangan siapa diri kalian. Rawatlah nilai Indonesia yang sudah ibu tanamkan sejak kecil. Hargailah budaya lain tanpa menghapus akar kalian. Jangan takut menapaki hal-hal baru; setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang sulit, akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.

Pada akhirnya, hidup dalam dua budaya mengajarkan saya bahwa rumah tidak pernah hanya satu titik di peta. Rumah adalah perjalanan, rumah adalah pelajaran, dan rumah adalah orang-orang yang kita cintai. Dan bagi saya, rumah itu kini hidup di mana pun anak-anak saya berada, di antara bahasa Indonesia dan Prancis, di antara sopan santun dan kebebasan berekspresi, di antara dua dunia yang mereka rangkul dengan hati penuh.

Penulis: Edha, yang tinggal di Prancis, dan dapat dikontak via akun instagram edhadelaby

(IG LIVE) Jarak Bukan Penghalang: Menjaga Waras dan Ikatan Emosional dalam LDR Parenting

Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.

Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.

“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.

Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.

“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.

Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.

Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.

“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.

Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.

Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:

  • Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
  • Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
  • Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
  • Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.

Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.

“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.

Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(SIARAN BERITA) Ruanita Gelar Diskusi Daring: Atasi Adiksi Games Online pada Anak Berusia SD dengan Libatkan 3 Kontinen

Jakarta, 29 November 2025 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Atasi Adiksi Games Online pada Anak Usia Sekolah Dasar” pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan peserta dari berbagai negara, mulai dari orang tua, guru, pemerhati anak, hingga mahasiswa yang peduli terhadap isu pendidikan dan perkembangan anak di era digital.

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber dari lintas negara yang memberikan pandangan dan pengalaman berharga. Mom Elia Qudo, ibu rumah tangga asal Bangladesh, berbagi kisah nyata dalam mendampingi anak usia sekolah dasar yang gemar bermain game online, termasuk bagaimana ia mengatur keseimbangan antara waktu bermain dan belajar anak di rumah. 

Dari Australia, Ayah Andri, pendidik dan pendiri Indolanan, menyoroti pentingnya permainan dalam proses tumbuh kembang anak serta memperkenalkan kembali nilai permainan tradisional sebagai alternatif yang menyenangkan dan edukatif untuk mengatasi kecanduan game.

Follow us

Sementara itu, Mom Mala Holland, seorang psikoterapis yang berdomisili di Inggris, membagikan perspektif psikologis melalui pendekatan play therapy dan memberikan tips praktis bagi orang tua dalam mengelola penggunaan gawai pada anak usia sekolah dasar.

Kegiatan ini dipandu oleh Asti Tyas Nurhidayati, guru sekolah dasar sekaligus relawan Ruanita yang saat ini berdomisili di Islandia. Suasana diskusi berlangsung interaktif dan hangat. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman pribadi seputar tantangan mendampingi anak di tengah kemudahan akses digital yang begitu luas.

Melalui diskusi ini, para peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak adiksi game online terhadap aspek psikologis, sosial, dan akademik anak. Mereka juga mendapatkan strategi praktis untuk mencegah dan mengatasi kecanduan sejak dini, termasuk pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menumbuhkan keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial di dunia nyata.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pendampingan orang tua di era digital. Ruanita Indonesia juga berencana mempublikasikan rangkuman hasil diskusi beserta rekomendasi praktis bagi orang tua melalui laman resmi www.ruanita.com dan media sosial sebagai bahan edukasi masyarakat.

Perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. “Adiksi game pada anak adalah tantangan zaman yang harus kita hadapi bersama dengan bijak. Kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan profesional menjadi kunci agar anak-anak dapat tumbuh seimbang di tengah dunia digital,” ujar Asti Tyas menutup acara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk terus menghadirkan ruang dialog dan pembelajaran bagi perempuan serta keluarga Indonesia di seluruh dunia, guna menciptakan generasi anak yang cerdas, tangguh, dan berdaya di era teknologi.

Informasi lebih lanjut, bisa mengontak Asti Tyas Nurhidayati melalui e-mail info@ruanita.com.