(CERITA SAHABAT) Supaya Tidak Stres Jadi Pekerja Migran, Ikuti Kultur Kerja yang Ada

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Nana, bukan nama sebenarnya. Saya adalah seorang perempuan Indonesia dengan latar belakang pendidikan Administrasi Bisnis yang kini menetap di Swedia.

Untuk bekerja di negeri IKEA ini, menurut saya, merupakan keputusan besar dalam hidup saya sendiri. Meski menurut saya, ini bukan pertama kalinya saya bekerja di luar negeri.

Sebelumnya, saya juga sempat menghabiskan dua tahun di salah satu negara Asia sebagai seorang administrator. Sekarang saya berkarier sebagai seorang profesional di sebuah perusahaan di Swedia.

Keputusan saya untuk tinggal di Swedia bukan hanya didorong oleh keinginan mengejar karier semata, tetapi juga kebutuhan untuk mendapatkan izin tinggal tetap. Bekerja adalah salah satu cara agar saya bisa mandiri dan bertahan di negara dengan budaya yang sangat berbeda dari tanah kelahiran, Indonesia.

Saat pertama kali bekerja di Swedia, saya merasakan perbedaan besar dalam budaya kerja dibandingkan dengan Indonesia.

Di Swedia, suasana kerja jauh lebih santai dan kurang menuntut. Tidak ada tekanan berlebihan untuk memenuhi tenggat waktu dan tingkat stres secara umum lebih rendah, dibandingkan dengan pengalaman kerja selama masih di Indonesia dulu.

Selain itu, saya senang di Swedia ada Serikat Buruh yang juga memiliki peran besar dalam melindungi hak-hak pekerja. Sahabat Ruanita, tidak ada yang lebih mudah juga tinggal dan bekerja di Swedia. Saya harus menghadapi berbagai tantangan lain yang harus dihadapi. Hambatan pertama tentu saja adalah Bahasa Swedia.

Saya memang fasih dan lancar berbahasa Inggris, tetapi komunikasi dengan kolega lokal tentu saja sulit. Bagaimana pun mereka lebih nyaman menggunakan Bahasa Swedia.

Selain itu, ritme kerja yang lambat terkadang membuat saya frustrasi. Saya terbiasa bekerja cepat dan efisien. Namun di lingkungan baru ini, saya harus belajar untuk terus menyesuaikan diri.

Salah satu pengalaman yang paling menantang bagi saya adalah ketika saya harus menyelesaikan tugas saya dalam satu hari, padahal rekan-rekannya memberikan estimasi waktu beberapa hari.

Respons dari mereka tidak selalu positif. Saya dicap sebagai orang yang “terlalu cepat bekerja” dan dianggap tidak mengikuti ritme kerja yang sudah berlaku.

Saya merasa aneh dan menjadi bingung. Di satu sisi, Saya hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi di sisi lain, kecepatan dan efisiensinya justru membuatnya terlihat “berbeda” dari yang lain.

Saya juga merasakan bahwa budaya egaliter Swedia memengaruhi cara orang berkomunikasi. Di Swedia, tidak ada hirarki yang terlalu menonjol di tempat kerja.

Semua orang diperlakukan setara, termasuk dalam berkomunikasi dengan atasan. Ini adalah hal yang positif, tetapi juga membuatnya harus menyesuaikan diri dengan cara yang berbeda dalam menyampaikan pendapat atau bekerja dengan rekan kerja.

Bekerja di lingkungan yang sangat berbeda memiliki dampak psikologis dan stres tersendiri bagi saya. Saya mengalami trust issues dan merasa kesulitan membangun hubungan dengan rekan-rekan kerja.

Ada momen di mana saya merasa diisolasi dan didiskriminasi karena statusnya sebagai pekerja imigran. Salah satu hal yang paling membuat saya merasa tertolak adalah ketika rekan-rekan kerja enggan menggunakan bahasa Inggris, meskipun mereka sebenarnya bisa.

Merasa sulit beradaptasi, saya mulai menarik diri. Saya lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya dan tidak terlalu memikirkan hubungan sosial di tempat kerja.

Menurut saya, strategi terbaik dalam bekerja adalah “just do my job and go home.” Saya menghindari konfrontasi dan mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Meski penuh tantangan, saya akhirnya menemukan cara untuk beradaptasi. Saya mulai memahami bahwa bekerja di Swedia berarti menyesuaikan diri dengan prinsip lagom, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Istilah ini sangat mencerminkan budaya kerja di Swedia, antara lain: tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak, tetapi cukup.

Saya juga mulai menikmati kebiasaan-kebiasaan baru, seperti fika time, yaitu waktu istirahat untuk minum kopi dan berbincang dengan rekan kerja. Hal ini membantu saya untuk lebih rileks dan memahami bahwa tidak semua hal harus dilakukan dengan terburu-buru.

Selain itu, komunitas Indonesia di Swedia turut membantu saya dalam beradaptasi. Saya mendapat saran untuk tidak terlalu memaksakan diri agar “blending in,” tetapi lebih kepada menghormati budaya kerja yang ada tanpa kehilangan profesionalisme.

Dari semua pengalaman ini, saya belajar bahwa setiap lingkungan kerja memiliki tantangannya sendiri. Saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan internasional sangat berbeda dengan bekerja di perusahaan lokal Swedia.

Jika ingin bertahan, seseorang harus mampu beradaptasi dengan sistem yang ada.

Sebagai seorang profesional, saya juga belajar untuk menjadi lebih rendah hati dan tidak menonjolkan diri terlalu berlebihan.

Di satu sisi, saya bangga dengan kemampuan diri yang melebihi ekspektasi perusahaan. Namun, di sisi lain, saya sadar bahwa terlalu menunjukkan keunggulan dapat membuatnya semakin terasing.

Ada satu momen yang membuat saya bangga: ketika saya dipercaya untuk menjadi perwakilan pegawai dalam sesi wawancara dengan konsultan internasional selama proses sertifikasi perusahaan.

Meski pun saya sering merasa diri kurang dihargai di lingkungan kerja saat ini, momen ini mengingatkannya bahwa keahlian tetap memiliki nilai.

Bagi perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, khususnya di negara dengan budaya yang sangat berbeda, saya memiliki beberapa pesan penting.

Hal pertama adalah belajar bahasa lokal sebelum memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Penguasaan bahasa yang baik bisa membuka lebih banyak peluang dan membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah.

Hal kedua, saya berpesan untuk bersabar dan belajar menyesuaikan diri. Tidak perlu berusaha keras untuk “blending in,” tetapi cukup dengan bersikap profesional dan menghormati budaya kerja yang ada.

Dan yang terakhir, tetaplah teguh dengan nilai-nilai diri sebagai orang Indonesia. Jangan kehilangan identitas diri sebagai orang Indonesia dan tetaplah berpegang pada prinsip profesionalisme di mana pun berada.

Jika bisa berbicara kepada diri sendiri saat pertama kali datang ke Swedia, saya ingin mengatakan: It will be a roller coaster, so be prepared. Don’t give up easily. Stand up and speak up for yourself. Keep your professionalism at work and do your best. Bring positive values everywhere you go, and never lose your identity!

Penulis: Nana yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak via email info@ruanita.com.

(PODCAST PMI STORIES) Cerita Transformasi dari Asia ke Skandinavia

Podcast PMI Stories – Cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia episode kedua menghadirkan kisah Sari Wijayanti, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja selama sembilan tahun di Singapura dan kini menetap di Swedia setelah menikah dengan warga setempat. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura sekaligus host podcast, episode ini menggali perjalanan karier Sari, transisi hidup antarnegara, hingga proses membangun kehidupan baru di Eropa.

Sari memulai perjalanannya sebagai PMI di Singapura dengan alasan ekonomi. Ia menyadari kondisi finansial saat itu belum cukup memberikan rasa aman bagi dirinya dan kedua putranya. Di Singapura, Sari bekerja di sektor domestik dengan tanggung jawab sebagai nursery dan caregiver, mengasuh anak kecil sesuai dengan keterampilan yang ia miliki.

Tantangan terbesarnya adalah menghadapi anak-anak yang sedang tantrum atau sakit, yang mana situasi tersebut menuntut kesabaran, ketahanan emosi, dan profesionalitas tinggi. Namun, dukungan komunitas PMI yang aktif dengan kegiatan positif, serta support penuh dari orang tua yang menjaga anak-anaknya di Indonesia, menjadi fondasi kuat yang membuatnya mampu fokus bekerja dan berkembang.

Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa hidupnya akan membawanya pindah ke Eropa. Keputusan hijrah ke Swedia dilandasi kepercayaan pada pasangan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Proses pengurusan visa ikatan keluarga memakan waktu sekitar satu tahun, yakni masa tunggu yang cukup panjang dan penuh ketidakpastian.

Setibanya di Swedia, Sari menghadapi culture shock terbesar pada cuaca ekstrem empat musim, terutama musim dingin yang sangat berbeda dari iklim tropis Asia Tenggara. Tantangan berikutnya adalah bahasa Swedia, yang menjadi kunci penting integrasi sosial. Meski masyarakat Swedia fasih berbahasa Inggris, kemampuan bahasa lokal tetap dibutuhkan untuk benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, setelah 16 bulan menetap di Swedia, Sari menjalani kehidupan baru dengan bekerja paruh waktu di restoran sebagai waitress dan kasir, sembari mengikuti kelas bahasa Swedia secara daring sebagai persiapan mengikuti sekolah bahasa formal.

Ia menekankan bahwa di Swedia, kesetaraan gender sangat dijunjung tinggi, di mana perempuan didorong untuk mandiri dan berkontribusi melalui pekerjaan, termasuk dalam sistem pajak dan jaminan sosial yang mendukung kesejahteraan jangka panjang seperti dana pensiun.

Dalam refleksinya, Sari mengakui bahwa integrasi sosial di Swedia kini semakin menantang. Ia menyoroti adanya pergeseran sosial yang membuat pendatang harus lebih mandiri dan proaktif dalam belajar bahasa serta memahami budaya lokal.

Tantangan pengangguran dan kesenjangan sosial di kalangan migran turut menjadi isu yang memengaruhi proses integrasi. Meski demikian, dukungan pasangan dan komunikasi dengan komunitas Indonesia melalui grup daring menjadi penguat dalam proses adaptasinya.

Menutup perbincangan, Sari berbagi pesan mendalam bagi para PMI yang tengah membangun masa depan di luar negeri. Ia mengingatkan agar perjuangan tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai proses pembelajaran, seperti layaknya sekolah kehidupan. Mungkin suatu saat akan mencapai titik kelulusan.

Sari mendorong PMI untuk mempersiapkan mental, memahami budaya negara tujuan, dan menguasai bahasa sebelum memutuskan pindah, terutama dalam konteks pernikahan lintas negara. “Buatlah uang bekerja untuk kalian, bukan kalian yang terus bekerja untuk uang,” pesannya. Ia seperti menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan visi jangka panjang.

Cerita Sari Wijayanti menjadi potret transformasi identitas seorang PMI, dari pekerja domestik di Asia Tenggara hingga perempuan Indonesia yang tengah membangun babak baru kehidupan di Eropa. Episode ini tidak hanya menghadirkan cerita migrasi, tetapi juga refleksi tentang keberanian mengambil keputusan, adaptasi lintas budaya, dan makna perjuangan dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.