(CERITA SAHABAT SPESIAL) Hari Kesehatan Mental Sedunia dan Ruang Aman yang Tak Terlihat

Di bulan Oktober, Ruanita Indonesia secara konsisten bersuara untuk kesehatan mental sejak berdiri di tahun 2021. Tahun ini lewat program video cerita sahabat spesial (CSS), Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Irlandia sebagai praktisi kesehatan mental. Dia adalah Yuki Fragariani, yang berbicara tentang pengalamannya mendampingi teman-teman perempuan dari lintas negara.

Bagi banyak orang, ruang aman sering dibayangkan sebagai sebuah tempat atau ruangan yang tenang, sudut yang nyaman, atau lokasi yang terasa melindungi. Namun bagi Yuki, ruang aman bukan sekadar ruang fisik. Ruang aman adalah pengalaman yang dirasakan, sebuah kehadiran yang memberi rasa diterima tanpa syarat, tanpa penghakiman.

Selama 15 tahun tinggal di Irlandia, Yuki menapaki perjalanan yang tidak selalu lurus. Ketertarikannya pada perilaku manusia dan psikologi sudah tumbuh sejak muda. Ia sempat menempuh berbagai profesi, mulai dari guru bahasa Jepang, penerjemah, hingga corporate trainer. Namun, perjalanan hidupnya perlahan membawanya ke satu panggilan yang lebih dalam, yakni merawat kesehatan mental sejak Pandemi COVID-19.

Langkah itu dimulai dari yoga. Setelah bertahun-tahun berlatih, pada 2017 Yuki memutuskan untuk mendalami yoga secara serius dan menjadi instruktur. Dari sanalah ia mulai memahami bahwa yoga bukan sekadar latihan fisik. Lebih dari itu, yoga menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara tubuh dan pikiran, yakni sebuah koneksi yang sering kali diabaikan.

Pengalaman selama pandemi menjadi titik balik yang semakin menguatkan arah hidupnya. Yuki menyaksikan langsung bagaimana banyak orang mengalami kecemasan, stres, dan rasa terisolasi. Di masa yang penuh ketidakpastian itu, Yuki melihat betapa pentingnya keterhubungan antara tubuh dan pikiran dalam menjaga kesehatan mental. Ia pun terdorong untuk melangkah lebih jauh, mengikuti pelatihan dan menjadi hipnoterapis, agar dapat membantu lebih banyak orang, terutama perempuan.

Dalam praktiknya, Yuki banyak mendampingi perempuan yang selama ini terbiasa menjadi penopang bagi orang lain. Mereka adalah ibu, istri, pekerja, yang memberi begitu banyak untuk keluarga dan lingkungan. Namun di balik itu, sering kali mereka lupa memberikan ruang dan kasih untuk diri sendiri. Dari situlah banyak luka bermula, seperti: perasaan lelah, tidak didukung, hingga kehilangan arah.

Mendengarkan cerita-cerita tersebut bukanlah hal yang mudah. Sebagai seorang profesional, Yuki dituntut untuk tetap objektif. Namun sebagai manusia, ia tidak selalu bisa sepenuhnya lepas dari emosi. Ada kalanya ia ikut merasakan kesedihan, kelelahan, bahkan beban dari cerita yang ia dengar. Namun justru di situlah empati menjadi jembatan yang menguatkan proses pendampingan.

Di Irlandia, ia juga banyak membantu perempuan, khususnya para ibu bekerja, yang menghadapi ketergantungan terhadap alkohol. Kebiasaan yang awalnya mungkin hanya pelarian kecil, perlahan menjadi sesuatu yang sulit dikendalikan. Melalui pendekatan yang penuh empati, Yuki membantu mereka kembali mengenali diri, memahami luka, dan perlahan mengambil kembali kendali atas hidup mereka.

Baginya, salah satu kunci penting dalam kesehatan mental adalah self-care. Ia mengibaratkannya seperti instruksi keselamatan di pesawat: kenakan masker oksigen untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. Sebuah pengingat sederhana, tetapi sering terlupakan. Merawat diri tidak harus rumit. Menurutnya, itu bisa melalui istirahat, menulis jurnal, atau sekadar berjalan di alam.

Namun, ada satu hal yang sering menjadi jebakan, terutama bagi perempuan: tuntutan untuk selalu kuat. Di satu sisi, hal ini bisa menjadi sumber motivasi. Tetapi di sisi lain, ia juga bisa menjadi tekanan yang membuat perempuan merasa tidak boleh lemah, tidak boleh menangis, dan tidak boleh rentan. Padahal, menekan emosi justru dapat memperburuk kondisi mental.

Yuki percaya bahwa perempuan juga membutuhkan ruang untuk jujur pada perasaannya. Menangis bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk pelepasan yang sehat. Begitu pula dengan meminta bantuan, yang juga berarti itu bukan kegagalan, melainkan langkah berani untuk sembuh.

Ia pernah mendampingi seorang perempuan muda yang datang dengan luka batin terkait body image. Sejak kecil, ia terbiasa menerima kritik tentang penampilan dan dibandingkan dengan saudara kandungnya. Luka itu tertanam dalam dan membentuk suara kritis di dalam dirinya. Melalui proses healing yang perlahan, dengan pendekatan inner child dan self-compassion, perempuan itu mulai belajar berdamai dengan dirinya sendiri.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, Yuki juga melihat bahaya dari apa yang sering disebut sebagai toxic positivity. Memaksa diri untuk selalu terlihat kuat dan bahagia, tanpa benar-benar memproses emosi, ibarat menutup luka dengan plester tanpa mengobatinya. Sementara penyembuhan yang nyata justru membutuhkan kejujuran, mengakui rasa sakit, menerima emosi, dan memberi ruang untuk pulih.

Ada saatnya seseorang perlu berhenti memaksakan diri untuk terus kuat. Ketika kelelahan semakin dalam, ketika emosi terasa berputar tanpa henti, atau ketika seseorang merasa semakin terisolasi, itulah tanda bahwa bantuan dibutuhkan. Dalam momen-momen seperti itu, langkah sederhana seperti berhenti sejenak dan bernapas bisa menjadi awal yang penting.

Bagi Yuki, menciptakan ruang aman dimulai dari hal paling mendasar, yakni hadir sepenuhnya, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menjaga kepercayaan. Ruang aman bukan tentang di mana seseorang berada, tetapi bagaimana seseorang merasa.

Di luar ruang praktiknya, Yuki juga menyimpan harapan yang lebih luas. Ia ingin layanan kesehatan mental semakin mudah diakses oleh siapa pun. Ia ingin lebih banyak orang memahami bahwa merasa lelah atau tidak berdaya bukanlah tanda kelemahan. Yuki ingin setiap orang tahu satu hal sederhana, namun sangat penting. Bahwa mereka tidak sendirian. Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukanlah kemewahan. Kesehatan mental adalah hak setiap manusia.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial episode Oktober 2026 di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.