(PODCAST PMI STORIES) Menerobos Lelah Kerja di Malaysia, demi Masa Depan Cerah

Di antara deru mesin pabrik elektronik di Malaysia, ada seorang perempuan muda yang memilih untuk tidak berhenti bermimpi. Ia adalah Ika Widi Astuti, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Yogyakarta yang bekerja di sektor kilang elektronik. Di tengah ritme kerja yang padat, tubuh yang lelah, dan jarak ribuan kilometer dari rumah, Ika mengambil keputusan besar yang mengubah perjalanan hidupnya: melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka.

Dalam PMI Stories Episode #5, Ika mengajak kita menyelami kisah perjuangannya. Episode ini berisi kisah tentang merantau, tentang pendidikan, dan tentang keberanian seorang perempuan untuk tetap melangkah meski jalannya terasa berat.

Ika datang ke Malaysia bukan semata-mata karena kebutuhan ekonomi, tetapi juga karena rasa penasaran yang besar. Ia ingin melihat dunia di luar kampung halamannya dan ingin merasakan seperti apa hidup di negeri orang.

“Saya ingin mencari pengalaman baru sekaligus bantu ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Ketika pertama kali merantau, perasaannya campur aduk, antara semangat dan ketakutan. Bahasa yang berbeda, lingkungan yang asing, makanan yang tidak familiar. Namun semua itu ia simpan sendiri agar orang tua tidak khawatir. Ia belajar beradaptasi sambil perlahan menerima ritme hidup baru.

Kini, Ika bekerja sebagai leader di pabrik elektronik. Peran itu menuntut fokus, disiplin, dan tanggung jawab besar.

Ritmenya teratur tetapi melelahkan. Setiap hari sebelum memulai pekerjaan, ada satu doa yang selalu ia panjatkan:
“Allahumma yassir wa la tu’assir—Ya Allah, mudahkanlah dan jangan Engkau persulit.”

Tantangan terbesarnya di awal merantau bukan hanya pekerjaan, tetapi rasa rindu yang dalam pada keluarga dan kampung halaman. Tinggal jauh dari orang yang dicintai membuat hari-hari awal terasa berat. Namun seperti banyak PMI lain, Ika belajar untuk kuat, berdiri sendiri, dan mencari teman yang bisa menjadi tempat bersandar.

Di tengah kesibukan pabrik, Ika membuat keputusan yang jarang dilakukan PMI lainnya. Ika mendaftar kuliah S1 Manajemen di Universitas Terbuka. Alasannya sederhana. Ika tidak dapat melakukannya karena dulu ia mengalami gap year dan punya mimpi yang tertunda.

Ika belajar terutama saat hari liburnya, dua hari dalam seminggu. Saat kerja, ia bekerja sepenuhnya. Saat cuti, ia belajar sepenuhnya. Meski masih berada di semester awal, materi kuliah sudah memberi dampak nyata bagi kehidupannya. Jabatan sebagai leader membuatnya harus mengelola waktu, mengatur pekerjaan, dan memimpin tim. Semuanya terasa relevan dengan apa yang ia pelajari.

Menurut Ika, kuliah bukan hanya untuk gelar, tapi untuk membuka jalan baru dalam hidupnya. Ketika membayangkan hari kelulusan, Ika membayangkan bukan hanya kebahagiaan meraih gelar, tetapi pembuktian untuk diri sendiri.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan, seperti pekerja migran Indonesia (PMI). Cerita Ika bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang keberanian, impian yang dipendam, dan kekuatan untuk terus melangkah.

PMI Stories adalah program audio podcast yang menghadirkan cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai penjuru dunia. Melalui kisah nyata, para PMI berbagi pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, peluang yang diraih, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI dan perempuan Indonesia yang tinggal di Singapura, PMI Stories menjadi ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dipahami. Kami percaya bahwa setiap PMI bukan sekadar angka atau status kerja, melainkan manusia dengan perjalanan hidup, suara, dan cerita yang bermakna. Karena di balik setiap perjalanan migrasi, selalu ada cerita yang layak untuk didengarkan.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Workshop Daring Menulis PMI Perempuan: Dorong Suara Perempuan Migran Lewat Tulisan

Singapura, Mei 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia, Ruanita Indonesia dan komunitas FPMI di Singapura menyelenggarakan kegiatan Workshop Daring Menulis bertajuk “From Zero to Hero: Bersuara Lewat Tulisan untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) Perempuan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 3, 10, dan 17 Mei 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Workshop ini bertujuan untuk menyediakan ruang aman dan produktif bagi PMI perempuan untuk mendokumentasikan pengalaman hidup mereka di perantauan melalui tulisan, sekaligus memperkuat kapasitas literasi sebagai bagian dari upaya advokasi dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, yang dihadiri oleh Maradona A Runtukahu, Koordinator Protokol dan Kekonsuleran, dan Komnas Perempuan sebagai lembaga nasional yang fokus pada perlindungan perempuan.

Dalam sesi pembukaan, perwakilan KBRI Singapura menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas dan ruang ekspresi bagi PMI, khususnya perempuan, sebagai bagian dari upaya penguatan perlindungan dan pemberdayaan. KBRI Singapura juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di Singapura.

Sementara itu, Komnas Perempuan, yang diwakili oleh Komisioner Devi Rahayu, menyoroti pentingnya perspektif perlindungan berbasis gender dalam konteks migrasi tenaga kerja. Dalam paparannya, Komnas Perempuan menekankan bahwa pengalaman perempuan migran tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga mencakup isu kerentanan, kekerasan berbasis gender, serta pentingnya akses terhadap keadilan dan perlindungan yang komprehensif.

Workshop ini menghadirkan pemateri pertama Dr. Nor Ismah, PostDoctoral Fellow di Asian Research Institute National University of Singapore (NUS) yang memberikan pelatihan teknis menulis dan storytelling berbasis pengalaman. Pemateri kedua adalah Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau, Germany yang menyampaikan pentingnya narasi dalam mendokumentasikan pengalaman hidup.

Melalui rangkaian workshop selama 3 kali pertemuan, peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga akan mendapatkan pendampingan (mentoring) hingga menghasilkan karya tulisan yang akan dihimpun dalam sebuah buku bersama sebagai output akhir kegiatan. Program ini juga membuka ruang jejaring (networking) antar PMI perempuan, serta memberikan sertifikat elektronik bagi peserta.

Selain itu, kegiatan dimoderasi oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura dan Founder komunitas penulis migran. Acara ini juga menghadirkan sesi diskusi, refleksi, dan mentoring penulisan yang diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunitas penulis PMI perempuan, sekaligus memperkuat suara dan narasi perempuan migran Indonesia di ruang publik.

(SIARAN BERITA) Tidak Sendiri di Perantauan: Konseling Daring untuk Perempuan PMI

LONDON, 8 Maret – Menyadari persoalan psikologis yang dialami perempuan pekerja migran Indonesia seperti: kesepian, trauma, sandwich generation, hingga pikiran bunuh diri, yang telah mendorong Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi konseling kelompok daring ini.

Bagi banyak Perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI), perjalanan bekerja di luar negeri bukan hanya tentang pengorbanan ekonomi, tetapi juga tentang menghadapi tekanan, kehilangan, dan pengalaman yang meninggalkan luka batin.

Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional, sesi konseling kelompok daring dihadirkan sebagai ruang aman bagi PMI yang memiliki situasi trauma dan sedang tinggal di luar Indonesia. Selama dua jam, para peserta terhubung melalui pertemuan virtual untuk berbagi pengalaman, mendengarkan satu sama lain, dan membangun rasa saling menguatkan dalam suasana yang empatik dan penuh penghormatan.

Sesi ini difasilitasi oleh Idei Swasti, Psikolog dan kandidat doktor di Inggris, serta relawan Ruanita Indonesia. Dengan pendekatan yang hangat dan partisipatif, peserta diajak memahami bahwa respons terhadap trauma adalah hal yang manusiawi. Tidak ada kewajiban untuk membuka detail pengalaman; yang diutamakan adalah rasa aman, kerahasiaan, dan kebersamaan.

Dalam dinamika kelompok, terlihat bahwa meski latar belakang negara dan jenis pekerjaan berbeda, pengalaman emosional yang dirasakan memiliki kesamaan: rasa sepi, tekanan berkepanjangan, serta kebutuhan untuk didengar tanpa dihakimi.

Beberapa peserta membagikan refleksi tentang beban kerja dan jarak dari keluarga, sementara yang lain memilih hadir dan menyimak, tetap menjadi bagian dari lingkar dukungan yang tercipta.

Menurut Anna Knöbl, Founder dari Ruanita Indonesia, yang memberikan pengantar awal sesi konseling, momentum Hari Perempuan Internasional dimaknai bukan hanya sebagai perayaan, melainkan sebagai pengingat bahwa kesehatan mental perempuan migran adalah isu nyata yang perlu mendapat perhatian bersama. Kegiatan ini memang bukan pengganti terapi individual, namun menjadi langkah kolektif untuk membangun solidaritas, memulihkan harapan, dan menegaskan bahwa perempuan migran tidak berjalan sendiri dalam proses penyembuhan mereka.