
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama aku Siti Maftuhah, orang dengan disleksia yang jatuh cinta pada aksara. Aku biasa menyebut diriku sebagai “Penikmat Oksigen Gratis”. Bukan tanpa alasan, aku menyebut itu sejak masih kelas enam SD saat menemani ibu melakukan operasi di RSUD Prof. Dr. Margono Purwokerto. Di sana selalu melihat banyak pasien dengan bantuan alat pernapasan, dan sejak saat itu aku menyebutkan diri sendiri sebagai “Penikmat Oksigen Gratis” sampai saat ini. Saya seorang mahasiswa Ilmu Hukum semester 4 di Universitas Terbuka Singapura. Sekarang aku bekerja di Singapura sejak tahun 2023. Selain kerja sembari kuliah, aku juga aktif di beberapa komunitas nirlaba yang menaungi para pekerja migran di Singapura.
Pertama kali mengetahui bahwa aku disleksia, ketika aku duduk dibangku SMP. Saat itu guru Bahasa Indonesia, menyita bukuku karena ketahuan menggambar di tengah pembelajaran. Lalu beliau melihat apa yang aku gambar, yaitu sebuah cerita yang aku ilustrasikan seperti komik yang sangat sederhana dengan judul “Paijo Paijan Ora Kerjo Ora Njajan” yang menceritakan tentang gadis kecil yang kesusahan membaca karena tulisannya selalu menari-nari, tapi ia harus tetap berusaha keras agar bisa mengimbangi kemampuan belajar teman-temannya. Gadis itu berusaha sangat keras untuk bisa mengikuti lomba agar bisa mendapatkan tambahan uang atau beasiswa untuk sekolahnya. Setelah beliau membacanya, kemudian menyuruhku ke ruang guru sepulang sekolah. Beliau menanyakan siapa gadis kecil yang jadi peran utama di komik tersebut, karena beliau merasa bahwa itu adalah aku, tapi beliau tidak yakin ketika membaca. Aku berusaha keras, bagaimana membuat huruf-huruf itu diam dan rapi, aku berusaha keras mendengarkan guru atau temanku yang sedang membaca berkali-kali untuk memastikan, apakah sama dengan tulisan didepanku.
Lalu untuk pertama kalinya aku didengarkan saat menjelaskan bahwa huruf-huruf yang aku baca terlihat menari, aku kesusahan membaca cepat seperti temanku, aku sering mendapatkan koreksi dari guru saat menulis, aku kesusahan menyusun kata saat berbicara. Selama ini mereka hanya menganggap aku kurang pandai dan telat bicara saat kecil. Dari situ guruku mengajakku ke salah satu klinik di kotaku. Setelah menjelaskan dan melakukan serangkaian pemeriksaan, kemudian dokter menyampaikan bahwa aku disleksia. Sebagai orang yang tinggal di kampung kecil dengan lingkungan yang tidak mendapatkan banyak informasi mengenai kesehatan dan lainnya, awalnya aku sangat takut dan mengira bahwa disleksia adalah salah satu jenis kanker. Dokter menjelaskan pelan-pelan bahwa disleksia adalah sebuah gangguan saraf yang membuat seseorang kesulitan dalam membaca , menulis, mengeja atau memahami kata-kata, dan perbedaan cara otak memproses bahasa bukan karena masalah penglihatan atau pendengaran.
Saat itu aku masih merasa asing dan takut meskipun mereka sudah memberi informasi mengenai disleksia ini dan bersedia membantu terapi. Karena guruku berkata saat itu kepada dokter “Anak ini saya kira ya tidak mengalami gangguan belajar, tapi memang anak ini cukup aktif di kelas, susah untuk diam dan fokus kalau membaca atau menjelaskan suka tidak berurutan, bahkan saya bawa ke sini karena saya tahu dari komik yang dia gambar saat pelajaran berlangsung. Tapi saya tahu ini anak sangat kreatif, berprestasi juga, tapi memang keaktifannya sering dianggap nakal dan mengganggu anak lain, dan dianggap tidak serius karena kalau menulis masih sering salah.”
Setelah itu aku melakukan terapi seperti permainan rima kata, yaitu mengucapkan kata yang berakhiran mirip untuk melatih kepekaan telinga terhadap bunyi bahasa, metode membaca bersama yang dilakukan rutin 11-15 menit per hari. Tidak mengalami kesulitan yang berarti sebenarnya, karena aku sudah terbiasa melakukannya bahkan sebelum tahu apa yang aku alami adalah disleksia. Aku memang berusaha keras sejak Sekolah Dasar karena menyadari bahwa aku lebih lambat dari teman-teman lainnya, sementara orang tuaku cukup sibuk karena aku terdiri atas lima bersaudara dan aku mempunyai dua adik yang usia mereka hanya berbeda satu tahun. Setelah adikku lahir juga, ibuku sering sakit-sakitan. Jadi kondisi yang aku alami tidak pernah terdeteksi oleh keluargaku. Selain sibuk, mereka juga tidak mendapatkan informasi yang cukup perihal ini. Mereka hanya menganggap bahwa aku terlambat bicara karena kemampuanku yang berbeda dari anak lainnya. Aku yang terlihat kurang fokus dan terlalu aktif hanya disebut sebagai kenakalan anak kecil biasa. Singkat cerita, karena beberapa faktor, seperti perundungan, kekurangan finansial keluarga, telah membuat aku berpikir sejak masih SD untuk belajar lebih keras, dengan memaksakan membaca, aku ingat sekali dulu sepulang sekolah aku tidak bermain, tapi mendengarkan radio dan mencoba menuliskan apa yang penyiar katakan, dan aku suka mencoba berakting seolah-olah aku adalah penyiar juga, sehingga itu sangat membantu belajar mandiriku.
Dulu aku juga setuju dengan anggapan banyak orang saat itu bahwa Maftuh anak yang sedikit membutuhkan perhatian lebih. Aku tidak mengingatnya dengan jelas, tapi setelah aku dewasa aku baru menyadari bahwa dulu aku mengalami perundungan di SD, terutama ketika pelajaran Agama yang menganjurkan muridnya untuk membaca atau menghafal surat-surat pendek Al-Qur’an. Aku saat itu bersekolah di Madrasah Islam yang di mana lingkunganku sangat Islami, bahkan teman sekelasku sudah menamatkan atau mampu menghafal surat-surat pendek juz 30, menulis tulisan Arab, bahkan bisa berbahasa Arab untuk komunikasi di pelajaran bahasa Arab saat itu.
Yang aku ingat, karena aku berbeda dengan teman lainnya, guruku terkadang memberikan waktu tambahan untukku khususnya di pelajaran agama yang berkaitan dengan membaca. Tanpa sadar, aku sering dibandingkan dan dianggap tidak serius dalam belajar, sehingga saat itu aku selalu izin dari sekolah setiap hari Jumat dan sabtu, karena mayoritas pembelajaran agama ada di hari Jumat dan Sabtu. Aku selalu izin sakit atau apapun itu, sehingga rapotku selalu tertulis banyak hari tidak masuk sekolah, bahkan dalam catatan setiap semester atau kenaikan kelas selalu ada peringatan untuk tidak gaduh di kelas, harus rajin masuk kelas, terutama Jumat dan Sabtu, dan lain-lain. Setelah saya dewasa, saya cukup sedih melihatnya karena itu terjadi bertahun-tahun. Tapi aku tidak mengingat dengan jelas, apa langkah guru dan keluargaku saat itu sampai ini berlangsung lama.
Ketika aku dewasa, aku merasa kecewa tetapi juga aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Aku juga belum sempat bertanya kepada orang tua atau guru bahkan teman-temanku. Namun, aku ada keinginan untuk bertanya tentang itu, apalagi setelah sekarang aku sambil menulis ini aku mengingat lagi bagaimana aku sering menangis sendiri, melihat huruf menyambung di Al-Quran atau buku lembar kerja sekolahku. Kadang aku begitu sedih, bagaimana aku berusaha keras membaca dengan mendengarkan terlebih dahulu. Atau, bagaimana aku ketakutan setiap berangkat sekolah karena akan mengalami perundungan saat membaca.
Sebelum aku tahu bahwa aku adalah orang dengan disleksia, aku sudah merasa bahwa aku sangat berbeda dengan kemampuan lainnya. Walaupun, aku selalu menjadi anak yang cukup berprestasi sejak SD bahkan aku beberapa kali mengikuti lomba seperti Cerdas Cermat, Pidato, Menyanyi dan menjadi petugas upacara. Kondisi ini juga yang cukup membingungkan sebenarnya sampai sekarang. Karena dengan keterbatasanku saat itu, aku mempunyai semangat yang sangat tinggi untuk mencoba dan aku melakukannya dalam sunyi. Aku selalu mendengarkan hal-hal yang menarik perhatianku, seperti melihat reporter, mendengarkan penyiar radio, pembawa acara traveling, orang berpidato dan membaca puisi. Namun karena aku selalu merasa lelah ketika membaca atau fokus terhadap sesuatu, terlebih dengan perundungan yang aku alami atau juga ketidaktahuan keluargaku akan kondisiku saat itu, aku sering merasa kecil dan minder.
Aku pun bingung ketika aku baru menyadari bahwa sejak kecil aku sudah peka dengan kondisi finansial keluargaku. Aku sering memikirkan tentang bagaimana membayar sekolahku ketika melihat ibuku sering masuk rumah sakit. Aku punya adik dua dan dua kakak, yang semuanya juga bersekolah. dari situ berbekal informasi, bahwa kalau berprestasi dan mengikuti lomba bisa mendapatkan beasiswa, aku jadi berusaha bagaimana caranya untuk bisa. Aku belajar sangat keras, terutama saat membolos di hari Jumat dan Sabtu, aku memanfaatkan waktu di kamar untuk belajar. Walaupun dulu aku terkenal suka membuat keributan di kelas, banyak bicara namun tidak tertata, suka sibuk dengan hal-hal yang menurut guruku mengganggu pelajaran. Di sisi lain aku cukup berprestasi, terutama di bahasa Indonesia. Aku suka pelajaran untuk merangkai cerita, membuat puisi, juga pelajaran sejarah kebudayaan Islam. Aku kerap mendapatkan nilai selalu di atas 9. Ketika melihat rapotku kembali, aku memperhatikan polanya bahwa pelajaran yang nilainya rendah adalah yang berkaitan dengan membaca, menghitung, dan menghafal secara spesifik yang di mana aku tidak bisa improvisasi di dalamnya.
Setelah aku tahu bahwa yang aku alami adalah disleksia aku mulai mencari informasi “apakah orang sepertiku bisa sembuh dan punya masa depan seperti lainnya?” Berbekal internet dari komputer di perpustakaan sekolahku, aku sering mencari informasi dan motivasi dari situ. Sayangnya, aku belum berani terbuka kepada siapapun, karena aku malu dan takut bahwa itu akan dijadikan perundungan berikutnya. Jadi, aku menutupinya dengan menunjukan bahwa aku sama seperti mereka, aku belajar sangat keras untuk menyetarakan kemampuanku dengan lainnya. Bahkan sewaktu SD aku di-bully, karena tidak bisa membaca Al-Qur’an. Waktu SMP atas kerja kerasku, aku berhasil mewakili sekolahku untuk lomba membaca Al-Quran (tilawah) sampai tingkat Kabupaten. Pada intinya, semua hal yang menurutku adalah kekurangan, aku jadikan motivasi. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang.
Karena aku ingin melanjutkan mimpiku untuk sekolah lagi, aku memutuskan bekerja ke Singapura pada tahun 2023, dengan tekad untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Pada kenyataannya di Indonesia walaupun aku sudah bekerja sambil berjualan, hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara aku masih punya mimpi yang belum terwujud, salah satunya adalah melanjutkan pendidikanku. Setelah lulus SMK aku memutuskan untuk berkuliah. Namun terkendala finansial, sebenarnya aku sudah berkesempatan diterima di salah satu universitas negeri di Yogyakarta dengan beasiswa, namun aku berpikir berulang kali. Meskipun aku mendapatkan beasiswa, aku memikirkan bagaimana dengan kebutuhan hidup di perantauan dan juga bagaimana dengan orang tuaku? Aku juga memikirkan, siapa yang akan membantunya? Saat itu, aku mengubur mimpiku, namun seiring berjalannya waktu dan membaiknya finansial, aku baru menyadari bahwa aku tidak mengubur mimpiku sepenuhnya. Aku masih meninggalkan sedikit celah terbuka agar mimpiku tidak benar-benar terkubur. Salah satu cara aku bisa mewujudkannya adalah pergi bekerja di Singapura untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik dan menunjang kebutuhan hidupku dan keluarga, sekaligus mempunyai tabungan untuk melanjutkan sekolah dan masa tua.
Pertama kali datang ke Singapura, rasanya sangat takut, terlebih orang tua belum mengetahui keputusan saya untuk bekerja di sana. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat sekaligus pertama kalinya pergi ke luar negeri. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat, saya terus menekan tasbih digital sambil membaca istigfar tanpa henti. Hal itu membuat saya khawatir dan terus bertanya-tanya, bagaimana jika pengalaman buruk yang ia ceritakan juga terjadi kepada saya? Sesampainya di Singapura, saya melihat angka 8.000 pada tasbih digital saya. Angka itu menjadi semacam pengingat betapa besar rasa takut yang saya rasakan saat itu. Namun, ternyata kenyataannya tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Orang-orang yang saya temui justru sangat baik, terbuka, dan sangat mendukung saya. Mereka juga sabar dalam menjelaskan berbagai hal, mulai dari detail pekerjaan, dokumen, kontrak kerja, gaji, hingga fasilitas yang saya dapatkan.
Meski begitu, proses beradaptasi tetap tidak mudah. Saya masih merasa asing dengan lingkungan baru dan harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda. Pada malam hari, terkadang saya menangis karena merasa lelah, bingung, dan tidak tahu harus bagaimana. Untungnya, saya tidak melewati masa itu sendirian. Mereka membantu saya memahami berbagai hal dengan menjelaskannya menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Perlahan, rasa takut yang awalnya begitu besar mulai berkurang, dan saya pun mulai belajar untuk merasa nyaman dengan kehidupan baru saya di Singapura.
Soal transportasi di Singapura menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Untuk menyiasatinya, saya membuat sistem visual yang lebih terstruktur dengan mengandalkan warna jalur MRT, patokan-patokan visual, serta aplikasi Maps. Biasanya, sebelum bepergian, saya akan melakukan pengecekan dan merencanakan rute terlebih dahulu agar tidak terlalu bingung ketika berada di perjalanan. Saya lebih sering menggunakan transportasi umum ketika sedang libur, sedangkan pada hari kerja saya biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Untungnya saya berada di lingkungan yang sangat mendukung saya. Kami memang terbuka satu sama lain mengenai rencana bepergian dan ke mana saya akan pergi. Mereka memahami kesulitan yang saya alami dan selalu memastikan saya bisa sampai ke tujuan dengan aman. Sejauh ini, saya lebih sering menggunakan MRT atau taksi dan jarang menggunakan bus karena saya masih cukup kesulitan memahami rute dan pemberhentian bus. Bagi saya, MRT terasa lebih mudah karena masih ada jeda waktu untuk menunggu, melihat petunjuk, dan memastikan kembali tujuan atau stasiun berikutnya sebelum melanjutkan perjalanan.
Meskipun memiliki kendala tersendiri dalam berbaur dengan aksara, aku justru menyadari bahwa dengan berdamai dengan aksara dan literasi, aku bisa menemukan cara untuk berkomunikasi dengan dunia. Aku menggunakan hambatanku sekaligus menjadikannya sebagai jalan keluar. Memang melelahkan, tetapi melalui membaca aku bisa mengenal dunia yang lebih luas, meskipun belum mampu menjangkaunya secara fisik. Sementara melalui tulisan, aku menemukan cara terbaik untuk menuturkan hal-hal yang terkadang sulit kusampaikan secara langsung. Titik baliknya terjadi ketika aku duduk di bangku SMP. Di tengah kelelahan dan kesulitanku membaca, aku memaksakan diri untuk pergi ke perpustakaan hampir setiap hari sepulang sekolah. Kebiasaan itu akhirnya membawaku mendapatkan penghargaan sebagai siswa teladan Sahabat Perpustakaan. Aku masih ingat buku pertama yang membuatku benar-benar jatuh hati pada dunia membaca adalah Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika. Dari buku itu, aku bisa tertawa dan menikmati cerita. Saat itulah aku mulai menyadari bahwa tulisan adalah salah satu cara yang paling tepat untuk membagikan cerita.
Sejak saat itu, aku mulai termotivasi untuk membaca lebih banyak. Nilai pelajaran sejarahku juga selalu cukup baik setelah aku mendapatkan banyak informasi melalui membaca. Perlahan, aku mulai mengombinasikan kemampuan menggambarku dengan tulisan. Aku membuat komik sederhana dengan gaya dan kemampuanku saat itu. Namun, komik tersebut akhirnya disita oleh guru Bahasa Indonesia karena dianggap mengganggu proses belajarku. Justru dari peristiwa itu, aku kemudian mengetahui bahwa aku mengalami disleksia. Guru Bahasa Indonesiaku menjadi salah satu orang yang membantu aku memahami dan melewati kondisi tersebut. Beliau juga membantu mengarahkan bakatku dalam menggambar dan menulis agar bisa menjadi sebuah karya. Dari sanalah karya-karyaku mulai ditampilkan di majalah dinding sekolah. Pengalaman itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan aku memahami bahwa sesuatu yang selama ini kuanggap sebagai hambatan ternyata juga bisa menjadi jalan untuk menemukan kemampuan lain dalam diriku.
Ketika berada di Singapura, kecintaanku terhadap literasi kembali menemukan ruang untuk berkembang. Dulu, ketika masih sekolah, aku juga sering mencari cara lain untuk tetap bisa menikmati literasi. Kadang aku mendengarkan teman yang membaca dengan suara cukup keras, mendengarkan orang membacakan puisi, atau mengikuti acara bedah buku melalui radio. Kecepatan membacaku memang cukup pelan dan terkadang aku harus mengulang beberapa kali, terutama ketika menemukan kata-kata yang masih asing. Jika menemukan kata yang sulit atau memiliki akhiran yang serupa, aku biasanya harus berhenti, mengamatinya, lalu melafalkannya secara perlahan. Namun, justru dari kebiasaan itulah perlahan terjadi kemajuan. Semakin sering membaca, semakin banyak pula kosakata yang kukenal. Aku mulai semakin akrab dengan kata-kata yang sebelumnya terasa asing.
Sampai sekarang pun, ketika melihat huruf dan aksara, terkadang aku masih merasa seperti melihat sesuatu yang menari atau terbalik. Bedanya, karena sudah membiasakan diri membaca dan menjadi lebih familiar dengan banyak kata, aku perlahan menjadi lebih nyaman. Meski demikian, disleksia masih menjadi tantangan yang harus kuhadapi, terutama ketika aktif dalam komunitas. Aku cukup sering mendapatkan tanggapan terhadap tulisanku karena ada kata yang salah ditulis. Aku juga sering mendapatkan revisi sehingga harus lebih fokus dan memeriksa tulisan berkali-kali.
Terkadang, komentar yang kurang menyenangkan membuatku lelah bahkan tersinggung. Namun, seiring berjalannya waktu, aku belajar berdamai dengan hal tersebut. Aku belajar bahwa rasa tersinggungku bukan menjadi tanggung jawab orang lain. Kondisiku juga bukan berarti semua orang harus memakluminya. Pada akhirnya, aku tetap harus mampu membawa diri dan bersikap profesional terhadap tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadaku. Sejauh ini, aku merasa mampu melewati tantangan tersebut dengan baik. Aku dipercaya menjadi wakil sekretaris di komunitas AMRISING dan RUMILA, serta terlibat dalam Migrant Writers of Singapore dan menjadi bagian dari keluarga besar FPMI. Komunitas-komunitas tersebut memiliki keterkaitan erat dengan literasi dan seni. Di sanalah aku menemukan ruang untuk terus belajar. Apa yang dahulu menjadi tantangan perlahan justru menjadi rumah yang memberiku rasa aman dan ketenangan.
Di tengah kesibukan bekerja sebagai pekerja migran Indonesia, aku juga berusaha menyediakan waktu khusus untuk membaca dan berkarya. Pekerjaanku biasanya selesai sekitar pukul delapan malam. Setelah membersihkan diri dan makan malam, aku membiasakan diri untuk tidur sebelum pukul sepuluh malam agar bisa bangun lebih awal, sekitar pukul empat pagi. Pagi hari menjadi waktu yang sangat berarti bagiku. Saat sebagian orang masih terlelap, aku bisa mengerjakan berbagai aktivitas literasi dan seni. Aku mengerjakan tugas kuliah, membaca buku, journaling, membuat kerajinan tangan, hingga menonton atau mendengarkan podcast. Untuk membaca, aku juga sering memanfaatkan waktu istirahat ketika bekerja, misalnya setelah makan siang atau pada sore hari sebelum mulai memasak untuk makan malam.
Bagi aku, literasi bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Literasi juga menjadi terapi sekaligus cara untuk mendokumentasikan perjalanan hidupku. Di tengah rasa terisolasi karena berada jauh dari rumah, menghadapi lingkungan yang asing, dan merasakan kerinduan kepada keluarga, tulisan menjadi salah satu cara terbaik untuk berbagi. Sementara membaca membantuku tetap terhubung dengan informasi dan dunia yang lebih luas. Sebagai seorang perantau, aku menyadari bahwa ada banyak hal yang harus dikorbankan. Waktu bersama keluarga berkurang, kesempatan menikmati kehidupan di kampung halaman juga banyak terlewatkan. Ada begitu banyak momen yang seharusnya bisa dijalani bersama keluarga dan dibagikan melalui cerita.
Karena itu, aktivitas literasi menjadi semacam pelarian yang sehat bagiku ketika rasa rindu dan kesepian datang. Aku bisa menuangkan kerinduanku kepada keluarga dan kampung halaman melalui rangkaian kata. Melalui tulisan, apa yang kurasakan tidak hanya tersimpan di dalam diriku, tetapi juga bisa dibaca dan dirasakan oleh orang-orang yang kucintai. Pada akhirnya, aksara yang dulu terasa begitu melelahkan justru menjadi salah satu cara bagiku untuk menemukan suara. Aku mungkin masih harus membaca lebih pelan, mengulang kata-kata tertentu, atau memeriksa tulisan berkali-kali. Namun, aku tidak lagi melihat semua itu sebagai alasan untuk menjauh dari literasi. Justru melalui proses panjang itulah aku belajar bahwa berdamai dengan sebuah keterbatasan bukan berarti berhenti menghadapinya, melainkan menemukan cara untuk tetap berjalan bersamanya.
Setelah melalui berbagai pengalaman dan bertemu banyak orang, aku mulai memahami bahwa stigma terhadap disleksia sering kali muncul karena kurangnya informasi. Dulu, aku pun pernah berpikir bahwa disleksia berarti hambatan untuk menjadi pintar atau sukses. Karena itu, sekarang aku tidak lagi terlalu tersinggung ketika ada orang yang memandang kondisiku sebagai kelemahan atau menganggap aku menggunakan disleksia untuk mendapatkan pemakluman. Aku memilih untuk terus menjalani hidup dengan tenang dan mendekatkan diri pada lingkungan yang mendukung serta membantuku bertumbuh. Aku juga tidak pernah menuntut orang lain untuk sepenuhnya memahami kondisiku. Setiap orang memiliki tantangannya masing-masing, dan bagiku, menghadapi kondisiku adalah bagian dari tanggung jawabku terhadap hidup sendiri. Tentu, sampai pada titik ini tidak mudah. Pernah ada ketakutan tentang bagaimana aku bisa memenuhi tuntutan pendidikan dan pekerjaan, terlebih aku juga memiliki buta warna parsial. Dulu, aku bahkan cenderung menutupi kondisi tersebut karena belum memiliki cukup informasi dan takut akan memengaruhi kesempatan yang kumiliki. Namun, semakin banyak informasi yang kudapatkan dan semakin banyak orang yang kutemui, aku menyadari bahwa kondisi ini tidak menentukan nilai diriku. Aku juga menemukan banyak orang dari berbagai latar belakang akademik dan profesi yang hidup dengan disleksia. Dari sana, aku semakin percaya bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan.
Menjaga kepercayaan diri juga bukan sesuatu yang selalu mudah bagiku. Dulu, kesulitan belajar bahkan membuatku sering mencari alasan untuk tidak pergi ke sekolah. Namun, aku sadar bahwa kondisi ekonomi keluargaku membuatku harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan agar dapat bertahan dan memiliki kesempatan yang lebih baik. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa aku sama pentingnya dengan manusia lain. Selama aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri, tidak merugikan orang lain, dan memahami bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda, maka perjalananku tidak harus dibandingkan dengan siapa pun. Ini bukan tentang menjadi lebih cepat atau sama dengan orang lain, tetapi tentang bagaimana aku mampu melampaui ketakutanku sendiri.
Sebenarnya, aku tidak selalu percaya diri. Namun, setiap kali memasuki sebuah ruangan, aku berusaha menegakkan kepala. Bukan untuk menjadi lebih cepat dari orang lain, tetapi untuk mengingatkan diri bahwa aku juga berhak berada di sana. Begitu pula dengan membaca. Bagiku, membaca bukan tentang siapa yang paling cepat, berapa banyak buku yang selesai dibaca, atau apakah buku tersebut ditulis oleh orang terkenal. Membaca adalah caraku memasuki berbagai cerita dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Jika aku bisa berbicara kepada diriku sendiri ketika masih kecil dan kesulitan membaca, aku ingin mengatakan:
“Hai Maftuh, terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini dan tetap memilih dirimu sendiri. Dulu kita mungkin pernah merasa harus mengubur mimpi karena keadaan, tetapi ternyata celah kecil yang kita sisakan itu masih ada. Sekarang, mimpi-mimpi yang pernah kita tulis di diary dari kertas bekas perlahan mulai menjadi nyata. Ada yang tertulis di sertifikat penghargaan, laporan kegiatan, dan buku-buku yang bisa kita beli dari hasil kerja keras sendiri. Jadi, mari rayakan setiap pencapaian kecil. Mari berdamai dengan diri sendiri dan menikmati hidup sebahagia mungkin. Mari peluk diri kita dan kalahkan rasa takut itu. Kita berhasil melewatinya.”
Ke depan, salah satu impian yang ingin aku wujudkan adalah menyelesaikan buku yang sudah bertahun-tahun kukerjakan. Aku juga sedang membangun komunitas yang berfokus pada cerita dan perjalanan para pekerja migran dari akar rumput. Aku ingin menghadirkan cerita yang mungkin jarang terdengar. Jika selama ini banyak buku menceritakan kesuksesan dengan narasi from zero to hero atau from nothing to something, aku ingin membawa cerita yang berbeda: from nothing, still learning, and keep growing. Bagiku, semua cerita sama pentingnya dan semua kehidupan sama berharganya, siapa pun orangnya dan apa pun pekerjaannya.
Kepada sesama perempuan PMI yang mungkin sedang berjuang dengan kondisi atau keterbatasan tertentu, aku hanya ingin mengatakan: jangan menyerah. Kamu boleh lelah, kamu boleh berhenti sebentar untuk mengambil napas, tetapi jangan lupa untuk melanjutkan perjalananmu. Semoga siapa pun yang sedang mengalami hal serupa dipertemukan dengan orang-orang baik, lingkungan yang tepat, dan alasan untuk terus bertahan serta merayakan hidup. Jika suatu hari ceritaku sampai kepada kalian dan kalian membutuhkan tempat untuk berbicara, didengar, atau sekadar berbagi cerita, aku ingin menjadi salah satu orang yang bersedia mendengarkan. Aku ingin ikut merayakan perjalanan kalian. Tetaplah memilih dirimu sendiri. Apa pun yang sedang kamu lalui, semoga selalu ada alasan untuk melewatinya. Mari kita rayakan kehidupan yang mungkin hanya kita miliki sekali ini. Kalian semua hebat.
Bagiku, dukungan paling penting bagi pekerja migran dengan kebutuhan khusus bukanlah perlakuan yang membuat kami merasa berbeda, melainkan kesempatan untuk diperlakukan secara setara. Kami juga sedang belajar, bekerja, dan berproses seperti orang lain. Karena itu, pemahaman mengenai disleksia dan kondisi lainnya perlu semakin luas agar perbedaan dalam menerima dan memproses informasi tidak langsung dianggap sebagai kebodohan. Aku berharap semakin banyak orang memiliki pengetahuan dan kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya, sehingga mereka yang membutuhkan dapat memperoleh dukungan dan penanganan yang tepat. Cerita ini adalah pengalaman pribadiku dan tentu tidak mewakili semua orang dengan disleksia atau kondisi serupa. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Aku hanya berharap cerita ini bisa sampai kepada mereka yang mungkin masih takut, ragu, atau belum berani terbuka mengenai kondisi yang mereka alami.
Menulis cerita ini ternyata juga tidak mudah. Mengingat kembali berbagai peristiwa di masa lalu cukup menguras energi. Mungkin masih ada tulisan yang kurang runtut atau kesalahan kata di dalamnya. Namun, aku bersyukur pernah diberi ruang untuk berbagi. Semoga cerita sederhana ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bertahan, bertumbuh, dan menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Penulis: Siti Maftuhah, pekerja migran Indonesia (PMI) dengan disleksia, relawan Ruanita Indonesia di Singapura dan dapat dihubungi via akun IG: smaftuh_r serta merupakan pecinta aksara.