(PODCAST PMI STORIES) Dari Bekerja di Dapur di Dubai Menuju Mimpi Toko Kue

Di balik hiruk pikuk Dubai yang penuh gemerlap, tersimpan kisah seorang perempuan Indonesia yang tengah membangun hidupnya kembali. Pelan namun pasti, dengan keberanian dan keyakinan. Namanya Yuni, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sukabumi, yang menjadikan dapur kecil di negeri orang sebagai jalan untuk menemukan jati diri dan mewujudkan impian. Dalam PMI Stories Episode #4, Yuni berbagi kisah tentang bagaimana ia memulai perjalanan sebagai PMI, melewati pergantian majikan, jatuh bangun dalam bekerja, hingga akhirnya menemukan kekuatan baru lewat usaha kuliner Indonesia yang ia bangun sendiri di Dubai.

Motivasi pertama Yuni ketika memutuskan menjadi PMI sederhana namun penuh makna. Yuni ingin membantu orang tua yang sudah lanjut usia. Baginya, keluarga adalah tanggung jawab yang tak bisa ditawar, dan menjadi PMI adalah cara yang ia pilih untuk memastikan mereka tetap sejahtera. Namun di balik itu, ada sesuatu yang Yuni simpan jauh di dalam hati. Yuni bermimpi membuka toko kue, baik di Dubai maupun di Indonesia.

“Saya ingin punya usaha nantinya, usaha di kue,” tuturnya.

Mimpi itu tidak pernah padam, bahkan ketika hidup sebagai pekerja rumah tangga di luar negeri menguji kesabarannya. Dari kontrak dua tahun tanpa libur hingga berpindah dari satu majikan ke majikan lain, Yuni tetap mempertahankan tekadnya untuk menjadi perempuan yang mandiri. Pertama kali tiba di Dubai pada 2019 lewat agen penyalur, Yuni bekerja dengan keluarga Emirati yang memiliki enam anak. Tidak ada hari libur, namun ia bersyukur mendapat majikan yang baik. Meski demikian, kerinduan untuk merasakan kebebasan membuatnya berpikir ulang tentang jalan hidupnya.

Setelah kontrak berakhir, Yuni memutuskan mencoba cara lain. Yuni bekerja secara mandiri, yakni mencari majikan langsung lewat situs, grup Facebook, hingga Instagram. Cara ini memberi ruang gerak lebih besar, dan perlahan, Yuni merasakan Dubai bukan sekadar tempat bekerja, melainkan tempat ia menemukan dirinya.

This is me. This is my life.” kata Yuni sekali lagi.

Dubai menjadi cermin yang memperlihatkan siapa Yuni sebenarnya. Ketika kesempatan bazar KJRI Dubai datang, Yuni bersiap menjual roti unyil, spesialisasinya di dunia baking. Tetapi tiga hari sebelum acara, oven satu-satunya rusak. Alih-alih menyerah, seorang teman menyarankan ia mencoba martabak.

Belum pernah membuatnya, Yuni belajar dari YouTube, mencoba sekali, dan berhasil. Di hari bazar, martabaknya laku keras. Ternyata, baru Yuni yang menjual martabak live on the spot. Kini ia berjualan secara online dari rumah majikan, menerima pesanan, mengatur kurir, menulis alamat pelanggan, dan tetap bekerja sebagai PMI. Semua dilakukan dengan satu tantangan terbesar, bagaimana Yuni bisa membagi waktu.

Jika Yuni menengok ke belakang, ia melihat dirinya yang dulu hanya bekerja tanpa tujuan. Hari ini, ia melihat perempuan yang mandiri, percaya diri, bahagia, dan tahu apa yang ingin ia capai.

This is Yuni. Inilah Yuni yang saya cari.” katanya menutup rekaman podcast.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan, seperti pekerja migran Indonesia (PMI). Cerita Yuni bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang keberanian, luka yang dipendam, dan kekuatan untuk terus melangkah.

PMI Stories adalah program audio podcast yang menghadirkan cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai penjuru dunia. Melalui kisah nyata, para PMI berbagi pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, peluang yang diraih, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI dan perempuan Indonesia yang tinggal di Singapura, PMI Stories menjadi ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dipahami. Kami percaya bahwa setiap PMI bukan sekadar angka atau status kerja, melainkan manusia dengan perjalanan hidup, suara, dan cerita yang bermakna. Karena di balik setiap perjalanan migrasi, selalu ada cerita yang layak untuk didengarkan.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(PODCAST PMI STORIES) “Telinga dan Mental Baja” Saat Bekerja di Singapura

Mengawali program audio podcast perdana PMI (=Pekerja Migran Indonesia) Stories, Dewi Lubis selaku host program mengundang sesama pekerja migran di Singapura. Dia adalah Nova Haryanti, yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di Singapura. Karena di balik julukan “mental baja”, ada manusia pekerja yang belajar bertahan, hari demi hari, jauh dari rumah.

Cerita Nova dibagikan dalam episode perdana Podcast PMI Stories yang dikelola oleh Ruanita, dengan Dewi Lubis, sesama PMI di Singapura, sebagai host. Podcast ini membuka ruang aman bagi pekerja migran perempuan untuk bersuara, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

Bekerja sebagai pekerja migran di Singapura bukan sekadar soal keterampilan domestik. Di balik rutinitas membersihkan rumah, menjaga anak, dan memasak, ada tuntutan yang jauh lebih berat, sehingga disebut bermental baja.

“Di sini kita dilarang baper,” kata Nova Haryanti, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Lampung yang telah sebelas tahun bekerja di Singapura. “Kadang kata-kata majikan itu menyakitkan. Tapi kita harus bisa menahan diri, menerima, dan tetap profesional.”

Julukan “negeri bertelinga dan mental baja” bukan tanpa alasan. Di Singapura, ketegasan, kecepatan, dan disiplin adalah standar hidup sehari-hari. Itu sebab para pekerja migran harus beradaptasi cepat atau tertinggal.

Keputusan Nova untuk bekerja ke luar negeri berangkat dari niat sederhana, yakni dia ingin membantu perekonomian keluarga. Saat itu, Singapura bukan mimpi besar, melainkan peluang yang terlihat nyata karena banyak tetangga di kampungnya sudah lebih dulu merantau.

“Aku berangkat lewat sponsor. Prosesnya panjang dan melelahkan,” kenangnya. Ia harus bolak-balik Lampung–Jakarta untuk mengurus dokumen, paspor, dan medical check-up. Rasa cemas terus menghantui, karena satu hasil pemeriksaan saja bisa menggagalkan keberangkatan.

Dukungan keluarga pun datang setengah-setengah. “Yang benar-benar mendukung cuma mama,” ujarnya. Meski penuh kekhawatiran, sang ibu akhirnya melepas Nova pergi. Menurut Nova, dia adalah seorang anak gadis dengan modal nekat dan keberanian.

Hari-hari pertama di Singapura menjadi ujian mental tersendiri. Nova menggambarkannya sebagai perasaan campur aduk, seperti bingung, tidak nyaman, dan sangat kesepian.

Ia terkejut dengan ritme hidup yang serba cepat dan disiplin waktu yang ketat. Bahkan langkah kaki orang-orang terasa dua kali lebih cepat dibanding di Indonesia. Hal kecil pun menjadi pengalaman budaya yang tak terlupakan, seperti saat ia sadar bahwa air keran di Singapura bisa langsung diminum.

“Di boarding house tidak ada air minum. Ternyata air keran bisa diminum dan itu normal di sini. Saya benar-benar shock.

Sebagai pekerja rumah tangga, tugas Nova meliputi menjaga anak, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan dapur, dan memasak. Jam kerjanya panjang. Pada majikan pertama, ia bekerja dari pukul enam pagi hingga sebelas malam. Di majikan kedua, jam kerja sedikit lebih manusiawi: pukul delapan pagi hingga sepuluh malam.

Perbedaan budaya kerja terasa sangat nyata, terutama dalam hal komunikasi. “Orang di sini sangat to the point,” ujar Nova. Keterbatasan bahasa Inggris sempat menjadi hambatan besar. Di awal bekerja, ia bahkan harus berkomunikasi dengan majikannya menggunakan Google Translate.

“Tapi dari situ saya belajar. Bahasa itu penting, bukan cuma untuk kerja, tapi untuk bertahan.”

Sebelas tahun di Singapura mengajarkan Nova tentang kemandirian dan kesabaran. Hidup jauh dari keluarga memaksanya belajar mengelola emosi, waktu, dan pikiran positif di tengah situasi yang menantang.

“Kita hanya punya dua pilihan antara menyerah atau bertahan dengan keputusan besar yang sudah kita ambil,” ujarnya.

Untuk pemerintah Indonesia, Nova menekankan pentingnya akses informasi yang transparan dan perlindungan yang lebih kuat bagi PMI, terutama terkait hak pekerja, kontrak kerja, dan bantuan hukum. “Kami ingin merasa aman dan yakin bahwa kami benar-benar dilindungi, meski jauh dari tanah air.”

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan, seperti pekerja migran Indonesia (PMI). Cerita Nova bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang keberanian, luka yang dipendam, dan kekuatan untuk terus melangkah.

PMI Stories adalah program audio podcast yang menghadirkan cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai penjuru dunia. Melalui kisah nyata, para PMI berbagi pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, peluang yang diraih, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI dan perempuan Indonesia yang tinggal di Singapura, PMI Stories menjadi ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dipahami. Kami percaya bahwa setiap PMI bukan sekadar angka atau status kerja, melainkan manusia dengan perjalanan hidup, suara, dan cerita yang bermakna. Karena di balik setiap perjalanan migrasi, selalu ada cerita yang layak untuk didengarkan.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.