(IG LIVE) Pentingnya Komunikasi, Empathic Space, dan Dukungan Pasangan bagi “Pejuang Dua Garis” di Rantau

Ruanita Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang konsisten menyediakan ruang aman digital bagi orang Indonesia di luar Indonesia, kembali menggelar program diskusi interaktif melalui platform IG Live. Melalui program diskusi IG LIVE ini, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah sesi diskusi hangat yang dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, sebagai host, guna membedah realitas emosional dan psikologis di balik perjalanan panjang para “Pejuang Dua Garis” (pasangan yang sedang berjuang mendapatkan keturunan) di perantauan.

Diskusi interaktif berdurasi 30–40 menit ini menghadirkan dua narasumber istimewa yang berdomisili di luar negeri: Rezki Warni, yang disapa dengan Tya, seorang ibu WNI yang menetap di Taiwan dan berhasil melewati program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF), serta Riani Mujiastuti yang disapa Riri, seorang ibu yang menjalani proses IVF serupa di Dubai, Uni Emirat Arab.

Di awal diskusi, Rufi menekankan bahwa perjalanan untuk mendapatkan buah hati sering kali dipandang sebelah mata dan hanya dinilai dari hasil akhir alat tes kehamilan (test pack). Padahal, realitas di balik layar melibatkan proses panjang yang menguras energi, seperti: Penantian yang penuh harap dan kecemasan; Pemeriksaan laboratorium dan tes hormon yang intensif, dan “Air mata tersembunyi” yang kerap kali hanya bisa dipahami oleh sesama perempuan atau pasangan yang berada di fase serupa.

Oleh karena itu, Ruanita Indonesia menginisiasi ruang inklusif ini agar perempuan maupun pasangan suami-istri tidak merasa terisolasi, melainkan memiliki wadah bebas stigma untuk saling berbagi cerita. Sebagai penanggap pertama, Tya membagikan kisah personalnya saat pertama kali mendatangi klinik kesuburan. Ia menyoroti bagaimana perempuan sering kali secara otomatis dibebani “tanggung jawab tunggal” atas kondisi medis atau hambatan reproduksi. Vonis langsung tersebut sempat membuatnya merasa sangat sedih dan terluka sebagai perempuan, terlebih karena menjadi seorang ibu adalah impian terbesarnya. Di sisi lain, ada bayang-bayang grafik usia reproduksi yang ketat, di mana Kaya memulai proses tersebut di usia 36 tahun dan menyelesaikannya pada usia 37 tahun.

Selain itu, Tya menceritakan pengalaman kurang menyenangkan dari dokter di klinik IVF pertamanya. Karena sang suami sudah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, pihak medis langsung menyimpulkan secara sepihak bahwa kendala kesuburan mutlak berada di pihak Tya. Di tengah guncangan emosional dan fisik akibat fluktuasi hormon yang naik-turun secara drastis selama program IVF, Kaya menegaskan bahwa peran aktif, komunikasi, serta prinsip kesetaraan dari pasangan adalah fondasi utama yang membuatnya mampu bertahan:

  1. Berjuang Bersama, Bukan Sendirian: Sejak awal pernikahan, Tya dan suaminya sepakat untuk mencoba secara alami, namun berkomitmen penuh untuk berjuang bersama secara emosional dan finansial jika jalur IVF harus ditempuh.
  2. Dukungan Praktis dan Riset Mandiri: Suami Tya terlibat penuh dari awal. Meskipun mereka tinggal di Taiwan sebagai warga asing dan tidak menguasai bahasa setempat, sang suami berinisiatif melakukan riset mendalam, membuat daftar klinik IVF terbaik, mempelajari prosedurnya, hingga menyiapkan serta menyuntikkan obat-obatan hormon harian untuk Kaya.
  3. Menyediakan Safe Space untuk Bernapas: Sang suami memberikan ruang emosional bagi Tya saat ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri di kala emosinya sedang tidak stabil akibat pengaruh obat-obatan

Menjalani program IVF di negeri orang membawa tantangan tersendiri. Berbeda dengan di Indonesia yang kerap diwarnai pertanyaan-pertanyaan dari keluarga besar, Tya dan suami yang tinggal berdua di Taiwan sebagai ekspatriat justru merasa lebih memiliki “ruang privat”. Keluarga dan saudara di Indonesia sangat menghargai privasi mereka dan tidak pernah memberikan tekanan psikologis. Hal ini membuat mereka bisa berfokus penuh pada proses pengobatan di lingkungan terdekat yang suportif, meskipun jauh dari tanah air. Di akhir sesi, diskusi semakin dinamis saat Riri dari Dubai berhasil bergabung setelah sempat mengalami kendala koneksi internet, menambah kayanya perspektif dari para WNI yang berjuang di berbagai belahan dunia. Program ini mempertegas komitmen Ruanita Indonesia untuk terus hadir sebagai “Rumah Aman Kita”, sebuah wadah yang merangkul kesehatan mental perempuan Indonesia di mana pun mereka berada.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!