(SIARAN BERITA) Peringati Hari Anak Nasional melalui Diskusi Dwi Kewarganegaraan dan Identitas Anak Indonesia di Keluarga Internasional

ISLAMABAD, 26 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Indonesia 2026, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Anak Global, Identitas Nasional: Memahami Dwi Kewarganegaraan dan Masa Depan Anak Indonesia di Keluarga Internasional” pada Minggu (26/7). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai negara, terdiri atas orang tua, perempuan Indonesia di luar negeri, pemerhati anak, akademisi, serta masyarakat umum.

Diskusi diselenggarakan sebagai ruang edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, perlindungan hukum anak hasil perkawinan campuran, serta pentingnya membangun identitas nasional bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan multikultural.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Rahmat Hindiarta Kusuma, Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Islamabad, Pakistan, yang menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak anak Indonesia di luar negeri, termasuk anak-anak yang berada dalam keluarga dengan latar belakang kewarganegaraan ganda. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Fungsi Pensosbud KBRI memiliki peran dalam memberikan pendampingan, informasi, dan fasilitasi terkait berbagai persoalan sosial dan kekonsuleran yang dihadapi WNI di luar negeri, termasuk isu yang berkaitan dengan status kewarganegaraan anak hasil perkawinan campuran.

Setelah pembukaan tersebut, moderator Dewi N. S. Lubis, Mahasiswa Hukum Universitas Terbuka di Singapura, mengawali diskusi dengan menekankan bahwa Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk memperhatikan hak-hak anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di luar negeri dan menghadapi dinamika identitas sebagai bagian dari keluarga internasional.

Pada sesi pertama, Maudy Noor Fadhlia, dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, memaparkan aspek perlindungan hukum internasional bagi anak berkewarganegaraan ganda. Ia menjelaskan berbagai regulasi yang mengatur status kewarganegaraan anak Indonesia, tantangan administrasi, serta pentingnya perlindungan negara terhadap hak-hak anak di tengah mobilitas masyarakat global.

Sesi berikutnya menghadirkan Rina Harahap, Relawan Ruanita Indonesia di Pakistan, yang membagikan pengalaman keluarga Indonesia di Pakistan dalam mengurus dokumen kewarganegaraan anak serta berbagai tantangan administrasi yang dihadapi keluarga lintas negara. Ia menekankan pentingnya memperoleh informasi yang akurat agar orang tua dapat memenuhi hak-hak sipil anak sejak dini.

Pengalaman serupa disampaikan oleh Rindu Ragilia, content creator yang berdomisili di Portugal. Sebagai ibu yang menikah dengan warga Pakistan dan membesarkan anak-anak yang lahir di negara ketiga, ia berbagi kisah mengenai pengasuhan lintas budaya, pengenalan bahasa Indonesia, serta upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak yang tumbuh di lingkungan internasional.

Perspektif psikologis disampaikan oleh Reneta, psikolog yang berdomisili di Australia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa anak-anak birasial dan multikultural memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai individu yang adaptif dan terbuka terhadap keberagaman. Namun demikian, dukungan keluarga tetap menjadi faktor penting dalam membangun rasa percaya diri, identitas diri yang sehat, serta keterikatan terhadap budaya asal.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai persoalan, mulai dari prosedur kewarganegaraan, hak-hak anak dalam keluarga lintas negara, hingga strategi membangun identitas nasional tanpa mengabaikan realitas sebagai warga dunia.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang edukasi dan berbagi pengalaman bagi perempuan Indonesia dan keluarga Indonesia di berbagai belahan dunia. Diskusi ini juga diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, memperkuat jejaring dukungan bagi keluarga Indonesia di luar negeri, serta menjadi referensi publik melalui dokumentasi yang akan ditayangkan di kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tumbuh, memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pengakuan identitas, serta kesempatan berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Simak selengkapnya rekaman diskusi daring yang tayang di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Menyekolahkan Anak di Daycare Portugal adalah Perjalanan Adaptasi

Portugal bukanlah tujuan awal kami, tetapi takdir membawa kami ke negeri ini. Awalnya, kami berencana tinggal hanya enam bulan untuk mendukung studi suami, tetapi pesona Lisbon yang hangat, keramahan warganya, serta lingkungan yang inklusif membuat kami memutuskan untuk menetap lebih lama. 

Seiring berjalannya waktu, kami mulai memikirkan bagaimana tumbuh kembang anak-anak kami di masa depan, termasuk bagaimana anak-anak bersekolah nantinya. Rupanya kami memiliki tantangan untuk mencari sekolah yang sesuai untuk kebutuhan anak-anak kami, terutama Daycare bagi si kecil.

Berbeda dengan di Indonesia, pendaftaran Daycare di Portugal dilakukan secara online atau langsung dengan mengisi formulir di sekolah yang dituju. Syaratnya cukup jelas, seperti kartu identitas anak dan orang tua, bukti pajak, bukti tempat tinggal, buku vaksin, dan dalam beberapa kasus, surat keterangan tidak bekerja dari salah satu orang tua. 

Sebagai orang tua, kami pun harus merespon bagaimana proses pendaftaran segera dimulai. Apalagi sistem pendaftaran di sini berdasarkan sistem zonasi, yang menentukan sekolah berdasarkan alamat tempat tinggal. Kami harus bergerak cepat, karena masa pendaftaran berlangsung dari Maret hingga April.

Jika di Indonesia, saya mendapati banyak orang tua menunggu anak-anak mereka di sekolah, terutama di hari pertama mereka bersekolah. Namun, ini tidak berlaku di Portugal.

Di Portugal, baik Daycare maupun Taman Kanak-kanak (TK) memiliki kebijakan di mana orang tua hanya boleh mengantar dan menjemput anak. Orang tua dilarang untuk menemani anak-anak mereka di kelas. 

Saya merasa awalnya sangat sulit, terutama bagi anak kami yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, seiring waktu, kami melihat peraturan tersebut sangat berdampak positif bagi anak-anak kami. Anak-anak belajar mandiri lebih cepat dan mulai membangun kepercayaan diri mereka. Wow!

Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah bahasa sebagai komunikasi sehari-hari orang tua dengan anak. Bahasa menjadi tantangan utama, baik bagi kami sebagai orang tua maupun anak-anak kami. Di rumah, kami berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara di sekolah mereka harus beradaptasi dengan Bahasa Portugis. 

Pada awalnya, komunikasi dengan anak-anak terasa sulit buat kami. Namun,  anak-anak sudah mulai berbicara dengan lancar, setelah enam bulan berlalu. Bahkan, komunikasi anak-anak terdengar seperti penutur asli. Kecepatan adaptasi sosial mereka sungguh mengejutkan dan menginspirasi kami untuk ikut belajar Bahasa Portugis lebih serius.

Daycare dan TK di Portugal lebih menekankan pada eksplorasi dan sosialisasi dibandingkan akademik. Anak-anak tidak diajarkan membaca dan menulis seperti di Indonesia, tetapi mereka dibiasakan dengan aktivitas di luar ruangan, jalan-jalan ke taman, mengunjungi museum, menonton teater, serta merawat hewan peliharaan kelas. Kami menyadari bahwa pendidikan di sini lebih menitikberatkan pada pengembangan empati, disiplin, dan kemandirian dibandingkan keterampilan akademik di usia dini.

Berbicara tentan dukungan Pemerintah Portugal, kami menilai pemerintah di sini memberikan berbagai tunjangan bagi keluarga, termasuk Daycare gratis bagi yang memenuhi syarat. Sekolah negeri pun tidak memungut biaya, sedangkan sekolah swasta menerapkan biaya bervariasi, bergantung dengan subsidi dan berdasarkan penghasilan keluarga. Kami sendiri membayar sekitar 90 Euro per bulan, jauh lebih murah dari tarif standar yang bisa mencapai 300 Euro.

Selain itu, snack pagi hingga sore dan makan siang sepenuhnya disediakan oleh sekolah. Sahabat Ruanita perlu tahu, jika anak-anak ingin membawa bekal dari rumah, ada aturan ketat yang harus dipatuhi, seperti larangan membawa makanan gorengan, makanan manis, ataupun makanan instan. 

Bagaimana pun, menyekolahkan anak di Portugal memberi kami perspektif baru tentang pendidikan. Sekolah tidak memberlakukan adanya sistem ranking, seperti zaman saya bersekolah di Indonesia dulu. Sekolah juga tidak menerapkan ekstrakurikuler yang berlebihan. Saya menilai sekolah melakukan pendekatan yang lebih santai terhadap tugas sekolah, sehingga membuat anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan lebih bebas. Sebagai orang tua, kami juga merasa lebih rileks, karena anak-anak belajar dengan cara yang lebih natural dan alami.

Di masa depan, kami ingin memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan pendidikan berbasis nilai-nilai keluarga kami. Kami tengah mempertimbangkan sekolah Islam yang ada di Portugal, baik yang menggunakan kurikulum Portugal maupun Cambridge. Harapan kami, mereka tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dengan nilai-nilai yang seimbang antara budaya lokal dan keyakinan kami.

Untuk sahabat Ruanita, yang ingin menyekolahkan anak di Portugal, mohon perhatikan informasi pendaftaran Daycare sedini mungkin. Daftar tunggu bisa panjang, jadi semakin cepat mengurus pendaftaran, semakin besar kemungkinan mendapatkan tempat yang diinginkan. Hal yang terpenting, bersiaplah untuk mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan bahasa dan budaya yang baru.

Menurut saya, Portugal kini telah menjadi rumah kedua bagi kami.  Kami bersyukur atas pengalaman luar biasa ini.

Penulis: Rindu Ragillia, seorang ibu yang tinggal di Portugal dan dapat dikontak via akun instagram rinduragg.

(IG LIVE) Melahirkan di Mancanegara Bukan Hanya Sekedar Biaya, Simak Berikut Ini

Ruanita Indonesia melalui akun instagram ruanita.indonesia, kembali menggelar diskusi IG LIVE bersama para sahabat Ruanita melalui program IG LIVE. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Melahirkan di Mancanegara: Pelajaran dan Tantangan”.

Tema ini sarat cerita personal, penuh makna, dan kaya pembelajaran bagi perempuan Indonesia di berbagai belahan dunia.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, yang disapa Rufi, dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menghadirkan dua narasumber perempuan yang membagikan pengalaman mereka menjalani proses kelahiran di luar negeri.

Meski jarak memisahkan dari tanah air, semangat dan kekuatan mereka sebagai ibu menjadi sumber inspirasi.

Dalam cerita para informan, terungkap berbagai pelajaran berharga yang diperoleh dari pengalaman melahirkan di negara lain.

Mereka berbagi tentang bagaimana sistem pelayanan kesehatan di luar negeri dapat berbeda secara signifikan dari Indonesia, baik dalam prosedur medis, budaya komunikasi, hingga dukungan pasca-persalinan.

Keberagaman ini menjadi kesempatan bagi para ibu untuk belajar beradaptasi, memahami perbedaan, dan mengambil yang terbaik dari setiap sistem.

Tak bisa dipungkiri, melahirkan jauh dari keluarga besar membawa tantangan tersendiri. Mulai dari kendala bahasa, perbedaan budaya, hingga rasa rindu kampung halaman. Namun, setiap tantangan yang dihadapi justru memperkuat mental dan membangun rasa percaya diri.

Follow us

Para informan menekankan pentingnya membangun jejaring dukungan, baik dari pasangan, komunitas lokal, maupun sesama ibu di perantauan, untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama proses menjadi orang tua baru.

Dari pengalaman mereka, satu pesan yang ingin disampaikan kepada para perempuan Indonesia adalah: setiap perjalanan menjadi ibu itu unik dan berharga, terlepas dari di mana proses itu berlangsung.

Yang terpenting adalah menjaga kesehatan, menerima dukungan, dan merayakan setiap momen, baik suka maupun duka.

Diskusi ini bukan hanya membuka wawasan, tetapi juga menegaskan bahwa pengalaman melahirkan di mancanegara bukan sekadar cerita tentang jarak dan perbedaan, melainkan tentang keberanian, ketangguhan, dan cinta yang tanpa batas.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Agustus 2025 berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.