(CERITA SAHABAT) Ruang, Rasa, dan Identitas: Menjadi Perempuan Indonesia di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Saat pertama kali datang ke Belanda, saya dibuat terheran-heran. Kota tempat saya tinggal sebenarnya cukup modern, tapi suasananya begitu tenang, nyaris sunyi. Tidak ada suara klakson, tidak ada pedagang yang berteriak, hanya angin dingin dan suara burung dari kejauhan.

Suatu pagi, saya memberanikan diri keluar rumah sendirian untuk belanja ke supermarket. Sepanjang jalan, orang-orang yang saya temui tersenyum dan menyapa, “Hallo!” atau “Goedemorgen!” Sapaan sederhana itu membuat hati saya terasa hangat. Ada rasa diterima. Ada rasa bahwa, meskipun saya baru saja datang dari negeri tropis yang jauh, saya sudah disambut di sini.

Belanda memang negeri para pesepeda. Di jam-jam tertentu, jalanan dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja, dan ibu rumah tangga yang bersepeda dengan tenang. Saya jarang sekali mendengar suara bising kendaraan. Kehidupan di sini berjalan dengan teratur dan rapi, tapi tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang lembut.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak jejak Indonesia tertinggal di negeri ini. Hubungan sejarah panjang antara Indonesia dan Belanda tampak di berbagai ruang publik. Nama-nama jalan, gedung, bahkan tempat makan banyak yang menggunakan istilah Indonesia.

Di kota Utrecht, tempat saya tinggal, ada satu kawasan bernama Lombok. Kawasan ini penuh dengan nama jalan seperti Bandoengstraat, Javastraat, dan Kalimantanstraat. Saat melintasinya, saya merasa seperti sedang berjalan di tengah kenangan, riuhnya lalu lintas, aroma kopi, dan keriangan suasana yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Bandung.

Tak jauh dari sana, ada pula rumah-rumah lansia untuk warga keturunan Indonesia, dengan nama yang juga beraroma tanah air: Roemah Nusantara, Mandala, dan lainnya. Nama-nama itu seolah menjadi pengingat bahwa akar budaya Indonesia tetap hidup di negeri ini, bahkan di antara generasi yang sudah lama menetap di Belanda.

Meskipun jauh dari tanah air, saya tetap berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang berjiwa Indonesia. Dinding rumah dihiasi kain batik, ukiran kayu, dan hiasan wayang kecil yang saya bawa dari Yogyakarta. Di ruang makan, aroma rempah dari dapur selalu menguar, membawa kenangan masa kecil.

Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk menjaga jati diri. Setiap tamu yang datang, baik orang Belanda maupun teman dari negara lain, langsung tahu asal saya. “Wah, rumahmu hangat sekali!” kata mereka. Saya hanya tersenyum. Mungkin, yang mereka rasakan bukan sekadar hangatnya ruangan, tapi juga kehangatan budaya yang saya bawa dari tanah air.

Tinggal di negeri orang tidak berarti harus mengubah diri menjadi orang lain. Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia berarti tetap menjaga kehormatan, kesantunan, dan kelembutan dalam bersikap. Saya berusaha untuk tetap berpenampilan sopan, ramah dalam berbicara, dan menghormati setiap orang. Nilai-nilai ketimuran itu saya pegang erat, bahkan ketika berhadapan dengan budaya yang lebih terbuka dan bebas seperti di Eropa.

Saya tidak ingin menjadi “kebarat-baratan”. Sebaliknya, saya belajar untuk menyaring setiap pengaruh baru. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai yang saya yakini. Ketika menghadiri acara keluarga besar suami atau pertemuan kantor, saya sering mengenakan batik atau kebaya sederhana. Banyak yang memuji keanggunan busana Indonesia. Saya merasa bangga, tanpa perlu banyak bicara, orang bisa melihat jati diri saya dari cara berpakaian dan bertutur.

Bahasa Indonesia selalu menjadi jembatan kehangatan, terutama saat berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Belanda. Kami bisa tertawa bersama, berbagi cerita, dan seolah jarak ribuan kilometer dengan tanah air menghilang begitu saja. Suami saya pun kini sedang belajar bahasa Indonesia. Kadang ucapannya masih terbata-bata, tapi itu justru membuat suasana rumah semakin hangat. Ia bilang, “Kalau bisa berbicara bahasamu, aku bisa lebih memahami hatimu.” Saya tersenyum mendengar itu. Ternyata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah bentuk cinta.

Saya juga membawa tradisi berbagi makanan ke lingkungan tempat tinggal kami. Setiap Ramadan dan Idul Fitri, saya memasak rendang, ketupat, atau kue kering untuk tetangga. Mereka sangat menyukainya! Kadang mereka pun membalas dengan kue khas Belanda seperti appeltaart atau stroopwafel. Pertukaran ini menjadi jembatan kecil yang mempererat hubungan kami.

Tidak ada yang lebih mudah menyatukan dua budaya selain makanan. Saya percaya, aroma dan rasa memiliki bahasa universal yang bisa dimengerti siapa pun.

Orang Belanda sangat akrab dengan masakan Indonesia. Banyak dari mereka tumbuh dengan cerita atau kenangan tentang nasi goreng, sate, atau rijsttafel yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Saya sering mengadakan acara memasak kecil di rumah. Tetangga-tetangga saya penasaran bagaimana cara membuat sambal atau gado-gado. Saat saya menunjukkan rempah seperti lengkuas, daun jeruk, dan serai, mereka terpesona oleh aromanya. “Inilah rahasia kelezatan Asia Tenggara,” saya bercanda.

Selain itu, saya dan suami rutin mengunjungi Tong Tong Fair atau Pasar Indonesia, dua acara besar yang menampilkan budaya dan kuliner Indonesia di Belanda. Di sana, suasananya benar-benar seperti pasar di Indonesia: ramai, penuh tawa, dan wangi sate yang menggoda. Saya selalu merasa seperti pulang ke rumah, meski hanya untuk satu hari.

Tahun-tahun pertama di Belanda bukan tanpa tantangan. Cuaca dingin, bahasa yang sulit, dan rasa sepi sempat membuat saya merasa terasing. Ada masa di mana saya hanya berdiam di rumah dan menatap salju jatuh di luar jendela sambil menahan rindu pada keluarga di tanah air.

Namun, perlahan semuanya berubah. Saya mulai mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas perempuan Indonesia, dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari situ, saya belajar bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi menemukan keseimbangan antara dua dunia.

Sekarang, saya sudah merasa lebih “menyatu”. Saya bisa berbicara bahasa Belanda dengan percaya diri, memiliki teman dari berbagai bangsa, dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga di Indonesia. Setiap panggilan video dengan keluarga selalu mengingatkan saya bahwa jarak tidak mampu memutus rasa cinta.

Sebagai perempuan Indonesia di Belanda, saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku. Budaya bisa tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan lingkungan baru, asal kita tetap menjaga akarnya.

Saya mengagumi perempuan Belanda yang mandiri dan percaya diri. Mereka tidak takut berpendapat dan mengambil keputusan. Dari mereka, saya belajar arti keberanian. Namun dari budaya saya sendiri, saya belajar arti kelembutan dan empati. Dua hal ini: barat dan timur, yang kemudian saya padukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di luar negeri berarti menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara timur dan barat, antara tradisi dan modernitas.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal kemanusiaan yang terus terjalin hingga kini. Banyak warga Belanda yang menaruh minat besar terhadap Indonesia. Dalam setiap perbincangan, mereka selalu antusias bertanya tentang batik, Bali, atau kuliner Nusantara.

Saya senang berbagi cerita. Kadang dalam percakapan santai, saya menyisipkan filosofi hidup orang Indonesia, seperti gotong royong, rasa syukur, dan pentingnya keluarga. Mereka terkesan, karena di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai itu terasa menyegarkan.

Beberapa kali saya juga diundang berbicara di acara komunitas lokal untuk mengenalkan budaya Indonesia. Dari situ saya belajar, bahwa menjaga budaya bukan selalu dengan hal besar, tapi bisa dimulai dari percakapan sederhana dan sikap sehari-hari.

Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, saya semakin sadar bahwa koneksi budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang cara kita menjaganya hari ini.

Rumah kecil saya di Utrecht bukan sekadar tempat tinggal. Utrecht adalah ruang di mana dua budaya bertemu dan berdialog setiap hari. Di ruang makan, aroma rendang bertemu dengan roti gandum. Di ruang tamu, batik berpadu dengan vas bunga tulip. Di hati saya, cinta terhadap Indonesia tumbuh berdampingan dengan rasa syukur atas kehidupan baru di Belanda.

Sebagai perempuan perantau, saya hanya berharap agar kita semua, perempuan Indonesia di mana pun berada, tetap bangga dengan akar budaya sendiri. Kita boleh belajar dan beradaptasi, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat dan kesantunan yang menjadi ciri khas kita.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda telah melewati masa panjang. Kini, saatnya kita membangunnya kembali dengan semangat baru: semangat kesetaraan, saling menghormati, dan saling belajar.

Karena di ujungnya, koneksi budaya bukan hanya tentang sejarah yang kita warisi, tetapi tentang cara kita menciptakan jembatan antarhati, dengan senyum, keramahan, dan cinta yang tidak mengenal batas waktu maupun jarak.

Di negeri orang, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia bukan sekadar tentang dari mana saya berasal, tetapi tentang bagaimana saya membawa kehangatan, kesantunan, dan cinta dari tanah air ke mana pun saya melangkah.

Penulis: Ristiyanti Handayani, tinggal di Belanda dapat dikontak via akun facebook Ristiyanti Handayani.

(CERITA SAHABAT) Begini Cara Saya Berpikir Positif Untuk Hidup Lebih Baik di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Risti, yang menetap di Belanda karena saya menikah dengan  suami, yang berkewarganegaraan Belanda. Masa-masa awal saya tinggal di Belanda, saya sempat  mengalami gegar budaya, mulai dari faktor cuaca, makanan, bahasa, gaya hidup sekaligus interaksi  sosial dengan berbagai kalangan.

Seiring berjalannya waktu, proses adaptasi dan filterisasi aspek sosial  budaya tersebut, perlahan saya bisa melewati dengan beragam tahapan usaha. Mengapa saya bisa  melaluinya dengan baik? karena saya berpikiran positif dalam menyikapi berbagai tantangan yang  dihadapi di negeri rantau. Berkaca dari pengalaman pribadi itu saya termotivasi untuk menuangkannya  dalam sebuah tulisan, dengan tema berpikir positif.  

Masa-masa Adaptasi 

Ada beberapa kebiasaan orang Belanda yang bagi saya cukup menarik dan sedikit berbeda dengan  kebiasaan kita di Indonesia, seperti kebiasaan untuk membuat janji terlebih dahulu untuk segala urusan.  Meskipun itu sekedar janji untuk minum teh atau kopi, kita harus memperhatikan waktu kita berkunjung  atau janji temu. Bila kita sepakat siang hari berkunjung ke rumah salah satu kenalan atau kerabat, maka  biasanya batas waktu tak tertulis untuk bertamu menjelang waktu makan malam sekitar jam 6 sore. 

Menariknya, bila tuan rumah sudah mengatakan “nou we gaan zo eten”, atau diterjemahkan “Sekarang  kami akan makan malam!”, itu berarti kita harus segera pergi! Namun, bila kita diundang untuk makan  siang sekaligus makan malam, maka sebelumnya tuan rumah akan menanyakan makanan apa yang  boleh dan tidak boleh dimakan oleh tamu, supaya mereka tidak menyajikannya.  

Salah satu keunikan lainnya di Belanda adalah menjadikan sepeda sebagai salah satu sarana  transportasi utama warga di sini. Jangan heran bila jumlah sepeda melebihi populasi jumlah penduduk.  Kebiasaan lainnya adalah pasangan yang bergandengan tangan saat berjalan dan mengucap salam  dengan orang yang berpapasan, meski kita tidak mengenalnya. Ketika saya dan suami melakukannya  di Indonesia, orang-orang melihat kami seperti orang yang aneh.

Satu lagi yang cukup berbeda dengan  budaya di Indonesia, laki-laki di Belanda juga terbiasa turun ke dapur memasak dan urusan rumah  tangga lainnya. Ada juga yang punya anak untuk menjaga dan mengasuh anak-anak mereka. Jadi  jangan heran, bila seorang bayi lahir maka ada cuti khusus untuk sang ibu dan untuk sang ayah.  

Sejak saya tinggal di Belanda, saya bersyukur dapat menyelaraskan ritme kehidupan dan rutinitas  dengan berbagai kegiatan yang menunjang proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Tahun pertama  sampai tahun kedua, saya disibukkan dengan segala formalitas untuk menjadi penduduk Belanda, mulai  dari belajar Bahasa Belanda dan beragam ujian yang menyertainya, termasuk berbagai tes kesehatan  yang wajib dan sukarela dan urusan-urusan lainnya.

Menginjak tahun ketiga, saya baru memberanikan  diri memasuki dunia kerja. Saya bersyukur sampai saat ini, saya masih dimampukan untuk berkiprah di  dunia kerja. Saya menjadikan rutinitas harian sebagai aktivitas yang menyenangkan. Saya senantiasa  menekankan prinsip: jalani segala proses hidup dengan rasa syukur dan penuh rasa bahagia.  

Berlanjut ke masa awal memasuki dunia kerja, saya bersyukur bahwa saya tidak mengalami gegar  budaya dengan sistem dan etos kerja di sini, selama kita menjalaninya sesuai dengan pedoman kerja  yang ditetapkan perusahaan untuk semua karyawan. Kerja di sini harus tepat waktu, semua kinerja kita  terpantau dan terukur. Supervisor juga tidak akan segan memberikan pujian atau kritik kepada kita. 

Selain itu, setiap 3 atau 6 bulan sekali kinerja kita dievaluasi, sistem upah sangat jelas dan transparan.  Sebagai pekerja, tidak ada alasan mendadak bahwa kita tidak datang kerja karena hujan misalnya.  Umumnya, karyawan yang tiga kali tidak datang dengan alasan yang tidak jelas, maka diberi peringatan keras. Jika pekerja masih juga melakukan pelanggaran kerja, maka otomatis hubungan kerja berakhir  dan perusahaan tidak akan memberikan surat referensi kerja.  

Saya bersyukur sampai saat ini saya dimampukan untuk mengemban tanggung jawab kerja sesuai  harapan perusahaan, pemberi kerja. Satu lagi yang membuat saya menjalani pekerjaan dengan rasa  bahagia, karena saya mendapati tidak ada halangan untuk kami – kaum muslim – dalam menjalankan  shalat di tempat kerja, bahkan perusahaan menyediakan ruangan khusus shalat.

Selain itu, saya juga  menjalin hubungan yang baik dan hangat dengan sesama rekan kerja. Dari pengalaman saya, tekanan  kerja seberat apapun, tentu terasa ringan dikerjakan dan diselesaikan bersama-sama, dengan semangat  gotong royong. Seperti pepatah: “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.  

Mengelola rasa, jiwa, raga dan pikiran dalam menjalani hidup yang tentram 

Seiring dengan era digital, menjalin hubungan kemasyarakatan memang telah mengalami pergeseran  di hampir seluruh bagian bumi, termasuk di sini. Di Belanda, lazimnya pertemuan, baik yang bersifat  formal maupun nonformal, diawali temu janji yang dibuat lewat media sosial, seperti: e-mail, whatsapp,  facebook, instagram, dll. Bahkan, pertemuan dengan keluarga, sahabat atau bahkan tetangga tidak bisa  serta merta langsung datang, kita harus membuat janji terlebih dahulu.

Saya dan suami berkala setiap  dua minggu sekali untuk mengunjungi ibu di kota lain. Setidaknya, sekali dalam sebulan bertemu  sahabat-sahabat orang Belanda, menjalin silaturahmi dengan komunitas orang Indonesia di sini dengan  berbagai grup yang ada. Apalagi saat Ramadan, biasanya kami iftar dengan komunitas muslim Indonesia  atau para mualaf di Belanda. Saat Idul Fitri, biasanya kami mengirim hantaran lebaran ke tetangga 

tetangga di lingkungan rumah, yang kebetulan non muslim semua. Biasanya kami terlibat pembicaraan  hangat dengan para tetangga. Satu yang menjadi catatan saya, bahwa relasi sosial yang kita bangun  itu berpulang kembali kepada diri kita.

Bila kita menjalaninya penuh toleransi atas segala perbedaan,  selalu berbaik sangka, serta saling menjaga dan menolong, maka hati dan jiwa kita pun bahagia dan  tentram. Namun, bila relasi itu mulai toksik maka lebih baik kita menjaga jarak, karena hal itu  berpengaruh negatif pada diri dan jiwa kita.  

Ada banyak Perempuan yang menjadi inspirasi saya, setelah saya tinggal di sini. Dua di antaranya  adalah politikus Khadidja Arib dan pelari Sifan Hassan. Mereka begitu menginspirasi saya. Kiprah mereka  begitu luar biasa dalam pandangan saya dan sebagian warga Belanda. Mereka terlihat begitu energik  dan senantiasa optimis melewati beragam fase dalam proses kehidupannya.

Begitupun saya terus  belajar berproses untuk senantiasa optimis dan berpikir positif atas setiap fase kehidupan yang saya  jalani di negeri kincir ini. Ketika saya melewati satu fase yang tidak sesuai dengan harapan, maka saya  tetap berbaik sangka dan berpikir positif, bahwa ada rencana lain dari Allah SWT yang lebih baik. Hal  itu saya alami, ketika saya dan suami menjalani proses bayi tabung yang tidak berhasil. Saya dan suami  pada akhirnya menerima takdir itu dan berbuat lebih banyak untuk mendukung anak-anak yang kurang  beruntung dengan cara kami.  

Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Salah satu hikmah bagi saya adalah tersedia cukup ruang dan  waktu untuk menuangkan beragam peristiwa yang terjadi dalam bentuk tulisan, apalagi di saat suami  pergi ke kantor dan saya sedang berlibur kerja. Saat seperti itu, pikiran saya mengembara dan berkreasi.  Satu lagi bahwa bacaan pun mampu memengaruhi sikap positif kita.  

Ketika saya mengalami situasi sulit, maka hal pertama yang dilakukan adalah berdo’a kepada Allah SWT.  Setelah saya berpikir jernih, kemudian saya merenungkan apa yang terjadi, lalu berkata pada diri sendiri  bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Pikiran positif itu sesungguhnya akan mempengaruhi  perilaku kita sehari-hari. Begitupun sebaliknya. Berpikir positif itu memerlukan energi jiwa yang cukup  melelahkan. Begitupun berpikir negatif. Jadi, kalau keduanya sama-sama melelahkan jiwa dan hati kita,  maka akan lebih bijak, bila kita memilih untuk senantiasa berpikir positif. 

Kebiasaan saya dan suami ngobrol tentang beragam tema juga membantu saya menjaga pola pikir yang  positif akan situasi di sekitar kita. Setelah lebih dari satu dasawarsa tinggal di sini, rasanya saya sudah  dapat mengatasi perasaan homesick. Kalaupun perasaan itu hadir, maka saya segera menelepon  keluarga di Indonesia.

Zaman ini begitu banyak perubahan, jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala  untuk melepas kerinduan dan bersilaturahmi. Mari manfaatkan kondisi dan situasi yang ada, dengan  sebaik-baiknya. Prinsipnya, apapun yang dihadapi kita terima, jalani, nikmati dan syukuri, sehingga kita  terjauhkan dari rasa stres dan depresi.  

Sebelum kita memutuskan untuk tinggal dan menetap di luar negeri, ada sebaiknya kita mempelajari  dan memahami dulu adat istiadat, budaya, dan aspek sosial kemasyarakatan di negara yang akan kita  datangi. Kita perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, agar kita dapat beradaptasi dengan  baik. Kita perlu tetap manjaga jati diri dan karakter kita sebagai orang Indonesia.

Tentunya, kita  sebaiknya berpikir positif dalam situasi dan keadaan apapun, serta di manapun tinggal. Ingat bahwa  berpikir positif tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi diperlukan sebuah keterampilan yang harus  dipelajari. Berpikir positif akan melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang lebih bersemangat dan optimis  untuk menjalani hidup.  

Semoga tulisan ringan dan sederhana saya mampu memberikan sedikit pencerahan untuk selalu  memotivasi diri kita dalam mengedepankan pola pikir yang positif.  

Penulis: Risti Handayani, kontributor Ruanita di Belanda, perantau di negeri Kincir Belanda, dan  dapat dihubungi lewat akun facebook: Ristiyanti Handayani.