
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Alexandra Shafira. Saya biasa dipanggil Pia oleh keluarga dan teman-teman saya. Sekarang, saya tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah berada di Jerman sekitar 4 tahun.
Awalnya, saya datang ke Jerman untuk mengikuti program Au Pair, yakni program pertukaran budaya yang mana saya tinggal di keluarga orang Jerman dan belajar budaya Jerman untuk periode setahun.
Saya kemudian melanjutkan pendidikan vokasional (dalam Bahasa Jerman disebut Ausbildung) di bidang Pflegefachfrau, yang dapat dijelaskan dalam Bahasa Indonesia sebagai perawat di rumah sakit.
Saat ini, saya melanjutkan pendidikan saya di HAW Hamburg, semacam University of Applied Science di Hamburg, Jerman Saya sekarang berkuliah di jurusan interdisziplinäre Gesundheitsversorgung und Management.
Selain berkuliah, saya bekerja di rumah sakit terbesar di Hamburg, Universitätsklinikum Eppendorf. Selain kuliah dan bekerja, saya menyempatkan diri untuk berkontribusi di organisasi kemasyarakatan seperti PPI Hamburg dan Ruanita Indonesia.
Berbicara tentang konselor sebaya, saya pernah menjadi salah satu peer-counselor saat saya masih duduk di bangku pertama SMA di Riau. Saya menjadi konselor sebaya selama satu periode yakni satu tahun.
Program konselor sebaya pada saat itu diberi nama, Remaja Teman Sebaya Anti Narkoba, yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Saat itu, sekolah saya menjadi mitra dari BNN untuk melaksanakan program pencegahan terhadap bahaya narkoba di kalangan pelajar.
Para konselor sebaya yang terpilih kemudian diundang untuk mendapatkan pelatihan sebagai konselor sebaya, dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh BNN.
Sebagai konselor sebaya, tentunya saya memiliki pengalaman berkesan. Saya pernah menjadi konselor sebaya untuk teman dekat saya sendiri. Kesulitan yang saya hadapi sebagai konselor sebaya adalah bagaimana bisa tetap bersikap netral dan tidak menghakimi, walaupun saya tahu apa yang diceritakannya tidak sepenuhnya benar.
Namun, saya paham bahwa tugas saya bukan untuk memberikan solusi, yang bisa jadi tidak bisa dilakukan dalam hidup si pencerita masalah, melainkan menjadi social support yang mengarahkan pencerita masalah untuk tidak mengambil langkah yang menjerumuskan.
Dalam praktiknya, tugas sebagai konselor sebaya bukan tugas yang mudah. Saya perlu untuk menjadi pendengar aktif dan tidak menghakimi seperti yang disampaikan sebelumnya.
Bagaimana pun, kecenderungan kita ingin menggurui, menasihati, atau justru ikut serta bergosip adalah hal yang umum dan biasa terjadi ketika seseorang sedang bercerita masalahnya, apalagi saya sendiri merasa bahwa apa yang dilakukan pencerita sudah jelas-jelas salah.
Muncul pula perasaan dan keinginan untuk memotong pembicaraan dan memberikan solusi, sehingga tugas sebagai konselor sebaya adalah pengalaman yang menantang, yang paling sering saya alami.
Lalu, apa pentingnya peran konselor sebaya untuk mereka yang terbilang remaja saat itu ketimbang konselor profesional? Berbeda dengan konselor profesional, konselor sebaya menjadi bagian dari kelompok tersebut sehingga para konselor sebaya mengetahui dan terjun langsung di komunitas tersebut.
Sedangkan, konselor profesional tidak. Adanya perbedaan gaya komunikasi antara konselor sebaya dengan konselor profesional, membuat konselor sebaya lebih mudah diterima dalam komunitas tersebut.
Adanya pola pikir yang serupa pula lah, konselor sebaya bisa memberikan dukungan yang sesuai dan dibutuhkan untuk pencerita masalah. Ditambah lagi, para pencerita yang masih remaja, lebih sulit untuk menemukan konselor profesional karena terkendala biaya yang tidak sedikit.
Selain itu, kesan yang beredar di masyarakat Indonesia yang berpendapat, bahwa orang yang menemui Psikolog atau Psikiater adalah “orang gila”. Hal ini, membuat semakin banyak remaja indonesia yang enggan menggunakan jasa profesional.
Tugas saya sebagai konselor sebaya adalah mendengarkan. Menurut saya, banyak pencerita masalah yang sebenarnya sudah tahu harus melakukan apa, tetapi mereka butuh validasi dan penguatan, agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, konselor sebaya membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan aktif dan perhatian.
Tentunya, saya mendapat kebahagiaan tersendiri, bila saya bisa membantu orang lain. Selain itu, saya banyak belajar untuk melihat masalah dari berbagai perspektif dan kacamata yang berbeda. Saya juga sering terpukau oleh kemampuan berbagai orang untuk menganalisa situasi yang dapat membuka wawasan saya lebih baik lagi.
Buat saya, hal terpenting dari kehadiran konselor sebagai adalah dukungan emosional ketika seseorang memiliki permasalahan.
Menurut saya, masih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat mereka ketika mereka dihadapi berbagai masalah. Bagaimanapun, dukungan emosional sama pentingnya dengan dukungan fisik atau pun dukungan financial.
Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor sebaya tersebut, saya berpendapat bahwa perlu ada kriteria tertentu dalam memilih konselor sebaya yang baik.
Menurut saya, seorang konselor sebaya harus memiliki empati, bisa menjadi pendengar yang baik, memiliki kemampuan menganalisa dan berpikir kritis, serta kemauan untuk belajar. Menjadi konselor sebaya diperlukan kerelaan untuk membantu orang lain, sehingga pencerita masalah tidak merasa dihakimi atau dipergunjingkan dalam komunitas mereka.
Saya setuju dengan apa yang sudah dirintis Ruanita, sebagai social support system untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.
Bersama Ruanita, saya merencanakan program konselor sebaya untuk kelompok orang muda Indonesia yang sedang merantau ke luar negeri, khususnya di Jerman sebagai rumah kedua saya sekarang.
Mereka yang disebut kelompok muda adalah mereka yang memasuki usia perkembangan dewasa muda, 18-30 tahun. Saya berharap KJRI/KBRI dapat mendukung program ini dengan memfasilitasi kebutuhan pelatihan konselor sebaya yang berkelanjutan dan memperkenalkan program konselor sebaya sebagai bagian dari inisiatif warga Indonesia di luar Indonesia.
Penulis, Alexandra. Saya adalah anak rantau yang mengejar cita-cita di Jerman. Temui saya di Instagram shafira1809 untuk berbagi cerita dan pengalaman saya selama merintis karier di Jerman.













