(AISIYU) Dijalani Bersama

Nama pembuat foto: Aini Hanafiah

Lokasi negara tinggal: Norwegia

Judul foto: Dijalani Bersama

Keterangan foto: Ruang aman terbangun dari assurance akan hadirnya rasa aman dalam hubungan atau dalam dinamika sebuah kelompok. Namun beda kultur, bisa beda pula konsep ruang amannya. Salah satu kultur nordic percaya bahwa interaksi dengan alam bisa menurunkan kadar stress dan membuat orang semakin rileks, sehingga kegiatan bonding yang dilakukan di alam terbuka dipercaya dapat membantu terbentuknya hubungan yang sehat dan menjadi ruang aman untuk sesama.

Di banyak kelompok support group untuk perempuan imigran di Norwegia, kegiatan hiking bersama sering diadakan untuk bonding sekaligus mengenalkan salah satu konsep lokal tentang ruang aman: bahwa alam di Norwegia itu aman dan inklusif untuk semua orang. Selain itu, biasanya orang Norwegia baru bisa rileks dan mengobrol banyak justru ketika hiking.

Lucunya, kegiatan hiking ini dinilai cukup menantang secara fisik bagi banyak perempuan imigran yang mengikuti support group lokal. 

Mereka terbiasa membangun safe space lewat acara memasak dan makan bersama (kitchen table talk). Akhirnya hiking dan kitchen table talk dibuat berselang-seling dalam program support group lokal, untuk mengakomodir kebutuhan menghadirkan ruang aman dalam proses integrasi.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Pengelolaan Sumber Daya Air dan Hak Asasi Manusia

Menutup kampanye 16 Hari Tanpa Kekerasan yang menjadi bagian dari program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nyatamU) tahun 2024, Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang kini sedang menempuh studi S3 di Belanda. Dia adalah Widya Tuslian yang memiliki latar belakang sebagai socio-legal studies, dengan fokus penelitian di bidang social welfare dan social justice.

Dalam penelitian yang sedang dilakukan, Widya berfokus pada bagaimana tata kelola sumber daya air di masyarakat miskin Urban Jakarta dalam perspektif socio-legal. Meskipun sumber daya air di Indonesia berlimpah, tetapi masalahnya bukan pada ketiadaan air, tetapi bagaimana air bisa dinikmati oleh setiap warga tanpa terkecuali.

Jakarta terkenal dengan infrastruktur development yang paling maju dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, di sudut-sudut kota Jakarta, permasalahan air masih sangat pelik, yang terkait dengan tata kelola air. Bagaimana pun aliran air yang keluar itu untuk semua manusia tanpa terkecuali.

Air seharusnya adalah hak dasar semua orang yang menyangkut human dignity, terpaksa menjadi begitu sulit di area poor urban Jakarta karena kebijakan dan tata kelola yang tidak tepat. Selain policy makers, hal ini dipersulit oleh para pebisnis yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, dibandingkan hajat hidup orang banyak.

Di Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, kita diingatkan lagi bagaimana keadilan sosial bagi seluruh warga Indonesia lewat distribusi air. Air bersih menjadi impian banyak orang, yang seharusnya bisa dinikmati oleh siapa saja. Kenyataannya, air bersih begitu sulit diakses bagi mereka yang tinggal di Poor Urban Jakarta.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

(AISIYU) Ruang Aman Wanita

Nama pembuat foto: Helena Siwi

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Ruang Aman Wanita

Keterangan foto: Duduk sendiri di sebuah taman merupakan juga tempat teraman wanita ketika rasa jenuh melanda. 

Sekedar hanya duduk melihat keadaan sekitar pun bisa menjadi pelipur rasa karena menghirup udara segar, mendengar kicauan burung, dan berdiam sejenak bisa membuat kita untuk recovery sesaat.

(AISIYU) Fragile Dreams in Broken Horizon

Nama pembuat foto: Devi Aulia Nofitri Umada

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Fragile Dreams in Broken Horizon

Keterangan foto: In classrooms and playgrounds, laughter should be the only sound. But under the cruel shadow of colonialism, Palestinian children’s laughter was silenced by the deafening roar of war. 

Their schools, once sanctuaries of learning, became battlefields. Amidst the ruins of their cities, a haunting question lingers: can these children ever feel safe, truly human, in their own land, where their only good memories are lost?

(AISIYU) Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya

Nama pembuat foto: Go Suan Ny

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Self Potrait (kiri) dan Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya (kanan)

Keterangan foto: (Kiri) Dipotret oleh seorang difabel menggunakan ujung lidah, yang juga adalah penyintas kekerasan. Sejak kecelakaan mobil tahun 2017, saya lumpuh total dari leher ke bawah dan dirawat di rumah oleh suster. 

Beberapa suster perawat melakukan kekerasan, dari pelecehan fisik hingga pelecehan sek***** pada terakhir Agustus 2024 lalu.

Semua suster perawat yang terlibat sudah diproses hukum.

(kanan) Salah satu suster perawat tetap saya cuti 6 minggu, dan seorang suster perawat pengganti datang pada pertengahan Agustus 2024.

Dia melakukan pelecehan sek**** dan memberi saya hadiah ulang tahun berupa lukisan diri saya, yang menggambarkan seorang gadis kecil tela*****, jongkok dengan tangan memegang kepala, kesakitan, karena rambut panjangnya yang hitam pekat ditarik.

(AISIYU) Sudut Ruang Wanita

Nama pembuat foto: Ayushillaby

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Malam Ibu Kota Selalu Sama (kiri) dan Sudut Ruang Wanita (kanan)

Keterangan foto: (kiri): Ibu kota menjadi tempat berkumpulnya pencari nafkah, dengan segala bentuk lelah terlihat dari ramainya transportasi.

(kanan): Perempuan masuk ke dalam prioritas transportasi umum, namun rasa mana masih menjadi kekhawatiran.

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Pengalaman Pernah Jadi Program Manager Isu HIV & AIDS di Papua

1 Desember diperingati setiap tahunnya sebagai World AIDS Day di seluruh dunia. Bagaimana pun HIV & AIDS masih menimbulkan stigma sosial bagi orang dengan AIDS (ODHA), terutama di masyarakat yang tidak mendapatkan literasi dan informasi yang benar dan tepat tentang isu ini.

Lewat program podcast RUMPITA, Rumpi bersama RUANITA, Anna dan Novi sebagai pemandu diskusi podcast pada episode ini mengajak sahabat Ruanita untuk peduli tentang HIV & AIDS dan mematahkan mitos-mitos yang tidak benar di masyarakat.

Episode ke-32 Podcast RUMPITA mengundang Restituti Betaubun atau yang akrab disapa sebagai Chichi, yang masih aktif menjadi aktivis yang mendukung sesamanya yang hidup dengan positif HIV. Chichi sendiri pernah bekerja di program HIV & AIDS selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai posisi, di Yayasan Peduli AIDS di Timika, Papua Tengah.

Chichi juga bercerita bahwa ia sempat menjadi dosen lokal di sebuah perguruan tinggi di Timika dari 2013 hingga 2015, tetapi aktivitasnya untuk menjadi social support program HIV & AIDS telah memberikan banyak pengalaman berharga, agar stigma sosial di masyarakat Papua dapat dipatahkan.

Kampanye yang dibuat oleh Chichi dikhususkan untuk anak-anak muda sebagai bentuk preventif terhadap HIV & AIDS. Chichi banyak bersentuhan tentang bagaimana melakukan kampanye yang benar dan tepat kepada anak-anak muda yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

Sebelum kehadiran Komisi Penanggulangan AIDS di Papua, Chichi bercerita bagaimana masyarakat masih merasa awam terhadap AIDS, sehingga perilaku salah menimbulkan stigma sosial kepada ODHA.

Sejak munculnya program HIV & AIDS di Papua, Chichi merasa keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat membantu untuk mematahkan stigma sosial tersebut.

Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-32 berikut ini di saluran Spotify berikut ini:

(AISIYU) Lampu di Jalan

Nama pembuat foto: Mariska Ajeng Harini

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Lampu di Jalan

Keterangan foto:

Tidak bisa dipungkiri malam hari bukan waktu yang tepat untuk perempuan berada di luar rumah, salah satu alasannya adalah kurangnya lampu penerangan di jalan.

Lampu-lampu di jalanan bukan hanya mempercantik kota, tetapi juga menjadikan jalanan sebagai ruang aman untuk perempuan di malam hari.

(AISIYU) Pizza vs Volcano

Nama pembuat foto: Asti Tyas Nurhidayati

Lokasi negara tinggal: Islandia

Judul foto: Pizza vs Volcano

Keterangan foto: Sekolah dan dunia pendidikan bisa jadi ruang aman bagi perempuan untuk bekerja mengembangkan diri sesuai pendidikan, kemampuan, minat dan bakat. Namun, bekerja sebagai guru bagaikan dua sisi mata uang. 

Di satu sisi, bangga dan bahagia, berkontribusi positif bagi masyarakat lokal, mendidik generasi muda harapan masa depan, mewakili keragaman dan kesetaraan peran imigran dan minoritas. Ini bagaikan pizza aneka rasa dan topping yang menarik mata, lezat, nikmat, mengenyangkan dan memberikan kepuasan. 

Di sisi lain, sistem pendidikan inklusif mendorong guru harus siap mendidik semua murid dengan berbagai kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Anak-anak berkebutuhan khusus ataupun yang bermasalah dalam mental dan perilaku dapat memberikan berbagai tekanan mental bahkan fisik bagi guru, bahkan bisa mengancam dan membahayakan guru dalam ekskalasi tertentu. Ini bagaikan gunung api yang indah dan menarik dilihat jika dalam keadaan tenang, namun sewaktu-waktu dapat meledak dahsyat sehingga perlu siap sedia, waspada dan pengawasan ketat.

(AISIYU) Meniti Harapan

Nama pembuat foto: Aisyah Gozali

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Meniti Harapan: Ruang Aman Perempuan dalam Keseharian

Keterangan foto: Foto ini menampilkan seorang perempuan yang sedang bekerja di sebuah dapur produksi tahu di Bogor, Jawa Barat. 

Meskipun terlihat sederhana, ruangan ini mencerminkan lingkungan kerja yang mendukung perempuan untuk merasa aman, produktif, dan nyaman dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. 

Ini merupakan gambaran nyata bagaimana ruang kerja bisa menjadi aman bagi perempuan, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bersuara Untuk Perempuan Papua dari Negeri Rantauan

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mempersembahkan program bulanan mereka yang bertajuk Cerita Sahabat Spesial (CSS). Program ini merupakan inisiatif untuk menyoroti berbagai kisah nyata tentang perempuan yang berjuang melawan kekerasan dan stigma, serta memperkuat solidaritas di antara mereka.

Edisi November CSS mengangkat kisah inspiratif Cikita Febrilia atau Ciki, seorang perempuan Papua dari Kota Sorong yang saat ini menempuh studi magister di Swiss. Ciki juga merupakan Partnership Manager di organisasi Sa Perempuan Papua, yang bergerak dalam isu-isu yang masih sering dianggap tabu di Papua, seperti kekerasan terhadap perempuan dan stigma sosial yang menempel pada perempuan Papua.

Dalam cerita yang dibagikan, Ciki berbicara tentang pentingnya ruang aman bagi perempuan untuk berbagi cerita, serta upayanya melalui Sa Perempuan Papua untuk menciptakan Honai Aman, sebuah ruang aman yang didedikasikan untuk perempuan Papua.

Ruang ini memungkinkan perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan untuk mendapatkan dukungan psikologis dan bantuan hukum. Menurut Ciki, masalah kekerasan di Papua tidak hanya fisik, tetapi juga berupa kekerasan verbal yang menyakitkan, seperti ejekan terkait warna kulit dan bentuk tubuh yang sering diterima oleh perempuan Papua.

Ciki juga mengungkapkan bahwa kekerasan dan stigma yang dialami oleh perempuan Papua sering kali berakar dari sistem patriarki dan trauma turun-temurun. Budaya patriarki yang masih kuat di daerah pedalaman membuat perempuan sulit untuk merdeka dari kekerasan.

Namun, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk mengedukasi dan mendukung perempuan Papua, baik melalui ruang aman fisik maupun platform digital, serta menyebarkan informasi dan edukasi lewat media sosial.

Pengalaman Ciki juga mencakup cyber harassment yang ia terima ketika berbagi foto dalam pakaian adat Papua. Alih-alih diapresiasi, ia justru mendapatkan komentar-komentar negatif yang menyoroti fisiknya, membuatnya merasa tersakiti.

Pengalaman ini memperkuat motivasinya untuk terus berjuang menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan Papua, baik secara fisik maupun digital.

Program CSS edisi ini menyoroti pentingnya solidaritas dan edukasi dalam memberantas kekerasan terhadap perempuan. Ciki menyampaikan bahwa perempuan Papua harus bisa merdeka dari kekerasan dan mencintai diri sendiri, sekaligus membantu perempuan lain untuk mencapai hal yang sama.

Melalui ruang aman yang mereka ciptakan, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk menjangkau lebih banyak perempuan, terutama di daerah pedalaman yang akses terhadap edukasi dan dukungan masih sangat terbatas.

Dengan menghadirkan cerita-cerita seperti ini setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui program CSS berusaha untuk menggugah kesadaran publik akan pentingnya dukungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan.

Kisah-kisah ini bukan hanya sekedar narasi, tetapi menjadi ajakan bagi kita semua untuk bergerak bersama dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan aman bagi perempuan di seluruh Indonesia.

Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menjadi momentum penting bagi program CSS untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan mengajak lebih banyak orang untuk ikut berkontribusi dalam menghentikan kekerasan berbasis gender di seluruh penjuru negeri.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial di kanal YouTube berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Apa Itu Niksen dari Belanda?

Hai, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ristiyanti Handayani, atau yang biasa dipanggil Risti. Saya sudah menetap sekitar 10 tahun di kota Utrecht, Belanda. Aktivitas sehari-hari saya adalah karyawan swasta dan juga ibu rumah tangga. Saya senang dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat, terutama menceritakan pengamatan dan pengalaman saya seputar praktik baik tinggal di Belanda.

Saat ini, saya akan bercerita tentang Niksen yang (mungkin) sudah diketahui oleh sebagian sahabat Ruanita. Apa itu Niksen sebenarnya? Memang banyak orang akhir-akhir ini, membicarakan tentang Niksen, yakni salah satu filosofi yang diyakini dan dilakukan oleh orang-orang Belanda. Ketika saya pulang kampung di Indonesia beberapa waktu lalu, ada juga orang yang bertanya tentang Niksen ini.

Sebetulnya, Niksen itu konsep filosofi yang diyakini orang-orang Belanda untuk tidak melakukan apa pun dalam jangka waktu yang tidak lama, hanya sekitar beberapa menit saja. Niksen berasal dari kata „Niks“, yakni tidak ada apa-apa.

Salah satu contoh Niksen, yang sering saya amati dari kebiasaan suami sebagai orang Belanda melakukan Niksen, yakni dia duduk santai di halaman belakang rumah atau di balkon rumah kami. Dia hanya duduk saja, melihat sekitar, seperti pohon-pohon, atau beragam binatang kecil seperti kupu-kupu, lebah dll, terutama ketika dia melakukan work from home, nah, dia akan keluar dari ruang kerja dan pergi duduk santai di kebun belakang. Kadang dia memperhatikan kucing tetangga yang sedang bermain, sekitar 5-10 menit. Dia melakukan Niksen tidak lebih dari 15 menit, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya kembali. Menurut suami, dia menjadi lebih fresh dan aktif bekerja kembali di belakang komputer.

Ibu mertua saya melakukan kebiasaan Niksen itu biasanya untuk sekitar 5-10 menit saja dengan berbaring. Berbaring saja, itu kebiasaannya yang masih dilakukan sampai sekarang. Sementara saya melakukan Niksen hanya duduk di ruang tamu sambil memperhatikan setiap benda yang ada, karena saya senang sekali menata interior rumah. Meskipun itu dalam kondisi diam, tetapi saya pada akhirnya punya ide untuk memindahkan ini dan itu. Contoh lainnya, saya berdiri di depan jendela saja. Mungkin orang akan bertanya: „Ngapain begitu?“.

Contoh Niksen di tempat kerja, biasanya saya akan berjalan keluar ruangan atau sedikit ngobrol dengan sesama rekan kerja lainnya sambil duduk menikmati cahaya matahari, saat saya betul-betul lelah bekerja. Biasanya orang-orang di sini sudah tahu, mereka melakukan Niksen. Meskipun itu cuma 15 menit saja, tetapi itu sangat membantu di situasi kerja. Saya dan suami biasanya juga suka jalan bersama menuju taman kota dekat rumah, lalu meski hanya sebentar duduk di bangku taman.

Niksen itu adalah aktivitas yang sangat sederhana sekali, yang bisa membuat kita merasa lebih bugar, lebih fresh, dan lebih fokus pada akhirnya. Niksen itu dilakukan dalam waktu yang tidak lama, hanya sebentar saja.  Menurut saya, Niksen adalah perilaku seseorang  tidak melakukan apa-apa atau  tidak melakukan sesuatu kegiatan ragawi yang aktif untuk beberapa saat. 

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin menuangkan berbagai gagasan dan pengalaman seputar Niksen. Seperti anggapan bahwa Niksen itu adalah kemalasan dalam tanda kutip, karena bila kata „Niksen“ diterjemahkan dari kata Bahasa Inggris menjadi kemalasan. Namun, saya berpendapat bahwa Niksen itu bukan berarti kita malas, karena kita tidak melakukan apa-apa. Kemalasan dan Niksen itu jelas berbeda. Kemalasan dalam bahasa Belanda berarti „Luiheid“.

Niksen tidak bisa diartikan sebagai sebuah kemalasan. Niksen merupakan suatu aktivitas untuk mengalihkan sesaat dari rutinitas produktif, terutama yang menguras energi dan perhatian. Itu sebab, seseorang perlu waktu sesaat untuk relaks atau rehat sejenak. Itu disebut Niksen. Sedangkan, kemalasan itu cenderung pada seseorang yang memang tidak melakukan kegiatan produktif. Sementara, Niksen adalah mereka benar-benar melakukan kegiatan produktif, tetapi mereka membutuhkan sedikit rehat untuk kembali fokus. Oleh karena itu, saya bisa mengatakan bahwa Niksen itu bukan kemalasan.

Oh ya, praktik Niksen itu dalam waktu pendek pun bisa dilakukan di sela-sela bekerja. Misalnya, orang bisa duduk-duduk sambil minum yang disukainya. Praktik Niksen ini membantu agar waktu kerja menjadi lebih efektif dan efesien, karena saat ini di Belanda tidak dianjurkan „bekerja lembur“. Selain bayaran upah lembur itu besar, orang yang bekerja lembur berarti mereka bekerja melebihi batas kemampuan mereka, sehingga itu membuat mereka lebih stres akan pekerjaan mereka. Bekerjalah secara normal dan efesien dibarengi praktik Niksen, agar hidup lebih seimbang.

Anggapan lainnya juga menyebutkan bahwa Niksen itu seperti stress release atau praktik mindfulness. Apakah benar demikian, sahabat Ruanita? Kalau menurut saya, Niksen boleh saja dianggap demikian. Niksen memungkinkan otak kita rehat atau beristirahat sejenak. Hal ini membantu kita kembali  untuk fokus dan berpikir lebih segar. Itu menurut saya. Setelah melakukan Niksen, kita menjadi refresh untuk pikiran dan jiwa raga kita.

Itu sebab, ada banyak manfaat untuk jiwa dan raga terkait praktik Niksen. Mental kita merasa lebih tenang. Pikiran kita menjadi lebih jernih. Tentu, tubuh merasa lebih segar atau bugar kembali. Itu yang saya rasakan, sehingga kita bisa lebih fokus untuk melanjutkan apa yang sedang kita lakukan.

Menurut saya, praktik Niksen itu menjadi booming sekitar 15 tahun belakangan ini yang berkaitan dengan gaya hidup dan pola kerja yang tidak berimbang (work and life balance) sehingga berakibat pada problema kesehatan mental. Pada akhirnya, orang pun berpikir bahwa bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk pekerjaan. Sejak itu, banyak orang melakukan sesuatu yang membuat kesehatan mentalnya tetap terjaga, salah satunya dengan praktik Niksen ini.

Bagi orang Belanda sendiri, praktik Niksen bisa jelas terlihat masif misalnya saat weekend. Saat weekend dan cuaca cerah, orang-orang Belanda itu paling senang duduk-duduk di taman kota atau bangku-bangku yang tersedia di area publik. Mereka juga suka memenuhi teras-teras atau kafe-kafe ketika cuaca cerah selama weekend. Mungkin bagi kita yang tidak terbiasa, kesannya kehidupan orang-orang Belanda begitu santai, padahal mereka sudah bekerja keras di hari-hari weekdays. Di saat weekend, mereka biasanya betul-betul melupakan semua itu sesaat.

Kehadiran Niksen bisa dilihat dari sejarahnya, kemungkinan berawal dari rutinitas kehidupan moderen, seperti tekanan kerja. Sementara, orang-orang Belanda sendiri memiliki istilah menikmati hidup, yang dikenal Lekker-genieten. Niksen tidak bisa disamakan dengan konsep healing. Pada prinsipnya, Niksen adalah cara untuk mencegah agar tidak terjadi masalah-masalah seperti stres atau beban kerja. Sedangkan healing berarti penyembuhan, karena sudah terjadi. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Terakhir, saya sependapat tentang studi yang menyatakan bahwa Niksen ini memang membantu orang memunculkan ide-ide baru, sehingga orang-orang menjadi lebih kreatif atau produktif lagi. Meskipun kita sedang „Niks“ atau tidak melakukan apapun, otak kita tetap masih memproses informasi, termasuk untuk memecahkan masalah yang ada. Berdasarkan pengalaman pribadi, saat saya „Niks“, justru saya menemukan gagasan yang melintas dalam kepala saya.

Pesan saya kepada sahabat Ruanita, kalau kalian bekerja, manfaatkan waktu secara efesien. Jika kalian sudah mencapai batas ambang kelelahan, selingi sesuatu seperti praktik Niksen sesuai dengan kemampuan masing-masing agar tidak stres. Lakukan Niksen agar kerja lebih efektif dan produktif, asalkan target kerja tercapai. Kira-kira seperti itu gambaran Niksen yang saya ketahui. Artinya, kita meluangkan waktu, meskipun itu dalam waktu durasi singkat untuk tidak melakukan apa pun atau Niks, kata orang Belanda. Hal ini dilakukan agar tubuh tetap dapat rileks, sehingga pikiran menjadi kembali fokus dan hidup kita menjadi seimbang.

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda.

(IG LIVE) Memotret Ruang Aman Perempuan

Dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan sebagai bagian dari aksi program AISIYU (=AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) yang dilaksanakan sejak tahun 2021, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengadakan kampanye digital berupa foto bertema ruang aman perempuan.

Program AISIYU 2024 ini mendapatkan dukungan dari KJRI Hamburg dan KOMNAS PEREMPUAN yang berlangsung pada September lalu dan diikuti oleh sekitar dua puluh orang peserta yang mendapatkan keterampilan bagaimana teori dan teknik memotret dengan menggunakan ponsel. Terkumpul 13 foto yang telah terpilih oleh pemateri Workshop Fotografi Pakai Ponsel, yakni Yogi Ardhi, yang bekerja sebagai jurnalis foto.

Terkait dengan acara tersebut, Ruanita Indonesia melaksanakan diskusi IG Live episode November 2024 ini untuk membahas lebih dalam program AISIYU. Hadir sebagai informan adalah Mariska Ajeng Harini, selaku Koordinator AISIYU 2024 dan Bahrul Fuad, Komisioner Komnas Perempuan. Acara diskusi dipandu oleh Zukrufi Sysdawita, yang tinggal di Jerman.

Ajeng sendiri mengakui bahwa usulan mengadakan fotografi disebabkan kebutuhan untuk melakukan kampanye digital yang dirasa masih kurang dalam memotret ruang aman bagi perempuan selama ini. Sebagai orang yang suka dengan dunia fotografi, Ajeng ingin memotivasi sahabat Ruanita lainnya untuk menjadikan foto sebagai bentuk advokasi terhadap tema perempuan.

Ajeng merasa bahwa program AISIYU menjadi ruang ekpresi dan aspirasi untuk menyuarakan tema ruang aman perempuan agar lebih mudah diterima publik. Ruang aman yang dimaksud adalah ruang yang terbuka bagi perempuan, terlepas dari perbedaan latar belakang suku, agama, pendidikan, strata sosial, bahkan kelompok minoritas seperti perempuan dengan disabilitas atau perempuan dengan HIV & AIDS.

Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Cak Fu mengapresiasi upaya-upaya Ruanita Indonesia untuk melakukan berbagai aksi kampanye edukasi dan advokasi lewat program AISIYU, terutama untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.

Cak Fu menambahkan Ruanita Indonesia telah mengemas tema AISIYU yang menarik sejak berdiri di tahun 2021. Hal ini tentunya lebih memudahkan publik untuk ikut serta bersuara, lewat berbagai produk kampanye global. Komnas Perempuan sendiri sudah memiliki berbagai program setiap tahunnya dalam 16 Hari Tanpa Kekerasan, agar menjadi gerakan bersama untuk siapa saja, terutama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode November 2024 berikut ini: