(CERITA SAHABAT) Pengalaman Beradaptasi di Dubai, sebagai “Rumah” Multikultural

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Ocha Femmerling. Saya seorang istri dan ibu dari tiga anak. Empat tahun lalu, hidup saya dan keluarga berubah ketika kami pindah ke Dubai, Uni Emirat Arab. Keputusan itu datang karena suami mendapat kesempatan kerja di sana, dan saya ikut bersama anak-anak.

Sejujurnya, Dubai sudah lama menjadi salah satu impian kami. Sebelum benar-benar menetap, saya sering mendengar cerita tentang kota ini, seperti: gedung pencakar langit yang megah, kehidupan multikultural, juga keamanan yang terkenal baik. Ketika kesempatan itu datang, saya merasa senang sekaligus bersyukur. Rasanya seperti pintu menuju pengalaman baru terbuka lebar bagi kami sekeluarga.

Tentu saja, pindah negara bukan hanya soal berpindah alamat. Ada proses panjang yang harus dijalani: meninggalkan kenyamanan di tanah air, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, hingga menemukan ritme kehidupan yang sesuai.

Tahun kepindahan kami ke Dubai bertepatan dengan masa pandemi COVID-19. Bisa dibayangkan betapa penuh tantangan dan rasa cemasnya saat itu. Banyak pertanyaan yang muncul: bagaimana kondisi di negara tujuan, bagaimana sistem kesehatannya, dan apakah aman membawa anak-anak di situasi global yang tidak pasti?

Tapi begitu tiba di Dubai, rasa khawatir itu berangsur berkurang. Pemerintah di sana sigap mengatur penanganan pandemi. Sistem kesehatan berjalan rapi, protokol jelas, dan sebagai pendatang saya merasa terlindungi. Hal itu membuat proses adaptasi kami lebih ringan. Tidak ada rasa takut berlebihan, justru tumbuh keyakinan bahwa kami bisa membangun kehidupan baru di kota ini.

Kalau bicara adaptasi, hal paling terasa tentu soal cuaca. Kami tiba di Dubai tepat pada musim panas. Saya yang terbiasa dengan suhu di Indonesia sekitar 20–30an derajat Celsius bisa membuat kulit terbakar dan keringat bercucuran.

Rasanya keluar rumah sebentar saja bisa membuat keringat mengucur deras. Anak-anak juga butuh waktu untuk terbiasa. Untungnya, hampir semua fasilitas di Dubai didukung sistem pendingin ruangan yang sangat baik, mulai dari rumah, transportasi umum, hingga pusat perbelanjaan. Meski panas ekstrem di luar, ada keseimbangan yang membuat kami tetap bisa beraktivitas dengan nyaman.

Seiring waktu, tubuh pun belajar beradaptasi. Saya jadi tahu kapan waktu yang tepat untuk keluar rumah, bagaimana menyiapkan kebutuhan anak-anak, hingga cara menjaga kesehatan keluarga di tengah suhu ekstrem.

Banyak orang bertanya apakah kami mengalami culture shock saat tinggal di Dubai. Jawaban saya: tidak. Justru saya dan keluarga menikmati proses mengenal budaya baru.

Dubai itu unik. Meski bagian dari Uni Emirat Arab dengan budaya Arab yang kental, kota ini juga menjadi rumah bagi banyak ekspatriat dari berbagai negara. Hasilnya, terbentuklah lingkungan multikultural yang menarik.

Bahasa Inggris menjadi bahasa umum yang dipakai sehari-hari. Kami tidak merasa kesulitan berkomunikasi. Anak-anak di sekolah pun belajar berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai bangsa, bahkan mendapat pelajaran bahasa tambahan yang memperkaya wawasan mereka.

Dari segi budaya lokal, saya merasa aturan-aturan yang ada cukup mudah dipahami. Misalnya pemisahan ruang publik antara laki-laki dan perempuan di beberapa tempat, seperti rumah sakit, ruang tunggu, atau toilet umum. Semua itu justru memberi rasa aman, terutama bagi perempuan.

Bagi saya, Dubai adalah contoh bagaimana sebuah kota bisa merangkul keberagaman, sambil tetap menjaga identitas budayanya sendiri.

Keseharian saya di Dubai berputar di sekitar keluarga. Sebagai ibu, sebagian besar waktu saya tersita untuk mengurus anak-anak, mendampingi mereka sekolah, sekaligus memastikan kebutuhan rumah tangga berjalan lancar.

Namun saya juga belajar menyeimbangkan peran sebagai ibu rumah tangga dengan kebutuhan bersosialisasi. Sesekali saya keluar bersama teman-teman, baik dari komunitas Indonesia maupun kenalan dari negara lain. Aktivitas ini penting untuk menjaga kesehatan mental, apalagi ketika tinggal jauh dari tanah air.

Dari segi kualitas hidup, saya merasakan banyak hal positif. Dubai menawarkan standar pendidikan yang baik untuk anak-anak, akses gizi dan kesehatan yang memadai, serta lingkungan multikultural yang kaya pengalaman. Rasanya anak-anak saya mendapat kesempatan berharga untuk tumbuh di kota dengan dinamika budaya seperti ini.

Berbicara soal transportasi umum di Dubai menurut saya sudah sangat baik. Ada banyak pilihan seperti metro, bus, taksi. Taksi di Dubai menggunakan mobil-mobil mewah seperti Tesla, Lexus, Mercy, dll bahkan mobil patroli polisi pun menggunakan Lamborghini dan Ferrari. Saat ini pemerintah Dubai sedang uji coba taxi drone sebagai alat transportasi baru untuk masa depan. Hal ini dilakukan mengingat slogan “Habibi Come To Dubai”. Oh ya, di Dubai ada transportasi pakai taksi perahu (water taxi) juga loh.

Setelah dua tahun tinggal di Dubai, saya mulai aktif bergabung dengan berbagai komunitas. Ada DWP KJRI Dubai, pengajian, Indonesia Ladies Badminton (ILB), komunitas bowling, hingga arisan.

Bergabung dengan komunitas memberi saya dua hal penting. Pertama, kesempatan untuk networking, mengenal lebih banyak orang, dan saling mendukung sesama perantau. Kedua, komunitas menjadi cara untuk tetap terhubung dengan budaya Indonesia. Melalui kegiatan bersama, rasa rindu tanah air sedikit terobati.

Kegiatan ini juga memperlihatkan betapa eratnya solidaritas di antara perempuan Indonesia di luar negeri. Kami saling mendukung, saling mengingatkan, dan bersama-sama menjaga identitas sebagai orang Indonesia.

Meski sudah menetap lama di Dubai, saya tetap menjaga hubungan dengan keluarga dan teman di Indonesia. Teknologi memudahkan semua itu. Lewat videocall, voicecall, WhatsApp group, atau interaksi di media sosial, jarak ribuan kilometer terasa lebih dekat.

Bagi saya, koneksi ini penting bukan hanya untuk menjaga hubungan kekeluargaan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa identitas saya tetap berakar di tanah air.

Salah satu hal yang paling saya rasakan di Dubai adalah perlindungan terhadap perempuan. Prinsip ladies first benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sini ada banyak fasilitas khusus perempuan: taksi khusus, antrian khusus, bahkan ruang tunggu terpisah. Perempuan juga bisa menolak berada di lift sendirian bersama lawan jenis. Bahkan berjalan sendirian di tengah malam pun terasa aman. Jika ada gangguan, laporan ke polisi akan langsung ditangani dengan cepat.

Hal ini membuat saya sebagai perempuan Indonesia merasa nyaman. Tidak ada rasa takut, tidak ada keterbatasan yang menghalangi aktivitas. Lingkungan Dubai sangat ramah bagi pendatang, sehingga saya merasa diterima dengan baik.

Ada pepatah yang selalu saya pegang: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Hidup di luar negeri berarti belajar menyesuaikan diri dengan aturan dan budaya setempat.

Misal penduduk Indonesia di Dubai dan Emirate Utara ada sekitar 80rb-an orang. Disini jika kami kangen dengan masakan Indonesia ada beberapa restoran Indo yang bisa menjadi pilihan seperti Dapoer Kita, Little Bali, Betawi Resto, Bandung Resto dll. 

Saya percaya, kita tetap harus membawa identitas sebagai orang Indonesia, tapi dengan cara yang selaras dengan budaya lokal. Jangan sampai kita menentang aturan negara yang kita tinggali. Sebaliknya, kita harus menunjukkan sikap baik, karena setiap tindakan kita akan dilihat sebagai cerminan bangsa.

Hal lain yang penting dipersiapkan sebelum tinggal di Dubai adalah ketahanan menghadapi cuaca ekstrim. Dari panas terik musim panas hingga dingin musim dingin, perbedaan suhu bisa sangat tajam. Selain itu, kita harus terbiasa mengikuti peraturan setempat, sekecil apapun itu.

Bagi keluarga kami, Dubai bukan hanya persinggahan sementara. Kami berencana tinggal di sini dalam jangka panjang. Selain karena pekerjaan suami, kami juga ingin anak-anak mendapat pendidikan terbaik untuk masa depan mereka.

Saya bisa menggambarkan Dubai dalam tiga kata: aman, nyaman, menyenangkan. Ketiga hal itu sudah cukup untuk membuat kami merasa betah dan ingin terus melanjutkan kehidupan di sini.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di Dubai adalah pengalaman berharga. Saya belajar banyak hal tentang adaptasi, menghargai perbedaan, dan menjaga identitas bangsa di tengah lingkungan multikultural.

Pesan saya untuk perempuan Indonesia di manapun berada: tetaplah menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya kita. Di mana pun kita tinggal, identitas itu akan selalu menjadi bagian dari kita.

Penulis: Ocha Femmerling, yang tinggal di Dubai UEA dan dapat dikontak via IG: @oca_ozi.

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Hidup yang Menarik di Dubai yang Serba Internasional

Melanjutkan episode ke-39 Podcast RUMPITA di Spotify, Podcaster Anna dan Ecie dari Ruanita Indonesia mengundang Utari Giri, seorang ibu asal Indonesia yang kini menetap di Dubai bersama keluarganya.

Diskusi Podcast ini membuka wawasan tentang bagaimana rasanya membesarkan anak-anak di negeri penuh keberagaman budaya itu, khususnya soal pendidikan yang bernuansa internasional tersebut.

Utari menceritakan bahwa keputusannya pindah ke Dubai berawal dari mengikuti suami yang mendapat pekerjaan di sana.

Dengan tekad bulat dan penuh semangat, mereka memulai kehidupan baru, jauh dari tanah air. Salah satu tantangan terbesar yang langsung dihadapi adalah soal pendidikan anak-anak.

Memilih sekolah di Dubai, menurut Utari, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dengan banyaknya pilihan sekolah — dari kurikulum Inggris, Amerika, hingga IB (International Baccalaureate) — keluarga harus berhati-hati menyesuaikan kebutuhan pendidikan anak dengan nilai-nilai keluarga.

Di Dubai, pilihan sekolah begitu banyak, tapi tidak semuanya terjangkau secara finansial. Utari menuturkan bahwa biaya sekolah swasta di Dubai bisa sangat tinggi, bahkan untuk pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, riset mendalam menjadi keharusan.

“Kita mesti lihat bukan cuma fasilitasnya, tapi juga filosofi sekolahnya, bagaimana pendekatan mereka terhadap anak-anak,” ujar Utari.

Ia menekankan pentingnya mencari sekolah yang mendukung perkembangan karakter anak, bukan hanya mengejar prestasi akademik semata. Selain itu, jarak antara rumah dan sekolah juga menjadi pertimbangan praktis, mengingat lalu lintas di Dubai bisa sangat padat.

Utari merasa bersyukur karena anak-anaknya relatif mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah internasional yang multikultural. Di Dubai, siswa berasal dari berbagai latar belakang — Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika — menciptakan suasana belajar yang penuh toleransi dan keterbukaan.

Namun, adaptasi ini tetap butuh waktu. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar utama di hampir semua sekolah, sehingga penting bagi anak-anak untuk memiliki dasar bahasa Inggris yang baik, atau siap untuk mengejarnya dalam proses pembelajaran.

“Anak-anak justru lebih cepat belajar bahasa dibanding kita orang tuanya,” Utari tertawa.

Walaupun secara umum pengalaman sekolah di Dubai positif, Utari tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Salah satunya adalah menjaga identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang sangat kencang.

Untuk itu, di rumah, keluarga Utari tetap berusaha membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, memperkenalkan budaya, makanan khas, dan juga cerita-cerita dari tanah air. Semua ini dilakukan agar anak-anak tetap merasa memiliki akar budaya, meskipun tumbuh besar di lingkungan internasional.

“Kalau bukan kita orang tuanya yang memperkenalkan, siapa lagi?” katanya tegas.

Sebagai muslim yang tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim, Utari menemukan bahwa Dubai cukup mendukung dalam hal pendidikan agama. Banyak sekolah swasta yang menawarkan kelas agama Islam sebagai bagian dari kurikulum, meskipun tetap ada pilihan bagi keluarga dari agama lain.

Namun demikian, Utari tetap merasa penting untuk menguatkan pendidikan agama dari rumah. Ia percaya bahwa nilai-nilai dasar — kejujuran, kebaikan, tanggung jawab — perlu ditanamkan lebih dahulu oleh orang tua, baru dilengkapi oleh lingkungan sekolah.

Selain soal pendidikan, Utari juga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari di Dubai. Ia mengakui bahwa kota ini menawarkan fasilitas yang sangat lengkap dan nyaman untuk keluarga — dari taman-taman hijau, komunitas ekspat, hingga layanan kesehatan yang modern.

Namun, ia juga menekankan perlunya kesiapan mental dan finansial sebelum memutuskan untuk menetap di Dubai. Standar hidup yang tinggi berarti biaya kehidupan juga besar, termasuk untuk hal-hal kecil seperti transportasi, hiburan, atau makanan.

“Kalau tidak cermat mengatur keuangan, bisa berat,” ujar Utari.

Pesan untuk Keluarga Indonesia yang Ingin Pindah

Menutup perbincangan, Utari memberikan beberapa pesan penting untuk keluarga Indonesia yang mungkin bermimpi membawa anak-anak bersekolah di Dubai:

  1. Lakukan riset mendalam tentang sekolah dan biaya hidup.
  2. Siapkan anak secara mental dan bahasa sebelum berangkat.
  3. Pertahankan budaya Indonesia meski tinggal di luar negeri.
  4. Fleksibel dalam beradaptasi, karena lingkungan baru akan selalu membawa tantangan tak terduga.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut ini dan pastikan FOLLOW akun Spotify kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi: