(IG LIVE) Jarak Bukan Penghalang: Menjaga Waras dan Ikatan Emosional dalam LDR Parenting

Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.

Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.

“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.

Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.

“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.

Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.

Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.

“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.

Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.

Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:

  • Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
  • Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
  • Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
  • Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.

Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.

“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.

Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(PODCAST RUMPITA) Meraih Mimpi dari Melbourne: Perjalanan Anindya Zahra di Dunia Farmasi

Di program diskusi Podcat Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – episode Februari 2026 mempersembahkan diskusi inspiratif bersama Anindya Zahra Nugrahningrum, atau akrab disapa Anin atau Anne, mahasiswa asal Indonesia yang kini menempuh pendidikan di Monash University, Melbourne, Australia, dalam bidang Pharmaceutical Science.

Bersama Anna di Jerman dan Rieska di Italia, host Podcast RUMPITA, Anin berbagi cerita tentang perjuangan, adaptasi, serta visinya membangun industri farmasi dan kosmetik berbasis kekayaan alam Indonesia. Anin memulai pendidikannya di Melbourne sejak Februari 2024. Dengan usia yang masih muda, ia langsung menempuh kuliah S1 di luar negeri. Tantangan adaptasi menjadi bagian besar dari perjalanannya, namun dukungan penuh dari pihak kampus dan komunitas internasional membantunya untuk terus maju.

“Saya bersyukur mendapatkan banyak dukungan dari Monash, mulai dari layanan konseling gratis, bantuan akademik, hingga lingkungan pertemanan yang suportif,” ujar Anin.

Di Australia, sistem pendidikan farmasi berbeda dari Indonesia. Mahasiswa hanya fokus pada empat mata kuliah utama setiap semester agar pembelajaran lebih efektif. Anin menyoroti pentingnya fokus akademik, serta bagaimana mahasiswa internasional diberikan ruang untuk berkembang, baik secara akademik maupun mental. Bahasa Inggris menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam konteks akademik yang berbeda dari percakapan sehari-hari. Namun, keberagaman mahasiswa dari berbagai negara membuatnya merasa tidak sendiri.

Salah satu bagian paling menarik dari cerita Anin adalah visinya membangun industri skincare dan kosmetik berbahan alami dari Kalimantan. Sebagai putri daerah, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan potensi alam Indonesia, khususnya bahan organik yang dapat dikembangkan secara global.

“Saya ingin menimba ilmu selama dua sampai tiga tahun di Australia, lalu kembali ke Indonesia untuk mengembangkan produk skincare berbasis bahan lokal dari Kalimantan,” kata Anin penuh semangat.

Ia juga menyadari pentingnya kesadaran nasional terhadap kekayaan sumber daya alam, terutama untuk keperluan farmasi dan kosmetik alami, yang saat ini menjadi tren di berbagai negara, termasuk Eropa. Melalui diskusi bersama Rieska dan Anna, podcast ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana industri farmasi berkembang di Italia dan Jerman.

Di Eropa, tren kembali ke bahan-bahan organik terus menguat seiring meningkatnya kesadaran terhadap efek samping bahan kimia. Pengalaman pribadi para host dalam mengakses obat-obatan juga memperlihatkan perbedaan sistem kesehatan antar negara. Di akhir sesi, Anin memberikan pesan yang menyentuh bagi perempuan Indonesia yang ingin terjun di dunia farmasi dan kecantikan:

“Kita perlu sadar akan potensi negeri sendiri. Jangan ragu bermimpi besar dan belajar ke luar negeri, tapi jangan lupa kembali untuk berkontribusi. Indonesia kaya, dan kita bisa memanfaatkan kekayaan itu untuk membantu lebih banyak orang.”

Podcast ini bukan hanya tentang farmasi, tapi juga tentang semangat perempuan muda Indonesia dalam berkarya untuk tanah air. Dengarkan program diskusi Podcast Rumpita: Rumpi bersama Ruanita. Pastikan FOLLOW akun podcast RUMPITA di kanal Spotify berikut ini:

(IG LIVE) Bagaimana Sadari Alzheimer Sedini Mungkin?

Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang diperingati tiap 21 September, Ruanita Indonesia mengundang dua sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda dan di Australia.

Tema yang diskusi IG LIVE yang diangkat adalah kenali dan sadari Alzheimer sedini mungkin, yang masih dipandang awam oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Diskusi IG Live lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Jerman.

Sebagai awalan, Rida bertanya tentang perbedaan Alzheimer dan Demensia yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umumnya.

Seiring dengan kemajuan zaman, risiko Alzheimer pun sudah mulai ditunjukkan di usia sekitar 30 – 40 tahun. Resiko Alzheimer semakin tinggi ketika seseorang sudah berusia lebih dari 65 tahun. Di Belanda sendiri, menurut Manik, telah ada 15 ribu orang yang didiagnosa Alzheimer.

Menurut Yacinta, kita perlu mengetahui riwayat keluarga apakah anggota keluarga punya risiko Alzheimer, agar kita bisa mengetahui sedini mungkin.

Sebagaimana tema tahun ini, yang dijelaskan oleh Manik, yakni Time to Act yang menjadi aksi bersama untuk mencegah Alzheimer sedini mungkin.

ALZI NEDERLAND punya tiga pilar antara lain: komunikasi, edukasi, dan juga outreach, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan demensia dan Alzheimer.

Selain memperkuat kesadaran akan Alzheimer, ALZI NED juga menjadi jembatan dengan keluarga kita di Indonesia dan situasi di Belanda.

Hal yang penting diingat adalah Alzheimer itu berkaitan dengan culture yang membantu orang dengan Alzheimer dapat memulihkan kondisinya.

Itu sebab, pentingnya kesadaran akan Alzheimer ini ditingkatkan agar menjadi aksi gerak bersama untuk keluarga yang memiliki orang dengan Alzheimer dan pemerintah.

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita episode September 2024 berikut ini di kanal YouTube kami:

Subscribe kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.