(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Membangun Kebebasan Berbicara di Era Digitalitasi?

Setiap 3 Mei, dunia memperingati World Freedom Press Day sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya berekspresi dan berpendapat sebagai bagian dari hak asasi manusia. Sejalan dengan hal tersebut, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belgia dan banyak bergelut dalam dunia komunikasi dan jurnalistik.

Dia adalah Asmayani Kusrini, seorang pekerja profesional yang kini menetap di Belgia. Menurutnya, dunia digital telah memberikan ruang yang sangat luas dan inklusif bagi perempuan untuk menyuarakan ide, termasuk melalui apa yang sudah dilakukan oleh Ruanita Indonesia.

Kehadiran platforma digital telah memperkaya perspektif dan pengalaman dari berbagai sudut pandang, yang tentunya bisa membantu perempuan juga tidak hanya sebagai penikmat saja tetapi juga pencipta narasi, yang tentunya juga bisa dari perspektif perempuan itu sendiri.

Dalam konteks global, Rini, begitu akrab disapa, menyadari diperlukan jembatan lintas budaya yang dapat mengangkat isu-isu kesetaraan gender, identitas manusia, dan hal-hal lainnya yang tentunya bisa tampil berbeda dari media anti mainstreaming.

Kehadiran digitalisasi juga mempermudah kolaborasi lintas negara dan lintas komunitas seperti yang dilakukan Ruanita Indonesia. Kembali lagi, Rini menekankan untuk tetap kritis dan bijak dalam memanfaatkan media digital, sehingga tidak hanya terkesan reaktif, tapi juga konstruktif.

Bagaimana pun kehadiran perempuan di manapun itu sangat penting untuk memperkaya perspektif, terutama dalam menantang dominasi narasi tunggal laki-laki. Menurut Rini, semakin banyak perempuan yang bersuara, semakin kuat juga posisi kita dalam membentuk budaya keterbukaan.

Meskipun begitu, Rini menyadari bahwa perempuan yang vokal atau mampu menyuarakan perspektif yang kritis, seringkali menjadi sasaran ujaran kebencian, doxing, pelecehan malah di ruang digital. Di tengah dunia kreativitas sekarang, kita sebaiknya harus bertanggung jawab dengan apa yang disuarakan.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Terkait dengan Hari Kebebasan Pers Sedunia dan sebagai orang yang pernah bekerja sebagai jurnalis, apa pesan Rini? Simak selengkapnya di Kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Diskusi Hari Kesehatan Sedunia Soroti Peran Gigi dalam Tumbuh Kembang dan Penuaan

Den Haag, 11 April — Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia 2026, Ruanita Indonesi kembali hadir menggelar diskusi daring yang berfokus pada kesehatan gigi. Tema acara yang diambil yakni: “Kupas Tuntas Kesehatan Gigi dari Balita ke Lansia” memberikan pemahaman yang mendalam perihal kesehatan gigi yang terabaikan. Diskusi daring yang hangat tentang kesehatan gigi dan mulut mengalir selama dua jam penuh, mempertemukan orang tua, caregiver, anggota komunitas lansia seperti ALZI Ned, hingga pemerhati kesehatan dalam satu ruang virtual.

Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian tak terpisahkan dari kualitas hidup. Momentum Hari Kesehatan Sedunia dimanfaatkan untuk menyoroti isu yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya terasa sejak usia dini hingga lanjut usia.

Diskusi dibuka oleh moderator, Dessy de Waal-Ekarini, tenaga kesehatan yang bermukim di Belanda. Dalam pengantarnya, ia mengajak peserta melihat kesehatan gigi sebagai investasi jangka panjang. “Perawatan gigi bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang masa depan anak-anak kita dan kualitas hidup saat menua,” ujarnya, mengawali sesi dengan penuh semangat.

Sesi pertama menghadirkan Drg. Natalia Ekaputri dari Belanda yang mengupas kesehatan gigi anak-anak. Ia menekankan bahwa masalah gigi berlubang pada balita dan anak usia sekolah masih menjadi tantangan serius, termasuk di komunitas diaspora. Menurutnya, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan sejak dini. Orang tua memerhatikan kebiasaan si kecil mulai dari membatasi konsumsi gula, membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, hingga rutin memeriksakan gigi ke dokter.

Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia menjelaskan bagaimana gangguan gigi dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, konsentrasi belajar, bahkan kepercayaan diri. “Rasa sakit pada gigi bisa membuat anak sulit makan dan tidur. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi nutrisi dan perkembangan mereka,” jelasnya. Para orang tua tampak antusias, terlihat dari deretan pertanyaan yang mulai memenuhi kolom chat bahkan sebelum sesi berakhir.

Memasuki sesi kedua, Drg. Asti Sutanto dari Belgia memperluas perspektif ke kelompok dewasa dan lansia. Ia mengingatkan bahwa masalah gigi tidak berhenti ketika seseorang beranjak dewasa. Penyakit gusi, kehilangan gigi, hingga infeksi mulut dapat berkaitan erat dengan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung. Pada lansia, tantangannya semakin kompleks, terutama bagi mereka yang mengalami penurunan fungsi kognitif atau berisiko demensia.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan caregiver dalam merawat kesehatan mulut lansia, terutama yang memiliki keterbatasan fisik. “Kesehatan mulut memengaruhi kemampuan makan, berbicara, dan bersosialisasi. Pada lansia, ini sangat berhubungan dengan kualitas hidup,” paparnya.

Sesi tanya jawab menjadi bagian paling dinamis. Peserta dari komunitas parenting dan komunitas lansia seperti ALZI Ned aktif berbagi pengalaman, mulai dari anak yang sulit menyikat gigi hingga orang tua lanjut usia yang menolak memakai gigi tiruan. Diskusi berkembang menjadi ruang saling belajar, tidak hanya antara narasumber dan peserta, tetapi juga antarpeserta.

Beberapa peserta mengaku baru menyadari kaitan erat antara kesehatan gigi dan risiko penyakit sistemik. Ada pula yang terinspirasi untuk mulai menerapkan jadwal pemeriksaan rutin keluarga setelah mengikuti diskusi ini.

Kegiatan ditutup dengan rangkuman pesan kunci dari kedua pemateri bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Edukasi harus dimulai sejak dini serta berlanjut sepanjang hayat. Semangat kolaborasi lintas komunitas terasa kuat, membuka peluang kerja sama berkelanjutan dalam program promotif dan preventif di masa mendatang.

Dessy de Waal-Ekarini sebagai moderator menyatakan bahwa diskusi daring ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa senyum sehat adalah cerminan kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terkasih. Dari balita hingga lansia, kesehatan gigi dan mulut terbukti menjadi fondasi penting bagi hidup yang lebih berkualitas, yang selama ini masih kurang menjadi perhatian kesehatan secara keseluruhan.

Rekaman acara dapat disimak di kanal kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(WARGA MENULIS) Penyesalanku

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Lawanku adalah anak dari suamiku. Ya, ternyata sudah punya anak remaja menjelang dewasa walaupun suamiku belum pernah menikah. Kejutan apalagi yang suamiku sembunyikan dariku? Mungkin karena mengenal karakter perempuan Indonesia (sebab ibunya anak itu ternyata orang Indonesia juga), yang lebih suka mendapatkan pasangan tanpa anak. Toh mereka tak pernah rutin berjumpa, suamiku tidak pernah terlibat sama sekali, karena mereka sudah memutuskan begitu barangkali, entahlah. Aku menjadi orang yang paling tidak tahu mengenai suamiku sendiri!

Ditulis oleh Alda Trisda di Belgia.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia dalam Literasi Global

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional, Ruanita Indonesia kembali (@ruanita.indonesia) mengadakan diskusi IG Live dengan tema besar: “Peran Perempuan dalam Perkembangan Literasi Global”.

Acara diskusi bulanan tersebut dipandu oleh tim Ruanita, Zukhrufi Syasdawita, acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Alda Trisda, seorang penulis buku anak seri Niko, saat ini menetap di Belgia. Selanjutnya adalah Anna Puspaningtyas – Inisiator aplikasi literasi digital Lentera, kini berbasis di Singapura.

Alda bercerita bahwa keinginannya menulis buku anak sudah ada sejak lama, terinspirasi dari minimnya koleksi buku anak di Indonesia pada awal 2000-an. Melalui berbagai proses, mulai dari mengikuti workshop hingga mengirimkan naskah ke penerbit Canisius, akhirnya lahirlah seri Niko, yang terinspirasi dari anaknya sendiri.

Menurut Alda, menulis buku anak bukan perkara mudah. Ia harus mempertimbangkan tingkat pemahaman, ilustrasi, serta pesan yang tidak menggurui. Ia menekankan pentingnya variasi buku anak dengan jumlah kata yang bertahap, agar anak-anak terbiasa membaca sesuai perkembangan usianya.

Alda juga menyoroti kebutuhan buku bertema neurodiversitas, misalnya tentang autisme, yang lebih inklusif, tidak sekadar menempelkan label atau stereotip. Baginya, literasi anak harus mampu membuka ruang penerimaan dan empati.

Berbeda dengan Alda, Anna berangkat dari keresahan pribadinya selama pandemi. Saat tinggal di Meksiko, ia kesulitan menemukan bacaan fiksi Indonesia secara digital. Dari situ lahirlah ide membuat aplikasi Lentera: platform literasi berbasis digital yang memungkinkan pembaca mengakses buku secara gratis, bahkan tanpa internet (mode offline).

Bagi penulis, Lentera memberikan kesempatan self-publishing dengan sistem royalti yang adil. Anna berharap aplikasi ini bisa menjadi solusi pemerataan akses literasi di daerah-daerah yang minim toko buku maupun distribusi bacaan.

Menariknya, Lentera juga menghadirkan tim editor yang siap memberi masukan kepada para penulis muda. Alih-alih membiarkan karya ditolak mentah-mentah, penulis diberi feedback agar terus berkembang.

Kedua narasumber sepakat bahwa perempuan memegang peranan penting dalam ekosistem literasi. Dari rumah tangga hingga komunitas, ibu atau perempuan seringkali menjadi role model bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

Alda menekankan perlunya komunitas literasi, baik berupa perpustakaan kecil di desa maupun aplikasi digital—agar anak-anak memiliki akses bacaan yang beragam. Sementara Anna menyoroti tren generasi muda yang kini lebih banyak menulis di platform digital. Menurutnya, justru ini peluang besar: mereka sudah berani berkarya, tinggal bagaimana dibimbing agar kualitas tulisan meningkat.

Diskusi ini membuka mata kita bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga akses, keberagaman, dan inklusivitas. Perempuan, dengan berbagai peran yang dijalankan, menjadi motor penting dalam membangun generasi yang kreatif dan berdaya.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi literasi. Karena kami percaya, setiap buku, setiap tulisan, dan setiap cerita punya kuasa untuk mengubah dunia.

Simak selengkapnya melalui kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Menjadi Dokter Gigi Sambil Berwirausaha di Sela Waktu Lowong di Belgia yang Menantang

Melanjutkan program Cerita Sahabat Spesial Episode Maret 2025, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belgia dan berprofesi sebagai dokter gigi.

Dia adalah Drg. Asti Sutanto yang tinggal di Belgia sudah lebih dari 10 tahun untuk bercerita bagaimana pengalaman dan tantangan yang dihadapinya sebagai bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2025.

Dokter gigi Asti berasal dari Surabaya, kemudian pindah ke Belgia tahun 2006 untuk memulai studi lanjutan. Sehari-hari, dokter gigi Asti bekerja 4 hari dalam seminggu dan aktif untuk berbisnis produk-produk Indonesia di Belgia.

Follow us

Drg. Asti pernah menempuh studi kedokteran gigi di Indonesia selama lima tahun. Keputusannya untuk pindah ke Belgia, didasari oleh keinginannya untuk menempuh pendidikan lanjutan di Belanda. Menurutnya, praktik bekerja sebagai dokter gigi di Belgia bukan hal yang mudah di awal kariernya.

Menurut dokter gigi Asti, dia harus menghadapi berbagai perangai pasien dan mentalitas orang lokal, yang kadang disertai dialek dalam berkomunikasi dengannya. Meski begitu, Asti pun perlu memiliki asuransi untuk menjamin keamanan finansialnya selama tinggal di Belgia.

Dokter gigi Asti juga menjelaskan perbedaan sistem asuransi kesehatan di Belanda dengan di Belgia yang berbeda. Selama bekerja menjadi dokter gigi, dia tidak mengalami perlakuan diskriminasi dari pasien-pasien yang ditangani mengingat tak banyak dokter gigi yang praktik di area tersebut.

Apa saja pengalaman dan tantangan yang dialami Asti sebagai dokter gigi di Belgia lebih dari 10 tahun? Mengapa dia perlu ke Belanda dulu? Apa maksudnya sistem undian ketika mau studi kedokteran gigi di Belanda? Apa benar biaya kuliah kedokteran gigi lebih murah di Belgia dibandingkan pengalaman dokter gigi Asti sewaktu di Indonesia dulu?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.