(CERITA SAHABAT) Kecanduan Bergosip di Perantauan Antar Sesama Orang Indonesia, Membuat Saya Difitnah Dua Kali

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama panjang saya, Novia Karina Irna Wati. Saya biasa dipanggil Karin. Saya lahir di Jakarta, 33 tahun lalu dan kini saya menetap di Turki. Saya adalah lulusan Sarjana Hukum Universitas Pakuan Bogor tahun 2011 lalu. Sebelum saya menikah dan masih tinggal di Indonesia, saya adalah pekerja swasta di perusahaan asal Korea, yang memproduksi sepatu seperti Nike. Karier saya dimulai pada tahun 2011 – 2012, dengan jabatan terakhir sebagai Senior Staff di bagian Human Resources Department (HRD). Setelah lulus kuliah, saya pindah bekerja ke salah satu perusahaan asal Korea juga di area Subang, Jawa Barat. Saya bekerja di sana selama 2013 – 2021, dengan jabatan terakhir saya sebagai Assistant Manager di bagian Sustainability Manufacturing.

Singkatnya, pekerjaan saya berhubungan dengan peraturan kerja dan pekerja, yang mana harus comply  dengan aturan Nike Code of Leadership Standart (NCOC). Nike adalah Buyer  yang memberikan order kepada perusahaan, tempat saya bekerja. Salah satu aturan, yang perlu dipatuhi adalah TİDAK BOLEH ADANYA KEKERASAN DAN PELECEHAN Dİ LİNGKUNGAN KERJA. Saat itu, saya adalah ketua dari Tim Anti Kekerasan dan Pelecehan. Saya sekaligus adalah penyusun prosedur anti kekerasan dan pelecehan di lingkungan kerja, baik secara fisik, lisan maupun seksual. Saya pun adalah seorang Trainer bersertifikasi dari Badan Ketenagakerjaan Indonesia, karena saya adalah seorang Kader Norma Ketenagakerjaan (KNK) tingkat utama. 

Hal lain, yang saya kerjakan adalah merumuskan PKB (Peraturan Kerja Bersama), di antara pihak Management dengan  pihak Serikat pekerja. Pekerjaan saya di perusahaan terakhir ini, cakupan job description-nya cukup luas. Saya banyak menghadapi tekanan-tekanan pekerjaan, mulai dari tuntutan perusahaan, karyawan yang banyak melakukan pelanggaran, pertanggungjawaban laporan untuk dikirimkan kepada Buyer setiap bulannya, melakukan dinas luar untuk meeting dengan vendor-vendor dari perusahaan lain, yang ingin bekerja sama dengan perusahaan.

Follow us.

Agar menjadi perusahaan rekanan, di dalam meeting, tugas saya memastikan vendor perusahaan tersebut juga comply atau patuh dengan peraturan ketenagakerjaan Indonesia. Misalnya, perusahaan harus comply  dengan peraturan pengupahan, atau perusahaan tidak boleh membayar upah pekerja di bawah upah minimum. Walaupun, pekerjaan saya tergolong berat dan banyak mendapat tekanan, saya sangat mencintai pekerjaan saya. Hal ini karena, didukung oleh lingkungan kerja saya yang sangat nyaman. Atasan saya langsung adalah warga negara asing dari Korea, yang selalu memberikan support kepada saya. 

Saya juga memiliki 3 orang staf yang dapat bekerja sama dengan baik. Dua staf adalah lulusan dari Sarjana Hukum dan 1 orang staf adalah lulusan ilmu Psikologi. Setiap minggu, kita selalu mengadakan meeting  untuk saling mengoreksi pekerjaan. Apabila ada hal-hal yang perlu dikoreksi, kami selalu mengoreksi bersama, serta mencari solusi bersama. Kalau di dalam tim, terjadi complaint terhadap saya sebagai atasan, mereka tidak sungkan berbicara langsung. Mereka tidak berbicara di belakang saya. 

Hampir seminggu sekali, kami makan malam bersama. Setahun sekali, kami melakukan team building yang disponsori oleh perusahaan. Sampai saat ini, saya masih berhubungan baik dengan mereka. Terkadang, saya support mereka dari jauh, apabila mereka bertanya mengenai pekerjaan. Di tempat kerja, saya belajar dan mengajarkan bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, saling menghormati, dan tidak saling menjatuhkan antar sesama tim. 

Saat itu, karir saya bisa dibilang cemerlang, yang mana saya berpenghasilan baik dan memiliki mobil pribadi. Saya juga salah satu generasi ‘sandwich’ yang harus memberikan belanja bulanan untuk ibu, mulai dari belanja kebutuhan pokok, membayar asisten rumah tangga bulanan, iuran pokok bulanan, serta kebutuhan-kebutuhan mendadak lainnya. Setiap minggu, saya dan ibu saya biasa berjalan-jalan untuk makan di luar. Sesekali, saya ajak ibu berlibur, saat saya mendapat cuti tahunan. Ketika saya ingin menikah dengan pria asal Turki, saya seperti di ambang dua pilihan. Saya bingung di antara saya mengambil promosi menjadi Manager atau menikahi pria asal Turki, yang kemudian menjadi ibu rumah tangga. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menikah dan kini menetap di Turki.      

Sejak saya menjadi ibu rumah tangga, aktivitas setiap hari seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Sesekali, saya juga mengantar sekolah keponakan saya yang masih TK (taman kanak-kanak). Aktivitas lainnya, saya dan suami suka menonton film action, dokumenter, ataupun drama, yang ada di Netflix. Sesekali kalau cuaca bagus, kami pun pergi memancing di laut. Setiap tahun, suami saya mendapat cuti selama 30 hari. Cuti tahunan dipakai untuk berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi di Turki. Kami sangat suka berlibur ke pantai dan ke tempat bersejarah. Tahun 2022 lalu, saya dan suami berlibur ke Jakarta dan Bali.  

Bulan Agustus 2022 – Februari 2023, saya ikut kursus Bahasa Turki, yang dilangsungkan setiap Senin sampai Kamis. Di situ, saya mengenal banyak orang asing dan terkadang saya ikut acara gathering yang diselenggarakan dari tempat kursus. Orang-orang asing yang saya kenal berasal dari Rusia, Ukraina, Maroko, Bulgaria, dan Aljazair. Biasanya gathering dilakukan ‘Summer Time’ (musim panas). Kita makan bersama di suatu tempat, setelah itu minum Turkish coffee bersama. 

Saya juga memiliki dua orang teman dari Turki, yang dekat dengan saya karena persamaan hobi kami yang suka berlibur keluar kota. Tahun depan, saya berencana akan mendaftarkan diri lagi kursus Bahasa Turki. Sayapun memiliki dua teman baik asal Indonesia. Terkadang, kami berkumpul secara bergantian untuk masak-masak di rumah, liburan bersama dengan suami-suami ke suatu daerah. Karena kami berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, kami lebih banyak bercerita, mulai pengalaman di negeri perantauan serta kendala-kendala yang terjadi selama tinggal di Turki. 

Setiap dua minggu sekali, saya dan suami datang berkunjung ke ibu dan bapak mertua untuk makan bersama, berbincang-bincang, terkadang ibu mertua mengajak ke kebun untuk mengambil sayuran atau buah-buahan yang ditanam di taman kecilnya. Waktu luang saya digunakan untuk berkomunikasi dengan sahabat-sahabat saya di Indonesia melalui video call. Hal yang kami bicarakan mengenai perkembangan anak-anak mereka, keadaan Indonesia, sampai dengan diskusi mengenai pekerjaan. Sebagian besar teman-teman saya adalah pekerja kantoran di bidang yang sama dengan saya. Hal lain yang saya lakukan adalah membaca berita di Turki dan İndonesia, mendengarkan podcast-podcast, mencari peluang bisnis yang bisa saya lakukan, dan saya juga suka melihat konten-konten kuliner di sosial media. 

Cerita awal bertemu dan berkenalan dengan suami, hingga tiba di Turki

Awal mula saya berkenalan dengan suami pada tanggal 26 Agustus 2019 melalui aplikasi “interpals”, yang saya ketahui dari teman kantor saya. Saya download aplikasi tersebut tanggal 24 Agustus 2019. Setelah itu, tanggal 26 Agustus 2019 saya mendapatkan email dari suami saya, yang isinya mengajak kenalan, kemudian kami bertukar nomor Whatsapp, dan melanjutkan komunikasi melalui video call. Selama 1 sampai 2 minggu saya berkomunikasi intens setiap hari, kami mengobrol tentang kehidupan, bertukar pendapat, serta berbicara tentang hobi kita yang sama yaitu traveling. 

Suami saya menjelaskan bahwa dirinya bekerja di salah satu perusahaan pabrik kaca terbesar di Turki. Dia adalah lulusan dari salah satu universitas di Turki, Jurusan Design Graphis. Kebetulan saat itu, saya masih memiliki sisa cuti tahunan sekitar 5 hari. Tadinya, saya hendak memakainya untuk traveling ke Thailand sebagai sisa cuti tahunan. Suami, yang dulu masih berteman, dia menawarkan untuk jalan-jalan keliling ke lstanbul dan berkenalan dengan orang tua dia. Saya senang sekaligus takut. Saya berpikir selama seminggu. Dalam satu minggu itu, saya meminta suami saya mengirimkan lD card tempat dia bekerja, foto kartu identitasnya, alamat kantor dan rumahnya. Saya pun meminta foto kartu identitas ibu dan ayahnya, untuk memastikan mereka tinggal di alamat yang sama. Setelah saya yakin, saya pun booking tiket pesawat ke Turki. 

Untuk berjaga-jaga semua informasi tentang suami, saya berikan kepada teman, sahabat, dan keluarga karena saya masih berpikir kemungkinan terburuk dapat menimpa saya.  Tanggal 16 November 2019 kami bertemu di lstanbul, tepatnya di Taksim. Saya pergi liburan, berkenalan dengan orang tuanya, kakak perempuannya, dan keponakan-keponakannya. Saat itu, saya sangat senang dan yakin bahwa suami dan keluarganya adalah orang baik. Suami dan keluarganya bukan seratus persen orang Turki. Mereka adalah campuran dari Bulgaria. Kesan yang saya rasakan saat pertemuan pertama, keluarganya jauh dari budaya ketimuran dan lebih kepada kebarat-baratan. 

Saat saya masih tinggal di Indonesia, saya berharap menikah dengan lelaki yang baik dan mapan. Awalnya, saya memiliki tunangan orang Indonesia, tetapi seiring berjalannya waktu kami putus dan gagal menikah. Sejak itu, saya berkenalan dengan pria berbagai negara dari Amerika, Korea, Malaysia, Kanada, dan Belanda. Mereka semua baik dan mapan. Namun, jodoh menggiring saya berlabuh ke pria asal Turki. Saya berharap apabila saya menikah dengan orang asing dan menetap di luar negeri, saya dapat circle pertemanan lebih luas. Mungkin saya bisa membuka bisnis bersama dengan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, seperti membuka bisnis kuliner ataupun  agen travel.  

Realita yang terjadi begitu tiba di Turki

Saya menikah pada tahun 2020. Awalnya kami ingin tinggal di rumah mertua selama 6 bulan, dengan tujuan agar saya bisa belajar bahasa dan budaya. Selama seminggu, saya tinggal serumah dengan mertua. Saya merasa tidak nyaman tinggal bersama mertua. Ini bukan karena mertua saya jahat, melainkan mertua saya punya budaya dan kebiasaan berbeda, seperti perbedaan selera masakan dan cara membersihkan rumah, dll. Terkadang, saya malu sendiri karena tidak bisa membantu maksimal. Mertua saya tidak pernah marah, kesal, atau jahat kepada saya. Justru sebaliknya, mereka merasakan saya tidak nyaman tinggal bersama mereka karena perbedaan tersebut. 

Seminggu kemudian, kami pindah rumah yang dekat dengan perusahaan tempat suami bekerja. Rumah kami berada dalam satu komplek dengan kakak ipar saya yang adalah perempuan. Selama 3 tahun, saya tidak pernah bertengkar atau berkonflik apapun, karena kakak ipar saya bekerja dari Senin sampai Jumat, sehingga kami jarang berkomunikasi, walaupun rumah kami berdekatan. Saya dan kakak ipar selalu saling membantu. Sesekali saya dan kakak ipar berlibur bersama, seperti kami berlibur ke Cappadocia dan Ankara. 

Saya merasakan keluarga suami saya sangatlah baik dan hangat. Mereka tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga kami. Apapun yang kami lakukan selama hal itu baik, mereka selalu menjadi support system. Namun, banyak cerita dari teman-teman orang Indonesia dan cerita dari orang Turki sendiri yang ribut dengan keluarga suaminya. Saya disebut tergolong perempuan yang beruntung karena saya memiliki keluarga orang Turki yang baik, meskipun agama yang dianut keluarga suami berbeda dengan Islam di Indonesia. Hal yang diajarkan keluarga suami saya, dalam hal agama adalah untuk kontrol diri menjadi orang baik. Menurut mereka, apapun agamanya, yang penting menjadi orang baik adalah hal terpenting. 

Hal lain adalah realita di Turki, tempat saya tinggal di provinsi Kırklaerli. Kotanya bernama Lüleburgaz, dan tergolong kota kecil. Semula saya berpikir, saya bisa merintis hobi memasak dan ingin memperkenalkan masakan Indonesia, seperti rendang, soto, atau apapun itu, tetapi ternyata orang di sini tidak begitu menyukai masakan Asia. Mereka tidak suka makanan pedas dan rempah.  Saya belajar makanan apa yang mereka suka, ternyata adalah makanan yang manis. Apabila saya membuat nastar, bolu, brownis, atau makanan manis lainnya, mereka tentu saja suka. Sayapun sulit mencari pekerjaan di Turki karena saya harus berasal dari lulusan akademis. Misalnya, saya adalah sarjana hukum dan ingin berkerja sebagai guru Bahasa Inggrıs di sekolah swasta, itu tidak bisa. Hal ini karena saya bukan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Apabila saya lulusan sarjana Pendidikan Bahasa İnggris, mereka dapat  mempertimbangkannya. Saya sempat mendapat tawaran menjadi guru Bahasa Inggris di suatu sekolah swasta tetapi yang diterima orang dari Afrika, karena beliau adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris.

Adapun, pekerjaan yang ditawarkan oleh keluarga suami adalah bekerja di salah satu pabrik garmen. Suami saya tidak mengizinkan karena dia mengetahui bekerja di pabrik dan mengoperasikan mesin berbeda dengan apa yang saya kerjakan di balik meja, seperti menggunakan komputer. Pernah juga KJRI membuka lowongan untuk menjadi volunteer administasi , saya ingin mengirimkan CV saya tetapi lagi-lagi suami saya tidak mengijinkan. Alasannya, lokasi jaraknya jauh. Awalnya, saya sedikit marah dengan suami saya, mengapa dia terkesan seperti menghalang-halangi saya untuk berkembang. Setelah kami berdiskusi, suami saya ingin agar saya bekerja sesuai dengan minat saya. 

Dia tidak ingin, saya bekerja untuk mengisi waktu saja sampai bekerja jauh ke luar kota. Apabila saya bekerja di luar kota, saya harus berpisah dengan suami. Menurut dia, mungkin seminggu sekali saya pulang. Sebenarnya, kebutuhan dan keinginan saya selalu terpenuhi oleh suami. Akhirnya, saya pun patuh pada suami saya. Realita lainnya yang saya rasakan selama tinggal di Turki, saya sangat sulit menemukan teman sebangsa yang satu pemahaman dan pemikiran. Saya banyak mendengar bahkan melihat beberapa pertengkaran di antara sesama orang-orang Indonesia. Pernah saya berdiskusi dengan KJRI Istanbul dan bertanya mengapa kita sesama orang Indonesia sulit untuk bersatu dan berpikir positif satu sama lain. 

Pertemanan saya dengan sesama orang Indonesia dan non orang Indonesia di Turki

Sebelum saya menikah, saya bertemu dengan satu orang Indonesia. Sampai saat ini, saya beruntung karena dia adalah salah satu teman terbaik yang saya kenal di negeri perantauan ini. Saya bertemu pertama kali, di salah satu optik yang berada di shopping mall, kota tinggal saya. Walaupun, umurnya lebih muda dari saya tetapi dia sudah menikah dan tinggal lebih lama di Turki. Semula kami tinggal satu kota. Suami dia adalah seorang guru, yang mana suaminya dipindahtugaskan ke kota lain, sehingga kami terpisah kota. Namun, komunikasi kami tetap terjalin baik sampai pada saat ini. Melalui perantara dia, saya mengenal teman-teman orang Indonesia lain, termasuk teman-teman mahasiswa/i Indonesia yang kuliah di Turki. 

Teman saya ini adalah seorang ibu muda beranak satu yang selalu support ataupun menyemangati saya dalam keadaan apapun. Banyak cerita inspiratif yang dia berikan dan memberikan pengetahuan mengenai kehidupan di Turki. Dahulu beliau pernah berkuliah jurusan accounting, sebelum menikah dia juga pernah bekerja di Turki. Di tempat kerjanyalah, dia bertemu dengan suaminya. Beliau pun memperkenalkan saya dengan beberapa orang Indonesia lainnya. Ternyata teman-temannya tidaklah sepositif kami. Saya dan dia kadang berpikir, setiap orang sama seperti kami yang tidak memiliki rasa iri dan dengki. Namun, ternyata kami salah. Orang-orang yang kami berikan support dan kebaikan dibalas dengan berbicara buruk di belakang kami dan disebarluaskan kepada orang lain. 

Salah satu orang Indonesia pernah saya laporkan ke KJRI Istanbul karena orang tersebut berbicara buruk tentang kami di sosial media. Pada akhirnya, KJRI Istanbul memberikan teguran dan pengarahan (terima kasih untuk KJRI Istanbul). Tidak sampai di situ, saya pun kembali mendapatkan fitnah dari orang Indonesia lain. Terjadi adu domba dengan sesama teman Indonesia, termasuk kami yang diadu domba. Beruntungnya, kami sudah mengenal satu sama lain, kami tidak termakan omongan orang-orang yang bermulut jahat tersebut. Sebaliknya, kami saling membela dan support satu sama lain. Saat kejadian tersebut, saya sempat ‘down’ dan overthinking, mengapa saya diperlakukan seperti ini. Sampai suamipun turut ikut campur dalam masalah saya. Suami saya berani melaporkan hal tersebut ke kantor polisi. Suami saya pun menggertak ke suami-suami mereka. Pada akhirnya, mereka meminta maaf kepada saya dan suami dan mereka meminta untuk tidak diperkarakan ke polisi. 

Saya dan suami tidak memperkarakan hal tersebut dan memilih untuk berdamai. Ketika saya difitnah, dada saya sangat sesak karena saya baru pertama kalinya diperlakukan seburuk ini. Saat itu, saya menangis dan menahan kesal, karena apa yang mereka tuduhkan sangatlah jahat. Suami saya menghubungi teman baik saya di sini dan menanyakan apa yang terjadi, apakah benar istrinya tersebut melakukan hal yang buruk kepada sesama orang Indonesia. Teman saya  menjelaskan bahwa saya tidak pernah melakukan hal buruk apapun. Dia menjelaskan sedikit tentang kejadian sebenarnya. Setelah kejadian tersebut, suami membatasi pergaulan saya dengan orang-orang Indonesia agar tidak terjadi konflik. 

Berbeda halnya dengan teman-teman mahasiswa/i di sini, selama kurang lebih tiga tahun saya kenal. Setiap saya berkenalan dengan teman-teman mahasiswa/i Indonesia, tidak ada satupun yang bermasalah dengan saya, walaupun sering kami berkumpul, masak-masak bersama, dan berdiskusi seputar ilmu pengetahuan, politik, dan budaya. Sampai-sampai, saya mendengarkan cerita mereka akan masa depan yang ingin dicapai jika lulus kuliah nanti. Bergaul dengan teman-teman mahasiswa/i membuat aura saya merasa muda dan teringat akan masa-masa kuliah saya dulu. Saya sampai berpikir, apakah saya bisa berkuliah lagi di negeri ini? Setelah saya berpikir kembali, saya urungkan dan saat ini yang harus saya kerjakan adalah bagaimana untuk mencari kegiatan dan bertemu dengan orang-orang positif yang dapat membuat hidup saya berkembang lebih baik. 

Sejak awal saya datang ke Turki sampai detik ini, hal yang menurut saya menarik adalah pertemanan saya dengan dengan mahasiswa/i Indonesia, karena bergaul dengan mereka membawa ke arah positif dan rasa keingintahuan mereka yang tinggi tentang budaya dan politik Internasional. Ini membuat saya dapat berdiskusi secara luas. Umur mereka dan jiwa mereka yang muda telah membuat jiwa saya merasa muda seperti ‘forever 21’.  

Dahulu saya berpikir, kita tidak boleh mendiskriminasikan level pendidikan seseorang ataupun latar belakangnya. Setelah beberapa kejadian yang menimpa saya seperti saya difitnah, digunjingkan, digosipkan, saya begitu sulit mencari teman yang selevel dan sefrekuensi dengan saya. Saya tidak menyatakan, bahwa saya adalah orang pintar atau saya adalah super power, TİDAK! Saya adalah orang yang suka berdiskusi tentang hal-hal yang dapat menambah ilmu dan wawasan. Saya suka berpergian dan saya suka mencoba hal-hal baru. Setelah saya meninjau kembali circle saya dengan teman-teman saya di Indonesia, saya tidak pernah sekalipun berkonflik dengan siapapun. Setiap saya pulang ke Indonesia, kami pasti berkumpul dan berdiskusi tentang kehidupan masing-masing. Oleh karena itu, saya berterimakasih kepada teman-teman saya di Indonesia yang selalu support saya, terutama sahabat-sahabat yang hampir setiap hari selalu menyemangati dan mengingatkan saya, agar saya jangan sampai down. 

Menurut saya, untuk pertemanan dengan sesama orang Indonesia di sini, kita harus sangat berhati-hati karena kita tidak mengetahui latar belakang mereka. Lebih parahnya lagi, banyak dari mereka yang mungkin hidup dalam kebencian, keirian dan kedengkian. Bahkan, mereka butuh pengakuan sosial, mereka berbohong akan status sosialnya. Mereka seperti berbicara seolah-olah dirinya itu adalah seseorang yang super power. Kenyataannya adalah sebaliknya. Mereka hidup dalam kekurangan, ketidakbahagiaan serta kesengsaraan. Satu contoh yang saya kenal, orang Indonesia yang mengaku-ngaku memiliki sebuah pabrik. Katanya dia kenal dekat dengan tokoh politik ternama di Indonesia, bahkan dia sampai mengaku kalau orang tuanya sangat berpengaruh di Indonesia. Semua itu adalah kebohongan berdasarkan halusinasi dari pikirannya. Orang seperti ini, menurut saya seharusnya mendapatkan treatment  khusus. Apa yang saya lihat dari keluarganya sendiripun acuh tak acuh. Hal-hal lain contohnya, banyak keirian dan kedengkian yang mengalir di diri mereka, sehingga saya sadar untuk ekstra berhati-hati dan selektif memilih teman. 

Pertemanan saya dengan orang asing atau orang-orang non Indonesia di perantauan, jauh lebih baik. Saya mendapatkan banyak wawasan lebih, misalnya teman saya yang berasal dari Ukraina dan tinggal di Turki, disebabkan negaranya sedang perang. Teman saya tersebut, menceritakan bagaimana kondisi di Ukraina. Dia juga mengaku sulit mendidik anak-anaknya untuk beradaptasi di Turki karena berbeda budaya dan bahasa. Saya juga berdiskusi dengan guru Bahasa Turki saya tentang kebiasaan orang Turki dan sejarahnya. Kami berdiskusi tentang traveling di Turki, Eropa, dan tempat-tempat makan yang enak di sekitaran kota, serta berbagi cerita dan resep makanan khas mereka. Kamipun sesekali bercanda tentang culture shock  yang kami alami di Turki. Misalnya, orang Turki yang sangat suka minum teh dan bersıh-bersih yang berlebihan. Orang Turki dalam membersihkan rumah sangatlah bersih. Selama saya berteman dengan orang Turki, tidak ada satu rumah mereka yang berdebu atau berantakan, walaupun mereka memiliki anak kecil. Selama tiga tahun saya di sini, pertemanan saya dengan orang non Indonesia tidak pernah ada masalah, karena saya memilih untuk berteman yang memiliki satu hobi dengan saya. Frekuensi berkumpul dengan merekapun tergolong sering.

Pesan dan harapan saya 

Sahabat Ruanita, ini pesan saya. Pertama, kita perlu mengenali dahulu pasangan hidup, keluarga, kota dia dibesarkan. Kedua, kita menghindari IMAM NIKAH ATAU NIKAH SİRİ. Hindari kalau kita mengenal pasangan hidup, cukup lewat sosial media kemudian langsung memutuskan untuk menikah secara agama. Sayapun seorang muslim. Saya sarankan agar kalian tidak hanya menikah secara agama saja, karena tidak ada perlindungan hukumnya. Jangan pula, kita langsung menikah secara sipil dengan hanya mengetahui pasangan di media sosial. Ada beberapa kasus yang saya ketahui, banyak yang mengenal pasangannya hanya di media sosial kemudian menikah resmi. Ternyata pasangannya tidak sesuai dengan harapan, bahkan tidak sedikit yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun, sekali lagi MEMANG TİDAK SEMUA yang bertemu pertama kali, langsung menikah hidupnya kemudian pernikahannya sengsara atau menderita. Ada pula yang bahagia. Saya hanya memberikan pandangan agar kita lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Sedikit saya share pengalaman sebelum memutuskan untuk menikah, saya bertemu dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu. Saya mengetahui kota di mana suami saya tinggal, saya mengetahui pekerjaan suami, serta gajinya. Kurang lebih setahun kemudian, kami memutuskan untuk menikah.

Alhamdullilah, selama 3 tahun menikah, suami dan keluarganya baik kepada saya. Hal lain yang harus benar-benar diperhatikan, adalah bagaimana cara pasanganmu berkomunikasi. Saya dan suami menjalin komunikasi dengan baik, yaitu setiap ada masalah kami selalu berdiskusi dan menekan ego masing-masing. Di tahun awal pernikahan, kami membutuhkan adaptasi bersama. Seiring berjalannya waktu, kami memahami karakter masing-masing. Kunci dari keharmonisan adalah menerima kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing. Selanjutnya, pelajari makanan di Turki ini. Dari segi makanan, ini sangat berbeda dengan masakan Indonesia. Di tahun awal pernikahan, kami sempat “ribut” perihal makanan. Ini terdengar lucu tetapi memang itu kenyataannya. Suami saya adalah pemilih soal makanan. Saya sebagai istri sudah bersusah payah memasak untuk suami. Apabila suami tidak suka dari aroma, bentuk, ataupun rasanya maka secuil pun dia tidak akan memakan masakan yang saya buat. Lambat laun, saya mengetahui selera suami saya yang sangat jauh bebeda dengan saya. Saya belajar dari YouTube dan bertanya kepada ibu Mertua, kakak ipar, serta keluarga suami lainnya mengenai masakan Turki. Perlu diketahui, ternyata setiap kota di Turki memiliki budaya makanan yang berbeda di setiap daerah. 

Dalam membangun pertemanan, saya berpesan kepada orang-orang newbie seperti agar mengenali dulu orang tersebut dan sangat BERHATI-HATI dalam berbicara. Terkadang kita bermaksud baik, tetapi salah dipahami. Kita bermaksud kita berbagi kesenangan, tapi bagi mereka itu merupakan ria atau pamer. Jangan terlalu positif dan baik! Berperilakulah sewajarnya saja karena setiap orang tidak pantas mendapatkan kebaikan dan perhatian. Kita kadang perlu bersikap “seni bodo amat”. Saya sudah dua kali mengalami difitnah dan dijadikan bahan bergunjing, itu sudah cukup untuk saya belajar lebih selektif memilih teman.  Carilah teman yang memang TULUS dan mereka ingin berteman dengan karena mereka membawa energi positif ke dalam diri kita. 

Harapan saya untuk KBRI /KJRI untuk membangun komunitas Indonesia yang produktif adalah sering membuat training secara daring ataupun tatap muka untuk orang-orang İndonesia. Misalnya,  bagaimana cara berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik. Apabila memungkinkan training tersebut, minimal dilakukan 1 – 3 bulan sekali dan terbuka untuk seluruh orang Indonesia yang menetap di Turki. Di dalam sesi training, dijelaskan juga tracking record  kasus-kasus dan keluh kesah yang sering terjadi dengan menjelaskan sebab-akibatnya sebagai bahan untuk pelajaran dan pengawasan diri sendiri.    

Terima kasih untuk tim Ruanita yang memberikan saya kesempatan menulis, terutama kepada Mbak Anna dalam sesi konseling online. Terima kasih kepada teman-teman di Turki yang saya kenal selama tiga tahun, seperti Mbak Lina dan Mita yang menjadi support system saya di negeri perantauan ini. Beribu-ribu terima kasih kepada sahabat-sahabatku di Indonesia yaitu Faras, Elisabeth, Felicia, Monica, Sofie, Kitty, Fanny, Reina, dan sahabat-sahabat lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang selalu ada buat saya, penguat mental saya dan support system terbesar dalam kehidupan saya. 


Penulis: Karin, tinggal di Turki.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Perempuan Baru

Wang Sinawang, yang terlihat indah belum tentu indah. Bagi sebagian orang mungkin tinggal di luar negeri itu terlihat indah dan menyenangkan. Tidak jarang saya mendapatkan pesan dari teman-teman lama saya yang bunyinya “Wah enak ya kamu sekarang tinggal di luar negeri”. Pesan-pesan itu biasanya hanya saya tanggapi dengan senyuman dan tawa formalitas saja karena nyatanya bagi saya realita tidak selalu seindah foto-foto yang ada di instagram. Seperti yang selalu saya katakan: Don’t assume, maybe I only show you what I want you to see. 

Beberapa bulan setelah menikah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersama dengan suami saya di Prancis. Meninggalkan keluarga, teman dan segala pencapaian saya di Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tahun pertama pernikahan ini adalah tahun di mana banyak sekali pertanyaan bermunculan di dalam pikiran saya seperti “siapakah diri saya saat ini”, “apakah menikah adalah keputusan yang tepat”, “bagaimana caranya hidup di negara orang” dan lain sebagainya.

Sebelum menikah saya adalah seorang perempuan dengan aktivitas tinggi, bahkan saya hampir tidak memiliki banyak waktu di rumah. Saya memiliki pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan Internasional dan memiliki banyak teman. Ketika kemudian saya menikah dan meninggalkan semua itu, perubahan yang sangat drastis terjadi di dalam kehidupan saya.

Saya yang dulu aktif dan jarang memiliki waktu kosong menjadi saya yang memiliki terlalu banyak waktu. Memiliki waktu untuk bersantai selama beberapa saat memang menyenangkan, tetapi lama kelamaan justru hal inilah yang menyerang saya dari belakang. Banyaknya waktu yang saya miliki membuat saya tenggelam di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang eksistensi diri saya, yang sebenarnya tidak perlu.

Follow us: @ruanita.indonesia

Selain itu, perbedaan budaya dan minimnya pemahaman bahasa yang digunakan di negara yang saat itu saya tinggali mengambil peran yang cukup signifikan dalam pergolakan batin saya. Ya, memang sebelum memutuskan untuk pindah ke negara ini saya sudah mengambil kursus bahasa, tetapi nyatanya praktik menggunakan bahasa yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi. 

Ditambah karena alasan tertentu, suami saya lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kami di rumah. Hal ini membuat kehidupan saya di negara baru ini seperti dikelilingi sebuah tembok. Tembok inilah yang seringkali membuat saya merasa menjadi orang luar ketika saya harus bertemu atau menghadiri acara dengan keluarga dan teman-teman suami saya.

Saat ini saya masih terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa saya, walaupun sudah tidak separah dulu. Kebanyakan lawan bicara saya pun cukup sabar dan selalu berusaha untuk memahami dan menghargai usaha saya untuk berkomunikasi walaupun terkadang dengan aksen dan pengucapan yang cukup jauh dari yang seharusnya.

Selama beberapa tahun tinggal di Eropa, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Saya bukan lagi orang yang sama, bukan berarti saya sudah kehilangan akar budaya tetapi justru saya menjadi lebih kaya. Tinggal di Eropa dengan proses adaptasi yang sebegitu rupa membuat pribadi saya yang seorang wanita Jawa tertempa, berubah dan dibentuk ulang menjadi lebih tahan banting. 

Klise memang, tetapi saya benar-benar yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dari proses yang lama dan melelahkan itulah saya mengambil pelajaran dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, hal yang paling penting adalah untuk memulai segala hal dengan pikiran yang terbuka.

Penulis: Rena, tinggal di Swiss.

(CERITA SAHABAT) Aku Bahagia Saat Kamu Bahagia

Saat mendapatkan tugas menulis dengan tema „caraku berbahagia“, saya merasa akan „garing“ jika hanya menceritakan tentang saya. Oleh karena itu, saya membuat kuesioner mini dan meminta 10 sahabat Ruanita untuk ikut berbagi cerita.

Saya membagi kuesioner ke dalam delapan pertanyaan. Pertanyaan pertama saya klise sekali: pekerjaan. Saya ingin tahu pekerjaan apa yang bisa membuat orang bahagia, karena saya yakin pasti ada responden yang menyebutkan bekerja sebagai salah satu aktivitas yang membahagiakan.

Ternyata benar. 50% Responden mengaku bahagia saat bekerja. Pekerjaan mereka beragam. Ada pekerja kantoran, peneliti, psikolog, dan sebagainya. Kesimpulannya, apa pun pekerjaannya kalau melakukan pekerjaan yang sesuai dengan minat maka rasanya akan selalu senang saat bekerja. 

Kegiatan paling utama, menurut responden, yang memberikan kebahagiaan adalah melakukan hobi dengan 100%. Nonton serial dan jalan-jalan atau traveling berada di posisi kedua dengan 90%. Saya termasuk ke dalamnya juga. Terlebih lagi, tinggal di Jerman memungkin saya untuk jalan-jalan ke kota-kota di Jerman atau negara-negara Eropa lainnya tanpa mengeluarkan banyak uang dan waktu. Saya merasa senang sekali melihat tempat baru, belajar kebudayaan, bahasa lain, dan makan makanan khas mereka.

Posisi ketiga dengan 80% adalah makan makanan enak dan menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman. Makan makanan lezat adalah salah satu hal kecil yang membuat saya bahagia, terutama jika makanan tersebut saya buat sendiri.

Seorang kenalan pernah mengajak saya ke sebuah kafe yang menyajikan carrot cake yang enak sekali. Saya jadi sangat penasaran. Setelah mencari resep di internet, saya membuat carrot cake super enak (bahkan lebih enak dari pada di cafe tersebut!).

Saya merasa saya bahagia sekali setiap membuat carrot cake, menikmatinya, dan juga berbagi ke orang-orang terdekat saya. Hal yang membuat saya bahagia cukup sederhana, yakni: melakukan hobi masak, bikin kue, makan makanan enak, bersama orang terdekat, dan berbagi.

Memberikan sumbangan atau membantu orang berada di posisi kedua sebagai cara untuk berbahagia. Begitu juga memiliki materi (bergaji besar atau memiliki properti) dan bermain dengan hewan peliharaan. Tidak hanya itu, banyak juga yang berpendapat mereka bahagia jika pasangan bahagia.

Pilihan terakhir ini saya masukan ke dalam jawaban di kuesioner disebabkan hal itu disebut dalam website-website yang saya buka saat sedang mencari tips berbahagia. Benar loh, 70% respon mengakui mereka bahagia jika pasangan berbahagia. Jadi kalau ada orang bilang, „aku bahagia jika kamu bahagia“ bukan hanya kata-kata manis rayuan semata, ya. Memang kebahagiaan pasangan adalah sumber kebahagiaan kita juga.

Follow akun IG: @ruanita.indonesia

Selain itu, menikmati pemandangan juga bisa memberikan kebahagiaan. Pernah tidak sih, tanpa sadar kita tersenyum dan merasa senang saat melihat matahari terbit atau tenggelam, atau hanya melihat gunung dan pantai yang indah sekali? 

Saat membuat kuesioner dan menuliskan Cerita Sahabat ini saya masih berpikir tentang lawan kata atau mungkin lawan perasaan dari bahagia seperti: marah, sedih, takut, dan sedikit dari perasaan-perasaan yang mengindikasikan ketidakbahagiaan.

Ini juga alasan saya, saat lebih memilih menuliskan frasa “tidak bahagia” dibandingkan menuliskan pilihan perasaan negatif. Dahulu saat saya masih kuliah di Jatinangor, saya berjalan kaki malam hari dari depan Unpad sampai Cileunyi saat saya sedang merasa sedih dan cemas. Untuk yang tahu Jatinangor, pasti hafal jalan rayanya yang 24 jam dilalui bukan hanya mobil, tetapi juga truk dan bus antar kota, dan tidak punya trotoar yang layak.

Kaki saya rasanya siap untuk berlari dan pikiran saya acak-acakan. Selama berjalan kaki saya merasakan tenaga saya dan pikiran-pikiran yang kacau di kepala saya berkurang sedikit demi sedikit. Setelah itu, saya akan merasa rileks dan letih.

Sampai sekarang, hal ini masih saya lakukan. Jika merasa tidak bahagia, saya akan berjalan sampai saya capai, lalu pulang dengan kendaraan umum. Sejak belajar tentang kesadaran penuh (mindfulness), saya akan mempraktikkannya setelah membiarkan pikiran saya mengembara selama fisik saya bergerak. 

Dalam kuesioner saya memasukan beberapa pilihan cara berbahagia saat sedang tidak merasakannya. Hanya 60% responden yang melakukan hobi saat tidak bahagia. Padahal semua responden mengaku hobi adalah kegiatan yang membuat bahagia.

Seorang teman saya bilang, hobi bukanlah hal yang ia lakukan saat sedang tidak bahagia dengan harapan akan menjadi bahagia. Baginya, hobi dilakukan untuk dinikmati dan harus dilakukan memang saat sedang merasa senang. Dia tidak akan bisa menikmati hobinya jika perasaannya sedang tidak bahagia. Menurut kalian bagaimana, Sahabat Ruanita?

Jika 80% responden mengatakan makan makanan enak membuat bahagia, tetapi hanya 60% responden mencari makanan enak saat sedang tidak bahagia. Saya termasuk orang yang mencari comfort food saat saat sedang tidak bahagia, tetapi kehilangan nafsu makan jika tingkat kesedihan atau kecemasan saya sangat tinggi.

Jadi kalau saya sedang ada masalah dan tidak nafsu makan, tapi tiba-tiba merasa lapar, itu berarti stres saya sudah mulai berkurang. Oh iya, saat tahun lalu saya sedang depresi dan dalam pengobatan, saya menggunakan makanan untuk mengisi kekosongan dan pelampiasan.

Sayangnya comfort food saya adalah makanan berminyak, bergula, bergaram alias tidak sehat. Hasilnya jarum timbangan loncat jauh ke arah kanan. Kebahagiaan yang saya rasakan dari nikmatnya makanan juga tidak bertahan lama. Selain itu, saya bangkrut juga karena jajan hampir setiap hari. Namun apakah hal ini membuat saya berhenti untuk menikmati comfort food saya sedang tidak bahagia? Tidak. Saya masih tetap mencari comfort food saya saat sedang sedih atau marah. Menurut saya, kebahagiaan lebih penting, tetapi sekarang saya tahu resikonya. Oleh karena itu, saya harus lebih banyak bergerak.

Tidur adalah cara yang dipilih oleh 80% responden untuk „lari “ dari ketidakbahagiaannya. Saya punya dua orang teman dekat yang bisa tidur sampai lebih dari 12 jam saat merasa sedih. Mereka bilang, saat bangun mereka akan merasa lebih santai, walau masalah yang mereka hadapi belum selesai.

Salah satu dari mereka sempat berkonsultasi ke dokter tentang hal tersebut. Jawaban dokternya cukup singkat, „kebanyakan tidur tidak masalah dari pada tidak bisa tidur. Banyak orang yang tidak bisa tidur saat sedang sedih, jadi Anda tidak perlu khawatir“.

Jawaban ini tentu saja membuat lega sahabat saya itu. Dia sekarang bisa kebanyakan tidur tanpa merasa bersalah lagi. Saya sebaliknya, jika sedang ada masalah, saya akan lebih banyak pikiran (overthinking) yang membuat saya susah tidur. Walaupun tidur, otak saya masih bekerja dan memberikan mimpi tentang masalah tersebut.

Tidur bukan pilihan saya untuk keluar dari kesedihan. Beruntung sekali orang-orang yang bisa tidur pulas dan lama untuk kabur sejenak dari ketidakbahagiaan.

Selain melakukan hobi, makan makanan enak, dan tidur, hal lain yang menjadi alternatif untuk dilakukan saat sedang tidak bahagia adalah olahraga, menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga, curhat ke orang lain, melakukan meditasi, berdoa, dandan atau pakai baju warna cerah agar suasana hati juga ikut cerah, pergi belanja atau window shopping di mall, atau menonton video streaming.

Hal terakhir ini juga yang saya lakukan jika sedang tidak bahagia atau sedang banyak hal yang dipikirkan. Saya melakukan ini untuk mendistraksi diri saya untuk tidak lebih banyak pikiran. Kalau video atau film dimatikan, pikiran saya jadi ke mana-mana lagi. Saya jadi teringat lagi dengan masalah dan saya jadi tidak bahagia lagi. Biasanya sambil nonton saya akan melakukan hobi merajut saya yang bikin bahagia, terutama jika saya selesai mengerjakan proyek rajut.

Hal-hal yang disebutkan di atas sebenarnya adalah trik yang saya lakukan secara pribadi. Saya pernah mencoba semuanya saat saya sedang tidak bahagia dan semuanya berhasil membuat saya kembali bahagia walau sebentar. Mungkin yang paling efektif untuk saya adalah melakukan hobi menulis saya.

Sering kali isi blog pribadi saya bernuansa sedih, karena menjadi pelampiasan kesedihan saya. Misalnya, ketika anggota keluarga saya meninggal dunia, saya banyak menulis tentang mereka di sana. Saat patah hati juga, saya akan menulis tentang hal tersebut di sana. Perasaan saya akan menjadi lebih baik dan beban saya seperti berkurang setelah saya selesai menulis, apalagi jika selama menulis ditemani lagu mellow. Selain menulis, untuk melawan kesedihan, saya juga akan menelepon sahabat saya untuk curhat. Selesai bercerita dan mendengarkan masukan dari dia, saya menjadi lebih tenang dan bersemangat kembali.

Di dalam kuesioner, saya juga memasukan pertanyaan, „hal yang paling membahagiakan di tahun 2022”. Idenya sederhana saja, saya yakin kita akan bahagia hanya dengan mengingat peristiwa membahagiakan yang pernah kita alami. Setiap hari saya juga berusaha untuk menuliskan tiga hal membahagiakan saya pada hari itu di buku harian saya (gratitude journal). Kelak bisa saya baca ulang jika sedang sedih, hanya ingin merasakan kebahagiaan itu lagi, atau sebagai pengingat seberapa buruknya hari yang kita lalui pasti ada yang membuat senang juga. Saat saya sedang di psikiatri, psikolog-psikolog kami juga menyarankan melakukan hal tersebut. Sudah terbukti nih, cara tersebut memang berfungsi.  

Kembali ke kuesioner, saat membaca jawaban dari pertanyaan „hal yang paling membahagiakan di tahun 2022“, saya ikut senyum-senyum senang juga. Ada responden yang menjawab dengan membawa keluarga liburan ke Jerman, bertunangan dengan kekasih setelah lima tahun bersama, merasa dicintai, bertemu keluarga di Indonesia, belajar hal baru yang sudah diidam-idamkan sejak dulu, mengetahui kehamilan, masih bisa bersama keluarga, dan menyadari penyertaan Tuhan yang begitu besar dalam hidup.

Saya merasa ikut senang saat baca ini semua, bukan? Di tahun 2022 banyak sekali yang terjadi dengan saya. Namun, hal yang paling membahagiakan adalah saat saya sembuh dari OCD (Obsessive Compulsive Disorder) bulan September lalu setelah mengikuti terapi selama lima hari. Kesembuhan ini lebih membahagiakan dari pada saat saya menikah awal tahun 2022! 

Kesehatan memang sebuah urusan yang sangat penting dan hal yang patut disyukuri. 90% Dari responden kuesioner mempunyai pendapat yang sama ketika menjawab pertanyaan tiga hal yang disyukuri dalam hidup. Semua responden menjawab keluarga dan teman adalah hal terpenting.

Setengah dari jumlah keseluruhan responden menjawab pekerjaan dan materi termasuk ke dalam hal yang mereka syukuri. Sedangkan penampilan hanya direspon oleh satu orang responden. Apa pun itu, saya yakin, semua hal yang kita syukuri juga berlaku sebagai sumber kebahagiaan kita.

Bagaimana dengan Sahabat Ruanita, apa sumber kebahagiaan kamu?

Penulis Mariska Ajeng Harini, penulis di http://www.mariskaajeng.com

(RUMPITA) Jatuh Cinta (Lagi) dengan Bahasa Ibu

Episode kesepuluh di Februari 2023 ini adalah membicarakan bahasa ibu yang akan dirayakan pada Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari nanti. Bagaimana pun Bahasa Ibu adalah bahasa pertama kita mengenal dunia dan pengetahuan pertama kali. Host program Podcast: Nadia, Fadni dan Alvina yang sedang menempuh studi pasca sarjana di Jerman ini berbagi celoteh seputar pengalaman berbahasa.

Sebagai orang Indonesia yang jauh dari perantauan, Fadni, Nadia dan Alvina membicarakan bagaimana pengalaman mereka dalam belajar bahasa asing. Kehidupan sehari-hari tentunya mereka mendengar dan berbicara dalam bahasa asing. Mereka bercerita bagaimana mereka belajar pertama kali bahasa asing tersebut.

Follow kami: ruanita.indonesia

Bahasa menjadi alat berkomunikasi antar sesama satu sama lainnya. Sayangnya saat berada di negeri jauh dari tanah air, banyak orang yang merasa malu dan tidak lagi menggunakan Bahasa Ibu. Alasannya bermacam-macam seperti terkesan kuno, tidak moderen hingga menggangap Bahasa Ibu tidak layak lagi digunakan di negeri asing.

Momen bulan Februari yang dipandang sebagian orang sebagai bulan penuh cinta. Nadia, Fadni dan Alvina mengajak Sahabat RUANITA untuk mencintai kembali Bahasa Ibu sebagai cerminan asal usul identitas kita.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 700-an bahasa daerah yang bermacam-macam yang sebenarnya membuat kita bangga. Menjadi duta bangsa di luar negeri tidak harus berlebihan dengan prestasi, cukup berperilaku baik dan bangga berbahasa ibu yang menunjukkan jati diri kita.

Semua bahasa di dunia itu penting. Sebelum kita mengenal berbagai bahasa asing lainnya, Bahasa Ibu adalah cara kita mengenal dunia pertama kali. Ayo, jangan malu berbahasa ibu di mana pun kalian berada!

Simak celoteh RUMPITA selengkapnya berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Saya Tidak Egois dengan Mencintai Diri Sendiri

Tahun 2021 mungkin adalah tahun terberat bagi saya, diawali ketika saya terkena virus Corona lalu episode depresi yang disusul dengan diagnosa gangguan kecemasan sosial dan OCD yang saya dapat di awal pengobatan di klinik psikiatri. Walau menjadi tahun terberat, namun saya juga belajar banyak hal dari semua itu, terutama tentang cinta diri sendiri. Mungkin jika saya tidak tidak terkena depresi, saya tidak pernah tahu kalau selama ini saya tidak mencintai diri saya sendiri.

Saya dulu termasuk ke dalam orang yang sering membandingkan diri dengan orang lain. Mengapa orang lain bisa mendapatkan kerja di tempat yang saya inginkan, tapi saya tidak. Mengapa orang lain sudah punya keluarga dan bahagia, sedangkan saya masih sendiri. Mengapa mereka sukses, tapi saya tidak. Pikiran-pikiran ini membuat saya tidak bahagia dan belakangan saya baru tahu, kalau ini adalah salah satu gejala tidak mencintai diri sendiri. Saya harus berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, karena semua orang punya waktu dan berada di tempat yang berbeda. Tidak hanya itu, kita juga tidak pernah tahu apa yang orang lain pernah lalui untuk bisa sukses seperti yang kita lihat. 

Sekarang saya mencoba untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain, terlebih lagi soal pekerjaan atau kesuksesan, apa lagi sekarang saya tahu ternyata saya mempunyai gangguan kecemasan sosial yang membuat saya menghindari beragam kesempatan yang mungkin bisa membuat saya menjadi orang sukses. Sekarang tugas saya sebagai bagian dari cara mencintai diri sendiri adalah dengan rajin terapi untuk mengurangi kecemasan yang sudah “menemani” saya hampir seluruh hidup saya. Tidak hanya kecemasan, terapi juga akan membantu saya mengatasi masalah lain dalam diri saya dan membantu meningkatkan kepercayaan diri saya yang kurang. Semua itu adalah usaha saya untuk lebih kenal dan cinta diri sendiri. Seperti kata pepatah, tidak kenal maka tidak sayang 😊

Saat berada dalam episode depresi saya sangat ingin diperhatikan oleh orang-orang terdekat saya. Waktu itu saya pikir, jika mereka benar perhatian dengan saya, seharusnya saya juga bisa menjadi prioritas mereka. Saya rasa itu adalah pertama kalinya saya mempunyai pikiran seperti itu, biasanya saya akan memprioritaskan orang lain, seberapa sibuk dan capainya saya. Jika orang-orang terdekat saya butuh bantuan, pasti saya akan langsung sanggupi. Saya tidak tahu kalau itu juga salah satu dari ciri tidak cinta diri sendiri, jadi secara natural pikiran dan perasaan saya yang ingin diprioritaskan oleh orang lain pun muncul.

Saya dulu tidak bisa bilang tidak, kesulitan mengutarakan pendapat dan kebutuhan saya. Saya sempat tegang dengan sahabat saya, karena dia menelepon untuk menanyakan kabar saya tapi ujung-ujungnya malah bercerita tentang masalahnya sendiri. Setelah beberapa hari, saya akhirnya bisa berbicara dengan dia. Untungnya dia mengerti, bahkan dia, yang saat itu punya anak berumur satu tahun, mau main ke rumah saya yang jaraknya sekitar satu jam dari rumah dia. Saya merasa diperhatikan dan diprioritaskan olehnya, saya senang. Sekarang saya berusaha mendengarkan diri saya sendiri. Saya tidak lagi main ke rumah teman karena permintaan mereka, tapi karena keinginan saya.

Jika saya merasa menjadi penengah di antara dua orang adalah kewajiban, maka saya akan mundur, karena itu sekarang saya mengerti itu bukan urusan saya walau mereka minta. Saya juga penting, saya juga harus diprioritaskan, paling tidak oleh saya sendiri. Saya juga tidak egois dengan ingin diprioritaskan.

Follow us: ruanita.indonesia

Oh iya, mengungkapkan pendapat sendiri ke orang lain juga bentuk self-love. Saya sebagai orang dengan gangguan kecemasan sosial (dulu) sangat jarang atau hampir tidak pernah bilang apa yang saya pikirkan. Sering kali ketika ngobrol dengan orang lain dan berada di tema yang yang ingin saya bicarakan tapi saya diam saja, karena mengira lawan bicara saya sedang butuh untuk bercerita.

Saya mengalah. Tidak memprioritaskan diri sendiri. Biasanya yang terjadi dengan saya adalah malam hari saya akan mengulang kejadian tersebut namun dengan adegan saya berbicara apa yang ingin saya katakan. Jika saya tidak beruntung, adegan ini akan terulang berkali-kali, bisa jadi sampai mengganggu jam tidur saya.

Bagi saya mencintai diri sendiri juga berarti menerima bentuk tubuh saya. Sedari kecil saya selalu mendengar orang lain bilang saya gendut dan membuat saya tidak suka dengan diri sendiri juga rendah diri. Tidak hanya itu, saya merasa saya jelek. Padahal jika saya menjadi sahabat saya, saya akan bilang ke saya kalau saya tidak gendut. Buktinya, bagaimanapun bentuk tubuh saya, akan ada saja orang yang bilang saya gendut.

Memberikan dukungan fisik ke diri sendiri adalah bentuk dari penerimaan dan kecintaan terhadap diri sendiri. Saya punya seorang sahabat yang selalu meminta saya untuk menguruskan badan hampir setiap kali kami bertemu, sampai-sampai setiap akan bertemu dengannya saya akan membuat adegan dengan dialog antara saya dan dia yang akan menyinggung tentang bentuk tubuh saya dan ‚menyarankan‘ saya untuk kurus.

Sejujurnya, hal tersebut tidak memotivasi saya dan saya memang tidak pernah termotivasi untuk mempunyai tubuh kurus. Bagi saya yang terpenting adalah kesehatan, sebesar atau sekecil apapun tubuh seseorang. Ingat, bentuk tubuh kita tidak memengaruhi nilai diri kita. Jika orang lain bermasalah dengan bentuk tubuh kita, dia bukan orang yang baik untuk kita. 

Selama 24 jam setiap hari tubuh kita berfungsi sesuai dengan yang kita inginkan dan dia harus kita jaga. Sayangnya mencintai tubuh masih kurang saya lakukan. Saya masih kurang gerak dan (sejak depresi) hampir tidak pernah olah raga dan asupan makan saya juga tidak sehat. Saya masih makan makanan instan yang banyak sodium dan lemak jika mood saya sedang jelek atau malas masak, padahal itu semua bukan hal yang dibutuhkan oleh tubuh saya.

Tubuh saya maunya makannya penuh gizi dan vitamin, juga ingin berolah raga agar lemak kelak tidak menyumbat pembuluh darah atau mengganggu aktifitas organ lain. Tidak hanya itu, kebersihan badan juga harus diperhatikan. Ada orang yang malas sikat gigi, padahal selain tidak higienis, kesehatan gigi dan mulut juga penting.

Gusi yang tidak sehat bisa memengaruhi kesehatan jantung. Oh iya, tapi saya rajin kontrol ke dokter sebagai bentuk mencintai dan berterima kasih kepada tubuh saya. Tahun ini saya melakukan serangkaian kontrol dengan dokter saya karena ada nilai darah saya yang tinggi. Saya juga rajin membersihkan gigi secara profesional untuk pencegahan sakit gigi dan lainnya. 

Sekarang ini saya sedang belajar untuk baik atau jangan terlalu keras ke diri sendiri. Sebelumnya jika saya mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, saya akan beat myself up dengan cara mengkritik, misalnya dengan memberi julukan ‘jelek’, ‘bodoh’, ‘gendut’, dan sebagainya. Saya juga melihat hasil bukan proses, karena itu saya akan merayakan kesuksesan dan mengkritik diri sendiri untuk kegagalan, padahal proses juga penting: saya sudah berusaha keras dan itu sebenarnya yang lebih penting untuk dirayakan.

Tips dari terapis saya jika saya mulai mengkritik diri sendiri, saya bisa bayangkan saya (si pengkritik) berada di pundak kiri lalu saya hempaskan dengan tangan kanan saya agar dia hilang. Tidak hanya itu, kita juga bisa membayangkan menjadi sahabat kita, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dengan mengatakan yang baik-baik ke diri sendiri. Jika kita mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, tidak mungkin sahabat kita akan mengkritik kita, sebaliknya mereka akan sangat baik kepada kita dengan memberikan motivasi atau sekedar bilang, kita sudah berusaha dengan maksimal.

Menjadi sahabat bagi diri kita sendiri adalah salah satu bentuk cinta diri sendiri. Tidak hanya itu, mengizinkan diri kita melakukan kesalahan juga cinta diri sendiri. Kita boleh melakukan kesalahan, bahkan itu hal normal yang terjadi oleh setiap orang. Jangan hanya orang lain yang dimaafkan, tapi diri sendiri juga harus dimaafkan. 

Mencari kesempurnaan juga musuh dari self-love. Saya pribadi, keras ke diri sendiri karena saya ingin melakukan hal dengan sempurna, padahal balik lagi ke atas: yang penting prosesnya bukan hasil. Karena saya merasa harus sempurna, saya sering kali tidak melihat prestasi yang sudah saya raih. Ah tidak, bagi saya itu bukan prestasi namun hal biasa yang semua orang bisa raih, begitu pikir saya. Biasa saja, karena tidak sesuai dengan saya harapkan, misalkan saya pernah mendapatkan beasiswa dari kampus, tapi hanya dua bulan.

Kata lawan “tapi” di belakang koma itu selalu saya sebut karena menurut saya hal itu bukan hal istimewa. Seharusnya beasiswa satu tahun, bukan hanya dua bulan. Oleh terapis saya pernah diminta untuk menuliskan prestasi-prestasi saya, sekecil apa pun itu, misalnya bisa bikin kue tertentu walau di percobaan kesembilan. Ternyata saya punya sederet prestasi baik besar maupun kecil yang sayangnya tidak pernah benar-benar saya membuat saya puas. Saya masih berjuang untuk puas dengan apa pun yang saya raih, seberapa lama dan sebentarnya waktu yang butuhkan dan seberapa besar atau kecilnya hal tersebut.

Sedari kecil saya sayangnya bukan orang yang rapi. Sampai sekarang saya masih susah sekali menjaga kerapian tempat tinggal, walau kebersihan bisa hampir dipastikan terjaga. Saya rajin menyedot dan mengelap debu, tapi malas sekali untuk meletakan barang di tempatnya. Saya pikir tinggal di tempat rapi dan bersih adalah bentuk penghargaan terdapat diri sendiri.

Di mana kita pantas untuk tinggal, apakah di tempat kotor dan berantakan? Tentu tidak, bukan? Kita pantas untuk tinggal di tempat yang bersih dan rapi, yang membuat kita nyaman untuk hidup. Jangan takut juga untuk membuang barang-barang yang tidak kamu butuhkan, dari pada hanya membuat tempat tinggalmu penuh barang. Jika kamu mirip seperti saya yang berantakan, yuk, kita berusaha berubah! Kita hidup di lingkungan yang layak untuk kita.

Menurut saya, mencari pertolongan ke orang lain juga bentuk dari cinta diri sendiri. Saya adalah orang yang malu untuk minta tolong orang lain. Saya merasa diri saya lemah jika harus minta tolong orang lain, selain itu juga tidak mau merepotkan orang lain. Suami seorang sahabat saya pernah berkomentar, jika saya benar menganggap mereka penting dalam hidup saya, saya pasti tidak akan malu-malu untuk minta tolong ke mereka.

Sebenarnya bukan itu alasan saya, saya hanya khawatir merepotkan mereka. Padahal mengakui bahwa kita butuh bantuan dan berbicara dengan orang lain tentang masalah kita bisa membantu mengurangi beban kita, bahkan mungkin membantu mengatasi masalah tersebut. Dulu saya lebih suka menangis di kendaraan umum, dari pada pergi ke teman, cerita tentang kesedihan saya, dan menangis di depan mereka. Tidak apa-apa, kok, kita tidak mampu mengerjakan sesuatu. Tidak apa, kok, meminta orang membantu kita. Kita tidak dilahirkan untuk selalu memberikan bantuan, tapi juga sebaliknya, menerima bantuan orang lain.

Selain semua hal yang sudah saya sebutkan di atas, penting juga untuk membuat waktu untuk diri sendiri alias me-time. Jika kamu sering di media sosial, tapi pernah membaca frasa yang bilang kita harus menyediakan waktu untuk diri sendiri atau beristirahat paling tidak satu hari dalam seminggu, sebelum badan kita sendiri yang memutuskannya. Saya rasa ini benar juga. Sering kali saya malah jatuh sakit saat jadwal sedang penuh setiap harinya. Tidak hanya itu, bagi saya episode depresi yang terjadi pada saya juga ulah dari tubuh dan pikiran saya butuh istirahat tapi tidak pernah saya indahkan.

Saat sedang beristirahat, kamu bisa merawat diri kamu, misalnya melakukan beauty night dengan mandi atau berendam air hangat, luluran, perawatan rambut, dandan, dan mengolesi kuteks cantik di jari-jari tangan. Berleha-leha di sofa sambil nonton film atau baca buku, jalan-jalan di taman, merawat tanaman, berolah raga, bermain dengan hewan peliharaan, menghabiskan waktu dengan keluarga, menikmati matahari, tertawa, minum teh atau kopi di cafe kesukaan, mengamati orang atau langit, ganti seprai kasur atau tidur juga merupakan hal yang bisa dilakukan untuk lebih peduli dan cinta diri sendiri.

Penulis: Mariska Ajeng Harini. Tulisannya juga bisa dibaca di http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Mulai Menulis Jurnal, Menulis Berkat Dalam Hidup

Saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar saat itu. Ayah saya meminta saya untuk membeli sebuah buku tulis di warung, yang letaknya tak jauh dari rumah. Saya pun menyanggupinya. Saya diminta ayah untuk menuliskan hal-hal apa saja yang membuat saya bersyukur. Buku tulis biasa dibuat kotak-kotak dengan penggaris biasa, kemudian diberi tanggal, hari dan tahun. 

Makin lama saya menyukai pekerjaan menuliskan buku harian. Saya pernah mendapatkan buku harian mulai dari buku yang wangi, penuh hiasan sampai dengan buku harian yang terkunci. Saya pernah membuat kata-kata sandi untuk menuliskan buku harian agar orang-orang di rumah, apalagi ayah membaca buku harian. Saya juga punya brankas rahasia di mana tidak ada orang yang tahu letak buku harian saya itu. 

Kebiasaan menulis buku harian membuat saya mengenali apa yang terjadi dalam hidup saya. Saya pernah menuliskan bagaimana saya punya teman sebangku di kelas yang selalu mendapatkan rangking 1 sejak kelas 1 SD. Saya bercerita tentang betapa pintarnya dia. Pada akhirnya, saya belajar strategi belajar darinya sehingga saya pun kemudian mendapatkan rangking tiga besar di kelas.

Follow us: ruanita.indonesia

Lewat buku harian, saya pernah mencatat daftar resep masakan. Ceritanya ibu saya berpergian selama lebih dari satu bulan untuk mengunjungi keluarga ayah yang letaknya berbeda pulau. Pada akhirnya saya yang masih terhitung kelas 5 SD belajar memasak, dengan daftar resep yang diceritakan ibu saya. Saya menuliskan bagaimana menanak nasi, menumis sayuran atau memasak sup ayam misalnya. Pengalaman memasak itu saya tuangkan juga loh di buku harian saya.

Saya ingat bahwa saya pernah menuliskan pengalaman naksir dengan teman kelas sehingga peristiwa itu pun saya tuliskan di buku harian. Saya begitu malu mengingat semua itu ketika saya membaca ulang semua catatan buku harian saya ketika saya sudah beranjak remaja 17 tahun. Pengalaman saya jatuh cinta, membuat masakan, mendapatkan rangking kelas, mendapatkan pujian, bertengkar dengan adik kandung atau berlibur membuat buku harian saya begitu penuh warna.

Setelah saya remaja dan duduk di bangku SMA, saya memutuskan untuk membakar semua buku harian yang saya miliki. Tempat persembunyian untuk meletakkan buku harian telah diketahui oleh adik dan sepupu saya. Saya begitu malu ketika mereka membacakannya. Dengan malu bercampur sedih, saya membakar buku harian saya.

Saya melihat ayah saya memiliki buku agenda kantor. Saya suka melihat kebiasaan ayah saya yang suka mendokumentasikan apa yang sudah dilakukannya dan apa yang direncanakannya untuk masa mendatang. Ayah saya pun kemudian membelikan saya buku agenda kantor, tanpa perlu saya membuat garis kotak-kotak seperti dulu. 

Hal yang saya ingat dari menulis buku harian tersebut adalah saya mencatat tentang rasa syukur yang saya miliki. Saya memulainya dengan kalimat, saya bersyukur karena… Dari kalimat itu, saya bisa menuliskan panjang lebar tentang betapa baiknya Tuhan dalam hidup saya. Meski saya berjerawat pada saat itu, saya mendapatkan nilai ulangan sejarah yang sempurna. Apa pun yang saya tuliskan dalam buku harian, itu seperti menuliskan banyak berkat yang terkadang saya lupa. 

Kebiasaan menulis buku harian itu juga membantu saya mengelola pikiran dan perasaan saya. Buku harian itu ditulis dengan tangan saya, tidak ada laptop atau handphone pada masa itu. Saya bisa mengolah rasa marah, sedih, kecewa, senang, bahagia, takut, dan berbagai perasaan yang berkecamuk lewat buku harian tersebut. Itu seperti mengenal diri saya dengan baik, bagaimana saya sebenarnya. 

Buku harian seperti membentuk pribadi saya untuk mengontrol rasa yang bergejolak saat itu, seperti bahagia atau marah. Sekarang orang bisa saja posting di sosial media betapa bahagianya hidup mereka, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana reaksi orang setelah membaca postingan tersebut karena kita tidak bisa mengontrol respon seseorang. Lewat buku harian, saya bisa menumpahkan apa yang dirasa dan dipikirkan tanpa takut dihakimi atau diketahui orang lain. 

Jejak buku harian telah membawa saya pada impian Anne Frank, seorang remaja asal Belanda yang fenomenal lewat buku hariannya. Saat ke Belanda kemarin, saya menyambangi tempat Anne Frank tersebut. Anne berpendapat bahwa menuliskan segalanya di buku harian membuat ia mengenal dirinya sendiri. Hadiah buku harian kala ia berulang tahun ketiga belas tahun rupanya telah memberikan makna bagaimana ia tumbuh secara pribadi dengan karakternya yang unik sebagai perempuan remaja dan sebagai seorang Yahudi waktu itu.

Saya kutip dari Anne Frank tentang pentingnya menulis jurnal sebagai berikut:

“Unless you write yourself, you can’t know how wonderful it is. I always used to moan about the fact that I couldn’t draw, but now I’m overjoyed that at least I can write. And if I don’t have the talent to write books, newspapers, articles etc. I can write for myself. I want to achieve more than that.”

Mumpung masih di awal tahun, bagaimana kebiasaan Sahabat RUANITA semua menuilskan buku harian?

Penulis: seorang yang suka menuliskan jurnal untuk mendokumentasikan berkat dalam hidupnya, tinggal di benua biru.