(CERITA SAHABAT) Aku, Disleksia, dan Perjalanan Berdamai dengan Aksara di Singapura

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama aku Siti Maftuhah, orang dengan disleksia yang jatuh cinta pada aksara. Aku  biasa menyebut diriku sebagai “Penikmat Oksigen Gratis”. Bukan tanpa alasan, aku menyebut itu sejak masih kelas enam SD saat menemani ibu melakukan operasi di RSUD Prof. Dr. Margono Purwokerto. Di sana selalu melihat banyak pasien dengan bantuan alat pernapasan, dan sejak saat itu aku menyebutkan diri sendiri sebagai “Penikmat Oksigen Gratis” sampai saat ini. Saya seorang mahasiswa Ilmu Hukum semester 4 di Universitas Terbuka Singapura. Sekarang aku bekerja di Singapura sejak tahun 2023. Selain kerja sembari kuliah, aku juga aktif di beberapa komunitas nirlaba yang menaungi para pekerja migran di Singapura.

Pertama kali mengetahui bahwa aku disleksia, ketika aku duduk dibangku SMP. Saat itu guru Bahasa Indonesia, menyita bukuku karena ketahuan menggambar di tengah pembelajaran. Lalu beliau melihat apa yang aku gambar, yaitu sebuah cerita yang aku ilustrasikan seperti komik yang sangat sederhana dengan judul “Paijo Paijan Ora Kerjo Ora Njajan” yang menceritakan tentang gadis kecil yang kesusahan membaca karena tulisannya selalu menari-nari, tapi ia harus tetap berusaha keras agar bisa mengimbangi kemampuan belajar teman-temannya. Gadis itu berusaha sangat keras untuk bisa mengikuti lomba agar bisa mendapatkan tambahan uang atau beasiswa untuk sekolahnya. Setelah  beliau membacanya, kemudian menyuruhku ke ruang guru sepulang sekolah. Beliau menanyakan siapa gadis kecil yang jadi peran utama di komik tersebut, karena beliau merasa bahwa itu adalah aku, tapi beliau tidak yakin ketika membaca. Aku berusaha keras, bagaimana membuat huruf-huruf itu diam dan rapi, aku berusaha keras mendengarkan guru atau temanku yang sedang membaca berkali-kali untuk memastikan, apakah sama dengan tulisan didepanku.

Lalu untuk pertama kalinya aku didengarkan saat menjelaskan bahwa huruf-huruf yang aku baca terlihat menari, aku kesusahan membaca cepat seperti temanku, aku sering mendapatkan koreksi dari guru saat menulis, aku kesusahan menyusun kata saat berbicara. Selama ini mereka hanya menganggap aku kurang pandai dan telat bicara saat kecil. Dari situ guruku mengajakku ke salah satu klinik di kotaku. Setelah menjelaskan dan melakukan serangkaian pemeriksaan, kemudian dokter menyampaikan bahwa aku disleksia. Sebagai orang yang tinggal di kampung kecil dengan lingkungan yang tidak mendapatkan banyak informasi mengenai kesehatan dan lainnya, awalnya aku sangat takut dan mengira bahwa disleksia adalah salah satu jenis kanker. Dokter menjelaskan pelan-pelan bahwa disleksia adalah sebuah gangguan saraf yang membuat seseorang kesulitan dalam membaca , menulis, mengeja atau memahami kata-kata, dan perbedaan cara otak memproses bahasa bukan karena masalah penglihatan atau pendengaran. 

Saat itu aku masih merasa asing dan takut meskipun mereka sudah memberi informasi mengenai disleksia ini dan bersedia membantu terapi. Karena guruku berkata saat itu kepada dokter “Anak ini saya kira ya tidak mengalami gangguan belajar, tapi memang anak ini cukup aktif di kelas, susah untuk diam dan fokus kalau membaca atau menjelaskan suka tidak berurutan, bahkan saya bawa ke sini karena saya tahu dari komik yang dia gambar saat pelajaran berlangsung. Tapi saya tahu ini anak sangat kreatif, berprestasi juga, tapi memang keaktifannya sering dianggap nakal dan mengganggu anak lain, dan dianggap tidak serius karena kalau menulis masih sering salah.”

Setelah itu aku melakukan terapi seperti permainan rima kata, yaitu mengucapkan kata yang berakhiran mirip untuk melatih kepekaan telinga terhadap bunyi bahasa, metode membaca bersama yang dilakukan rutin 11-15 menit per hari. Tidak mengalami kesulitan yang berarti sebenarnya, karena aku sudah terbiasa melakukannya bahkan sebelum tahu apa yang aku alami adalah disleksia. Aku memang berusaha keras sejak Sekolah Dasar karena menyadari bahwa aku lebih lambat dari teman-teman lainnya, sementara orang tuaku cukup sibuk karena aku terdiri atas lima bersaudara dan aku mempunyai dua adik yang usia mereka hanya berbeda satu tahun. Setelah adikku lahir juga, ibuku sering sakit-sakitan. Jadi kondisi yang aku alami tidak pernah terdeteksi oleh keluargaku. Selain sibuk, mereka juga tidak mendapatkan informasi yang cukup perihal ini. Mereka hanya menganggap bahwa aku terlambat bicara karena kemampuanku yang berbeda dari anak lainnya. Aku yang terlihat kurang fokus dan terlalu aktif hanya disebut sebagai kenakalan anak kecil biasa. Singkat cerita, karena beberapa faktor, seperti perundungan, kekurangan finansial keluarga, telah membuat aku berpikir sejak masih SD untuk belajar lebih keras, dengan memaksakan membaca, aku ingat sekali dulu sepulang sekolah aku tidak bermain, tapi mendengarkan radio dan mencoba menuliskan apa yang penyiar katakan, dan aku suka mencoba berakting seolah-olah aku adalah penyiar juga, sehingga itu sangat membantu belajar mandiriku. 

Dulu aku juga setuju dengan anggapan banyak orang saat itu bahwa Maftuh anak yang sedikit membutuhkan perhatian lebih. Aku tidak mengingatnya dengan jelas, tapi setelah aku dewasa aku baru menyadari bahwa dulu aku mengalami perundungan di SD, terutama ketika pelajaran Agama yang menganjurkan muridnya untuk membaca atau menghafal surat-surat pendek Al-Qur’an. Aku saat itu bersekolah di Madrasah Islam yang di mana lingkunganku sangat Islami, bahkan teman sekelasku sudah menamatkan atau mampu menghafal surat-surat pendek juz 30, menulis tulisan Arab, bahkan bisa berbahasa Arab untuk komunikasi di pelajaran bahasa Arab saat itu.

Yang aku ingat, karena aku berbeda dengan teman lainnya, guruku terkadang memberikan waktu tambahan untukku khususnya di pelajaran agama yang berkaitan dengan membaca. Tanpa sadar, aku sering dibandingkan dan dianggap tidak serius dalam belajar, sehingga saat itu aku selalu izin dari sekolah setiap hari Jumat dan sabtu, karena mayoritas pembelajaran agama ada di hari Jumat dan Sabtu. Aku selalu izin sakit atau apapun itu, sehingga rapotku selalu tertulis banyak hari tidak masuk sekolah, bahkan dalam catatan setiap semester atau kenaikan kelas selalu ada peringatan untuk tidak gaduh di kelas, harus rajin masuk kelas, terutama Jumat dan Sabtu, dan lain-lain. Setelah saya dewasa, saya cukup sedih melihatnya karena itu terjadi bertahun-tahun. Tapi aku tidak mengingat dengan jelas, apa langkah guru dan keluargaku saat itu sampai ini berlangsung lama.

Ketika aku dewasa, aku merasa kecewa tetapi juga aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Aku juga belum sempat bertanya kepada orang tua atau guru bahkan teman-temanku. Namun, aku ada keinginan untuk bertanya tentang itu, apalagi setelah sekarang aku sambil menulis ini aku mengingat lagi bagaimana aku sering menangis sendiri, melihat huruf menyambung di Al-Quran atau buku lembar kerja sekolahku. Kadang aku begitu sedih, bagaimana aku berusaha keras membaca dengan mendengarkan terlebih dahulu. Atau, bagaimana aku ketakutan setiap berangkat sekolah karena akan mengalami perundungan saat membaca.

Sebelum aku tahu bahwa aku adalah orang dengan disleksia, aku sudah merasa bahwa aku sangat berbeda dengan kemampuan lainnya. Walaupun, aku selalu menjadi anak yang cukup berprestasi sejak SD bahkan aku beberapa kali mengikuti lomba seperti Cerdas Cermat, Pidato, Menyanyi dan menjadi petugas upacara. Kondisi ini juga yang cukup membingungkan sebenarnya sampai sekarang. Karena dengan keterbatasanku saat itu, aku mempunyai semangat yang sangat tinggi untuk mencoba dan aku melakukannya dalam sunyi. Aku selalu mendengarkan hal-hal yang menarik perhatianku, seperti melihat reporter, mendengarkan penyiar radio, pembawa acara traveling, orang berpidato dan membaca puisi. Namun karena aku selalu merasa lelah ketika membaca atau fokus terhadap sesuatu, terlebih dengan perundungan yang aku alami atau juga ketidaktahuan keluargaku akan kondisiku saat itu, aku sering merasa kecil dan minder.

Aku pun bingung ketika aku baru menyadari bahwa sejak kecil aku sudah peka dengan kondisi finansial keluargaku. Aku sering memikirkan tentang bagaimana membayar sekolahku ketika melihat ibuku sering masuk rumah sakit. Aku punya adik dua dan dua kakak, yang semuanya juga bersekolah. dari situ berbekal informasi, bahwa kalau berprestasi dan mengikuti lomba bisa mendapatkan beasiswa, aku jadi berusaha bagaimana caranya untuk bisa. Aku belajar sangat keras, terutama saat membolos di hari Jumat dan Sabtu, aku memanfaatkan waktu di kamar untuk belajar. Walaupun dulu aku terkenal suka membuat keributan di kelas, banyak bicara namun tidak tertata, suka sibuk dengan hal-hal yang menurut guruku mengganggu pelajaran. Di sisi lain aku cukup berprestasi, terutama di bahasa Indonesia.  Aku suka pelajaran untuk merangkai cerita, membuat puisi, juga pelajaran sejarah kebudayaan Islam. Aku kerap mendapatkan nilai selalu di atas 9. Ketika melihat rapotku kembali, aku memperhatikan polanya bahwa pelajaran yang nilainya rendah adalah yang berkaitan dengan membaca, menghitung, dan menghafal secara spesifik yang di mana aku tidak bisa improvisasi di dalamnya.

Setelah aku tahu bahwa yang aku alami adalah disleksia aku mulai mencari informasi “apakah orang sepertiku bisa sembuh dan punya masa depan seperti lainnya?” Berbekal internet dari komputer di perpustakaan sekolahku, aku sering mencari informasi dan motivasi dari situ. Sayangnya, aku belum berani terbuka kepada siapapun, karena aku malu dan takut bahwa itu akan dijadikan perundungan berikutnya. Jadi, aku menutupinya dengan menunjukan bahwa aku sama seperti mereka, aku belajar sangat keras untuk menyetarakan kemampuanku dengan lainnya. Bahkan sewaktu SD aku di-bully, karena tidak bisa membaca Al-Qur’an. Waktu SMP atas kerja kerasku, aku berhasil mewakili sekolahku untuk lomba membaca Al-Quran (tilawah) sampai tingkat Kabupaten. Pada intinya, semua hal yang menurutku adalah kekurangan, aku jadikan motivasi. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang.

Karena aku ingin melanjutkan mimpiku untuk sekolah lagi, aku memutuskan bekerja ke Singapura pada tahun 2023, dengan tekad untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Pada kenyataannya di Indonesia walaupun aku sudah bekerja sambil berjualan, hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara aku masih punya mimpi yang belum terwujud, salah satunya adalah melanjutkan pendidikanku. Setelah lulus SMK aku memutuskan untuk berkuliah. Namun terkendala finansial, sebenarnya aku sudah berkesempatan diterima di salah satu universitas negeri di Yogyakarta dengan beasiswa, namun aku berpikir berulang kali. Meskipun aku mendapatkan beasiswa, aku memikirkan bagaimana dengan kebutuhan hidup di perantauan dan juga bagaimana dengan orang tuaku? Aku juga memikirkan, siapa yang akan membantunya? Saat itu, aku mengubur mimpiku, namun seiring berjalannya waktu dan membaiknya finansial, aku baru menyadari bahwa aku tidak mengubur mimpiku sepenuhnya. Aku masih meninggalkan sedikit celah terbuka agar mimpiku tidak benar-benar terkubur. Salah satu cara aku bisa mewujudkannya adalah pergi bekerja di Singapura untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik dan menunjang kebutuhan hidupku dan keluarga, sekaligus mempunyai tabungan untuk melanjutkan sekolah dan masa tua.

Pertama kali datang ke Singapura, rasanya sangat takut, terlebih orang tua belum mengetahui keputusan saya untuk bekerja di sana. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat sekaligus pertama kalinya pergi ke luar negeri. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat, saya terus menekan tasbih digital sambil membaca istigfar tanpa henti. Hal itu membuat saya khawatir dan terus bertanya-tanya, bagaimana jika pengalaman buruk yang ia ceritakan juga terjadi kepada saya? Sesampainya di Singapura, saya melihat angka 8.000 pada tasbih digital saya. Angka itu menjadi semacam pengingat betapa besar rasa takut yang saya rasakan saat itu. Namun, ternyata kenyataannya tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Orang-orang yang saya temui justru sangat baik, terbuka, dan sangat mendukung saya. Mereka juga sabar dalam menjelaskan berbagai hal, mulai dari detail pekerjaan, dokumen, kontrak kerja, gaji, hingga fasilitas yang saya dapatkan.

Meski begitu, proses beradaptasi tetap tidak mudah. Saya masih merasa asing dengan lingkungan baru dan harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda. Pada malam hari, terkadang saya menangis karena merasa lelah, bingung, dan tidak tahu harus bagaimana. Untungnya, saya tidak melewati masa itu sendirian. Mereka membantu saya memahami berbagai hal dengan menjelaskannya menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Perlahan, rasa takut yang awalnya begitu besar mulai berkurang, dan saya pun mulai belajar untuk merasa nyaman dengan kehidupan baru saya di Singapura.

Soal transportasi di Singapura menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Untuk menyiasatinya, saya membuat sistem visual yang lebih terstruktur dengan mengandalkan warna jalur MRT, patokan-patokan visual, serta aplikasi Maps. Biasanya, sebelum bepergian, saya akan melakukan pengecekan dan merencanakan rute terlebih dahulu agar tidak terlalu bingung ketika berada di perjalanan. Saya lebih sering menggunakan transportasi umum ketika sedang libur, sedangkan pada hari kerja saya biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Untungnya saya berada di lingkungan yang sangat mendukung saya. Kami memang terbuka satu sama lain mengenai rencana bepergian dan ke mana saya akan pergi. Mereka memahami kesulitan yang saya alami dan selalu memastikan saya bisa sampai ke tujuan dengan aman. Sejauh ini, saya lebih sering menggunakan MRT atau taksi dan jarang menggunakan bus karena saya masih cukup kesulitan memahami rute dan pemberhentian bus. Bagi saya, MRT terasa lebih mudah karena masih ada jeda waktu untuk menunggu, melihat petunjuk, dan memastikan kembali tujuan atau stasiun berikutnya sebelum melanjutkan perjalanan.

Meskipun memiliki kendala tersendiri dalam berbaur dengan aksara, aku justru menyadari bahwa dengan berdamai dengan aksara dan literasi, aku bisa menemukan cara untuk berkomunikasi dengan dunia. Aku menggunakan hambatanku sekaligus menjadikannya sebagai jalan keluar. Memang melelahkan, tetapi melalui membaca aku bisa mengenal dunia yang lebih luas, meskipun belum mampu menjangkaunya secara fisik. Sementara melalui tulisan, aku menemukan cara terbaik untuk menuturkan hal-hal yang terkadang sulit kusampaikan secara langsung. Titik baliknya terjadi ketika aku duduk di bangku SMP. Di tengah kelelahan dan kesulitanku membaca, aku memaksakan diri untuk pergi ke perpustakaan hampir setiap hari sepulang sekolah. Kebiasaan itu akhirnya membawaku mendapatkan penghargaan sebagai siswa teladan Sahabat Perpustakaan. Aku masih ingat buku pertama yang membuatku benar-benar jatuh hati pada dunia membaca adalah Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika. Dari buku itu, aku bisa tertawa dan menikmati cerita. Saat itulah aku mulai menyadari bahwa tulisan adalah salah satu cara yang paling tepat untuk membagikan cerita.

Sejak saat itu, aku mulai termotivasi untuk membaca lebih banyak. Nilai pelajaran sejarahku juga selalu cukup baik setelah aku mendapatkan banyak informasi melalui membaca. Perlahan, aku mulai mengombinasikan kemampuan menggambarku dengan tulisan. Aku membuat komik sederhana dengan gaya dan kemampuanku saat itu. Namun, komik tersebut akhirnya disita oleh guru Bahasa Indonesia karena dianggap mengganggu proses belajarku. Justru dari peristiwa itu, aku kemudian mengetahui bahwa aku mengalami disleksia. Guru Bahasa Indonesiaku menjadi salah satu orang yang membantu aku memahami dan melewati kondisi tersebut. Beliau juga membantu mengarahkan bakatku dalam menggambar dan menulis agar bisa menjadi sebuah karya. Dari sanalah karya-karyaku mulai ditampilkan di majalah dinding sekolah. Pengalaman itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan aku memahami bahwa sesuatu yang selama ini kuanggap sebagai hambatan ternyata juga bisa menjadi jalan untuk menemukan kemampuan lain dalam diriku.

Ketika berada di Singapura, kecintaanku terhadap literasi kembali menemukan ruang untuk berkembang. Dulu, ketika masih sekolah, aku juga sering mencari cara lain untuk tetap bisa menikmati literasi. Kadang aku mendengarkan teman yang membaca dengan suara cukup keras, mendengarkan orang membacakan puisi, atau mengikuti acara bedah buku melalui radio. Kecepatan membacaku memang cukup pelan dan terkadang aku harus mengulang beberapa kali, terutama ketika menemukan kata-kata yang masih asing. Jika menemukan kata yang sulit atau memiliki akhiran yang serupa, aku biasanya harus berhenti, mengamatinya, lalu melafalkannya secara perlahan. Namun, justru dari kebiasaan itulah perlahan terjadi kemajuan. Semakin sering membaca, semakin banyak pula kosakata yang kukenal. Aku mulai semakin akrab dengan kata-kata yang sebelumnya terasa asing.

Sampai sekarang pun, ketika melihat huruf dan aksara, terkadang aku masih merasa seperti melihat sesuatu yang menari atau terbalik. Bedanya, karena sudah membiasakan diri membaca dan menjadi lebih familiar dengan banyak kata, aku perlahan menjadi lebih nyaman. Meski demikian, disleksia masih menjadi tantangan yang harus kuhadapi, terutama ketika aktif dalam komunitas. Aku cukup sering mendapatkan tanggapan terhadap tulisanku karena ada kata yang salah ditulis. Aku juga sering mendapatkan revisi sehingga harus lebih fokus dan memeriksa tulisan berkali-kali.

Terkadang, komentar yang kurang menyenangkan membuatku lelah bahkan tersinggung. Namun, seiring berjalannya waktu, aku belajar berdamai dengan hal tersebut. Aku belajar bahwa rasa tersinggungku bukan menjadi tanggung jawab orang lain. Kondisiku juga bukan berarti semua orang harus memakluminya. Pada akhirnya, aku tetap harus mampu membawa diri dan bersikap profesional terhadap tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadaku. Sejauh ini, aku merasa mampu melewati tantangan tersebut dengan baik. Aku dipercaya menjadi wakil sekretaris di komunitas AMRISING dan RUMILA, serta terlibat dalam Migrant Writers of Singapore dan menjadi bagian dari keluarga besar FPMI. Komunitas-komunitas tersebut memiliki keterkaitan erat dengan literasi dan seni. Di sanalah aku menemukan ruang untuk terus belajar. Apa yang dahulu menjadi tantangan perlahan justru menjadi rumah yang memberiku rasa aman dan ketenangan.

Di tengah kesibukan bekerja sebagai pekerja migran Indonesia, aku juga berusaha menyediakan waktu khusus untuk membaca dan berkarya. Pekerjaanku biasanya selesai sekitar pukul delapan malam. Setelah membersihkan diri dan makan malam, aku membiasakan diri untuk tidur sebelum pukul sepuluh malam agar bisa bangun lebih awal, sekitar pukul empat pagi. Pagi hari menjadi waktu yang sangat berarti bagiku. Saat sebagian orang masih terlelap, aku bisa mengerjakan berbagai aktivitas literasi dan seni. Aku mengerjakan tugas kuliah, membaca buku, journaling, membuat kerajinan tangan, hingga menonton atau mendengarkan podcast. Untuk membaca, aku juga sering memanfaatkan waktu istirahat ketika bekerja, misalnya setelah makan siang atau pada sore hari sebelum mulai memasak untuk makan malam.

Bagi aku, literasi bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Literasi juga menjadi terapi sekaligus cara untuk mendokumentasikan perjalanan hidupku. Di tengah rasa terisolasi karena berada jauh dari rumah, menghadapi lingkungan yang asing, dan merasakan kerinduan kepada keluarga, tulisan menjadi salah satu cara terbaik untuk berbagi. Sementara membaca membantuku tetap terhubung dengan informasi dan dunia yang lebih luas. Sebagai seorang perantau, aku menyadari bahwa ada banyak hal yang harus dikorbankan. Waktu bersama keluarga berkurang, kesempatan menikmati kehidupan di kampung halaman juga banyak terlewatkan. Ada begitu banyak momen yang seharusnya bisa dijalani bersama keluarga dan dibagikan melalui cerita.

Karena itu, aktivitas literasi menjadi semacam pelarian yang sehat bagiku ketika rasa rindu dan kesepian datang. Aku bisa menuangkan kerinduanku kepada keluarga dan kampung halaman melalui rangkaian kata. Melalui tulisan, apa yang kurasakan tidak hanya tersimpan di dalam diriku, tetapi juga bisa dibaca dan dirasakan oleh orang-orang yang kucintai. Pada akhirnya, aksara yang dulu terasa begitu melelahkan justru menjadi salah satu cara bagiku untuk menemukan suara. Aku mungkin masih harus membaca lebih pelan, mengulang kata-kata tertentu, atau memeriksa tulisan berkali-kali. Namun, aku tidak lagi melihat semua itu sebagai alasan untuk menjauh dari literasi. Justru melalui proses panjang itulah aku belajar bahwa berdamai dengan sebuah keterbatasan bukan berarti berhenti menghadapinya, melainkan menemukan cara untuk tetap berjalan bersamanya.

Setelah melalui berbagai pengalaman dan bertemu banyak orang, aku mulai memahami bahwa stigma terhadap disleksia sering kali muncul karena kurangnya informasi. Dulu, aku pun pernah berpikir bahwa disleksia berarti hambatan untuk menjadi pintar atau sukses. Karena itu, sekarang aku tidak lagi terlalu tersinggung ketika ada orang yang memandang kondisiku sebagai kelemahan atau menganggap aku menggunakan disleksia untuk mendapatkan pemakluman. Aku memilih untuk terus menjalani hidup dengan tenang dan mendekatkan diri pada lingkungan yang mendukung serta membantuku bertumbuh. Aku juga tidak pernah menuntut orang lain untuk sepenuhnya memahami kondisiku. Setiap orang memiliki tantangannya masing-masing, dan bagiku, menghadapi kondisiku adalah bagian dari tanggung jawabku terhadap hidup sendiri. Tentu, sampai pada titik ini tidak mudah. Pernah ada ketakutan tentang bagaimana aku bisa memenuhi tuntutan pendidikan dan pekerjaan, terlebih aku juga memiliki buta warna parsial. Dulu, aku bahkan cenderung menutupi kondisi tersebut karena belum memiliki cukup informasi dan takut akan memengaruhi kesempatan yang kumiliki. Namun, semakin banyak informasi yang kudapatkan dan semakin banyak orang yang kutemui, aku menyadari bahwa kondisi ini tidak menentukan nilai diriku. Aku juga menemukan banyak orang dari berbagai latar belakang akademik dan profesi yang hidup dengan disleksia. Dari sana, aku semakin percaya bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan.

Menjaga kepercayaan diri juga bukan sesuatu yang selalu mudah bagiku. Dulu, kesulitan belajar bahkan membuatku sering mencari alasan untuk tidak pergi ke sekolah. Namun, aku sadar bahwa kondisi ekonomi keluargaku membuatku harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan agar dapat bertahan dan memiliki kesempatan yang lebih baik. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa aku sama pentingnya dengan manusia lain. Selama aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri, tidak merugikan orang lain, dan memahami bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda, maka perjalananku tidak harus dibandingkan dengan siapa pun. Ini bukan tentang menjadi lebih cepat atau sama dengan orang lain, tetapi tentang bagaimana aku mampu melampaui ketakutanku sendiri.

Sebenarnya, aku tidak selalu percaya diri. Namun, setiap kali memasuki sebuah ruangan, aku berusaha menegakkan kepala. Bukan untuk menjadi lebih cepat dari orang lain, tetapi untuk mengingatkan diri bahwa aku juga berhak berada di sana. Begitu pula dengan membaca. Bagiku, membaca bukan tentang siapa yang paling cepat, berapa banyak buku yang selesai dibaca, atau apakah buku tersebut ditulis oleh orang terkenal. Membaca adalah caraku memasuki berbagai cerita dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Jika aku bisa berbicara kepada diriku sendiri ketika masih kecil dan kesulitan membaca, aku ingin mengatakan:

“Hai Maftuh, terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini dan tetap memilih dirimu sendiri. Dulu kita mungkin pernah merasa harus mengubur mimpi karena keadaan, tetapi ternyata celah kecil yang kita sisakan itu masih ada. Sekarang, mimpi-mimpi yang pernah kita tulis di diary dari kertas bekas perlahan mulai menjadi nyata. Ada yang tertulis di sertifikat penghargaan, laporan kegiatan, dan buku-buku yang bisa kita beli dari hasil kerja keras sendiri. Jadi, mari rayakan setiap pencapaian kecil. Mari berdamai dengan diri sendiri dan menikmati hidup sebahagia mungkin. Mari peluk diri kita dan kalahkan rasa takut itu. Kita berhasil melewatinya.”

Ke depan, salah satu impian yang ingin aku wujudkan adalah menyelesaikan buku yang sudah bertahun-tahun kukerjakan. Aku juga sedang membangun komunitas yang berfokus pada cerita dan perjalanan para pekerja migran dari akar rumput. Aku ingin menghadirkan cerita yang mungkin jarang terdengar. Jika selama ini banyak buku menceritakan kesuksesan dengan narasi from zero to hero atau from nothing to something, aku ingin membawa cerita yang berbeda: from nothing, still learning, and keep growing. Bagiku, semua cerita sama pentingnya dan semua kehidupan sama berharganya, siapa pun orangnya dan apa pun pekerjaannya.

Kepada sesama perempuan PMI yang mungkin sedang berjuang dengan kondisi atau keterbatasan tertentu, aku hanya ingin mengatakan: jangan menyerah. Kamu boleh lelah, kamu boleh berhenti sebentar untuk mengambil napas, tetapi jangan lupa untuk melanjutkan perjalananmu. Semoga siapa pun yang sedang mengalami hal serupa dipertemukan dengan orang-orang baik, lingkungan yang tepat, dan alasan untuk terus bertahan serta merayakan hidup. Jika suatu hari ceritaku sampai kepada kalian dan kalian membutuhkan tempat untuk berbicara, didengar, atau sekadar berbagi cerita, aku ingin menjadi salah satu orang yang bersedia mendengarkan. Aku ingin ikut merayakan perjalanan kalian. Tetaplah memilih dirimu sendiri. Apa pun yang sedang kamu lalui, semoga selalu ada alasan untuk melewatinya. Mari kita rayakan kehidupan yang mungkin hanya kita miliki sekali ini. Kalian semua hebat.

Bagiku, dukungan paling penting bagi pekerja migran dengan kebutuhan khusus bukanlah perlakuan yang membuat kami merasa berbeda, melainkan kesempatan untuk diperlakukan secara setara. Kami juga sedang belajar, bekerja, dan berproses seperti orang lain. Karena itu, pemahaman mengenai disleksia dan kondisi lainnya perlu semakin luas agar perbedaan dalam menerima dan memproses informasi tidak langsung dianggap sebagai kebodohan. Aku berharap semakin banyak orang memiliki pengetahuan dan kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya, sehingga mereka yang membutuhkan dapat memperoleh dukungan dan penanganan yang tepat. Cerita ini adalah pengalaman pribadiku dan tentu tidak mewakili semua orang dengan disleksia atau kondisi serupa. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Aku hanya berharap cerita ini bisa sampai kepada mereka yang mungkin masih takut, ragu, atau belum berani terbuka mengenai kondisi yang mereka alami.

Menulis cerita ini ternyata juga tidak mudah. Mengingat kembali berbagai peristiwa di masa lalu cukup menguras energi. Mungkin masih ada tulisan yang kurang runtut atau kesalahan kata di dalamnya. Namun, aku bersyukur pernah diberi ruang untuk berbagi. Semoga cerita sederhana ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bertahan, bertumbuh, dan menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.

Penulis: Siti Maftuhah, pekerja migran Indonesia (PMI) dengan disleksia, relawan Ruanita Indonesia di Singapura dan dapat dihubungi via akun IG: smaftuh_r serta merupakan pecinta aksara.

(SIARAN BERITA) Workshop Daring Menulis PMI Perempuan: Dorong Suara Perempuan Migran Lewat Tulisan

Singapura, Mei 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia, Ruanita Indonesia dan komunitas FPMI di Singapura menyelenggarakan kegiatan Workshop Daring Menulis bertajuk “From Zero to Hero: Bersuara Lewat Tulisan untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) Perempuan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 3, 10, dan 17 Mei 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Workshop ini bertujuan untuk menyediakan ruang aman dan produktif bagi PMI perempuan untuk mendokumentasikan pengalaman hidup mereka di perantauan melalui tulisan, sekaligus memperkuat kapasitas literasi sebagai bagian dari upaya advokasi dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, yang dihadiri oleh Maradona A Runtukahu, Koordinator Protokol dan Kekonsuleran, dan Komnas Perempuan sebagai lembaga nasional yang fokus pada perlindungan perempuan.

Dalam sesi pembukaan, perwakilan KBRI Singapura menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas dan ruang ekspresi bagi PMI, khususnya perempuan, sebagai bagian dari upaya penguatan perlindungan dan pemberdayaan. KBRI Singapura juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di Singapura.

Sementara itu, Komnas Perempuan, yang diwakili oleh Komisioner Devi Rahayu, menyoroti pentingnya perspektif perlindungan berbasis gender dalam konteks migrasi tenaga kerja. Dalam paparannya, Komnas Perempuan menekankan bahwa pengalaman perempuan migran tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga mencakup isu kerentanan, kekerasan berbasis gender, serta pentingnya akses terhadap keadilan dan perlindungan yang komprehensif.

Workshop ini menghadirkan pemateri pertama Dr. Nor Ismah, PostDoctoral Fellow di Asian Research Institute National University of Singapore (NUS) yang memberikan pelatihan teknis menulis dan storytelling berbasis pengalaman. Pemateri kedua adalah Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau, Germany yang menyampaikan pentingnya narasi dalam mendokumentasikan pengalaman hidup.

Melalui rangkaian workshop selama 3 kali pertemuan, peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga akan mendapatkan pendampingan (mentoring) hingga menghasilkan karya tulisan yang akan dihimpun dalam sebuah buku bersama sebagai output akhir kegiatan. Program ini juga membuka ruang jejaring (networking) antar PMI perempuan, serta memberikan sertifikat elektronik bagi peserta.

Selain itu, kegiatan dimoderasi oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura dan Founder komunitas penulis migran. Acara ini juga menghadirkan sesi diskusi, refleksi, dan mentoring penulisan yang diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunitas penulis PMI perempuan, sekaligus memperkuat suara dan narasi perempuan migran Indonesia di ruang publik.

(CERITA SAHABAT) Aku, Pekerja Migran, dan Hak untuk Hidup yang Layak

Halo, sahabat Ruanita! Namaku Dewi Novita Sari Lubis, banyak yang memanggilku Dewi Lubis. Aku lahir di Batam dan aku merantau ke Singapura sebagai pekerja migran, sejak 2019. Sampai hari ini, aku telah bekerja dengan tiga pemberi kerja, dan kini sedang menjalani kontrak kedua di majikan ketiga. Di sela-sela bekerja, aku juga melanjutkan pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka, mengambil Ilmu Hukum. Ini seperti cita-cita masa kecil yang tidak pernah padam, sekaligus misi kemanusiaan yang ingin kujalani seumur hidup.

Bagiku, menjadi pekerja migran bukan hanya tentang bekerja dan mengirim uang ke rumah. Ini tentang bertahan, belajar, dan perlahan memahami bahwa sebagai perempuan, aku juga punya hak atas kehidupan yang layak, bermartabat, dan setara.

Pengalaman menjadi relawan dan pendamping sesama sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Singapura. Saat masih di Malaysia, banyak cerita yang datang kepadaku, mulai dari tetangga, teman kerja, hingga orang asing yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah hanya untuk bercerita dan meminta bantuan. Ada yang sekadar ingin didengarkan, sampai ada yang benar-benar terjebak dalam masalah besar.

Salah satu peristiwa paling membekas dalam hidupku adalah saat seorang teman kerja meninggal dunia di Malaysia. Rumah sakit membutuhkan data keluarga korban, sementara kami semua tidak tahu harus menghubungi siapa. Aku yang akhirnya berusaha mencari jejak keluarganya. Prosesnya rumit, melelahkan, dan penuh cerita yang sulit dijelaskan dengan logika. Pada akhirnya, orang tua korban datang ke rumahku. Ada kisah yang ambigu, nyaris seperti cerita horor. Namun, aku percaya bahwa mungkin ini jalan yang Tuhan tentukan agar aku belajar tentang empati, tanggung jawab, dan arti kemanusiaan.

Tak lama setelah itu, aku mendapat kabar duka dari seorang tetangga yang bekerja di Singapura. Kabar itu menjadi titik balik, mendorongku untuk berpindah negara dan memulai hidup baru di sini. Sejak saat itu, tanpa sadar, aku kembali berada di jalur yang sama: mendengarkan, menemani, dan membantu.

Hingga hari ini, sudah puluhan aduan yang kuterima. Tidak dengan aksi besar, tidak dengan suara lantang. Aku membantu lewat cara sederhana seperti: mengadvokasi, membimbing, dan memberi semangat lewat percakapan WhatsApp. Kadang hanya dengan kalimat pendek, tapi penuh makna: “Kamu tidak sendiri.”

Perempuan, Hak, dan Kenyataan di Lapangan

Ketertarikanku pada isu kesetaraan berangkat dari satu keyakinan sederhana: aku perempuan, dan aku berhak hidup layak. Setiap kehidupan patut dihargai dan diperjuangkan. Jika seseorang sudah rela berkorban demi orang lain, entah itu keluarga, anak, orang tua, maka mengapa ia tidak layak mendapatkan penghargaan dan kesempatan yang semestinya?

Sayangnya, kenyataan di lapangan sering kali tidak seindah teori. Banyak ucapan, janji, bahkan aturan tertulis yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin melihat penderitaan, apalagi pembatasan hak antara perempuan dan laki-laki, atau diskriminasi berdasarkan status sosial, kasta, atau label apa pun. Bagiku, semua orang setara.

Aku pernah melihat dan mendengar langsung cerita kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang dialami teman-temanku. Hal-hal semacam ini bukan cerita langka. Salah satu yang paling mengejutkanku adalah kisah tentang perbedaan upah berdasarkan gender. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan menjaga seorang nenek dengan upah 850 dolar Singapura per bulan. Ketika ia pulang dan digantikan oleh pekerja laki-laki, upahnya langsung naik sekitar 250 dolar, dengan alasan “tenaganya lebih kuat untuk mengangkat nenek”.

Aku terkejut. Tapi aku juga sadar, dalam posisi kami sebagai pekerja migran, sering kali tidak banyak yang bisa dilakukan.

Bertahan, Bersyukur, dan Tetap Kritis

Aku bersyukur, di majikan tempatku bekerja saat ini, kondisiku relatif baik. Akses komunikasi terbuka, gaji transparan, makanan layak, dan tempat istirahat memadai. Namun, ada yang sangat berarti bagiku, yakni kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Tentu ada hal-hal kecil yang menurutku seharusnya tidak terjadi, tapi aku belajar menerima satu kenyataan: hidup tidak pernah sempurna.

Bagiku, prinsip give and take penting. Tidak semua keinginan bisa terwujud persis seperti harapan. Selama hak-hak dasar terpenuhi, seperti: gaji cukup, waktu istirahat, kesempatan berkembang, maka aku merasa sudah berada di posisi yang layak. Bisa sekolah dan tetap dekat dengan keluarga saja, menurutku sudah lebih dari cukup.

Namun, bukan berarti aku menutup mata terhadap kerentanan yang dialami banyak PMI lain.

Pendidikan, Skill, dan Daya Tawar

Sebagai pekerja migran, aku melihat salah satu akar utama kerentanan upah adalah minimnya pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan. Ini menciptakan perbedaan daya saing yang sangat besar, baik antar-PMI maupun dengan pekerja dari negara lain.

Di Singapura, misalnya, pekerja migran dari Filipina yang memiliki sertifikasi caregiver bisa mendapatkan upah 700 hingga 1.500 dolar Singapura. Sementara banyak PMI baru hanya menerima 550–580 dolar. Perbedaannya terlihat jelas dari kemampuan bahasa Inggris dan cara kerja. Ini bukan soal siapa lebih rajin, tapi soal akses terhadap peningkatan kapasitas.

Status sosial juga sangat memengaruhi. Bahkan di antara sesama orang Indonesia di Singapura, perbedaan itu terasa. Mereka yang sudah lama menetap biasanya punya pekerjaan dan upah lebih baik. Dalam relasi dengan majikan, ada yang sangat manusiawi, tapi ada juga yang terang-terangan berkata, “Kamu helper, aku majikan. Kita tidak sama.”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya seperti menciptakan jarak, rasa kecil, dan ketakutan untuk bersuara.

Intimidasi yang Masih Nyata

Kesenjangan antara pekerja formal dan non-formal masih sangat terasa. Meski sering digaungkan bahwa “semua sama”, di lapangan intimidasi masih terjadi. Ada saudari yang gajinya dipotong karena masakannya dianggap tidak enak, atau karena dituduh tidak rajin. Padahal pemotongan gaji semacam itu tidak dibenarkan oleh aturan Ministry of Manpower Singapura.

Ada juga kasus ketika barang majikan rusak tanpa sebab jelas, tapi pekerja yang disalahkan. Ketidaktahuan hak membuat banyak PMI memilih diam, takut kehilangan pekerjaan.

Hukum, Negara, dan Celah yang Berbahaya

Menurut pengamatanku, Indonesia sebenarnya sudah berupaya memperjuangkan kesetaraan dan perlindungan PMI melalui undang-undang dan kebijakan. KBRI juga banyak membantu menyelesaikan kasus. Singapura sendiri punya regulasi yang kuat. Namun, selalu ada celah yang dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab, termasuk sindikat perdagangan orang atau sponsor.

Salah satu polemik besar adalah direct hire. Di Singapura, ini legal. Di Indonesia, sering dianggap bermasalah karena data PMI tidak tercatat dengan baik. Akibatnya, muncul masalah seperti potongan gaji tidak transparan, atau PMI yang tidak terlindungi secara administratif.

Aku percaya, solusi hanya bisa dicapai lewat kerja sama bilateral yang jelas, pendataan terintegrasi, dan sosialisasi masif kepada PMI dan majikan.

Dalam keterbatasanku, aku memilih satu hal: memberi keberanian. Ketika teman mengeluh gaji terlambat, aku tidak menyuruh mereka marah. Aku ajak bicara dengan sopan. Misalnya, mengirim pesan sederhana: “Mam, besok tanggal 20 ya gajiannya. Terima kasih.”

Tiga bulan terakhir, aku mendampingi dua saudari yang awalnya sangat takut. Sekarang mereka lebih berani menyampaikan hak setelah menunaikan kewajiban. Hal kecil, tapi berdampak besar.

Aku juga melihat bagaimana posisi tawar perempuan sering dilemahkan oleh relasi personal. Banyak PMI perempuan tertipu bujuk rayu pasangan, yang berujung pemecatan, penipuan, bahkan kekerasan. Ada yang membawa pasangan ke rumah majikan, ada yang diintimidasi pacar. Dari cerita-cerita ini, aku belajar satu hal: fokus pada tujuan. Bekerja, mencari nafkah, dan pulang dengan selamat.

Keterbatasan bahasa, skill, dan kepekaan terhadap lingkungan membuat perempuan semakin rentan. Karena itu, strategi terpenting adalah terus belajar.

Pesan untuk Perempuan Pekerja Migran

Aku percaya, perempuan harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Jangan takut bermimpi lebih tinggi. Kita tidak harus selamanya berada di posisi yang sama. Jika skill meningkat, beranilah melangkah ke posisi yang lebih baik. Jangan terjebak zona nyaman.

Kesetaraan bukan soal menuntut kuasa. Ini tentang hak untuk bahagia, aman, dan dihargai.

Untuk seluruh Perempuan Indonesia Pekerja Migran di Singapura dan di mana pun berada:
kalian hebat. Jalan kita tidak selalu lurus dan mulus. Tapi setiap tetes keringat adalah bukti cinta dan pengorbanan. Kalian pantas bahagia. Kejar mimpi kalian. Jangan takut belajar, jangan takut berubah. Masa lalu adalah pelajaran, dan masa depan masih bisa diperjuangkan.

Kalian bukan hanya pahlawan devisa. Kalian adalah perempuan tangguh yang layak hidup setara dan bermartabat.

Penulis: Dewi Lubis, Pekerja Migran di Singapura, Penulis, Mahasiswa Hukum di UT, Founder Komunitas FPMI-SG  (Forum Penulis Migran Indonesia Singapura), Tim Relawan Advokasi SBMI DPLN Singapura, serta Relawan Ruanita di Singapura. Dewi dapat dikontak via akun instagram dewi_lubis1.

(PODCAST PMI STORIES) Cerita Transformasi dari Asia ke Skandinavia

Podcast PMI Stories – Cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia episode kedua menghadirkan kisah Sari Wijayanti, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja selama sembilan tahun di Singapura dan kini menetap di Swedia setelah menikah dengan warga setempat. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura sekaligus host podcast, episode ini menggali perjalanan karier Sari, transisi hidup antarnegara, hingga proses membangun kehidupan baru di Eropa.

Sari memulai perjalanannya sebagai PMI di Singapura dengan alasan ekonomi. Ia menyadari kondisi finansial saat itu belum cukup memberikan rasa aman bagi dirinya dan kedua putranya. Di Singapura, Sari bekerja di sektor domestik dengan tanggung jawab sebagai nursery dan caregiver, mengasuh anak kecil sesuai dengan keterampilan yang ia miliki.

Tantangan terbesarnya adalah menghadapi anak-anak yang sedang tantrum atau sakit, yang mana situasi tersebut menuntut kesabaran, ketahanan emosi, dan profesionalitas tinggi. Namun, dukungan komunitas PMI yang aktif dengan kegiatan positif, serta support penuh dari orang tua yang menjaga anak-anaknya di Indonesia, menjadi fondasi kuat yang membuatnya mampu fokus bekerja dan berkembang.

Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa hidupnya akan membawanya pindah ke Eropa. Keputusan hijrah ke Swedia dilandasi kepercayaan pada pasangan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Proses pengurusan visa ikatan keluarga memakan waktu sekitar satu tahun, yakni masa tunggu yang cukup panjang dan penuh ketidakpastian.

Setibanya di Swedia, Sari menghadapi culture shock terbesar pada cuaca ekstrem empat musim, terutama musim dingin yang sangat berbeda dari iklim tropis Asia Tenggara. Tantangan berikutnya adalah bahasa Swedia, yang menjadi kunci penting integrasi sosial. Meski masyarakat Swedia fasih berbahasa Inggris, kemampuan bahasa lokal tetap dibutuhkan untuk benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, setelah 16 bulan menetap di Swedia, Sari menjalani kehidupan baru dengan bekerja paruh waktu di restoran sebagai waitress dan kasir, sembari mengikuti kelas bahasa Swedia secara daring sebagai persiapan mengikuti sekolah bahasa formal.

Ia menekankan bahwa di Swedia, kesetaraan gender sangat dijunjung tinggi, di mana perempuan didorong untuk mandiri dan berkontribusi melalui pekerjaan, termasuk dalam sistem pajak dan jaminan sosial yang mendukung kesejahteraan jangka panjang seperti dana pensiun.

Dalam refleksinya, Sari mengakui bahwa integrasi sosial di Swedia kini semakin menantang. Ia menyoroti adanya pergeseran sosial yang membuat pendatang harus lebih mandiri dan proaktif dalam belajar bahasa serta memahami budaya lokal.

Tantangan pengangguran dan kesenjangan sosial di kalangan migran turut menjadi isu yang memengaruhi proses integrasi. Meski demikian, dukungan pasangan dan komunikasi dengan komunitas Indonesia melalui grup daring menjadi penguat dalam proses adaptasinya.

Menutup perbincangan, Sari berbagi pesan mendalam bagi para PMI yang tengah membangun masa depan di luar negeri. Ia mengingatkan agar perjuangan tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai proses pembelajaran, seperti layaknya sekolah kehidupan. Mungkin suatu saat akan mencapai titik kelulusan.

Sari mendorong PMI untuk mempersiapkan mental, memahami budaya negara tujuan, dan menguasai bahasa sebelum memutuskan pindah, terutama dalam konteks pernikahan lintas negara. “Buatlah uang bekerja untuk kalian, bukan kalian yang terus bekerja untuk uang,” pesannya. Ia seperti menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan visi jangka panjang.

Cerita Sari Wijayanti menjadi potret transformasi identitas seorang PMI, dari pekerja domestik di Asia Tenggara hingga perempuan Indonesia yang tengah membangun babak baru kehidupan di Eropa. Episode ini tidak hanya menghadirkan cerita migrasi, tetapi juga refleksi tentang keberanian mengambil keputusan, adaptasi lintas budaya, dan makna perjuangan dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(WARGA MENULIS) Tidak untuk Pacaran

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Dan hari itu tiba. Ica terlebih dahulu kirim SMS kepada Rachman bahwa hubungan mereka telah berakhir. Dengan berat hati Rachman juga menyetujuinya. Rachman juga sempat menelepon Ica dan menyanyikan dua buah lagu yaitu “Aku Memilih Setia” dari Fatin dan “Don’t You Remember” dari Adele. Dan begitu sebaliknya, Ica juga menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Pergilah Kasih” dari d’Masiv. Mereka saling berjanji untuk tidak pacaran sebelum cita-cita dan mimpi mereka tercapai.

Ditulis oleh Reca Monica di Singapura.

(WARGA MENULIS) Tak Sejajar Lurus

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Di sanalah luka pertama lahir. Malamnya, meja makan terasa seperti ruang sidang.

“Kalau memang ambil, bilang saja,” kata Cece tanpa menatap. Sendok di tangan Sari berhenti.

“Saya nggak ambil Ce, tidak tahu saya!”

Remuk hati Sari, menahan agar air mata tak jatuh, dan segera dia menyelesaikan makan nya. Tapi serasa semua sesak tak bisa ditelan. Koko ikut bicara, suaranya hati-hati. 

“Bukan nuduh. Cuma memastikan.”

Ditulis oleh putri leo di Singapura.

(WARGA MENULIS) Jendela Usang

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“Dasar kamu wanita tak tahu diri! Sudah berapa kali saya mengingatkan, jangan pernah gunakan kamar mandi itu! Gunakan saja kamar mandi belakang untuk pembantu! Kamu itu benar-benar sampah, datang ke rumah orang hanya untuk membuat masalah dan tidak tahu malu sama sekali. Dasar orang kampung yang tidak tahu sopan santun!” 

Kata-kata yang menusuk seperti jarum menyelinap ke dalam hati Asih. Ia merasakan betapa rendah dirinya diperlakukan, padahal seluruh usaha yang dia lakukan hanya untuk mencari harapan hidup dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga di kampung halaman yang jauh.

Ditulis oleh Dewi Lubis di Singapura.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia dalam Literasi Global

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional, Ruanita Indonesia kembali (@ruanita.indonesia) mengadakan diskusi IG Live dengan tema besar: “Peran Perempuan dalam Perkembangan Literasi Global”.

Acara diskusi bulanan tersebut dipandu oleh tim Ruanita, Zukhrufi Syasdawita, acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Alda Trisda, seorang penulis buku anak seri Niko, saat ini menetap di Belgia. Selanjutnya adalah Anna Puspaningtyas – Inisiator aplikasi literasi digital Lentera, kini berbasis di Singapura.

Alda bercerita bahwa keinginannya menulis buku anak sudah ada sejak lama, terinspirasi dari minimnya koleksi buku anak di Indonesia pada awal 2000-an. Melalui berbagai proses, mulai dari mengikuti workshop hingga mengirimkan naskah ke penerbit Canisius, akhirnya lahirlah seri Niko, yang terinspirasi dari anaknya sendiri.

Menurut Alda, menulis buku anak bukan perkara mudah. Ia harus mempertimbangkan tingkat pemahaman, ilustrasi, serta pesan yang tidak menggurui. Ia menekankan pentingnya variasi buku anak dengan jumlah kata yang bertahap, agar anak-anak terbiasa membaca sesuai perkembangan usianya.

Alda juga menyoroti kebutuhan buku bertema neurodiversitas, misalnya tentang autisme, yang lebih inklusif, tidak sekadar menempelkan label atau stereotip. Baginya, literasi anak harus mampu membuka ruang penerimaan dan empati.

Berbeda dengan Alda, Anna berangkat dari keresahan pribadinya selama pandemi. Saat tinggal di Meksiko, ia kesulitan menemukan bacaan fiksi Indonesia secara digital. Dari situ lahirlah ide membuat aplikasi Lentera: platform literasi berbasis digital yang memungkinkan pembaca mengakses buku secara gratis, bahkan tanpa internet (mode offline).

Bagi penulis, Lentera memberikan kesempatan self-publishing dengan sistem royalti yang adil. Anna berharap aplikasi ini bisa menjadi solusi pemerataan akses literasi di daerah-daerah yang minim toko buku maupun distribusi bacaan.

Menariknya, Lentera juga menghadirkan tim editor yang siap memberi masukan kepada para penulis muda. Alih-alih membiarkan karya ditolak mentah-mentah, penulis diberi feedback agar terus berkembang.

Kedua narasumber sepakat bahwa perempuan memegang peranan penting dalam ekosistem literasi. Dari rumah tangga hingga komunitas, ibu atau perempuan seringkali menjadi role model bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

Alda menekankan perlunya komunitas literasi, baik berupa perpustakaan kecil di desa maupun aplikasi digital—agar anak-anak memiliki akses bacaan yang beragam. Sementara Anna menyoroti tren generasi muda yang kini lebih banyak menulis di platform digital. Menurutnya, justru ini peluang besar: mereka sudah berani berkarya, tinggal bagaimana dibimbing agar kualitas tulisan meningkat.

Diskusi ini membuka mata kita bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga akses, keberagaman, dan inklusivitas. Perempuan, dengan berbagai peran yang dijalankan, menjadi motor penting dalam membangun generasi yang kreatif dan berdaya.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi literasi. Karena kami percaya, setiap buku, setiap tulisan, dan setiap cerita punya kuasa untuk mengubah dunia.

Simak selengkapnya melalui kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami: