Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Kawin campur ini ternyata bukan soal menyatukan dua paspor, Bu. Ini soal bagaimana aku harus tetap menjadi ‘Indonesia’ di saat tubuhku sendiri mulai mengkhianatiku. Kulitku meratap, ia minta air, ia minta minyak, ia minta kepastian bahwa aku masih seorang perempuan meski rahimku sebentar lagi sunyi. Ibu, gema suaramu selalu ada di antara heningnya salju Ankara. Engkau pernah bilang, ‘Perempuan itu seperti tanah, makin kering makin butuh dipupuk kasih sayang.’ Sekarang aku mengerti kenapa aku terus mengoleskan minyak ini berkali-kali. Aku bukan sedang mengobati kulit, Bu. Aku sedang memupuk rindu supaya aku tidak hancur menjadi debu di negeri orang.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Beruntung Hande punya orang tua yang selalu mendukungnya. Undangan resepsi pernikahannya sudah disebar, besok resepsi akan dilaksanakan. Tapi, siapa yang menyangka akan kejadian seperti ini. Orang tua Hande mendukungnya untuk bercerai. Tidak memaksanya untuk melanjutkan pernikahan yang tidak sehat ini. Tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari, jika mereka tetap menikah.
Halo, sahabat Ruanita! Apa kabar? Senang sekali bisa menyapa kamu lagi dari Turki, negara yang selalu memikat dengan pesona budaya dan sejarahnya. Pada tulisan terakhir, saya sempat berbagi tentang pengalaman mistis yang saya alami di sini. Nah, kali ini, saya ingin mengajakmu berjalan-jalan menyusuri dunia mitos dan kepercayaan magis masyarakat Turki. Ada banyak hal unik yang saya temui, mulai dari benda-benda jimat, ramalan kopi, hingga mitos tentang ibu hamil dan bayi.
Sedikit cerita tentang diri saya. Saya lahir dan besar di tanah Sunda, tepatnya di Bogor. Di Indonesia, saya sudah akrab dengan mitos sejak kecil. Misalnya, orang tua dulu sering bilang, “Kalau menyapu lantai jangan setengah-setengah, nanti dapat suami yang jorok atau brewokan,” atau “Jangan duduk di atas meja, nanti banyak hutang.”
Hal-hal semacam ini terasa biasa saja bagi saya. Ketika saya pindah ke Turki, saya menemukan dimensi baru dari dunia mitos dan kepercayaan. Ada rasa penasaran sekaligus kagum, karena setiap budaya punya cara unik dalam memandang dunia gaib dan hal-hal yang tidak terlihat.
Sudah hampir lima tahun saya tinggal di Turki, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Lüleburgaz. Letaknya tidak terlalu jauh dari perbatasan dengan Bulgaria. Awalnya, tentu ada rasa canggung. Saya tinggal di kompleks yang sama dengan kakak ipar, sementara rumah mertua hanya berjarak sekitar 15 km dari tempat kami.
Untuk beradaptasi, saya memutuskan ikut kursus bahasa Turki. Dari sana, saya mulai punya teman-teman lokal yang kemudian mengenalkan saya pada kebudayaan, tradisi, dan mitos-mitos khas negeri ini. Ada banyak kejutan budaya yang membuat saya berpikir, “Oh, ternyata di sini juga ada mitos yang mirip dengan Indonesia!”
Pengalaman pertama saya yang cukup membekas terjadi di sebuah toko roti. Waktu itu, saya hanya ingin memutar plastik kantong roti agar roti di dalamnya tidak keras terkena angin. Eh, ternyata, suami kakak ipar melihatnya dan langsung menegur dengan nada serius. Katanya, saya “memainkan” roti, dan itu dianggap dosa.
Di Turki, roti bukan sekadar makanan, melainkan simbol keberkahan. Roti harus dihormati, tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi sampai terinjak. Bahkan ada cerita bahwa roti yang jatuh ke lantai harus segera diambil, dibersihkan, dan dicium sebagai tanda penghormatan. Saya sempat kaget, karena di Indonesia kita jarang mendengar mitos tentang roti. Pengalaman ini membuat saya semakin menghargai roti setiap kali menyentuhnya.
Di Turki, nazar boncuğu atau jimat mata biru adalah benda yang sangat populer. Bentuknya mirip mata berwarna biru yang dipercaya mampu menangkal energi jahat dan melindungi pemiliknya dari bala. Saya sering melihat jimat ini tergantung di pintu rumah, dipasang di mobil, atau dijadikan perhiasan.
Kakak ipar saya termasuk orang yang sangat percaya pada kekuatan jimat ini. Saat anaknya sakit, dia menempelkan peniti bermata biru pada baju anaknya sebagai “perlindungan.” Walaupun anaknya sembuh setelah minum obat dari dokter, kakak ipar tetap yakin jimat ini punya peran.
Selain mata biru, ada juga kalung dan gelang dari batu alam. Kakak ipar saya membelikan perhiasan batu untuk anak-anaknya, dengan keyakinan bahwa batu tersebut bisa membawa energi positif, membuat anak lebih rajin belajar, dan disayang guru. Uniknya, kalung dan gelang ini tidak bisa langsung dipakai. Harus dikubur selama 10 hari di halaman rumah sebelum digunakan. Rasanya seperti ritual yang penuh makna, sekaligus magis.
Salah satu pengalaman paling seru adalah saat pertama kali saya diramal dengan kopi Turki. Bagi orang Turki, ampas kopi bisa “membisikkan” masa depan. Caranya sederhana: setelah kopi diminum, cangkir kecilnya dibalik ke tatakan, diputar tiga kali ke kiri, lalu dibiarkan sebentar. Ketika cangkir diangkat, pola ampas kopi di dalamnya dibaca sebagai ramalan.
Saya masih ingat suasananya waktu itu. Kami duduk di ruang tamu yang hangat, ditemani semerbak aroma kopi yang kental. Seorang nenek mulai mengangkat cangkir saya dengan pelan, memandangnya seolah membaca sebuah peta rahasia. “Kamu akan mendapat kabar dari orang jauh,” katanya dengan nada yakin. Beberapa hari kemudian, memang ada satu keluarga Indonesia yang datang berkunjung ke rumah!
Ramalan kopi bukan hanya sekadar hiburan. Dalam budaya Turki, ritual ini juga jadi cara untuk mempererat hubungan sosial. Seringkali, sesi meramal diakhiri dengan tawa, cerita masa lalu, dan harapan-harapan baru. Bagi saya, ada sesuatu yang magis saat seseorang membaca ampas kopi dan menghubungkannya dengan kisah hidup kita.
Cerita lain datang dari teman saya yang juga orang Indonesia. Saat hamil, dia pernah menyembunyikan kue di kantong celana karena kuenya tidak cukup untuk tamu yang datang. Ibu mertua menegurnya dengan serius. Katanya, itu bisa membuat bayi lahir dengan tanda lahir di tempat yang sama.
Awalnya, teman saya menganggap itu takhayul. Ternyata, setelah melahirkan, bayinya memang punya tanda lahir di paha kiri, sebesar kue yang disembunyikan!
Selain itu, ada kepercayaan bahwa foto bayi di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak ditampilkan jelas di media sosial. Orang percaya bahwa wajah bayi perlu “dilindungi” dari energi negatif. Hal ini mirip dengan kepercayaan di beberapa daerah di Indonesia.
Di kota kecil seperti Lüleburgaz, jimat dan ramalan masih jadi bagian dari keseharian beberapa orang. Ada yang menggantung bawang putih dan cabai kering di rumah untuk mengusir jin. Ada juga yang menulis ayat suci di kertas lalu menyimpannya di dompet agar rezeki lancar.
Saya pernah melihat langsung tetangga yang sangat percaya pada ramalan. Mereka mengundang peramal kopi untuk acara keluarga, seperti ulang tahun atau syukuran. Di sana, satu per satu tamu diminta untuk menunjukkan cangkirnya. Lucunya, suasana jadi penuh tawa ketika ramalan “unik” muncul, seperti prediksi jodoh atau rezeki mendadak.
Walaupun suami saya dan keluarganya lebih rasional, mereka tidak pernah mengejek atau merendahkan orang yang percaya pada hal-hal ini. Lingkungan pertemanan saya pun begitu. Ada yang percaya, ada yang skeptis, tapi semua saling menghargai. Menurut saya, sikap toleransi inilah yang membuat budaya Turki terasa hangat dan inklusif.
Salah satu tradisi yang saya anggap menarik adalah malam Kına. Ini adalah perayaan khusus calon pengantin perempuan sebelum menikah. Ia akan mengenakan gaun merah, dihias dengan emas, dan tangannya digambar dengan tinta henna. Malam itu, para perempuan seperti ibu, calon mertua, dan teman-teman dekat—akan menari bersama mengelilingi pengantin.
Saya pernah menghadiri malam Kına dan merasa seperti melihat adegan dari film sejarah. Lampu-lampu redup berpadu dengan musik tradisional yang menggema, menciptakan suasana haru sekaligus sakral. Ada momen ketika calon pengantin menangis, diiringi nyanyian lembut dari para perempuan yang hadir. Rasanya, tradisi ini bukan hanya tentang pesta, tapi juga doa dan restu untuk memulai hidup baru.
Bagaimana dengan anak-anak muda Turki? Apakah mereka masih percaya mitos? Jawabannya beragam. Beberapa teman muda saya sangat skeptis dan menganggap mitos hanyalah warisan masa lalu. Namun, ada juga yang percaya, bahkan bisa meramal dengan kopi atau tarot.
Di kota besar seperti Istanbul, generasi muda cenderung lebih rasional. Namun di kota kecil seperti Lüleburgaz, mitos masih hidup sebagai bagian dari identitas lokal. Hal ini mirip dengan Indonesia, di mana masyarakat kota besar mulai melupakan mitos, sementara daerah kecil masih melestarikannya.
Saya pernah mengalami momen unik dengan teman muda Turki. Saat kami sedang memasak bersama, saya hendak memberikan pisau langsung dari tangan saya. Dia tiba-tiba menghentikan saya, “Karin, letakkan saja pisau itu. Jangan diberikan langsung, nanti kita bertengkar.” Saya tersenyum kecil, karena mitos ini mengingatkan saya pada larangan-larangan di kampung halaman.
Saya pribadi tidak terlalu percaya pada mitos, tapi saya menghormati tradisi dan kepercayaan orang lain. Bagi saya, mitos adalah bagian dari kekayaan budaya.
Pengalaman paling mengesankan tentu saja saat diramal dengan kopi Turki. Ramalan itu menyentuh sisi terdalam hidup saya. Teman yang meramal bahkan menyebut tentang ayah saya yang sudah tiada, padahal saya tidak pernah menceritakan hal itu. Rasanya campur aduk—antara terharu, heran, dan percaya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tak kasat mata.
Saya jadi belajar bahwa kepercayaan magis seringkali hadir sebagai cara manusia mencari pegangan, terutama di saat mereka merasa tak berdaya atau butuh jawaban.
Ternyata, ada beberapa mitos di Turki yang mirip dengan budaya kita. Misalnya, kuping panas atau berdenging pertanda ada yang membicarakan kita. Atau tangan gatal sebagai tanda akan mendapat uang. Ada juga kepercayaan bahwa makanan sisa pengajian membawa berkah jika dimakan.
Hal-hal semacam ini membuat saya merasa ada benang merah antara budaya Indonesia dan Turki. Mungkin karena keduanya sama-sama punya tradisi lisan yang kuat, di mana cerita diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari semua kisah ini, saya belajar bahwa mitos dan magis bukan hanya soal benar atau salah. Ini adalah cerita yang mengikat manusia dengan sejarah, keluarga, dan identitasnya.
Jika ada satu hal dari budaya mistis Turki yang ingin saya bagikan kepada sahabat Ruanita, itu adalah ramalan kopi Turki. Percaya atau tidak, ritual sederhana ini mampu membuka percakapan, menyatukan orang, bahkan memberi kita semacam harapan tentang masa depan.
Terima kasih sudah membaca cerita saya kali ini. Semoga kisah ini bisa menjadi jendela kecil untuk melihat keajaiban budaya Turki. Jangan ragu untuk berbagi pendapat atau cerita serupa di kolom komentar ya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!
Penulis: Karin, relawan Ruanita di Turki. Bisa dihubungi melalui Instagram: @noviakarina19.
Dalam episode spesial RUMPITA kali ini, Ruanita Indonesia mengajak kamu mengenal lebih dekat sosok Muhammad Shahinshah Kafiul Khuluq, atau yang akrab disapa Kafi, mahasiswa Indonesia yang kini tengah menempuh pendidikan di Tiongkok setelah sebelumnya pernah belajar di Turki.
Bersama Eci dan Anna, yang tinggal di Jerman, perbincangan Podcaster RUMPITA dengan Kafi mengalir ringan namun sarat makna: tentang pendidikan lintas negara, tantangan bahasa dan budaya, hingga impian besar untuk berkontribusi kembali ke tanah air.
Perjalanan akademik Kafi bukan kisah instan. Ia tumbuh dan belajar di pesantren, yang menurutnya memberikan bekal penting berupa kedisiplinan, etika, dan nilai tanggung jawab. Dari lingkungan yang kental dengan nilai-nilai tradisional, ia melangkah keluar untuk mengecap pengalaman global.
Kini, ia menempuh studi di jurusan International Economics and Trade di Nanjing University of Information Science and Technology, Tiongkok. Sebelumnya, ia juga sempat mengenyam pendidikan di Turki.
“Belajar di Tiongkok memberi saya akses langsung pada praktik perdagangan global dan teknologi,” ujar Kafi. “Sedangkan di Turki, saya lebih banyak dibekali fondasi teori dan suasana yang hangat dari masyarakatnya.”
Banyak orang menganggap bahasa Mandarin sulit, namun tidak bagi Kafi. “Saya justru merasa bahasa Cina lebih mudah daripada bahasa Turki,” ujarnya sambil tertawa. Menurutnya, meski Mandarin menggunakan karakter, struktur kalimatnya lebih sederhana. “Kuncinya hanya dua: hafalan kosa kata dan menulis.”
Sistem perkuliahan di Tiongkok juga mendukung pelajar internasional—kelas disampaikan dalam bahasa Inggris, meski tetap ada kelas bahasa Cina untuk menunjang interaksi sehari-hari.
Dalam menghadapi perbedaan budaya, Kafi juga berbagi kisah lucu dan reflektif. Salah satunya, saat ia tidak menghabiskan teh dan roti yang disuguhkan oleh tuan rumah Turki—hal yang ternyata dianggap kurang sopan di sana. “Ternyata cukup dicicipi saja untuk menghormati,” kenangnya.
Menurut Kafi, gaya pendidikan di Turki dan Tiongkok sangat berbeda. Di Turki, fokus lebih pada teori dan pemahaman konseptual. Sementara di Tiongkok, pendekatannya praktis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi global.
“Kedua pengalaman ini sangat melengkapi. Saya jadi bisa melihat ekonomi dari dua sudut yang berbeda—yang analitis dan yang aplikatif,” jelasnya.
Pengalaman lintas budaya ini memperkaya perspektifnya, terutama dalam memahami perdagangan internasional secara lebih kontekstual dan sensitif terhadap perbedaan.
Tidak lengkap rasanya membahas kehidupan di luar negeri tanpa menyentuh soal makanan. Kafi mengaku menyukai berbagai hidangan dari kedua negara. Dari zurna kebap yang panjangnya bisa dibagi tiga orang di Turki, hingga baklava yang super manis dan cocok disandingkan dengan teh pahit khas sana.
Di Tiongkok, ia menemukan banyak cita rasa yang lebih dekat dengan lidah Asia Tenggara. Meski begitu, ia menyarankan untuk tetap berhati-hati karena beberapa makanan sangat pedas atau penuh minyak cabai.
“Di Turki, saya belajar membangun jaringan sosial dalam masyarakat multikultural. Di Tiongkok, saya belajar beradaptasi cepat dan memanfaatkan teknologi,” ujar Kafi. Kedua pelajaran ini menurutnya sangat penting dalam membentuk pribadi yang fleksibel, berwawasan global, dan tahan banting.
Ia juga terinspirasi untuk terus menimba ilmu, dengan rencana melanjutkan studi S2 di Kanada di bidang bisnis dan ekonomi. Tapi impian utamanya tidak berhenti di sana.
Kafi berasal dari sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur. Ia punya cita-cita besar: mendirikan perusahaan ekspor-impor yang bisa memberdayakan masyarakat lokal, khususnya para petani.
“Saya ingin masyarakat desa tidak hanya menjual hasil panen mentah, tapi bisa mengolahnya agar nilai jualnya lebih tinggi,” katanya. Ia percaya bahwa Indonesia kaya akan sumber daya—yang dibutuhkan adalah sistem dan pengetahuan agar kekayaan itu bisa dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Bagi para pendengar RUMPITA yang bermimpi untuk studi ke luar negeri, Kafi punya pesan sederhana namun kuat: “Beranilah mencoba dan siapkan diri sebaik mungkin.”
Ia menekankan pentingnya riset, kepercayaan diri, dan ketekunan. “Persaingan itu ada, tapi peluang juga ada. Jangan takut memulai dari titik nol,” katanya.
Simak selengkapnya di saluran PODCAST RUMPITA dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:
Halo, Sahabat Ruanita! Saya adalah Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ke-2, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama, saya membagikan pengalaman tentang “Kecanduan Begosip”. Sekarang, saya akan membagikan cerita tentang “Meninggalkan pekerjaan demi Mengejar Passion”. Sebelumnya mau sedikit bercerita, bahwa saya pernah gagal melangsungkan pernikahan sebanyak 2 kali yakni, di tahun 2016 – 2017. Setelah itu, saya benar-benar fokus untuk bekerja, sampai usia saya sudah memasuki hampir 30 tahun. Namun, saya belum juga memiliki pasangan hidup. Hal ini membuat ibu dan keluarga besar saya cemas. Mulai saat itu, saya berpikir mencari pasangan untuk menjalin hubungan yang benar-benar serius.
Pada tahun 2019, Tuhan mempertemukan saya dengan suami saya sekarang. Saat itu, saya dan suami bertemu dan kami berdiskusi panjang, yang membuat kami berdua sepakat untuk berumah tangga. Umur saya waktu itu adalah 29 tahun dan suami saya berumur 31 tahun. Suami berjanji saat menikah nanti, akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan saya. Oleh karena itu, saya siap untuk menikah, tetapi dengan syarat saya tetap ingin melakukan aktivitas/bekerja saat saya menikah nanti. Suamipun menyetujuinya selama aktivitas tersebut membuat saya senang dan berkembang.
Di benak saya, saya ingin menjadi seorang ‘entrepreneur’ setelah menikah. Mengingat salah satu hobi saya adalah traveling dan sebagian besar orang Indonesia suka dengan negara Turki, maka saya melihat peluang usaha travel agent di Turki. Sebagai awalan, saya jadi pemandu wisata dulu deh. Sayangnya, kenyataan tidak semudah seperti yang saya bayangkan, mulai dari kendala bahasa, biaya hingga minimnya pengetahuan saya tentang aturan pemerintah tentang pariwisata di Turki. Oh ya, bahasa Turki itu penting, karena tidak banyak orang Turki bisa berbahasa Inggris.
Pada tahun ke-2 pernikahan, saya pernah mendapatkan tawaran dari travel agent di Bali, milik salah satu teman saya. Beliau meminta saya untuk memandu wisata di Turki, selama kurang lebih 5 hari, dengan wisatawan adalah sekitar dua puluhan anak International School, di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Saya pun menyetujuinya, kemudian saya pun membuat itinerary, mengecek restoran, serta hotelnya. Teman saya tersebut meminta saya untuk memastikan hotel harus punya kolam renang. Saya dan suami mencoba menghubungi beberapa travel agent yang bisa bekerja sama dengan kami, sesuai dengan Itenary yang kami kirimkan.
Namun, travel agent yang kami hubungi hampir semua tidak bisa mengabulkan permintaan yang kami buat. Mereka hanya bertanggung jawab untuk makan pagi di hotel, makan siang, dan makan malam. Travel Agent hanya mengantarkan saja sesuai dengan permintaan restoran yang kami minta. Harga yang diberikan terbilang cukup mahal daripada travel agent yang langsung dari Indonesia. Sampai sekarang, kendala terbesar saya adalah ketidaklancaran saya berbahasa Turki, sehingga saya hanya bisa mengandalkan suami untuk berkomunikasi dan negosiasi.
Travel Agent di Turki yang kami hubungi, mereka tidak menerima uang muka. Apabila kami setuju dengan penawaran yang diberikan, maka kami harus melunasi langsung seluruh biayanya. Saya telah berdiskusi dengan teman saya itu, apakah saya berkesempatan untuk memandu wisata kliennya di Turki. Ternyata ada aturan untuk memandu wisata di Turki, harus tetap dipandu oleh pemandu wisata bersertifikasi dari pemerintah Turki, menguasai berbagai bahasa, dan harus ada perusahan travel agent yang legal. Jadi, kita tidak boleh sembarangan memandu wisata walaupun kita mengetahui tempat wisata yang bagus dan mengerti sejarahnya, kecuali memandu wisata untuk keluarga sendiri yang jumlahnya di bawah 15 orang.
Karena keterbatasan pengetahuan saya dan suami tentang aturan pariwisata di Turki, dengan berat hati saya batalkan tawaran teman saya tersebut. Saya hanya memberi itinerary sebagai bahan informasi tempat-tempat wisata yang bagus di Turki, kemudian saya merekomendasikan teman saya itu, untuk menghubungi travel agent kerabat tante saya yang memang sudah expert di bidang perjalanan luar negeri.
Saat itu, perasaan saya sedikit kecewa, karena saya merasa seperti tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Tidak seperti saat saya di Indonesia, di mana saya bisa bekerja sambil sesekali mengambil sambilan sebagai pemandu wisata, khususnya untuk pimpinan-pimpinan perusahaan. Perbedaannya di Indonesia adalah saya bisa berkomunikasi secara detil dengan travel agent, dan mereka lebih fleksibel serta responsif. Kita bisa request Itenary, restoran, dan hotel. Mereka yang kemudian mengaturnya sesuai kebutuhan kita. Berbeda dengan travel agent di Turki, mereka yang menentukan semuanya. Hal ini merupakan pelajaran dan tantangan bagi kami ke depannya.
Hal lain yang saya coba lakukan adalah memasak makanan dan menjualnya secara daring. Saya suka memasak sambal, lauk pauk Indonesia, seperti: nasi uduk, rendang, ayam kecap, tempe orek, sambal goreng kentang, soto, dll. Saya juga membuat aneka cemilan khas Indonesia, seperti: kue cubit, bakwan, risoles, siomay, dimsum, dll. Saya juga suka ‘Baking’ cake and cookies. Saya memperkenalkan makanan Indonesia ke keluarga dan teman- teman Turki. Respon yang paling diterima dan diminati adalah saat saya membuat cake, nastar, dan risoles ragout isi ayam.
Saya juga sambil iseng-iseng menawarkan mereka apabila mau pesan, saya bisa membuatkannya. Seandainya saya bisa juga menjangkau lebih banyak lagi mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Turki. Sayangnya, lokasi rumah saya sulit dijangkau. Mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Turki mengatakan mereka memiliki grup WhatsApp, yang mana salah satu di antara mereka berjualan seperti mie ayam, ayam geprek, dan siomay.
Saya juga pernah mencoba membuat tempe sendiri. Membuat tempe itu begitu mudah, tetapi proses fermentasinya susah bagi saya. Suhunya harus benar-benar sesuai dan tempatnya pun harus bersih. Bila tidak sesuai atau sedikit lalai, tempe bisa terkontaminasi atau rusak seluruhnya. Setelah berhasil praktik tempe, saya kemudian menjualnya ke teman saya yang tinggal berbeda kota. Ternyata saat pengirimannya sampai di lokasi tujuan, tempe yang saya buat sudah “berlendir” di bagian atasnya. Bisa dikatakan, saya gagal untuk pengiriman tempe.
Pada bulan Januari 2024, saya kembali ke Indonesia untuk berlibur selama tiga bulan. Saya bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat saya. Mereka banyak memberikan saran dan nasehat baik untuk saya, terutama sahabat saya yang memang pekerjaannya sebagai ‘entrepreneur’. Dia bercerita tentang pentingnya membangun ‘Personal Branding’ di awal merintis usaha.
Itu bukan hal yang mudah kecuali memiliki ‘Privilege’. Sahabat saya tersebut bercerita, entah sudah berapa banyak kerugian yang dialaminya untuk merintis usahanya. Walaupun saya belum berhasil mewujudkan goals saya saat ini, saya sadar mengejar ‘passion’ tanpa Privilege itu perlu usaha lebih keras lagi. Saya tetap berjuang mencari jalan saya sendiri, berdoa, menikmati setiap prosesnya, dan sadar diri. Artinya, saya sadar dengan banyaknya kekurangan yang saya miliki, maka saya harus mencari hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan harus dilakukan untuk pengembangan diri saya.
Menurut saya, saat saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion saya, itu bukan berarti saya gegabah. Maksudnya, orang (mungkin) berpikir saya gegabah karena saya langsung mau menikah dengan pria Turki atau saya (mungkin) dianggap gegabah karena menikah atas desakan orang tua yang khawatir akan usia saya.
Seperti yang dikatakan di awal, ketika saya dan suami sepakat memutuskan untuk menikah, kami sepakat bahwa suami sepenuhnya bertanggung jawab untuk financial dan saya bertanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga. Kami hidup cukup meskipun, kami tidak hidup bergelimangan harta. Kami tetap memiliki rencana dan tabungan untuk masa depan.
Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada RUANITA yang telah memberikan saya kesempatan untuk menulis pengalaman-pengalaman saya dan sahabat-sahabat yang membaca ini. Semoga tulisan saya bermanfaat untuk kalian. Kita harus memberi semangat buat siapa saja yang di luar sana dan masih berjuang untuk mengejar ‘passion-nya’. Ayo, kita bisa! Ora et Labora.
Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa ikut serta berbagi cerita kehidupan saya di Turki. Saya akhirnya memberanikan diri menuliskan cerita pengalaman hidup bertema kesepian di negeri orang ini dengan harapan teman-teman yang ingin pindah ikut suami ke negeri yang baru dapat mengantisipasi perasaan seperti ini.
Perkenalkan nama saya Ika yang pindah ke negeri suami, Turki sejak 2020. Dahulu saat saya masih di Indonesia, saya bekerja sebagai Customer Service di perusahaan asuransi dan perbankan. Tentunya pekerjaan tersebut membuat saya bertemu dengan banyak orang tiap hari. Buat saya bertemu dengan orang baru, itu bukan perkara sulit untuk membangun komunikasi.
Dahulu saya tidak mengalami kesepian, dengan kesibukan bekerja dan kultur masyarakat Indonesia yang hangat. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kalau saya akan tinggal di negeri yang jauh dari tanah air dan jauh dari keluarga yang dicintai.
Setelah menikah dan menetap di Turki, saya belum menemukan pekerjaan yang pasti. Aktivitas saya sehari-hari seperti ibu rumah tangga umumnya. Saya bahagia bercampur sedih ketika saya berhasil menikah dengan pria pujaan saya dan sedih karena saya harus berpisah dengan keluarga di Indonesia.
Jauh dari keluarga dan ditinggal suami pergi kerja itu membuat saya semakin sedih dan merasa kesepian. Kesepian menjadikan saya lebih sensitif. Saya jadi mudah menangis apalagi bila saya rindu keluarga di Indonesia. Rindu juga bagaimana saya dulu begitu sibuk bertemu dengan banyak orang pada saat bekerja.
Setelah suami pergi kerja, saya biasanya mulai membuka laptop dan ber-google ria untuk mengusir kesepian dan kesedihan. Saya mencari film yang disukai seperti komedi misalnya untuk mengobati rasa sedih. Kadang saya mencari aneka resep masakan dan mencobanya di dapur rumah sendiri. Dengan adanya internet, saya juga banyak mencari tahu rempah-rempah yang kadang sulit ditemukan di Turki kemudian berusaha keras mencari alternatifnya sehingga mirip seperti di tanah air.
Menurut saya kesepian dan sendirian itu berbeda. Sendirian itu lebih pada eksistensi dirinya yang memilih tinggal tanpa orang lain. Bisa jadi sendirian tidak membuat dia kesepian seperti saya yang kadang sensitif dan menangis sesenggukan karena kesepian. Saya mengalami kesepian karena situasi yang membuat saya belum menemukan aktivitas pekerjaan seperti dulu di Indonesia.
Seseorang seperti saya bisa saja kesepian karena dia sedang berada di luar kebiasaan. Biasa sibuk, tiba-tiba saya lebih sering berdiam di rumah dan hanya mengurus rumah saja. Saya sempat menduga, apa yang saya alami adalah Culture Shock ketika saya tidak memahami situasi di tempat tinggal suami saya sebelumnya.
Mungkin saja saya belum menemukan skill atau aktivitas untuk mengisi waktu luang. Saya kadang ikutan acara yang diselenggarakan Kedubes Indonesia. Katanya, kita bisa saja takut terlibat dalam komunitas Indonesia di luar negeri karena takut terjebak pada relasi toksik dari teman-teman kita. Itu sebab saya memilih teman-teman yang tepat untuk bisa keluar bersama mereka, sekedar chit chat atau pergi ke kafe.
Selebihnya saya biasa mengusir kesepian dengan mencoba resep baru, menonton film atau bernyanyi. Bersyukur suami saya merupakan orang pengertian dan sabar. Jadi faktornya bukan hanya soal Culture Shock saja, tetapi juga kendala bahasa. Bagaimana mungkin saya bisa bekerja kalau saya belum bisa menguasai Bahasa Turki.
Jadi untuk Sahabat RUANITA yang ingin tinggal di negeri suami sebaiknya mempersiapkan mental juga agar bisa mengatasi perubahan situasi. Saya tahu itu tidak mudah. Intinya kita harus menyiapkan diri untuk menerima perubahan budaya, bahasa bahkan selera makanan juga. Soal kesepian, itu bisa terjadi di mana saja. Intinya kita yang paling tahu bagaimana melakukan hal-hal yang menjadi kesenangan kita.
Kalau dulu di Indonesia tidak punya waktu untuk hobi misalnya, sekarang saatnya kembangkan diri dengan belajar bahasa dan budaya baru. Satu pesan saya juga nih buat Sahabat RUANITA yang berada di mancanegara kalau kita perlu saling memberi support satu sama lain, bukan saling menjatuhkan. Sebagai sesama warga Indonesia di perantauan, kita bisa kok saling bertukar informasi atau cerita seperti yang dilakukan di RUANITA. Ini penting loh buat kita menambah wawasan dan keterampilan hidup selama tinggal di luar negeri.
Banyak juga loh teman-teman yang berada di luar negeri dan pindah ikut suami mulai merasakan kesenangan tersendiri. Jadi kesepian mungkin terjadi ketika kita belum menemukan aktivitas yang tepat saja. Kita bisa mengisi waktu lowong dengan hal-hal yang disukai seperti memasak, bernyanyi, menonton film, dll. Kalau saya saat ini, saya sedang bersemangat ikut kursus bahasa.
Kita juga bisa menyalurkan hobi yang selama ini belum terwujud di Indonesia. Bukan tidak mungkin loh, hobi kita itu bisa menghasilkan penghasilan. Semoga cerita saya ini bisa memberi inspirasi buat Sahabat RUANITA yang sedang bingung atau belum menemukan aktivitas yang tepat saat di negara baru. Jadi kalian itu bukan kesepian atau sendirian tetapi belum saja menemukan passion kalian. Semangat ya Besttieee!
Penulis: Ika Indra Söyler, tinggal di Turki sejak 2020 dan dapat dikontak via akun IG: ika_indra_isw