(KNOWLEDGE SHARING) Bagaimana Membangun Kesadaran Berisiko dalam Relasi?

Jakarta, 20 Juni 2026 – Ruanita Indonesia yang memfasilitasi grup profesi/akademisi/asosiasi orang Indonesia di mancanegara yang berlatarbelakang psikologi atau kesehatan mental hari ini menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing bertajuk “Relational Risk Awareness: Pengambilan Keputusan, Batasan, dan Keamanan dalam Relasi; Online, Offline, Lokal, maupun Jarak Jauh” secara daring dengan menghadirkan Family and Marriage Counselor, Leya Trajanoska, sebagai narasumber utama. Sebagai informasi, Leya lulusan S1 Psikologi dan profesi Psikolog penjurusan klinis Anak dan Remaja, Leya kemudian melanjutkan studi S2 Psikologi di Kanada dengan penjurusan Family and Marriage.

Kegiatan ini hadir sebagai respons terhadap semakin kompleksnya dinamika relasi interpersonal yang dihadapi orang Indonesia dewasa muda, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri. Relasi saat ini dapat dimulai melalui berbagai jalur, mulai dari lingkungan kerja, komunitas, keluarga, hingga platform digital dan hubungan jarak jauh lintas negara. Di balik peluang membangun hubungan yang bermakna, terdapat pula risiko manipulasi emosional, penipuan, hingga eksploitasi personal maupun finansial yang semakin sering terjadi.

Melalui pendekatan berbasis bukti yang mengintegrasikan psikologi klinis, neuroscience pengambilan keputusan, dan literatur tentang manipulasi interpersonal, kegiatan ini dirancang sebagai ruang psikoedukasi yang netral, inklusif, dan tidak menghakimi. Fokus utama kegiatan bukan pada bentuk relasi tertentu, melainkan pada keterampilan universal yang dibutuhkan untuk membangun hubungan secara sadar, aman, dan sehat.

Dalam sesi ini, peserta akan mempelajari bagaimana keterlibatan emosional memengaruhi proses pengambilan keputusan, mengenali pola manipulasi seperti love bombing, urgency pressure, dan inkonsistensi perilaku, hingga memahami berbagai bentuk penipuan relasional seperti romance scam, sextortion, dan investment fraud yang dapat terjadi dalam konteks online maupun offline. Sebelum dimulai, peserta diwajibkan untuk mengisi lembar elektronik sebagai assesment kebutuhan pemateri.

Selain itu, peserta juga akan mendapatkan kerangka praktis untuk menilai relasi sehat dan tidak sehat, memahami pentingnya batasan dalam hubungan interpersonal, serta strategi pengambilan keputusan yang lebih sadar dan aman. Kegiatan akan diselenggarakan secara daring dengan format psikoedukasi interaktif, studi kasus aplikatif, diskusi kelompok kecil, dan sesi tanya jawab terstruktur. Sasaran kegiatan adalah orang Indonesia dewasa berusia 23 tahun ke atas, termasuk profesional muda, pekerja, mahasiswa pascasarjana, dan masyarakat umum yang sedang berada pada tahap kehidupan di mana keputusan relasional jangka panjang menjadi relevan.

Menurut Anna Knöbl, panitia penyelenggara, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar yang aman dan reflektif bagi peserta untuk memahami dinamika relasi interpersonal secara lebih sadar di tengah perkembangan relasi modern yang semakin kompleks dan lintas konteks budaya maupun geografis.

“Relasi yang sehat tidak hanya dibangun atas dasar ketertarikan emosional, tetapi juga membutuhkan kesadaran, kemampuan mengenali risiko, serta keterampilan menetapkan batasan yang aman,” ujar Anna, selaku penyelenggara.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki kerangka berpikir yang lebih jernih untuk menilai pola dalam relasi, mengenali tanda manipulasi sejak dini, mengambil keputusan dengan lebih sadar, serta memperoleh pengetahuan aplikatif yang relevan untuk jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pelaksanaan dan pendaftaran, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi melalui kanal media sosial dan platform Ruanita Indonesia.

(CERITA SAHABAT) Perlakuan Buruk Keluarga Suami Tak Buatku Gentar di Negeri Orang

Keluarga ideal menurutku adalah ketika aku bisa menikah dengan pria yang berhasil memberi kebahagiaanku dan kedua anakku selanjutnya tanpa campur tangan pihak manapun. Setelah aku bercerai dengan suami pertamaku asal Indonesia, aku berkenalan dengan banyak pria warga negara asing lewat media sosial. 

Pencarianku berujung pada pria asal Turki yang bersedia menjadi Imam buatku. Dia mengatakan serius menjalani hubungan denganku setelah kami bertukar kontak nomor WhatsApp. Dua bulan kemudian aku mendapatkan hadiah seperti baju-baju dan sepatu setelah dia meminta alamatku di Indonesia.

Delapan bulan kemudian kami menikah siri di Indonesia setelah dia datang ke Indonesia dan berani meminangku di hadapan keluargaku. Aku pun bersedia menjadi istrinya. Setiap bulan dia mengirimkan nafkah untukku di Indonesia. Setahun kemudian, dia memintaku datang dan tinggal bersamanya di Turki.

Aku pun menyanggupi permintaannya untuk tinggal bersamanya, hanya saja kami tinggal bersama ibunya. Suamiku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Awalnya aku merasa tak betah karena sering cekcok dengan ibu mertua, tetapi suami tidak bisa berbuat apapun, apalagi suami masih kesulitan membiayai hidup kami kalau kami pindah rumah.

Ibu mertua sering melarangku melakukan ini dan itu. Aku tak boleh memasak makanan khas negeriku sendiri, alasannya membuat bau atau aku harus berhemat dengan makanan yang sebenarnya aku tak suka. Aku dilarang bekerja karena perempuan bekerja itu membuat aib bagi keyakinan keluarga mereka. Aku tak boleh keluar rumah, hanya di rumah saja.

Masalah dengan ibu mertua adalah hal biasa di Indonesia, tetapi bagaimana menantu akan tahan kalau aku sering dijelek-jelekkan di depan keluarga suami. Salahku memang karena aku tak mengerti Bahasa Turki. Kadang mereka berbisik seperti membicarakanku. Jujur aku pernah tidak tahan lagi dan kabur dari rumah.

Sejak aku berani menyatakan pendapatku kepada suamiku, aku putuskan untuk bekerja. Kebetulan aku mendapatkan penghasilan sendiri dengan menjaga toko. Dari pekerjaan ini, aku bertemu banyak orang Indonesia.

Aku merasa tidak bahagia dengan perlakuan keluarga suamiku. Pernah terjadi pertengkaran hebat antara aku dengan suamiku, ibu mertua malah menyuruh suamiku bercerai dariku. Ibu mertua yang aneh, kerap ikut campur dalam rumah tangga kami. Ibu mertua ingin tahu segala hal, termasuk berapa jumlah uang yang diberikan suami kepadaku. 

Tak hanya ibu mertuaku saja, saudara-saudara dari pihak suami juga mendukung perceraianku dengan suami. Aku tak khawatir bercerai karena aku telah berhasil mendesak suamiku mencatatkan pernikahanku di Turki juga. 

Pekerjaanku di toko membuatku berkenalan dengan banyak orang seperti bagaimana aku harus paham tradisi dan hukum perkawinan di Turki. Aku juga terus belajar Bahasa Turki agar aku mengerti apa yang mereka bicarakan tentangku.

Penulis: Mawar, tinggal di Turki.