(CERITA SAHABAT) Bulutangkis, Persahabatan, dan Keluarga Kedua di Dubai

Halo, sahabat Ruanita! Saya sudah hampir 14 tahun, tinggal di Dubai. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sejak pertama kali menjejakkan kaki di kota yang megah sekaligus ramah ini. Saya datang sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengikuti suami bekerja di luar negeri. 

Awalnya, kehidupan di tanah rantau tentu penuh penyesuaian. Namun, pelan-pelan saya belajar bahwa kunci untuk bertahan bukan hanya soal mengurus rumah atau keluarga, tetapi juga bagaimana saya bisa menemukan ruang untuk diri sendiri, tempat untuk berkembang, sehat, bahagia, sekaligus menjalin persahabatan.

Saya, Utari Giri, akhirnya menemukan ruang itu melalui bulutangkis. Sebuah olahraga yang sebelumnya tidak terlalu saya kenal, tetapi kini menjadi bagian penting dalam hidup saya. Lebih dari sekadar olahraga, bulutangkis telah membawa saya pada perjalanan yang penuh makna, membentuk komunitas yang kini saya sebut keluarga kedua: Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai.

Ceritanya sederhana. Dulu, di akhir pekan, kami sering bermain bulutangkis bersama keluarga. Para suami libur kerja, anak-anak ikut berlarian, sementara para istri mencoba ikut memukul kok sekadar untuk mengisi waktu. Lama-kelamaan, muncul ide dalam hati saya: kenapa tidak dibuat lebih rutin? Kenapa tidak ada wadah khusus bagi perempuan Indonesia di Dubai yang ingin bermain bulutangkis di luar akhir pekan?

Saya pun mengajak beberapa ibu untuk berlatih bersama. Ternyata sambutannya sangat positif. Banyak yang ingin ikut, bahkan ada yang baru pertama kali mencoba olahraga ini. Dari situlah, pada tanggal 26 Mei 2022, lahirlah Indonesian Ladies Badminton (ILB).

Sejak saat itu, bulutangkis bukan lagi sekadar kegiatan pengisi waktu luang, melainkan menjadi rutinitas yang saya dan teman-teman nantikan setiap minggu. Lucunya, saya sendiri baru benar-benar mengenal olahraga ini setelah ILB berdiri. Namun, entah kenapa, saya langsung jatuh cinta.

Sebelum ada ILB, kebersamaan perempuan Indonesia di Dubai sering terwujud dalam kegiatan arisan atau makan-makan. Menyenangkan, tentu saja, tetapi ada rasa yang kurang. Kami butuh aktivitas yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memberi manfaat bagi tubuh dan pikiran.

Bulutangkis ternyata menjawab semua itu. Olahraga ini relatif mudah dipelajari, cepat membakar kalori, dan tidak semahal olahraga lain yang membutuhkan perlengkapan khusus. Namun, lebih dari itu, bulutangkis membuat kami bergerak, tertawa, berteriak bersama di lapangan. Menurut saya, ini sebuah kombinasi yang luar biasa untuk melepas stres.

Pada awalnya, kami berlatih hanya sekali seminggu, setiap hari Kamis. Namun, semakin hari semakin banyak yang ketagihan. “Kok rasanya kurang kalau hanya seminggu sekali,” begitu komentar beberapa teman. Akhirnya, sejak dua tahun terakhir, jadwal bertambah menjadi dua kali seminggu: Selasa dan Kamis.

Tempat latihan pertama kami adalah Zabeel Sport District, tepat di seberang Dubai Mall. Tempat itu punya kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Saya sering menyebutnya sebagai “rumah pertama” ILB. Sayangnya, satu minggu sebelum ulang tahun ILB yang ketiga, tempat itu tutup. Kami sempat sedih, tetapi latihan harus jalan terus. Kini, kami berlatih di Danube Sport World, semacam “rumah baru” ILB yang tak kalah hangat.

ILB terbuka untuk semua perempuan Indonesia di Dubai. Tidak ada syarat khusus selain niat untuk sehat dan semangat untuk konsisten. Hingga kini, anggota aktif kami lebih dari 30 orang, semuanya perempuan dengan rentang usia antara 25 hingga 50 tahun lebih. Mayoritas ibu rumah tangga, tetapi ada juga yang bekerja, bahkan beberapa masih lajang.

Yang membuat saya bangga, meskipun latar belakang berbeda-beda, semangat kami sama: ingin sehat, ingin punya teman, dan ingin bahagia.

Bagi saya pribadi, bulutangkis punya makna yang lebih dalam daripada sekadar olahraga. Dari sini, saya belajar banyak hal: bagaimana bekerja sama dengan pasangan bermain di lapangan, bagaimana menahan ego, bagaimana berpikir cepat untuk mengembalikan kok agar lawan sulit menerima.

Setiap pertandingan, entah menang atau kalah, selalu ada pelajaran tentang sportifitas. Menang tidak boleh membuat sombong, kalah pun tidak boleh membuat putus asa. Pelajaran ini ternyata juga berguna dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bersosialisasi dengan teman-teman.

Namun, yang paling berharga adalah bagaimana ILB menjadi tempat untuk melepas penat. Saat rutinitas rumah tangga terasa melelahkan, bermain bulutangkis bersama teman-teman seperti mengisi ulang baterai. Tertawa bersama di lapangan adalah terapi yang tidak bisa digantikan.

ILB bagi saya dan teman-teman bukan sekadar komunitas, melainkan keluarga. Tiga tahun bersama, bertemu dua kali seminggu, sudah cukup untuk menumbuhkan ikatan yang dalam.

Tentu saja, tidak selalu mulus. Ada kalanya terjadi perbedaan pendapat atau ketegangan kecil. Namun, ketika kami ingat bahwa ILB adalah keluarga, semua bisa diredakan. Justru dari situlah kami belajar saling memahami.

Solidaritas kami juga teruji di luar lapangan. Ketika ada anggota yang sakit atau keluarganya berpulang, selalu ada perwakilan yang hadir untuk memberi dukungan. Kalau ada kesulitan, biasanya teman-teman cerita langsung ke saya. Kadang saya simpan, kadang saya bagikan ke grup agar kita bisa mencari solusi bersama.

Selain itu, kami punya kebiasaan kecil yang ternyata sangat berarti: setelah latihan, biasanya kami makan siang bersama di rumah makan Indonesia. Di sanalah muncul diskusi ringan tentang anak, keluarga, pertemanan, bahkan pekerjaan. Dari obrolan santai itu, sering muncul ide-ide baru yang memperkaya kami.

Dubai, menurut saya, adalah kota yang ramah perempuan. Jadi sebenarnya tidak ada tantangan besar untuk perempuan Indonesia tinggal di sini. Justru komunitas-komunitas seperti ILB membuat hidup semakin mudah.

Mungkin kendala yang ada hanya soal waktu. Sebagian besar anggota adalah ibu rumah tangga dengan rutinitas antar jemput anak sekolah. Itulah kenapa jam latihan kami dipilih pukul 10.00 hingga 12.00, agar tetap ada waktu menjemput anak pulang. Kadang saat musim ujian, anak-anak pulang lebih awal, sehingga beberapa teman harus rela absen.

Namun, dukungan keluarga sangat besar. Tidak pernah ada cerita suami yang melarang istrinya bermain bulutangkis. Malah banyak yang mendorong. Saya percaya, melihat istri sehat dan bahagia juga membuat suami dan anak-anak ikut senang.

Ada begitu banyak momen indah bersama ILB. Setiap tahun, kami punya agenda rutin: tukar kado di awal tahun, buka puasa bersama, halal bihalal, ulang tahun ILB, hingga perayaan hari kemerdekaan. Semua acara itu selalu penuh tawa dan meninggalkan kenangan manis.

Kami juga sering mengikuti turnamen. Dua kali kami bertanding persahabatan dengan komunitas ibu-ibu Indonesia di Abu Dhabi. Kami juga rutin ikut turnamen KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai setiap perayaan hari kemerdekaan. Puncaknya, pada Februari 2025, kami berangkat ke Muscat, Oman, untuk mengikuti Indonesian GCC Tournament. Itu adalah turnamen persahabatan antara orang Indonesia di Timur Tengah. Kami bangga sekali bisa mewakili tim perempuan dari Uni Emirat Arab.

Saya selalu berharap ILB bisa terus menjadi wadah yang menginspirasi perempuan Indonesia di Dubai untuk peduli kesehatan, bergerak, berolahraga, dan tentu saja, menjalin persahabatan.

Saya ingin semakin banyak perempuan bergabung, tetapi dengan niat yang tulus. “Jangan hanya untuk eksis,” begitu pesan saya. Datanglah karena memang ingin berlatih, ingin sehat, ingin bahagia.

Moto kami sederhana: Health – Friendships – Happiness. Dari tiga kata ini saja sudah terlihat bahwa ILB adalah tempat yang tepat untuk siapa pun yang baru datang ke Dubai dan ingin menemukan keseimbangan hidup.

Kalau saya menoleh ke belakang, rasanya ajaib bagaimana bulutangkis bisa membawa perubahan besar dalam hidup saya. Dari sekadar iseng bermain di akhir pekan, kini saya menjadi bagian dari komunitas yang berisi lebih dari 30 perempuan hebat.

Kami tidak hanya memukul kok di lapangan. Kami saling mendukung, saling menguatkan, dan saling menjaga. Di tanah rantau, jauh dari keluarga, kami menemukan rumah kedua.

Bagi saya, ILB bukan hanya tentang olahraga. Ini tentang persahabatan, solidaritas, dan kebahagiaan yang tumbuh dari hati.

Dan, bagi siapa pun perempuan Indonesia yang datang ke Dubai, pintu ILB selalu terbuka. Mari bergabung, mari bergerak, mari sehat bersama. Karena di sini, setiap pukulan kok adalah energi, setiap tawa adalah obat, dan setiap pertemuan adalah berkah.

Penulis: Utari Giri, founder Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Tinggal di Uni Emirat Arab. Dapat dihubungi melalui Instagram:@utarigiri.

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring: Peran Perempuan, Peluang, dan Tantangan di Era Digital

JAKARTA, 26 April 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PW Muslimat NU DIY menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Kartini dalam Dunia Digital”.

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perempuan mengenai peluang dan tantangan yang dihadapi dalam dunia digital serta memberikan edukasi tentang literasi berinternet yang aman dan efektif.

Diskusi berlangsung secara daring melalui platform Zoom, yang dihadiri oleh perempuan Indonesia dari berbagai negara dan profesi, yang tertarik dengan isu kesetaraan gender dalam teknologi digital.

Dalam pengantar diskusi sekaligus membuka acara, Hj. Fatma Amalia selaku Ketua PW Muslimat NU DIY menekankan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia digital.

Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti kesenjangan akses teknologi, rendahnya literasi digital, serta ancaman keamanan siber, termasuk kekerasan berbasis gender online.

Follow us

Acara ini menghadirkan dua perempuan Indonesia sebagai pemateri yang berbagi pengetahuan dan keilmuan dunia digital.

Pemateri pertama adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, seorang PhD student di University of Birmingham dan dosen di Universitas Trunojoyo Indonesia.

Zakiya memaparkan hasil risetnya mengenai bagaimana perempuan memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai sektor. Berdasarkan temuannya, perempuan semakin aktif dalam bidang wirausaha digital, pendidikan, dan advokasi sosial.

Namun, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti bias gender dalam industri teknologi serta minimnya akses terhadap sumber daya digital bagi perempuan di daerah terpencil.

Pemateri kedua adalah Rizqi Mutqiyyah, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, alumni International Institute of Information Technology Bangalore, India jurusan MSc Digital Society dengan Beasiswa Kominfo.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya literasi digital bagi perempuan agar dapat memanfaatkan internet secara aman dan efektif.

Rizqi juga menjelaskan strategi dalam mengelola informasi dan identitas digital guna menghindari ancaman siber, seperti pencurian data dan kekerasan berbasis gender online.

Diskusi ini semakin menarik dengan kehadiran penanggap yang berasal dari komunitas perempuan Indonesia di Dubai, Uni Emirat Arab.

Utari Giri sebagai penanggap berpendapat mengenai pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital serta upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi kekerasan berbasis gender di internet.

Setelah sesi pemaparan materi, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderasi oleh Izidiza Febrine, relawan Ruanita di Jerman.

Banyak peserta yang mengungkapkan pengalaman serta pandangan mereka mengenai isu perempuan dan teknologi. Beberapa peserta juga berbagi strategi yang telah mereka terapkan dalam memanfaatkan dunia digital untuk pemberdayaan perempuan.

Di akhir acara, Zakiyatul Mufidah sebagai koordinator penyelenggara menegaskan bahwa diskusi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya peran mereka dalam dunia digital.

Sebagai tambahan informasi, acara ini juga dihadiri oleh perempuan Indonesia yang tergabung dalam DWP KBRI Dhaka, para perempuan di Nepal, serta PW Muslimat NU di Taiwan dan Jepang, yang berpartisipasi menanyakan permasalahan dunia digital yang sedang meningkat partisipasinya.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, perempuan harus mampu beradaptasi dan memanfaatkannya secara maksimal demi kemajuan diri sendiri dan masyarakat.

Sebagai penutup, seluruh peserta diajak untuk terus berjejaring dan berkolaborasi dalam memperjuangkan hak perempuan di dunia digital.

Melalui akses dan pemanfaatan teknologi yang lebih baik, perempuan dapat terus berkontribusi dalam berbagai bidang serta memperkuat peran mereka dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

Rekaman acara tersebut dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami untuk mendukung kami:

(SIARAN BERITA) Ruanita Gelar Workshop Meningkatkan Kapasitas Warga Indonesia di Dubai dalam Era Digital

Dubai, 10 Februari 2025 Dalam upaya meningkatkan kapasitas warga Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai, DWP KJRI Dubai, Komunitas Gelas Kosong bekerja sama dengan Ruanita Indonesia menggelar Workshop Produksi & Editing Konten Video Digital. Acara ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan keterampilan produksi konten video guna mendukung promosi usaha dan komunikasi digital yang lebih efektif.

Workshop ini resmi dibuka oleh Konsul Jenderal RI untuk Dubai, Bapak Denny Lesmana, yang dalam sambutannya menyatakan dukungannya terhadap program peningkatan kapasitas ini. “Di tengah kecanggihan teknologi saat ini, warga Indonesia di Dubai memiliki peluang besar untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam pembuatan konten digital. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi dan mengedukasi peserta agar lebih siap bersaing dalam dunia digital, baik untuk kebutuhan promosi usaha maupun pengembangan komunitas,” ujar beliau.

Workshop ini berlangsung dalam tiga sesi yang akan dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada tanggal 10, 17, dan 24 Februari 2025. Para peserta akan mendapatkan pelatihan dari para relawan Ruanita Indonesia yang berpengalaman di bidang digital content creation, yaitu Cindy Guchi dari Vietnam dan Anna dari Jerman, serta dipandu oleh moderator Utari Giri, Ketua Komunitas Gelas Kosong di Dubai.

Peserta workshop terdiri dari warga Indonesia yang tinggal di Dubai dan sekitarnya, anggota DWP KJRI Dubai, serta pemilik usaha kecil dan menengah yang ingin memperluas jangkauan bisnis mereka melalui media digital. Selain mendapatkan materi dan pelatihan praktis, peserta juga akan memperoleh akses ke rekaman workshop, sertifikat elektronik, serta pendampingan melalui grup WhatsApp.

Melalui workshop ini, diharapkan peserta mampu menciptakan konten video yang tidak hanya menarik dan informatif tetapi juga memiliki nilai edukatif serta dapat dimonetisasi. Acara ini merupakan bagian dari komitmen KJRI Dubai dan Ruanita Indonesia dalam memberdayakan komunitas warga Indonesia di luar negeri dengan keterampilan yang relevan di era digital.

Untuk informasi lebih lanjut, sila hubungi panita penyelenggara melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Mengenal Toleransi dari Istilah Tat Twam Asi

Halo, sahabat Ruanita! Saya Utari Giri, seorang ibu rumah tangga dengan dua orang puteri yang sudah beranjak dewasa. Kami sekeluarga sudah hampir tiga belas tahun tinggal di kota Dubai, United Arab Emirates.

Selama tinggal di Dubai, saya aktif dalam segala kegiatan bersama teman-teman perantau dari Indonesia. Hingga saat ini, saya mengelola dua komunitas, yaitu Indonesia Ladies Badminton (Komunitas ibu-ibu Indonesia penggemar olah raga badminton) dan Banjar Dubai (Komunitas orang Bali yang tinggal di Dubai). 

Dari dua komunitas ini saja sudah bisa dibayangkan, bagaimana beragamnya individu-individu yang saya hadapi. Di sinilah tempat saya untuk belajar sekaligus menjalankan toleransi yang sesungguhnya telah kita pelajari sejak kecil di lingkungan keluarga kita. Ada sebuah pengalaman indah yang saya alami selama saya tinggal di Dubai, tentang toleransi beragama.

Setiap merayakan hari raya Idul Fitri, KJRI Dubai selalu mengadakan shalat Idul Fitri bersama bagi WNI di Dubai dan sekitarnya. Biasanya acara ini dihadiri sekitar seribu WNI yang ikut beribadah. Dan, inilah praktik toleransi yang sesungguhnya.

Kami, WNI non Islam yang tergabung dalam komunitas Piladelpia (Kristen dan Katolik) dan banjar Dubai (Hindu) hadir menjadi volunteer sebagai tim keamanan, mempersiapkan tempat shalat, hingga menyajikan makanan setelah shalat Idul fitri selesai.

Jadi, khusus di Dubai, Idul fitri tidak saja dinantikan oleh sahabat WNI muslim, tetapi sahabat non muslim pun selalu menantikan datangnya Idul Fitri. Inilah saatnya kita berpartisipasi melancarkan jalannya perayaan hari Idul fitri.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, toleransi berarti menghargai orang lain dengan segala perbedaannya melalui pengertian. Toleransi tidak hanya tentang masalah keyakinan dan suku. Bahkan, dalam diskusi sehari-hari, berteman, atau di lingkungan kerja pun sikap toleransi harus dijunjung tinggi. Tidak memaksakan kehendak dan pendapat adalah bentuk toleransi paling dasar.

Contoh lainnya, sebagai non muslim yang memiliki banyak sahabat muslim, saya sengaja membeli dan  menyediakan perlengkapan shalat untuk sahabat yang berkunjung ke rumah saya.

Bahkan, saya sengaja mengunduh arah kiblat di hape, karena sahabat saya selalu bertanya kepada saya arah kiblat, saat kita berada di luar rumah. Selain itu, saya juga ikut sebagai volunteer di beberapa komunitas sosial di Dubai, sebagai upaya saya untuk terus mengasah sikap toleransi saya.

Dalam menjalankan sikap toleransi, kita perlu aspek saling menghormati dan hidup berdampingan satu sama lain. Namun, pada kenyataannya kadang kita melihat ada orang yang sulit untuk bersikap toleransi.

Hal ini terjadi bisa karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap perbedaan atau tingginya rasa ego dan menganggap pribadi atau golongannya yang paling benar.

Padahal, sebenarnya setiap manusia harus dan memerlukan toleransi di dunia yang beragam ini. Contoh yang paling mudah adalah toleransi di lingkungan tempat tinggal kita. Kita tidak mungkin tinggal di lingkungan yang semua orangnya sama seperti kita, baik agama, suku, profesi, pendidikan, maupun aspek lainnya. Bayangkan jika kita tidak bisa bersikap toleransi terhadap tetangga di lingkungan rumah kita, maka pertengkaran dan perselisihanlah yang pasti akan terjadi.

Dalam mengembangkan sikap toleransi, kita perlu mendorong inklusivitas, tetapi praktiknya menjadi sulit. Inklusivitas pada dasarnya adalah sikap yang bisa memosisikan diri kita sebagai orang lain. Ada beberapa faktor yang membuat orang sulit menerima inklusivitas sebagai bagian toleransi, antara lain tidak peduli dengan orang lain, merasa tidak membutuhkan orang lain, atau merasa hebat dan lebih dari yang lain.

Sementara, untuk sebagian orang mungkin sulit untuk bersikap toleransi karena, merasa pribadi atau golongannya lebih baik dari yang lain, kurangnya pengalaman pergaulan dengan orang di luar golongannya, atau bisa juga karena pendidikan yang kurang tentang toleransi. Pendidikan toleransi yang paling mudah sebenarnya adalah kebiasaan yang harus ditanamkan sejak kecil dari rumah atau keluarga.

Ada satu lesson learned atau pembelajaran hidup yang pernah saya alami berkenaan dengan sikap toleransi ini. Saya adalah orang yang sangat terbuka dengan siapa saja, tidak peduli agama, suku atau siapa dia. Semuanya saya ajak berteman selama mereka mau berteman dengan saya. Tidak jarang, saya diundang ke rumah teman yang di rumahnya sedang ada pengajian atau teman-teman Kristiani yang sedang merayakan Natal.

Saya selalu menghormati undangan tersebut dan berusaha untuk hadir tanpa memikirkan yang lainnya. Mungkin ini yang tidak semua orang di Dubai mendapatkannya. Akibatnya, saya memiliki teman yang beragam di Dubai. Tidak jarang, jika ada teman yang baru datang ke Dubai selalu bertanya, sebenarnya apa agama saya? Tidak apa-apa, yang pasti saya selalu memandang indah setiap perbedaan yang terbalut dalam kata toleransi.

Banyak manfaat yang bisa kita petik dalam bersikap toleransi. Bahkan, manfaat ini ternyata bisa kita rasakan terutama untuk kesehatan mental kita. Rasa bahagia karena memiliki banyak teman, rasa nyaman saat berinteraksi dengan semua teman adalah manfaat besar bagi saya. Sebagai minoritas, penerimaan dari yang lain dengan tangan terbuka dan pelukan hangat adalah manfaat toleransi yang tidak ternilai harganya. Seperti yang kita ketahui, rasa aman, nyaman, dan bahagia adalah kunci utama bagi kesehatan mental manusia.

Jadi, untuk sahabat Ruanita yang masih sulit untuk bersikap toleransi, saatnya untuk membuang jauh sikap intoleransi. Bersikap toleransi ternyata lebih banyak manfaatnya daripada ruginya. Di Bali, ada ilmu toleransi yang dikenal dengan “Tat Twam Asi”, artinya aku adalah kamu, kamu adalah aku.

Jangan kita menyakiti, baik fisik maupun perasaan orang lain, jika tidak ingin disakiti. Cobalah untuk berada di posisi orang lain, sebelum berbicara atau mengeluarkan pernyataan terhadap orang. Dengan modal ini saja, kita bisa, lho, menjadi agen perdamaian global.

Selain dari diri sendiri, sikap toleransi harusnya selalu dimulai dari rumah atau keluarga. Memasuki zaman yang semakin maju seperti saat ini, sebaiknya pendidikan budi pekerti dan toleransi lebih digalakkan lagi di sekolah-sekolah mulai dari paling bawah. Citra Indonesia sebagai negara dengan masyarakatnya yang penuh sopan santun dan cinta perdamaian harus tetap ditegakkan sampai kapanpun.

Penulis: Utari Giri, perempuan yang hobi menulis, saat ini tinggal di Dubai, dan dapat di kontak di akun IG: @utarigiri

(CERITA SAHABAT) Ini Semua Pendapat dan Pengalaman Saya Soal Amarah

Halo Sahabat Ruanita, nama saya Utari Giri. Saya tinggal di Dubai sejak 2011 hingga saat ini. Saya adalah ibu rumah tangga yang senang melakukan kegiatan volunteer dan bersosialisasi. Bersama teman-teman Indonesia, saya mendirikan Komunitas Gelas Kosong yang bergerak di bidang sosial, dengan melakukan aktivitas sosial dan berdonasi. Selain itu, saya juga mengumpulkan orang-orang Bali yang tinggal di Dubai dan membentuk komunitas dengan nama Banjar Dubai. 

Tak hanya itu saja, bersama beberapa teman, saya juga membentuk grup Indonesia Ladies Badminton, yaitu suatu wadah untuk mengajak ibu-ibu Indonesia di Dubai agar mau berolahraga, bergerak, berkumpul, dan bersilaturahmi. Di samping itu, beberapa kali saya juga membagikan ketrampilan craft  ke ibu-ibu di Dubai dan juga ilmu menulis. Saat ini, saya sedang bekerja untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menjadi Ketua PPLN (Panitia Penyelenggara Pemilu Luar Negeri) di Dubai hingga Pemilu 2024 selesai.

Berbicara tentang marah, tentu Sahabat Ruanita sudah mulai berpikir dari orang yang pemarah hingga bagaimana mengelola kemarahan. Menurut saya, marah adalah emosi yang ditunjukkan seseorang karena dia merasa dirugikan. Seseorang pun bisa marah apabila keadaan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atas situasi tersebut.

Saya sendiri secara pribadi, tidak mempunyai cerita yang bersinggungan dengan pemarah. Mengapa? Karena, saya termasuk orang yang jarang marah. Saya selalu merasa takut dan gemetar  jika mendapati orang marah. Oleh karena itu, saya selalu menjauhi orang yang menurut saya mempunyai sifat pemarah.

Bagaimanapun, kemarahan dapat merusak relasi dengan orang lain, loh. Contohnya adalah saya sendiri. Jika saya sudah tahu bahwa seseorang itu pemarah, maka pelan-pelan saya pasti akan menghindari berhubungan dekat dengan yang bersangkutan. Mengapa? Ya, menurut saya tidak ada untungnya. Saya menjadi tidak nyaman dengan relasi seperti itu. Kalau Sahabat Ruanita, bagaimana menghadapi orang pemarah?

Tentunya, ada banyak faktor mengapa seseorang menjadi marah atau meluapkan amarahnya. Menurut saya, pertama,  itu bisa disebabkan karena karakter orang tersebut memang  pemarah. Jadi, hanya dengan pemicu yang kecil saja, sudah bisa membuat dia marah.  Kedua, bukan orang yang mudah terpancing marah, tetapi karena memang pemicu amarahnya yang sudah sangat parah sehingga dia sudah tidak bisa memakluminya. Bahkan orang tersebut tidak dapat mengendalikan emosinya.

Bagi saya, setiap orang berhak marah. Marah itu wajar, jika memang pada tempat, waktu, dan ekspresinya. Misalnya, kita sebagai perempuan dilecehkan, sudah sewajarnya jika kita marah terhadap pelaku. Marah pun menjadi tidak wajar kalau emosi yang meledak-ledak dan susah untuk dikendalikan sehingga bisa merugikan orang lain. Contohnya, seseorang yang sedang marah dan merasa emosi lalu melakukan kekerasan kepada orang lain.

Marah bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan, sewaktu anak-anak saya masih kecil, saya sebagai ibu pada saat itu tidak luput dari emosi dan marah menghadapi kenakalan anak-anak. Namun, saya selalu berusaha untuk mengontrol diri saya saat marah, khususnya kepada anak-anak. Trik saya adalah menarik nafas pelan-pelan untuk mengendalikan marah. Pantang bagi saya untuk mengeluarkan kata-kata kurang baik kepada anak saya, meskipun saya sedang marah. Jangankan sumpah serapah, sambil marah saya justru selalu mengatakan, ”Semoga nanti kamu jadi orang sukses, ya, Nak”. 

Kemarahan dengan anak tentu berbeda bila marah dengan teman. Cara yang selalu saya tempuh adalah segera minta maaf dan memaafkan, kemudian menjauh/menghindar. Menjauh bukan berarti memutuskan silaturahmi, melainkan saya tidak ingin dekat lagi dan merasakan energi negatifnya. Namun, saya masih berteman, loh.  

Ada pendapat yang bilang kalau kurang tidur, orang cenderung suka marah-marah. Menurut saya, itu pasti ada hubungannya. Kita sebaiknya punya cukup waktu untuk tidur, karena bangun tidur dengan segar adalah kunci menjalani hari-hari yang indah. Jika kita kurang tidur, maka orang menjadi kurang fit, pusing dan lainnya sehingga mood-nya juga kurang baik. Kemungkinan hal ini yang menyebabkan orang tersebut menjadi mudah marah. 

Apakah ada kaitan antara pemarah dengan sakit jantung? Jujur, saya belum pernah mengamati secara khusus hubungan marah dengan sakit jantung. Mungkin hal ini bisa dijelaskan secara medis. Pesan saya untuk menghadapi pemarah, kita lebih baik menghindari pemarah jika tidak ingin bermasalah. 

Sebagai penutup, ini pesan saya untuk bisa mengelola rasa amarah dalam diri.  Tundukkan kepala, ambil nafas pelan-pelan dan teratur beberapa saat. Setelah itu, kita perlu berpikir jernih tentang baik dan buruknya apabila kita melepas kemarahan. Itu tips saya dan semoga bermanfaat untuk Sahabat Ruanita semua.

Penulis: Utari Giri, biasa dipanggil Utari, lahir di kota Kediri, dan kini tinggal di Dubai. Dia adalah seorang lulusan sarjana teknik sipil ITS dan punya hobi menulis. Dari kegiatan menulisnya, dia sudah menghasilkan dua buku solo, yaitu “Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Teknis Jurusan Teknis Sipil” (Gramedia) dan “Amazing Dubai” (Elex Media). Selain itu, dia punya puluhan karya dalam bentuk artikel dan buku antologi.