(PODCAST PMI STORIES) Cerita Transformasi dari Asia ke Skandinavia

Podcast PMI Stories – Cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia episode kedua menghadirkan kisah Sari Wijayanti, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja selama sembilan tahun di Singapura dan kini menetap di Swedia setelah menikah dengan warga setempat. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura sekaligus host podcast, episode ini menggali perjalanan karier Sari, transisi hidup antarnegara, hingga proses membangun kehidupan baru di Eropa.

Sari memulai perjalanannya sebagai PMI di Singapura dengan alasan ekonomi. Ia menyadari kondisi finansial saat itu belum cukup memberikan rasa aman bagi dirinya dan kedua putranya. Di Singapura, Sari bekerja di sektor domestik dengan tanggung jawab sebagai nursery dan caregiver, mengasuh anak kecil sesuai dengan keterampilan yang ia miliki.

Tantangan terbesarnya adalah menghadapi anak-anak yang sedang tantrum atau sakit, yang mana situasi tersebut menuntut kesabaran, ketahanan emosi, dan profesionalitas tinggi. Namun, dukungan komunitas PMI yang aktif dengan kegiatan positif, serta support penuh dari orang tua yang menjaga anak-anaknya di Indonesia, menjadi fondasi kuat yang membuatnya mampu fokus bekerja dan berkembang.

Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa hidupnya akan membawanya pindah ke Eropa. Keputusan hijrah ke Swedia dilandasi kepercayaan pada pasangan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Proses pengurusan visa ikatan keluarga memakan waktu sekitar satu tahun, yakni masa tunggu yang cukup panjang dan penuh ketidakpastian.

Setibanya di Swedia, Sari menghadapi culture shock terbesar pada cuaca ekstrem empat musim, terutama musim dingin yang sangat berbeda dari iklim tropis Asia Tenggara. Tantangan berikutnya adalah bahasa Swedia, yang menjadi kunci penting integrasi sosial. Meski masyarakat Swedia fasih berbahasa Inggris, kemampuan bahasa lokal tetap dibutuhkan untuk benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, setelah 16 bulan menetap di Swedia, Sari menjalani kehidupan baru dengan bekerja paruh waktu di restoran sebagai waitress dan kasir, sembari mengikuti kelas bahasa Swedia secara daring sebagai persiapan mengikuti sekolah bahasa formal.

Ia menekankan bahwa di Swedia, kesetaraan gender sangat dijunjung tinggi, di mana perempuan didorong untuk mandiri dan berkontribusi melalui pekerjaan, termasuk dalam sistem pajak dan jaminan sosial yang mendukung kesejahteraan jangka panjang seperti dana pensiun.

Dalam refleksinya, Sari mengakui bahwa integrasi sosial di Swedia kini semakin menantang. Ia menyoroti adanya pergeseran sosial yang membuat pendatang harus lebih mandiri dan proaktif dalam belajar bahasa serta memahami budaya lokal.

Tantangan pengangguran dan kesenjangan sosial di kalangan migran turut menjadi isu yang memengaruhi proses integrasi. Meski demikian, dukungan pasangan dan komunikasi dengan komunitas Indonesia melalui grup daring menjadi penguat dalam proses adaptasinya.

Menutup perbincangan, Sari berbagi pesan mendalam bagi para PMI yang tengah membangun masa depan di luar negeri. Ia mengingatkan agar perjuangan tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai proses pembelajaran, seperti layaknya sekolah kehidupan. Mungkin suatu saat akan mencapai titik kelulusan.

Sari mendorong PMI untuk mempersiapkan mental, memahami budaya negara tujuan, dan menguasai bahasa sebelum memutuskan pindah, terutama dalam konteks pernikahan lintas negara. “Buatlah uang bekerja untuk kalian, bukan kalian yang terus bekerja untuk uang,” pesannya. Ia seperti menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan visi jangka panjang.

Cerita Sari Wijayanti menjadi potret transformasi identitas seorang PMI, dari pekerja domestik di Asia Tenggara hingga perempuan Indonesia yang tengah membangun babak baru kehidupan di Eropa. Episode ini tidak hanya menghadirkan cerita migrasi, tetapi juga refleksi tentang keberanian mengambil keputusan, adaptasi lintas budaya, dan makna perjuangan dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(WARGA MENULIS) 08.06.

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Suamiku sedang melahap sarapannya, sambil memeriksa e-mail dari laptop. Katanya, hari ini dia bisa masuk kantor agak siang, meski ada beberapa bahan meeting yang harus disiapkannya dari rumah. Minggu depan, ia harus kembali tugas ke Oslo, dan dilanjutkan dengan ekspedisi Barents Sea selama tiga minggu. Membayangkannya saja, aku sudah lelah. Hari-hari bertiga saja dengan anak-anak, sementara suamiku melanglang buana dengan pekerjaannya.

Ditulis oleh Aini Hanafiah di Norwegia.

(WARGA MENULIS) Penyesalanku

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Lawanku adalah anak dari suamiku. Ya, ternyata sudah punya anak remaja menjelang dewasa walaupun suamiku belum pernah menikah. Kejutan apalagi yang suamiku sembunyikan dariku? Mungkin karena mengenal karakter perempuan Indonesia (sebab ibunya anak itu ternyata orang Indonesia juga), yang lebih suka mendapatkan pasangan tanpa anak. Toh mereka tak pernah rutin berjumpa, suamiku tidak pernah terlibat sama sekali, karena mereka sudah memutuskan begitu barangkali, entahlah. Aku menjadi orang yang paling tidak tahu mengenai suamiku sendiri!

Ditulis oleh Alda Trisda di Belgia.

(WARGA MENULIS) Dua Identitas

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“Kenapa kamu tidak mengganti kewarganegaraanmu  seperti yang lainnya?” 

Seperti yang lainnya. Aku tahu maksudnya: mereka yang ingin lebih mudah.  Lebih aman. Lebih diterima. Lebih tidak dipertanyakan. Pertanyaannya terdengar praktis. Rasional. Seolah identitas  adalah pilihan karier. Seolah paspor hanyalah alat mobilitas,  bukan bagian dari sejarah tubuh. 

Aku menjawab dengan senyum yang sudah terlalu sering  kupakai untuk meredam ketegangan. “Belum perlu.”

Ditulis oleh Azizah di Austria.

(WARGA MENULIS) Koma

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Entah bagaimana kisah hidupnya, saat tidak ada orang yang melihat dia berubah menjadi seorang biadab. Ia gemar menyudutkan anak-anak perempuan di gang sempit, menyentuh, mengancam, dan membisikkan janji pembunuhan. “Jika kau berani bicara, aku pastikan kau mati.” Koma, Lira, dan gadis-gadis kecil lainnya diikat oleh benang merah ketakutan yang sama. Saling tahu, tapi tak ada yang bicara. Hanya keheningan yang mematikan. Sejak lahir, seolah ada jarum dan benang gaib yang disiapkan untuk menjahit mulut mereka sendiri. Menjahit mulut lebih mulia daripada membuat geger. Mereka diajarkan untuk menyimpan aib, bahkan jika aib itu bukan perbuatan mereka. Mendhem jero, simpan lukamu sampai membusuk di dalam perut.

Ditulis oleh Rena di Swiss.

(WARGA MENULIS) Þetta reddast

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Aku tertegun. Akhirnya datang juga, kekhawatiran yang aku kubur di lubuk hati terdalam sejak aku memutuskan untuk belajar dan berkarier menjadi guru Sekolah Dasar di Reykjavík, ibukota paling Utara di dunia. Ya. Aku. Orang Indonesia yang baru mulai belajar bahasa Islandia sejak sembilan tahun lalu, menjelang usia kepala 4. Bahasa Islandia. Salah satu bahasa tersulit di dunia. Kaya dengan infleksi. Setiap kata berubah sesuai dengan jenis, fungsi, gender, keterangan waktu dan berbagai aturan kompleks. Orang asli Islandia pun merasa sulit untuk menjelaskannya.

Ditulis oleh Tyas Nurhidayati di Islandia.

(WARGA MENULIS) Episode Madrid

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Kuingat  serunya perkenalan kami. Pertama aku salah mengucapkan namanya. Huruf “j” dibaca seperti huruh “kh”, dan kedua, awalnya aku pikir José Maria adalah nama perempuan. Hari itu aku jadi mengerti bahwa kalau perempuan maka akan bernama Maria José, bukan José Maria.  Terkait tema nama, kuingat juga Jóse tertawa mendengar namaku yang mirip dengan kata bahasa Spanyol: Ella, pronomina untuk orang ketiga, perempuan.

Belum sempat kuteruskan ingatan itu, dari belakang kurasakan ada sentuhan tangan di bahuku, dan sapaan pemuda  yang kutunggu: „Hello… Ella!.

Ditulis oleh Dyah Narang-Huth di Jerman.

(WARGA MENULIS) Dressing room self-talk

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“I am entitled to a good life. I am a strong believer that only good things happen to girls like me now. And I say that boldly and proudly every single morning in the mirror; I’m like, ‘Bad things like this don’t happen to girls like me!’ I believe that I am entitled to thrive in this country!”

Ditulis oleh Griska Gunara Keating di UK.

(WARGA MENULIS) Siapa Berpergian Hidup Dua Kali

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Saat dia pamit ke Italia, teman-temannya mengingatkannya untuk mengoleksi tas branded dan sering-sering berbelanja Prada, Dolce Gabbana, dan Armani supaya terlihat keren. Rina tertawa. Saat suaminya mendengar celoteh dengan brand yang familiar di telinganya, ia lalu menimpali dalam bahasa Inggris: “She can have all that, as long as she buys them with her own money. I will protect her, in decent way, but not in luxury,” ujarnya. 

Teman-teman Rina mana paham kata-kata Enzo itu, mereka hanya tertawa saja sambil saling mendorong-dorong satu dengan lainnya. Mereka pamitan, Rina tidak menangis. Nangis buat apa? ‘Kan dia yang meminta Tuhan supaya keluar dari Jakarta. Ia gembira saja. Hatinya tak merasa nestapa atau kekurangan apa-apa.

Ditulis oleh Rieska Wulandari di Italia.

(WARGA MENULIS) Pisau

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Perempuan itu menyuruhku untuk menggenggam pisau itu di tanganku. Aku lakukan dengan mudah, walau berisik sekali kepalaku saat aku melakukan permintaannya itu. Dia meletakkan tangannya di atas meja dan berkata, “Sekarang saya mau Anda, masih sambil menggenggam pisau itu, menaruh pisau ini tepat di samping jari-jari saya”.

Ditulis oleh Mariska Ajeng Harini di Jerman.

(WARGA MENULIS) Prinsip 3T dari Sudut Kafetaria

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Bunga datang ke Barcelona bukan sekadar ikut suami, tetapi membawa mimpi besar. Dia ingin membangun usaha pariwisata yang menjembatani wisatawan dengan budaya lokal. Namun ia  sadar, mimpi itu tidak akan tumbuh tanpa perjuangan. Seiring berjalannya waktu, Bunga mengikuti kata hatinya. Baginya, tidak ada pilihan lain selain  “menghajar diri sendiri” untuk terus maju dan terus bertumbuh.

Ditulis oleh Tyka Karunia di Spanyol.

(WARGA MENULIS) Tetangga Misterius!

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Pers release dari kepolisian dan pemberitaan surat kabar, membuat kami semua disusupi rasa bersalah. Kami pernah menganggap aneh perempuan paruh baya itu. Sesungguhnya dia hanya ingin menjaga, melindungi, dan merawat anak semata wayangnya dengan segenap jiwa raganya. Karena perasaan bersalahnya, menjadi sebab putrinya lumpuh dan suaminya meninggal saat terjadi kecelakaan mobil tujuh tahun sebelumnya.

Ditulis oleh Risti Handayani di Belanda.

(SIARAN BERITA) Suara Perempuan Pelaku Kawin Campur Menggema di Ruanita

Skopje, 15 Februari – Berbicara soal kawin campur, yang sering muncul adalah kisah cinta lintas negara, budaya, dan bahasa. Namun jarang yang mengangkat pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana perempuan menegosiasikan suara, kuasa, dan ruang komunikasinya dalam keluarga lintas budaya? Pertanyaan inilah yang menjadi titik temu workshop online yang diselenggarakan Ruanita pada Minggu, 15 Februari 2026.

Mengusung tema “Komunikasi & Agensi Perempuan Pelaku Kawin Campur”, workshop daring ini mempertemukan peserta dari berbagai zona waktu dalam ruang diskusi yang aman dan reflektif. Kegiatan dipandu oleh Leya Trajanoska, konselor pernikahan dan keluarga (M.A.) yang kini tinggal di Makedonia Utara.

Alih-alih mengajarkan bahasa atau tata krama komunikasi dalam rumah tangga multikultural, Leya mengajak peserta membongkar hal yang selama ini sering luput. Menurut Leya, bahasa dan komunikasi adalah arena negosiasi sosial, bukan sekadar alat bertukar pesan.

Diskusi bergerak cair dan hangat. Para peserta berbagi pengalaman tentang memilih bahasa dalam percakapan keluarga, bernegosiasi dengan pasangan dan keluarga mertua, sampai menghadapi tuntutan budaya yang berbeda. Terlihat jelas bahwa di balik persoalan “bahasa mana yang dipakai di rumah”, terdapat isu yang lebih besar. Menurut Anna Knöbl, masalah itu terletak pada ruang bagi perempuan untuk membentuk posisinya sendiri dalam keluarga.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa topik ini bukan hanya relevan, tetapi mendesak. Banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing atau hidup di luar negeri menjalani keseharian yang penuh lapis makna, kebijakan, dan adaptasi, tetapi jarang ada ruang publik yang memberi tempat bagi pengalaman ini sebagai pengetahuan.

Acara ini diikuti oleh puluhan perempuan pelaku kawin campur di berbagai negara. Agar meningkatkan kenyamanan, acara ini tidak direkam. Selain itu, pemateri yang merupakan Relawan Ruanita Indonesia bersedia memberikan workshop online ini untuk berbagi dukungan dan solidaritas sebagai sesama perempuan pelaku kawin campur.

Anna Knöbl, sebagai perempuan kawin campur di Jerman dan penyelenggara acara ini, sangat berharap ini menjadi bagian dari upaya Ruanita memusatkan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan, bukan objek cerita. Melalui program diskusi, publikasi cerita, dan kegiatan berbasis refleksi, Ruanita membangun komunitas belajar yang tidak dibatasi wilayah atau identitas, tetapi disatukan oleh rasa ingin tahu, solidaritas, dan keinginan memahami diri dalam dunia yang terus berubah.

Informasi mengenai program dapat mengontak Leya Trajanoska melalui email info@ruanita.com.

(KNOWLWDGE SHARING) Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak

Frankfurt, 14 Februari – Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing bertajuk “Neurodiversitas: Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, sebuah ruang belajar daring yang mengajak peserta untuk melihat keberagaman neurologis secara lebih inklusif, empatik, dan membumi. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 10.00 CET, melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit.

Sesi ini menghadirkan Lovely Christi Zega, Psikolog Klinis yang berbasis di Jerman, sebagai pemateri. Dengan pendekatan psikoedukasi dan knowledge sharing yang bersifat non-layanan terapi, sesi ini dirancang untuk memperluas pemahaman dasar tentang neurodiversitas, mengurangi stigma terhadap individu neurodivergen, serta mengajak peserta merefleksikan peran diri dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman, baik di keluarga, kampus, maupun lingkungan kerja.

Acara diawali dengan pembukaan yang menekankan penciptaan ruang aman, penyamaan ekspektasi, serta penegasan bahwa sesi ini tidak bertujuan untuk diagnosis dan terapi individual.

Pengantar mengenai konsep neurodiversitas kemudian disampaikan, mencakup asal-usul istilah, perbedaannya dengan diagnosis medis, serta pengenalan istilah neurodivergen dan neurotipikal. Peserta diajak memahami mengapa pembahasan neurodiversitas menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan hari ini.

Dalam sesi berikutnya, pemateri mengulas ragam neurodiversitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti autisme, ADHD, Asperger, disleksia, serta variasi neurologis lainnya. Pembahasan difokuskan pada kekuatan dan tantangan yang kerap muncul, sekaligus membongkar mitos yang masih melekat di masyarakat. Penekanan diberikan bahwa materi ini tidak ditujukan untuk self-diagnosis dan pelabelan.

Sesi refleksi interaktif menjadi ruang penting bagi peserta untuk berhenti sejenak dan meninjau kembali cara pandang personal dan sosial. Melalui pertanyaan reflektif yang bersifat opsional dan tanpa kewajiban berbagi, peserta diajak bertanya pada diri sendiri, seperti tentang apa yang selama ini dianggap “tidak biasa”, serta sejauh mana lingkungan yang mereka alami sudah cukup ramah bagi keberagaman cara berpikir.

Diskusi kemudian diperluas ke konteks Indonesia dan lintas budaya. Tantangan yang dihadapi individu neurodivergen dalam budaya kolektivistik, ekspektasi keluarga dan pendidikan, hingga pengalaman tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri dibahas dengan menekankan pentingnya sensitivitas budaya. Dari sini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya.

Pada bagian praktis, sesi ini mengajak peserta untuk merefleksikan langkah-langkah sederhana namun berdampak dalam membangun sikap yang lebih inklusif. Mulai dari cara berkomunikasi, menjadi rekan atau anggota keluarga yang suportif, hingga memahami batas empati, dan bagaimana membantu tanpa memaksakan. Fokus tetap diarahkan pada sikap dan perilaku sehari-hari, bukan intervensi klinis.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan panduan yang jelas untuk menjaga keamanan psikologis bersama. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman dan sikap, tanpa membahas kasus personal secara mendetail atau meminta diagnosis. Acara ditutup dengan rangkuman poin kunci dan pesan reflektif dari pemateri, sebagai ajakan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(IG LIVE)Bijak di Balik Layar: Media Sosial, Kesehatan Mental, dan Realita Perempuan Masa Kini

Di era digital hari ini, batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin tipis. Media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau cerita, tetapi telah menjadi tempat berekspresi, membangun jejaring, bahkan sumber penghidupan, terutama bagi perempuan. Namun, di balik segala peluangnya, media sosial juga menyimpan tekanan yang sering kali tak disadari.

Itulah yang dibahas dalam diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia bersama Zukhrufi Syasdawita sebagai host, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Nettie Kurnia, Content Creator yang tinggal di Serbia, dan Carissa Dimilow, psikolog klinis yang menetap di Jerman. Diskusi ini mengajak kita melihat media sosial secara lebih jujur, bukan hanya sisi terangnya, tetapi juga bayangan gelap di balik layar.

Bagi Carissa, media sosial adalah ruang untuk tetap terhubung. Tinggal jauh dari keluarga di Indonesia membuat media sosial menjadi jembatan emosional yang penting. Secara profesional, media sosial juga membuka akses edukasi, termasuk edukasi kesehatan mental, yang dulu terasa jauh dan kaku.

Namun, Carissa mengakui bahwa tekanan dari media sosial adalah sesuatu yang hampir pasti pernah dialami semua orang. Tuntutan untuk selalu terlihat bahagia, produktif, dan sukses sering kali membuat kita lupa bahwa apa yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Hal senada disampaikan oleh Netti. Menurutnya, media sosial lebih sering menampilkan “yang baik-baik saja”. Influencer atau pengguna media sosial hanya menunjukkan beberapa menit dari 24 jam hidup mereka. Oleh karena itu, menyamakan media sosial dengan realita adalah kesalahan yang kerap berdampak pada kesehatan mental.

Sebagai kreator konten yang sering berbagi tentang kehidupan di Serbia, Netti sangat sadar akan batasan. Ia memilih untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi, termasuk keluarganya. Setiap kali akan mengunggah sesuatu, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini perlu dibagikan? Apakah ini akan bermanfaat ke depannya?

Pengalaman masa lalu, ketika ia melihat kembali unggahan di era Friendster dan Facebook telah membuat Netti lebih reflektif. Apa yang dulu terasa wajar, kini justru tampak berlebihan dan tak relevan. Dari sana, ia belajar bahwa jejak digital bersifat panjang, dan kita perlu bertanggung jawab atas apa yang kita unggah hari ini.

Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, terutama di era banjir hoaks dan kecanggihan AI. Salah berbagi informasi bukan hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga menjadi beban moral bagi diri sendiri.

Menurut Carissa, dampak media sosial terhadap kesehatan mental sangat besar, terutama bagi generasi muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Di satu sisi, media sosial memberi ruang berekspresi, akses informasi, dan peluang membangun jaringan. Namun di sisi lain, ia juga memicu overthinking, kecemasan sosial, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan “highlight hidup” orang lain.

Anak muda yang terbiasa mencari validasi melalui likes dan komentar menjadi lebih rentan terhadap rasa tidak cukup. Bahkan, kebahagiaan bisa perlahan bergantung pada respons dunia digital, bukan pada realita yang dijalani.

Dari pengalaman dan sudut pandang psikologi, para narasumber merangkum beberapa prinsip penting:

Versi Nettie Kurnia:

  1. Sadari bahwa media sosial bukan kehidupan nyata.
  2. Batasi waktu penggunaan secara tegas.
  3. Lakukan digital detox lewat aktivitas dunia nyata yang bermakna.

Versi Carissa Dimilow:

  1. Saring konten dan akun yang diikuti.
  2. Buat batas digital, terutama sebelum tidur.
  3. Lakukan check-in dengan diri sendiri: setelah membuka media sosial, apakah perasaan kita lebih ringan atau justru lebih berat?

Media sosial sejatinya hanyalah alat, yang bisa menjadi sarana koneksi, edukasi, dan hiburan. Sebaliknya media sosial justru sumber tekanan dan kecemasan. Perbedaannya terletak pada kesadaran kita sebagai pengguna.

Diskusi IG LIVE setiap bulan yang diselenggarakan ruanita.indonesia menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan mental di dunia digital bukan hal yang mustahil, tetapi perlu diperjuangkan. Dengan batas yang jelas, kesadaran diri, dan keberanian untuk kembali terhubung dengan dunia nyata, kita bisa tetap hadir di media sosial tanpa kehilangan diri sendiri.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.