(CERITA SAHABAT) Apakah Anak Saya Alami Late Bloomer?

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Wenny, di Prancis. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Prancis. Karena jadwal kerja suami yang sangat padat, ia jarang berada di rumah. Sehari-hari, saya yang mengurus dan membesarkan anak kami seorang diri.

Dalam keluarga, bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah Bahasa Inggris, walaupun mertua dan suami saya lebih nyaman menggunakan Bahasa Prancis. Saya sendiri tidak begitu fasih lagu-lagu anak berbahasa Prancis, sehingga sejak anak bayi saya terbiasa menggunakan YouTube untuk memutarkan lagu-lagu tersebut. Tanpa sadar, dari situlah anak saya banyak terpapar screen time. Saya belakangan menyadari bahwa kebiasaan ini membuat anak jadi sulit mengendalikan emosi dan cenderung kecanduan layar.

Selain itu, anak saya lahir prematur. Dia lahir sebulan lebih cepat dari perkiraan. Proses kelahiran pun cukup sulit. Saya harus menunggu lama untuk melahirkan normal, meski akhirnya dokter tetap melakukan operasi caesar. Sejak lahir, saya sudah merasa ada sesuatu yang berbeda. Anak saya jarang sekali mengeluarkan suara, tidak “bubbling” seperti bayi pada umumnya.

Ketika usianya masuk satu tahun, tanda-tanda keterlambatan bicara mulai semakin jelas. Meski ia mengerti instruksi dan bisa merespons panggilan, ia jarang mengeluarkan kata. Saat berinteraksi dengan keluarga suami, mereka tidak terlalu khawatir. Bagi mereka, wajar saja anak menjadi bilingual atau bahkan trilingual karena terbiasa mendengar tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Prancis). Mereka percaya suatu hari nanti anak akan bisa berbicara. Namun sebagai seorang ibu, saya tetap merasa cemas.

Saya dan suami sempat membawa anak ke beberapa dokter, dari dokter umum hingga pediatric. Hasilnya? Tidak ada diagnosis khusus, hanya saran agar kami sabar dan mengurangi screen time. Seorang pediatris bahkan menekankan konsep zero screen bagi anak kecil. Tetapi praktiknya sulit, karena saya sendirian mengurus rumah dan anak tanpa banyak dukungan.

Di usia 2 tahun 5 bulan, anak saya sudah sangat mengerti apa yang kami katakan dalam Bahasa Prancis maupun Bahasa Inggris. Ia bisa mengikuti instruksi sederhana, bahkan membantu menyiapkan sepatu ketika kami hendak keluar rumah. Namun kosakatanya masih terbatas, seperti: hanya “mama”, “papa”, “yes”, “no”, dan beberapa kata dalam Bahasa Prancis. Anak saya menunjukkan kecerdasan dalam aspek motorik dan tindakan, tetapi perkembangan verbalnya lambat.

Menurut saya, sistem kesehatan di Prancis terasa lambat jika dibandingkan dengan di Indonesia, di mana layanan terapi wicara sudah mulai berkembang luas. Di sini, kami harus mencari sendiri referensi dan dokter belum tentu mau menerima pasien baru tanpa rujukan resmi.

Tantangan terberat bagi saya adalah rasa kesepian dalam mengasuh anak. Suami sibuk, keluarga jauh, dan keterampilan bahasa saya yang terbatas membuat saya harus berjuang ekstra. Anak saya tidak pergi rutin ke daycare lagi, karena keterbatasan waktu suami untuk mengantar, sehingga kesehariannya lebih banyak bersama saya.

Meski begitu, saya belajar untuk bersyukur. Hal-hal kecil seperti mendengar anak menyebut “mama” atau “daddy” sudah menjadi kebahagiaan besar bagi saya. Saya percaya anak saya termasuk late bloomer. Suatu hari, ia akan berbicara dengan lancar, mungkin pada usia 3 atau 4 tahun.

Saya menyadari bahwa membesarkan anak di luar negeri, dengan latar budaya dan bahasa yang berbeda, penuh tantangan. Ada kalanya saya merasa bingung antara mengajarkan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa Prancis. Mertua tentu berharap cucu mereka fasih berbahasa Prancis, sementara saya ingin anak tetap mengenal bahasa ibu.

Harapan saya sederhana: semoga anak saya bisa tumbuh percaya diri dan mampu berkomunikasi dengan baik layaknya anak-anak lain seusianya, meskipun jalannya sedikit lebih lambat.

Tips dari saya untuk orang tua lainnya, tanpa bermaksud menggurui tetapi belajar satu sama lain, antara lain:

  1. Kurangi paparan layar sejak dini. Lebih baik memperkenalkan lagu anak-anak secara langsung, bukan dari YouTube.
  2. Konsistensi bahasa. Pilih satu bahasa utama lebih dulu sebelum memperkenalkan bahasa lain agar anak tidak bingung.
  3. Dukungan bersama. Ayah dan ibu perlu sama-sama terlibat, jangan hanya salah satu yang memikul beban pengasuhan.
  4. Bersyukur pada progres kecil. Setiap kata baru yang keluar dari mulut anak adalah pencapaian besar.
  5. Siap menghadapi perbedaan budaya. Tinggal di luar negeri berarti siap menghadapi pola asuh, aturan, dan ekspektasi yang berbeda dengan di Indonesia.

Sahabat Ruanita, menjadi ibu dari anak dengan keterlambatan bicara membuat saya belajar banyak hal. Saya belajar tentang kesabaran, penerimaan, dan arti syukur. Saya yakin, bahwa setiap anak punya waktunya sendiri. Dan untuk anak saya, meski ia seorang late bloomer, saya percaya suatu hari nanti ia akan mengejar ketertinggalannya.

Penulis: Wenny, tinggal di Prancis dan dapat dikontak via akun instagram wennymarty.

(SIARAN BERITA) Diskusi Hari Kesehatan Sedunia Soroti Peran Gigi dalam Tumbuh Kembang dan Penuaan

Den Haag, 11 April — Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia 2026, Ruanita Indonesi kembali hadir menggelar diskusi daring yang berfokus pada kesehatan gigi. Tema acara yang diambil yakni: “Kupas Tuntas Kesehatan Gigi dari Balita ke Lansia” memberikan pemahaman yang mendalam perihal kesehatan gigi yang terabaikan. Diskusi daring yang hangat tentang kesehatan gigi dan mulut mengalir selama dua jam penuh, mempertemukan orang tua, caregiver, anggota komunitas lansia seperti ALZI Ned, hingga pemerhati kesehatan dalam satu ruang virtual.

Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian tak terpisahkan dari kualitas hidup. Momentum Hari Kesehatan Sedunia dimanfaatkan untuk menyoroti isu yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya terasa sejak usia dini hingga lanjut usia.

Diskusi dibuka oleh moderator, Dessy de Waal-Ekarini, tenaga kesehatan yang bermukim di Belanda. Dalam pengantarnya, ia mengajak peserta melihat kesehatan gigi sebagai investasi jangka panjang. “Perawatan gigi bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang masa depan anak-anak kita dan kualitas hidup saat menua,” ujarnya, mengawali sesi dengan penuh semangat.

Sesi pertama menghadirkan Drg. Natalia Ekaputri dari Belanda yang mengupas kesehatan gigi anak-anak. Ia menekankan bahwa masalah gigi berlubang pada balita dan anak usia sekolah masih menjadi tantangan serius, termasuk di komunitas diaspora. Menurutnya, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan sejak dini. Orang tua memerhatikan kebiasaan si kecil mulai dari membatasi konsumsi gula, membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, hingga rutin memeriksakan gigi ke dokter.

Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia menjelaskan bagaimana gangguan gigi dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, konsentrasi belajar, bahkan kepercayaan diri. “Rasa sakit pada gigi bisa membuat anak sulit makan dan tidur. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi nutrisi dan perkembangan mereka,” jelasnya. Para orang tua tampak antusias, terlihat dari deretan pertanyaan yang mulai memenuhi kolom chat bahkan sebelum sesi berakhir.

Memasuki sesi kedua, Drg. Asti Sutanto dari Belgia memperluas perspektif ke kelompok dewasa dan lansia. Ia mengingatkan bahwa masalah gigi tidak berhenti ketika seseorang beranjak dewasa. Penyakit gusi, kehilangan gigi, hingga infeksi mulut dapat berkaitan erat dengan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung. Pada lansia, tantangannya semakin kompleks, terutama bagi mereka yang mengalami penurunan fungsi kognitif atau berisiko demensia.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan caregiver dalam merawat kesehatan mulut lansia, terutama yang memiliki keterbatasan fisik. “Kesehatan mulut memengaruhi kemampuan makan, berbicara, dan bersosialisasi. Pada lansia, ini sangat berhubungan dengan kualitas hidup,” paparnya.

Sesi tanya jawab menjadi bagian paling dinamis. Peserta dari komunitas parenting dan komunitas lansia seperti ALZI Ned aktif berbagi pengalaman, mulai dari anak yang sulit menyikat gigi hingga orang tua lanjut usia yang menolak memakai gigi tiruan. Diskusi berkembang menjadi ruang saling belajar, tidak hanya antara narasumber dan peserta, tetapi juga antarpeserta.

Beberapa peserta mengaku baru menyadari kaitan erat antara kesehatan gigi dan risiko penyakit sistemik. Ada pula yang terinspirasi untuk mulai menerapkan jadwal pemeriksaan rutin keluarga setelah mengikuti diskusi ini.

Kegiatan ditutup dengan rangkuman pesan kunci dari kedua pemateri bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Edukasi harus dimulai sejak dini serta berlanjut sepanjang hayat. Semangat kolaborasi lintas komunitas terasa kuat, membuka peluang kerja sama berkelanjutan dalam program promotif dan preventif di masa mendatang.

Dessy de Waal-Ekarini sebagai moderator menyatakan bahwa diskusi daring ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa senyum sehat adalah cerminan kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terkasih. Dari balita hingga lansia, kesehatan gigi dan mulut terbukti menjadi fondasi penting bagi hidup yang lebih berkualitas, yang selama ini masih kurang menjadi perhatian kesehatan secara keseluruhan.

Rekaman acara dapat disimak di kanal kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Mengenal Profesi Dokter Gigi Anak dan Pentingnya Kesehatan Gigi Sejak Dini bersama Drg. Natalia Ekaputri

Dalam edisi spesial Hari Kesehatan Dunia, Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – menghadirkan narasumber istimewa: drg. Natalia Ekapuntri, seorang dokter gigi asal Indonesia yang kini tinggal dan berpraktik di Belanda.

Bersama Anna di Jerman dan Dianita di India, diskusi podcast Rumpita kali ini menyoroti pentingnya kesehatan mulut dan gigi anak-anak, serta berbagai tantangan dan sistem pelayanan kesehatan gigi di Belanda.

Saat pertama kali pindah ke Belanda, Natalia tidak bisa langsung membuka praktik. Ia harus mengikuti serangkaian uji kualifikasi, mulai dari uji bahasa Belanda setara IELTS, hingga tes teori dan praktik kedokteran gigi yang sangat ketat. Proses ini memakan waktu hingga dua tahun, apalagi sambil mengurus keluarga dan membesarkan anak.

Di Belanda, sistemnya menekankan tanggung jawab individu. Semua dokter, termasuk dokter gigi, harus melalui validasi menyeluruh sebelum bisa praktik,” ujar Natalia.

Diskusi kemudian mengarah pada kasus anak-anak yang takut ke dokter gigi. Diana, co-host yang tinggal di India, bercerita tentang putranya yang mengalami trauma karena pengalaman buruk saat pemeriksaan di sekolah. Anak-anak lain menangis dan berteriak, dan sejak itu putranya enggan ke dokter gigi.

Natalia menanggapi dengan menyampaikan bahwa trauma seperti ini bisa dipahami, tetapi bisa dipulihkan. Yang terpenting adalah membangun kepercayaan anak terhadap dokter gigi, mulai dari hal sederhana seperti menyambut dengan ramah, mengenalkan alat-alat secara visual, hingga memberi ruang komunikasi yang nyaman.

“Saya selalu bilang ke pasien anak, saya bukan sekadar dokter gigi, saya adalah teman mereka yang ingin tahu pengalaman mereka,” jelas Natalia.

Natalia menekankan bahwa merawat gigi bukan hanya soal teknis. Seorang dokter gigi harus juga memiliki empati dan pendekatan holistik, karena banyak kasus gigi berkaitan dengan masalah sensorik, psikologis, hingga neurologis. Ia pernah menangani anak dengan autisme yang awalnya sulit ditangani, namun setelah observasi dan pendekatan bersama keluarga, anak tersebut dapat dirawat dengan lebih baik.

Saya bukan hanya memeriksa gigi. Saya bertanya, ‘Apa makanan favoritmu? Apakah kamu suka tekstur tertentu?’ Dari situ saya bisa mendeteksi apakah ada indikasi kebutuhan khusus,” ungkapnya.

Salah satu keunggulan sistem kesehatan gigi di Belanda adalah akses gratis bagi anak-anak hingga usia 18 tahun. Bahkan, ada program dari organisasi yang mengunjungi sekolah-sekolah dengan unit mobil perawatan gigi untuk memberikan edukasi dan pencegahan sejak dini.

Anak-anak dikenalkan pada alat seperti kaca mulut dan disikat bersama sambil belajar. Edukasi ini diberikan secara individual, bukan massal, sehingga anak-anak merasa lebih aman dan diperhatikan.

Podcast ini menjadi pengingat pentingnya peran dokter gigi dalam membangun kepercayaan dan menciptakan ruang aman untuk anak-anak. Bagi para orang tua, penting juga untuk tidak memaksakan perawatan, tetapi memberikan pemahaman dan menjadi jembatan kepercayaan antara anak dan dokter.

“Sama seperti mobil yang harus diservis rutin, mulut dan gigi juga perlu dikontrol setiap enam bulan,” tutup Natalia dengan analogi yang sederhana tapi mengena.

Simak selengkapnya diskusi PODCAST RUMPITA di Kanal Spotify RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Father Complex: Relasi, Refleksi, dan Rindu

Jika ada satu kata untuk menggambarkan hubungan saya dengan Papa, maka kata itu adalah hangat. Sejak kecil, Papa hadir dengan cara yang dekat, penuh dukungan, dan membuat saya merasa aman. Bukan hanya saya, kakak dan adik saya pun akan mengatakan hal yang sama. Kami bertiga sungguh beruntung, karena punya seorang ayah yang hadir sepenuh hati di masa tumbuh kami.

Sulit untuk menunjuk satu momen yang paling berkesan, karena hampir di setiap fase hidup, Papa selalu ada. Beliau bukan tipe yang sempurna tanpa cela dan memang tidak ada manusia yang demikian. Namun, dalam diri Papa, saya menemukan figur ayah yang cukup. Cukup dalam arti memberi dukungan emosional, cukup dalam arti hadir di saat dibutuhkan, cukup dalam arti menjadi tempat pulang.

Dengan latar belakang psikologi, saya memahami istilah father complex atau kadang disebut juga daddy issues sebagai kondisi yang berakar dari hubungan sulit dengan figur ayah. Entah karena ayah terlalu dominan, dingin secara emosional, terlalu sering mengkritik, absen secara fisik, atau bahkan menyakiti. Meski tidak masuk dalam kategori resmi seperti DSM V atau ICD-10, dinamika ini nyata terlihat dalam kehidupan banyak orang.

Dampaknya bisa beragam, seperti: kesulitan mempercayai orang lain, sulit menjalin kedekatan emosional, atau kebutuhan besar akan validasi dari figur dominan. Ada juga yang kemudian membawa pola itu ke dalam relasi romantis atau relasi kerja dengan figur otoritas.

Dalam diri saya sendiri, tidak ada gejala yang terlalu menonjol. Namun, saya bisa mengenali adanya kebutuhan validasi tertentu dari figur otoritas. Sisi positifnya, hal ini membuat saya berusaha keras di sekolah dan kuliah. Pada akhirnya, nilai saya bagus, bahkan beberapa kali juara kelas. Tapi di sisi lain, diskusi dan perdebatan dengan Papa melatih saya untuk tidak menerima begitu saja otoritas apa pun. Bagi saya, sesuatu harus masuk akal dulu sebelum saya bisa menerimanya. Itu mungkin salah satu warisan paling berharga dari relasi kami.

Papa dan Mama berasal dari latar budaya berbeda, tetapi sama-sama tumbuh dalam nilai-nilai yang memberi tempat lebih bagi anak laki-laki ketimbang perempuan. Namun, dalam praktiknya mereka memilih untuk memperlakukan kami bertiga dengan setara. Pendidikan yang terbaik sesuai kemampuan dan minat diberikan, tanpa membedakan jenis kelamin. Itu keputusan yang sederhana, tetapi dampaknya besar dalam hidup saya.

Saat tumbuh, saya melihat figur ayah dalam budaya populer sering digambarkan sebagai kepala keluarga yang berwibawa, mencari nafkah, menegakkan aturan, membaca koran di beranda rumah, sementara urusan dapur dan anak diserahkan pada ibu. Gambarannya klasik, yaitu berpakaian safari, rokok, dan kopi buatan istri.

Kini, gambaran itu bergeser. Ayah-ayah masa kini lebih terlibat dalam pengasuhan anak, lebih hangat, lebih dekat secara emosional. Namun, di banyak keluarga, keputusan akhir tetap dianggap ranah ayah. Pergeseran peran ini menghadirkan dinamika baru, kadang juga konflik, tergantung konteks sosial dan budaya masing-masing.

Ada satu titik balik dalam relasi saya dengan orang tua, baik Papa maupun Mama, di mana saya mulai menyadari bahwa mereka manusia biasa. Waktu kecil, orang tua tampak seperti pahlawan super. Mereka seperti tak pernah lelah, selalu tahu jawaban, mampu mengatasi segalanya. Tapi seiring saya tumbuh, saya melihat mereka juga bisa salah, lelah, bahkan sakit.

Kesadaran itu menjadi tanda bahwa saya sedang beranjak dewasa. Saya belajar melihat mereka bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai manusia dengan keterbatasan. Dari situ, hubungan kami berubah. Dari relasi yang timpang menjadi relasi yang lebih setara, terutama ketika saya mulai dewasa.

Sekarang, ketika Papa sudah tiada, keinginan terbesar saya terhadap beliau hanya satu, yakni rindu. Saya merindukan kehadiran fisiknya, diskusi-diskusi panjang, perdebatan seru, atau sekadar menanyakan pendapat beliau tentang banyak hal.

Tahun-tahun terakhir hidupnya, hubungan kami semakin matang. Papa makin menghargai kemandirian saya dalam mengambil keputusan, dan saya merasa lebih dihargai sebagai individu dewasa. Meski demikian, di mata saya, saya akan selalu tetap menjadi putrinya.

Bagi saya, berbicara tentang father complex pada akhirnya adalah berbicara tentang dinamika relasi kuasa. Saat kita masih kecil, relasi dengan orang tua memang tidak seimbang. Mereka yang memutuskan, kita mengikuti. Tapi seiring anak bertumbuh, idealnya relasi itu bergeser menjadi lebih setara.

Tidak semua keluarga mengalami pergeseran ini dengan mulus. Kadang otoritas tetap ditekankan, kadang muncul konflik. Tetapi dalam pengalaman saya, pergeseran itu terjadi dengan wajar. Dan saya bersyukur bisa merasakannya bersama Papa.

Jika ada sahabat Ruanita yang membaca tulisan ini dan sedang mengalami konflik batin dengan ayahnya, saya ingin menyampaikan satu hal, setiap keluarga unik. Tidak ada pola tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang.

Kalau Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana hubungan dengan ayah mempengaruhi hidup saat ini, saya menyarankan melakukannya bersama tenaga profesional seperti psikoterapis atau konselor. Ada hal-hal yang bisa kita selesaikan sendiri, tetapi ada juga yang butuh pendampingan aman dari orang yang terlatih.

Bagi saya, menulis tentang father complex bukanlah tentang mencari kekurangan Papa, melainkan tentang menyadari betapa besar pengaruh relasi itu dalam membentuk siapa saya hari ini. Saya beruntung memiliki figur ayah yang hangat, mendukung, dan penuh kasih. Namun saya juga belajar melihatnya sebagai manusia dengan keterbatasan.

Pada akhirnya, apa yang tersisa kini adalah rindu. Dan mungkin, di dalam rindu itu, saya bisa merasakan kembali kehangatan yang pernah begitu nyata hadir dalam hidup saya.

Penulis: Nelden, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @neldendj.

(PODCAST PMI STORIES) Cerita Transformasi dari Asia ke Skandinavia

Podcast PMI Stories – Cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia episode kedua menghadirkan kisah Sari Wijayanti, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja selama sembilan tahun di Singapura dan kini menetap di Swedia setelah menikah dengan warga setempat. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura sekaligus host podcast, episode ini menggali perjalanan karier Sari, transisi hidup antarnegara, hingga proses membangun kehidupan baru di Eropa.

Sari memulai perjalanannya sebagai PMI di Singapura dengan alasan ekonomi. Ia menyadari kondisi finansial saat itu belum cukup memberikan rasa aman bagi dirinya dan kedua putranya. Di Singapura, Sari bekerja di sektor domestik dengan tanggung jawab sebagai nursery dan caregiver, mengasuh anak kecil sesuai dengan keterampilan yang ia miliki.

Tantangan terbesarnya adalah menghadapi anak-anak yang sedang tantrum atau sakit, yang mana situasi tersebut menuntut kesabaran, ketahanan emosi, dan profesionalitas tinggi. Namun, dukungan komunitas PMI yang aktif dengan kegiatan positif, serta support penuh dari orang tua yang menjaga anak-anaknya di Indonesia, menjadi fondasi kuat yang membuatnya mampu fokus bekerja dan berkembang.

Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa hidupnya akan membawanya pindah ke Eropa. Keputusan hijrah ke Swedia dilandasi kepercayaan pada pasangan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Proses pengurusan visa ikatan keluarga memakan waktu sekitar satu tahun, yakni masa tunggu yang cukup panjang dan penuh ketidakpastian.

Setibanya di Swedia, Sari menghadapi culture shock terbesar pada cuaca ekstrem empat musim, terutama musim dingin yang sangat berbeda dari iklim tropis Asia Tenggara. Tantangan berikutnya adalah bahasa Swedia, yang menjadi kunci penting integrasi sosial. Meski masyarakat Swedia fasih berbahasa Inggris, kemampuan bahasa lokal tetap dibutuhkan untuk benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, setelah 16 bulan menetap di Swedia, Sari menjalani kehidupan baru dengan bekerja paruh waktu di restoran sebagai waitress dan kasir, sembari mengikuti kelas bahasa Swedia secara daring sebagai persiapan mengikuti sekolah bahasa formal.

Ia menekankan bahwa di Swedia, kesetaraan gender sangat dijunjung tinggi, di mana perempuan didorong untuk mandiri dan berkontribusi melalui pekerjaan, termasuk dalam sistem pajak dan jaminan sosial yang mendukung kesejahteraan jangka panjang seperti dana pensiun.

Dalam refleksinya, Sari mengakui bahwa integrasi sosial di Swedia kini semakin menantang. Ia menyoroti adanya pergeseran sosial yang membuat pendatang harus lebih mandiri dan proaktif dalam belajar bahasa serta memahami budaya lokal.

Tantangan pengangguran dan kesenjangan sosial di kalangan migran turut menjadi isu yang memengaruhi proses integrasi. Meski demikian, dukungan pasangan dan komunikasi dengan komunitas Indonesia melalui grup daring menjadi penguat dalam proses adaptasinya.

Menutup perbincangan, Sari berbagi pesan mendalam bagi para PMI yang tengah membangun masa depan di luar negeri. Ia mengingatkan agar perjuangan tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai proses pembelajaran, seperti layaknya sekolah kehidupan. Mungkin suatu saat akan mencapai titik kelulusan.

Sari mendorong PMI untuk mempersiapkan mental, memahami budaya negara tujuan, dan menguasai bahasa sebelum memutuskan pindah, terutama dalam konteks pernikahan lintas negara. “Buatlah uang bekerja untuk kalian, bukan kalian yang terus bekerja untuk uang,” pesannya. Ia seperti menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan visi jangka panjang.

Cerita Sari Wijayanti menjadi potret transformasi identitas seorang PMI, dari pekerja domestik di Asia Tenggara hingga perempuan Indonesia yang tengah membangun babak baru kehidupan di Eropa. Episode ini tidak hanya menghadirkan cerita migrasi, tetapi juga refleksi tentang keberanian mengambil keputusan, adaptasi lintas budaya, dan makna perjuangan dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(WARGA MENULIS) 08.06.

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Suamiku sedang melahap sarapannya, sambil memeriksa e-mail dari laptop. Katanya, hari ini dia bisa masuk kantor agak siang, meski ada beberapa bahan meeting yang harus disiapkannya dari rumah. Minggu depan, ia harus kembali tugas ke Oslo, dan dilanjutkan dengan ekspedisi Barents Sea selama tiga minggu. Membayangkannya saja, aku sudah lelah. Hari-hari bertiga saja dengan anak-anak, sementara suamiku melanglang buana dengan pekerjaannya.

Ditulis oleh Aini Hanafiah di Norwegia.

(WARGA MENULIS) Penyesalanku

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Lawanku adalah anak dari suamiku. Ya, ternyata sudah punya anak remaja menjelang dewasa walaupun suamiku belum pernah menikah. Kejutan apalagi yang suamiku sembunyikan dariku? Mungkin karena mengenal karakter perempuan Indonesia (sebab ibunya anak itu ternyata orang Indonesia juga), yang lebih suka mendapatkan pasangan tanpa anak. Toh mereka tak pernah rutin berjumpa, suamiku tidak pernah terlibat sama sekali, karena mereka sudah memutuskan begitu barangkali, entahlah. Aku menjadi orang yang paling tidak tahu mengenai suamiku sendiri!

Ditulis oleh Alda Trisda di Belgia.

(WARGA MENULIS) Dua Identitas

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“Kenapa kamu tidak mengganti kewarganegaraanmu  seperti yang lainnya?” 

Seperti yang lainnya. Aku tahu maksudnya: mereka yang ingin lebih mudah.  Lebih aman. Lebih diterima. Lebih tidak dipertanyakan. Pertanyaannya terdengar praktis. Rasional. Seolah identitas  adalah pilihan karier. Seolah paspor hanyalah alat mobilitas,  bukan bagian dari sejarah tubuh. 

Aku menjawab dengan senyum yang sudah terlalu sering  kupakai untuk meredam ketegangan. “Belum perlu.”

Ditulis oleh Azizah di Austria.

(WARGA MENULIS) Koma

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Entah bagaimana kisah hidupnya, saat tidak ada orang yang melihat dia berubah menjadi seorang biadab. Ia gemar menyudutkan anak-anak perempuan di gang sempit, menyentuh, mengancam, dan membisikkan janji pembunuhan. “Jika kau berani bicara, aku pastikan kau mati.” Koma, Lira, dan gadis-gadis kecil lainnya diikat oleh benang merah ketakutan yang sama. Saling tahu, tapi tak ada yang bicara. Hanya keheningan yang mematikan. Sejak lahir, seolah ada jarum dan benang gaib yang disiapkan untuk menjahit mulut mereka sendiri. Menjahit mulut lebih mulia daripada membuat geger. Mereka diajarkan untuk menyimpan aib, bahkan jika aib itu bukan perbuatan mereka. Mendhem jero, simpan lukamu sampai membusuk di dalam perut.

Ditulis oleh Rena di Swiss.

(WARGA MENULIS) Þetta reddast

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Aku tertegun. Akhirnya datang juga, kekhawatiran yang aku kubur di lubuk hati terdalam sejak aku memutuskan untuk belajar dan berkarier menjadi guru Sekolah Dasar di Reykjavík, ibukota paling Utara di dunia. Ya. Aku. Orang Indonesia yang baru mulai belajar bahasa Islandia sejak sembilan tahun lalu, menjelang usia kepala 4. Bahasa Islandia. Salah satu bahasa tersulit di dunia. Kaya dengan infleksi. Setiap kata berubah sesuai dengan jenis, fungsi, gender, keterangan waktu dan berbagai aturan kompleks. Orang asli Islandia pun merasa sulit untuk menjelaskannya.

Ditulis oleh Tyas Nurhidayati di Islandia.

(WARGA MENULIS) Episode Madrid

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Kuingat  serunya perkenalan kami. Pertama aku salah mengucapkan namanya. Huruf “j” dibaca seperti huruh “kh”, dan kedua, awalnya aku pikir José Maria adalah nama perempuan. Hari itu aku jadi mengerti bahwa kalau perempuan maka akan bernama Maria José, bukan José Maria.  Terkait tema nama, kuingat juga Jóse tertawa mendengar namaku yang mirip dengan kata bahasa Spanyol: Ella, pronomina untuk orang ketiga, perempuan.

Belum sempat kuteruskan ingatan itu, dari belakang kurasakan ada sentuhan tangan di bahuku, dan sapaan pemuda  yang kutunggu: „Hello… Ella!.

Ditulis oleh Dyah Narang-Huth di Jerman.

(WARGA MENULIS) Dressing room self-talk

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“I am entitled to a good life. I am a strong believer that only good things happen to girls like me now. And I say that boldly and proudly every single morning in the mirror; I’m like, ‘Bad things like this don’t happen to girls like me!’ I believe that I am entitled to thrive in this country!”

Ditulis oleh Griska Gunara Keating di UK.

(WARGA MENULIS) Siapa Berpergian Hidup Dua Kali

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Saat dia pamit ke Italia, teman-temannya mengingatkannya untuk mengoleksi tas branded dan sering-sering berbelanja Prada, Dolce Gabbana, dan Armani supaya terlihat keren. Rina tertawa. Saat suaminya mendengar celoteh dengan brand yang familiar di telinganya, ia lalu menimpali dalam bahasa Inggris: “She can have all that, as long as she buys them with her own money. I will protect her, in decent way, but not in luxury,” ujarnya. 

Teman-teman Rina mana paham kata-kata Enzo itu, mereka hanya tertawa saja sambil saling mendorong-dorong satu dengan lainnya. Mereka pamitan, Rina tidak menangis. Nangis buat apa? ‘Kan dia yang meminta Tuhan supaya keluar dari Jakarta. Ia gembira saja. Hatinya tak merasa nestapa atau kekurangan apa-apa.

Ditulis oleh Rieska Wulandari di Italia.

(WARGA MENULIS) Pisau

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Perempuan itu menyuruhku untuk menggenggam pisau itu di tanganku. Aku lakukan dengan mudah, walau berisik sekali kepalaku saat aku melakukan permintaannya itu. Dia meletakkan tangannya di atas meja dan berkata, “Sekarang saya mau Anda, masih sambil menggenggam pisau itu, menaruh pisau ini tepat di samping jari-jari saya”.

Ditulis oleh Mariska Ajeng Harini di Jerman.

(WARGA MENULIS) Prinsip 3T dari Sudut Kafetaria

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Bunga datang ke Barcelona bukan sekadar ikut suami, tetapi membawa mimpi besar. Dia ingin membangun usaha pariwisata yang menjembatani wisatawan dengan budaya lokal. Namun ia  sadar, mimpi itu tidak akan tumbuh tanpa perjuangan. Seiring berjalannya waktu, Bunga mengikuti kata hatinya. Baginya, tidak ada pilihan lain selain  “menghajar diri sendiri” untuk terus maju dan terus bertumbuh.

Ditulis oleh Tyka Karunia di Spanyol.