(IG LIVE) Memahami ADHD Lebih dari Sekadar “Tidak Bisa Fokus”: Ketika Dukungan dan Apresiasi Menjadi Kunci

Dalam rangka memperingati International ADHD Awareness Day yang diperingati setiap 13 Juli, Ruanita Indonesia kembali menghadirkan ruang diskusi digital melalui program Instagram Live. Diskusi ini mengajak masyarakat untuk memahami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) secara lebih utuh, baik dari perspektif profesional maupun pengalaman langsung keluarga yang mendampingi anak dengan ADHD.

Diskusi yang berlangsung selama sekitar 30–40 menit tersebut menghadirkan Lovely Christy Zega, seorang psikolog klinis yang tinggal di Jerman, serta Lena, seorang ibu yang memiliki anak dengan ADHD dan saat ini tinggal di Austria. Keduanya berbagi perspektif mengenai ADHD, mulai dari tantangan mengenali gejala, proses mendapatkan dukungan profesional, hingga pentingnya membangun lingkungan yang menerima dan mendukung individu neurodivergen.

Dalam diskusi tersebut, Lovely menjelaskan bahwa ADHD kerap dipahami secara terlalu sederhana. Banyak orang langsung mengaitkan ADHD dengan anak yang aktif atau sulit diam. Padahal, ADHD memiliki spektrum gejala yang lebih luas, termasuk kesulitan dalam mempertahankan perhatian, impulsivitas, serta tantangan dalam mengelola berbagai aktivitas sehari-hari.

Salah satu tantangan terbesar adalah membedakan ADHD dari kondisi lain yang juga dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan menyelesaikan tugas. Kesulitan fokus, misalnya, juga dapat muncul ketika seseorang mengalami depresi atau berada dalam kondisi psikologis tertentu. Perbedaannya, ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental yang berlangsung secara menetap dan dapat memengaruhi kehidupan seseorang dalam jangka panjang.

Seseorang dengan ADHD mungkin memiliki kemampuan intelektual yang baik, bahkan mampu berprestasi dan memiliki kompetensi tinggi di bidang tertentu. Namun, untuk menyelesaikan tugas yang bagi orang lain terasa sederhana, mereka bisa membutuhkan energi, waktu, dan usaha yang jauh lebih besar.

Tantangan tersebut juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin memiliki banyak minat dan ide, tetapi kesulitan menyelesaikan satu tugas hingga tuntas. Di sisi lain, ketika berhadapan dengan hal yang benar-benar diminati, seseorang dengan ADHD bahkan dapat mengalami hyperfocus, fokus yang sangat intens terhadap sesuatu yang menarik perhatian mereka.

Pengalaman Lena sebagai seorang ibu menunjukkan bahwa proses mengenali ADHD tidak selalu mudah. Pada awalnya, ia lebih memperhatikan sensitivitas anaknya terhadap suara dan lingkungan sekitar dibandingkan tingkat aktivitasnya.

Follow us

Menurut Lena, anak-anak pada umumnya memang aktif. Karena itu, anak yang banyak bergerak tidak serta-merta dapat disebut mengalami ADHD. Dalam pengalaman keluarganya, tantangan menjadi lebih terlihat ketika anak harus berhadapan dengan situasi yang menuntutnya untuk duduk, berkonsentrasi, dan menyelesaikan tugas yang tidak menarik baginya.

Sebelumnya, anak Lena mengikuti lingkungan belajar yang sangat fleksibel dan berpusat pada anak. Ia dapat belajar melalui permainan, memilih aktivitas yang sesuai dengan minatnya, serta mendapatkan dukungan terhadap kebutuhan sensoriknya. Dalam lingkungan seperti itu, tidak tampak masalah besar. Namun, ketika memasuki jenjang pendidikan yang menuntut lebih banyak struktur, tantangan mulai muncul. Anak Lena mengalami kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang sebenarnya mampu ia kerjakan. Situasi tersebut kemudian menimbulkan frustrasi, baik bagi sang anak maupun ibunya.

“Dia tahu bahwa dia bisa melakukannya, tetapi dia tidak bisa menyelesaikan tugas yang sebenarnya sederhana,” menjadi salah satu pengalaman yang menggambarkan tantangan tersebut.

Bagi Lena, situasi itu tidak hanya melelahkan secara praktis, tetapi juga emosional. Ia melihat anaknya merasa takut dan bingung karena tidak mampu menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya ia pahami. Dari sinilah komunikasi dengan sekolah menjadi sangat penting. Lena berdiskusi dengan guru untuk memahami apa yang terjadi dan mencari bentuk dukungan yang sesuai. Sekolah kemudian mendorongnya untuk mencari bantuan profesional dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam diskusi, Lovely menjelaskan bahwa proses mengenali dan mendiagnosis ADHD tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk riwayat perkembangan, kondisi psikologis, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Karena itu, prosesnya dapat melibatkan berbagai profesional. Pemeriksaan medis dan diagnosis dapat melibatkan dokter atau neurolog, sementara dukungan psikologis dan terapi dapat diberikan oleh psikolog sesuai kebutuhan individu.

Penanganan ADHD juga tidak dapat disamaratakan. Kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan terapi, ada yang memerlukan dukungan medis, dan ada pula yang sangat terbantu oleh perubahan lingkungan. Dalam konteks anak, lingkungan sekolah dan keluarga memiliki peran besar. Dukungan sederhana, seperti memberikan ruang belajar yang lebih sesuai, mengurangi distraksi suara, menyediakan waktu tambahan, atau menyesuaikan cara belajar, dapat memberikan dampak yang besar.

Ketika ditanya mengenai berapa lama terapi ADHD perlu dilakukan, Lovely menekankan bahwa tidak ada jawaban tunggal. Durasi dan bentuk dukungan sangat bergantung pada kondisi individu serta lingkungan tempat ia berada. Lingkungan yang mendukung dapat membantu seseorang mengembangkan strategi untuk mengelola tantangan ADHD. Sebaliknya, lingkungan yang tidak memahami kebutuhan neurodivergen dapat membuat tantangan menjadi semakin berat. Dengan demikian, dukungan tidak hanya berfokus pada individu dengan ADHD. Keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat juga perlu mendapatkan pemahaman yang memadai.

Bagi Lena, salah satu bentuk dukungan terbesar yang dapat diberikan kepada anak dengan ADHD adalah apresiasi. Anak-anak neurodivergen sering kali menerima lebih banyak koreksi, label, dan kritik dibandingkan apresiasi. Mereka mungkin lebih sering mendengar bahwa dirinya “nakal”, “tidak bisa diatur”, “malas”, atau “tidak berusaha cukup keras”. Padahal, banyak hal yang tampak sederhana bagi orang lain dapat membutuhkan usaha yang sangat besar bagi seseorang dengan ADHD.

Karena itu, orang tua perlu melihat anak sebagai manusia secara utuh, bukan hanya berdasarkan apa yang mampu atau tidak mampu mereka lakukan. Apresiasi tidak harus selalu menunggu pencapaian besar. Usaha kecil, keberanian mencoba, kemampuan bertahan, dan proses belajar juga layak dihargai. Ketika seorang anak hanya menerima apresiasi setelah mencapai sesuatu, ia dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya berharga ketika berhasil. Sebaliknya, apresiasi yang konsisten dapat membantu anak mengenali kekuatan dan potensinya.

Diskusi Ruanita Indonesia ini juga menjadi pengingat bahwa ADHD bukanlah sebuah label untuk menentukan nilai seseorang. Memiliki ADHD tidak berarti seseorang tidak cerdas, tidak mampu berprestasi, atau tidak memiliki masa depan. Banyak individu dengan ADHD memiliki kemampuan, kreativitas, minat, dan keunggulan yang kuat di bidang tertentu. Yang dibutuhkan adalah pemahaman terhadap cara kerja mereka, dukungan yang tepat, serta lingkungan yang tidak buru-buru menghakimi.

Mengenali ADHD dengan lebih baik berarti memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan. Dengan memperluas pengetahuan dan mengurangi stigma, masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi individu neurodivergen untuk berkembang. Melalui ruang diskusi seperti Instagram Live, Ruanita Indonesia terus menghadirkan percakapan penting mengenai kesehatan mental, pengalaman hidup diaspora, serta isu-isu yang relevan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT) Saya Menemukan Diriku: Perjalanan Menyadari ADHD di Usia Dewasa

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Rieska dan seorang jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia. Pada 2022, hidup saya berubah drastis setelah mengalami kecelakaan saat bermain ski. Awalnya dokter mengatakan tidak ada patah tulang, tapi rasa nyeri yang luar biasa membuat saya mengalami insomnia dan kesulitan bergerak. 

Saya harus menjalani perawatan intensif, suntik dua kali sehari selama sebulan, terapi gelombang ultrasonik 12 jam sehari selama dua minggu, dan terapi penggeseran posisi tulang. Di bulan kedua, barulah bisa diketahui bahwa dua otot kaki saya putus, menjelaskan sakit yang begitu luar biasa itu.

Selama masa pemulihan, saya mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca buku, menulis, menonton dokumenter, dan berdiskusi dengan teman lewat media sosial. Namun, seiring waktu, saya mulai menyadari hal-hal yang aneh terjadi dalam diri saya seperti: saya kesulitan memahami konsep waktu. Selain itu, emosi saya naik turun tanpa alasan jelas. Saya juga merasa otak terasa kabur (brain fog), bahkan sulit mengingat nama teman atau nama  kolega yang baru. Setiap malam, saya mendapay mimpi saya begitu vivid dan bertumpuk, kadang seperti film Inception atau pengalaman keluar dari tubuh, sehingga saat bangun alih-alih segar, saya malah tambah lelah.

Meski demikian, saya menikmati keindahan membaca 3–4 buku sejarah dalam dua minggu hanya untuk menyelesaikan satu atau dua tulisan. Menariknya, kalau sudah terpaku pada buku, saya bisa lupa makan dan minum meski kaki saya nyeri luar biasa. Saya sering bangun tengah malam untuk minum 5–7 gelas air tapi tetap merasa haus, dan ini membuat saya bolak-balik ke kamar mandi, menambah sulit tidur dan rasa sakit.

Kondisi ini menghantam saya secara mental, fisik, bahkan hampir secara seksual, karena rasa sakit berlangsung berbulan-bulan. Hal yang bisa saya nikmati hanyalah kepuasan spiritual, intelektual, dan finansial: menulis semua yang saya rasakan, mencatat kronologi sakit, dan tetap bekerja menulis laporan berita.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mempertanyakan semua gejala ini, yakni haus berlebihan, kehilangan ingatan, brain fog, sulit fokus tapi kadang hyperfocus, emosi ekstrem, hingga disorientasi, mengalami mental paralyze dan bahkan semacam seizure saat emosi tak dapat dikendalikan. Karena penasaran, saya mengikuti beberapa tes online dan menemukan fakta mengejutkan: saya mengalami ADHD berat.

Saya berseru: Eureka! Semua anomali hidup saya ternyata memiliki jawaban. Saya tidak gila. Psikologi dan neurologi memberikan penjelasan yang sangat masuk akal.

Follow us

Sejak itu, saya mulai fokus pada cara alami meningkatkan dopamin: supaya bisa tidur tenang, saya paksakan olahraga meski rasa sakit tak terhingga, saya seleksi makanan dengan menu khusus yang dapat memicu produksi dopamin, sederhana tapi esensial seperti biji-bijian, kacang mede, ati ayam, daging dan berbagai macam ikan. Saya hanya makan karbohidrat saat makan siang, pagi dan malam saya cukup puas dengan makan buah dan sayur. 

Meski selama sakit, sehari-hari saya hanya berbaring, sebagai jurnalis, saya disiplinkan diri mencatat semua kegiatan harian untuk melihat apakah terapi yang saya buat, bisa memberikan perubahan. Terapi perbaikan posisi tulang memungkinkan saya untuk mulai melakukan olahraga sepeda statis. 

Perlahan tapi pasti, seiring dengan meningkatnya suplai dopamin dalam tubuh, saya mulai bisa mengontrol emosi, meningkatkan kemampuan memori, kabut otak mulai hilang, tidur mulai nyaman karena rasa haus tak lagi menyerang. Dugaan saya, rasa haus yang berlebihan pada penderita ADHD adalah salah satu sinyal yang diberikan tubuh, sebagai indikasi krisis dopamin pada otak akibat rasa sakit yang sangat dan insomnia yang kronik. 

Penemuan ini saya sampaikan kepada dokter, mereka terkesima karena saya bisa dengan jelas menuturkan dan menjelaskan proses penemuan saya, bagaimana saya mencoba bangkit dan mengatasi masalah ini secara natural dan disiplin mencatat semua perkembangannya. 

Dokter berkata bahwa ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mengatasi ADHD dan dia juga memuji saya untuk tetap solid, menjadi pribadi yang sepenuhnya memiliki kedaulatan pada kebutuhan dasar dan keluar dari krisis dengan cara paling instingtif tapi sekaligus intelek.

Pendapat dokter ini didengar juga oleh suami yang hadir mendampingi. Dokter memuji saya sebagai pasien yang benar-benar komit mencari penyembuhan yang konkrit, tak sekedar mencari solusi dari segi fisik, tapi juga mental, intelektual  dan spiritual. 

Mendengar itu, suami mendukung penuh. Keluarga besar dan anak-anak kami beri tahu bahwa orang dengan ADHD tidak akan berfungsi penuh di pagi hari, karena ADHD memiliki gen pemburu yang aktif di malam hari, oleh karena itu, di pagi hari, suami mengambil alih situasi.

Ia menyiapkan sarapan dan mengantar anak. Saya mulai menjalankan fungsi sebagai istri, setelah suami dan anak-anak keluar dari rumah. Saya membagi waktu, yaitu pekerjaan intelektual siang hari, aktivitas fisik seperti beberes dan olahraga di malam hari setelah semua tugas rutin dan makan malam selesai. Saya juga mengambil keanggotaan pusat kebugaran untuk jam malam, menyesuaikan ritme tubuh saya dan ternyata tarifnya lebih ekonomis.

Saya cukup beruntung, kini saya dikelilingi orang-orang yang tepat. Saya memiliki tim kerja dan sahabat dekat yang sangat mendukung dalam hal membantu disiplin saya, menyesuaikan jadwal pekerjaan dan pertemuan, sehingga saya bisa tetap produktif tanpa stres.

Sementara itu, saya semakin sering menemukan orang dengan symptom ADHD dan saya langsung bisa mengenali “frekuensi” nya sehingga kami menjadi satu koneksi yang solid dan saya sebut “ADHD Soultribe”. Saya kerap menjadi rujukan bagi teman dan orang tua murid yang menghadapi situasi serupa.

Pelajaran terpenting: ADHD bukan penyakit. Ini adalah kondisi otak yang berbeda atau disebut neurodivergent, cara kerjanya unik, tak sama dengan otak kebanyakan atau neurotypical. 

Kelemahannya yang paling distingtif: Otak ADHD memproduksi dopamin lebih rendah, jadi gaya hidup dan lingkungan yang mendukung sangatlah penting. Kelebihan lain, ADHD  memiliki empati tinggi, kemampuan hyperfocus, dan potensi jenius yang harus dilindungi dari orang abusif (toxic).

Sahabat Ruanita, ini pesan untuk perempuan lain. Pertama, saya berpendapat bahwa ADHD adalah anugerah, bukan kelemahan. Segera juga lindungi diri dari orang yang toksik atau manipulatif. Ketiga, menurut saya, pentingnya untuk mencari lingkungan yang juga ADHD dan teman yang mendukung. Terakhir, saya pikir adalah disiplin diri sebagai kunci untuk thrive.

Seandainya saya tahu sejak dulu, mungkin saya bisa lebih cepat menemukan perlindungan dan lingkungan yang tepat. Namun, sekarang saya bersyukur. Saya merasa hidup ini indah, layak diperjuangkan. Saya bukan produk gagal, melainkan saya adalah produk langka.

Terima kasih, hidup telah mengajarkan saya untuk bangga menjadi diri sendiri.

Penulis: Rieska, jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia dan dapat dikontak via akun instagram ri3ska.