Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.
Nama: Seruni Petersen
Nama akun media sosial:
Facebook: Seruni Petersen
Instagram: @Lombok.indonesiskmad
Nama usaha: Mofomofa Lombok.Indonesiskmad (Rumah Indonesia)
Domisili negara: Denmark
Lama berwirausaha: 2014
Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!
Sosok Kartini, gambaran sosok pejuang perempuan yang selalu tidak pernah berhenti untuk menginspirasi perempuan untuk selalu tidak lupa dengan kultur & budaya. Tidak pantang menyerah dan menuntut ilmu agar bisa mandiri. Berani menyuarakan kebenaran akan hak hak perempuan.
Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?
Welas asih, memperjuangkan hak-hak perempuan dan berkarya untuk membantu ekonomi serta menjadi solusi terhadap masalah yang ada. Plus maju lebih positif!
Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?
Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.
Nama: Dewi Damanik Nielsen
Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube)
Nama usaha Married in Denmark dan Dewi Nielsen Photography
Domisili negara Denmark
Lama berwirausaha 5 tahun
Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!
Sosok Kartini di mata saya sewaktu saya masih di Indonesia adalah perempuan dan pahlawan nasional yang memperjuangkan kesetaraan dan kesamaan kelas sosial. Sosok yang tekun belajar di usia mudanya demi memperjuangkan cita-cita dan mimpi-mimpinya. Sosok Kartini kini yang tidak lepas dari perempuan yang kuat, inspiratif, dan berdedikasi bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk sekitarnya.
Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?
Sosok Kartini masa kini: Perempuan yang multiperan, bisa merangkap IRT/ Karyawan Kantor, IRT/Politikus, Single Woman/CEO perusahaan, IRT/Perawat/Photographer, IRT/Tentara. Perempuan masa kini adalah perempuan yang tangguh yang bisa mengambil keputusan buat dirinya sendiri. Sosok kreatif yang tidak terhalangi oleh gender semata dan berpacu untuk melakukan sesuatu dan berdampak buat lingkungan dan orang disekitar. Wanita saat ini berani berkarya dan mengembangkan diri dan potensi diri setinggi-tingginya dan terbukti dengan hadirnya banyak perempuan berpendidikan tinggi, politikus -politikus perempuan di ranah politik dan pemimpin organisasi dan perusahaan di bumi pertiwi.
Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?
Pesan untuk perempuan WNI yang mau berusaha di luar Indonesia: Jangan takut untuk memulai usaha.
Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.
Nama: Yanti
Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube)
Facebook: Yanti Contiffy
Instagram: Contiffy
Nama usaha: Bali Shanti Massage Praxis
Domisili negara Jerman
Lama berwirausaha 9 Tahun
Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!
Kartini adalah perempuan berasal dari Jawa yang berstatus sosial tinggi dan mengenyam pendidikan sekolah. Sesuatu hal yang pada saat itu merupakan luar biasa. Kesedihannya adalah Kartini melihat kaumnya, terutama dari golongan status rendah tak mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria. Oleh karena itu beliau memperjuangkan hak-hak perempuan. Saya ingat perayaan-perayaan Hari Kartini di sekolah dengan perlombaan dan berkebaya.
Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?
Kartini masa kini adalah perempuan yang mandiri, tahu apa yang diinginkan dan berjuang mewujudkannya.
Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?
Jika sudah memiliki ide yang matang, rajin mencari informasi dan peluang serta siap bekerja keras.
Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.
Nama: Dyah Sri Ayoe Rachmayani Narang-Huth
Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube)
Facebook: Dyah Narang-Huth, IKAT-Indonesisches Kultur Agentur Team
Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!
Untuk saya pribadi, sejak dulu maupun sekarang saya tidak menyukai “penganakemasan” sosok Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Saya lebih ingin merayakan Hari Pahlawan Perempuan ketimbang Hari Kartini. Apalagi kalau perayaannya lomba pakai kebaya, lomba masak, lomba peragaan busana. Karena itu sebenarnya, saya segan ikut “merayakan” Hari Kartini. Semoga suatu saat ada hari yang ditujukan untuk memperingati pahlawan perempuan Indonesia.
Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?
Pesan saya untuk yang ingin membuka usaha: pada dasarnya orang Indonesia itu sangat kreatif dalam membuka usaha. Sejak kecil hingga dewasa, sampai sosok sebagai “Mamapreneur” itu bisa dijalankan. Hal ini didukung juga dengan sistim bisnis kekeluargaan antar teman. Jadi untuk orang di luar Indonesia, lingkaran bisnis sering kuamati lingkarannya “tertutup” dari kita untuk kita tanpa legalitas usaha. Karena itu pesanku, kalau sudah coba punya ide usaha bisnis yang diujicobakan, baiknya cari tahu bagaimana cara pengukuhannya secara hukum di negara domisili, karena dengan status tersebut juga bisa mendapatkan banyak manfaat sebagai wirausahawan, satu di antara manfaatnya adalah pemanfaatan bantuan yang ditawarkan oleh negara domisili tempat berwirausaha.
Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.
Nama: Aryani Willems
Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube)
Instagram: umamidori
Nama usaha: Women Circle dan Energy Healer
Domisili negara: Jerman
Lama berwirausaha 14 Tahun (sejak 2004)
Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!
Menurut saya banyak sekali sosok wanita kuat, selain Kartini. Kini saatnya kita menambah nama selain Kartini. Yang saya ingat kalau acara Kartini-an, kita berkebaya dan bersanggul.
Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?
Sosok “Kartini” yang sekarang adalah mereka menyuarakan suara yang kita miliki, memakai akses talenta dengan sepenuhnya dan tidak pernah berhenti belajar.
Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?
Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.
NamaPemilik: Iis Bierbooms
Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube)
Facebook: Pivo Dirvos
Youtube: Pivo Dirvos Holland
Nama usaha Raden Ayis (Akupuntur)
Domisili negara Belanda
Lama berwirausaha Lebih dari 10 tahun
Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!
Saya masih teringat kalimat “Habis Manis Terbitlah Terang” dan bahwa segala sesuatu yang kita inginkan harus dengan pembelajaran, teori dan praktik sehingga kita, sebagai perempuan, bisa menjalani kehidupan dalam situasi apapun.
Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?
Menurut saya, sosok “Kartini” sekarang lebih banyak pada kesempatan untuk berkarya, mencurahkan ide dan pikiran.
Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?
Saya berpesan bahwa jangan ada kata gengsi dan malu untuk memulai usaha, manfaatkan peluang usaha melalui media sosial, jalin networking dengan orang-orang yang memang sesuai dengan bidang usaha yang kita jalani. Cari informasi sebanyak mungkin!
Umur adalah rahasia Ilahi. Siapa sangka perpisahanku dengan keluargaku saat beberapa tahun lalu menjadi waktu perpisahan selamanya dengan ayahku. Boleh dibilang aku benar-benar tak pernah menyangka bahwa ayahku begitu cepat pergi meninggalkan kami semua. Ayahku tak pernah berpesan apapun jika dia suatu saat tiada. Dia adalah orang yang optimis terhadap masa depan.
Beberapa hari sebelum dia dirawat di rumah sakit terakhir kalinya, aku mengobrol lama dengan ayahku. Kami membicarakan semua impian masa depan. Ia tak membicarakan sakitnya. Dia menceritakan tentang mimpi-mimpinya untukku dan kedua adikku.
Sebagai anak perempuan, aku begitu dekat dengan ayahku. Aku banyak meminta pendapat ayahku tentang berbagai hal. Dia punya banyak wawasan, meski dia tidak moderen. Dia tak tahu bagaimana mengoperasikan kecanggihan benda berteknologi, tetapi anehnya pemikirannya kerap dijadikan acuan banyak tokoh. Dia seorang pemikir dan kritikus.
Aku benar-benar kehilangan ayahku. Sejak kecil, dia memerhatikan aku agar aku tumbuh sukses dan menjadi perempuan cerdas. Dia mengajariku banyak hal, seperti pekerjaan kantor meski usiaku saat itu masih Teenager. Ayahku membuka perusahaan dagang (PD) di mana kerap aku belajar mengelola usaha atau membantu ayahku memecahkan masalah buat karyawan-karyawan ayahku. Ayahku mengajariku bermental kuat dan berani terhadap tantangan hidup. Aku benar-benar belajar banyak dari ayahku.
Saat ayahku koma di rumah sakit, aku masih tak berfirasat buruk tentangnya. Aku malahan berpikir memindahkan kamar ayahku dari lantai atas ke lantai bawah dan menyediakan perawat untuknya. Meski aku tak tinggal di Indonesia bersamanya, komunikasiku dengan ayahku begitu intens setiap saat.
Aku tak pernah lupa selalu mengakhiri percakapan telepon atau pesan WhatsApp dengan ucapan kalimat sayang padanya. Umurku sudah dewasa, tetapi aku masih terbiasa dipeluk dan mencium pipi ayahku. Ini sama seperti aku melakukannya pada ibuku.
Tiga hari sebelum ayahku wafat, dia datang dalam mimpiku yang akan aku simpan dan kenang sebagai saat terakhirku dengannya. Jalan hidup manusia memang terbatas, Tuhan telah memanggil ayahku. Namun kenanganku pada ayahku tak terbatas. Aku masih merindukannya.
Saat aku merindukannya, kuambil waktuku dengan berdoa. Kini jarak komunikasiku dengan ayahku bukan lagi sejauh Jerman – Indonesia, melainkan sejauh doa.
Episode kedua Podcast kali ini membahas bagaimana mencari teman saat di mancanegara. Sebagaimana diketahui, Fadni dan Nadia adalah mahasiswa yang sedang studi program Pascasarjana di Jerman. Tentu tak mudah untuk mencari teman baru di lingkungan asing dengan bahasa dan budaya yang berbeda. Pencarian teman dimulai dengan mencari teman dari satu negara, satu kota asal hingga satu kamar kos.
Perjalanan Fadni dan Nadia dalam mencari teman berawal dari menyeleksi pertemanan agar mereka tetap fokus terhadap diri sendiri yakni tanggung jawab sebagai pelajar. Bahwa tak melulu teman akan menjadi lawan, tetapi bagaimana teman yang mendukung di saat susah dan senang selama di rantau bukan perkara mudah.
Bagaimana perjalanan Fadni dan Nadia tersebut dalam mencari teman? Apa kita perlu berhati-hati berkenalan dan membangun pertemanan, meski kita sama-sama berasal dari Indonesia?
Sahabat Ruanita, aku tinggal di benua biru sejak 2016. Awalnya aku tinggal di Eropa untuk melanjutkan studi S2. Selesai studi, aku putuskan untuk bertahan di sini dengan berbagai pertimbangan. Beruntungnya aku segera mendapatkan kesempatan kerja. Namun, aku tak merasa beruntung dengan perjalanan cintaku.
Awal perjalanan cintaku dimulai dari “cinta monyet” sejak aku duduk di bangku SMP. Namun semenjak SMA, ketertarikanku terhadap lawan jenis sudah mulai semakin serius. Beberapa kali aku menjalin hubungan serius berpacaran selama SMA. Rupanya hubungan-hubungan tersebut terjalin tidak begitu lama, antara 1 sampai 6 bulan saja.
Menginjak masa kuliah aku mempunyai hubungan pacaran yang terbilang cukup lama, kurang lebih selama 9 tahun. Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut karena aku menilai ini adalah hubungan yang tidak sehat. Aku pun kemudian berangkat ke Eropa untuk studi lanjutan. Sejak masa SMA sampai akhir hubungan 9 tahun tersebut, percaya atau tidak, aku tidak pernah menjadi single (atau hidup tanpa pasangan) lebih dari beberapa hari.
Awal hubungan berpacaranku di Eropa dapat dikatakan cukup unik. Aku mengenal A sudah sejak ketika aku masih berada di Indonesia. A berasal dari Pakistan. Pada saat itu dia sedang melanjutkan studinya di salah satu negara di Eropa. Aku “bertemu” A melalui jejaring online Yahoo Messenger dalam suatu forum. Selama perkenalanku dengan A, aku sering menceritakan hal-hal yang terjadi dalam kehidupanku. Tak terkecuali mengenai apa yang terjadi dalam hubunganku dengan pacar-pacarku di Indonesia. Dia pulalah yang menyarankanku untuk melanjutkan studi di Eropa dengan pertimbangan yang rasional tentunya.
Setiba di Eropa, aku hanya bertemu dengannya beberapa kali saja karena dia tinggal di kota yang berbeda dan juga cukup jauh dari kota di mana aku tinggal. Hubunganku dengan A berakhir karena dia memutuskan untuk menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya. Bahkan sebelum hubungan kami berakhir pun, A sudah sering memberitahu bahwa hubungan kami tidak akan sampai ke jenjang pernikahan.
Lepas dari A, aku berpacaran dengan B yang juga berasal dari Afghanistan. Dia bekerja di salah satu perusahaan besar di kota tempatku tinggal. Pada awalnya aku berpikir, mungkin dengan B, aku akan mendapatkan kenyamanan karena dia mempunyai agama yang sama denganku apalagi dia merupakan pekerja migran. Dengan latar belakang tersebut, aku pikir, dia mempunyai resiliensi dan etos kerja yang bagus. Namun sayang, aku harus mengakhiri hubunganku setelah 3 bulan berpacaran karena terjadi kekerasan baik fisik, verbal maupun mental terhadapku. Keputusanku ini aku ambil atas saran dari seorang teman dekat kala itu.
Beberapa saat kemudian aku mulai dekat dengan C. C berasal dari kota di mana aku tinggal di Eropa. Dia lebih muda 6 tahun dariku. Aku merupakan pacar pertama C. Hubunganku dengan C bertahan selama kurang lebih 1 tahun sampai pada akhirnya aku merasa bahwa perbedaan usia, pengalaman, pandangan hidup dan agama menjadi penghambat hubungan kami di masa mendatang. Sebelum benar-benar mengakhiri hubunganku dengan C, aku sudah terlebih dahulu dekat dengan D yang aku kenal lewat aplikasi jejaring mahasiswa. Dia juga memberiku support mental ketika aku memutuskan hubunganku dengan C.
Hubunganku dengan D menjadi semakin serius dan kami sudah merencanakan berbagai macam kegiatan dan hal yang dapat kami lakukan bersama di masa mendatang. Kami juga bahkan sudah membicarakan mengenai agama dan pernikahan. Namun rencana tinggallah rencana. D memutuskan untuk pindah ke negara lain karena pekerjaan. Bagiku memutuskan untuk pindah negara lain bersama D merupakan hal yang besar dan kompleks, tidak semudah D yang berkewarganegaraan Eropa. Aku putuskan untuk tinggal dan hubungan kami pun semakin renggang. Namun begitu, hubunganku dengan D masih terbilang sangat baik hingga sekarang.
Setelah kepindahan D ke negara lain, hubungan kami yang semakin renggang pun menjadi celah sehingga ada orang lain singgah di hidupku. Ada beberapa orang, namun tidak sampai menjalin hubungan. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan E, di salah satu klinik kesehatan mental di kota tempatku tinggal. Kami sama-sama merupakan pasien rawat jalan di sana. E kebetulan juga mempunyai masalah mental sepertiku. Kami tidak sampai pada tahap berpacaran karena aku pikir, aku butuh waktu untuk mengenal kepribadiannya lebih dekat dan lebih dalam. Aku tidak mau terburu-buru mengambil keputusan seperti yang sering atau selalu aku lakukan sebelumnya. Kedekatanku dengan E berakhir setelah 6 bulan karena ada beberapa sikap dan hal-hal yang dilakukan E, entah sadar atau tidak, memancing trauma masa laluku.
Aku merasa bahagia ketika aku dapat menjalin hubungan dengan seseorang yang dapat mengerti aku, menerima aku dan masa laluku, dan dapat memberiku rasa aman dan nyaman. Tidak semua orang dapat menerima masa laluku yang tidak biasa untuk kebanyakan orang. Butuh orang yang cukup berpikiran terbuka untuk dapat menerimaku seutuhnya. Terlebih lagi jika seseorang tersebut dapat memberikan rasa aman dan nyaman, apalagi aku ada orang yang asertif. Aku berani menyatakan pendapat atau ketidaksetujuanku pada pasanganku.
Aku merasa hubungan yang terkesan dipaksakan, tersiksa lahir dan batin merupakan hubungan yang menyakitkan bagiku. Selama berpacaran di Eropa, aku juga berpacaran dengan orang dengan kondisi psikisnya tidak stabil. Itu sungguh membuatku sangat sengsara. Terlebih lagi dengan kondisi mentalku sendiri yang juga belum stabil. Menghadapi orang tersebut, aku harus berpikir seribu kali jika aku mau melakukan sesuatu atau mau mengutarakan pendapatku. Aku harus serba berhati-hati agar dia tidak merasa tertekan dan memancing emosinya. Ini sungguh sangat menyiksa ketika aku sendiri pada akhirnya merasa tertekan dan tidak merasa nyaman lagi dalam hubungan tersebut. Di sisi lain, ada beberapa perilaku mantan pacarku yang disebabkan oleh keadaan psikisnya yang secara tidak sadar memantik trauma masa laluku.
Ada ketakutan tersendiri jikalau aku akan menjadi sendiri selama hidupku tanpa ada seseorang untuk saling berbagi perasaan, pengalaman dan keluh kesah sehingga keinginanku untuk mempunyai pasangan sangat besar. Ada pula perasaan kehampaan dalam hati yang bahkan tidak dapat terobati dengan berkomunikasi dengan keluarga ataupun sahabat dekat. Namun, aku juga sadar perasaan-perasaan inilah yang mendorong aku untuk secepatnya mempunyai pasangan baru setelah putus dari hubungan yang lalu tanpa mengenal orang tersebut lebih dalam sehingga hubungan pacaran pun tidak dapat bertahan lama karena berbagai ketidakcocokan karakter dan perbedaan ekspektasi dan kenyataan yang muncul belakangan.
Bisa dibilang, aku tidak mempunyai role model bagaimana sebuah hubungan yang sehat itu dari keluargaku, baik keluarga inti maupun keluarga besar. Ada sih beberapa tapi sebagian besar malah sebaliknya. Bahkan hubungan orang tuaku sendiri tergolong tidak harmonis. Sewaktu aku masih tinggal dengan mereka, sering kali aku mendapati orang tuaku „perang dingin“. Namun akulah yang menjadi „sasaran“ mereka.
Secara bergantian mereka „mengadu“ padaku keburukan pasangannya tanpa menyelesaikannya dengan memperbaiki komunikasi satu sama lain. Sewaktu mereka bekerja, waktu mereka habis untuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Tak jarang, aku merasa, aku hanya mendapatkan „sisa-sisa“ kasih sayang, perhatian dan energi mereka setelah mereka lelah bekerja. Aku merasa aku kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua secara materiil. Sewaktu aku beranjak dewasa, knowing the facts that they were both cheating on each other (although not at the same time) broke my heart into pieces.
Ada beberapa kali proses pacaran di masa lalu yang membuatku dalam menjalin hubungan. Tetapi yang membuatku trauma sampai saat ini dan sampai aku harus mengikuti terapi adalah hubungan pacaranku selama 9 tahun itu. Pacarku waktu itu 10 tahun lebih tua dariku. Kenapa aku berpacaran dengannya? Mungkin karena aku terjebak dengan mindset „cari pacar yang mapan“ di lingkunganku sehingga perbedaan umur yang cukup jauh tersebut tidak terlalu aku ambil pusing. Dan juga keadaanku waktu itu yang merasa sangat membutuhkan kasih sayang yang tidak aku dapatkan dari orangtuaku.
Singkat cerita banyak hal yang terjadi selama 9 tahun tersebut. Bahkan hal-hal yang tidak dibenarkan olah norma-norma sekalipun. Dengan pikiranku yang naif waktu itu aku pikir „aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku“ dengan cara tidak meninggalkan pacarku atau memutuskan hubunganku walaupun aku mendapatkan pelecehan baik secara psikis maupun seksual.
Tak hanya itu, dia tidak mengizinkanku untuk pergi sendiri bertemu/berkumpul dengan teman-temanku. Dia takut aku curhat dengan teman-temanku tentang masalahku dengannya. Handphone pun harus siap sedia. Jika aku tidak angkat teleponnya sekali saja, dia akan membombardir dengan telepon berpuluh-puluh kali dan tak jarang dia akan datang ke rumahku hanya untuk bertanya „kok kamu tidak jawab telponku? Memangnya kamu taruh mana handphonemu?“
Kadang aku menghadapi khayalan dia „gimana kalau tadi tu telpon penting? Gimana kalau aku kecelakaan atau ditangkap polisi dan butuh bantuan“. Akupun harus memberitahunya kalau aku mau bepergian dan ketika aku sudah sampai rumah, tak terkecuali saat aku bepergian dengan keluargaku. Pergerakan dan perkembanganku sebagai seorang remaja menuju dewasa sungguh sangat terbatas waktu itu. Aku merasa masa mudaku terampas olehnya.
Awalnya aku tidak berani bercerita pada siapapun mengenai hal ini, termasuk pada keluargaku. Aku takut bagaimana pandangan orang nantinya. Untuk mengakhiri hubungan pacaran pun sulit aku rasakan waktu itu karena tiap kali aku sampaikan niatku untuk mengakhiri hubungan padanya, dia selalu mengancamku: dia akan memberitahu orang tuaku semua yang terjadi antara aku dan dia. Waktu itu aku sangat ketakutan kalau orang tuaku sampai tahu dan aku merasa sangat sendiri.
Aku sadar 9 tahun itu bukan jangka waktu yang pendek, sedikit banyak sifat dan sikapku pun terpengaruh. Aku menjadi seseorang yang sangat takut untuk mengutarakan perasaan dan pendapatku. Aku takut hal tersebut dapat menyinggung orang lain dan membuatnya marah dan kecewa. Sepertinya karakterku pun terbentuk untuk selalu menjadi anak yang manis dan penurut walaupun dalam hatiku menjerit dan meronta-ronta.
Dari sinilah aku merasa aku haus akan kasih sayang dan merasa sangat kesepian sehingga secuil kasih sayang yang ditawarkan orang lain padaku dapat aku salah artikan kalau mereka benar-benar mengasihiku, until it’s proven wrong; which happened so many times. Dalam lubuk hatiku, aku takut tidak ada orang yang mau mengasihiku sampai aku tua nanti. Aku takut tidak ada seseorang yang selalu ada untukku untuk saling berbagi.
Aku hanya bisa menyarankan, jika sahabat Ruanita punya pengalaman yang sama denganku, maka segera perbaiki hubungan dengan keluarga, sambung komunikasi yang baik dengan keluarga inti sehingga kamu tidak merasa kesepian. Kedua, carilahi teman yang terpercaya dan bisa menjaga rahasia merupakan hal yang penting, setidaknya kamu memiliki tempat untuk meluapkan emosimu. Ketiga, carilah bantuan profesional (terapi, klinik, dll) jika hal itu sudah sangat mengganggu kehidupanmu dan mentalmu. Percayalah selalu ada bantuan di luar sana untukmu kalau kamu mau membuka diri dan berani keluar dari tekanan tersebut. Keempat, sebaiknya tidak terlalu cepat mengambil keputusan untuk memulai suatu hubungan tanpa merasa yakin dan cocok dengan calon pasangan. Terakhir, menurutku, sibukkan diri kalian dengan hobi dan kegiatan yang bermanfaat.