(CERITA SAHABAT SPESIAL) Apa sih Nasionalisme di Mata Ex WNI?

Cerita Sahabat Spesial kali ini menghadirkan Sri Tunruang, seorang pensiunan yang sudah tinggal di Jerman selama lebih dari 45 tahun.

Berawal dari studi jurusan Ilmu Perusahaan di RWTH Aachen, Sri kemudian membangun hidup bersama keluarga di Jerman hingga pensiun.

Dia kini aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan yang berfokus pada Indonesia, Perempuan dan Integrasi.

Meski Sri telah menjadi warga negara Jerman, tetapi kecintaannya pada Indonesia semakin mendalam sejak tinggal di perantauan.

Pesan Bung Karno yang dikemas dalam pigura cantik di dinding rumahnya menjadi pengingatnya tentang Indonesia.

“Bawalah badanmu berkeliling dunia, tetapi tunjukkanlah jiwamu kepada Tuhan dan Indonesia!” yang menuntunnya untuk tidak pernah melupakan Indonesia.

Menurut Sri, paspor bukan menjadi hal penting untuk mengukur tingkat nasionalisme seseorang. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi dan keadaan seseorang yang menyebabkan dia harus tinggal dan memutuskan untuk mematuhi aturan di mana dia tinggal.

Bagi Sri, kebangsaan dan kewarganegaraan adalah dua hal yang berbeda. Kewarganegaraan itu menjadi hal pokok yang tertuang di paspor.

Sri juga mengingatkan pentingnya untuk tidak melupakan sejarah bangsa Indonesia meski kita berada di perantauan. Sri tetap mengajarkan anak-anaknya untuk berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.

Bahasa ibu adalah cara kita mengenalkan anak-anak tentang dunia. Bahasa ibu menjadi identitas yang ingin kita tunjukkan kepada dunia.

Tantangan menunjukkan jati diri sebagai orang Indonesia di perantauan diyakini Sri sebagai hal yang tak mudah dalam lingkungan orang-orang yang bukan Indonesia.

Sri berharap agar perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri tetap dapat mengundang orang-orang Indonesia yang tidak lagi menjadi warga negara Indonesia saat ada acara-acara besar seperti perayaan tujuhbelasan, hari raya lebaran dan lain-lain.

Dia menutup pesannya kepada pemerintah Indonesia untuk mempermudah kebutuhan para pelaku kawin campur yang tinggal di perantauan.

Lebih lengkap, simak penjelasan Sri Tunruang dalam video berikut:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s