
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Euginia Putri Stederi atau terbiasa dipanggil Uti. Saya berdomisili sejak 2007 di Hannover, Jerman. Latar pendidikan saya sebenarnya adalah Ingenieur of Electrotechnics, tetapi sejak 2014 saya sangat tertarik dengan tema fesyen. Sejak 2016 saya memutuskan untuk lebih memperhatikan fashion yang saya pakai.
Sejak 2016, saya mulai untuk membeli barang- barang secondhand untuk kepentingan fashion saya seperti sepatu, celana, dan baju. Sejak 2019 saya mulai bekerja, saya memutuskan untuk mendukung produk-produk local fashion baik yang berasal dari Jerman maupun Indonesia. Selain itu, saya juga berusaha memerhatikan produk-produk yang mendukung tema Recycle, Reuse dan Reduce.
Memang saya belum berhasil 100% untuk tidak membeli barang dari fast fashion, tetapi setidaknya 70%-80% produk fesyen yang saya punya sekarang berasal dari seconhandshop ataupun produk-produk lokal.
Melalui kesempatan ini, saya mau sharing pendapat saya dan teman-teman saya tentang tema Fast Fashion yang akhir-akhir ini marak di dunia. Sebenarnya, apa sih Fast Fashion itu?
Dari sudut pandang saya, definisi Fast Fashion adalah produksi massal dari barang-barang tekstil untuk berbagai macam ragam produk fesyen dan silih berganti, dengan waktu yang cepat. Contohnya saya tidak bisa menyebutkan nama merek di sini, tetapi kalian pasti tahu.
Ada pun pendapat teman saya tentang Fast Fashion, yakni Natasya Metta W.: “Industri yang mengikuti trend yang artinya berubah secara cepat setiap musimnya.” Lainnya Shahista K berpendapat: “Baju murah, diproduksi massal, dan selalu cepat berubah.”
Secara psikologis, mengapa ya orang tertarik dengan Fast Fashion? Menurut saya, sebagian orang tertarik karena ada faktor dorongan sosial. Mereka akan terlihat lebih trendy, gaul, dan tampak kekinian sekali. Selain itu, orang lain akan lebih „tertarik“ secara sosial dengan mereka.
Teman-teman saya lainnya seperti Anastasia R. yang mengatakan kalau harga juga memengaruhi orang untuk membeli Fast Fashion. Pendapat lainnya seperti Cia, yang mengatakan kalau iklan yang memanfaatkan Influencer yang mengikuti tren juga mendorong untuk melakukan Fast Fashion.
Namun begitu, saya sependapat kalau Fast Fashion itu berbahaya bagi lingkungan hidup. Pihak perusahaan ketiga, yang memenuhi pesanan ini dari perusahaan Fast Fashion, sayangnya tidak memiliki sistem pengaturan pembuangan limbah yang tepat.
Misalnya saja, limbah kain atau pewarna tekstil dibuang ke sungai, tanpa pengolahan sebelumnya. Pendapat ini disampaikan oleh seorang Designer lokal di Hannover, Lorena W dalam Bahasa Jerman yang dikutip berikut ini „C02 austoß, wasserverschwendung, umweltverschmutzung, chemikalien im Wasser.“
Itu baru soal lingkungan hidup, dampak lainnya soal kemanusiaan loh. Secara kemanusiaan, bisnis Fast Fashion itu tidak baik juga. Menurut opini saya, kebanyakan bisnis Fast Fashion menggunakan jasa dari orang lain atau tepatnya negara lain, terutama negara berkembang yang menawarkan upah yang sangat minimum.
Mengapa ini berbahaya? karena hampir semua pekerja tidak mempunyai asuransi dan mendapatkan perlindungan yang semestinya, baik untuk perlindungan fisik maupun psikis.
Cia, teman saya, berpendapat demikian dalam Bahasa Inggris: “Unregulated 3rd companies that fulfill these fast fashion orders usually not regulated and see their workers as disposable workforce, thus the working conditions are inhuman and the workers are paid per clothes they managed to finish with minimum payment.”
Nah, Sahabat Ruanita bisa paham kalau kita perlu mengatasi Fast Fashion sebelum bertambah buruk lagi. Menurut saya, kita bisa membatasi pembelian barang-barang fesyen dari Fast Fashion. Cara lainnya adalah berusaha untuk memperbaiki pakaian yang rusak. Kita bisa juga memberi atau menjual ulang ke orang lain.
Selain itu, saya secara pribadi, kita bisa membeli dari secondhand shop atau produk-produk lokal. Hal terpenting juga kalau kita ingin tampil bergaya kekinian, kita bisa memanfaatkan Slow Fashion yang tak kalah keren juga.
Terakhir nih, pesan saya untuk Sahabat Ruanita semua yang ingin mengikuti gaya hidup kekinian tetapi ramah lingkungan. Kita tidak perlu membeli atau mengikuti segala hal yang serba kekinian. Jika kita tidak mengikuti tren, bukan berarti kita tidak bisa masuk dalam lingkungan sekitar ‘kan.
We can be smart dengan membuat padu padan barang-barang fesyen yang dimiliki. Kita bisa tampil percaya diri juga dengan apa pun yang kita kenakan. Bagaimana pun barang-barang fesyen juga akan terbuang percuma seberapa pun mahal dan kekiniannya barang tersebut.
Hal terpenting dalam berpakaian menurut saya, kita perlu mengonsumsi barang-barang fesyen yang ramah lingkungan. Dengan begitu secara tidak langsung, kita sudah ambil bagian dalam proses merawat lingkungan hidup sekecil apapun itu.
Penulis: Uti dapat dikontak via akun IG: utt_tee dan tinggal di Jerman.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.