
Halo Sahabat Ruanita, namaku Ratna dan tinggal di sebuah negara di benua Eropa. Aku ingin berbagi cerita pengalamanku tentang menjadi korban child shaming. Saat diminta bercerita tentang tema ini, aku punya konflik batin. Apakah aku pernah menjadi korban child shaming? Namun, saat aku melihat contoh-contoh child shaming yang aku temukan di internet, aku punya beberapa pengalaman yang bisa aku bagi.
Hal yang paling aku ingat sampai sekarang berkaitan dengan fisikku. Dari kecil, aku memang bertubuh pendek dan lebih gemuk dari saudara-saudaraku. Keluargaku bilang badanku mirip dengan nenek dari pihak ayah, karena ada beberapa tante dan omku yang punya fisik seperti aku. Aku ingat, waktu aku masih remaja, keluargaku pernah bilang pulpen yang dia punya seperti aku, gendut. Waktu itu aku pura-pura tidak mendengar dan bersembunyi di kamar. Aku sedih sekali mendengarnya, karena tubuhku diejek seperti pulpen yang bagian tengahnya besar.
Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan tubuhku. Aku menganggap keacuhanku itu sebagai karunia. Kalau tidak, mungkin aku sekarang mempunyai gangguan makan karena aku merasa tidak pernah merasa puas dengan tubuhku. Sekarang ini tubuhku lebih gemuk daripada sebelumnya. Namun, hal yang membuatku sedih adalah aku merasa sangat gendut, padahal dulu beratku 20 kilogram lebih ringan daripada sekarang ini.
Aku tidak percaya diri dengan tubuhku karena omongan orang-orang di lingkunganku. Sekarang aku sadar, seberapapun berat badanku dan seberapa besarnya bentuk badanku, maka selalu ada orang terdekat yang menyebutku gendut dan menyuruhku diet. Oleh karena itu, aku mencoba untuk tidak mendengar mereka. Aku ingin kurus karena aku ingin sehat, bukan karena mereka.
Tidak hanya fisik, keluargaku juga mengkritik apa yang aku lakukan. Jika aku salah melakukan sesuatu, ibu akan bilang „Gini saja gak bisa! Gimana sih kamu?“ di depan saudara-saudaraku. Aku pernah juga mengalaminya di depan sepupu, tante, dan omku yang sedang datang berkunjung. Jika aku tidak bisa menemukan barang yang dicari orang tuaku, mereka juga akan marah dan bilang aku mencarinya tidak pakai mata.
Di keluargaku, menangis adalah suatu hal yang tabu. Setiap kali aku sedang sedih, aku berusaha untuk menahan tangisku. Walaupun tangisku terpaksa keluar, jangan sampai diketahui siapapun! Sering kali ibuku menyuruh aku untuk berhenti menangis dengan kalimat, „Tidak usah menangis! Masak begitu saja kamu menangis, sih! Apa kamu tidak malu dilihat orang?“. Atau sering juga aku mendengarkan mereka bilang kalau tangisanku bisa didengar orang-orang satu kampung.
Kakakku juga sering menyuruh anak-anaknya untuk berhenti menangis dengan cara seperti itu. Aku sebagai perempuan mungkin cukup „beruntung“ dengan stigma anak perempuan cengeng. Sebaliknya anak laki-laki seperti keponakanku, mereka diajarkan untuk tidak menangis karena mereka laki-laki. Padahal laki-laki juga punya emosi dan boleh menangis untuk mengungkapkan rasa sedih mereka.
Bukan hanya di rumah, child shaming juga rentan terjadi di sekolah oleh guru-guru. Entah bagaimana anak-anak sekarang, tetapi dulu saat aku masih di SMP seringkali guru-guru menitip dibelikan makanan di kantin sekolah. Aku benci dititipi belanja oleh mereka. Jika belanjaan salah, mereka tidak maklum dengan aku, tetapi mencemooh. Atau muka mereka terlihat kesal dan kecewa. Aku juga menjadi kesal dan kecewa dengan diriku karena tidak punya ingatan tajam dan tidak becus melakukan tugas dari mereka.
Di kelas pun tidak jarang guru-guru mencemooh murid-muridnya. Kejadian yang paling aku ingat adalah saat aku masih SD, ada satu teman sekelas yang disebut bodoh oleh guru karena tidak bisa menjawab pertanyaan. Waktu kelas tiga SMA, guru matematika aku bilang, „Kalau di antara kalian ada yang menjadi dokter, ibu tidak akan pernah mau berobat ke kalian. Soal matematika begini saja, kalian tidak ada yang bisa mengerjakannya! Ibu tidak percaya kalian bisa (jadi dokter yang kompeten)“. Aduh, mendalam sekali nggak sih mendengar guru sendiri bilang seperti itu?
Ada satu hal yang aku rasa pernah dialami semua orang dan mungkin pernah dilakukan semua orang tua ke anaknya, yaitu membandingkan anak sendiri dengan anak lain. Aku punya teman yang sering bilang ke anak laki-lakinya kalau kakak perempuannya lebih baik dari dia. Nilai di sekolah lebih bagus, perilakunya lebih tenang, dan lebih penurut dibandingkan dia. Aku sedih sekali setiap mendengar dia membanding-bandingkan anaknya karena aku teringat dengan pengalaman pribadi kalau aku sering dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya juga. Padahal itu berdampak negatif yang akan dirasakan anak laki-lakinya itu.
Secara pribadi, aku melihat diriku tidak pernah merasa cukup. Aku cukup perfeksionis di banyak hal, karena aku merasa tidak berharga dan menganggap saudara-saudaraku lebih baik dariku. Mereka lebih pintar, lebih penurut, lebih cantik, lebih kurus, dan lainnya. Aku khawatir anak laki-laki temanku itu kelak menjadi anak yang juga tidak merasa cukup, karena merasa kakaknya lebih baik dari dia.
Menceritakan kembali percakapan pribadi dengan anak ke orang lain juga termasuk child shaming, loh! Aku beruntung waktu aku kecil belum ada media sosial. Lihat saja zaman sekarang saat semua orang pakai media sosial dan berlomba-lomba mendapatkan jempol terbanyak. Banyak sekali akun-akun media sosial dengan profil anak-anak yang dikelola oleh orang tuanya. Foto, video, dan percakapan anak-anak tersebut diumbar ke banyak orang, tidak jarang juga sebenarnya memalukan anak-anaknya. Mungkin mereka lupa anak-anak akan tumbuh menjadi dewasa dan kelak akan melihat apa saja yang orang tuanya publikasi ke publik tanpa persetujuan dia.
Seorang temanku mengingatkan, memposting foto atau video anak ke media sosial juga berpotensi untuk menjadikan anak korban child/body shaming oleh orang asing. Sebagai orang tua, kita mudah saja mengejek anak kita, apalagi orang lain yang hanya melihat anak kita di media sosial. Dia bercerita tentang pasangan artis Indonesia yang rajin posting foto-foto anaknya di Instagram. Suatu saat tiba-tiba mereka bilang ada orang yang sering mengejek anak mereka di kolom komentar di Instagram dan Youtube mereka dengan menyebut anaknya idiot. Setelah diselidiki, pelakunya adalah seorang ibu dan guru. Aduh, miris sekali ya! Ibu yang punya anak kandung dan anak didik, tetapi melakukan child shaming dengan alasan iseng. Pelaku tidak sadar bahwa yang menjadi korban bukan hanya orang tuanya, tetapi anak berumur satu tahun yang belum mengerti apa-apa.
Sekarang saat menjadi orang dewasa yang tumbuh dengan child shaming, aku berhati-hati jika berbicara dengan anak-anak. Aku takut melakukan apa yang dulu dilakukan orang dewasa terhadapku. Aku juga tidak suka jika mendengar orang dewasa menyebut anak-anak dengan „wild child“ karena anak tersebut aktif. Aku pernah mendengar anak temanku A, yang berumur tujuh tahun menyebut anak temanku yang lainnya B, yang berumur dua tahun dengan sebutan „wild“. Temanku si A tersenyum mengamini ucapan anaknya. Di sisi lain, aku juga tahu temanku si B juga sering bercanda dengan mengatakan begini begitu, seperti misalnya „Iya, memang anakku susah makan“.
Child shaming sering kali dilakukan untuk mendidik anak. Membuat anak menjadi merasa bersalah dan malu dan berharap mereka akan mengubah perilakunya seperti yang orang tua inginkan. Orang tua lupa atau mungkin tidak mengerti, child shaming berdampak buruk. Aku yang sering diejek gendut, menjadi tidak cinta diriku sendiri. Saat orang lain memuji fisikku, aku tidak percaya dengan mereka.
Dulu aku tidak pernah diajarkan untuk menangis kalau aku sedang merasa sedih. Aku malu untuk menangis saat orang terdekatku meninggal dunia, sehingga aku perlu pergi ke psikolog untuk belajar menangis. Aku tidak pernah mengajukan pertanyaan di kelas, karena aku takut guru atau dosenku bilang pertanyaanku bodoh. Aku juga tidak pernah percaya diri untuk menjawab pertanyaan dosen dengan alasan takut jawabanku salah dan mereka bilang aku bodoh. Padahal kenyataannya sebaliknya, jawabanku benar dan teman sekelasku salah.
Tidak banyak orang yang sadar bagaimana cara kita mendidik anak adalah cerminan dari bagaimana orang tua kita dahulu mendidik kita. Aku sering kali ingin bilang ke anak-anak, „Ini gampang, masak kamu begini saja tidak bisa!“. Padahal mereka membutuhkan motivasi, bukan cemooh. Mungkin juga temanku yang sering membandingkan anak-anaknya pernah mengalami hal yang sama sewaktu kecil. Mungkin dia juga merasa bersaing dengan saudara-saudaranya.
Sekarang aku ingin menjadi orang dewasa yang memutuskan jeratan child shaming. Aku belajar bagaimana memberikan kalimat positif ke anak-anak, belajar memuji, dan memanggil mereka dengan panggilan sayang sehingga mereka merasa cukup dan belajar tidak memberikan label pada anak mereka kelak. Jika anak tidak mau salaman dengan orang yang lebih tua, bukan berarti dia anak tidak sopan. Dia hanya membutuhkan waktu untuk mengenal orang baru.
Dari sumber-sumber yang kubaca disebutkan, anak-anak yang mengalami child shaming dari orang tuanya akan tumbuh menjadi orang yang mencari validasi. Temanku yang juga punya pengalaman menjadi korban child shaming bilang, „Aku pernah sangat berusaha mencari validasi dari luar, tetapi tidak pernah merasa cukup. Begitu ibuku memujiku, aku merasa puas dan tidak lagi berusaha mencari validasi dari luar“.
Mendengar hal itu, membuatku bercermin. Mungkin rasa “haus akan pujian” terjadi karena aku butuh validasi dari keluarga. Suatu hal yang tidak pernah aku dapatkan saat aku masih kecil.
Penulis : Ratna di Eropa.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.