(CERITA SAHABAT) Mendampingi Anak Saat Masa Mengompol Sekunder

Mengompol atau yang lebih dikenal dengan nocturnal enuresis adalah suatu kondisi keluarnya urin secara tidak sengaja. Mengompol Sekunder adalah mengompol yang kembali terjadi setelah sang anak tidak pernah mengompol lagi setidaknya dalam kurun waktu setelah 6 bulan dari masa mengompol primer atau mengompol usia bayi.

Pada tahun 2018,  kami sekeluarga pindah ke Jepang. Saat itu, usia anak pertama kami 3 tahun. Kami lalu menapaki lembar kehidupan baru dengan segala ritme dan kultur baru bagi kami. Alhamdulillah, anak kami sudah lulus toilet training sejak usia 2 tahun. Selama di Jepang, singkat cerita adaptasi terjadi dengan cepat dan sangat baik bagi semua, terutama untuk anak kami.  

Pada tahun 2021, kami sekeluarga pindah ke Berlin, Jerman. Saat itu, anak pertama hampir berusia 6 tahun dan anak kedua berusia hampir 3 tahun. Penyesuaian diri pun tak elak kami lakukan. Penggunaan bahasa di rumah pun mengalami perubahan, Bahasa Jepang lalu Bahasa Jerman yang tentunya sangat berbeda. Sistem bahasa di rumah kami, One Parent One Language, mengalami sedikit perubahan. Dengan ayahnya, anak-anak tetap berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.

Sedangkan dengan ibunya, komunikasi yang digunakan semula Bahasa Jepang, kini saya putuskan beralih ke Bahasa Jerman. Hal ini dilakukan untuk kepentingan mendukung proses adaptasi, terutama di lingkungan sekolah. Begitu kami tiba, di tahun anak kami menginjak usia sekolah dasar.  Inilah juga awal cerita mengenai mengompol sekunder yang dialami anak saya. 

Tahun 2021 juga bertepatan dengan masa transisi Pandemik ke Endemik. Kami datang ke kota dan negara baru yang bertepatan dengan tahun ajaran Sekolah Dasar dimulai. Ternyata, ini menjadi babak yang mungkin ‘spektakuler´ untuk anak pertama kami. Pada beberapa hari pertama sekolah, pengalaman anak masih lumayan smooth dan terjadilah mengompol sekunder ini, terutama ketika malam hari.

Beruntung, ketika dia mulai merasa berkemih, dia cepat terbangun dan lari ke toilet. Memang tidak merembes banyak tetapi dengan sifat perfeksionisnya, ternyata ini lumayan membuat dia frustasi. Ini terjadi setidaknya hampir seminggu. 

Pada siang hari, beberapa kali pun sempat terjadi tetapi sekedar terlambat menyadari dan kemudian bisa ditahan, lalu dia berlari menuju toilet. Awalnya, saya melihat ini sesuatu yang biasa. Namun ketika ini terlihat berulang, mulailah saya merasa cemas. Pembawaan sosok saya yang sering disebut tegas, pun turut campur. Ternyata ini pun menjadi salah satu pemicu yang membuat frustasi anak menjadi terasa lebih berat.  

Untuk anak usia sekolah dasar,  yang kemudian dilakukan ibu biasanya adalah membantu mengingatkan lagi tentang rutinitas seperti membiasakan berkemih sebelum tidur dan mengingatkan untuk tidak menahan keinginan berkemih jika sedang asyik bermain. Dalam kondisi anak yang merasa frustasi, pada diri anak yang dilihat adalah “Mama yang Cerewet”. Dengan ketidakmengertian, tidak memahami, dan jauh dari kesan membantu sehingga ini membuat saya patah hati.

Follow us

Sebagai ibu di zaman sekarang ini, sikap open minded saya pikir penting sekali. Selama beberapa hari dengan tujuan Bonding ibu dan anak, saya mencairkan suasana dengan sengaja menjemput dia lebih awal dari sekolah. Anak tidak mengikuti kegiatan daycare after school.

Saya mengajak dia makan siang berdua, bermain di taman sambil berpiknik, pergi ke tempat-tempat favoritnya, hingga kami pergi menonton film di bioskop hanya berdua saja. Kami melakukan banyak pelukan, mengusap kepala, bahkan bercanda lembut, mengucapkan banyak kata penuh makna kasih sayang, dan mengapresiasi atas segala hal baik yang dia lakukan. 

Tentu selama ´bonding´ ini, observasi tetap berjalan sambil sedikit demi sedikit mengeksplorasi perasaannya seperti masalah-masalah yang sedang dia hadapi. Namun, saya berusaha untuk tidak langsung ´frontal´menelisik pada masalah mengompol sekunder ini. Saya berasumsi pada saat itu, anak saya pun tidak memahami apa yang menjadi penyebab dia bisa mengompol lagi.

Saya berpikir, sangat tidak tepat rasanya pada kondisi tersebut bertanya: “mengapa bisa begini, begitu…’” pada anak. Toh,  anak pasti tidak bisa menjawabnya. Walaupun pertanyaan tersebut adalah bentuk kecemasan dengan sedikit kesal dari ibu, tetapi percayalah kita tidak akan mendapatkan jawaban dari anak.  

Yang terjadi adalah ibu dan anak akan sama-sama terjebak pada area debat kusir yang bercampur emosi.  Mungkin, ini bisa terjadi setelah terdapat “dinding pemisah tinggi dan tebal” yang terbangun antara ibu dengan anak. Oleh karena itu, kita sebagai ibu harus berusaha tenang sebisa mungkin meskipun berbagai rasa cemas, penasaran serta emosi lain yang dirasakan. 

Berjalan beberapa hari, saya mulai melihat ada titik terang. Lalu, saya datang kepada dua teman saya yang berprofesi sebagai Dokter dan Psikolog Anak. Saya datang berkonsultasi tentang masalah dan membawa beberapa kesimpulan hasil Bonding dan observasi yang sudah saya lakukan.

Dari konsultasi bersama ahli tersebut, saya semakin memahami mengenai mengompol sekunder. Selain itu, saya jadi memahami bahwa mengompol pada anak harus mendapatkan penanganan yang benar. 

Anak yang mengompol bukanlah anak yang malas atau nakal. Ada beberapa penyakit atau hal psikologis yang bisa terkait. Walaupun memang kebanyakan anak-anak yang mengompol tidak memiliki masalah kesehatan, mengompol biasanya akan membuat stres untuk orang tua. Namun patut diingat bahwa stres juga terjadi pada anak itu sendiri dan membuat anak tumbuh jadi anak yang tidak percaya diri apabila tidak ditangani dengan benar.

Pada kasus anak saya, mengompol sekunder ini terjadi pada masa-masa proses adaptasi lingkungan  dan sekolah baru, di mana ada rasa sedih yang mendalam terkait perpindahan dari Jepang ke Jerman. Usianya pada saat itu sudah memahami merasakan jalinan pertemanan, memiliki bonding dengan lingkungannya tetapi kemudian harus pindah ke tempat baru dan meninggalkan itu semua. 

Ketika datang ke lingkungan baru, ada banyak hal yang harus dicerna, budaya, kebiasaan – kebiasaan serta bahasa yang tentunya begitu berbeda. Begitu banyak hal yang harus dicerna dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, mungkin membuat jadi letih berlebih dan berimbas terhadap pengendalian diri dalam berkemih.

Berdasarkan teman – teman saya tadi, saya mendapat insight bahwa mengompol sekunder terjadi diduga karena ada masalah atau penyakit lain yang mendasarinya. Oleh karena itu, masalah atau penyakit yang mendasarinya ini yang harus dulu ditangani, sehingga diharapkan gangguan mengompol tidak terjadi lagi.

Karena masalahnya adalah psikologis, maka yang anak saya butuhkan adalah dukungan dan kehadiran sosok ibu yang menemani, meraih genggaman tangannya saat dia merasa tidak aman, mendekap erat saat dia merasa cemas, dan menyemangati dia. Benar saja, setelah masa-masa adaptasi awal ini terlewati dengan baik, dia tidak mengompol lagi. 

Pentingnya mencari tahu dengan bertanya kepada ahli atau membaca juga berpengaruh sekali bagi ibu untuk bisa tetap tenang. Oleh karena itu, saya pun mencari tahu dan mendalami mengenai mengompol pada anak. Banyak artikel saya baca dan video-video saya tonton.

Sebagai penguatan batin sebagai ibu, saya pun membaca banyak artikel dan cerita mengenai luar biasanya seorang ibu. Meneladani kisah-kisah tersebut bahkan sepenggal quotes ringan tentang ibu pun saya baca hampir setiap hari. 

Pesan saya untuk Sahabat Ruanita, menjadi ibu memanglah tidak mudah. Namun tetaplah optimis dan tanamkan selalu sifat mau terus belajar. Karena jiwa yang sedang kita besarkan bukan hanya sejiwa ini, tetapi ada jiwa lain yakni jiwa anak kita. Sebagai orang tua, kita perlu mendampingi anak melewati masa-masa sulit yang juga bagian dari tumbuh kembang.

Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang.  Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar