(CERITA SAHABAT) Usahaku Untuk Punya Anak

Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Renata. Aku tinggal di Belanda bersama suamiku dan anak kami yang berumur dua tahun. Aku dan suamiku menikah sejak tahun 2016, saat umurku sudah 34 tahun. Sejak itu kami berusaha untuk hamil, tetapi berkali-kali gagal. Pada akhirnya di tahun 2022, aku berhasil hamil dan anak kami lahir.

Setelah menikah, aku datang ke dokter kandunganku untuk minta rujukan ke klinik reproduksi, karena umurku yang waktu itu sudah tidak muda lagi. Beliau tidak langsung memenuhi permintaanku, tetapi menyuruh kami berusaha dulu sendiri selama satu tahun. Saat itu, suamiku dan aku masih tinggal terpisah karena alasan pekerjaan. Walaupun suamiku orang Jerman, tapi dia tinggal di Belanda, sedangkan aku tinggal di utara Jerman. Dokter kandunganku juga memberikan tips agar cepat hamil, sayangnya tidak berhasil.

Setahun kemudian, aku kembali ke dokterku, ternyata dia sudah pensiun dan diganti dokter lain. Sebelum memberikan rujukan, dia menyarankanku untuk tes ini dan itu, untuk mencari tahu penyebab susah hamil yang aku alami. Aku menolak, karena aku sudah mencoba secara alami seperti saran dokter sebelumnya dan biasanya di klinik reproduksi juga akan dicek semuanya. Akhirnya, aku dapat surat rujukan itu. 

Di klinik reproduksi, (Kinderwunschzentrum dalam bahasa Jerman) aku dijelaskan tentang tahap-tahap program punya anak sesuai dengan asuransiku. Aku hanya mempunyai asuransi umum, karena program kehamilan itu juga terbatas. Pada tahap pertama, kami dijelaskan penyebab-penyebab susah hamil. Selain tes hormon, rahimku juga diperiksa oleh mereka. Menurut mereka, tubafalopi kiriku tertutup dan ada polip di sana. Oleh karena itu, mereka melakukan operasi kecil untuk membuka pintu jalan tubafalopi itu ke rahimku dan mengangkat tiga polip yang sebesar buah ceri. Setelah itu, aku tidak boleh berhubungan seks selama tiga bulan.

Usai pasca operasi, aku kembali ke sana. Ternyata mereka menemukan polip lain, sehingga aku harus kembali ke ruang operasi. Setelah operasi pengangkatan, tetap saja aku belum hamil. Baru saat itulah, mereka menyarankan agar suamiku juga diperiksa. Hasilnya adalah sperma suamiku bermasalah. Kami susah hamil karena ada masalah dengan rahimku dan sperma suamiku. Setelah proses ini, kami kemudian bisa merencanakan proses inseminasi. Pengalamanku membuat janji di klinik reproduksi untuk proses ini tidak mudah, ditambah suamiku tinggal di negara lain. Di tahun 2017, aku pindah kerja ke Düsseldorf, sebuah kota di perbatasan Jerman dengan Belanda, agar bisa bertemu lebih sering dengan suamiku. Proses inseminasi ini dilanjutkan di sana. 

Asuransi umum di Jerman memberikan kesempatan delapan kali inseminasi dalam waktu dua tahun. Setelah kesempatan ini habis, baru proses bayi tabung bisa direncanakan. Total aku melakukan empat kali inseminasi. Dua kali berhasil hamil, tetapi keduanya aku keguguran. Aku putus asa, walau dokter bilang aku mengalami kemajuan karena terbukti bisa hamil.

Follow us

Aku meminta dokterku untuk langsung mencoba program bayi tabung karena umurku yang tidak lagi muda. Dokter kemudian membuat rencana program bayi tabung dan memberikan kami perkiraan biaya, yaitu sebesar 12.000-15.000 Euro yang harus kami bayar sendiri. Menurut hasil pemeriksaan mereka, hanya suamiku yang punya masalah sehingga aku susah hamil. Padahal menurut hasil pemeriksaan di kota sebelumnya, aku juga punya masalah. Sayangnya, suamiku tidak punya asuransi di Jerman, sehingga biaya tersebut harus kami tanggung sendiri. 

Setelah diskusi tersebut, kami berpikir untuk mencoba juga di Belanda. Sebelum aku memulai program bayi tabung, aku sempat hamil alami. Aku senang sekali bisa hamil sendiri tanpa bantuan, tapi sayangnya aku keguguran lagi. Waktu itu, aku posisinya baru pindah ke Belanda. Aku tidak mengerti harus ke mana, karena tidak seperti di Jerman yang banyak klinik dokter kandungan. Di lokasi tinggalku Belanda, aku tidak tahu di mana. Semua harus diurus di rumah sakit. Akhirnya, aku buat janji lagi dengan dokterku di Düsseldorf. Sayangnya, aku keguguran sebelum sempat ke sana untuk periksa kehamilan. 

Aku ingat, hari itu adalah hari sabtu. Praktik dokter tutup dan aku mengalami pendarahan saat berada di rumah kami di Belanda. Akhirnya, aku dan suamiku pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) di Düsseldorf. Menurut dokter jaga, wajar berdarah saat hamil, dan detak jantung janin juga masih ada. Malam itu, kami kembali ke rumah kosku di Düsseldorf. 

Keesokan harinya pendarahanku semakin parah, kami kembali ke UGD. Di sana dokter mengatakan detak jantung janinku sudah tidak ada. Duniaku runtuh, seperti lantai ditarik dari kakiku. Aku masih menyangkal dengan berpikir, “Masak sih? Kemarin masih ada (detak jantungnya). Salah kali alatnya. Salah kali dokternya.” Kami pulang kembali ke rumah kosku.  

Jam tiga pagi aku terbangun karena perutku sakit. Saat di atas toilet, aku merasa ada yang keluar. Aku pegang, bentuknya kecil seperti gummy bear. Saat itu aku tidak tahu itu apa. Antara sadar dan tidak sadar, aku flush dia ke dalam toilet. Belakangan aku baru sadar, kenapa waktu itu aku flush dia dan tidak  aku makamkan? Namun, pada saat kejadian tersebut, aku masih dalam fase penyangkalan. Dan semua itu terasa seperti mimpi. Aku masih berpikir itu bukan bayiku, bayiku masih di dalam rahimku. Setelah itu, aku langsung membangunkan suamiku, karena aku mengalami pendarahan hebat. Pada malam tersebut, aku dikuret di rumah sakit dan dirawat inap satu malam. Dokter di UGD menyarankan aku untuk melakukan pemeriksaan genetik, setelah dia tahu bahwa ini adalah keguguranku yang ketiga. Keguguran ini juga membuatku mengalami depresi dan sempat menerima terapi psikologi.

Beberapa bulan setelah keguguran ini, aku mendatangi klinik di Jerman untuk pemeriksaan genetik, seperti yang disarankan oleh dokter UGD. Tes hormon dilakukan untuk mengetahui alasan keguguran yang aku alami tiga kali. Dari pemeriksaan, ditemukan aku mengalami antiphospolipid syndrome (APS) pada kehamilan, yang membuat tubuhku melihat janin sebagai benda asing. Untuk mengusir “benda asing” ini, terjadi pengentalan darah di rahimku. Mereka memberikan saran, kalau aku hamil lagi aku harus dapat suntikan pengencer darah.

Sambil pemeriksaan ini, aku juga mendatangi klinik reproduksi di Belanda. Aku ceritakan tentang diagnosa tersebut, dokternya berkata “Tugas saya hanya membuat orang hamil, bukan mempertahankan kehamilan.” Namun, dia juga mendiskusikan hal ini ke dokter kandungan. 

Program hamil di Belanda sedikit berbeda dengan di Jerman. Di Belanda, semua biaya di-cover oleh asuransi. Tidak ada istilah, siapa yang “salah” dia yang harus bayar program hamil. Padahal saat di Jerman, kami disodori perkiraan biaya karena suami “penyebab” aku susah hamil. Oh ya, sebelum program bayi tabung dimulai, suami dites kembali oleh klinik reproduksi di Belanda. Hasilnya, dia sehat dan spermanya baik-baik saya. Hal ini bertentangan dengan dua hasil tes di Jerman. Batas umur di Belanda juga lebih tinggi, yaitu 43 tahun, sedangkan di Jerman 40 tahun. Di Belanda, aku mempunyai tiga kali jatah untuk program bayi tabung. Semuanya gratis.

Saat pertama kali datang ke klinik reproduksi, aku langsung dikasih resep obat suntik untuk menstimulasi hormon tubuh agar sel telurku keluar. Obat ini harus aku suntikan ke diriku sendiri selama 10 hari, dimulai dari hari pertama menstruasi. Mereka juga memberikan checklist, apa saja yang aku harus lakukan setiap hari, termasuk jam berapa aku harus disuntik. Setelah 10 hari pemberian suntikan, aku diminta datang lagi ke klinik untuk dicek, apakah ada sel telur yang siap untuk keluar.

Program pertama ini seperti percobaan untuk mengetahui berapa dosis yang sebenarnya dibutuhkan tubuhku. Dalam program pertama ini aku tidak hamil, karena dosisnya terlalu kecil untuk tubuhku, sehingga tidak ada reaksi apa pun. Pada program kedua, dokter memberikan dosis dua kali lebih besar dari dosis pertama. Dokter mengatakan itu adalah dosis tertinggi. Aku tidak akan diberikan lebih dari dosis tersebut. 

Berbeda dengan program pertama, di mana sel telurku tidak muncul, pada program kedua ini sel telurku ditemukan di tubafalopi kanan dan kiri. Jumlah dan ukuran mereka juga, ada yang siap untuk keluar dari tubafalopi. Setelah dilakukan pengecekan, aku diminta untuk tidak menyuntik lagi malam itu. Sebagai penggantinya, aku diberikan suntikan agar merangsang sel telur untuk keluar keesokan harinya. Aku diminta untuk menyuntik sendiri di rumah pada jam yang sudah ditentukan klinik. Mereka sudah memperhitungkan agar sel telur keluar saat aku berada untuk proses pengambilan sel telur dari folikel. Setelah sel telur diambil lewat vagina, pembuahan dilakukan saat itu juga. Suamiku datang 30 menit sebelumnya, agar spermanya bisa dibersihkan dan dipilih yang paling baik. 

Di Belanda, sel telur yang sudah dibuahi akan dikembalikan ke rahim setelah tiga hari, sedangkan di Jerman lima hari. Perbedaan lain, Belanda lebih hemat menggunakan obat bius pada saat proses pengambilan sel telur. Hanya bius lokal, bukan bius total seperti di Jerman. Pemeriksaan darah dan USG juga lebih hemat. Waktu aku hamil inseminasi di Jerman, aku periksa darah setiap dua hari. Di Belanda tidak seperti itu. Aku harus menunggu delapan minggu sampai aku boleh periksa darah dan USG untuk mengetahui, apakah ada detak jantung janinku atau tidak. Aku merasakannya, delapan minggu terlama di hidupku. Apakah janin berkembang atau tidak, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, menurut pendapat dokter kandunganku di Belanda. Bagaimana pun, itu sudah menjadi takdir. Alhamdulillah, aku benar-benar hamil. 

Di awal kehamilan, aku kembali ke Düsseldorf untuk pemeriksaan genetik. Aku diberikan obat pengencer darah yang harus aku suntikkan setiap hari hingga enam minggu setelah melahirkan. Selama hamil, aku juga lima kali harus diopname karena pendarahan. Akibat obat pengencer darah itu, memang aku gampang berdarah. Karena aku sedang hamil dan masih di bawah berusia tiga bulan, kami langsung ke UGD untuk pemeriksaan. Waktu itu, aku tidak ada pilihan lain, sehingga aku menjalaninya saja. Aku juga berpikir, semua ini akan selesai begitu anakku lahir. Selama kehamilan, aku mengatakan ke suami, kalau aku hanya ingin hamil sekali ini saja. Namun, begitu anakku sudah lahir, aku lupa sakitnya berbagai suntikan-suntikan itu.

Adopsi juga merupakan salah satu opsi untuk aku dan suamiku. Bahkan sampai sekarang, suamiku masih bilang untuk mengadopsi anak kedua. Begitu kami dihadapi pada pilihan tersebut, kami sejujurnya merasa sulit juga memutuskan, karena kami tidak tahu latar belakang keluarga dan kesehatannya. Selain itu, anak adopsi pun tidak lahir dari rahimku sendiri, sehingga aku takut tidak bisa menyayanginya seperti menyayangi anak kandung sendiri. Namun, sekarang saat aku sudah punya anak kandung, apakah aku bisa adil dengan anak kandung dan anak adopsi? Jawabannya tidak mungkin untukku. Jika anakku mungkin sudah besar, aku akan mempertimbangkannya lagi.

Kami memang ingin memiliki anak lagi. Di Belanda, jika program hamil berhasil, maka orang tua kembali mempunyai tiga kali kesempatan untuk mencoba program hamil. Setahun anakku lahir, kami mencoba lagi. Sayangnya gagal. Bulan Januari tahun ini, kami juga mencoba lagi untuk kedua kalinya. Sayangnya, kembali gagal. Kami sebenarnya masih punya satu kali kesempatan lagi, tetapi sepertinya tidak akan kami ambil lagi, karena perubahan situasi hidup kami. Suamiku kembali bekerja dan tinggal di Jerman, sedangkan aku dan anakku masih tinggal di Belanda sampai kontrak kerjaku di Belanda selesai pada pertengahan tahun ini.

Untuk Sahabat Ruanita yang sedang berusaha untuk hamil, jangan menyerah! Aku tahu bagaimana rasanya, seperti jatuh ke jurang setiap menstruasi. Ini seumpama, kita berusaha naik ke lembah jurang tersebut, setiba di atas, kita sudah jatuh ke jurang lagi, karena ternyata kita menstruasi lagi. Teknologi kesehatan zaman sekarang sudah maju sekali. Aku sendiri takjub dengan majunya teknologi kehamilan saat ini. Kita bisa mencari tahu penyebab gagalnya kehamilan dan keguguran, meskipun kita mungkin tidak mendapatkan jawaban dan solusinya. Aku bersyukur bahwa aku mendapatkan rujukan untuk tes genetik dan mendapatkan solusi agar keguguran tidak lagi terjadi, yaitu suntik hormon selama sembilan bulan kehamilan.

Aku juga bersyukur bahwa aku tinggal di luar Indonesia, sehingga tidak ada yang sering bertanya, “Kapan hamil?”. Menurutku, pertanyaan tersebut tidak sensitif sama sekali sekali. Kita tidak tahu, apa yang mereka hadapi, sehingga membuatnya susah hamil. Selama ini, aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan, setidaknya  tidak ada yang bertanya “Kapan hamil?”. Awalnya, orang tua dan saudaraku juga bertanya tentang kehamilanku. Setelah aku menjelaskan masalahnya, mereka berhenti bertanya. Sepertinya, itu sudah takdir. 

Aku juga bersyukur, ada asuransi kesehatan, sistem, dan fasilitas klinik reproduksi di Jerman dan di Belanda. Di sini, aku bisa berusaha tanpa kendala biaya karena itu gratis. Kita hanya perlu rajin mencari tahu tentang prosesnya saja. Kalau ada Sahabat Ruanita yang berumur di atas 40-an dan ingin mencoba program bayi tabung, bisa langsung menegosiasikan ke dokter, karena pihak asuransi akan mendengarkan dokter terlebih dulu. Dahulu aku patuh dengan aturan (asuransi) di Jerman, sehingga sepertinya banyak waktu terbuang untuk birokrasi. Mungkin jika saat itu aku tidak pindah ke Belanda, kami akan mengusahakan program bayi tabung dengan biaya yang disebut oleh dokter kami di Düsseldorf.

Dari satu keguguran ke keguguran lain, telah membuatku sulit menerimanya. Pada akhirnya, aku berpikir memang itu belum takdirnya saja. Bisa jadi, itu merupakan bentuk proteksi pada diri kita sendiri dan calon bayi. Aku juga belajar, ini bukan hanya usaha ibu untuk hamil, melainkan usaha bayi untuk bertahan hidup. Setiap bayi yang lahir sudah berjuang sangat kuat sejak dini. Setelah pembuahan, baik kehamilan alami atau buatan, belum tentu dia akan menjadi embrio. Kalau pun menjadi embrio, belum tentu dia bisa bertahan dalam rahim. Kalau pun dia bertahan, bisa jadi juga kromosomnya lebih atau kurang. Jika ini terjadi, bayi yang lahir belum tentu bisa berjuang hidup. Berdasarkan hasil refleksiku tersebut, jika anakku mulai rewel, maka aku sering menarik nafas dan mengingat lagi, bagaimana usahaku memiliki anak. Namanya juga anak kecil, dia mungkin sering rewel.

Seandainya aku bisa berbicara ke my younger self, aku mau mengatakan, kamu perlu menikmati hidup sebelum hamil. Saat hamil, kamu mungkin sudah tidak bisa melakukan ini dan itu. Misalnya, kamu mendapatkan menstruasi saat sedang berusaha hamil, itu tidak apa-apa untuk merasa sedih. Namun, jangan berlarut-larut! Dahulu, aku berkutat pada rencana kehamilanku. Setiap merencanakan sesuatu, aku selalu berpikir “Bagaimana kalau aku hamil?”. Aku pernah berpikir, “Liburan ke Indonesia sekarang saja, kayaknya karena tahun depan aku hamil.” Begitu aku tidak hamil, sakit sekali rasanya. Aku seperti tidak menikmati momen saat sedang tidak hamil itu. Jangan sampai kita bergantung pada pertanyaan, “Bagaimana kalau hamil?”.

Diceritakan oleh Renata, ibu anak satu yang tinggal di Belanda. Ditulis oleh Mariska Ajeng, relawan Ruanita Indonesia dan mengelola program Cerita Sahabat di Ruanita. (www.mariskaajeng.com).


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar