(CERITA SAHABAT) Serba-Serbi Budaya Tinggal di Spanyol Berdasarkan Pengalaman Saya

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Mariko Angeli yang tinggal di Spanyol. Saya adalah digital content creator yang senang membagikan kehidupan tinggal di Spanyol lewat laman media sosial ini. Berbicara mengenai budaya Spanyol, perbedaan yang mendasar yang dialami dalam kehidupan sehari-hari seperti makanan, waktu makan, dan kebiasaan makan yang agak berbeda dari Indonesia.

Jenis dan menu makanan pun berbeda. Mereka di Spanyol sering mengkonsumsi banyak roti, sebagai makanan, dan anggur, sebagai minuman, dalam keseharian mereka. Menariknya, waktu makan siang di Spanyol itu pukul 14.00, sedangkan di Indonesia saya terbiasa makan siang pada pukul 12.00. 

Di sekolah atau di tempat kerja kita memanggil atasan atau guru kita hanya dengan nama mereka saja. Itu yang menurut saya, salah satu norma sosial yang berbeda dengan di Indonesia. Meski hidup sudah terbilang modern di Eropa, tetapi saya masih menyaksikan bagaimana fenomena budaya masih ada di Spanyol.

Saya menemukannya saat acara perkabungan. Saya melihat salah satu keluarga dari teman saya, yang merupakan orang lokal Spanyol, ikut serta di situ. Mereka masih menerapkan tradisi yang bernama Luto/Duelo Prolongado. Ini merupakan  tradisi berkabung yang sangat lama bisa setahun atau lebih. 

Dalam tradisi ini, keluarga atau orang-orang terdekat dari almarhum memperpanjang periode berkabung sebagai bentuk penghormatan, cinta, dan kesedihan mendalam. Perempuan yang berkabung biasanya mengenakan pakaian hitam penuh, termasuk gaun panjang, selama periode berkabung.

Terkadang mereka juga mengenakan kerudung hitam, dikenal sebagai mantilla. Laki-laki umumnya mengenakan setelan hitam atau pakaian dengan warna gelap. Warna hitam ini melambangkan duka dan kesedihan. Pakaian hitam ini bisa dikenakan selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung pada seberapa dekat hubungan dengan almarhum. 

Di komunitas kecil atau desa, tradisi Luto Prolongado biasanya lebih ketat karena semua orang mengenal satu sama lain, dan tekanan sosial untuk mematuhi aturan berkabung lebih kuat.

Pada beberapa kasus, jika ada keluarga dalam masa berkabung, seluruh komunitas mungkin menyesuaikan gaya hidup mereka, seperti menghentikan acara-acara meriah untuk menghormati yang meninggal. 

Disebut Duelo Prolongado, secara harfiah itu berarti duka cita atau kesedihan. Lebih lanjut, ini menjadi proses emosional atau psikologis yang mendalam dan dialami seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai.

Mereka berfokus pada perasaan internal dan proses duka yang berlarut-larut. Perasaan duka yang tidak cepat mereda, di mana seseorang mungkin tetap merasa sangat terpukul atau sedih dalam waktu yang lama. 

Di jaman modern, tradisi ini sudah tidak begitu umum,  apalagi di kota-kota besar termasuk di Barcelona, yang menjadi tempat saya tinggal. Saya hanya sekali itu melihat sendiri.

Mungkin, kita masih bisa menemukan lebih banyak lagi di daerah-daerah konservatif atau religius, seperti di daerah pedesaan di Andalucia, Galicia, atau Castile. 

Di Spanyol, ada juga fenomena budaya lainnya yang disebut “ataques de nervios”. Dari literatur yang ditemukan, “Ataques de Nervious” merujuk pada suatu kondisi emosional atau serangan yang intens, seringkali disertai dengan gejala fisik dan emosional yang kuat seperti menangis, berteriak, tremor, dan perasaan kehilangan kontrol.

Kondisi ini sering dianggap sebagai respons terhadap situasi stres atau krisis emosional yang berat, dan biasanya terjadi dalam konteks sosial atau keluarga.

Menurut pandangan pribadi saya dan sekilas yang saya ketahui, stigma terhadap gangguan kesehatan mental masih ada di Spanyol, terutama di kalangan generasi yang lebih tua.

Namun, pandangan ini perlahan berubah, terutama di kalangan anak muda. Peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya kesehatan mental, didukung oleh kampanye sosial dan liputan media, telah membantu mengurangi stigma seputar terapi psikologis dan gangguan mental. 

Kesadaran akan kesehatan mental di sini juga begitu gencar digalakkan. Saya pernah melihat ada iklan pemerintah di televisi, jika anak kita menjadi korban bullying, kita dapat mengontak nomor telepon bantuan yang disediakan.

Spanyol sepertinya masih memiliki budaya yang sangat erat dengan nilai-nilai keluarga dan komunitas. Dalam konteks ini, keluarga seringkali berperan sebagai sistem dukungan pertama bagi seseorang yang mengalami gangguan mental. Peran keluarga sangat penting. 

Yang saya ketahui orang Spanyol dikenal memiliki kehidupan sosial yang kuat dan komunitas yang erat. Mereka sering terlibat dalam aktivitas sosial dengan keluarga besar, teman-teman, atau tetangga.

Dukungan sosial yang kuat ini sering menjadi sumber kenyamanan dan dukungan emosional. Ketika menghadapi stres atau masalah, mereka cenderung berbagi dengan orang terdekat, yang dapat membantu mengurangi beban emosional. 

Selain fenomena budaya yang dijelaskan di atas, dalam konteks sosial budaya, saya perhatikan mereka memiliki tradisi yang unik lainnya. Saya sendiri belum pernah melihat atau mengenalnya di Indonesia.

Tradisi malam tahun baru di Spanyol, misalnya. Warga di sini memiliki kebiasaan memakan 12 buah anggur di 12 detik sebelum tahun yang baru. Menurut saya, ini adalah tradisi yang unik dan menarik dan berbeda dengan yang sering saya rayakan di Indonesia.

Jika sahabat Ruanita datang ke Spanyol, mungkin juga ada kesempatan untuk menyaksikan festival yang bernama El Colacho atau festival lompat bayi. Festival ini diadakan di kota Castrillo de Murcia di Spanyol utara.

Festival ini melibatkan seorang pria yang berpakaian sebagai “setan” (Colacho) yang melompati bayi-bayi yang diletakkan di atas kasur di jalan. Ritual ini dianggap sebagai cara untuk membersihkan bayi dari dosa asli dan membawa mereka keberuntungan serta perlindungan. Meski tidak ada bayi yang dilaporkan terluka, buat saya tradisi ini agak aneh dan berbahaya. 

Sebagai orang Indonesia di Spanyol, tak jarang mereka berpikir bahwa saya adalah seorang muslim. Warga lokal berasumsi bahwa semua orang Indonesia beragama Islam.

Ada juga yang tidak mengenal Indonesia, hingga saya menyebutkan pulau Bali, yang lebih banyak dikenal. Indonesia bukanlah negara yang sangat dikenal dari Asia Tenggara seperti Filipina, yang memiliki sejarah dan hubungan panjang dengan Spanyol. 

Untuk beradaptasi di Spanyol, saya tidak memiliki masalah tetapi saya masih harus belajar dalam berkomunikasi.  Di Barcelona, kita menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Catalan dan Bahasa Spanyol (Castellano), sehingga saya harus belajar dua bahasa tersebut untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi lebih baik.

Tentu saja, kita terus belajar bahasa Spanyol karena dengan komunikasi yang baik kita bisa mengerti dan bisa cepat beradaptasi, termasuk juga dalam lingkungan kerja. 

Secara pribadi, saya tidak memiliki tantangan yang signifikan. Malah saya merasa sistem kesehatan di Spanyol, seperti jaminan kesehatan dari pemerintah dan asuransi pribadi yang dipakai di sini sangat baik.

Begitu pula dengan sistem pendidikannya yang sangat baik, kita bisa mengaksesnya, mulai dari yang berbayar hingga gratis dari pemerintah. Tersedia juga banyak bantuan-bantuan pendidikan dari pemerintah dan swasta untuk siapa saja (lokal, imigran), yang menurut saya mungkin belum ada di Indonesia. 

Menurut pengamatan saya tentang perkembangan gender di Indonesia dan di Spanyol yang tidak sepenuhnya, dalam beberapa dekade terakhir, Spanyol telah mengalami perubahan signifikan dalam hal kesetaraan gender.

Undang-undang yang mendukung kesetaraan gender, hak perempuan, serta kebebasan seksual sudah lebih diperhatikan. Representasi perempuan di politik juga cukup tinggi. 

Di Spanyol, peran pria juga mengalami perubahan. Di masa lalu, pria dianggap sebagai pencari nafkah utama, tetapi kini ada ekspektasi bahwa pria turut berperan aktif dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak. Cuti ayah menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap tanggung jawab pria dalam mengasuh anak. 

Kekerasan berbasis gender menjadi masalah serius di Spanyol, namun pemerintahnya telah berkomitmen kuat untuk memerangi hal ini. Ada undang-undang khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga, dan kesadaran masyarakat terhadap isu ini semakin tinggi.

Nah, bagi sahabat Ruanita yang berencana pindah ke Spanyol untuk memahami dan mengatasi perbedaan budaya, adalah pelajari, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang Spanyol, budaya, tradisi dan sebagainya, agar kita paham, apakah kita sanggup dengan segala perbedaannya.

Hal ini penting sebagai pertimbangan sebelum kita memutuskan untuk pindah ke Spanyol. Selain itu, belajar Bahasa Spanyol Basic itu penting sekali, sebelum pindah ke Spanyol sehingga membantu dan meringankan kita dalam berkomunikasi dan tinggal di Spanyol.

Penulis: Mariko Angeli, Digital Content Creator, tinggal di Spanyol, dapat dikontak akun IG marikoangeli_


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar