
Frankfurt, 25 Januari — Ruanita Indonesia memprakarsai sebuah diskusi publik bertajuk “Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21” yang diselenggarakan secara daring baru-baru ini. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi antara Kesmenesia dan KJRI Frankfurt, serta terbuka bagi siapa pun yang tertarik pada isu kesehatan mental.
Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam ini mengangkat hubungan antara norma gender, perkembangan teknologi, serta dampaknya terhadap kesehatan mental laki-laki. Selama ini, kesehatan mental laki-laki kerap dibungkus stigma maskulinitas yang menuntut laki-laki untuk kuat, tidak rapuh, dan sulit menunjukkan perasaan.
Norma gender tersebut berkontribusi pada rendahnya keterbukaan serta kecenderungan mencari bantuan profesional. Pada saat yang sama, era digital menciptakan tekanan baru berupa perbandingan sosial, perfeksionisme, hingga koneksi tanpa jeda yang memengaruhi kesejahteraan emosional.
Acara dibuka dengan sambutan dari penyelenggara. Acting Konsul Jenderal KJRI Frankfurt, Toary Worang, memberikan pengantar mengenai pentingnya meningkatkan literasi kesehatan mental dan memahami hambatan bagi laki-laki dalam mengekspresikan pengalaman emosional. Acara dipandu oleh Rasyid H. Wicaksono, seorang perawat terdaftar (Registered Nurse) di Jerman.
Sesi materi pertama membahas pengaruh budaya dan konstruksi gender terhadap kesehatan mental laki-laki, termasuk mitos “laki-laki harus kuat” yang menjadi penghalang bagi perilaku mencari bantuan psikologis, disampaikan oleh Sven Juda, Co-founder Kesmenesia di Belanda.
Sesi materi kedua menjelaskan tantangan kesehatan mental pada era digital, mulai dari pengaruh media sosial terhadap perbandingan sosial hingga ekspektasi performa. Selain menyoroti risiko, narasumber juga menggambarkan potensi teknologi dalam memperluas akses informasi dan layanan dukungan. Materi ini disampaikan oleh Fransisca Hapsari, Co-founder Kesmenesia di Jerman.
Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif yang membuka ruang refleksi bagi peserta untuk berbagi pandangan, pengalaman, serta kebutuhan dukungan seputar isu kesehatan mental laki-laki. Diskusi online ini tidak direkam agar siapa saja merasa nyaman untuk berbagi dukungan sosial dan psikologis.
Kegiatan ditutup dengan rangkuman poin penting serta apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat kesadaran dan sikap saling mendukung dalam menghadapi tantangan kesehatan mental di abad ke-21.
Melalui pendekatan kolektif dan kolaboratif, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan memahami kesehatan mental dan gender dalam konteks budaya dan perkembangan teknologi. Ruanita Indonesia selaku penyelenggara menekankan pentingnya perubahan sikap yang lebih terbuka, empatik, dan berkelanjutan dalam mendukung kesejahteraan mental bersama.
Informasi lebih lanjut: Sven Juda, Koordinator Acara (E-mail info@ruanita.com).
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.